XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label cam gigandet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cam gigandet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Januari 2013

CODE NAME : GERONIMO Structurally Weak Strong Propaganda


Tagline: 
The Hunt For The Most Wanted Man In History.

Nice-to-know: 

Adegan yang mengambil lokasi Peshawar, Pakistan sesungguhnya disyut di Maharashtra, India terlihat dari plat kendaraan “MH” yang berlalu lalang di jalan selain beberapa aktor yang bermain sebagai anggota CIA adalah aktor-aktor televisi India ternama.

Cast:
Cam Gigandet sebagai Stunner
Anson Mount sebagai Cherry
Freddy Rodríguez sebagai Trench
Alvin ‘Xzibit’ Joiner sebagai Mule
Kathleen Robertson sebagai Vivian
Robert Knepper sebagai Lieutenant Commander
Eddie Kaye Thomas sebagai Christian


Director: 
John Stockwell yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir membesut Dark Tide (2012).

W For Words: 
Rasanya terlalu jauh jika anda membandingkan film ini dengan Zero Dark Thirty (2012) nya Kathyn Bigelow yang banyak mendulang nominasi di ajang penghargaan film manapun di dunia meski bertemakan sama yaitu perburuan Osama bin Laden. Entah apa yang ada dalam benak importir 21 Cineplex hingga tega mencekoki penonton bioskop Indonesia dengan suguhan ala film televisi di Amerika Serikat sana dibandingkan judul berkelas yang saya sebutkan di atas. Saya sendiri lebih suka membandingkan yang satu ini dengan Act of Valor (2012) yang juga mengambil sudut pandang Navy SEALs.

Sekelompok anggota Navy SEALs tangguh dengan nickname Stunner, Mule, Trench dan Cherry mendengar rumor keberadaan Osama bin Laden. Mereka pun segera ditugaskan untuk memburu musuh nomor satu Amerika Serikat itu berdasarkan informasi yang dikumpulkan para analis CIA di bawah pimpinan Mr. Guidry. Ancaman serangan terhadap negara Pakistan menjadi pertaruhan penting di samping persiapan matang yang dirancang sedemikian rupa walaupun harus mengorbankan nyawa sekalipun.

Sutradara Stockwell secara telaten memperkenalkan “tim inti” Navy SEALs melalui serentetan aktifitas sehari-hari yang dilengkapi dengan isu-isu personal masing-masing personilnya. Tak jarang ia melakukannya dengan shaky cam terlebih saat sesi training berjalan. Paruh kedua yang mengambil panggung Abbottabad, Pakistan terus terang berjalan lebih menarik karena dikombinasikan dengan “kelompok pemantau” CIA dalam bekerjasama sehingga aksi penyerbuan menjadi membumi dan belieavable di mata penonton.

Skrip milik Kendall Lampkin ini bahkan dilengkapi dengan footage orasi Presiden Obama yang menjelaskan suksesnya misi yang berlangsung di bulan Mei 2011 itu sekaligus mengatrol kesempatannya lagi untuk kembali berjaya setahun kemudian. Namun bukan tugas mudah untuk meyakinkan penonton bahwa Osama bin Laden benar-benar tewas apalagi sejak menit awal sosok antagonisnya tidak benar-benar ‘muncul’, belum lagi hingga menit terakhir jasadnyapun tak sampai ‘terlihat’ mata. Can you take this as a fact? 

Code Name : Geronimo memang lebih terasa seperti propaganda. Bagi saya film ini agak membosankan dan tidak inspiratif dalam menggambarkan “perjuangan” yang sesungguhnya. Motif para reviewer luar negeri yang memberikan minimal tiga bintang itu justru patut dipertanyakan. Lupakan nama-nama beken seperti Gigandet, Mount, Rodriguez, Kaye Thomas dll yang menyuguhkan akting lumayan meyakinkan disini. Film bertitel asli Seal Team Six: The Raid on Osama Bin Laden ini berupaya menjual kekuatan positif di atas kelemahan struktural yang ada. Not really a necessary movie for Asian moviegoers!

Durasi: 
101 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 09 Desember 2011

TRESPASS : Perampokan Rumah Berujung Pengkhianatan

Quotes:
Kyle Miller: Your filthy lust invited them in.


Storyline:
Kyle dan Sarah Miller dapat dikatakan memiliki semuanya, rumah elit menghadap pantai, kendaraan mewah termasuk putrinya Avery yang beranjak dewasa. Sekembalinya dari perjalanan bisnis, Kyle yang juga seorang pedagang berlian mendapati empat penjahat memasuki rumahnya secara paksa. Suami istri Miller pun disandera dimana penjahat tersebut menginginkan sejumlah uang tunai dan berlian yang bernilai tinggi itu. Perlahan-lahan, rahasia masing-masing mulai terkuak. Pertaruhan hidup dan mati pun terancam oleh kepercayaan.

Nice-to-know:
Produksi sempat tertunda pada tanggal 3 Agustus 2010 saat Nic Cage ingin mengganti peran nya sebagai pencuri. Peran suami Nic Kidman sempat ditawarkan kepada Liev Schreiber. Nic Cage akhirnya memutuskan untuk meneruskan peran semulanya.

Cast:
Nicolas Cage sebagai Kyle Miller
Tidak terlalu sukses mendampingi Adam Sandler dalam Just Go With It (2011), Nicole Kidman berperan sebagai Sarah Miller
Ben Mendelsohn sebagai Elias
Baru saja bermain luar biasa dalam Trust (2010), Liana Liberato bermain sebagai Avery Miller
Cam Gigandet sebagai Jonah

Director:
Pria berusia 72 tahun bernama Joel Schumacher ini pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai dalam The Incredible Shrinking Woman (1981).

Comment:
Tema penyanderaan di rumah sendiri yang dilakukan oleh sekelompok orang rasanya bukan sesuatu yang baru. Berkali-kali dihadirkan sebelumnya dalam drama action maupun thriller, bahkan beberapa diantaranya menggunakan gaya dokumenter yang secara detil menyuguhkan babak per babak dengan mencekam. Kali ini daya tariknya jelas ada pada faktor jajaran cast dan sutradara yang menanganinya. Apakah hasilnya berbeda? Anda sendiri yang menentukan.
Penulis skrip Karl Gajdusek kali ini membagi cerita dalam dua kubu yaitu protagonis versus antagonis. Masing-masing kubu memiliki hubungan yang tidak dapat disepelekan artinya begitu saja. Sepanjang cerita bergulir, anda akan menemukan banyak sekali intrik dan problematika yang terjadi di antara para karakternya sehingga konflik diperlebar sedemikian rupa yang berujung pada sebuah klimaks yang lagi-lagi klise yaitu “Who’s gonna survive?”

Saya mempertanyakan motif Kidman bermain disini. Setelah memenangkan Piala Oscar, ia terlihat selektif bermain film. Namun keputusannya mendukung film yang dikategorikan “biasa-biasa saja” ini cukup mencengangkan. Meski demikian peran Sarah Miller mampu dijiwainya, istri yang tidak puas meski bergelimang harta hingga pada akhirnya berusaha sekuat tenaga menebus kesalahannya. Justru yang lebih mencuri perhatian adalah aktris masa depan Liberato yang bermain lugas sebagai putri yang menginginkan kepercayaan orangtuanya untuk bisa bertindak dewasa.
Sebaliknya Cage merupakan aktor yang boleh dibilang menerima peran apapun yang disodorkan kepadanya. Terbukti beberapa deretan filmografi terakhirnya tidak terlalu memuaskan dari segi kualitas maupun kuantitas. Tokoh Kyle yang “tricky” disini ternyata lebih dari sekadar ayah maupun suami biasa. Para penjahat seperti Gigandet, Mendelsohn, Mihok dan Spiro sebetulnya cukup menakutkan dengan keberingasan dan senjata di tangan tapi agak gagal menjaga intensitas yang diinginkan.

Sutradara senior Schumacher melupakan sedikit logika disini. Kyle dan Sarah Miller seakan memiliki superioritas lebih. Memang secara nama besar jelas di atas aktor-aktris lainnya tapi kapasitas mereka sebagai pihak tersandera yang nyawanya betul-betul terancam harusnya diperhatikan terlepas dari status sebagai pemegang harta yang amat diinginkan oleh penjahat. Klastrofobia yang bisa melingkupi setiap ruang dalam rumah megah tersebut juga gagal dimanfaatkan setiap jengkalnya.
Trespass adalah sebuah ide lawas yang dieksekusi tanpa mengacu pada realita yang ada apalagi dilengkapi latar belakang para karakternya. Permainan kucing tikus yang diharapkan memacu adrenalin tidak terjadi secara frekuentif. Sebaliknya pertukaran dialog yang terganggu oleh suara bising maupun histeris tokoh wanita kerapkali terjadi. Pada akhirnya yang membuat film ini masih layak tonton adalah akting kaliber Cage dan Kidman selain fakta bahwa kepercayaan merupakan modal utama yang harus dijaga kalau tidak ingin berselisihpaham yang berujung pada kefatalan.

Durasi:
91 menit

U.S. Box Office:
$16,816 in opening week end of Oct 2011 (10 screens)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 Agustus 2011

THE ROOMMATE : Kecenderungan Psikotik Teman Sekamar

Tagline:
2,000 colleges. 8 million roommates. Which one will you get?


Storyline:
Setibanya dari Iowa, Sara menemukan kehidupan baru di kampus fashion design Los Angeles yang menyenangkan. Ia kemudian berkenalan dengan teman sekamarnya Rebecca yang terlihat manis dan siap berbagi apapun dengannya. Belum lagi si tampan Stephen yang memikat hatinya atau Tracy yang senang berpesta. Namun seiring berjalan waktu, Sara mulai menemukan keanehan dalam diri Rebecca yang selalu mengintai dan melakukan hal-hal di luar batas untuknya. Akankah persahabatan itu berubah menjadi mimpi buruk?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Screen Gems dan Vertigo Entertainment, rilis di Indonesia dalam format video oleh Sony Pictures.

Cast:
Lebih dikenal sebagai aktris film televisi yaitu Surface ataupun Entourage, Leighton Meester berperan sebagai Rebecca Evans
Sempat mengisi peran kecil dalam (500) Days of Summer (2009), Minka Kelly bermain sebagai Sara Matthews
Cam Gigandet sebagai Stephen
Aly Michalka sebagai Tracy Morgan
Matt Lanter sebagai Jason
Billy Zane sebagai Profesor Roberts

Director:
Pria kelahiran Denmark bernama Christian E. Christiansen ini sebelumnya menggarap 3 film termasuk Crying For Love (2008).

Comment:
Premis film ini mengingatkan saya akan Single White Female (1992), salah satu thriller yang mengesankan saya di usia awal belasan tahun pada waktu itu. Jika harus membandingkan dengan film yang terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Francine Pascal ini rasanya bagaikan bumi dan langit dari segala aspek sebuah film. Namun jika anda termasuk generasi muda, mungkin masih dapat menikmati suguhan yang satu ini.
Meester dan Kelly tidak cukup kuat menggali chemistry sebagai dua gadis bersahabat satu kamar yang saling berbagi. Mungkin keduanya tidak cukup keras berusaha sehingga sepanjang film, saya lebih sering mendapati mereka layaknya dua orang asing yang dipasangkan. Tokoh-tokoh lain di luar keduanya juga tidak memberikan kontribusi yang memadai padahal Gigandet, Aly, Lanter, Zane dll bukan nama-nama baru yang kurang menjual. Amat disayangkan!
Konflik yang dikemukakan sedari awal juga berjalan lambat. Tidak mengapa jika terbukti mampu membangkitkan excitement pada akhirnya. Kegilaan yang dilakukan Rebecca juga rasanya masih dapat ditolerir, gagal mencabik-cabik emosi penonton yang harusnya timbul menyaksikan film-film sejenis. Entah kesalahan skrip Sonny Mallhi yang easy atau akting para castnya yang flat sehingga dialog-dialog yang tercipta malah terkesan datar dan cheesy.
The Roommate adalah sebuah teen thriller yang membosankan tanpa gejolak yang patut dipertimbangkan untuk mengangkat nilainya. Namun jikalau anda berniat (atau berminat) memaksakan diri menyaksikan film arahan E. Christensen yang mediocre ini sebaiknya langsung mulai pada 30 menit terakhirnya saja. Penutupan film oleh girlfight seperti yang anda harapkan sedari awal film pun akan terjadi disini. Itulah satu-satunya bagian yang paling watchable!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$37,300,107 till March 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 22 Januari 2011

BURLESQUE : Perjuangan Mencapai Puncak Selamatkan Klub

Tagline:
It takes a LEGEND... to make a STAR.

Storyline:
Burlesque Lounge sudah melewati masa-masa jayany. Sang pemilik sekaligus mantan penarinya, Tess yang telah bercerai dengan Vince kesulitan membayar tunggakan sehingga terancam ditutup. Prinsip Tess tetap sama dimana para penarinya Nikki, Coco dkk diharuskan tetap menari dengan lip sync. Hal ini ditentang oleh gadis Iowa, Ali yang bekerja sebagai pelayan atas bantuan Jack sang bartender. Ali yang memohon Tess agar diberi kesempatan menjadi salah satu penari berusaha meyakinkan kemampuannya. Kini Tess harus mengambil keputusan berat dimana pebisnis licik Marcus sudah mengajukan tawaran terbaiknya untuk mengambil alih.

Nice-to-know:
Foto Ali yang berusia tujuh tahun bersama ibunya merupakan foto asli Christina Aguilera bersama ibunya, Shelly Kearns.

Cast:
Absen 7 tahun setelah Stuck On You, Cher kembali sebagai pemilik Burlesque Lounge, Tess yang egosentris idealis.
Christina Aguilera sebagai Ali
Eric Dane sebagai Marcus
Cam Gigandet sebagai Jack
Julianne Hough sebagai Georgia
Alan Cumming sebagai Alexis
Peter Gallagher sebagai Vince
Kristen Bell sebagai Nikki
Stanley Tucci sebagai Sean

Director:
Steve Antin sebenarnya lebih dikenal sebagai aktor termasuk serial televisi NYPD Blue sebagai Detektif Nick Savino.

Soundtrack:
Something’s Got A Hold On Me by Christina Aguilera
Welcome To Burlesque by Cher
Tough Lover by Christina Aguilera
But I’m Am A Good Girl by Christina Aguilera
Guy What Takes His Time by Christina Aguilera
Express by Christina Aguilera
You Havent Seen The Last Of Me by Cher
Bound To You by Christina Aguilera
Show Me How You Burlesque by Christina Aguilera
The Beautiful People by Christina Aguilera

Comment:
Rasanya Antin cukup ambisius saat memutuskan menulis dan menggarap film musikal ini dimana pengalamannya hanya sebagai aktor yang belum ternama juga. Dari segi penulisan, skrip film ini tidak menawarkan hal baru dimana konsep from zero to hero ataupun wrong to right tetap dipertahankan. Sudah berbagai film sebelumnya membahas tema ini, sebut saja Coyote Ugly ataupun Make It Happen dari periode 2000an. Dari segi penyutradaraan, gaya yang diusungnya bisa dikatakan glamour sehingga sebagai sebuah panggung, Burlesque Lounge menjanjikan banyak hal yang memanjakan mata.
Kemampuan menyanyi biduanita senior Cher dan Christina Aguilera yang lebih junior tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi akting, saya tidak bisa katakan buruk tetapi mendapat eksploitasi yang kurang maksimal disini. Bagaimana Cher sebagai seorang pemimpin klub digambarkan egosentris idealis yang bahkan tidak pernah mendengarkan orang lain selain dirinya sendiri terasa stagnan dari awal sampai akhir. Lalu Aguilera sebagai seorang pendatang baru yang penuh mimpi dan percaya diri tidak terlalu terlihat perubahan no one to somebody nya disini selain riasan dan kostumnya saja. Beruntung chemistry keduanya cukup menarik disini walau saya sebetulnya mengharapkan lebih.
Di jajaran aktor pendukung, Tucci bermain gemilang sebagai Sean yang homoseksual. Dimanapun Tucci berbagi scene maka adegan tersebut menjadi hidup. Sedangkan Dane, Bell dan Gigandet cukup memanjakan mata dengan karakterisasi mereka yang penuh warna untuk menghidupkan segala konflik yang terjadi sekaligus menciptakan dialog-dialog yang pandai dan sarkastis meskipun kadang masih terkesan norak dan klise.
Di atas semua itu rasanya Burlesque (berarti olok-olok) masih dapat dinikmati sebagai film musikal yang mengusung konsep seni tari dan tarik suara dengan segala intrik di dalamnya. Bagaimana suara kuat Aguilera dan suara berat Cher berpadu manis dengan koreografi yang menarik di atas panggung meriah di bawah cahaya yang ditata sedemikian rupa. Lagu-lagunya tergolong dinamis walau menurut saya akan sulit disukai hanya dengan mendengarkan tanpa menyaksikan. Uang yang anda keluarkan untuk menonton film ini sepertinya sebanding dengan live concert young diva, Christina Aguilera. But still IMO it was a fun movie though!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,707,062 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Senin, 27 September 2010

THE EXPERIMENT : Penggalian Karakter Terpenjara Dalam Manusia

Tagline:
Everyone has a breaking point.

Storyline:
Sebuah audisi diadakan untuk mengetahui perilaku manusia yang akhirnya berhasil mengumpulkan 26 pria yang kemudian dibagi dua bagian oleh Profesor Archaleta yaitu sipir dan napi. Mereka ditempatkan pada sebuah tempat terisolasi yang mirip penjara dan diberlakukan beberapa peraturan dasar. Jika sampai 14 hari semua berjalan sesuai rencana, semua akan keluar dengan imbalan ratusan ribu dollar. Namun apakah semudah yang diperkirakan terutama bagi dua orang yang baru berkenalan saat interview yaitu Travis dan Barris?

Nice-to-know:
Awal mula pembuatan film ini didasarkan pada buku yang diinspirasi kejadian nyata percobaan penjara Stanford.

Cast:
Memulai debut akting dalam New York Stories (1989), kali ini Adrien Brody bermain sebagai Travis yang mengikuti audisi misterius setelah bertemu dengan gadis barunya.
Meraih Oscar kategori Aktor Terbaik di tahun 2007 lewat Last King of Scotland (2006), Forest Whitaker disini berperan sebagai Barris yang hidup di bawah tekanan ibunya.
Cam Gigandet sebagai Chase
Clifton Collins Jr. sebagai Nix
Ethan Cohn sebagai Benjy
Fisher Stevens sebagai Archaleta
Travis Fimmel sebagai Helweg
David Banner sebagai Bosch

Director:
Paul Scheuring baru menghasilkan satu film sebelumnya yaitu 36K (2000).

Comment:
Sempat dipertimbangkan untuk rilis di bioskop Amerika Serikat dan sekitarnya akhirnya dibatalkan dan langsung masuk pasaran video. Namun untuk beberapa kawasan termasuk Indonesia, film ini tayang juga di layar lebar.
Plot ceritanya disesuaikan dengan originalnya yang buatan Jerman yaitu Das Experiment (2001) mengenai penelitian terhadap sekelompok manusia yang ditempatkan dalam situasi yang tidak menguntungkan untuk kemudian harus saling berhadap-hadapan. Beruntung sekali tema sesederhana itu diperkuat oleh dua aktor kaliber Oscar yaitu Brody dan Whitaker yang ditempatkan sebagai oposisi. Brody mewakili karakter "putih" sedangkan Whitaker "hitam" dan keduanya menampilkan penjiwaan yang luar biasa disini dimana penonton akan diajak bersimpati pada Travis dan sangat membenci Barris. Di luar mereka berdua masih ada sejumlah nama termasuk Gigandet tetapi tidak mendapat porsi yang cukup untuk mengeksplorasi karakter masing-masing, bahkan mereka yang membuka prolog film ini menguap begitu saja.
Sutradara Scheuring nampaknya belum berhasil menyaingi mahakarya Oliver Hirschbiegel secara keseluruhan. Di luar faktor kekuatan akting Brody-Whitaker, film ini masih tergolong lemah di berbagai sisi terutama eksekusi endingnya yang terasa plain dan adem-adem saja. Situasi yang dihadirkan juga menurut saya kurang up to date dengan jaman sekarang. Namun demikian The Experiment tetap sebuah tontonan menarik bagi anda yang menyukai film-film bertemakan penjara. Tidak ada salahnya anda menyaksikan bagaiman perubahan karakter seorang manusia hingga ke sisi terdalamnya sekalipun dan ingatlah peribahasa "There's a monster in every human!".

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 19 Oktober 2009

NEVER BACK DOWN : Kendalikan Emosi Bertarung Demi Harga Diri

Quotes:
Jake Tyler: I'm gonna stop this guy, win, lose... it makes no difference, it ends tonight. This is my fight. Everyone's got one...

Storyline:
Sebagai anak baru di sekolah, Jake menyukai gadis cantik yang ditemuinya, Baja. Sayangnya dalam suatu pesta ia berkonfrontasi dengan pacar Baja, Ryan yang sangat suka berkelahi karena diajarkan oleh ayahnya sejak kecil. Jake dikalahkan dengan mudah dan dipermalukan di hadapan siswa-siswi lainnya. Bertekad belajar bela diri untuk menjaga harga dirinya yang seringkali dilecehkan, Jake berlatih secara intensif pada Jean Roqua. Semua usahanya mulai menunjukkan hasil dan yang terpenting ia mulai bisa mengendalikan emosinya. Namun akankah kesombongan Ryan dapat dijatuhkan Jake pada kompetisi Beatdown?

Nice-to-know:
Sean Faris diharuskan menambah massa ototnya sebesar kurang lebih 8 kg untuk perannya disini.

Cast:
Mengawali karirnya dalam Twisted (2001), Sean Faris kali ini bermain sebagai Jake Tyler
Terlebih dahulu berperan disini sebagai Ryan McCarthy, Cam Gigandet malah angkat nama lewat Twilight di tahun yang sama.
Amber Heard sebagai Baja Miller
Evan Peters sebagai Max Cooperman
Leslie Hope sebagai Margot Tyler
Djimon Hounsou sebagai Jean Roqua
Wyatt Smith sebagai Charlie Tyler

Director:
Merupakan film kedua bagi Jeff Wadlow setelah Cry_Wolf (2005).

Comment:
Kebetulan saya menyaksikan Karate Kid versi Jackie Chan/Jaden Smith terlebih dahulu sebelum ini dan ternyata formulanya sama persis. Seorang remaja yang pindah ke tempat baru kemudian dipukuli oleh jagoan lokal hingga bertekad membalas dendam dengan berguru pada jago senior sambil memenangkan gadis idamannya. Ayolah akui sudah beberapa kali anda menyaksikan plot serupa dengan judul yang berbeda-beda. Mana yang anda suka kembali lagi pada selera masing-masing bukan?
Film ini terasa lebih Amerika dengan setting dan society yang disodorkannya. Lihat suasana kampus dan sasana latihan berikut para penghuninya dari berbagai lapisan masyarakat. Pluralisme! Belum lagi musik pendukungnya yang didominasi musik hip hop seperti Soulja Boy, Kanye West ataupun rock cadas semisal My Chemical Romance dsb. Lihat juga bagaimana muda-mudi itu menggunakan berbagai macam gadget dan social media yang sangat masa kini mulai dari webcam, handycam hingga Youtube. Sutradara Wadlow berhasil mengumpulkan cast yang sebagian besar memang menguasai beladiri, tak terkecuali dua pemeran utamanya yaitu Faris dan Gigandet yang juga turut memamerkan otot-ototnya disini. Sebagai love interest keduanya ada Heard yang kali ini sangat seksi dengan pakaian minim dan rambut pirang panjangnya yang terurai. Jangan lupakan juga Hounsou dan Hope yang sudah tinggi jam terbangnya berhasil melengkapi peran mentor dan orangtua.
Meskipun terkadang ada beberapa logika cerita sulit diterima akal sehat dan sebagian adegannya banyak disiasati dengan percepatan fighting scene, adegan bertarungnya cukup menyenangkan untuk disaksikan. Berbagai teknik bantingan, jepitan dll juga sedikit dipertontonkan dan hal ini bagus untuk sebuah film martial arts. Pada akhirnya saya cukup menyukai Never Back Down terlepas dari klisenya dialog dan ending yang mudah sekali ditebak. Jadi rendahkanlah ekspektasi anda sebelum menontonnya dan mungkin anda akan sedikit terpuaskan dengan hasil akhirnya.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$24,848,292 till Jun 2008

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 13 Juli 2009

UNBORN : Dihantui Arwah Saudara Kembar Masa Lampau

Quotes:
Matty Newton-Jumby wants to be born now.

Cerita:
Selagi mengasuh anak tetangganya, Casey bermimpi mengerikan mengenai anjing aneh dan anak iblis. Lama kelamaan hal tersebut seakan menjadi nyata dimana Casey mulai mengalami halusinasi dan tiba-tiba bola matanya berubah warna dari biru tua menjadi kecoklatan! Fakta tersebut kemudian menguak rahasia bahwa sebenarnya Casey adalah anak kembar dimana saudara laki-lakinya meninggal sebelum dilahirkan. Berusaha mencari jawaban dari semua teka-teki yang menghantuinya, Casey harus melakukan segalanya yang ia perlu sebelum terlambat.

Gambar:
Sebagian besar disyut di Illinois termasuk University of Saint Mary of the Lake yang terkesan megah, tua dan angker!

Act:
Pernah mendukung proyek misterius J.J. Abrams, Cloverfield (2008), aktris muda cantik bermasa depan cemerlang bernama Odette Yustman ini bermain sebagai Casey Beldon, gadis remaja yang diteror oleh arwah saudara kembarnya dari masa lampau.
Aktor senior, Gary Oldman memulai debutnya dalam Remembrance (1982) disini berperan sebagai Rabbi Sendak yang mampu melakukan upacara pengusiran setan.
Sebelum ini tampil sebagai vampir haus darah berambut gimbal dalam Twilight, kali ini Cam Gigandet dengan rambut cepak sebagai Mark Hardigan.
Cukup banyak bermain dalam serial televisi, Meagan Good mendapat peran sebagai Romy, sahabat Casey yang apatis terhadap supernatural.

Sutradara:
David S. Goyer pertama kali muncul dalam ZigZag (2002) dan membuat horor pertamanya lewat film ini.

Komentar:
Semua elemen horor Hollywood ada disini yaitu trauma masa kecil, mimpi buruk yang menjadi kenyataan, teman yang apatis, pengusiran setan dsb. Hal-hal tersebut menjadikan film ini agak unpredictable. Namun beberapa scene dipercaya bisa membuat anda tersentak kaget atau berteriak ngeri, inipun terbantu lagi oleh spesial efek yang cukup baik terutama pada bagian ending. Dengan modal bakat sang sutradara dan jajaran cast yang sedang naik dauh, seharusnya Unborn bisa lebih baik lagi, tidak terjebak stereotype yang sama. Tapi sudahlah, film ini toh masih bisa mengisi waktu anda setidaknya kurang dari satu setengah jam.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$42,638,165 till March 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!