XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 11 Agustus 2012

SEVEN SOMETHING : Another Beautiful Love Stories In Real Life


Quotes:
“Pelari hanya fokus pada apa yang ada 7 kaki di depannya dan terus berlari.”

14Pawin “Golf” Phurijitpanya (43 menit)
Dua remaja 14 tahun menjalin kasih.  Puan memiliki keterampilan menggunakan kamera dimana Milk selalu menjadi obyeknya di setiap kesempatan. Awalnya mereka sepakat semua video yang direkam hanya demi kepentingan pribadi. Namun Puan melanggar janji dengan mengunggahnya ke Youtube dan Facebook sehingga menimbulkan reaksi dari publik. Mudah diduga, Milk marah besar dan mengancam untuk putus.

21/28Adisorn “Ping” Treekasem (45 menit)
Meraih kesuksesan di usia 21 tahun setelah membintangi film romantis Sea You, pasangan Jon dan Mam justru menemui banyak hambatan sehingga memutuskan berpisah. 7 tahun kemudian, Mam yang ketenarannya mulai meredup kembali mendatangi Jon yang sudah menyepi dengan bekerja sebagai penyelam di Siam Sea World untuk kembali ke dunia akting lewat sekuel Sea You Again. Jon menolak karena tidak menyukai dunia yang pernah digelutinya itu tapi tidak tega menyakiti perasaan Mam.

42.195 - Jira “Keng” Malikul (57 menit)
Wanita pembaca berita televisi tengah berupaya bangkit dari kesedihan setelah suaminya tewas dalam kecelakaan pesawat. Saat berikrar untuk tidak menikah lagi, ia malah bertemu seorang pria muda misterius yang mendorongnya untuk berpartisipasi dalam perlombaan lari marathon demi perubahan hidup yang positif.
Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Rak Jet Pee Dee Jet Hon yang berarti 7 years of love 7 year of good ini rilis di Thailand pada tanggal 26 Juli 2012.

Cast:
Cris Horwang sebagai Mam
Jirayu La-ongmanee sebagai Puan
Nichkhun Horvejkul sebagai pria muda
Sunny Suwanmethanont sebagai Jon
Suquan Bulakul sebagai wanita pembaca berita
Suthatta Udomsilp sebagai Milk

W For Words:
Harus diakui saya sangat salut (sekaligus iri) dengan konsistensi GTH yang merupakan gabungan GMM Pictures, Tai Entertainment dan Hub Ho Hin dalam memproduksi film-film Thailand berkualitas dengan berbagai genre tanpa harus kehilangan kreatifitas. Entah kapan Indonesia mampu mengikuti jejak serupa, setidaknya memiliki satu rumah produksi yang memiliki visi dan misi serupa. Kini 7 tahun sejak GTH resmi dibentuk, mereka meluncurkan omnibus terbarunya yang mengusung semangat romantisme. Bukankah cikal bakal genre ini sudah terlihat lewat produksi pertama, Fan Chan (2003) yang sudah menjadi cult tersebut.

“14” jelas ditujukan bagi segmentasi remaja menilik usia belia dua tokoh utamanya. Phurijitpanya dengan cerdas mengambil kondisi relevan yang terjadi di belahan dunia manapun dimana kebiasaan mengupload aktifitas pribadi ke internet melalui sosial media kerapkali berlebihan. Anda bisa menjadi pelaku atau korban sekaligus dimana privasi lah yang dipertaruhkan. Namun kebodohan yang dilakukan La-ongmanee jelas untuk ditertawakan meski tidak sampai menyebalkan. He’s just a kid anyway. Satu yang pasti, exposure terhadap Udomsilp amatlah memanjakan mata. Who’s not agree?
 
“21/28” mengajak anda back and forth mengenal sosok Jon dan Mam. Treekasem memberikan kunci untuk mengetahui perbedaan masa ada pada warna rambut Mam dan bentuk tubuh Jon. Kolaborasi cinta dan benci yang sering melandasi suatu hubungan asmara. Mungkinkah kesempatan kedua itu ada walau segala sesuatunya tak lagi memungkinkan? Lihat bagaimana memikatnya Cris dan Sunny berakting “ganda” sebagai pasangan, dalam film dan kehidupan nyata sekaligus yang pada akhirnya akan mencengangkan penonton karena realita yang tersimpan di baliknya.

“42.195” mengajarkan anda bangkit dari keterpurukan yang tiada berujung. Memang bukan suatu usaha yang mudah tetapi harus dimulai dengan kata “mencoba”. Yang menarik adalah Malikul menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam bercerita. Lari marathon itu sendiri seakan menjadi sebuah metafora yang kuat mendeduksi seseorang untuk maju atau mundur. Nickhun yang telaten mengingatkan tujuan langkah ke depan, Bulakul yang dilematis dalam memilih setia dengan janji atau melanjutkan hidup. Perbedaan usia yang terpaut jauh di antara mereka tak menyurutkan jalinan chemistry unik nan menarik. I guess 42 is the new 24. Stay forever young in our hearts is a must!
 
Jika harus menyebutkan most to least favorit saya maka didapatlah angka 2-1-3. Sedikit kelemahan yang kentara adalah durasinya yang kelewat panjang sehingga agak membosankan bagi penonton praktis. Namun para filmmaker Thailand ini seperti biasa memilih bekerja dengan detail, meminimalisir transfer emosi yang terkesan terburu-buru demi mendapatkan keterikatan rasa yang kuat dengan penonton. Penata suara dan musik juga menjalankan tugasnya dengan baik dalam menjaga mood film tanpa dramatisir yang berlebihan.

Menikmati Seven Something memang memerlukan hati dan kesabaran karena sesungguhnya tak sulit memprediksi kemana arah berjalan di tiap segmennya. Tak ada kejutan atau benang merah yang signifikan dari tiga cerita yang disampaikan. Jangan lupa untuk mencermati layar bioskop karena anda akan menemukan wajah-wajah familiar dari film-film produksi GTH selama 7 tahun terakhir tampil sebagai cameo disini. Pay one for three and you might get something beautiful because these are lovely love stories that real!

Durasi:
145 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 10 Agustus 2012

JISM 2 : Undoing Sex Turns You Off

Quotes:
Kabir: Pilihan itu cuma ada dua, menjadi gila karena kebenaran, atau waras karena kebohongan..

Nice-to-know:
Film yang dianggap paling kontroversial tahun ini rilis di India pada tanggal 3 Agustus 2012 yang lalu.

Cast:
Randeep Hooda sebagai Kabir
Sunny Leone sebagai Izna
Arunoday Singh sebagai Ayaan  

Director:
Pooja Bhatt yang juga dikenal sebagai aktris ini menyutradarai film kelimanya setelah Kajraare (2010).

W For Words:
Merupakan sekuel dari Jism (2003) yang dibintangi oleh Bipasha Basu dan John Abraham serta disutradarai oleh Amit Saxena. Jika anda belum menyaksikannya maka tak usah khawatir karena samasekali tak ada benang merah yang menghubungkannya, terkecuali faktor penulis skenarionya masih sama yaitu Mahesh Bhatt. Kali ini nama baru Sunny Leone pun dipasang besar-besar di antara dua aktor Randeep Hooda dan Arunoday Singh. Sutradara Pooja Bhatt ditunjuk demi memberikan nafas feminisme yang kental. 

Bintang porno Izna ditugasi oleh agen rahasia Ayaan untuk sebuah misi membekuk teroris yang mencoreng muka Kepolisian. Orang itu ternyata adalah Kabir, mantan kekasih Izna yang meninggalkannya tanpa alasan. Ayaan dan Izna berpura-pura menjadi tunangan untuk mengintai Kabir. Lambat laun jebakan itu berhasil karena Kabir masih belum melupakan Izna, bahkan melamarnya di satu kesempatan. Kini Izna mulai bingung menentukan hatinya, apakah tetap menjalankan rencana semula atau berbalik dengan rencana barunya.

Leone yang kelahiran Indo-Kanada adalah nilai jual utama dimana wardrobe yang dibebatkan padanya nyaris selalu memperlihatkan belahan dada, pundak, punggung atau pahanya. Hooda dan Singh jelas dua pria berbadan kekar yang dikondisikan sebagai tokoh maskulin. Sayangnya chemistry di antara ketiganya tidak terlalu berhasil, nyaris tidak ada keterikatan, ketertarikan ataupun cinta yang mendasari.  Hal ini diperburuk dengan skrip Bhatt yang hanya menawarkan dialog-dialog cheesy one liners nan gagal romantis itu. Plotnya pun serasa jalan di tempat, berputar-putar sampai durasi berakhir.

Keintiman yang diharapkan nyatanya tidak terjadi. Pasangan Hooda-Leone ataupun Singh-Leone cuma berpose bercinta tanpa ekspresi di sepanjang film, dari berbagai gaya yang didukung oleh pengambilan gambar dari berbagai angle. Tak lupa, sutradara Bhatt mengatur segenap ornamen/aksesoris pendukung untuk menciptakan setting erotis. Jika tidak ada “aksi” panas, anda mungkin merasa disuguhi sex catalog yang diilhami oleh Kamasutra. Seakan belum lengkap, sederetan track mellow yang dinyanyikan trio tersebut juga disiapkan sebagai pengiringnya. Gosh, it’s lame!

Jism 2 tak memiliki kekuatan cerita dan tak sepanas yang ada di pikiran anda. Cinta segitiga Hooda-Leone-Singh amat mudah ditebak pergeseran konfliknya hingga diprediksi berujung pada tragedi. Who’s gonna die afterall between them? Itulah pertanyaan yang harus anda jawab setelah menunggu begitu lama. Bollywood yang biasanya pandai meramu adegan hot yang persuasif kali ini mesti disalahkan atas kampanye palsu yang digadang film ini. Maybe all you need is watch spa videos or honeymoon commercials instead of this one. Warning, might turns you off in the end!

Durasi:
129 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 09 Agustus 2012

LOL : Missing Out Its Fun and Focus


Tagline:
You can change your status, but not your heart.

Nice-to-know:
Lisa Azuelos juga menulis dan menyutradarai film aslinya yang berbahasa Perancis dan dibintangi oleh Sophie Marceau.

Cast:
Miley Cyrus sebagai Lola
Douglas Booth sebagai Kyle
Ashley Hinshaw sebagai Emily
Adam G. Sevani sebagai Wen
Demi Moore sebagai Anne
Jean-Luc Bilodeau sebagai Jeremy
Gina Gershon sebagai Kathy

Director:
Liza Azuelos yang asli Perancis ini pernah menyutradarai Comme t'y es belle! (2006).

W For Words:
Menilik poster dan jajaran pemain utamanya, film ini semestinya menitikberatkan pada hubungan ibu dan anak perempuannya. Beberapa referensi serupa di masa lampau adalah Anywhere But Here (1999) dan Thirteen (2003) atau yang lebih lawas lagi di tahun saya lahir yaitu Terms of Endearment yang bisa dibilang cukup berhasil menghantarkan pesan moral yang diembannya. Bagaimana dengan duet Demi Moore dan Miley Cyrus yang satu ini dalam judul yang bisa dimaknai sebagai akronim Laughing Out Loud. Is it that hilarious? Apparently not.

Lola dan teman-temannya memanfaatkan media komunikasi online untuk saling bertukar informasi apapun termasuk perlakuan orangtua masing-masing. Putus dari Chad, Lola berhubungan erat dengan sahabat dekatnya, Kyle yang diam-diam mencintainya. Kyle sendiri tengah bermasalah dengan ayahnya yang selalu menentang pilihannya menekuni musik. Lola pun sedang membenci ibunya yang kerap berkencan sembunyi-sembunyi dengan ayahnya paska perceraian. Di saat hubungan Lola dan Kyle semakin dekat, masalah-masalah justru timbul merintangi mereka.

Melihat gerombolan anak SMU disini rasanya sulit mendapatkan simpati penonton. Jangan salahkan penulis skenario Lisa Azuelos dan Kamir Aïnouz yang berupaya melakukan pencitraan sesesuai mungkin dengan kondisi remaja masa kini. Lihat bagaimana desperate nya Lola dan Emily ingin melepas keperawanan mereka, naïf nya Anne yang tak ingin bercinta setelah bercerai sekaligus mengharapkan hal yang sama dari suaminya, bodohnya muda-mudi ini mengorbankan study tour nya hanya untuk bermain-main di Paris tanpa mendapatkan apa-apa. Semua tingkah laku tersebut cuma akan membuat anda geleng-geleng.

Begitu banyaknya karakter yang timbul tenggelam di sepanjang durasi membuat film terasa tidak fokus. Anda tak akan mau bersusah payah mengingat adik-adik Lola atau Ashley yang polos nan kocak, mantan suami ‘tanpa nama’ yang dimainkan oleh Thomas Jane, detektif/polisi James yang mencintai secara instan, guru tampan Mr. Ross yang kurang berwibawa. Belum lagi sekumpulan tokoh “freak” yang didapuk sebagai warga Perancis yang menerima pelajar pertukaran di kediaman mereka. Saya tidak menemukan sisi humor yang bisa digali dari perbedaan menu makanan, kebiasaan hidup dsb.

Sutradara Azuelos yang seharusnya menekankan ‘feminisme’ terlalu berambisi meramu substansi beraneka ragam untuk membawa penonton terhanyut dalam karya remakenya ini. Sayangnya persoalan yang diangkat terlampau datar. Anda bisa menemukan ribuan problematika remaja serupa mulai dari patah hati, perasaan terpendam, kompetisi band, study tour, pesta ajojing, teenage bitch, krisis identitas, narkoba, pengalaman seks pertama, perseteruan dengan orangtua yang pada akhirnya diselesaikan oleh happy ending klise yang mudah ditebak agar semua pihak bahagia? You think so?

Tak sulit diterka apabila LOL mengandalkan seorang Miley untuk mengangkat film. Sayang kelakuannya tak simpatik, penampilannya kurang menarik hingga tidak menyisakan apapun yang positif. Setidaknya Demi memberikan penampilan yang masih lumayan memikat sebagai ibu yang tak jauh berbeda dengan putrinya. Percakapan demi percakapan yang terjadi via Whatsapp, BBM, Skype dsb terasa melelahkan untuk dibaca, bukan didengar sebagaimana biasanya dalam film. Jika kata ‘sorry’ saja dirasa cukup untuk membuat semua pihak berdamai maka maafkan saya untuk tidak menyukai tontonan kelewat ringan tanpa esensi ini. Might be only works for girls and their bff to have some laughters.

Durasi:
97 menit

U.S. Box Office:
$46,500 till May 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 08 Agustus 2012

PERAHU KERTAS PART 1 : Berlayar Hanyutkan Mimpi dan Cinta

Quotes:
Kugy: Karena hanya denganmu, semua terasa dekat, terasa nyata..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Agustus 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Kimberly Ryder sebagai Wanda
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Dion Wiyoko sebagai Ojos
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director:
Film Hanung Bramantyo kembali lagi mengisi libur Lebaran setelah tahun lalu muncul lewat Tendangan Dari Langit.

W For Words:
Film yang diangkat dari sebuah novel best seller tentunya memiliki beban berat untuk bisa benar-benar menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa visual yang tak kalah bobotnya. Untuk itulah Dewi ‘Dee’  Lestari dipercayakan menulis skenarionya langsung dari 444 halaman buah pemikirannya itu. Tampuk komando diserahkan pada sutradara papan atas Hanung Bramantyo. Demi menghindari adanya esensi yang hilang, produser Chand Parwez Servia dan Putut Widjanarko sepakat membagi film menjadi dua bagian dimana Part 1 dirilis di bulan Agustus demi menyambut Lebaran sedangkan Part 2 direncanakan menyusul di bulan Oktober nanti.

Sama-sama kuliah di Bandung, Kugy dan Keenan mengambil jurusan yang berbeda yaitu Sastra dan Ekonomi dan bersahabat erat dengan pasangan Noni dan Eko yang juga sepupu Keenan. Diam-diam keduanya saling mencintai walau Kugy telah menjalin hubungan dengan Ojos dan Keenan lebih memilih mundur. Tahun demi tahun berlalu, Keenan yang bertengkar dengan ayahnya memilih lari ke Bali dan menekuni seni lukis di bawah arahan Wayan dan didukung oleh keponakannya Luhde. Kugy yang magang di advertising milik Remi mulai menunjukkan talentanya dan menarik perhatian atasannya itu. Akankah mereka berjumpa lagi pada waktu dan kesempatan yang lebih tepat?
 
Kekhawatiran yang muncul di kalangan moviegoers sejak awal adalah menemukan cast yang tepat. Kontroversi sempat terjadi ketika diputuskan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken berperan sebagai Kugy dan Keenan. Melihat aksi mereka selama nyaris dua jam, tampaknya saya harus setuju dan tidak setuju. Chemistry keduanya agak terasa dipaksakan dan masing-masing cukup sulit untuk keluar dari peran stereotype sebelumnya. Namun jika harus mengapresiasi, Adipati menunjukkan usaha yang lebih dalam menginterpretasikan karakter Keenan yang harus jatuh bangun mengejar mimpinya. Sedangkan Maudy masih kurang dewasa dalam menjiwai karakter Kugy yang cerdas tomboy dan memiliki dunianya sendiri.

Dari jajaran pendukung, Sylvia dan Fauzan berulang kali sukses mencuri perhatian baik sebagai pasangan ataupun sahabat kawan-kawan mereka. Coba lihat adegan ijab kabul yang super kocak itu. Lain lagi Reza Rahadian yang berhasil memerankan Remi dengan kreatif dan dewasa tanpa harus kehilangan imej cool. Penampilan menjanjikan dibawakan pendatang baru Elyzia sebagai gadis Bali yang lemah lembut dan pengertian. Jangan lupakan kontribusi nama-nama senior macam Tio Pakusadewo, August Melasz dll.

Sutradara Hanung sudah berupaya keras mempertahankan momen-momen penting yang amat berpengaruh dalam perjalanan hidup Kugy dan Keenan tetapi proses editing yang kurang mulus karena keterbatasan durasi memang terkadang merenggut sebagian intisarinya. Yang tersisa adalah kumpulan potongan mozaik mengenai reaksi campur aduk akan perasaan yang tak dapat terungkapkan mulai dari marah, kecewa, putus asa dsb. Kesemua konflik tersebut berjalan linier melewati lompatan waktu yang kerapkali tak terukur kadar dan porsinya secara utuh.

Separuh pertama film terbilang sibuk bertutur, sesekali meninggalkan penonton yang masih berusaha mencerna atau pada kesempatan lain malah berlama-lama mendramatisir ini itunya. Namun percayalah, Hanung cukup kompeten menyatukan semua percabangan sehingga tontonan ini terkesan kian menyenangkan seiring berjalannya waktu. Salah satu rekan saya menginformasikan bahwa bagian pertama ini ‘digantungkan’ setelah tiga perempat isi novelnya diceritakan. Mudah-mudahan bagian keduanya kelak dapat lebih fokus pada perasaan Kugy dan Keenan secara personal walau harus mengecewakan orang-orang di sekitar mereka.
 
Perahu Kertas Part 1 ini mungkin akan menuai review kontradiktif, tak disukai penggemar novelnya tapi disukai penonton awam yang tidak membaca novelnya. Selalu ada dua sisi yang berseberangan. Argumen bahwa teenlit intelek bercitarasa dewasa bertransformasi menjadi roman picisan bercitarasa remaja memang tampaknya sulit dihindari. Satu yang pasti, itikad baik sudah dilakukan filmmakers dalam mengembalikan genre drama romantis lokal ke jalur yang variatif dan menyegarkan, tak melulu terjebak pada premis yang itu-itu saja. Siap untuk memasuki misteri keseimbangan dunia Kugy dan Keenan yang mesti bersua di tengah situasi kemustahilan untuk bersama? 

Durasi:
112 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Selasa, 07 Agustus 2012

CORIOLANUS : Great Shakespeare Play Into Cinema

Quote:
Caius Martius Coriolanus: I'll fight with none but thee, for I do hate thee.
Tullus Aufidius: We hate alike.

Nice-to-know:
Ralph Fiennes pernah memerankan tokoh Coriolanus dalam opera di Almeida Theatre, London pada tahun 2000.

Cast:
Ralph Fiennes sebagai Caius Martius Coriolanus
Gerard Butler sebagai Tullus Aufidius
Brian Cox sebagai Menenius
Jessica Chastain sebagai Virgilia
Vanessa Redgrave sebagai Volumnia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ralph Fiennes yang pernah dua kali dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam ajang Oscar.

W For Words:
William Shakespeare dikenal publik sebagai pujangga berbahasa Inggris terbaik di dunia. Karya-karyanya berulang kali dipertunjukkan di atas panggung dan beberapa di antaranya bahkan diadaptasi ke layar lebar. Paling ternama adalah Romeo + Juliet versi Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dimana sutradara Baz Luhrmann memindahkan settingnya ke jaman modern. Sama halnya yang dilakukan oleh Ralph Fiennes lewat film ini yang merupakan kali pertama kisah pahlawan Roma ini diangkat dalam format apapun juga. Interesting, huh?

Paska perang, Caius Martius adalah tentara sekaligus figur publik berpandangan ekstrim yang berbalik membenci rakyat Roma karena sikap dan perlakuan mereka yang apatis terhadapnya. Label pengkhianat pun disematkan padanya sehingga demi menghindari kekacauan masal, dewan memutuskan Caius wajib meninggalkan kota. Tidak terima, ia bertekad membalas dendam sekaligus berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Tullus Aufidius.

Yang menarik adalah kinerja Fiennes yang super sibuk di depan dan di belakang kamera sekaligus. Pergeseran konfliknya cukup terlihat mulai dari Caius yang dibenci, memperoleh simpati, kehilangan respek,  pengasingan, pengkhianatan sampai keputusan hidup atau mati pada akhirnya. Sejujurnya banyak adegan yang dapat dipangkas untuk penekanan yang lebih efisien sehingga durasinya tidak kelewat lama. Sayangnya lagi nama-nama besar seperti Butler, Cox, Redgrave, Chastain tidak dimaksimalkan dan terkesan sebagai karakter pelengkap belaka bagi Fiennes yang sangat dominan disini.

Penggunaan bahasa menjadi kendala utama disini. Penulis skrip John Logan memilih “setia” pada Shakespeare dengan mempertahankan archaic language yang sangat asing di telinga. Porsi terbesar film yang dihabiskan melalui pertukaran dialog antar karakternya pun semakin memperburuk situasi dimana penonton masa kini bisa jadi kehilangan interest walaupun sudah dibantu dengan subtitle. Padahal jika mau dicermati, setting modern lengkap dengan pemakaian seragam/kostum masa kini, penggunaan ponsel dan pengendaraan mobil teranyar telah menegaskan adaptasi lawas yang bergulir lancar.

Coriolanus seakan diperuntukkan bagi ambisi positif seorang Ralph Fiennes. Karisma dan keahlian aktingnya belum pudar, ditambah kompetensi sutradara yang mulai dirambahnya semakin memperkuat posisinya di kancah perfilman Hollywood masa mendatang. Secara keseluruhan, saya merasa screenplay dengan bahasa asli ini sejatinya lebih cocok bagi panggung teater, bukan media film. It’s definitely not everybody’s cup of tea, especially for moviegoers nowadays who are looking for a quick snack but might end up bored and completely clueless.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$756,452 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 05 Agustus 2012

CARNAGE : Black Comedy About Parents From Hell

Quote:
Michael Longstreet: What happened to your sense of humor?
Penelope Longstreet: I don't have a sense of humor and I don't want one!

Nice-to-know:
Film ini disyut secara real time tanpa jeda dengan menggunakan satu lokasi plus taman.

Cast:
Jodie Foster sebagai Penelope Longstreet
Kate Winslet sebagai Nancy Cowan
Christoph Waltz sebagai Alan Cowan
John C. Reilly sebagai Michael Longstreet
Elvis Polanski sebagai Zachary Cowan




Director:
Salah satu insan legendaris dunia film, Roman Polanski kembali di bangku sutradara setelah The Ghost Writer (2010).

W For Words:
Film yang terpilih sebagai feature di malam pembuka The New York Film Festival pada bulan September 2011 yang lalu ini adalah hasil adaptasi pertunjukan teater “God of Carnage” tahun 2008 karya Yasmina Reza. Posisi Reza sebagai penulis skrip dipertahankan dan disempurnakan oleh sutradara kompeten Roman Polanski. Tak hanya itu daya tariknya karena anda juga akan disuguhi permainan akting kaliber Oscar dari kwartet Jodie Foster, Kate Winslet, John C. Reilly dan Christoph Waltz yang teramat mendominasi keseluruhan durasi komedi satir satu ini. That’s why I remind you not to miss this one!

Suatu sore di Brooklyn Bridge Park, bocah sebelas tahun Zachary Cowan memukul wajah teman sekelasnya Ethan Longstreet dengan tongkat yang berujung pada rontoknya dua gigi Ethan. Orangtua kedua belah pihak sepakat mengadakan pertemuan untuk membahasnya. Alan dan Nancy Cowan pun bertandang ke apartemen Michael dan Penelope Longstreet. Profesi dan latar belakang keluarga menengah ke atas yang berbeda-beda itu lantas berujung pada kisruh yang tak terhindarkan dimana sifat kekanak-kanakan mereka mulai muncul ke permukaan.

Bukan tanpa kesengajaan jika Polanski membuat kedua pasutri Amerika dan Inggris tersebut saling berhadapan meskipun Christoph aslinya berasal dari Austria. Pergeseran konflik mulai dari pembahasan anak, diri sendiri hingga rumah tangga masing-masing bergulir mulus untuk menjaga intensitas yang semakin memuncak. Foster menjadi favorit saya kali ini apalagi luapan kemarahan yang tergambar lewat tarikan urat-urat di wajahnya saat mempertahankan integritas diri. Sedangkan Waltz memberikan interpretasi menarik lewat ketenangan tokoh sinis yang justru terlihat kompromi. Bisa anda bayangkan bahwa panggilan sayang seperti “Darjeeling” atau “Doodles” ternyata dapat menjadi bahan olok-olok?

Penelope sang penulis kritis, Michael sang penjual alat-alat rumah tangga, Nancy sang broker, Alan sang pengacara corporate. Beragam profesi beraktifitas tinggi secara tidak langsung membentuk kepribadian masing-masing yang terhimpit norma hidup kota metropolitan. Pertukaran dialog sesama/antar gender terus menerus membuka babak baru yang rumit. Akar problem itu sendiri ternyata dibangun dan diselesaikan hanya melalui adegan bisu antara Zachary dan Ethan sekaligus menegaskan kompleksitas sudut pandang orang dewasa yang kerapkali berlebihan dalam memandang segala sesuatunya.

Jendela yang menghadap langsung ke jalan raya New York City secara tidak langsung menegaskan kondisi sosial ekonomi kedua pasangan yang tak jauh berbeda. Satu obyek hidup yakni hamster dan berbagai obyek mati juga dimaksimalkan untuk menjadi pemicu masalah seperti pie kombinasi apel dan pir, bunga tulip, coke, katalog, alat pengering, ponsel sampai whiskey yang memabukkan. Tak lupa interaksi Michael dengan ibunya atau Alan dengan bawahannya seputar konsumsi obat dihadirkan sebagai jeda tak resmi.

Jika sebelumnya Polanski pernah sukses memaksimalkan setting apartemen klastrofobik bernuansakan mencekam dalam Repulsion (1965), Rosemary’s Baby (1968) atau The Tenant (1976), kali ini ia menghadirkan elemen komedi hitam yang secara cerdas menertawakan sifat kekanak-kanakan, pembenaran tindakan, pertahanan diri lewat serangkaian potret tingkah laku manusia yang sangat akurat. There’s no way you can’t laugh seeing four fine actors deliver memorable integrated performances that will long stick in your mind!

Durasi:
80 menit

Europe Box Office:
€3,206,123 till Oct 2011 in Italy

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 04 Agustus 2012

TOTAL RECALL : Reinvent Memories That Easily Forgotten

Quote:
Doug Quaid: If I'm not me, then who the hell am I?

Nice-to-know:
Sesungguhnya Ethan Hawke melakukan monolog sebanyak lima halaman skrip dalam film ini. Namun adegannya tidak dimasukkan dalam final cut walau tetap menjadi bagian dalam viral marketing.

Cast:
Colin Farrell sebagai Douglas Quaid / Hauser
Kate Beckinsale sebagai Lori Quaid
Jessica Biel sebagai Melina
Bryan Cranston sebagai Cohaagen
Bokeem Woodbine sebagai Harry
Bill Nighy sebagai Matthias
John Cho sebagai McClane



Director:
Merupakan feature film keempat bagi Len Wiseman setelah terakhir menggarap Live Free Or Die Hard (2007).

W For Words:
Cerita pendek karya Phillip K. Dick di tahun 1966 yang berjudul “We Can Remember It for You Wholesale” telah menginspirasi Paul Verhoeven untuk membesut Total Recall (1990). Dua puluh dua tahun kemudian, Len Wiseman sepakat untuk meremakenya. Perbedaan paling mencolok tentunya setting yang berpindah dari Mars ke Bumi. Jika anda sudah lupa versi terdahulunya maka biarkan saja seperti itu. Tak perlu menontonnya kembali sebagai referensi ataupun pemanasan versi terbarunya ini demi obyektifitas yang lebih netral. Just a suggestion though.

Dunia masa depan telah terbagi menjadi dua yaitu The United Federation of Britain dan The Colony. Seorang pekerja yang tinggal di UFB, Douglas Quaid hidup cukup berbahagia dengan istrinya, Lori meski selalu terganggu dengan mimpi buruk yang sama terus menerus. Penasaran, Doug menyambangi The Rekall yang diyakini mampu menanamkan ingatan palsu akan bentuk kehidupan yang diinginkan. Sayangnya proses yang terlalu instan itu membuat Doug bingung menentukan identitas mana yang sesungguhnya dimiliki sambil berupaya menghindari pihak-pihak yang memburunya.

Kembalinya Farrell sebagai leading actor jelas nilai tambah tersendiri. Lupakan Arnold Schwarzenegger karena Doug di tangannya lebih manusiawi, berjuang dalam kebingungan mereka-reka identitas aslinya sekaligus berhati-hati dalam mempercayai orang-orang di sekitarnya. Simpati anda akan muncul terhadapnya. Penampilan Beckinsale sebagai Lori yang tangguh dan tricky disini memang mempesona walaupun sangat mengingatkan anda pada karakter Selene dalam franchise Underworld. Biel dan Cranston meski tampil memikat tapi terasa minim pengaruhnya terhadap kesolidan jalan cerita.

Sutradara Wiseman memperkenalkan kita pada Bumi yang sebagian besarnya tak lagi bisa ditinggali karena bencana pencemaran kimia. Panggung sains fiksi futuristik yang dirasa cukup untuk membangun konflik yang kerapkali harus diselesaikan dengan baku tembak atau baku hantam yang stylish. Sederetan adegan aksi yang akan menjaga intensitas anda dalam menyaksikannya disuguhkan secara ciamik lewat penempatan multi kamera yang variatif untuk menangkap sudut-sudut yang tak terjangkau oleh mata sekalipun. 

Lumayan banyak pertanyaan tak terjawab dalam film ini seperti: Mengapa Britain terhindar dari bencana kimia yang menghancurkan seluruh belahan bumi utara? Mengapa para pekerja di Colony masih melakukan pekerjaan simultan monoton yang seharusnya bisa digantikan oleh robot? Sebagai gantinya, kecanggihan teknologi niscaya mampu menggelitik daya pikir anda seperti handphone yang terintegrasi di tangan manusia, robot yang mampu berkomunikasi lewat tulisan di bagian wajahnya serta proyeksi empat dimensi yang dapat berinteraksi terbatas.

Keunggulan demi keunggulan Total Recall sebagai non-stop action memang menyenangkan tapi tidak mampu menutupi kekosongan esensi di dalamnya yang membuatnya mudah terlupakan begitu saja. Beragam elemen cerita familiar dari Blade Runner (1982), Pitch Black (2000), Minority Report (2002), Star Wars: Episode II — Attack of the Clone (2002) serasa dipinjam untuk dilebur menjadi satu. Bagi mereka yang tak pernah mengenal versi lamanya mungkin dapat mengapresiasi. Namun generasi lama bisa jadi mencibir sambil berupaya memulihkan ingatan mereka seperti sediakala tanpa harus memasuki Rekall yang baru ini.

Durasi:
118 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 01 Agustus 2012

STREET DANCE 2 : Only Interesting Dance Fusion Helps

Quote:
Eva: Dance with your heart, not your head.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi secara kolektif oleh Vertigo Films, BBC Films, British Film Institute (BFI) ini sudah dirilis di Inggris pada tanggal 30 Maret 2012 yang lalu.

Cast:
Falk Hentschel sebagai Ash
Sofia Boutella sebagai Eva
Tom Conti sebagai Manu
George Sampson sebagai Eddie

Director:
Duet Max Giwa dan Dania Pasquini melanjutkan penyutradaraan mereka dalam Street Dance (2010).


W For Words:
Masalah utama yang dihadapi film-film yang mengusung dansa atau tari adalah plot cerita yang lemah. Sudah dibuktikan oleh prekuelnya Street Dance (2010) atau franchise pendahulunya yang jauh lebih populer yaitu Step Up 1-3 (2006-2010). Sebenernya tidak terlalu krusial jika penulis skrip mampu memanfaatkan celah-celah kreatifitas dalam formula standarnya yang tentu saja didukung oleh penceritaan yang inovatif. Bagaimana kinerja Jane English dan Max-Dania sendiri? Apakah cukup solid untuk mengangkat sekuel yang juga dibekali dengan format 3D ini?

Setelah dipermalukan kru “Invicible”, Ash diajak Eddie untuk membalasnya yaitu dengan membentuk grup tari yang orisinil. Keduanya segera melanglang Eropa dan menemukan bakat-bakat baru yaitu Killa, Bam Bam, Terabyte, Ali, Yo Yo, Legend, Tino, Skorpion mulai dari Copenhagen, Amsterdam, Berlin, Prague, Ibiza, Rome, Lyon sampai Pegunungan Alpen. Namun ketika menyaksikan Eva dan Lucien menari Salsa, Ash sepakat menggabungkan jenis tarian baru yang diyakini dapat menandingi “Invicible” di panggung terakhir yang sangat menentukan.

Logika menjadi aspek penting yang diabaikan disini. Tak disinggung bagaimana Ash dan Eddie mencari uang untuk mendanai setiap kegiatan mereka termasuk memberi “makan” para anggota timnya. Kemunculan Eva yang mendadak tak didukung kejelasan latar belakang. Penonton mengetahui bahwa ia gadis baik-baik hanya dari mulut pamannya, Manu yang eksentrik. Padahal di awal terlihat akrab dengan partner tarinya, Lucien yang cuma muncul sekilas. Beragam tokoh multi ras yang masuk dalam kelompok tersebut tidak lantas diberdayakan untuk memperkuat karakteristiknya.

Daya pikat jelas dibebatkan pada duet Hentschel dan Boutella yang menyita mayoritas durasi, bahkan tak menyisakan ruang lagi bagi Sampson yang sebetulnya menjadi penghubung nyawa dengan prekuelnya. Chemistry Ash dan Eva terasa dipaksakan lengkap dengan on/off yang klise dan predictable menjelang akhir cerita. Keduanya memang memiliki “fisik” yang menjual tapi mudah terlupakan begitu film berakhir. Penampilan Conti sudah cukup memikat dengan gaya bicara dan tatap matanya, lihat duel “cabe” nya bersama Hentschel yang lumayan memancing tawa itu.

Sutradara Max-Dania seakan melupakan citarasa British yang kental di film pertamanya. Setting Paris yang disebut sebagai kota cinta itu tak mampu dimaksimalkan sebagai latar belakang geografis yang menarik. Kemonotonan terasa dimana arena tinju menjadi satu-satunya panggung berlatih yang ada atau pertunjukan kemahiran liuk tubuh Boutella yang sangat sensual tersebut. Track-track hip hop dan R&B dengan sedikit banyak sentuhan musik Latin di bawah supervisi Lol Hammond terbukti tetap mampu menjaga ritme tarian yang akan menggetarkan anda.

Tidak banyak yang bisa dibanggakan dari Street Dance 2. Gimmick 3D yang minim bukanlah keunggulannya. Jika Street Dance (2010) mengkombinasikan tari jalanan dengan ballet maka sekuelnya ini memasukkan unsur salsa dan tango yang identik dengan kata panas dan seksi. Kita mungkin tak butuh cerita yang kuat untuk mengcover koreografi dinamik freestyle dancing yang memanjakan mata. Namun tanpa pergeseran konflik dan kekuatan penokohan, sulit bagi penonton untuk menjalin koneksi utuh apalagi lantas ditutup dengan ending yang datar. I found this as entertaining as dance videos, not dance movie itself.

Durasi:
85 menit
U.S. Box Office:
$44,053,042 till July 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 29 Juli 2012

THE DOUBLE : Take Away Its Suspense Act From Beginning

Quotes:
Ben Geary: You're gonna "shoot her in the head"?
Paul Shepherdson: Just making a connection.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh Hyde Park Entertainment, Agent Two, Brandt/Haas Productions, Imagenation Abu Dhabi FZ, Industry Entertainment ini rilis terbatas di Amerika Serikat.

Cast:
Richard Gere sebagai Paul Shepherdson
Topher Grace sebagai Ben Geary
Martin Sheen sebagai Tom Highland
Tamer Hassan sebagai Bozlovski
Odette Annable sebagai Natalie Geary
Stephen Moyer sebagai Brutus




Director:
Merupakan debut Michael Brandt yang selama ini dikenal sebagai penulis skrip ini.

W For Words:
Dari judulnya sudah bisa diperkirakan bahwa premisnya akan bercerita mengenai agen ganda, sebuah topik spy thriller yang telah berkali-kali diangkat sebelumnya. Mungkin tidak akan terlalu menarik bagi anda terlebih trailernya telah mengungkapkan banyak hal di dalamnya. Nilai jual film jelas ada pada duet aktor utamanya yaitu “senior-junior” Richard Gere dan Topher Grace dimana keduanya semakin selektif memilih peran sesuai jam terbang masing-masing. Tampuk sutradara diserahkan pada Michael Brandt yang pernah menulis untuk Wanted (2008).

Seorang senator tewas secara misterius oleh pembunuh berantai yang dikenal dengan nama Cassius. Agen C.I.A senior yang sesungguhnya telah pensiun, Paul Shepherdson dipanggil kembali oleh Tom Highland dan dipasangkan dengan debutan lapangan F.B.I. yaitu Ben Geary. Cassius sendiri diyakini sudah tewas tapi modus operandinya dalam menyayat leher korban membangkitkan kemungkinan tersebut. Terbiasa bekerja sendiri, Paul yang awalnya antipati terhadap Ben harus bekerjasama dengan lulusan Harvard itu dalam memecahkan misteri yang ada sebelum keadaan semakin memburuk.

Jika identitas Richard Gere sebagai double agent diungkapkan sejak lima belas menit pertama lantas apa lagi yang tersisa? Brandt yang berduet dengan Derek Haas dalam mengerjakan skripnya ternyata masih menyisakan beberapa twist di penghujung cerita. Pertanyaannya apakah hal tersebut masih penting dan tetap memancing rasa penasaran? Dalam proses menuju kesana, suguhan cat and mouse yang mengandalkan kecerdasan, ketangkasan dan pengalaman antara Gere maupun Grace berlangsung intens sehingga tak ayal membagi penonton dalam dua kubu.

Chemistry Gere dan Grace terbangun secara kurang maksimal dan semakin memburuk jelang epilog. Shepherdson di tangan Gere memang masih karismatik tetapi kita pernah melihatnya dalam peran sejenis yang jauh lebih variatif dalam menegaskan ambiguitas moral. Geary di tangan Grace terbilang intelek dan berkemauan keras serta digambarkan memiliki kehidupan berkeluarga yang sempurna, istri cantik dan putri kecilnya yang lucu. Selain mereka masih ada Sheen yang subtle, Yusman yang affectionate atau Moyer yang brutal sebagai napi di adegan pembukaan film.

Hiburan terbesar mungkin terjadi ketika Gere dengan cekatan menggorok leher korban-korbannya menggunakan kawat yang tersimpan di dalam jam tangannya. Selebihnya tidak banyak adegan aksi yang dibanggakan. Memang ada adegan kejar-kejaran mobil dan manusia tapi tergolong minim pengaruh terhadap adrenalin. Pertanyaan seputar berapa banyak agen Rusia yang bebas memasuki kawasan Amerika Serikat tanpa pengawasan atau relevansi hubungan C.I.A dan F.B.I dalam bekerjasama secara penuh dalam sebuah kasus kejahatan pun meninggalkan lubang yang terlalu banyak untuk dijelaskan.

Sejak awal The Double telah merampas kenikmatan kita menonton sebuah spy thriller yang penuh suspensi dan kejutan disana-sini. Plot tradisional yang dikembangkan setengah jadi ini pada akhirnya menyiksa penonton yang bingung mencari motif untuk bertahan duduk di bangku bioskop hingga ending yang terkesan dipaksakan mengusung patriotisme itu. Mudah ditebak apabila Paul alias Cassius mulai kesulitan menuntaskan tugasnya setelah mengenal lebih dekat kehidupan pribadi Ben. Elemen psikologi lah yang digunakan oleh sutradara Brandt untuk mempertahankan intensitasnya. Who have to die? Who will survive? It is up to you then, how to react in those circumstances.

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:
$137,921 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 28 Juli 2012

PARANORMAL XPERIENCE 3D : Eye-Candy Casts But Not Enough Thrills


Original title:
XP3D

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rodar y Rodar Cine y Televisión ini sudah dirilis di Spanyol pada tanggal 28 Desember 2011 yang lalu.

Cast:
Amaia Salamanca sebagai Angela
Maxi Iglesias sebagai Jose
Lucho Fernández sebagai Carlos
Úrsula Corberó sebagai Belén
Manuel de Blas sebagai Dr. Matarga
Alba Ribas sebagai Diana

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Sergi Vizcaino yang sebelumnya menggarap film pendek dan serial televisi.

W For Words:
Belakangan ini, format 3D seakan menjadi tantangan tersendiri bagi filmmakers belahan dunia manapun. Semua tampak berlomba-lomba menjadi inisiator dalam mengikuti pakem tersebut, tanpa terkecuali Spanyol yang kali ini merilis thriller horor atas inisiatif duet produser The Orphanage (2010) yaitu Joaquin Padro dan Mar Targarona. Sepintas skrip yang ditulis oleh Daniel Padro memang tak menawarkan hal baru selain menempatkan beberapa pasang muda-mudi dan satu momok yang akan meneror mereka. Simple yet (might) predictable for crazy fans!

Seorang profesor eksentrik yang mengajar fakultas kedokteran membuka sejarah hitam yang melibatkan Dr. Matarga di pertambangan kuno. Angela, Jose, Carlos, Belen, Padre sepakat membuktikan teori paranormal tersebut di kota terbengkalai. Turut serta bersama mereka adalah Diana, saudari kandung Angela yang tumbuh di keluarga broken home. Padre berhasil menghipnotis Diana yang segera merasakan kehadiran dokter gila psikopat nan eksperimental itu. Satu persatu mimpi buruk mulai menjadi kenyataan dimana jalan keluar semakin menutup.

Sutradara Vizcaino patut diacungi jempol dalam menata kota mati tersebut sedemikian rupa demi menciptakan atmosfir mengerikan (siang hari sekalipun) di berbagai lokasi yang menarik, sebut saja gua, hutan, ruang eksperimen dll. Adegan-adegan kematian juga tersusun secara apik tanpa mengindahkan aspek gore dan spesial efek yang terlihat meyakinkan. Sayangnya embel-embel 3D tidak maksimal, saya mencatat hanya satu dua adegan yang benar-benar efektif bagi penonton, saat tusukan sepanjang dua puluh senti yang seakan diarahkan ke penonton dan cipratan darah yang amat mendadak itu.

Keenam tokoh utama diperkenalkan secara mendetail di paruh pertama film. Sedikit membosankan tetapi setidaknya mereka mampu bertukar dialog dengan believable untuk memancing perhatian penonton. Anda tidak sampai membenci apalagi mengharapkan mereka menemui ajalnya. Reaksi masing-masing ketika terancam bahaya atau sekadar ketakutan terbilang wajar. Sekuens flashback masa lalu Angela dan Diana cukup menarik sekaligus mempersiapkan balutan twist di penghujung yang rasanya tak akan susah diterka oleh audiens.

Paranormal Xperience 3D bukan film yang istimewa tapi jelas tidak seburuk yang dikatakan orang-orang. Penampilan Dokter Matarga sendiri tergolong menjanjikan dengan satu mata dan perlengkapan operasinya yang dijamin membuat anda bergidik. Sayangnya hampir tak ada satupun adegan yang benar-benar berhasil mencekam anda. Paling memorable bagi saya adalah adegan hipnotisnya yang kreatif itu. Keunggulan thriller horor Spanyol ini ada pada jajaran castnya yang good looking bagi semua orang yang menyaksikannya. Still quite fun ride if you don’t set any expectations high going forward!

Durasi:
86 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent