XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label iqbal rais. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iqbal rais. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

RADIO GALAU FM : Galau Tak Kenal Jomblo Atau Berpasangan

Quotes:
Bara: Ujan di luar sih udah berhenti tapi ujan di hati gue masih deres

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 5 September 2012.

Cast:
Dimas Anggara sebagai Bara Mahesa
Natasha Rizki sebagai Velin Caliandra
Jordi Onsu sebagai Rio
Joe P Project sebagai Ayah Bara
Alisia Rininta sebagai Diandra Pramita
Indri Giana sebagai Tata
Ramon Y Tungka sebagai Edo

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Iqbal Rais setelah The Tarix Jabrix (2011).

W For Words:
Sesungguhnya novel Radio Galau FM terdiri dari 12 chapter yang menceritakan petualangan cinta seorang remaja pria bernama Bernard Batubara dan 5 chapter tambahan kiriman followers @RadioGalauFM tentunya dengan satu tema: GALAU. Terbitan 2011 ini lantas menuai sukses karena dianggap dekat dengan kehidupan pribadi pembacanya. Akun Twitternya yang berhasil meraup lebih dari empat ratus ribu pengikut itu pun berhasil menciptakan eforia bagi galauers. Tak heran jika Rapi Films melihat peluang ini untuk melakukan adaptasi layar lebar dengan bintang-bintang anyar.

Aktif di mading sekolah, Bara Mahesa bermimpi menjadi penulis sukses meski impian terdekatnya belum tercapai yaitu punya pacar. Kesempatan itu datang saat adik kelasnya, Velin menunjukkan sinyal cinta yang kuat. Segera Bara membalasnya setelah berkonsultasi dengan ayah dan kakaknya Rara yang sama-sama gokil itu. Lambat laun, Velin berubah manja serta penuntut hingga Bara meminta break dan memilih untuk mendekati kakak kelasnya, Diandra. Benarkah keputusan Bara tersebut menghalau kegalauan dari hidupnya?

Istimewanya, sudut pandang dari novel dan film ini adalah remaja laki-laki bernama Bara Mahesa. Untuk itu penonton pria bisa jadi merasa amat dekat dengan karakter utamanya. *switch sudut pandang pria* Fase galau karena jomblo atau pacaran mulai dari pencarian hingga penemuan kekasih hati dijelaskan secara gamblang. Proses pendekatan yang berujung 'penembakan' akan membuat anda tertawa mengenang pengalaman pribadi, dag-dig-dug sekaligus harap-harap cemas menanti jawaban gadis pujaan. Proses pacaran yang kerap membuat cowo sulit mengerti isi hati cewe pun dijabarkan disini, tak ayal anda akan berujar: "Ah itu gue banget."

Namun bukan berarti penonton wanita dikesampingkan begitu saja. *switch sudut pandang wanita* Penulis skrip Haqi Achmad punya cara khusus bagi anda untuk memasuki pikiran karakter Velin atau Diandra yang sebenarnya hanya ingin perhatian dalam skala besar atau kecil. Semuanya dilakukan pada timing tepat sehingga konsep the battle of sexes dapat diselesaikan secara seimbang walaupun keduanya memiliki dunia masing-masing yang samasekali berbeda. Natasha Rizki mampu menerjemahkan emosi Velin lewat tangisan berurai air mata, menegaskan dirinya sebagai gadis rapuh nan posesif. Kebalikannya Alisia Rininta adalah gadis high class Diandra yang punya segudang tingkah menyebalkan karena merasa memiliki kelebihan fisik.

Dimas Anggara akhirnya mendapat kesempatan emas untuk berkibar sebagai aktor setelah lakonnya dalam Kembang Perawan (2009). Keragaman ekspresi yang luwes turut mengiringi karakter Bara yang masih mencari jati diri dan tambatan hati. Tiga chemistry inti dengan orang-orang terdekatnya berhasil dibawakan secara pas. Apresiasi khusus ditujukan bagi Joe P'Project sebagai ayah nyablak gaul, Jordi Onsu sebagai sohib kepo cerewet dan Tiara Sumiarto sebagai kak Rara yang gokil nyentrik. Yang terakhir ini seringkali kemunculannya tak sedap dipandang mata.

Kembalinya Iqbal Rais ke bangku sutradara setelah sempat berjuang melawan leukimia memang pantas diacungi jempol. Kapabilitasnya menggarap drama roman terbukti masih terjaga terlepas dari segmentasi film yang jauh lebih muda dari karya-karya sebelumnya. Frame demi frame tertata rapi untuk menghadirkan konteks emosi yang dibutuhkan sehingga storytellingnya mengalir lancar dan tidak melebar kesana-sini. Sumbangan musik dari Andhika Triyadi juga mampu menghidupkan suasana di samping kreatifitas Khikmawan Santosa yang lagi-lagi menata suara dengan begitu asyik, sound effect denyut jantung akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Untungnya Radio Galau FM tidak berusaha menjadi istimewa. Pengerucutan belasan karakter yang semula ada di novelnya membuat konflik cinta remaja ini semakin fokus. Kesahajaannya meramu formula biasa menjadi baru lewat sentuhan personal yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman jelas menjadi nilai tambah tersendiri. Fenomena sosial media dan ponsel komunikatif masa kini turut menjadi sarana percakapan yang umum disamping realita dialog dan spontanitas humor yang berkali-kali mengundang tawa. Galau is word of the year and get ready to experience it in the movie.Beware, reflection might come along afterwards!

Durasi:
94 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 16 Juni 2011

THE TARIX JABRIX 3 : Pertaruhan Imej Gank Motor Bandung

Quotes:
Cacing: Sebelum kita balapan, bagaimana kalau kita berkencan? Bonceng-boncengan yuu..

Storyline:
Kesempatan The Tarix Jabrix untuk menjadi pahlawan gagal karena kebakaran yang melanda sebuah panti asuhan tidak berhasil mereka tangani dengan baik. Caca Sutarya kembali ke pekerjaannya sebagai agen asuransi dimana si bos memintanya pergi ke Bandung untuk bernegosiasi dengan geng motor setempat Road Devils yang banyak menyebabkan kerugian moral sekaligus material. Cacing pun mengajak Mulder, Dadang dan si kembar Coki-Ciko untuk turut serta. Sesampainya di tujuan mereka langsung dihadang Road Devils yang ternyata diketuai oleh cewek cantik bernama Melly, bukan Barokah lagi. Cacing pun harus menggunakan “pesona” sekaligus “kemampuan”nya untuk bersaing dengan Melly demi nama geng motor mereka masing-masing.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 14 Juni 2011.

Cast:
Tria Changcut sebagai Caca Sutarya
Dipa Changcut sebagai Mulyana Derajat
Alda Changcut sebagai Ciko
Qibil Changcut sebagai Coki
Erick Changcut sebagai Dadang
Olivia Jensen sebagai Melly
Kamidia Radisti sebagai Mayang
Joe P Project sebagai Ayah Mulder
Ingrid Widjanarko sebagai Ibu Caca
Candil sebagai Bertie
Budi Dalton sebagai Laksamana Roda Gila

Director:
Merupakan film layar lebar kedelapan bagi Iqbal Rais dimana The Tarix Jabrix 1 sendiri adalah debut pertamanya.

Comment:
Meneruskan film yang sudah sukses dan begitu ikonik memang tidak mudah, apalagi sampai berlanjut di dua sekuelnya. Namun Iqbal Rais dan The Changcuters menjawab tantangan tersebut dimana film ketiga The Tarix Jabrix akhirnya muncul dalam kurun waktu 4 tahun! Tentu saja ada berbagai elemen baru yang dihadirkan disini dan secara keseluruhan saya menilai film ini cukup solid sebagai sebuah komedi ringan tanpa harus banyak berpikir.
Plotnya sendiri masih membahas para anggota The Tarix Jabrix secara personal tanpa kehilangan esensi persahabatan di antara mereka berlima. Namun tema utama yang ingin ditonjolkan adalah persaingan The Tarix Jabrix dengan Road Devils yang berbeda visi tersebut. Bagaimana kedua topik tersebut dapat berbaur secara tepat merupakan tugas penulis skrip Cassandra yang kali ini sedikit memperbaiki kinejanya yang biasanya klise.
Sutradara Iqbal secara cerdik mampu mengambil benang merah dari dua prekuelnya untuk bercerita secara fasih walaupun di beberapa bagian terasa dipermudah. Saya acungi jempol bagi pemanfaatan setting yang maksimal mulai dari Tangkuban Perahu, Kawah Putih, Gunung Patuha dan berbagai lokasi kebanggaan Jawa Barat lainnya. Suatu aspek yang mungkin sepele bagi orang lain tapi penting bagi saya karena berdaya jual tinggi sebagai jati diri Indonesia.
Tria masih mendapat porsi dominan disini sebagai Caca Sutarya yang berprofesi sebagai agen asuransi sekaligus pemimpin geng motor Tarix Jabrix. Menurut saya, Cacing tidak sengocol yang lalu dimana hal ini positif karena penonton dapat melihat sisinya yang lain. Erick dituntut menggenggam atau melepaskan cintanya terhadap Mayang, beda lagi Dipa yang berusaha menemukan jati dirinya sendiri tanpa campur tangan ayahnya.
Jika anda pernah melihatnya dalam peran ABG labil melankolis sebelumnya, disini ia terlihat lebih dewasa sebagai Jendral pemimpin Road Devils yang berjaket kulit, berhelm dan bermotor serba merah itu. Dan sifat judes dominan Olivia tersebut berbanding terbalik dengan Kamidia yang tengah bimbang menghadapi pernikahan dengan pria yang tidak menyukai hobi bermotornya itu. Selebihnya Candil, Eddy, Joe turut memberikan andil sendiri sebagai komedian setia negeri ini. Tanpa lupa menyebutkan nama Budi Dalton sebagai Koboyi yang tampilannya mengingatkan pada sosok David Carradine.
The Tarix Jabrix 3 masih mengusung semboyan bersikap sopan, tidak melanggar aturan lalu lintas, hormat orangtua tapi kali ini melengkapinya juga dengan sederetan tips bermanfaat dan pesan moral yang tidak bersifat menggurui. Penuturan yang fun dengan background musik yang easy listening menjadikannya sebuah tontonan wajib yang dapat dinikmati berbagai kalangan hingga pada akhirnya dapat memaafkan kelemahan-kelemahan minor yang ada. Siap untuk Tarix? Ambil motor anda, cek prosedur standarnya sebelum memulai petualangan hidup anda masing-masing..

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 30 Desember 2010

3 PEJANTAN TANGGUNG : Misi Dadakan di Daratan Borneo

Storyline:
Gaya hidup hedonis tiga sahabat yakni Harta, Angga dan Kris dapat dikatakan memuncak padahal kewajiban menuntaskan kuliah dengan tenggat waktu skripsi sudah di depan mata. Pada suatu malam setelah clubbing dan mabuk, mereka terbangun di sebuah kapal asing terombang-ambing di lautan. Sesampainya di daratan yang belakangan diketahui bernama Borneo itu, ketiganya bertemu Kepala Suku yang bijaksana dan memperlakukan mereka sebagai tamu. Sayangnya Angga dan Kris tanpa sengaja menyebabkan kebakaran gubuk yang mereka tempati. Kontan ketiganya dihukum untuk kerja bakti sebelum boleh kembali ke Jakarta. Tak lama kemudian, Harta berjumpa Riana, mahasiswa Kedokteran yang juga putri Kepala Suku. Di sisi lain seorang pengusaha bernama Handoyo tengah mengincar tanah setempat untuk dibangun ulang. Akankah petualangan ketiganya membawa babak baru dalam kehidupan mereka?.

Nice to know:
Diproduksi oleh Rapi Films dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 23 Desember 2010.

Cast:
Ringgo Agus Rahman sebagai Harta
Deddy Mahendara Desta sebagai Angga
Dennis Adhiswara sebagai Kris
Siti Anizah sebagai Riana
Joe P-Project sebagai Handoyo
Piet Pagau sebagai Kepala Suku

Director:
Baru saja menyelesaikan Senggol Bacok beberapa bulan lalu, Iqbal Rais kembali lagi dengan genre komedi yang masih mengandalkan aktor-aktor kesayangannya.

Comment:
Saya harus akui plot cerita film ini menarik, terlepas dari intervensi pengaruh beberapa film asing yang juga mengangkat tema serupa. Sah-sah saja jika mampu dikombinasikan secara baik dengan unsur lokal. Kali ini Iqbal menggabungkannya dengan setting Samarinda yang memang menjadi kota kelahirannya. Berbagai unsur budaya setempat disajikan dengan natural tanpa ada unsur paksaan sama sekali, lengkap dengan setting hutan dan desanya. Perfilman nasional rasanya cukup beruntung memiliki sutradara muda satu ini yang selalu hadir dengan ide dan kreatifitasnya yang tidak melulu itu-itu saja, mengingat sepanjang 2010 penonton sudah cukup muak disodorkan tema yang serupa tapi tak sama.
Plot yang demikian unik tentu saja akan sia-sia jika tidak tereksekusi dengan baik. Dan film ini memiliki kelemahan yang cukup kentara terutama dari segi karakterisasinya. Harta, Kris dan Angga nyaris tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengeksplorasi "perangai" masing-masing meskipun waktunya sangat tersedia. Bahasan karakter ketiganya hanya dilakukan secara naratif di prolog film. Diperburuk lagi oleh trio Ringgo, Desta dan Dennis yang sayangnya kali ini kurang ampuh mengeluarkan "jurus-jurus" andalan mereka. Bisa jadi hal ini disebabkan terlalu seringnya Ringgo-Desta berakting dalam genre komedi selama beberapa tahun terakhir apalagi duet keduanya juga kerapkali terjadi di beberapa judul diantaranya. Memang disayangkan terlebih kehadiran aktor senior Piet yang sudah lama absen sudah menjadi nilai plus tersendiri disini.
Premis utama film yang sudah cukup menjual di awal menjadi keteteran memasuki pertengahan durasi. Antusias dan rasa penasaran penonton akan endingnya bisa jadi terganggu karena kelemahan-kelemahan mendasar yang saya sebutkan di atas. Seumpama kapal yang berlayar tanpa riak ombak, datar-datar saja. Alhasil 3 Pejantan Tanggung tidak mampu memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya sebagai film penutup tahun 2010 sebagai film komedi dengan misi budaya terselubung.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 04 November 2010

SENGGOL BACOK : Perseteruan Pertaruhkan Cinta dan Harga Diri

Quotes:
Donny-Gua kan minggu depan mau nikah sama Laras, masa loe gak datang sih? Gak enak dong sama Pak RT apalagi loe udah sering nyelakain dia!

Storyline:
Pria tanpa rasa takut, Galang bertekad mengadu nasib di Jakarta setelah mengetahui tunangannya hamil oleh bosnya di Bandung. Sampai Jakarta, Galang bertemu teman baru yang juga seorang pengamen bernama Disko. Lewat Disko juga, Galang berhasil ngekost di rumah Ibu Siti. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk menemukan pekerjaan apalagi bosnya Audrey yang cantik seperti menaruh perhatian padanya. Namun Galang tetap memilih Laras, gadis manis tetangganya yang juga putri Pak RT. Tidak lama kemudian datanglah penghuni kos baru, Donny yang sepintas kalem tetapi sesungguhnya culas luar biasa. Donny berupaya merebut Laras sambil menimpakan kesialan demi kesialan bagi Galang. Akankah Galang terpancing emosi untuk menghajar Donny?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Baru saja tampil sebagai aktor pendukung dalam Aku Atau Dia pekan lalu, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai Donny yang menyebalkan dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Tepat setahun setelah bermain dalam Serigala Terakhir, Fathir Muchtar disini kebagian tokoh Galang yang pemarah dan selalu menuruti emosinya untuk menyelesaikan semua masalah.
Kinaryosih sebagai Laras
Joe P-Project sebagai Pak RT
Kunto Aji sebagai Disko
Rima Melati sebagai Nenek Galang


Director:
Terakhir menggarap drama komedi romantis Sehidup (Tak) Semati, Iqbal Rais kali ini memaksimalkan sebuah komedi murni yang berbeda gayanya.

Comment:
Ada dua hal yang kontradiktif saat berniat menyaksikan film ini yaitu keyakinan saya bahwa seorang Iqbal Rais tidak pernah menghasilkan film yang buruk dan ketidakyakinan saya akan kualitas komedi lokal belakangan ini yang semakin terpuruk.
Melihat poster film ini, belum ada bayangan filmnya akan seperti apa. Namun pemasangan Fathir dan Ringgo untuk berduet rasanya cukup langka. Apalagi ditambah dengan nama Kinaryosih. Hmm.. Masihkah bercerita tentang perseteruan memperebutkan cinta segitiga yang klise seperti biasanya? Untungnya tidak karena film ini mengusung sesuatu yang lebih penting dari itu yakni pengendalian diri! Jika ada seseorang yang menginjak-injak anda sedemikian rupa hingga terpuruk sedalam-dalamnya, tentunya anda mempunyai dua pilihan sikap mulai dari responsif atau non-reaktif.
Kedua pilihan tersebut dijalankan tokoh Galang. Jika pada paruh pertama ia memilih responsif dengan mengandalkan nafsu berkelahinya maka pada paruh kedua dia memutuskan untuk non-reaktif yaitu mengendalikan emosinya. Fathir yang jarang bermain film cukup meyakinkan menampilkan dua hal berbeda tersebut. Penampilannya yang cool sekaligus ofensif terlihat nyata walau terkadang ekspresi yang dibawakannya tidak cukup konsisten. Sedangkan sang pemicu Donny diperankan dengan sangat jitu oleh Ringgo. Kekonyolannya yang memancing emosi diperlihatkan secara tepat sehingga memancing penonton untuk tertawa sekaligus antipati terhadapnya. Cukup surprise melihat akting Ringgo yang berkembang baik disini dibandingkan biasanya. Love interest keduanya, Laras dilakoni Kinaryosih dengan gaya jinak-jinak merpati yang tampaknya “aman-aman” saja. Dari karakter pendukung, Kunto Aji, si kribo jebolan Indonesian Idol rasanya cukup mencuri perhatian dengan keluguan dan kesetiakawanannya.
Tampaknya Iqbal cukup pintar untuk tidak membiarkan Senggol Bacok menjadi komedi yang sekadar lalu lalang saja. Subplot yang ia hadirkan secara silih berganti cukup solid untuk mendukung jalinan cerita. Belum lagi twist yang lumayan mengejutkan sengaja disimpan di akhir cerita untuk membacok logika penonton dengan sukses. Humorisme yang diusung disini mungkin berhasil menyenggol syaraf anda untuk tertawa spontan meski tidak akan sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Tertarik menyaksikannya? You’d better be!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 02 Juni 2010

SEHIDUP (TAK) SEMATI : Pencarian Jodoh Kedua Pilihan Mendiang Istri

Cerita:
Merayakan hari jadi pernikahan yang pertama membuat TItan dan Helena bersemangat untuk memberi kado satu sama lain pada makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Sayangnya insiden terjadi saat tidak membawa obat, Helena malah terserang asma akut di toilet dan meninggal seketika. Keseihan membuat Titan nyaris kehilangan gairah hidup sampai ia bertemu hantu Helena yang belum bisa naik ke atas karena janji yang pernah ia ucapkan dulu. Menganggap dirinya berhalusinasi, Titan menemui psikiater senior yang kemudian mengirim asistennya, Olin untuk mengawasi aktifitas Titan sehari-hari. Hantu Helena meminta Titan mencari istri terbaik dari sekian yang ditawarkan. Bagaimana Titan dapat memilih salah satu dari mereka di saat ia masih mencintai Helena?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Millenium Visitama dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 25 Mei yang lalu.

Cast:
Baru saja beberapa minggu lalu bermain antagonis dalam Demi Dewi, Winky Wiryawan kali ini didapuk sebagai Titan, eksekutif muda yang rapuh karena ditinggal mati istri yang dicintainya tetapi berusaha bangkit kembali untuk mencari cinta yang baru
Sempat masuk nominasi Aktris Favorit Indonesian Movie Awards beberapa waktu lalu, Fanny Fabriana sebagai hantu Helena, mendiang istri Titan yang berusaha menuntaskan misi terakhirnya.
Beberapa kali tampil dalam film-film Nayato kemarin, Joanna Alexandra memerankan Olin, asisten psikiater yang cupu dan menyimpan masa lalu menyedihkan.
Astri Nurdin sebagai Irene.

Director:
Terakhir kali tidak terlalu sukses lewat Bukan Malin Kundang yang kacau itu, Iqbal Rais mencoba peruntungannya disini dalam komedi romantis modern.

Comment:
Plotnya mengingatkan pada Ghost dan Over Her Dead Body ataupun judul-judul komedi romantis Hollywood lainnya yang bertemakan serupa. Harus diakui tidak terlalu orisinil tetapi untungnya Iqbal mengemasnya dengan humor bernuansa lokal yang khas. Terima kasih pada karakter supir-pembantu Titan yang kocak dan saling bersinergi dengan baik di setiap scene yang ditawarkan pada mereka. Winky berakting di luar kebiasaannya, gaya seorang eksmud yang loveable dibawakan dengan lugas dan natural. Fanny bermain ciamik sebagai manusia dan hantu sekaligus yang perfeksionis. Chemistry Winky dan Fanny di awal film juga cukup menarik. Joanna dan Astri meski scenenya tidak terlalu dominan tetap mampu mencuri perhatian. Tone drama yang cukup kental mampu didukung penggambaran lanskap kontemporer yang tepat. Alhasil Sehidup (Tak) Semati dapat dikatakan drama komedi romantis yang cukup hangat dan menyegarkan di tengah rendahnya kualitas genre film-film sejenis belakangan ini. Melepas orang yang anda cintai memang tidak mudah bukan? Apalagi bangkit dari rasa kehilangan setelah ditinggalkan orang yang dicintai tentunya lebih sulit lagi.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 24 Desember 2009

BUKAN MALIN KUNDANG : Komedi Parodi Kutukan Anak Durhaka

Quotes:
Nenek Rapiah-Anak muda..

Cerita:
Tiga sahabat, Rian, Ado dan Luna memiliki hobi yang sama yaitu bolos kuliah dan bersenang-senang juga menghindari keluarga. Ado dimaklumi karena ia hanyalah satu dari sekian banyak anak orangtuanya. Luna malah terlalu dijaga ayah-ibunya hingga ingin berontak. Sedangkan Rian yang hidup bersama orangtua tunggal kerapkali memperlakukan ibunya semena-mena. Pada suatu ketika saat Rian sedang menyetir tidak sabar melihat seorang nenek tua yang berjalan lambat di depan mobilnya. Timbul niat iseng mereka bertiga untuk mengikat nenek tersebut di tiang listrik tanpa menyadari sang nenek mengucapkan sumpah serapah. Sesampainya di rumah, Ryan terkejut mendapati patung seorang wanita di kamar ibunya yang disertai dengan menghilangnya sang ibu. Berusaha mencari jawaban atas keanehan tersebut, seorang dukun menyarankan mereka mencari sang nenek yang belakangan diketahui bernama Rapiah itu untuk mencabut kutukannya kembali.

Gambar:
Rumah Ado, Luna dan Rian mendapat sorotan yang berharga disini termasuk lokasi panti jompo yang didominasi nenek-nenek dengan berbagai karakter.

Cast:
Sissy Priscillia terakhir mendukung trio juga dalam Krazy Crazy Krezy kali ini kebagian peran Luna yang dimanjakan orangtuanya hingga berontak di luar.
Kerjasama kedua Ringgo Agus Rahman dan Desta di tahun ini setelah Get Married 2 sebagai dua sahabat, Rian yang manja dan Ado alias Fernando yang pasrah.
Sebelumnya menjadi preman gemulai dalam Perjaka Terakhir, disini Aming memegang karakter Nenek Rapiah yang judes dan "sakti".

Sutradara:
Sutradara muda kelahiran Samarinda, 21 Januari 1984, Iqbal Rais masih di zona nyamannya yaitu drama komedi terutama setelah mendulang kesuksesan besar lewat dwilogi The Tarix Jabrix yang memunculkan ikon tersendiri itu.

Comment:
Plot ceritanya merupakan twist dari legenda tradisional Malin Kundang yg terkenal sejak dulu kala itu. Pengembangan ceritanya memang cukup menarik tetapi masih terlalu menggampangkan logika sehingga terkesan norak dan dibuat-buat. Sang sutradara memang pernah berhasil dalam genre komedi yaitu dwilogi Tarix Jabrix lebih karena faktor para personil The Changcuters. Namun dengan trio Desta, Sissy, Ringgo nanti dulu. Mereka terbukti bisa melucu disini dengan polah tingkah lakunya tetapi imejnya terlalu komikal, entah karena tuntutan skrip atau apa. Aming terlihat kreatif dengan kostum dan make-up nya sehingga terlihat meyakinkan sebagai perempuan tua, tetapi yang parah gaya khasnya masih belum berusaha dihilangkan untuk benar-benar menjadi orang lain di luar kebiasaan dirinya. Pesan moral yang ingin disampaikan cukup mengena meski lewat proses yang aneh. Alhasil Bukan Malin Kundang yang katanya dipersiapkan untuk menyambut hari Ibu ini pada akhirnya akan dilupakan orang begitu saja setelah cukup menghibur hanya pada paruh pertamanya.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!i

Jumat, 03 Juli 2009

THE TARIX JABRIX 2 : Ulah Geng TJ "Berlanjut" Di Jakarta

Cerita:
Selepas SMU, geng motor Bandung The Tarix Jabrix yang terdiri dari Cacing, Ciko, Coki, Dadang dan Mulder kebingungan melanjutkan studi mereka ke jenjang kuliah. Masalahnya mereka berlima diterima di universitas yang berbeda-beda! Akhirnya mereka berempat pindah ke Jakarta, minus Dadang yang memang harus membantu ayahnya, Pak Rohim mengurus bengkel Sugema. Namun Cacing, Mulder dan si kembar Coki-Ciko tidak begitu saja menyesuaikan diri di Jakarta karena perbedaan budaya. Demi mengikuti gaya hidup Jakarta, mereka berempat menjual motor dan membeli mobil VW bekas untuk "eksis" demi menarik perhatian Milinka, kembang kampus yang cantik sekaligus misterius. Pergaulan juga menyeret mereka pada penculikan seorang anak dan balapan liar yang dikomandoi Valent. Bagaimana semua polemik dapat terselesaikan pada akhirnya?

Gambar:
Scene bergulir cukup cepat dan penuh adegan komikal. Jika film pertama kental dengan nuansa Bandung, disini giliran Jakarta yang terkenal dengan kemacetan dan keegoisan orang-orangnya.

Act:
Lima personil The Changcuters tampaknya semakin mantap di jalur komedi dan membuat franchise film mereka sendiri sebagai Cacing, Mulder, Dadang, Coki dan Ciko.
Joanna Alexandra sebagai Milinka.
Ramon Y Tungka sebagai Valent.
Judika sebagai penculik anak.
Winda Agustina Putri dan Winda Agustini Putri sebagai si kembar.


Sutradara:
Masih dengan team maker yang sama termasuk Iqbal Rais dengan rumah produksi yang sama. Iqbal sendiri sudah berpengalaman menghasilkan film-film yang bisa diterima oleh masyarakat luas.

Komentar:
Tidak jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan di prekuelnya, film ini mengalir saja dengan joke-joke yang sebenarnya tidak istimewa. Awal cerita yang menuturkan perbenturan budaya kota cukup menarik tapi terkesan tempelan belaka. Setelah itu TJ2 seperti kebingungan mencari identitas cerita dan alhasil penambahan tokoh-tokoh baru tidak lagi relevan dan terasa dipaksakan terutama dengan munculnya orang-orang kembar. Apalagi dengan team maker yang berbeda meskipun masih dari rumah produksi yang sama. Hm, saya tidak berani membayangkan jika masih ada sekuel lagi beberapa waktu mendatang!

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 17 November 2008

SI JAGO MERAH : Balada Kwartet Pemadam Kebakaran

Cerita:
4 mahasiswa yakni Gito Prawoto, Dede Rifai, Kuncoro Prasetyo, Rojak Panggabean dipanggil Pengawas Kampus karena sudah 4 semester menunggak uang kuliah dan semuanya terancam drop out. Putus asa dengan kemelaratan itu, mereka memutuskan untuk mencoba beberapa kerja part-time sampai akhirnya bermuara di kantor dinas pemadam kebakaran. Setelah satu insiden, mereka diterima dan diberikan mobil dinas "Si Jago Merah". Bagaimana kelanjutan nasib mereka di kampus? Apakah menjadi pemadam kebakaran mampu mengubah hidup mereka selanjutnya?

Gambar:
Permainan kamera yang sederhana namun mampu menangkap angle-angle detail yang pas mendukung penampilan para tokoh utamanya.

Act:
Desta Club 80's sebagai Gito dan Ringgo Agus Rahman sebagai Dede tampil sesuai peran stereotype nya selama ini, meskipun lumayan tapi belum menunjukan improvisasi yang berarti.
Ytonk Club 80's sebagai Coro dan Judika sebagai Rojak justru patut diacungi jempol memulai debutnya di layar lebar, tampil lepas dan konsisten dengan karakter dan logat yang memperkuat peran mereka.

Sutradara:
Iqbal Rais mampu mengarahkan drama suka-duka para pemadam kebakaran ini dengan fun dan ringan. Konsep dialog komedik yang "nendang" dari tokoh utama pun bisa dieksekusi dengan baik. Good job!

Komentar:
Jangan mengharapkan sebuah film yang intens heroik seperti halnya kebanyakan film balada seni profesi Hollywood. Film ini justru menampilkan kisah sederhana yang mudah diikuti namun tetap menggigit dan asyik untuk diikuti.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 05 November 2008

BUKAN COWOK IDOLA : Sewaktu Kriteria Bertentangan Dengan Suara Hati

Storyline:
Lila yang idealis mempunyai pendapat bahwa lelaki idaman yang diinginkannya adalah yang rapi, wangi dan tampan seperti sosok ayahnya. Namun kenyataan yang harus dihadapinya malah berlawanan saat bertemu Sena yang setiap harinya berpenampilan lusuh, dekil dan apa adanya. Sena membuat Lila menjadi kesal kepada dirinya dengan tingkah lakunya yang aneh dan menyebalkan. Walaupun di balik semua itu, Sena merupakan mahasiswa jenius. Lewat sebuah tugas bersama, Lila merasakan Sena tidaklah 100% seperti bayangannya. Akankah pada akhirnya Lila mengakui perasaannya sendiri? Dan bagaimana usaha Sena untuk berubah?

Nice-to-know:
Diproduksi Triavi Production dan hanya diedarkan di jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Cast:
Nadia Edward terbilang pendatang baru di perfilman nasional. Namun penggambarannya sebagai Lila cukup berkarakter.
Ramon Y Tungka yang pernah menjadi remaja kembar dalam Pesan Dari Surga (2007) kali ini bermain sebagai Sena yang selalu berantakan dan pas-pasan hidupnya.
Didukung pula oleh Dennis Adhiswara, Gemma Prestyaswara, Anggun Setia.

Director:
Pernah sukses dengan dwilogi The Tarix Jabrix yang melejitkan para personil The Changcuters, Iqbal Rais kali ini membesut drama remaja yang lembut ini.

Comment:
Premis ceritanya simpel saja tentang kriteria cowok idaman dan bagaimana seorang gadis berusaha tetap pada keyakinannya itu sampai akhirnya goyah sendiri akan apa yang sesungguhnya diinginkannya. Namun Ramon dan Nadia membawakan karakter masing-masing dengan cukup natural, chemistry keduanya juga cukup manis, bertolak belakang di awal tetapi menyatu di akhir. Yang menarik adalah banyaknya suara hati yang diperdengarkan dari seorang Lila, walaupun kadang flashback yang terlampau sering cukup mengganggu. Konflik yang diciptakan di awal antara kakak adik terasa menguap begitu saja. Sepintas penggarapannya terasa seperti FTV tetapi Iqbal Rais yang bukan orang baru dalam perfilman tetap menyelipkan unsur-unsur layar lebar seperti angle kamera yang bervariasi dan musik latar yang sederhana mengalun. Meskipun temponya berjalan agak lambat dan mudah ditebak arahnya, Bukan Cowok Idola cukup menarik untuk diikuti dari awal sampai akhir.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa