XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jason statham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jason statham. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2012

THE EXPENDABLES 2 : When Old Guns Are Having Fun

Quote:
Trench: I'll be back. 
Church: You've been back enough. I'll be back.  

Nice-to-know:
Seorang stuntman meninggal dan lainnya dalam kondisi kritis ketika kru tengah syuting di Bulgaria yang melibatkan ledakan perahu karet.

Cast:
Sylvester Stallone sebagai Barney Ross
Jason Statham sebagai Lee Christmas
Jet Li sebagai Yin Yang
Dolph Lundgren sebagai Gunner Jensen
Chuck Norris sebagai Booker
Jean-Claude Van Damme sebagai Villain
Bruce Willis sebagai Church
Arnold Schwarzenegger sebagai Trench
Terry Crews sebagai Hale Caesar
Randy Couture sebagai Toll Road
Liam Hemsworth sebagai Bill The Kid
Scott Adkins sebagai Hector
Nan Yu sebagai Maggie 

Director:
Merupakan feature film kesembilan bagi Simon West setelah The Mechanic (2011) yang juga didukung oleh Jason Statham.

W For Words:
Film aksi seru yang tidak membutuhkan nalar khusus dalam mencerna jalan ceritanya merupakan prospek potensial bagi industri perfilman untuk menjaring penonton awam membayar tiket dan bersenang-senang selama lebih kurang dua jam. Hollywood (Millennium Films dan Nu Image Films) jelas tak lupa gagasan itu ketika memutuskan memproduksi The Expendables (2010) yang sukses secara komersil itu. Tidak heran jika dua tahun kemudian muncul sekuelnya dengan jajaran pendukung gaek yang masih tegak berdiri.

Karena kekacauan terdahulu yang disebabkan Barney dkk, utusan CIA bertitel Church memberi tugas "wajib" mengawal Maggie dalam menemukan "MacGuffin" yang dapat membahayakan dunia jika jatuh di tangan pihak yang salah. Malangnya, mereka keduluan sekelompok penjahat keji yang dipimpin oleh Villain, bahkan kehilangan salah satu anggotanya yaitu Billy The Kid. Pengejaran berlanjut ke Eropa Timur dimana Barney dkk bertekad membalas dendam sekaligus menuntaskan misi berdarah yang telah dimulai.

Jika Stallone sudah menetapkan "standar" lewat penyutradaraan prekuelnya maka Simon West yang lebih berpengalaman seharusnya mampu membawa film ini ke level yang lebih tinggi. Menilik premisnya yang menjanjikan lebih banyak aksi, darah dan kekerasan, bisa jadi anda setuju setelah credit title bergulir. Namun akting buruk, plot setengah matang hingga editing manipulatif tetap tak dapat dihindari. Untungnya berbagai dialog one-liner cheesy dan spontanitas momen komedik masih mampu membangkitkan senyum dan tawa.

Keterlibatan Liam Hemsworth disini patut dipertanyakan, apakah hanya ingin menarik penonton lebih muda yang ingin melihat idola mereka ditumbalkan setelah memainkan unsur dramatis di pembuka film? Sama halnya dengan Jet Li yang tampil sekilas tentunya akan mengecewakan kubu penonton Asia. Namun setidaknya pendatang baru berwajah oriental, Nan Yu memberikan warna tersendiri sebagai satu-satunya wanita sekaligus tokoh kunci yang ternyata tangguh dan jago beladiri.

Adu otot dan tubuh prima antara Stallone dan Van Damme jelas dominan, mereka bahkan saling berhadapan pada final combat yang ditunggu-tunggu itu. Willis dengan gaya perlentenya yang memang tidak sampai terlibat pertarungan tapi hilarious moment nya bersama Schwarzenegger dalam parodi Terminator tak akan terlupakan begitu saja. Lundgren masih dengan kelambanannya, kontras jika dibandingkan Statham dengan kesigapannya. Jangan lupakan old dog, Norris yang entah apa fungsinya kali ini. 

The Expendables 2 jelas bukan konsumsi anak-anak karena banyaknya adegan berdarah karena tertembak atau potongan tubuh berhamburan karena ledakan. Ini adalah tontonan kaum lelaki yang menjual maskulinitas layaknya permainan video game dengan misi berbahaya yang diterima dan balas dendam yang harus dituntaskan. Reuni bintang-bintang lawas tahun 80-90an yang sangat mahir dalam genre ini merupakan nilai jual utama meskipun sedikit bergaya parodi. These old guns are definitely just having fun on screen, playing hard without taking stratches!

Durasi:
103 menit

U.S. Box Office:
$28,591,370 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 12 Mei 2012

SAFE : Typical Statham Movies In Chinese And Russian Nuance

Quotes:
Luke Wright: What the hell did you do, kid? 


Nice-to-know:
Lokasi syuting yang menggambarkan Dekalb Ave subway station dan Canal St station ternyata dilakukan di Cortlant St station.

Cast:
Jason Statham sebagai Luke Wright
Catherine Chan sebagai Mei
Robert John Burke sebagai Captain Wolf
James Hong sebagai Han Jiao
Anson Mount sebagai Alex Rosen
Chris Sarandon sebagai Mayor Tremello
Reggie Lee sebagai Quan Chang



Director:
Merupakan film keenam bagi Boaz Yakin yang paling dikenal lewat Remember The Titans (2000).

W For Words:
Jason Statham memang sebuah nama yang belakangan ini semakin dikenal lewat peran-peran action stereotype yang lebih menonjolkan aksi daripada akting. Film produksi Lionsgate ini bisa jadi salah satunya tetapi melihat nama Lawrence Bender yang biasa memproduseri film-film Quentin Tarantino di jajaran produser, ditambah nama Kevin Spacey sebagai salah satu produser eksekutif tentunya boleh membuat kita berharap lebih.

Luke Wright mendapati istrinya dibunuh mafia Rusia tepat setelah ia memenangi pertandingan beladiri. Dari kejayaan ring menjadi kemiskinan jalanan, Luke nyaris menghabisi nyawanya sendiri di stasiun kereta bawah tanah sampai ia melihat gadis cilik berusia 11 tahun diburu oleh gerombolan mafia. Mei memang bukan anak biasa karena kemampuan mengingat dan berhitungnya yang luar biasa hingga dipercaya oleh Han Jian memegang kunci kombinasi brankas bernilai 30 juta dollar. Luke sepakat melindungi Mei sambil membereskan kekacauan yang tak dapat ditangani kepolisian tersebut.

Fans Statham sekali lagi akan mengagumi ketangkasannya beradu tinju, senjata sambil melontarkan dialog-dialog corny one-liners. Karakter Luke Wright harus diakui tak jauh berbeda dengan Frank Martin dalam trilogy The Transporter, sama-sama melindungi seseorang dari balik kemudi dari satu tempat menuju tempat lainnya sambil menghabisi musuh-musuhnya. Sesuatu yang selalu dilakoninya dengan cool walaupun mungkin membosankan bagi sebagian penonton.

Debut Catherine Chan terbilang menarik. Mei yang digunakan sebagai alat oleh Chinese triad yang “mengasuh”nya mampu belajar dari apa yang ia lihat dalam sekejap. Ia juga sukses menyembunyikan ketakutannya dengan wajar baik saat nyawa orang lain di sekitar atau justru dirinya sendiri terancam oleh todongan senjata api. Bahasa Inggrisnya cukup fasih dimana dialog-dialog “Chinglish” semacam ‘bad business’ atau ‘happiness for you’ yang terucap dengan polos akan membuat anda tersenyum.

Penulis skrip sekaligus sutradara Boaz Yakin menyajikan narasi super cepat bergaya urban di tengah kota New York, menempatkan triad Cina, mafia Rusia, walikota korup sampai polisi kotor dalam “peperangan” bermotif uang. Oleh karena itu penonton tak akan terlalu peduli lagi dengan logika ceritanya sejauh bombardir adegan aksi pemacu adrenalin dalam Safe bekerja dengan baik dalam nuansa multi-kulturalisme yang kontras itu. 

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$13,080,883 till May 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 14 Oktober 2011

KILLER ELITE : Tugas Politik Wajib Pensiunan Pembunuh

Quotes:
Hunter: I gotta cover my expenses.
Danny Bryce: You and I got a lot in common.


Storyline:
Setelah tugas membunuh seorang pria di depan anaknya sendiri di Mexico, Danny bertekad berhenti dan memulai hidup barunya bersama Anne. Sayangnya di Australia, Sheikh Amr menugaskannya untuk menyelesaikan misi gagal mentornya yang kini dipenjara, Hunter. Bersama dengan Davies dan Meier, Danny mulai memburu tiga petugas SAS untuk pengakuannya. Paris, London sampai Asia Tengah, Danny harus bermain kucing-kucingan dengan pemimpin kelompok militer rahasia, Spike sebelum benar-benar keluar dari permainan hidup matinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Omnilab Media, Ambience Entertainment, Current Entertainment, Film Victoria, International Traders, Open Road Films, Palomar Pictures, Sighvatsson Films dan Wales Creative IP Fund.

Cast:
Mengawali karir aktornya lewat Lock, Stock and Two Smoking Barrel (1998), Jason Statham berperan sebagai Danny
Pertama muncul di usia 23 tahun lewat serial televisi Rockliffe's Babies (1987), Clive Owen bermain sebagai Spike
Robert De Niro sebagai Hunter
Dominic Purcell sebagai Davies
Aden Young sebagai Meier
Yvonne Strahovski sebagai Anne

Director:
Gary McKendry cuma pernah menangani film pendek berjudul Everything in This Country Must (2004) sebelumnya.

Comment:
Jason Statham mungkin sebuah nama yang membosankan bagi saya karena nyaris selalu tampil stereotype, tapi tidak halnya dengan Robert De Niro dan Clive Owen yang selalu memuaskan dalam peran-perannya. Menggabungkan ketiganya dalam sebuah film aksi yang diembel-embeli “berdasarkan kisah nyata” yang tertuang dalam buku buah pena Ranulph Fiennes merupakan nilai jual utama bagi film yang skripnya dikerjakan oleh Matt Sherring ini.
Statham biasa dikenal sebagai pembunuh “super” yang mampu menghabisi siapapun juga yang menghadang jalannya, DeNiro biasa melontarkan monolog ataupun dialog yang penuh arti didukung dengan ekspresi khasnya sedangkan Owen biasa dikenali oleh penjahat tangguh yang licin. Ketiganya memang mampu memenuhi rasa dahaga anda dengan aksi-aksinya tapi entah mengapa saya merasa tidak ada ikatan yang kuat dengan penonton sehingga “mengikuti” wajahnya saja yang diingat bukan nama-nama mereka.

Debut penyutradaraan McKendry terbilang tidak mengecewakan. Gayanya menyajikan action thriller yang maskulin ini cukup meyakinkan walaupun sedikit terkesan old-fashioned layaknya tahun 80an, bisa jadi demi menyiasati bujet yang tidak terlalu tinggi ini. Serentetan adegan tembakan, pemukulan, kejar-kejaran mobil hingga pembunuhan sadis dijamin akan memuaskan anda terlebih pada satu sekuens dimana Statham dan Owen saling beradu mulut dan fisik sekaligus.
Plot cerita yang didasarkan oleh “The Feather Man” ini menawarkan sejumlah twist yang unpredictable sekaligus berbagai subplot yang saling kait-mengait. Membuat anda mereka-reka di sepanjang film, apa sesungguhnya motivasi mereka jika dihadapkan satu sama lain. Si A yang seharusnya membunuh si B malah gagal karena terbunuh dulu oleh si C. Sayangnya tempo cepat yang dikembangkan tidak diimbangi oleh kinerja kamera Simon Duggan yang terasa shaky dan seringkali terlalu close up itu.

Killer Elite adalah film aksi yang menyenangkan penuh intrik yang menjadikan seluruh tokohnya abu-abu. Silakan pilih karakter siapa yang anda bela sejak awal. Membayangkan kejadian nyata yang ditata sedemikian rupa, tidak heran jika plotnya tergolong rumit dengan batasan-batasan yang sulit diterima akal sehat karena sudah melibatkan unsur politik. Yang jelas bagi insan semacam mereka, membunuh itu mudah tetapi sulit menjalani kenyataan hidup setelahnya.

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$21,646,929 till Oct 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 26 Juni 2011

BLITZ : Meringkus Pembunuh Polisi Berantai

Tagline:
It’s killer-cop versus cop-killer!

Storyline:
Sersan Tom Brant seringkali “main hakim” sendiri di jalanan London. Meski demikian tidak ada yang berani menegurnya di kantor polisi. Hingga pada satu ketika, terjadi beberapa pembunuhan terhadap perwira polisi secara brutal. Tersangka utama adalah Barry Weiss yang seringkali keluar masuk penjara dan sikap abusifnya. Brant ditugaskan menangani kasus ini bersama atasan polisi yang baru, Porter Nash yang diolok-olok karena orientasi seksualnya yang berbeda. Kerjasama yang sepintas sulit dibayangkan itu pada akhirnya memang dibutuhkan untuk membekuk si pelaku keji tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Blitz Films dan Lionsgate yang juga membantu distribusinya.

Cast:
10 film terakhirnya selalu rilis di bioskop Indonesia termasuk Gnomeo & Juliet di tahun ini, Jason Statham berperan sebagai Detective Sergeant Tom Brant
Paddy Considine sebagai Porter Nash
Pencapaian terbaiknya selama ini diraih lewat Treacle Jr. (2010), Aidan Gillen bermain sebagai Barry Weiss / The Blitz
Zawe Ashton sebagai WPC Elizabeth Falls
David Morrissey sebagai Harold Dunphy

Director:
Merupakan film kedua bagi Elliott Lester setelah Love Is The Drug (2006).

Comment:
Terus terang saya sudah mulai jenuh melihat aksi Statham sebagai frontrunner dalam sebuah film aksi ataupun thriller. Pasalnya improvisasi yang dilakukannya tidak banyak berbeda dari satu peran ke peran yang lain tanpa terkecuali sebagai Detektif Brant disini. Yang sedikit membedakannya adalah gaya polisi tahun 70-80an yang diperagakannya dengan cukup lugas. Tidak sedominan biasanya memang tapi aksinya masih tetap enjoyable.
IMO, Gillen sebagai villain justru paling mencuri perhatian kali ini. Pembunuh berdarah dingin bergaya eksentrik yang haus publisitas Barry Weiss berhasil memicu antipati penonton yang berharap adanya hukuman setimpal baginya di akhir cerita. Karakter Porter Nash sebetulnya cukup menarik sebagai polisi gay yang terlihat straight tapi sayangnya kiprah Considine tidak banyak mendapat ruang untuk mengekspos perannya.
Skrip yang dikembangkan oleh Nathan Parker berdasarkan novel berjudul sama karya Ken Bruen ini tidak menawarkan banyak hal baru. Plot ceritanya sudah banyak ditemukan dalam film-film sejenis, hanya saja identitas sang pelaku sudah diungkap sejak pertengahan film. Dengan demikian yang tersisa hanyalah bagaimana strategi sang protagonis untuk dapat menjebak sang antagonis demi menegakkan keadilan sekaligus kepuasan audiens.
Sutradara Lester memang terlihat tidak berusaha menyajikan film dalam format smart dark thriller yang membuat penontonnya berpikir dan berdebar-debar. Namun lebih pada thriller yang ringan, terang dan cenderung mudah diprediksi. Meski demikian nuansa British memang terasa kuat pada unsur sinematografinya. Coba saja anda simak adegan kejar-kejaran di sepanjang jalan raya London yang ramai dan klasik itu.
Sebagai sebuah tontonan, Blitz memang menghibur karena tidak terlalu berambisi layaknya film-film Hollywood. It is good, but not great. Cukup banyak plot holes yang tersisa disana-sini bahkan hingga credit title muncul tetap menyisakan berbagai pertanyaan yang tidak sempat terjawab (atau memang sengaja dibiarkan begitu). Belum lagi karakter-karakternya yang terasa semi-developing meski tetap bervariasi. Tidak ada salahnya menikmati saja interaksi polisi-penjahat yang cukup inovatif layaknya kucing tikus itu.

Durasi:
90 menit

U.K. Box Office:
£79,565 till June 2011 (limited showing)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 06 April 2011

13 : Kesempatan, Nasib, Peluru dan Russian Roulette

Tagline:
Spin. Aim. Survive

Storyline:
Vince tengah dirundung malang saat ayahnya harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang besar. Saat kalut, Vince malah mengambil surat dari saku seorang pria yang baru dinyatakan meninggal. Surat tersebut mengantarnya pada sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Pamit pada keluarganya, Vince menempuh perjalanan panjang dan berjumpa dengan sesama peminat lainnya yaitu Ronald, Jefferson dsb. Apa yang telah ia mulai harus ia selesaikan juga bagaimanapun resikonya. Dan saat selongsong pistol diisi peluru, nasiblah yang akan membawa Vince untuk keluar dari taruhan nyawa yang gila!

Nice-to-know:
Awalnya Ray Liotta akan memerankan Detektif Larry Mullane sebelum jatuh ke tangan David Zayas karena konflik jadwal.

Cast:
Sebelumnya bermain dalam Franklyn (2008) bersama Ryan Phillippe, Sam Riley kini kebagian peran Vince yang lugu dan terjebak dalam permainan hidup mati yang tidak pernah dibayangkannya.
Ray Winstone sebagai Ronald Lynn
Jason Statham sebagi Jasper
Emmanuelle Chriqui sebagai Aileen
Mickey Rourke sebagai Jefferson
Alexander Skarsgård sebagai Jack

Director:
Géla Babluani sebelumnya menangani L'héritage di tahun 2006.

Comment:
Saya memang belum pernah mendengar atau menyaksikan 13 Tzameti (2005) sebelumnya. Namun tetap menganggap premis film ini menarik apalagi transformasi French movie to Hollywood movie seringkali menawarkan hal-hal baru. Harapan ini langsung terjawab di menit-menit pertama dimana suasana dingin bersalju mengiringi pengenalan tokoh-tokohnya satu persatu.
Sutradara Babluani secara perlahan-lahan merekonstruksi plot cerita dari metodik yang sangat mendasar. Informasi demi informasi dihadirkan sampai terbentuk sebuah penjelasan yang menjawab semua pertanyaan sedari awal. Pendekatan yang satu ini rasanya cukup membuat penonton bekerja keras untuk mencaritahu dunia macam apa yang sesungguhnya terselubung itu.
Penunjukkan Riley sebagai karakter utama terbilang tepat. Bagaimana Vince yang lugu terjebak dalam situasi yang tidak diduganya samasekali hingga mengubah sifatnya tanpa disadari. Sayangnya proses ini dirasa terlalu cepat dan tidak mendapat penjelasan lebih lanjut terlebih saat ia mengelabui polisi yang menginterogasinya. Sekadar catatan, sosoknya mungkin mengingatkan anda pada Brendan Fraser beberapa tahun lalu.
Kakak beradik Ronald dan Jasper dimainkan oleh Winstone dan Statham dengan gaya tersendiri. Winstone terasa lebih menonjol dimana sisi antagonisnya malah mengundang simpati, sedangkan Statham lebih merupakan karakter pendukung dan cukup menyenangkan melihatnya berakting berbeda dari biasanya. Tak lupa Rourke yang lagi-lagi mencuri perhatian dengan performanya yang sulit ditebak.
Merangkum 13 bagaikan merajut potongan-potongan puzzle yang sepintas hampa tapi ternyata hasilnya cukup mengesankan. Sajian permainan senjata “Russian Roulette” hidup dan mati dijamin akan membuat anda tergerak untuk spontan menutup mata dan telinga. Scene yang sangat memorable bagi saya. Tak dipungkiri, nasib dan kesempatan yang didapat seringkali mengubah hidup seseorang yang harus diimbangi oleh tindakan nyata dan pengambilan keputusan yang tepat. Beranikah anda menanggung segala resiko tersebut?

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 30 Januari 2011

THE MECHANIC : Tuntaskan Misi Sempurna Sekaligus Mentoring

Tagline:
Someone has to fix the problems.

Storyline:
Arthur Bishop adalah seorang mekanik alias orang yang membereskan segala sesuatunya hingga tuntas atas perintah orang yang membayarnya termasuk melakukan pembunuhan tanpa jejak sekalipun. Saat mentor yang juga teman baik Arthur, Harry dibunuh secara misterius, aksi balas dendam pun dirancang. Arthur tidak sendiri karena putra Harry, Steve memiliki niat yang sama, bahkan berguru langsung padanya. Mampukah Arthur mendidik Steve hingga menjadi seorang mekanik handal atau sebaliknya menjerumuskannya ke dalam kerasnya dunia hitam?

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film berjudul sama di tahun 1972 yang dibintangi oleh Charles Bronson.

Cast:
Terakhir muncul dalam 13 (2010) yang juga bergenre action, Jason Statham kali ini berperan sebagai Arthur Bishop
Mengawali karirnya lewat serial televisi Flash Forward (1996-1997), Ben Foster disini bermain sebagai Steve McKenna
Tony Goldwyn sebagai Dan
Donald Sutherland sebagai Harry McKenna
Jeff Chase sebagai Burke
Mini Anden sebagai Sarah

Director:
Debut gemilangnya dalam Con Air (1997) sempat membuat nama Simon West melambung sebagai sutradara film aksi.

Comment:
Jika membicarakan film-film Charles Bronson mungkin eranya terlalu dini karena saya belum lahir pada saat itu! Namun nama beliau memang terdengar familiar di telinga saya, sama halnya seperti Chuck Norris, Sean Connery, Van Damme dsb yang berbeda-beda masa. Dan harus diakui paska tahun 200an ini memang mencuat satu nama yaitu Jason Statham yang nyaris semua film aksinya berbenang merah yang sama. Bedanya kali ini ia tidak “one-man show” seperti biasanya tetapi didampingi Ben Foster yang lebih junior.
Kharisma Statham sebagai Arthur memang meyakinkan. Citarasa cool seorang pria sejati mungkin sudah melekat di dirinya sehingga tidak perlu banyak dialog rasanya Statham tetaplah jagoan sejati. Namun jika di setiap filmnya, kita disuguhi hal yang kurang lebih sama, anda bisa bayangkan? Sedangkan Foster bermain jauh lebih menarik sebagai Steve yang masih “hijau” tapi menyimpan “energi” tersembunyi di dalamnya. Tak lupa Sutherland dan Goldwyn yang sudah kawakan itu berhasil memaksimalkan keterbatasan scene yang melibatkan mereka.
Sutradara West sepintas terampil menyajikan aksi baku tembak ataupun baku hantam yang non-stop di sepanjang durasinya. Namun jika anda cermati lagi, penggunaan kamera terasa kurang konsisten dimana kadang terlalu cepat/lambat ataupun mengambil angle yang tidak terlalu pas. Sebuah siasat untuk menutupi kekurangan teknik berkelahi para aktornya? Bisa jadi. Aspek yang terpenting yaitu bagaimana terlihat meyakinkan dulu.
Kesimpulan yang dapat saya petik, The Mechanic adalah sebuah film action yang sangat menghibur dengan tempo cepat. It’s a men movie definitely! Apalagi ditambah dengan adegan seks yang eksplisit, ledakan, tembakan mematikan, pertarungan hingga kejar-kejaran mobil. Dan semuanya itu tidak dangkal ataupun klise seperti yang biasa ditonjolkan. Sebuah bentuk lain dari aksi seorang Statham tentunya yang nilainya di atas rata-rata.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 14 Agustus 2010

THE EXPENDABLES : Tuntaskan Misi Jantan Pembunuhan Diktator

Tagline:
Heroes today. Legends forever

Storyline:
Kelompok pejuang bernama The Expendables yang dipimpin Barney Ross beranggotakan ahli pisau Lee Christmas, jago kungfu Yin Yang, spesialis senjata berat Hale Caesar, peledak Toll Road dan penembak jitu Gunner Jensen. Ketika mereka semua ditugaskan Mr. Church yang misterius untuk membunuh diktator pulau kecil di Amerika Selatan, General Garza yang diback up oleh mantan anggota CIA, James Munroe dan asistennya, Paine. Tugas yang tidak mudah karena harus menghadapi ribuan tentara bayaran dan juga kehadiran Sandra, putri jenderal yang ingin menghentikan ayahnya sendiri. Akankah misi tersebut dapat diselesaikan dengan baik?

Nice-to-know:
Jean Claude Van Damme dan Wesley Snipes sempat ditawarkan peran tapi membatalkan keikut sertaannya hingga Dolph Lundgren dan Forest Whitaker mengisinya.

Cast:
Sylvester Stallone sebagai Barney Ross
Jason Statham sebagai Lee Christmas
Jet Li sebagai Ying Yang
Dolph Lundgren sebagai Gunner Jensen
Eric Roberts sebagai James Munroe
Randy Couture sebagai Toll Road
Steve Austin sebagai Paine
David Zayas sebagai General Garza
Giselle Itié sebagai Sandra

Director:
Pertama kali Sylvester Stallone merangkap sebagai aktor, penulis dan sutradara lewat Paradise Alley (1978) dan diulanginya beberapa kali sampai tahun 2010 ini.

Comment:
Daya pikat utama film ini harus diakui adalah jajaran cast yang sangat mendukung untuk sebuah film aksi, bukan hanya 1-2 nama tapi lebih dari 10 nama! Semua itu diprakarsai oleh Stallone seorang yang bekerja keras meyakinkan bintang-bintang tersebut untuk bermain. Jika sudah demikian, tinggal dibutuhkan skrip yang baik dan menurut saya Stallone cukup cerdas menyiasati apa yang bisa dimaksimalkan dan harus diminimalkan. Suatu misi mustahil yang harus dijalani sekelompok personil tentunya tidak asing lagi dan mungkin endingnya sudah dapat diduga, yang menarik sebetulnya proses menuju kesana.
Dari sisi maksimalnya, Stallone benar-benar menyuguhkan semuanya mulai dari ledakan besar, adu tembak, kebut-kebutan, pertarungan jarak dekat dll dengan bantuan granat, bom asap, bensin, pesawat tempur, mobil, pisau belati, peluru, senapan riffle, machine gun dsb yang dipastikan membuat darah berhamburan ataupun anggota tubuh yang tercerai-berai. Itulah sebabnya film ini tidak direkomendasikan bagi yang lemah jantung ataupun kemungkinan pencemaran suara karena tingginya volume yang digunakan.
Dari segi minimalnya, beberapa dari cast memang tidak muda lagi termasuk Stallone sendiri tetapi ia mengarahkan nama-nama tersebut sesuai porsinya masing-masing. Statham yang memang aktor action sejati saat ini memegang porsi terbesar berantem satu lawan satu, Jet Li di luar fisik "mini"nya tetap dibutuhkan untuk porsi beladiri, yang lainnya tetap dibiarkan masuk dengan bantuan senjata. Menarik bukan? Pembagian scene demi scene juga tergolong merata dan tidak ada unsur pemaksaan. Dialog di antara karakternya pun terasa tajam dan sinis terutama di paruh pertama film, mungkin ini yang menyebabkan tingginya rating yang kebanyakan diberikan penonton di Amerika Utara dan sekitarnya.
Yang juga terasa minus adalah spesial efeknya yang masih terasa kasar di sebagian besar adegan meskipun bujetnya sudah membengkak 15-20 juta dollar dari 60 juta yang semula direncanakan. Originalitasnya juga diragukan walau mungkin tidak akan terlalu penting.
The Expendables dari berbagai sisi terasa seperti film aksi tahun 1980an atau 1990an tetapi tetap terasa kekiniannya karena setia pada pakem yang ingin dinikmati penonton yang belakangan ini kesulitan mencari adegan aksi yang baik untuk memacu adrenalin mereka terutama kaum pria. Nantikan saja sekuelnya dengan misi yang lain lagi.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$13,300,000 in opening day Aug 12, 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 10 Mei 2009

CRANK HIGH VOLTAGE : Memacu Jantung Buatan Tenaga Listrik

Quotes:
Chev Chelios-[catches up with Johnny Vang after chase] Did I just drop some change
[grabs Johnny Vang by neck]
Chev Chelios-or did I hear a chink?

Cerita:
Sekarat setelah jatuh dari ketinggian 50 kaki, tubuh Chev Chelios dibawa langsung dari TKP oleh sekelompok gangster Cina yang segera mengoperasi dan mengambil jantungnya untuk ditukar dengan jantung buatan yang harus selalu diisi dengan tenaga listrik. Bersusah payah meloloskan diri, Chev bertemu dengan pacarnya Eve untuk kemudian berusaha bertahan hidup dengan melakukan cara-cara yang ekstrem untuk membuat jantungnya tetap berdenyut sambil mengejar Johnny Vang yang melarikan jantung aslinya dalam kotak merah putih.

Gambar:
Seakan disyut dengan handheld camera, gambar bergoyang-goyang menjadi suguhan utama film ini mengikuti aksi aktor utamanya berjibaku sendirian!

Act:
Saya tidak akan membahas akting mereka satu persatu karena film ini murni mengesampingkan seni peran.Seakan menjelma menjadi aktor laga masa kini, Jason Statham sebagai Chev memulai karirnya dalam film kecil yang kemudian menjadi cult arahan Guy Ritchie yaitu Lock, Stock And Two Smoking Barrels (1998).
Amy Smart sebagai Eve mulai dikenal sejak membintangi serial televisi Felicity periode 1999-2001.
Aktris kelahiran Chengdu, Bai Ling sebagai Ria mulai angkat nama sejak bermain dalam Nixon (1995) dan Red Corner (1997).
Art Hsu sebagai Johnny Vang belum banyak dikenal meski namanya tidak tercantum dalam credit title saat mendukung Pirates Of The Caribbean : At World's End (2007).

Sutradara:
Kolaborasi Mark Neveldine dan Brian Taylor berawal dari Crank (2006) yang di luar dugaan mampu untung berlipat-lipat dari biaya produksinya. Sekuel ber subjudul High Voltage ini berselang 3 tahun setelah ending dari prekuelnya. Meski dengan cast inti yang sama, ada sedikit perbaikan gaya dibandingkan dulu sehingga diyakini film ini akan lebih disukai.

Komentar:
Anda harus mengesampingkan logika saat menyaksikan film ini karena semua elemen pendukungnya adalah IMPOSSIBLE. Jika mampu, niscaya anda bisa menikmati Crank : High Voltage yang penuh aksi dari awal sampai akhir terlepas dari bisa diterima atau tidak. Lima kata yang menggambarkan film ini: GILA, ORISINIL, VULGAR, KERAS dan PENUH EKSPLOITASI! Salut buat sutradara yang sukses mengadopsi gaya The Bourne Identity tapi dengan level yang berbeda.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$13,293,986 till early May 2009

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 25 Januari 2009

THE BANK JOB : Perampokan Bank Berbuntut Intrik Berbagai Pihak

Quotes:
[Terry has fallen through into an underground vault while digging the tunnel to get into the bank]
Dave Shilling-What's down there?
Terry Leather-It's a pile of skeletons.
Dave Shilling-You're joking. Let's hope they're not the last gang who tried to take this bank.
[robbers laugh]

Cerita:
Terry berusaha menghindari kejahatan kelas kakap sebelum bertemu Martine yang menawarkan petunjuk perampokan bank yang diyakini sukses di Baker Street, London. Terry menganggap kesempatan ini sekali seumur hidup dan mengajak teman-temannya untuk membobol ruang penyimpanan titipan nasabah yang bernilai jutaan dollar dalam bentuk uang tunai maupun perhiasan. Tak hanya itu, sekumpulan rahasia kotor yang menyeret mereka ke dalam belitan jaringan korupsi dan skandal maut serta pemerintah Inggris tingkat tinggi sampai keluarga kerajaan. Kisah sejati tentang perampokan yang menjadi kacau dalam hal-hal yang tepat.

Gambar:
Berbagai lokasi di Inggris menyuguhkan gambaran yang menarik dan bervariasi sepanjang film termasuk Stasiun Bawah Tanah Aldwych, Marylebone Road, Studio Pinewood dan beberapa scene di Australia dan Italia.

Act:
Menjadi musuh Jet Li dalam The One (2001) adalah satu dari sekian peran yang pernah dimainkan Jason Statham yang semuanya bergenre laga termasuk sebagai Terry Leather, mantan penjahat yang tergiur kembali pada perampokan besar.
Mengawali karirnya dalam peran kecil di In The Name Of The Father (1993), Saffron Burrows kali ini berperan sebagai Martine Love, model seksi yang memiliki rencana matang dalam melakukan kejahatan kelompok.
Turut didukung oleh Daniel Mays sebagai Dave Shilling yang bernasib sial.

Sutradara:
Pernah menyutradarai film yang akhirnya menjadi cult yaitu Cocktail (1988), Roger Donaldson selama 10 tahun terakhir tidak terlalu aktif berkarya. The Bank Job yang merupakan sekuel dari remake sukses ini kehilangan seluruh cast pendahulunya.

Komentar:
Sepertiga film diawali dengan percakapan dan pengenalan yang terlampau lambat sehingga amat membosankan. Namun saat Martine dan Terry berkenalan, film bergulir dengan cepat dengan intrik yang menarik. Detail perampokan sampai berujung pada penemuan tidak terduga yang memunculkan permainan kucing tikus yang sulit ditebak akhirnya adalah eksekusi plot cerita brilian yang disuguhkan sutradara. Diangkat dari kisah nyata pada masa lalu, The Bank Job memang memiliki kemiripan dengan prekuelnya The Italian Job yang dibintangi aktor-aktris populer Hollywood. Tapi bukan berarti cast disini bisa diremehkan begitu saja. Semuanya tampil memikat. Hanya saja kekurangan yang paling mencolok adalah aksen dan gaya British yang terlalu dipaksakan dan terkesan kurang pas. Di luar itu, this is a fine movie for you to watch!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$30,028,592 till Jun 2008

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 21 Desember 2008

TRANSPORTER 3 : Berpacu Dengan Tugas Mengantarkan Gadis

Quotes:
Frank Martin-Do I look like a man who came half-way across Europe to die on a bridge?

Cerita:
Frank Martin dipaksa untuk mengantar Valentina, putri Leonid Vasilev yang diculik, kepala dari Agensi Perlindungan Lingkungan Ukraina dari Marseilles sampai Stuttgart dan Budapest hingga Laut Hitam. Selama perjalanan, Frank dibantu Inspektur Tarconi kerapkali menemui hambatan dari pada agen Vasilev yang berniat menghalanginya, belum lagi Valentina yang teramat sangat sulit diatur. Meskipun demikian, Frank harus menempuh situasi berbahaya untuk mengambil resiko selamat sekecil apapun.

Gambar:
Bersetting dari Hungaria, Perancis hingga Ukraina, franchise Transporter ini kembali menyuguhkan adegan-adegan cepat yang memacu adrenalin terutama dari kejar mengejar kendaraan yang sangat seru!

Act:
Masing-masing berselang 3 tahun dari installment pertamanya di tahun 2002, Jason Statham tetap memegang peranan Frank Martin yang tangguh sekaligus flamboyant sebagai si pengantar dengan mobil mewah.
Aktris Rusia, Natalya Rudakova memulai debutnya dengan bermain sebagai Valentina, putri Menteri yang berperangai manja dan sulit diatur.

Sutradara:
Satu-satunya prestasi internasional yang sudah dikenal bagi Olivier Megaton adalah saat menjadi astrada Hitman (2007). Selebihnya hanya beberapa film Perancis terutama serial televisi yang pernah digarapnya.

Komentar:
Awalnya saya merasa akan disuguhkan episode lain Transporter yang fun dan seru seperti dua prekuelnya. Ternyata dari 30 menit pertama, saya sudah tahu akan mengarah kemana seri ketiga ini. Plot cerita yang semakin simple tidak menjadi nilai plus, melainkan terkesan menggampangkan logika. Ditambah lagi dengan sentuhan buruk sang sutradara yang seakan kebingungan mengambil gambar ataupun editing adegan aksi dalam film ini. Dua fakta utama tersebut merupakan kelemahan terbesar yang sulit dibantah. Statham memang tampil sebagaimana biasanya untuk menjaga nyawa film dengan kharismanya yang dingin sekaligus tangguh. Beberapa adegan kejar-mengejar mobil juga masih mencengangkan walaupun tidak bisa dibilang baru. Secara keseluruhan Transporter 3 hanyalah film aksi biasa yang mungkin masih dapat dinikmati penonton awam tanpa perlu banyak berpikir.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$31,316,973 till Dec 2008

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 16 April 2008

CHAOS : Permainan Kucing Tikus Detektif dan Penjahat

Quotes:
Bernie Callo-I need to speak with you.
Quentin Conners-Well that's where you run out of luck. Because I don't need to speak with you!

Cerita:
Detektif Quentin Conners tanpa keadilan dipenjara dan partnernya Jason York meninggalkan kepolisian setelah penembakan tragis di Pearl Street Bridge. Ketika sebuah bank dalam situasi penyanderaan, Conners ditugaskan pada operasi tersebut bersama protege Shane Dekker. Perampokan yang dipimpin Lorenz sama sekali tidak mengambil uang melainkan menanamkan suatu virus dalam sistem yang bisa mencuri 1 milyar Dollar dari beberapa rekening yang berbeda menggunakan prinsip Chaos. Apakah operasi bisa digagalkan pada akhirnya?

Gambar:
Mengambil setting di Kanada, drama kepolisian ini menggunakan banyak lokasi termasuk berawal di sebuah bank dan berakhir di sebuah dermaga sekaligus airport.

Act:
Aktor laga masa kini, Jason Statham yang pernah menjadi musuh Jet Li dalam The One (2001) kali ini kebagian peran sebagai Detektif Conners yang tangguh dan misterius.
Mantan suami Reese Witherspoon ini yang sebelumnya tampil singkat dalam film peraih Oscar, Crash (2004), Ryan Phillippe bermain sebagai detektif baru Shane Dekker yang cukup terampil dan gigih.
Pertama kali tampil dalam Wildcats (2006), karir Wesley Snipes bisa dibilang turun naik. Dalam Chaos, ia memerankan karakter antagonis York yang culas nan kejam.

Sutradara:
Namanya tidak terlalu kondang karena baru menyutradarai tiga film sebelum ini termasuk yang pertama, Soccer Dog : The Movie (1999). Tony Giglio membesut Chaos yang bertemakan drama kepolisian penuh intrik dan kejutan.

Komentar:
Chaos sebetulnya film yang cukup baik kualitasnya tapi tidak akan diingat orang dalam waktu lama. Plotnya berusaha dibuat cerdas terutama paruh ketiga film menjelang akhir yang seharusnya tidak perlu. Twist-twist yang seperti dipaksakan untuk mengangkat performa film secara keseluruhan. Teori "Chaos" yang bisa dibilang mendasari cerita tidak terlalu kuat mendukung elemen-elemen drama kepolisian yang sudah seringkali ditampilkan. Sayang sekali terlalu banyak kelemahan seakan CHAOS dimana-mana!

Durasi:
100 menit

Box Office:
$321,602 in Netherlands by March 2006

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!