XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 12 Januari 2013

THE IMPOSSIBLE : Human Value Deflecting Natural Disaster


Tagline:
Nothing is more powerful than the human spirit.
 

Nice-to-know: 

Pada Toronto Film Festival 2012, Naomi Watts, Ewan McGregor sempat bertemu keluarga asli yang selamat dari tsunami.

Cast:
Naomi Watts sebagai Maria
Ewan McGregor sebagai Henry
Tom Holland sebagai Lucas
Samuel Joslin sebagai Thomas
Oaklee Pendergast sebagai Simon
Marta Etura sebagai Simone


Director: 
Merupakan feature film kedua bagi Juan Antonio Bayona setelah The Orphanage (2007).

W For Words: 
Kita sebagai orang Asia bisa jadi mengingat sebuah tragedi tsunami paling mematikan pernah terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu di South East Coast hingga menewaskan lebih dari dua ratus lima puluh ribu nyawa berikut total kerusakan yang tak terhitung nominalnya. Adalah beberapa rumah produksi Spanyol yaitu Telecinco Cinema, Mediaset España, Canal+ España, Generalitat Valenciana, IVAC dan ICAA berkolaborasi memproduksi film yang diangkat berdasarkan kejadian nyata yang menimpa keluarga asal Inggris tersebut waktu itu.

Maria dan Henry bersama ketiga putra mereka Lucas, Thomas, Simon sepakat menghabiskan liburan Natal di Phuket. Resort yang mereka tempati awalnya di lantai atas sebelum dipindah ke unit yang langsung menghadap pantai. Setelah perayaan Natal dengan melepaskan lampion ke angkasa, tanpa diduga tsunami menyapu bersih kawasan tersebut. Keluarga Bennett tersebut lalu tercerai-berai. Maria dan Lucas berjuang untuk bertahan hidup dengan menemukan rumah sakit sedangkan Henry terus mencari cara untuk bersatu kembali dengan keluarga tercintanya.

Skrip yang digagas oleh Sergio G. Sánchez melalui sudut pandang asli María Belón ini begitu detail memaparkan setiap momen keluarga mulai dari yang menyenangkan melalui kebersamaan hingga yang mengerikan melalui keterpisahan. Penonton seakan diajak langsung menjadi saksi kejadian memilukan itu sampai tak menyadari air mata yang bergulir di pipi atau emosi yang membuncah di dada. Kekuatan drama yang begitu nyata terasa tanpa terkesan didramatisir. Ada kalanya saya berujar, “Untunglah ini bukan film bencana ala Hollywood yang biasanya klise dan terlalu ekstravaganza itu.”

Sutradara JA Bayona menyajikan keseluruhan gambar dengan raw dan grafis demi mengejar unsur believable yang sangat menakutkan. Itulah sebabnya pada beberapa bagian, anda akan menutup mata saking mirisnya. Ada satu adegan flashback di ending mengenai apa yang menimpa tokoh Maria Bennett saat tsunami ‘menyergap’ bisa jadi akan menetap lama dalam benak anda. Art, sound, decoration, make up, kostum dan departemen lainnya bekerja dengan sangat efektif di lokasi-lokasi yang digunakan sebagai panggung. Belum lagi kinerja spesial efek dan editing memukau semakin mengukuhkan nilai tambahnya.

Naomi Watts memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya. Karakter Maria dijiwai dengan natural lewat reaksi emosi yang sangat variatif, senang, sedih, bingung, takut sampai menyangsikan harapan hidupnya sendiri. Tom Holland juga berhasil mengimbangi Watts di setiap kemunculannya sebagai si sulung Lucas yang tegar setelah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Ewan McGregor memang baru mendominasi di paruh kedua tetapi tak menghalanginya menerjemahkan kekalutan seorang suami sekaligus kekhawatiran seorang ayah. Jempol juga patut diberikan pada aktor-aktris lokal yang terlibat dengan bahasa ‘ibu’ masing-masing.
Di sisi lain The Impossible tampak menyuguhkan sebuah kemustahilan di atas sisi realistis yang sejak menit pertama dibangun. Bagaimana Maria, Henry, Lucas, Thomas dan Simon bisa selamat itu memang tidak digambarkan sepenuhnya. Alasannya jelas karena ini didasarkan pada kisah nyata selain tentu saja membangun kemungkinan bahwa harapan itu akan selalu ada selagi kita terus percaya dan berusaha. Tak peduli seberapa besar kekuatan alam mendesak, ketahanan cinta mampu menghalau semua itu. Please don’t be shy to wipe your tears before leave the cinema! It makes you human.

Durasi: 
114 menit

U.S. Box Office: 
€40,206,748 in Spain till Dec 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 11 Januari 2013

CHERNOBYL DIARIES : Good Ingredients But Undercooked Horror


Quote: 
Paul: Have you heard of extreme tourism?

Nice-to-know: 

Ide film ini muncul pertama kali dalam benak Oren Peli saat melihat foto dalam blog milik seorang gadis yang bepergian ke Pripyat menggunakan motor [elenafilatova.com].

Cast: 
Jesse McCartney sebagai Chris
Nathan Phillips sebagai Michael
Jonathan Sadowski sebagai Paul
Ingrid Bolsø Berdal sebagai Zoe
Dimitri Diatchenko sebagai Uri
Olivia Dudley sebagai Natalie
Devin Kelley sebagai Amanda


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Brad Parker yang sebelum ini berkutat di bidang efek visual termasuk dalam Let Me In (2010).

W For Words: 
Tak peduli seberapa lama 21 Cineplex menunda perilisan film ini setelah berminggu-minggu midnite show, saya tetap penasaran untuk menyaksikan di bioskop bersama seorang teman yang juga sangat menantikannya. Pasalnya, tragedi pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 merupakan satu peristiwa memilukan dalam sejarah. Apalagi ditambah nama Oren Peli sebagai empunya cerita sekaligus menjadi peringatan 25 tahun insiden tersebut. Ya siapa yang tidak mengenal sosok pencetus Paranormal Activity (2007) itu?

Remaja Amerika bernama Chris mengajak pacarnya Natalie dan teman mereka Amanda melancong ke Eropa sekaligus berjumpa kakak Chris yaitu Paul yang tinggal di Kiev, Ukraina. Liburan yang awalnya direncanakan Chris romantis dengan tujuan melamar Natalie itu berubah tatkala Paul nekad menyewa pemandu Uri untuk menelusuri Pripyat, kota mati dekat Chernobyl yang sudah lama ditinggalkan karena tingginya tingkat radiasi. Mereka bersama pasangan Viking, Zoe dan Michael harus mencari jalan keluar setelah van mogok dan makhluk-makhluk lapar keluar dari persembunyiannya.

Selain Peli, dua bersaudara Van Dyke yaitu Carey dan Shane juga turut menulis skripnya. Saya harus akui pencampuran ide antara horor tradisional dan found footage bukanlah keputusan terbaik. Film seakan kehilangan identitasnya. Paruh pertama yang menitikberatkan pada pengenalan berbagai karakternya sebetulnya sudah cukup baik membangun simpati penonton. Namun paruh kedua yang membuka tabir kota mati Pripyat dengan segala ketidakjelasan “momok” nya tanpa harus saya sebutkan satu persatu ternyata mengusik logika yang tidak pernah terjawab.

Sesungguhnya sutradara Parker sudah memiliki “arena bermain” yang mengasyikkan untuk mengeksploitasi segala bentuk teror. It’s creepy to imagine yourself being in the abandoned town, right? Sayangnya ia lebih memilih koridor gelap dan ruang bawah tanah dengan metode shaky cam yang semakin mengaburkan unsur naratifnya. Tempo yang merayap lambat tanpa kejutan berarti bisa jadi membosankan apalagi ditambah dengan spontanitas reaksi para tokohnya yang menjengkelkan karena kian mendekati bahaya daripada menjauhinya.

Chernobyl Diaries pada akhirnya seperti premis potensial yang melempem menjadi ide setengah matang sebelum dimasak ke dalam horor tanggung. Elemen-elemen seram nya masih terlampau klise dan sudah sering anda temui di film-film sejenis. Selepas credit title bergulir, filmmakers seakan berhutang pada penonton yang teramat berhak mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi selama satu setengah jam terakhir. Gambaran Chernobyl asli yang penuh misteri rasanya akan lebih mengundang daya tarik. Atau anda ingin membuat dokumenter sendiri di dalamnya? That would be more fun to do rather than watch. 

Durasi: 
86 menit

U.S. Box Office: 
$18,112,929 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 10 Januari 2013

3 PLAYBOY GALAU : Komedi Plagiat Tak Bernas

Quote:
Gua juga doyan selingkuh, tapi gua gak pernah pake hati, man! 

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Tobali Putra Production dan Studio Sembilan Production ini tidak mengadakan screening ataupun gala premiere.

Cast: 
Okan Kornelius sebagai Juan
Aditya Rino
sebagai Alex
Ricky Perdana
sebagai Doni
Febriyanie Ferdzilla
sebagai Lola
Jozza Meidia
sebagai Bella
Novita S Anggraini
sebagai Mona
Ina Kartika
sebagai Intan
Rony Dozer
sebagai Romli


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Dede Ferdinand yang sebelumnya berkarya sebagai penata skrip.

W For Words: 
Juan, Doni dan Alex kerap memperdaya istri-istri mereka Bella, Mona dan Intan dengan kebohongan sehingga tetap bisa berselingkuh dengan gadis-gadis cantik nan seksi lainnya di luar. Juan yang berprofesi sebagai fotografer suatu saat bertemu dengan Lola yang bersedia membantunya menjadi model. Tanpa diketahui, Lola adalah istri mafia kejam, Romli yang tidak segan-segan mengancam nyawa ketiga lelaki playboy tersebut.
ON’s: 
- Adaptasi bebas komedi Thailand berjudul Lulla Man (2011) ini jelas menggelitik rasa penasaran saya akan seberapa mirip dengan aslinya.
- Okan Kornelius sudah lama absen bermain film layar lebar. Keputusan yang cukup “berani” untuk kembali lewat komedi yang satu ini.


OFF’s: 
- Sebuah karya plagiat seharusnya mencoba untuk melebihi versi original atau setidaknya menyamai. Yang satu ini justru malah semakin buruk.
- Unsur komedinya dangkal dan kerap dieksekusi dengan terburu-buru sehingga gagal menghadirkan tawa membahana di dalam gedung bioskop.
- Akting komikal dari para castnya tidak lucu dan dramatis samasekali.
- Tata suara dan tata musiknya terasa berlebihan dan tak jarang tidak pas dengan adegan yang diiringinya.
- Sinematografinya lebih mengarah pada sinetron atau film televisi.
- Dialog bin ajaib akan anda temui di sepanjang durasinya.
- Logika yang patut dipertanyakan karena filmmaker tidak berusaha menggali kreatifitas secara memadai. Contoh, bom waktu yang ditaruh di atas mobil? Come on!
- Penyelesaian konflik yang setidaknya cukup “berarti” di karya aslinya tidak terjadi di sini.

Durasi: 
86 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 09 Januari 2013

COUNTDOWN : Not Your Average Thai Thriller With Message

Tagline:
Are you ready to be horrified?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh GTH ini rilis di Thailand pada tanggal 20 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Jarinporn Junkiet sebagai Bee
Patchara Chirathivat sebagai Jack
Pataraya Kreusuwansiri sebagai Pam
David Asavanond sebagai Jesus


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Nattawut Poonpiriya.

W For Words:
Apa yang biasanya anda lakukan di malam pergantian tahun? Rasanya kebanyakan akan menjawab berkumpul dengan teman-teman entah itu beramai-ramai di tengah kerumunan atau private di properti pribadi. Nah, film terbaru keluaran production house GTH yang selalu dapat mempertanggungjawabkan kualitas film-filmnya ini mengambil premis tersebut yang diramu dalam bumbu thriller. Trailernya sendiri sudah berhasil mencuri perhatian semenjak beberapa bulan lalu. Publik Indonesia dapat menikmatinya di bulan Januari 2013 mendatang lewat jaringan bioskop terbatas Blitzmegaplex.

Jack adalah putra konglomerat yang sebetulnya cukup beruntung bisa mendapat kesempatan bersekolah di New York. Sayangnya ia tak kunjung diterima universitas manapun karena sibuk berpesta. Sama halnya dengan Pam yang kerap menghabiskan uang ibunya untuk berbelanja pakaian demi mendapatkan teman kencan. Menjelang pergantian tahun 2013, Pam, Jack dan kekasihnya Bee mengundang bandar narkoba bernama Jesus ke apartemen mereka untuk madat bersama. Inilah awal mimpi buruk dimana nyawa masing-masing menjadi taruhannya.

Nattawut Poonpiriya yang menulis skrip dan menyutradarainya sendiri berupaya memanfaatkan elemen klastrofobik apartemen untuk membangun teror. Bagaimana ruang utama disiapkan menjadi “panggung bermain” sambil sesekali merambah kamar mandi dan kamar tidur. Tidak lupa pemandangan luar jendela Big Apple memberi penegasan bahwa settingnya berlangsung di New York. Tokohnya pun cuma 4-5 orang sehingga proses pengembangan karakterisasi sangat mungkin dilakukan terlepas dari durasinya yang tidak terlalu panjang.

Patut diakui, David Asavanond paling memukau disini lewat peran Jesus (baca: Hay-Seuss yang bisa dipelesetkan menjadi genius). Gaya hipster dengan jenggot, rambut panjang dan jaket kulit berbulunya akan melekat dalam pikiran anda sebagai antagonis “disturbing”. Trio Patchara, Jarinporn, Pataraya seharusnya menjadi karakter favorit sejak menit pertama kemunculannya. Namun seiring film bergulir, persepsi anda bisa jadi akan berubah. Permainan cat and mouse antara mereka merupakan highlight yang cukup menarik disini.
Jika anda menginginkan suguhan gory thriller layaknya Dream Home (2011) atau judul-judul Asia lainnya mungkin akan kecewa. Unsur kekerasan dan darah masih tergolong “aman”. Bisa jadi karena produksi terbaru GTH ini mengejar rating Remaja demi segmentasi pasar yang lebih luas. Setidaknya Countdown menyuguhkan alternatif tontonan dari sudut pandang yang berbeda. Tanpa bermaksud spoiler, ajaran Buddhist sangat kental dimana hukum karma dan sebab akibat berlaku sepanjang hidup seseorang. Sebuah gagasan yang belum tentu bisa diterima oleh semua orang apalagi jika dikawinkan ke dalam genre semacam ini.

Durasi:
90 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 Januari 2013

CODE NAME : GERONIMO Structurally Weak Strong Propaganda


Tagline: 
The Hunt For The Most Wanted Man In History.

Nice-to-know: 

Adegan yang mengambil lokasi Peshawar, Pakistan sesungguhnya disyut di Maharashtra, India terlihat dari plat kendaraan “MH” yang berlalu lalang di jalan selain beberapa aktor yang bermain sebagai anggota CIA adalah aktor-aktor televisi India ternama.

Cast:
Cam Gigandet sebagai Stunner
Anson Mount sebagai Cherry
Freddy Rodríguez sebagai Trench
Alvin ‘Xzibit’ Joiner sebagai Mule
Kathleen Robertson sebagai Vivian
Robert Knepper sebagai Lieutenant Commander
Eddie Kaye Thomas sebagai Christian


Director: 
John Stockwell yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir membesut Dark Tide (2012).

W For Words: 
Rasanya terlalu jauh jika anda membandingkan film ini dengan Zero Dark Thirty (2012) nya Kathyn Bigelow yang banyak mendulang nominasi di ajang penghargaan film manapun di dunia meski bertemakan sama yaitu perburuan Osama bin Laden. Entah apa yang ada dalam benak importir 21 Cineplex hingga tega mencekoki penonton bioskop Indonesia dengan suguhan ala film televisi di Amerika Serikat sana dibandingkan judul berkelas yang saya sebutkan di atas. Saya sendiri lebih suka membandingkan yang satu ini dengan Act of Valor (2012) yang juga mengambil sudut pandang Navy SEALs.

Sekelompok anggota Navy SEALs tangguh dengan nickname Stunner, Mule, Trench dan Cherry mendengar rumor keberadaan Osama bin Laden. Mereka pun segera ditugaskan untuk memburu musuh nomor satu Amerika Serikat itu berdasarkan informasi yang dikumpulkan para analis CIA di bawah pimpinan Mr. Guidry. Ancaman serangan terhadap negara Pakistan menjadi pertaruhan penting di samping persiapan matang yang dirancang sedemikian rupa walaupun harus mengorbankan nyawa sekalipun.

Sutradara Stockwell secara telaten memperkenalkan “tim inti” Navy SEALs melalui serentetan aktifitas sehari-hari yang dilengkapi dengan isu-isu personal masing-masing personilnya. Tak jarang ia melakukannya dengan shaky cam terlebih saat sesi training berjalan. Paruh kedua yang mengambil panggung Abbottabad, Pakistan terus terang berjalan lebih menarik karena dikombinasikan dengan “kelompok pemantau” CIA dalam bekerjasama sehingga aksi penyerbuan menjadi membumi dan belieavable di mata penonton.

Skrip milik Kendall Lampkin ini bahkan dilengkapi dengan footage orasi Presiden Obama yang menjelaskan suksesnya misi yang berlangsung di bulan Mei 2011 itu sekaligus mengatrol kesempatannya lagi untuk kembali berjaya setahun kemudian. Namun bukan tugas mudah untuk meyakinkan penonton bahwa Osama bin Laden benar-benar tewas apalagi sejak menit awal sosok antagonisnya tidak benar-benar ‘muncul’, belum lagi hingga menit terakhir jasadnyapun tak sampai ‘terlihat’ mata. Can you take this as a fact? 

Code Name : Geronimo memang lebih terasa seperti propaganda. Bagi saya film ini agak membosankan dan tidak inspiratif dalam menggambarkan “perjuangan” yang sesungguhnya. Motif para reviewer luar negeri yang memberikan minimal tiga bintang itu justru patut dipertanyakan. Lupakan nama-nama beken seperti Gigandet, Mount, Rodriguez, Kaye Thomas dll yang menyuguhkan akting lumayan meyakinkan disini. Film bertitel asli Seal Team Six: The Raid on Osama Bin Laden ini berupaya menjual kekuatan positif di atas kelemahan struktural yang ada. Not really a necessary movie for Asian moviegoers!

Durasi: 
101 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 05 Januari 2013

PARENTAL GUIDANCE : Parenting Concept With Laughs and Tears


Tagline:
Here come the grandparents. There go the rules


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Chernin Entertainment dan Walden Media ini diedarkan di Amerika Serikat untuk menyambut liburan Natal dan tahun baru pada tanggal 25 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Billy Crystal sebagai Artie Decker
Bette Midler sebagai Diane Decker
Marisa Tomei sebagai Alice Simmons
Tom Everett Scott sebagai Phil Simmons
Bailee Madison sebagai Harper Simmons

Joshua Rush sebagai Turner Simmons
Kyle Harrison Breitkopf sebagai Barker Simmons

Director: 
Merupakan feature film keenam bagi Andy Fickman setelah You Again (2010).

W For Words: 
Artie Decker adalah komentator pertandingan football yang diberhentikan karena dianggap sudah uzur dan ketinggalan jaman. Dalam kekecewaannya, ia dan istrinya Diane malah diminta putri mereka Alice untuk mengurus ketiga cucu yang tidak pernah dikenal dekat. Meski demikian, Artie dan Diane menyanggupi dikarenakan Alice harus menemani suaminya Phil untuk perjalanan dinas. Sayangnya Harper, Turner dan Barker bukan anak-anak yang mudah diurus terlebih masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda. Pasangan Decker dituntut bekerja keras mengejar ketertinggalan walau harus menggunakan metode lama sekalipun.
ON’s: 
- Komedian senior Hollywood, Billy Crystal di usia 64 tahun masih tampil prima sebagai leading role. Simak bagaimana dilematisnya Artie Decker yang tengah kehilangan kepercayaan diri karena dipecat harus mengurus tiga cucu yang tidak menyukainya.
- Bette Midler merupakan favorit saya disini. Senjata pamungkas tokoh Diane Decker yaitu kata-kata lembut tapi tajam menusuk berhasil membuat saya terpingkal-pingkal.
- Bailee Madison adalah versi Katie Holmes yang lebih muda. Gadis belia Harper Simmons ini tumbuh dalam tekanan orangtua perfeksionis hingga bingung menentukan apa yang sebenarnya jadi mimpinya.
- Penyajian teknologi modern R Life yang menyebabkan sebuah rumah seperti hidup dan mampu berkomunikasi adalah faktor kontradiktif yang menarik bagi old couple seperti Artie dan Diane.
- Sutradara Andy Fickman sukses menyeimbangkan unsur drama dan komedinya terutama masalah tempo dan timing yang tepat untuk menghadirkan tawa dan haru dalam esensi kekeluargaan. 

OFF’s: 
- Skrip milik Lisa Addario dan Joe Syracuse ini berupaya untuk menuturkan konsep keluarga tetapi masih terlalu episodik layaknya sebuah sitkom televisi.
- Pembahasan repetitif mengenai teman imajinasi si kecil Barker yaitu Carl si kangaroo tak jarang membuat mata mendelik.
- Humor slapstick masih menjadi andalan masing-masing karakternya dalam frame yang berbeda-beda.

Durasi: 
104 menit

U.S. Box Office: 
$29,589,000 till Dec 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 03 Januari 2013

DEAD MINE : Promising Premise With Disappointing End


Tagline:
Misteri Di Balik Harta Terkubur.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh HBO Asia dan Infinite Frameworks Studio ini gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 13 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Joe Taslim sebagai Djoko
Sam Hazeldine sebagai Stanley
Miki Mizuno sebagai Rie
Les Loveday sebagai Pryce
James Taenaka sebagai Ryuichi
Mike Lewis sebagai Ario
Ario Bayu sebagai Kapten Tino Prawa
Carmen Soo sebagai Su Ling
Bang Tigor sebagai Sersan Papa Ular


Director: 
Merupakan feature film kedua bagi Steven Sheil setelah Mum & Dad (2008).

W For Words: 
Sekelompok tentara bayaran bernama Tim Lima dikepalai oleh Kapten Tino Prawa diminta seorang milyuner, Pryce dan kekasihnya, Su Ling untuk mencari harta karun Yamashita di pedalaman Sulawesi. Turut ikut adalah teknisi Stanley dan peneliti Rie yang membantu membuka jalan. Kala terdesak oleh serangan bajak laut, mereka terperangkap di dalam sebuah bunker militer tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Semakin dalam masuk, rahasia semakin terkuak dimana ada makhluk lain yang mendiami tempat itu dan mengincar nyawa manusia.
ON’s: 
- Aktris Jepang, Miki Mizuno sebagai Rie adalah heroine yang meyakinkan disini. Karakternya penuh keingintahuan, rasional dan memiliki skill yang baik.
- Joe Taslim dan Ario Bayu merupakan dua aktor laga kebanggaan Indonesia dengan kelebihan fisik. Mereka samasekali tidak mengecewakan. Fight till the end!
- Penata artistik, Ian Bailie berhasil menyajikan production value yang memikat. Setting lokasi yang meyakinkan, lengkap dengan aksesoris pendukungnya sesuai kebutuhan cerita.
- Penata rias, Adi Wahono dan penata busana, Carol Luchetta menunjukkan kinerja maksimal dalam mendandani para tokoh dan menghidupkan tiap zombie dalam film.
- Departemen penata suara dan musik sukses menghadirkan suasana mencekam yang diperlukan untuk mempertahankan intensitas action horror ini.
OFF’s: 
- Skrip Steven Sheil dan Ziad Semaan ini sebetulnya menjanjikan. Sayangnya klise, tidak fokus dalam bercerita dan penuh irrasionalitas aksi reaksi yang patut dipertanyakan.
- Banyaknya tokoh dengan latar belakang ras yang berbeda-beda tidak didukung oleh karakteristik yang kuat.
- Momok yang awalnya berupa tentara Jepang yang terinfeksi serum dan terkubur di dalam tambang tua tiba-tiba berganti menjadi prajurit Terracota yang berseragam lengkap. WTF?
- Tempo yang lambat di paruh pertama sangat mungkin membuat penonton bosan hingga tertidur.
- Ending yang tanpa konklusi dari sekian subplot yang sudah berjalan amatlah mengganggu. Please refund our tickets!

Durasi: 
91 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 Januari 2013

THE WOMAN IN THE FIFTH : Enigmatic Imaginative Slow Paced Thriller


Tagline:
What you can not resist, you may not survive. 

Nice-to-know: 

Film berjudul asli La femme du Vème ini sudah rilis di Perancis pada tanggal 16 November 2011 yang lalu.

Cast: 
Ethan Hawke sebagai Tom Ricks
Kristin Scott Thomas sebagai Margit
Joanna Kulig sebagai Ania
Samir Guesmi sebagai Sezer
Delphine Chuillot sebagai Nathalie

Julie Papillon sebagai Chloe

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Pawel Pawlikowski yang diawali dengan The Stringer (1998).

W For Words: 
Belum banyak orang mengenal nama penulis dan sutradara Pawel Pawlikowski. Dua film sebelumnya milik pria berusia 55 tahun asal Polandia ini dipuji kritikus, salah satunya adalah My Summer of Love (2004) yang melejitkan nama Emily Blunt ke jajaran aktris bertalenta tinggi. Kini ia menggarap thriller Perancis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Douglas Kennedy. Daya tarik utama adalah dua bintang besar nominator Oscar yaitu Ethan Hawke dan Kristin Scott Thomas. Perlu lebih dari setahun kita baru dapat menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex. Better late than never, right?

Penulis asal Amerika, Tom Ricks datang ke Paris untuk menemui putrinya walau tidak disetujui oleh mantan istrinya, Nathalie. Tom bersikeras menjelaskan pada Chloe bahwa ia tidak dipenjara melainkan dirawat di rumah sakit. Malang saat tertidur dalam bis, Tom kehilangan kopernya. Ia harus memohon pada pemilik motel kumuh, Sezer untuk menginap sambil bekerja enam jam di ruang tertutup. Hubungannya dengan dua wanita sekaligus, Margit yang suaminya penulis dan Ania yang pelayan motel berujung pada misteri pembunuhan yang tak terpecahkan. 

Sebelumnya saya ingatkan bahwa mulai paragraf ini hingga selesai mungkin akan mengandung spoiler. Tidak terlalu penting mengingat tidak ada jawaban pasti dari filmmakernya sendiri di penghujung film. Jika setia pada novel Kennedy, sosok Margit digambarkan sebagai hantu wanita yang menjaga Tom sampai membunuh siapapun yang menghalanginya. Mereka berdua pun menyatu dalam percintaan panas beda alam. Sedangkan pada film Pawlikowski, semua informasi tentang tokoh-tokohnya dibuat blur sehingga kesimpulan akhir dikembalikan kepada masing-masing penonton. Provokatif bukan?

Versi saya mungkin lebih liar lagi, Tom selalu kembali pada apartemen Margit untuk mengenang percintaan terlarang mereka di masa lampau dimana Margit bunuh diri setelah suami dan putri sulungnya tewas dalam kecelakaan mobil. Sedangkan Ania yang sempat memperlihatkan foto lawas keluarganya adalah putri bungsu Margit yang akhirnya tanpa sengaja bertemu Tom hingga keduanya jatuh cinta. Ania membunuh Moussa dan mengkambinghitamkan Sezer untuk mengambil alih motel tersebut. Tom lantas mengekspresikan rasa bersalah terhadap putrinya Chloe lewat surat.

Harus diakui, nyawa film ini ada di tangan Ethan Hawke sebagai karakter sentral yang menghubungkan setiap tokoh dengan konflik utama maupun tambahan. Ia berhasil menjiwai sosok penulis pecundang yang (kebetulan) meraih sukses hanya melalui satu buku sebelum hidupnya terperosok karena mentalnya yang terganggu akibat dipenjara. Scott Thomas yang kerap bergaun merah menghidupkan love interest Margit yang prima penuh pesona. Sedangkan Kulig tak kalah menggoda lewat Ania yang lugu dan pemimpi. Sesaat anda akan percaya bahwa film ini murni bertutur  tentang cinta segitiga.

Pawlikowski dan rekan sinematografer, Ryszard Lenczewski menggunakan teknik kamera yang tidak biasa, lengkap dengan visual hipnotik yang mempermainkan imajinasi manusia. Lokasi Paris yang tak lazim bisa jadi mengingatkan anda pada film-film art house Eropa di tahun 60an. Tempo yang super lambat dalam memaparkan konflik antiklimaks tak berkonklusi amat membutuhkan kesabaran dan toleransi penontonnya untuk benar-benar dapat menilai film secara keseluruhan. The Woman in the Fifth akan mengajak anda berpikir bersama sekaligus mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. It’s a rare enigmatic experience!


Durasi: 
83 menit

U.S. Box Office: 
$112,498 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 01 Januari 2013

BEST PICK FOREIGN MOVIES OF 2012

THE DARK KNIGHT RISES

The Dark Knight Rises adalah finale yang megah dan mengasyikkan sebagai salah satu summer blockbuster paling ditunggu tahun ini. Memang tidak luar biasa membekas dalam benak layaknya TDK tetapi tetap menahbiskannya secara utuh sebagai tiga episode “manusia kelelawar” terbaik yang pernah diutarakan dalam dunia perfilman. Bruce Wayne disini adalah sebuah inspirasi bagaimana seorang manusia harus hidup dan bangkit dari segala keterpurukan yang dihadapi. Bahwa setiap manusia bisa menyandang status pahlawan seberapa kecilpun usahanya menolong orang lain. Finally, we all should thank Nolan for his aspiring great writing and direction surely can enhance any movie-going experience, especially for superhero movies that most touted as mindless entertainments.

PROMETHEUS
Klimaks yang terasa diperpanjang mungkin sedikit melelahkan. Apa yang seharusnya disudahi ternyata membuka adegan baru lagi dan lagi. Meski demikian, Prometheus tetaplah tontonan yang luar biasa dengan narasi unik yang memberikan pengalaman sains fiksi yang samasekali fresh dan modern. Tak usah terlalu ngotot mencari benang merah pada film-film alien terdahulu tapi tetap berpikiran terbuka terhadap mitos-mitos yang berlaku disini. Pertanyaan seperti, “Siapa pencipta alien? Samakah dengan pencipta manusia?” akan menghinggapi benak anda sekaligus memperpanjang rasa penasaran akan potensi sekuelnya di kemudian hari. Welcome to the never ending “you”-niverse theories!

THE FLOWERS OF WAR
 
Sedikit kelemahan disini adalah Zhang terlalu memaksakan setiap tokoh dalam The Flowers Of War memiliki fungsinya masing-masing sebagai penyokong cerita. Itulah sebabnya alasan sepele tokoh Dou dan Lan ngotot keluar gereja menjadi pertanyaan banyak penonton, atau bagaimana campur aduknya emosi dalam adegan pertukaran identitas sehingga penonton dapat tertawa di tengah kesenduan yang dibangun. Pada akhirnya drama emosional ini memilih bertahan (di dalam gereja) untuk memerangi kecamuk dilematis dalam diri untuk berbuat sesuai hati nurani, bukan karena tuntutan keadaan. Still one powerful experience for becoming one of the witnesses we have never lived in!

AMOUR

Kesabaran anda menonton Amour amat dibutuhkan layaknya kesabaran Georges memahami penderitaan Anne. Layaknya diajak mengamati aktifitas pasangan tua sehari-hari sekaligus menerka seberapa besar kadar cinta mereka terhadap satu sama lain lewat ujaran maaf atau terima kasih tanpa sungkan. Sesuatu yang pantas direnungkan, bagi yang memilih hidup melajang mampukah melewati hari tua seorang diri? Sedang bagi yang menikah bisakah menanggung (atau justru jadi tanggungan) beban pasangan? Kekhawatiran yang begitu mengusik dimana proses penuaan dan kematian adalah harga mati yang patut dibayar tiap manusia tanpa kecuali.

ONE DAY
15 Juli tak lagi sebuah tanda waktu melainkan tolok ukur yang digunakan untuk mereview kembali apa yang sesungguhnya telah terjadi. One Day menegaskan konsep tersebut lewat tampilan tanggal kreatif yang menghiasi pergantian layar dari tahun ke tahun. Terkadang kenanganlah yang membuat kita melanjutkan hidup terlepas dari baik buruknya momen tersebut. Persuasi untuk menjalani hidup semaksimal mungkin bersama orang terkasih tanpa menengok masa depan yang terlampau jauh membentang. Niscaya anda tak akan pernah menyesali apa yang sudah berlalu.

HUGO

Hugo adalah sosok emosional karena hidup dalam kenangan yang digunakannya sebagai pemacu untuk terus melangkah maju sekaligus mempercayai konsep bahwa dirinya hanyalah suatu partikel kecil yang dapat membuat dunia berfungsi secara benar. Penuturan brilian dari Scorsese membawa sugesti persuasif yang jelas, yaitu mengajak penonton untuk selalu menghargai sekaligus percaya bahwa film memang selalu memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi anda. You will feel the passionate love from Scorsese’s Hugo, a timeless masterpiece that should be treated with an extra honor!

RUST AND BONE

Rust and Bone mengobarkan “passion” dengan luar biasa. Semangat untuk terus maju dan bertahan hidup dipraktekkan oleh Cotillard dan Schoenarts usai mengalami titik nadir masing-masing. Mereka juga berbagi chemistry dengan kuat, membingkai romantisme dengan begitu wajar di atas absurditas sebuah idealisme. Bagaimana sutradara Jacques Audiard memotretkan semuanya dengan begitu brutal dan realistis tapi tidak mengganggu apalagi sampai kehilangan unsur estetikanya. Ikan paus adalah simbol tak berbicara disini, sudut pandang manusia tetap kunci utamanya.

TED

Kelebihan utama Ted tidak hanya menjual kelucuan tapi juga definisi nyata tentang cinta dan persahabatan sejati yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. SIapa yang tidak pernah ada di posisi John Bennett? Untuk itulah film yang menggunakan narasi linier layaknya komik bergambar itu memang lebih disegmentasikan untuk penonton pria dewasa. Satu pertanyaan antah berantah yang tak terjawab adalah jika Ted begitu terkenal, mengapa ia masih harus bekerja dan John masih kesulitan uang? In the end, not every moviegoers will fully appreciate this movie but surely everyone of them will love Ted, cute heart-warming bear who always know how to have fun and friends.

SKYFALL

Skyfall memang tidak bercitarasa pada film-film Bond pada umumnya tapi pendekatan realistis terhadap para anggota MI6 itu membuat segalanya lebih manusiawi. Bagaimana kesalahan perhitungan dan kekeliruan asumsi bisa saja terjadi pada siapapun. Tak ketinggalan selipan humor yang sangat British disana-sini tergolong efektif untuk mencairkan suasana. Template film hero masa kini tak dipungkiri mengalami pergeseran, bukan cuma good versus evil tetapi memaknai prosesnya itu sendiri. Film yang juga kependekan harfiah “the sky is falling ini menegaskan hal tersebut sambil mengumpamakan kesetiaan tiada batas yang mahal harganya.

THE CABIN IN THE WOODS

Tak dipungkiri, The Cabin In The Woods menyimpan kejutan manis nan cerdasnya pada 30 menit terakhir dimana emosi anda akan dimainkan lewat pemaparan utuh konsep tak terduganya yang menjalin benang merah dengan setiap ikonik horor yang pernah ada. Brilian! Lupakan beberapa unsur logika yang terabaikan atau korelasi yang tak terdefinisikan, perjalanan pilihan anda ke pondok di tengah hutan ini akan sangat menyenangkan. Mungkin sedikit berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah surat kematian berdarah yang menjadi signature penghormatan dari sejarah film horor sepanjang masa.

Senin, 31 Desember 2012

BEST PICK LOCAL MOVIES OF 2012

THE RAID
 
Keterbatasan bujet tidak menghalangi efektifitas kinerja setiap departemen dalam film ini. Plot cerita yang sangat dasar tertutupi oleh koreografi tarung para cast nya yang sangat meyakinkan. The Raid adalah action non-stop dari awal sampai akhir termasuk klimaks penutup yang mencengangkan. Intensitas ketegangan menjaga penonton untuk tetap terpaku pada kursi masing-masing. Wajib tonton di bioskop untuk merasakan “getaran” secara langsung. Gareth Evans secara tersirat mengisyaratkan pada penonton film global bahwa wajah industri film Indonesia mungkin akan segera berubah di masa mendatang.

LOVELY MAN
 
Ketidaksempurnaan sebagai film dibayar tuntas dengan kesempurnaannya dalam mengeksploitasi substansi hubungan antar personal. Lovely Man tidak bertutur dengan cara yang ekstrim meskipun tokoh Ipuy sendiri tak akan diterima begitu saja oleh kebanyakan orang. Penyelesaiannya tergolong pas dalam menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi Cahaya atau kewajiban-kewajiban yang membebani Syaiful secara harfiah, meninggalkan penonton dengan tanda tanya besar akan kelanjutan hidup ayah dan anak setelah perjalanan satu malam tersebut. Sisi humanis yang teramat realistis itulah yang menjadikan saya dan sebagian besar penonton lain jatuh cinta. Cinta akan tontonan berisi apa adanya tanpa harus membalutnya dengan sampul eksklusif. One of the best local drama I’ve ever seen!

RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA
 
Rayya sukses memberikan pengalaman sinema yang teramat dewasa untuk dimengerti benar. Sebuah studi kasus kompleksitas egosentris dan penyerahan diri seorang manusia dalam menyikapi setiap permasalahan yang menghampiri. Sisipan pesan moral disana-sini patut menjadi renungan tanpa muatan elemen yang terlampau berat untuk dipikul bersama. Cahaya akan selalu menjadi musuh kegelapan sekaligus memaknai harapan yang datang kelak. Momen dimana Rayya siap menyongsongnya dengan pribadi baru yang bersinar.

HABIBIE & AINUN
 
Habibie & Ainun sesungguhnya bisa menjadi film yang sempurna andaikata pengembangan karakter di luar Reza dan BCL dapat diberi ruang lebih plus referensi peristiwa bersejarah yang lebih kuat pengaruhnya terhadap Habibie sendiri. Sekali lagi saya ingatkan, ini adalah perjalanan sebuah kisah cinta sepasang insan yang tak lekang oleh waktu terlepas dari keadaan dan ketiadaan di muka bumi. Bagi Habibie, Ainun adalah inspirasi yang melengkapi setiap pencapaian dalam hidupnya. Teladan yang pantas ditiru oleh pasangan manapun juga dalam upaya melangkah bersama membangun suka duka rumah tangga.

5 CM
 
Di atas semuanya, mohon camkan baik-baik bahwa visi terbesar 5 cm adalah mengajarkan kita untuk mengejar mimpi. Bukankah semua berawal dari situ? Keyakinan untuk menggapai harus dilandasi tekad yang kuat dan usaha yang maksimal. Analogi kaki, tangan, mata, leher, mulut dan hati sebagai modal pendukung dari Tuhan kepada setiap manusia itu tergolong luar biasa. Sebuah penegasan bahwa jatuh bangun itu hal yang biasa asalkan kamu tidak berhenti. Tentunya dukungan keluarga dan sahabat juga dibutuhkan sebagai dorongan semangat. Awesome cinematography has capped this as one of the best Indonesian movies ever made!

MODUS ANOMALI
 
Modus Anomali tidaklah sulit untuk dicerna setelah anda menyelesaikan menit-menit terakhir yang menyingkap suspensi satu per satu. Sambil menunggu klimaks tersebut, tak ada salahnya anda berupaya menerka twist macam apa yang kali ini disuguhkan. Temukanlah setiap kepingan puzzle yang tersebar di seluruh penjuru demi mendapatkan gambaran utuh yang akan mencengangkan anda. My message for you, stop reading too much reviews everywhere and let your very own "mindfuck" begins!

SAMPAI UJUNG DUNIA
 
Sampai Ujung Dunia merupakan suguhan drama percintaan murni yang akan mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 1980an sebut saja Badai Pasti Berlalu, Satu Jam Saja dsb. Rentang waktu yang cukup panjang memang tidak terasa mencolok perbedaannya selain suguhan konsistensi sinematografi yang memikat terlebih setting lokasi Belanda yang menyatu dengan kebutuhan cerita di bagian penutupnya. Suguhan musik pengiring dari Bongky Marcel dan Ganden Bramanto pun mengalir indah melingkupi muara cinta segitiga Gilang-Anissa-Daud. Ah, cinta memang harus memilih, apapun konsekuensinya.

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH
 
Cita-citaku Setinggi Tanah akan membuka mata anda bahwa film “baik” itu pantas untuk dinikmati. Bukan hanya itu, 100% hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada Yayasan kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) demi memotivasi semangat mereka untuk melanjutkan hidup. Antara menginginkan dan mewujudkan tentunya ada proses yang harus dilalui. Kita lantas menyebutnya perjuangan dimana besar kecilnya usaha akan menentukan hasil akhir. Berhasil atau gagal ada di tangan anda. Wujudkan cita-cita, berawal dari kita, slogan penutup sempurna untuk sebuah presentasi inspiratif dari seorang Eugene Panji.

MALAIKAT TANPA SAYAP
 
Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

POSTCARDS FROM THE ZOO
  
Menonton Postcards From Zoo mungkin akan meninggalkan ambiguitas dalam diri anda layaknya potongan puzzle yang tersebar selama 95 menit. Gaya penceritaan Edwin yang linier memang tidak memberi penjelasan yang dibutuhkan penonton untuk dapat mengerti latar belakang setiap karakter intinya. Namun kebebasannya bereksperimen dengan sedikit sentuhan magis itulah yang menjadikan konsep film ini terasa matang dalam balutan semangat indie. Bagaikan menggiring kita dalam sebuah tour singkat kebun binatang yang dianalogikan sebagai dunia tempat anda berpijak dan hewan-hewan di dalamnya sebagai orang-orang yang anda temui dalam kehidupan sehari-hari dengan ragam variatif. Selalu dibutuhkan proses pengenalan, pembelajaran, adaptasi yang samasekali tidak mudah dilalui demi sebuah pencapaian tertinggi. Jika impian Lana ialah memegang perut jerapah, bagaimana dengan anda?