XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label spanish movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spanish movie. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

THE IMPOSSIBLE : Human Value Deflecting Natural Disaster


Tagline:
Nothing is more powerful than the human spirit.
 

Nice-to-know: 

Pada Toronto Film Festival 2012, Naomi Watts, Ewan McGregor sempat bertemu keluarga asli yang selamat dari tsunami.

Cast:
Naomi Watts sebagai Maria
Ewan McGregor sebagai Henry
Tom Holland sebagai Lucas
Samuel Joslin sebagai Thomas
Oaklee Pendergast sebagai Simon
Marta Etura sebagai Simone


Director: 
Merupakan feature film kedua bagi Juan Antonio Bayona setelah The Orphanage (2007).

W For Words: 
Kita sebagai orang Asia bisa jadi mengingat sebuah tragedi tsunami paling mematikan pernah terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu di South East Coast hingga menewaskan lebih dari dua ratus lima puluh ribu nyawa berikut total kerusakan yang tak terhitung nominalnya. Adalah beberapa rumah produksi Spanyol yaitu Telecinco Cinema, Mediaset España, Canal+ España, Generalitat Valenciana, IVAC dan ICAA berkolaborasi memproduksi film yang diangkat berdasarkan kejadian nyata yang menimpa keluarga asal Inggris tersebut waktu itu.

Maria dan Henry bersama ketiga putra mereka Lucas, Thomas, Simon sepakat menghabiskan liburan Natal di Phuket. Resort yang mereka tempati awalnya di lantai atas sebelum dipindah ke unit yang langsung menghadap pantai. Setelah perayaan Natal dengan melepaskan lampion ke angkasa, tanpa diduga tsunami menyapu bersih kawasan tersebut. Keluarga Bennett tersebut lalu tercerai-berai. Maria dan Lucas berjuang untuk bertahan hidup dengan menemukan rumah sakit sedangkan Henry terus mencari cara untuk bersatu kembali dengan keluarga tercintanya.

Skrip yang digagas oleh Sergio G. Sánchez melalui sudut pandang asli María Belón ini begitu detail memaparkan setiap momen keluarga mulai dari yang menyenangkan melalui kebersamaan hingga yang mengerikan melalui keterpisahan. Penonton seakan diajak langsung menjadi saksi kejadian memilukan itu sampai tak menyadari air mata yang bergulir di pipi atau emosi yang membuncah di dada. Kekuatan drama yang begitu nyata terasa tanpa terkesan didramatisir. Ada kalanya saya berujar, “Untunglah ini bukan film bencana ala Hollywood yang biasanya klise dan terlalu ekstravaganza itu.”

Sutradara JA Bayona menyajikan keseluruhan gambar dengan raw dan grafis demi mengejar unsur believable yang sangat menakutkan. Itulah sebabnya pada beberapa bagian, anda akan menutup mata saking mirisnya. Ada satu adegan flashback di ending mengenai apa yang menimpa tokoh Maria Bennett saat tsunami ‘menyergap’ bisa jadi akan menetap lama dalam benak anda. Art, sound, decoration, make up, kostum dan departemen lainnya bekerja dengan sangat efektif di lokasi-lokasi yang digunakan sebagai panggung. Belum lagi kinerja spesial efek dan editing memukau semakin mengukuhkan nilai tambahnya.

Naomi Watts memberikan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya. Karakter Maria dijiwai dengan natural lewat reaksi emosi yang sangat variatif, senang, sedih, bingung, takut sampai menyangsikan harapan hidupnya sendiri. Tom Holland juga berhasil mengimbangi Watts di setiap kemunculannya sebagai si sulung Lucas yang tegar setelah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Ewan McGregor memang baru mendominasi di paruh kedua tetapi tak menghalanginya menerjemahkan kekalutan seorang suami sekaligus kekhawatiran seorang ayah. Jempol juga patut diberikan pada aktor-aktris lokal yang terlibat dengan bahasa ‘ibu’ masing-masing.
Di sisi lain The Impossible tampak menyuguhkan sebuah kemustahilan di atas sisi realistis yang sejak menit pertama dibangun. Bagaimana Maria, Henry, Lucas, Thomas dan Simon bisa selamat itu memang tidak digambarkan sepenuhnya. Alasannya jelas karena ini didasarkan pada kisah nyata selain tentu saja membangun kemungkinan bahwa harapan itu akan selalu ada selagi kita terus percaya dan berusaha. Tak peduli seberapa besar kekuatan alam mendesak, ketahanan cinta mampu menghalau semua itu. Please don’t be shy to wipe your tears before leave the cinema! It makes you human.

Durasi: 
114 menit

U.S. Box Office: 
€40,206,748 in Spain till Dec 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 28 Juli 2012

PARANORMAL XPERIENCE 3D : Eye-Candy Casts But Not Enough Thrills


Original title:
XP3D

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rodar y Rodar Cine y Televisión ini sudah dirilis di Spanyol pada tanggal 28 Desember 2011 yang lalu.

Cast:
Amaia Salamanca sebagai Angela
Maxi Iglesias sebagai Jose
Lucho Fernández sebagai Carlos
Úrsula Corberó sebagai Belén
Manuel de Blas sebagai Dr. Matarga
Alba Ribas sebagai Diana

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Sergi Vizcaino yang sebelumnya menggarap film pendek dan serial televisi.

W For Words:
Belakangan ini, format 3D seakan menjadi tantangan tersendiri bagi filmmakers belahan dunia manapun. Semua tampak berlomba-lomba menjadi inisiator dalam mengikuti pakem tersebut, tanpa terkecuali Spanyol yang kali ini merilis thriller horor atas inisiatif duet produser The Orphanage (2010) yaitu Joaquin Padro dan Mar Targarona. Sepintas skrip yang ditulis oleh Daniel Padro memang tak menawarkan hal baru selain menempatkan beberapa pasang muda-mudi dan satu momok yang akan meneror mereka. Simple yet (might) predictable for crazy fans!

Seorang profesor eksentrik yang mengajar fakultas kedokteran membuka sejarah hitam yang melibatkan Dr. Matarga di pertambangan kuno. Angela, Jose, Carlos, Belen, Padre sepakat membuktikan teori paranormal tersebut di kota terbengkalai. Turut serta bersama mereka adalah Diana, saudari kandung Angela yang tumbuh di keluarga broken home. Padre berhasil menghipnotis Diana yang segera merasakan kehadiran dokter gila psikopat nan eksperimental itu. Satu persatu mimpi buruk mulai menjadi kenyataan dimana jalan keluar semakin menutup.

Sutradara Vizcaino patut diacungi jempol dalam menata kota mati tersebut sedemikian rupa demi menciptakan atmosfir mengerikan (siang hari sekalipun) di berbagai lokasi yang menarik, sebut saja gua, hutan, ruang eksperimen dll. Adegan-adegan kematian juga tersusun secara apik tanpa mengindahkan aspek gore dan spesial efek yang terlihat meyakinkan. Sayangnya embel-embel 3D tidak maksimal, saya mencatat hanya satu dua adegan yang benar-benar efektif bagi penonton, saat tusukan sepanjang dua puluh senti yang seakan diarahkan ke penonton dan cipratan darah yang amat mendadak itu.

Keenam tokoh utama diperkenalkan secara mendetail di paruh pertama film. Sedikit membosankan tetapi setidaknya mereka mampu bertukar dialog dengan believable untuk memancing perhatian penonton. Anda tidak sampai membenci apalagi mengharapkan mereka menemui ajalnya. Reaksi masing-masing ketika terancam bahaya atau sekadar ketakutan terbilang wajar. Sekuens flashback masa lalu Angela dan Diana cukup menarik sekaligus mempersiapkan balutan twist di penghujung yang rasanya tak akan susah diterka oleh audiens.

Paranormal Xperience 3D bukan film yang istimewa tapi jelas tidak seburuk yang dikatakan orang-orang. Penampilan Dokter Matarga sendiri tergolong menjanjikan dengan satu mata dan perlengkapan operasinya yang dijamin membuat anda bergidik. Sayangnya hampir tak ada satupun adegan yang benar-benar berhasil mencekam anda. Paling memorable bagi saya adalah adegan hipnotisnya yang kreatif itu. Keunggulan thriller horor Spanyol ini ada pada jajaran castnya yang good looking bagi semua orang yang menyaksikannya. Still quite fun ride if you don’t set any expectations high going forward!

Durasi:
86 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 10 Agustus 2010

SPANISH MOVIE : Parodi Slapstick Film-Film Legendaris Spanyol

Storyline:
Ramira yang baru saja diterima bekerja sebagai pembantu oleh Laura mendapati rumah majikannya itu tidak beres dimulai dari putranya yang takut cahaya, putrinya yang psikopat, adiknya yang lumpuh total, suaminya yang tak kunjung kembali dari medan perang dsb. Bagaimana Ramira dapat bertahan untuk melakukan sesuatu yang benar dan meminimalisir kesalahan yang ia buat?

Nice-to-know:
Leslie Nielsen menjalani syuting bagiannya hanya 2 hari.

Cast:
Alexandra Jiménez sebagai Ramira
Sílvia Abril sebagai Laura
Carlos Areces sebagai Pedro San Antón
Laia Alda sebagai Ofendia / Niño del saco
Oscar Lara sebagai Simeón
Eduardo Gómez sebagai Diego

Director:
Javier Ruiz Caldera

Comment:
Jika selama ini anda disuguhi parodi-parodi ala Hollywood tidak ada salahnya menyaksikan yang satu ini. Apalagi sempat mendapatkan nominasi Best Special Effects dalam Goya Awards 2010. Openingnya terasa menjanjikan dimana para aktor-aktrisnya terlihat cukup serius dalam memainkan peran masing-masing apalagi dialog Spanyol yang diucapkan terdengar seksi dan menggoda. Namun semakin lama film berjalan, scene demi scene membuat dahi saya semakin berkerut sampai akhirnya tak kuasa menahan kantuk akibat kebosanan. Sungguh. Ide-idenya untuk melucu terasa di luar jalur, melenceng dan berusaha kembali tetapi malah menciptakan jalur baru yang tak kunjung selesai. Entah harus menyalahkan sutradara atau penulis skrip atau bahkan sang produser yang berani-berani memproduksi film sejenis tanpa membekali dengan modal yang cukup layak.
Jika anda memperlakukan Spanish Movie sebagai film teka-teki untuk menguji pengetahuan anda mengenai referensi film terkait, setidaknya masih berguna untuk mengisi waktu anda. Ingatan anda akan kembali pada The Orphanage, REC, The Others dsb. Jika tidak, 80 menit dalam hidup anda akan terbuang sia-sia oleh parodi yang tidak jelas dan absurd ini.

Durasi:
80 menit

Europe Box Office:
€7,450,119

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent