XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rachel mcadams. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rachel mcadams. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Oktober 2013

ABOUT TIME : Poignant Movie About How To Make Time


Quote:
Tim: Lesson Number One: All the time traveling in the world can't make someone love you.

Nice-to-know:
Film ketiga Rachel McAdams menjadi love interest seseorang yang bisa mengarungi waktu setelah The Time Traveler's Wife (2009) dan Midnight In Paris (2011).

Cast:
Domhnall Gleeson sebagai Tim
Rachel McAdams sebagai Mary
Bill Nighy sebagai Dad
Lydia Wilson sebagai Kit Kat
Lindsay Duncan sebagai Mum

Tom Hollander sebagai Harry
Margot Robbie sebagai Charlotte

Director:
Merupakan film ketiga bagi penulis Richard Curtis yang memulai debut penyutradaraannya lewat Love Actually (2003).

W For Words:
Karirnya yang panjang sebagai penulis skrip (kebanyakan) komedi romantis masa kini tak perlu diragukan lagi. Namun sebagai sutradara, Richard Curtis menghadapi situasi fifty-fifty dengan kesuksesan Love Actually (2003) dan kegagalan Pirate Radio a.k.a The Boat That Rocked (2009) ditilik dari angka box office nya. Saya yakin hanya sedikit di antara anda yang sudah menonton judul tersebut belakangan. Selayaknya salah satu dialog dalam About Time, dibutuhkan ‘anak ketiga’ untuk menentukan kredibilitas Curtis selanjutnya. Penasaran?

Di usia 21, Tim Lake diberitahu ayahnya bahwa setiap lelaki di garis keturunan keluarga mereka bisa menjelajah waktu. Dengan kemampuan barunya itu, harapan Tim sederhana yaitu mendapatkan seorang kekasih. Awalnya ia jatuh hati pada Charlotte di sebuah musim panas. Namun memutuskan pergi ke London untuk mengejar cita-cita sebagai pengacara hingga bertemu Mary di sebuah ‘kencan buta’. Beberapa ‘pengulangan’ membuat romansanya sempurna. Mereka menikah dan dikaruniai putri bernama Posy. Sementara hidupnya berjalan, hidup orang-orang di sekeliling Tim pun berubah.

Skrip yang ditulis Curtis sendiri ini sesungguhnya terbagi dalam tiga chapter. Pertama, percintaan Tim dan Mary. Kedua, hubungan Tim dengan adiknya yang bermasalah, Kit Kat. Ketiga, interaksi Tim dengan ayahnya. Ketiga babak ini secara konstan menjelaskan hukum sebab akibat karena perjalanan waktu yang dilakukannya. Potret keluarga Inggris kelas menengah ditakar secara tepat dengan segala ‘ideology’ nya. Durasi yang cukup panjang seakan memberi ruang bagi penonton untuk perlahan-lahan mengenal multi karakter yang beraneka ragam tapi tidak lari dari sudut pandang Tim seorang.

Perpindahan dari satu waktu ke waktu lain terbilang smooth tanpa banyak detail penjelasan yang bisa jadi akan terlalu menggurui. Set awal tahun 2000an yang dominan di paruh pertama film terbangun sempurna. Sinematografer John Guleserian menjalankan tugasnya dengan baik dalam menangkap momen-momen penting. Lengkap mengiringi lagu-lagu hit pada masanya dari t.A.T.u., Sugababes, The Killers dll termasuk tembang lawas Il Mondo dari Jimmy Fontana. Tak ketinggalan scoring music dari Nick Laird-Clowes yang mengalun syahdu. Atau newhit milik Jon Boden, Sam Sweeney & Ben Coleman, How Long Will I Love You yang super catchy itu.

Gleeson menghidupkan tokoh Tim yang goofy dengan sempurna. Keegoisannya justru terasa manusiawi hingga tak sampai menghilangkan simpati penonton. Latar belakang Mary mungkin tidak cukup digambarkan tapi tak menghalangi McAdams untuk menampilkan sosok wanita muda charming yang insecure. Nighy masih membawakan gaya eksentriknya ke dalam figur ayah bijak. Wilson juga memikat sebagai Kit Kat yang lunatic. Sederetan cast lainnya juga terasa pas menjiwai peranannya masing-masing. 

About Time mungkin tidak sempurna sebagai time travel movie karena timeline yang tak jarang terkesan random. Namun sebagai film keluarga terbilang mumpuni. Ya, keluarga karena sesungguhnya berbicara tentang cinta secara universal, ayah anak, kakak adik, suami istri dsb. Abaikan posternya yang misleading itu. Sesuai dengan judulnya, message dari Curtis benar-benar tersampaikan kepada penonton. Kita begitu ingin memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat tanpa menyadari bahwa selalu ada alasan di balik setiap kejadian. On top of that, we should know how to love, how to live but the most important thing is how to cherish every single moment while you still have time.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$1,076,250 till
Nov 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 18 Februari 2012

THE VOW : Second Tries Happily Marriage Challenge


Quotes:
Leo: Life's all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them?

Nice-to-know:
Café dimana Paige bekerja dan menjadi tempat pertemuan rutin Leo-Paige bernama Mnemonic yang berarti pula alat yang - a mnemonic or mnemonic device is a learning technique used to help memory.

Cast:
Rachel McAdams sebagai Paige
Channing Tatum sebagai Leo
Jessica Lange sebagai Rita Thornton
Sam Neill sebagai Bill Thornton
Scott Speedman sebagai Jeremy

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Michael Sucsy.

W for Words:
Terpikirkah anda jika pasangan hidup anda kehilangan semua memori tentang anda? Stuart Sender menggagas ide tersebut berdasarkan sebuah kisah nyata yang kemudian dituangkan dalam bentuk skrip oleh Jason Katims, Abby Kohn dan juga Marc Silverstein. Tema serupa pernah dihadirkan sebelumnya sebut saja 50 First Dates (2004) ataupun A Moment To Remember di tahun yang sama tentunya dengan alasan medis yang berbeda-beda sebagai latar belakangnya.
Leo dan Paige adalah pasutri muda berbahagia yang tengah mengarungi rumah tangga mereka. Sayangnya sebuah kecelakaan mobil mengakibatkan Paige koma hingga terbangun tanpa mengingat apapun dalam 5 tahun terakhir termasuk tidak mengenali Leo samasekali. Kecintaan Leo lantas membangkitkan usaha kerasnya untuk membuat Paige mengenang kembali apa yang mereka miliki walau bertentangan dengan masa lalu Paige yang sesungguhnya ingin ia lupakan.

Rachel McAdams menjiwai peran dengan cukup baik sehingga tercipta Paige yang menyenangkan dengan kepribadian kuat nan hangat sehingga mampu menarik simpati penonton. Sedangkan Channing Tatum terlepas dari kelebihan fisiknya yang memukau nyatanya masih memperlihatkan akting yang kurang luas sebagai Leo. Aktor aktris senior Sam Neill dan Jessica Lange tampak pas dengan peran orangtua perfeksionis, sama halnya dengan Scott Speedman dengan tokoh mantan brengsek yang sedikit banyak mampu melibatkan emosi penonton.
Pertanyaan yang harus dijawab di sepanjang film adalah dapatkah Paige mengingat semuanya kembali atau maukah ia untuk setidaknya mencoba melakukannya? Konflik dilematis yang diyakini mampu mengaduk-aduk perasaan siapapun yang menyaksikan upaya maksimal Leo yang terkadang kehilangan akal harus bagaimana lagi. Secara film ini diangkat dari kejadian sesungguhnya pada satu titik anda akan meragukan hasilnya apakah mereka akan berakhir bahagia atau tidak.

The Vow mungkin bukanlah cerita cinta terindah yang pernah difilmkan tetapi film ini cukup berbicara banyak mengenai komitmen dua insan terlebih dirilis bersamaan dengan momen hari kasih sayang. Niscaya anda akan tergugah oleh penderitaan Paige ataupun tersentuh oleh jerih payah Leo yang mengalir secara nyata. Tak dipungkiri, momen demi momen akan terus kita temui dalam menjalani hidup, baik ataupun buruk, hingga yang tersisa adalah kenangan itu sendiri yang seringkali terakumulasi tanpa mengenal kesadaran penuh. Siap untuk berikrar?

Durasi:
107 menit

U.S. Box Office:
$41,202,458 opening week of Feb 2012.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 22 Januari 2012

MIDNIGHT IN PARIS : Keindahan Magis Perjalanan Waktu Penulis

Quotes:
Inez: You're in love with a fantasy.
Gil: I'm in love with you.


Storyline:
Sambil mempersiapkan pernikahan, Gil dan Inez berlibur ke Paris menemani orangtua Inez yang melakukan perjalanan bisnis. Di sana Inez berjumpa dengan sahabatnya Carol dan Paul untuk bergabung dalam tour singkat. Gil yang tengah menyelesaikan buku terbarunya memilih menelusuri jalanan malam demi mendapatkan inspirasi. Sekonyong-konyong sebuah kereta kuda menjemputnya, Gil lantas bertemu tokoh-tokoh pujaannya yang hidup di masa lalu. Sebuah proses yang akan mempengaruhi keputusan masa depannya dalam waktu yang amat singkat.

Nice-to-know:
Woody Allen sempat merencanakan produksi film ini di Paris pada tahun 2006 tetapi dibatalkan karena biayanya terlalu mahal.

Cast:
Owen Wilson sebagai Gil Pender
Rachel McAdams sebagai Inez
Kurt Fuller sebagai John
Mimi Kennedy sebagai Helen
Michael Sheen sebagai Paul
Nina Arianda sebagai Carol

Director:
Woody Allen pernah menggarap Everyone Says I Love You di tahun 1996 yang cukup mengesankan itu.

Comment:
Tak henti-hentinya kota Paris menjadi obyek eksploitasi sineas Eropa maupun Amerika. Umumnya karena dipandang indah dan romantis, genre drama selalu menjadi pilihan utamanya. Tanpa terkecuali nama sekaliber Woody Allen yang kali ini menaburkan bumbu komedi dalam takaran yang minim sehingga masih dapat dikategorikan drama elegan yang membahas perjalanan waktu dari masa lalu ke masa depan yang mungkin mengingatkan anda pada The Purple Rose of Cairo (1985).
Hotel bintang lima, Le Bristol dan sederetan lokasi ternama Paris menjadi setting yang amat menjual. Apalagi lantunan jazzy score karya Stephane Wrembel berhasil membangun suasana magis yang menghangatkan. Langit senja, jalanan temaram, tata kota yang rapi, detil arsitektur bangunan yang memanjakan mata menjadi production value yang tak tergantikan. Sebagian besar memang mengesankan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas.

Awalnya saya menganggap adanya nama Owen Wilson dalam jajaran cast merupakan keputusan yang salah. Aktor komedi slapstick yang melekat padanya ternyata memang pas untuk melakoni tokoh Gil yang berjiwa seniman. Seseorang yang bimbang menghadapi situasi dunia nyata yang seringkali bertentangan dengan mimpi-mimpinya. Ketika dihadapkan pada kesempatan paling berharga dalam hidupnya, Gil harus membuat pilihan yang sulit.
Melihat tokoh-tokoh legendaris macam Cole Porter, Zelda Fitzgerald, Ernest Hemingway. F. Scott Fitzgerald, Joséphine Baker,Gertrude Stein, Adriana hingga Pablo Picasso dihidupkan aktor-aktris kaliber akan memukau anda. Tidak lupa menyebut nama si cantik Marion Cotillard yang benar-benar pas untuk peran Adriana yang mempesona itu lengkap dengan aksen Perancis yang seksi. Bertolak belakang dengannya, Rachel McAdams tampak berusaha keras untuk mengangkat karakter Inez yang kurang tereksplorasi itu.

Midnight In Paris bagaikan menjual mimpi tengah malam yang penuh keajaiban dalam visualisasi yang mengagumkan. Sayangnya begitu kembali ke dunia nyata, bagian penutupnya yang melibatkan konflik inti antara Gil dan Inez menjadi sedikit kurang sempurna. Suguhan absurd bertema kompleks tetapi disajikan dengan sederhana jelas menjadikan summer movie yang satu ini tidak dapat dilewatkan begitu saja, stimulasi kuat yang akan membawa jiwa anda menelurusi setiap jengkal kota Paris sebelum menyiapkan raga anda untuk benar-benar travelling kesana!

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$56,407,283 till Jan 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 12 Mei 2010

THE TIME TRAVELER'S WIFE : Penjelajah Waktu Merangkai Kehidupan

Quotes:
Clare Abshire-I wouldn't change one second of our life together.

Storyline:
Artis Clare Abshire berbagi ikatan emosional yang dalam dengan pustakawan Henry De Tamble yang tanpa sekehendaknya dapat bepergian melintasi waktu. Mengetahui bahwa mereka bisa terpisah tanpa peringatan, Clare dan Henry sangat menghargai waktu mereka bersama, mengilhami mereka dengan kerinduan dan hasrat dari dua orang yang terpenjara oleh waktu dan dibebaskan oleh cinta. Namun akankah hubungan mereka tidak memiliki konsekuensi masa depan yang diharapkan?

Nice-to-know:
Jennifer Aniston dan Brad Pitt membuat heboh media massa saat membeli hak cipta film ini kepada penulisnya Audrey Niffenegger bahkan sebelum novelnya dirilis ke publik.

Cast:
Terakhir tampil plontos sebagai Nero dalam Star Trek (2007), Eric Bana disini bermain sebagai Henry De Tamble, pustakawan tampan yang tidak mampu menjalani hidup normal karena selalu menjelajah waktu.
Terakhir terlihat mendampingi aktor Australia juga, Russel Crowe dalam State Of Play (2009), Rachel McAdams kali ini berperan sebagai artis Clare Abshire yang tidak bisa memiliki pernikahan yang normal tetapi tetap berusaha mempertahankannya.

Director:
Pria Jerman bernama Robert Schwentke ini terakhir mengarahkan Jodie Foster dalam Flightplan (2005).

Comment:
Jangan mengharapkan sains fiksi disini karena film ini hanya mengulas romansa pria-wanita dan perjuangan mereka mengatasi kelainan genetik si pria yang bisa membuatnya menjelajahi waktu. Bagian pertama akan menceritakan pengenalan Henry De Tamble dan orang-orang yang dicintainya mulai dari ibu hingga istrinya. Beberapa perjalanan yang membawa era-era terpenting dalam hidupnya. Bagian kedua lebih merupakan perjuangan Henry dan Clare mempertahankan apa yang mereka miliki terlepas dari rintangan berat. Sepanjang film, Bana dan McAdams bertukar chemistry dengan baik mulai dari ekspresi, bahasa tubuh dan berbalas percakapan yang mengalir. Jangan lupa perhatikan perubahan-perubahan fisik Bana sesuai umurnya. Jajaran cast pendukung juga mengontrol peranan masing-masing dengan baik sehingga menghindari kebosanan drama pada umumnya. Rentang waktu itu sendiri mungkin akan membingungkan anda tetapi sutradara Schwentke masih cukup pandai untuk memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat membantu. Jangan bandingkan dengan The Time Machine atau film sejenis yang berusaha mengubah nasib atau apapun itu namanya, The Time Traveler's Wife hanya berfokus pada kedua karakter utamanya dimana kita akan merasakan sedikit unsur komedi dan juga beberapa scene emosional yang sangat menyentuh dengan beberapa twist yang mengejutkan di endingnya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$63,414,846 till early Dec 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 02 Januari 2010

SHERLOCK HOLMES : Duet Kompak Detektif dan Dokter Menelusuri Misteri

Quotes:
Sherlock Holmes-You've never complained about my methods before. Dr. John Watson-I've never complained! When have I ever complained about you practicing the violin at three in the morning, or your mess? Your general lack of hygiene or the fact that you steal my clothes?

Storyline:
Setelah akhirnya menangkap pembunuh berantai gadis-gadis muda dan "penyihir" Lord Blackwood yang akhirnya dihukum gantung, detektif legendaris Sherlock Holmes dan tandemnya Dr. John Watson dengan mudahnya memecahkan berbagai kasus. Namun "kebangkitan" Lord Blackwood dari liang kubur dan bertekad membunuh tiga korban lagi, Holmes harus bekerja lebih keras lagi dalam perburuan tersebut. Dalam perjalanannya, berurusan dengan tunangan baru Watson, kepala Scotland Yard Inspektur Lestrade dan juga godaan wanita misterius Irene Adler. Pada akhirnya tuntutannya hanyalah satu, Holmes harus lebih pintar dalam menghadapi kasus yang penuh tipuan dan ilmu hitam


Nice-to-know:
Beberapa lokasi di Inggris Raya disetting menjadi kota tua seperti Brompton Cemetery, Bunsen Street, Chatham Docks, Finsbury, Freemason's Hall, Little Lever Street, Manchester Town Hall, Mangle Street, Newton Street dan St. Paul's Cathedral serta sedikit scene di New York City.


Cast:

Aktor senior yang pertama kali dinominasikan Aktor Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat Chaplin (1992), Robert Downey Jr. kini kebagian karakter legendaris Sherlock Holmes yang pintar dan eksentrik.

Aktor papan atas kelahiran Inggris yang dinominasikan Aktor Pendukung Terbaik pada ajang Piala Oscar lewat The Talented Mr. Ripley (1999), Jude Law berperan sebagai Dr. John Watson, asisten Holmes yang sangat ilmiah.

Peran antagonis Lord Blackwood dan wanita misterius Irene Adler dipegang oleh Mark Strong dan Rachel McAdams.


Director:
Sutradara eksentrik kelahiran Inggris 41 tahun lalu, Guy Ritchie mulai angkat nama di perfilman dunia setelah film keduanya yaitu Lock, Stock and Two Smoking Barrels (1998) mencapai status cult.

Comment:
Remake yang bisa dibilang sesuai dengan kondisi masa kini. Acungan jempol untuk sutradara Ritchie yang berhasil melakukan delivery dengan sangat baik serta tensi yang terjaga sepanjang film sehingga dua jam tidak terlalu dirasakan oleh penonton. Lihat bagaimana ia bermain dengan fast track dan slow motion yang sangat menarik terutama untuk berbagai adegan aksi yang porsinya pas tanpa mengganggu keseimbangan tema. Plot cerita disesuaikan dengan literatur yang terfokus pada Holmes dan Watson dalam memecahkan misteri demi misteri. Penjiwaan Downey Jr. terhadap Holmes yang kecanduan alkohol, gemar berlatih beladiri, hobi menyamar dan seringkali mengejek orang-orang di sekitarnya nyaris sempurna. Chemistrynya bersama Watson terasa pas yang juga dimainkan dengan berkarisma tinggi oleh Law. Strong menampilkan karakter Lord Blackwood dengan misterius, picik dan menyeramkan. Belum lagi McAdams yang memberi nuansa cantik berbahaya, sulit ditebak untuk karakter Irene Adler. Semua itu menjadikan jajaran cast yang sangat menjanjikan. Tim produksi juga sukses memvisualisasikan kota tua London dengan indah dan sesuai mood pada masanya. Versi Sherlock Holmes terbaru ini bisa dikatakan yang terbaik dari karya-karya Sir Arthur Conan Doyle manapun dari berbagai aspek yang ditawarkannya.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$62,390,000 in end of Dec 2009 (opening week)

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!