XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label paddy considine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paddy considine. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

NOW IS GOOD : Interpersonal Realities Teen Cancer Tearjerker


Tagline:
Live every moment, love every minute 

Nice-to-know: 

Karakter Tessa digambarkan memiliki rambut coklat di novel tetapi berganti menjadi pirang di film. Olivia Williams yang memerankan ibu Tessa menggunakan wig pirang untuk penyesuaiannya.

Cast: 

Dakota Fanning sebagai Tessa Scott
Kaya Scodelario sebagai Zoey
Olivia Williams sebagai Mother
Rose Leslie sebagai Fiona
Jeremy Irvine sebagai Adam
Paddy Considine sebagai Father


Director: 

Merupakan karya kedua bagi Ol Parker setelah Imagine Me & You (2005).

W For Words: 
Novel Inggris, “Before I Die” setebal 336 halaman telah diterbitkan oleh David Fickling Books di tahun 2007 bahkan sempat memenangkan Branford Boase Award 2008. Kini di tahun 2012, kolaborasi Goldcrest Pictures, BBC Films, Blueprint Pictures, Lipsync Productions, UK Film Council sepakat mengadaptasinya ke layar lebar dengan bintang utama Dakota Fanning, peraih nominasi termuda Screen Actors Guild Awards sepanjang masa di usia 7 tahun lewat I Am Sam (2001). Menarik bukan? Untuk itu kesampingkanlah premis serupa yang pernah muncul di film-film sebelumnya.

Gadis muda berusia 17 tahun bernama Tessa mengidap leukemia. Ia menolak semua proses pengobatan dan kemoterapi yang menyiksa demi mempercepat babak hidupnya. Ayahnya yang kuatir terus memantau perkembangan putrinya itu sambil sesekali dibantu mantan istrinya. Sahabat karib Tessa, Zoey membantunya menyelesaikan daftar hal-hal yang harus dilakukan sebelum mati. Keadaan mulai berubah saat tetangga barunya, pemuda tampan bernama Adam masuk ke dalam kehidupan Tessa yang secara perlahan membuatnya kembali bersemangat.

Hal pertama yang harus anda tolerir dari skrip demi bersikap obyektif adalah kecenderungan Tessa melawan orangtuanya sendiri. Bagian ini dapat dikatakan berjudi apakah sang tokoh utama mampu memenangkan simpati penonton. Saya maklum karena fakta yang terjadi memang demikian, pertentangan anak yang menginjak dewasa dengan orangtuanya kerap terjadi. Mari lihat dari sisi lain, Tessa adalah gadis pemberani yang tidak mau dikasihani oleh siapapun juga dan hanya ingin menjalani proses hidup yang mungkin tidak akan pernah sempat dilaluinya. Let’s try to fit ourselves in her shoes!

Dakota Fanning kembali bersinar dimana aksen British nya cukup meyakinkan. Tak peduli jika anda sebal pada Tessa di beberapa bagian, empati anda akan terbangun dengan sendirinya lewat sorot mata sayu dan sikap spontannya. Interaksinya dengan ayah, ibu, adik, kekasih, sahabat, dokter, suster terasa believable terlepas dari keklisean disana-sini. Karisma Irvine cukup mengimbangi lewat peran Adam yang tampan simpatik, lihat aksinya membuat snow angel di tanah bersalju. Kredit terbesar pantas diberikan pada Considine yang sukses menokohkan ayah yang tidak mau menerima kenyataan bahwa putrinya bernasib malang. Air mata saya jatuh melihat “kehancuran”nya kala bertengkar dengan Fanning.

Penulis skrip sekaligus sutradara Parker banyak mengandalkan one-liners yang mudah diingat semacam ‘Never have casual sex’, ‘Always try your hardest’ atau dialog jujur dari adik Tessa dan sarkastis dari Tessa terhadap orang-orang yang sesungguhnya menyayanginya itu. Fokus film memang ada pada substansi hubungan interpersonal walau harus mengabaikan degradasi penampilan penderita kanker dari waktu ke waktu. Gaya penyutradaraannya tergolong stylish terlepas dari beberapa kontinuitas yang patut dipertanyakan semisal, bagaimana Tessa kembali dari pantai dengan berjalan kaki setelah perginya bermotor?

Now Is Good adalah film remaja bertemakan leukemia dengan pendekatan realistis. Bagaimana reaksi seseorang dalam menghadapi situasi kritis tak selalu sesempurna dengan apa yang diharapkan. Sebagian besar dari anda jika ditempatkan di situasi yang Tessa hadapi, saya yakini akan menempuh jalan yang sama daripada harus terus menerus berdiam diri di atas tempat tidur dan pasrah menjalani segala macam pengobatan yang mungkin. Penguras air mata secara natural ini mengingatkan kita bahwa hidup hanyalah sekumpulan momen berharga, yang akan selalu datang dan pergi seiring berjalannya waktu.

Durasi: 
103 menit 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 26 Juni 2011

BLITZ : Meringkus Pembunuh Polisi Berantai

Tagline:
It’s killer-cop versus cop-killer!

Storyline:
Sersan Tom Brant seringkali “main hakim” sendiri di jalanan London. Meski demikian tidak ada yang berani menegurnya di kantor polisi. Hingga pada satu ketika, terjadi beberapa pembunuhan terhadap perwira polisi secara brutal. Tersangka utama adalah Barry Weiss yang seringkali keluar masuk penjara dan sikap abusifnya. Brant ditugaskan menangani kasus ini bersama atasan polisi yang baru, Porter Nash yang diolok-olok karena orientasi seksualnya yang berbeda. Kerjasama yang sepintas sulit dibayangkan itu pada akhirnya memang dibutuhkan untuk membekuk si pelaku keji tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Blitz Films dan Lionsgate yang juga membantu distribusinya.

Cast:
10 film terakhirnya selalu rilis di bioskop Indonesia termasuk Gnomeo & Juliet di tahun ini, Jason Statham berperan sebagai Detective Sergeant Tom Brant
Paddy Considine sebagai Porter Nash
Pencapaian terbaiknya selama ini diraih lewat Treacle Jr. (2010), Aidan Gillen bermain sebagai Barry Weiss / The Blitz
Zawe Ashton sebagai WPC Elizabeth Falls
David Morrissey sebagai Harold Dunphy

Director:
Merupakan film kedua bagi Elliott Lester setelah Love Is The Drug (2006).

Comment:
Terus terang saya sudah mulai jenuh melihat aksi Statham sebagai frontrunner dalam sebuah film aksi ataupun thriller. Pasalnya improvisasi yang dilakukannya tidak banyak berbeda dari satu peran ke peran yang lain tanpa terkecuali sebagai Detektif Brant disini. Yang sedikit membedakannya adalah gaya polisi tahun 70-80an yang diperagakannya dengan cukup lugas. Tidak sedominan biasanya memang tapi aksinya masih tetap enjoyable.
IMO, Gillen sebagai villain justru paling mencuri perhatian kali ini. Pembunuh berdarah dingin bergaya eksentrik yang haus publisitas Barry Weiss berhasil memicu antipati penonton yang berharap adanya hukuman setimpal baginya di akhir cerita. Karakter Porter Nash sebetulnya cukup menarik sebagai polisi gay yang terlihat straight tapi sayangnya kiprah Considine tidak banyak mendapat ruang untuk mengekspos perannya.
Skrip yang dikembangkan oleh Nathan Parker berdasarkan novel berjudul sama karya Ken Bruen ini tidak menawarkan banyak hal baru. Plot ceritanya sudah banyak ditemukan dalam film-film sejenis, hanya saja identitas sang pelaku sudah diungkap sejak pertengahan film. Dengan demikian yang tersisa hanyalah bagaimana strategi sang protagonis untuk dapat menjebak sang antagonis demi menegakkan keadilan sekaligus kepuasan audiens.
Sutradara Lester memang terlihat tidak berusaha menyajikan film dalam format smart dark thriller yang membuat penontonnya berpikir dan berdebar-debar. Namun lebih pada thriller yang ringan, terang dan cenderung mudah diprediksi. Meski demikian nuansa British memang terasa kuat pada unsur sinematografinya. Coba saja anda simak adegan kejar-kejaran di sepanjang jalan raya London yang ramai dan klasik itu.
Sebagai sebuah tontonan, Blitz memang menghibur karena tidak terlalu berambisi layaknya film-film Hollywood. It is good, but not great. Cukup banyak plot holes yang tersisa disana-sini bahkan hingga credit title muncul tetap menyisakan berbagai pertanyaan yang tidak sempat terjawab (atau memang sengaja dibiarkan begitu). Belum lagi karakter-karakternya yang terasa semi-developing meski tetap bervariasi. Tidak ada salahnya menikmati saja interaksi polisi-penjahat yang cukup inovatif layaknya kucing tikus itu.

Durasi:
90 menit

U.K. Box Office:
£79,565 till June 2011 (limited showing)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: