XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ray winstone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ray winstone. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

13 : Kesempatan, Nasib, Peluru dan Russian Roulette

Tagline:
Spin. Aim. Survive

Storyline:
Vince tengah dirundung malang saat ayahnya harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya pengobatan yang besar. Saat kalut, Vince malah mengambil surat dari saku seorang pria yang baru dinyatakan meninggal. Surat tersebut mengantarnya pada sebuah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Pamit pada keluarganya, Vince menempuh perjalanan panjang dan berjumpa dengan sesama peminat lainnya yaitu Ronald, Jefferson dsb. Apa yang telah ia mulai harus ia selesaikan juga bagaimanapun resikonya. Dan saat selongsong pistol diisi peluru, nasiblah yang akan membawa Vince untuk keluar dari taruhan nyawa yang gila!

Nice-to-know:
Awalnya Ray Liotta akan memerankan Detektif Larry Mullane sebelum jatuh ke tangan David Zayas karena konflik jadwal.

Cast:
Sebelumnya bermain dalam Franklyn (2008) bersama Ryan Phillippe, Sam Riley kini kebagian peran Vince yang lugu dan terjebak dalam permainan hidup mati yang tidak pernah dibayangkannya.
Ray Winstone sebagai Ronald Lynn
Jason Statham sebagi Jasper
Emmanuelle Chriqui sebagai Aileen
Mickey Rourke sebagai Jefferson
Alexander Skarsgård sebagai Jack

Director:
Géla Babluani sebelumnya menangani L'héritage di tahun 2006.

Comment:
Saya memang belum pernah mendengar atau menyaksikan 13 Tzameti (2005) sebelumnya. Namun tetap menganggap premis film ini menarik apalagi transformasi French movie to Hollywood movie seringkali menawarkan hal-hal baru. Harapan ini langsung terjawab di menit-menit pertama dimana suasana dingin bersalju mengiringi pengenalan tokoh-tokohnya satu persatu.
Sutradara Babluani secara perlahan-lahan merekonstruksi plot cerita dari metodik yang sangat mendasar. Informasi demi informasi dihadirkan sampai terbentuk sebuah penjelasan yang menjawab semua pertanyaan sedari awal. Pendekatan yang satu ini rasanya cukup membuat penonton bekerja keras untuk mencaritahu dunia macam apa yang sesungguhnya terselubung itu.
Penunjukkan Riley sebagai karakter utama terbilang tepat. Bagaimana Vince yang lugu terjebak dalam situasi yang tidak diduganya samasekali hingga mengubah sifatnya tanpa disadari. Sayangnya proses ini dirasa terlalu cepat dan tidak mendapat penjelasan lebih lanjut terlebih saat ia mengelabui polisi yang menginterogasinya. Sekadar catatan, sosoknya mungkin mengingatkan anda pada Brendan Fraser beberapa tahun lalu.
Kakak beradik Ronald dan Jasper dimainkan oleh Winstone dan Statham dengan gaya tersendiri. Winstone terasa lebih menonjol dimana sisi antagonisnya malah mengundang simpati, sedangkan Statham lebih merupakan karakter pendukung dan cukup menyenangkan melihatnya berakting berbeda dari biasanya. Tak lupa Rourke yang lagi-lagi mencuri perhatian dengan performanya yang sulit ditebak.
Merangkum 13 bagaikan merajut potongan-potongan puzzle yang sepintas hampa tapi ternyata hasilnya cukup mengesankan. Sajian permainan senjata “Russian Roulette” hidup dan mati dijamin akan membuat anda tergerak untuk spontan menutup mata dan telinga. Scene yang sangat memorable bagi saya. Tak dipungkiri, nasib dan kesempatan yang didapat seringkali mengubah hidup seseorang yang harus diimbangi oleh tindakan nyata dan pengambilan keputusan yang tepat. Beranikah anda menanggung segala resiko tersebut?

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 01 Maret 2011

LONDON BOULEVARD : Ketika Mantan Napi Menjadi “Pengawal” Bahaya

Tagline:
Not every criminal wants to be one.


Storyline:
Dibebaskan dari penjara Pentonville setelah 3 tahun, Mitchell dijemput oleh mantan rekannya, Billy. Mitchell berusaha hidup lurus dengan menghindari pekerjaan lamanya yang tergolong penjualan miras. Akhirnya Mitchell berhasil meyakinkan aktris cantik yang tengah naik daun, Charlotte untuk melindunginya selama berada di London. Di sisi lain, ketua mafia dunia bawah London yakni Mr. Gant menawarkan Mitchell posisi bagus dalam organisasinya. Menolak berarti ancaman bahaya dan Mitchell harus mengamankan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh GK Films dengan nyaris keseluruhan setting di London dan beberapa adegan di California.


Cast:
Memulai karirnya di usia 20 tahun lewat The Disappearance of Finbar (1996) tanpa tercantum namanya di credit title, Colin Farrell bermain sebagai Mitchell yang baru dibebaskan dari penjara.
Keira Knightley
sebagai Charlotte

Ray Winstone
sebagai Gant

Anna Friel
sebagai Briony

David Thewlis sebagai Jordan
Ben Chaplin
sebagai Billy


Director:
Debut pertama William Monahan setelah sebelumnya lebih banyak menulis skrip termasuk The Departed (2006) yang mengantarkannya meraih Piala Oscar.

Comment:
Ide cerita film ini muncul dari adaptasi novel karangan Ken Bruen berjudul sama di tahun 2001. Garis besarnya mengenai pertentangan batin seorang mafia yang baru saja keluar dari penjara dan berusaha hidup “benar”. Pilihannya dua yaitu menjadi kaki tangan seorang bos gangster yang dicurigai homoseksual atau menjadi bodyguard aktris cantik yang tengah mengorbit namanya. Jika anda menjadi Mitchell, tentunya anda tahu harus memilih apa bukan?
Permasalahannya adalah Mitchell seperti berdiri di tengah-tengah. Dan hal ini menyebabkan subplot melebar kemana-mana dengan berbagai macam karakter silih berganti, tak jarang sekadar numpang lewat saja tanpa karakterisasi yang dalam. Sah-sah saja sebetulnya tapi saya malah merasakan chaos karena terlalu banyak lubang menganga yang tidak dapat ditutupi begitu saja.
Dari segi penampilan, Farrell cukup meyakinkan dengan gaya angkuh dan aksen British nya sebagai pria kelas menengah yang tampak nyaman dengan gayanya sendiri. Namun Farrell terlihat kesulitan menerjemahkan tokoh Mitchell yang masih memiliki “hati” dengan melindungi kerabat dan keluarganya meskipun harus bertindak keras juga. Sedangkan Knightley tidak terlalu maksimal sebagai aktris kelas atas, tidak jelas juga alasan ia jatuh demikian gampangnya ke dalam pelukan Mitchell. Sama halnya dengan Winstone yang tidak memiliki kedalaman karakter sehingga bakatnya terasa sia-sia. Menarik melihat Chaplin dan Thewlis sebagai mafia kelas bawah yang bergaya hippies.
Sutradara Monahan terkesan memperlakukan proyek ini seperti coba-coba. Kesuksesannya sebagai penulis skrip tampaknya berusaha dibuktikan dengan menyutradarai langsung. Dan hasilnya adalah skenario “setengah jadi” yang diproyeksikan dengan campuran gaya Guy Ritchie dan Quentin Tarantino. Well, obviously he’s not one of them, at least at this moment. Let’s hope that it’s only a beginning and he can produce better movies in this genre next time.
London Boulevard memang terasa berputar-putar saja di sepanjang durasinya menggali lubang demi lubang yang terus dibiarkan terbuka tanpa motif yang kuat. Endingnya yang cukup berani dan unpredictable mungkin cukup berarti untuk menutup perjalanan Mitchell dimana hukum sebab akibat memang ada. Namun bisa jadi penonton sudah tidak peduli lagi apalagi setelah dijejali kata-kata fuck dan cunt selama nyaris 2 jam.

Durasi:
100 menit

U.K. Box Office:
£1,351,361 till Jan 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 07 Februari 2010

EDGE OF DARKNESS : Balas Dendam Berbuntut Intrik Tingkat Tinggi

Quotes:
Thomas Craven: I'm a guy with nothin to lose!


Storyline:
Detektif pembunuhan Departemen Kepolisian Boston yang sudah pensiun, Thomas Craven menjemput putrinya yang baru berusia 24 tahun, Emma selepas pulang tugasnya. Setelah berbincang-bincang singkat di rumahnya, Emma mimisan dan tiba-tiba ditembak oleh pembunuh misterius di pintu rumah Thomas. Emma pun tewas seketika! Semua orang berasumsi, Emma tidak sengaja terbunuh karena target utamanya adalah Thomas. Dalam masa berkabungnya, Thomas mulai mencurigai bahwa sesungguhnya Emma memang diincar. Thomas mulai menyelidiki masa lalu Emma dan pekerjaan apa yang dilakukannya sampai bertemu pejabat penting perusahaan dan juga pemerintahan. Dibantu salah satu staf pemerintahan, Jedburgh, Thomas pun terlibat dalam intrik yang rumit.

Nice-to-know:
Dibuat berdasarkan miniseri 6 episode populer Inggris di tahun 1985 berjudul sama yang ditulis Troy Kennedy-Martin dan juga disutradarai oleh Martin Campbell.

Cast:
Bermain kembali sebagai aktor utama setelah terakhir Signs (2002), Mel Gibson didaulat sebagai Thomas Craven, mantan detektif paruh baya yang berduka karena kehilangan putrinya, Emma Craven yang diperankan pendatang baru, Bojana Novakovic.
Dua aktor senior, Ray Winstone dan Danny Huston kebagian peran Jedburgh dan Jack Bennett.

Director:
Salah satu dari sedikit sutradara yang mengarahkan lebih dari satu pemeran James Bond yaitu Goldeneye (1995) dengan Pierce Brosnan dan Casino Royale (2006) dengan Daniel Craig, Martin Campbell bisa dibilang spesialis film-film aksi.

Comment:
Temanya tentang ayah yang berusaha membalaskan dendam kematian anaknya mungkin sudah beratus-ratus kali diangkat. Lantas apakah kelebihan film ini? Pertama, kita bicara cast, Gibson, Huston dan Winstone yang sudah sangat kaliber menunjukkan kelas akting yang baik disini. Kedua, Campbell sang sutradara merupakan jaminan mutu dan juga perolehan pundi-pundi dollar selama ini. Tengok saja filmografinya di masa lalu. Dari segi cerita, intensitasnya memang terjaga dari awal sampai akhir sehingga membawa penonton tetap konsisten mengikutinya. Namun jika anda berharap sebuah film aksi yang cepat alurnya dimana sang jagoan membunuh setiap penjahat yang ditemuinya, anda akan kecewa. Pasalnya Edge Of Darkness lebih ke arah drama kepolisian dengan intrik tingkat tinggi yang baru terungkap di akhirnya. Agak membosankan? Mungkin saja anda berpendapat begitu. Tetapi jika dilihat secara keseluruhan, masih banyak nilai plus film yang dirilis oleh Warner Bros Pictures ini. Satu hal yang agak mengganggu bagi saya yaitu "seakan-akan" roh Emma yang kembali di setiap langkah ayahnya, berbau supernatural walau unsur personal yang ingin ditonjolkan.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$17,214,384 in the opening week end of Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!