XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label nathan phillips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nathan phillips. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

CHERNOBYL DIARIES : Good Ingredients But Undercooked Horror


Quote: 
Paul: Have you heard of extreme tourism?

Nice-to-know: 

Ide film ini muncul pertama kali dalam benak Oren Peli saat melihat foto dalam blog milik seorang gadis yang bepergian ke Pripyat menggunakan motor [elenafilatova.com].

Cast: 
Jesse McCartney sebagai Chris
Nathan Phillips sebagai Michael
Jonathan Sadowski sebagai Paul
Ingrid Bolsø Berdal sebagai Zoe
Dimitri Diatchenko sebagai Uri
Olivia Dudley sebagai Natalie
Devin Kelley sebagai Amanda


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Brad Parker yang sebelum ini berkutat di bidang efek visual termasuk dalam Let Me In (2010).

W For Words: 
Tak peduli seberapa lama 21 Cineplex menunda perilisan film ini setelah berminggu-minggu midnite show, saya tetap penasaran untuk menyaksikan di bioskop bersama seorang teman yang juga sangat menantikannya. Pasalnya, tragedi pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina yang terjadi pada tanggal 26 April 1986 merupakan satu peristiwa memilukan dalam sejarah. Apalagi ditambah nama Oren Peli sebagai empunya cerita sekaligus menjadi peringatan 25 tahun insiden tersebut. Ya siapa yang tidak mengenal sosok pencetus Paranormal Activity (2007) itu?

Remaja Amerika bernama Chris mengajak pacarnya Natalie dan teman mereka Amanda melancong ke Eropa sekaligus berjumpa kakak Chris yaitu Paul yang tinggal di Kiev, Ukraina. Liburan yang awalnya direncanakan Chris romantis dengan tujuan melamar Natalie itu berubah tatkala Paul nekad menyewa pemandu Uri untuk menelusuri Pripyat, kota mati dekat Chernobyl yang sudah lama ditinggalkan karena tingginya tingkat radiasi. Mereka bersama pasangan Viking, Zoe dan Michael harus mencari jalan keluar setelah van mogok dan makhluk-makhluk lapar keluar dari persembunyiannya.

Selain Peli, dua bersaudara Van Dyke yaitu Carey dan Shane juga turut menulis skripnya. Saya harus akui pencampuran ide antara horor tradisional dan found footage bukanlah keputusan terbaik. Film seakan kehilangan identitasnya. Paruh pertama yang menitikberatkan pada pengenalan berbagai karakternya sebetulnya sudah cukup baik membangun simpati penonton. Namun paruh kedua yang membuka tabir kota mati Pripyat dengan segala ketidakjelasan “momok” nya tanpa harus saya sebutkan satu persatu ternyata mengusik logika yang tidak pernah terjawab.

Sesungguhnya sutradara Parker sudah memiliki “arena bermain” yang mengasyikkan untuk mengeksploitasi segala bentuk teror. It’s creepy to imagine yourself being in the abandoned town, right? Sayangnya ia lebih memilih koridor gelap dan ruang bawah tanah dengan metode shaky cam yang semakin mengaburkan unsur naratifnya. Tempo yang merayap lambat tanpa kejutan berarti bisa jadi membosankan apalagi ditambah dengan spontanitas reaksi para tokohnya yang menjengkelkan karena kian mendekati bahaya daripada menjauhinya.

Chernobyl Diaries pada akhirnya seperti premis potensial yang melempem menjadi ide setengah matang sebelum dimasak ke dalam horor tanggung. Elemen-elemen seram nya masih terlampau klise dan sudah sering anda temui di film-film sejenis. Selepas credit title bergulir, filmmakers seakan berhutang pada penonton yang teramat berhak mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi selama satu setengah jam terakhir. Gambaran Chernobyl asli yang penuh misteri rasanya akan lebih mengundang daya tarik. Atau anda ingin membuat dokumenter sendiri di dalamnya? That would be more fun to do rather than watch. 

Durasi: 
86 menit

U.S. Box Office: 
$18,112,929 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 Agustus 2009

DYING BREED : Teror Kanibalisme Terhadap Empat Muda-Mudi Pelancong

Tagline:
Every body has a different taste.

Cerita:
Dalam tugas mencari macan langka di pedalaman Tasmania, empat muda-mudi masing-masing Matt, Nina, Jack, Rebecca mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing dan penduduk setempat yang bersikap aneh. Adalah suatu legenda Pieman yang keluar dari mulut seorang bocah perempuan bernama Katie tentang kanibalisme. Benarkah pembantaian turis asing terjadi disitu demi stok daging mentah sebagai bahan makanan dan juga penghasil keturunan?

Gambar:
Pedalaman Tasmania yang didominasi hutan dan jurang berdasar sungai berhasil menampilkan gambar-gambar alami. Suasana sepi mencekam semakin terasa karena lingkungan masih terlihat asri dan belum terjamah.

Act:
Sebelumnya tampil mendukung Kevin Bacon dalam Death Sentence (2007), Leigh Whannell sebagai Matt.
Pernah membintangi film serupa dalam Wolf Creek (2005), Nathan Phillips kali ini tidak jauh berbeda dalam memerankan Jack yang temperamen dan kasar.
Bagi yang masih ingat film tragedi bom Bali yaitu Long Road To Heaven (2007), Mirrah Foulkes bermain sebagai wartawan disana dan disini kebagian peran Nina.
Film pertama bagi Melanie Vallejo dengan tokoh Rebecca yang tewas pertama kali dari empat sekawan tersebut.

Sutradara:
Film layar lebar ketiga yang disutradarai Jody Dwyer setelah pertama kali, A Whole New You (2004), Dying Breed berhasil terpilih dalam After Dark Horrorfest III : 8 Films To Die For yang banyak mengetengahkan tema serupa.

Komentar:
Storyline ekspedisi pencarian macan Tasmania seakan hanya tempelan belaka, sedikit informasi dan tidak ada eksplorasi sama sekali mengenainya. Yang ada hanyalah formula sama thriller perburuan manusia sejenis yang sudah berulang kali ditampilkan dimana masih setia menampilkan darah, potongan tubuh dan penjagalan hidup-hidup!
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan plot serupa, hanya saja penulisan cerita yang baik dan penokohan yang pas bisa jadi menjadi nilai tambah. Sayangnya Dying Breed tidak menyentuh sampai kesana sehingga hanya menjadi sebuah suspense menegangkan yang sangat membosankan dan mudah ditebak.

Durasi:
90 menit

Australia Box Office:
AUD 525,384 till Nov 2008

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 12 April 2008

WOLF CREEK : Perjalanan Mobil Berbuntut Mimpi Buruk

Quotes:
Liz Hunter-Thanks again for helping us out.
Mick Taylor-No worries.
Liz Hunter-Obviously it would be great to get going as soon as possible.
Mick Taylor-No worries.

Cerita:
1999, Ben Mitchell dan dua teman wanitanya yang berkebangsaan Inggris, Liz Hunter dan Kristy Earl membeli mobil bekas untuk melakukan perjalanan ke pedalaman Australia dengan bekal uang seadanya. Tujuan utamanya adalah kubah bekas meteor di daerah terisolasi Taman Nasional Wolf Creek. Beberapa saat setelah menikmati alam, mereka menemukan mobil tidak menyala. Tak lama kemudian seorang penduduk lokal yang kelihatan bersahabat menawarkan bantuan dengan membawa mobil mereka ke camp. Ketiganya tidak menyadari bahaya yang menanti di depan mata. Apakah mereka berhasil selamat dari segala mimpi buruk yang mungkin terjadi?

Gambar:
Mengambil syuting di Australia bagian barat dan selatan lengkap dengan Taman Nasional Wolf Creek yang indah namun sunyi dan terpencil.

Act:
Aktor asli Australia yang tampil pertama kali dalam Warriors Of Virtue 2 : The Return To Tao (2002), Nathan Phillips sebagai Ben Mitchell.
Satu lagi aktor senior Australia, John Jarratt berakting meyakinkan sebagai psikopat sadis Mick Taylor.
Dua aktris Australia, Kestie Morassi dan Cassandra Magrath sebagai Kristy Earl dan Liz Hunter yang bernasib malang saat ingin bersenang-senang.


Sutradara:
Menulis, memproduseri sekaligus menyutradarai tiga filmnya sejauh ini, Greg Mclean memulai debutnya dalam ICQ (2001). Kehandalannya meramu thriller cukup membantu.

Komentar:
Slow di awal film seakan kesendirian ketiga tokoh bisa ikut dirasakan. Tidak banyak kejutan yang diberikan Wolf Creek selain thriller yang seakan tidak terlalu antusias memberikan ketegangan bagi penonton tetapi itulah justru kekuatannya karena terasa natural dan tidak dipaksakan. Ditambah lagi sang sutradara mampu memberikan sekuens cerita yang baik dengan dukungan aktor-aktris yang cukup baik menjiwai. Overall bagi saya tetap sebuah thriller yang lumayan baik hanya tidak terlalu mengasyikan untuk ditonton.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$16,186,348 till March 2006

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!