XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label maudy ayunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maudy ayunda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2012

PERAHU KERTAS PART 2 : Berlabuh Tambatkan Hati dan Perasaan


Quotes: 
Remi: Cari orang yang bisa kasih kamu segala-galanya tanpa kamu harus minta.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 1 Oktober 2012.

Cast: 
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director: 
Hanung Bramantyo mengawali karir penyutradaraannya lewat dua film di tahun 2004 yaitu Brownies dan Catatan Akhir Sekolah.

W For Words: 
Jika Perahu Kertas Part 1 sudah berlayar menghanyutkan mimpi dan cinta dengan hasil lebih dari lima ratus ribu penonton selama periode penayangan libur Lebaran 2012 yang lalu maka kelanjutannya tentu layak ditunggu. Akankah Kugy dan Keenan dapat bersatu pada akhirnya? Itulah yang menjadi pertanyaan anda semua. Presentasi yang menyisakan seperempat novelnya akan berusaha dijawab oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo dan empunya cerita, Dewi Lestari dalam film berdurasi lebih kurang 105 menit ini. Penasaran?

Ketika Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy, timbul ide mereka untuk menerbitkan cerita anak yang selama ini diidam-idamkan. Kesibukan itu mengganggu pekerjaan Kugy di AdVocaDo sehingga banyak karyawan menyorot hubungannya dengan Remi. Liburan ke Bali yang dimanfaatkan untuk refreshing malah mempertemukan Kugy dengan Luhde di pura.Saat itulah semua rahasia terbongkar. Keenan berupaya menetapkan hatinya, demikian pula dengan Remi berusaha membuktikan keseriusan cintanya. Mungkinkah empat hati tersebut menemukan pasangan sejatinya?

Karakteristik yang sudah terbangun di bagian pertamanya membuat Hanung lebih leluasa untuk mengeksplorasi ruang perasaan empat tokoh utama disini. Memori masa lampau yang terus membekas di hati tak ayal menimbulkan keraguan untuk melangkah ke depan. Lihat bagaimana sulitnya Keenan meyakinkan Luhde bahwa ia tak perlu menjadi orang lain untuk dicintainya, atau susahnya Remi memastikan Kugy bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk dipilihnya. Tarik ulur konflik tersebut bergulir secara bergantian untuk memberikan sudut pandang terbaik dalam takaran seimbang.

Dialog merupakan kekuatan utama di bagian keduanya ini. Lontaran isi hati acapkali menusuk kalbu karena kejujuran yang mengiringi. Sayangnya momen-momen yang sudah dikondisikan untuk itu terkadang dirusak oleh perpindahan fokus yang kurang berarti. Tak jarang penonton malah tertawa saat seharusnya dituntut meresapi maknanya dalam-dalam. Tata musik dari Andhika Triyadi masih memberikan nuansa menggetarkan yang sama, berpadu cantik dengan tata kamera dari Faozan Rizal dan penyuntingan mulus dari Cesa David Luckmansyah.

Maudy, Adipati, Reza, Elyzia berhasil melalui transisi remaja di bagian pertama untuk melebur ke dalam fase dewasa muda disini. Kedewasaan Kugy, Keenan, Remi dan Luhde kian terasa tatkala dihadapkan pada problema cinta. Mereka tidak memilih untuk galau atau menangis tetapi bersikap tegar dan terus melangkah dengan pilihannya masing-masing. Intervensi kisah dari tokoh Wayan, Lena dan Adri di penghujung justru semakin memperkaya pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasari pada konsekuensi dan tanggungjawab kelak. 

Perahu Kertas Part 2 ini memang lebih sederhana dibandingkan Part 1 nya. Fokus yang lebih sempit membuat ruang gerak menjadi lebih terkendali. Hanya saja tarik ulur yang terlalu detail mengenai arah hubungan Kugy dan Keenan bagi sebagian penonton bisa jadi bertele-tele dan membosankan. Penutupnya pun berlangsung sekejap tanpa kesan mendalam, layaknya kita menjentikkan jari tangan. Sebuah umpama tafsir perasaan yang mengikuti kata hati dan tidak, semua kembali lagi pada pribadi yang menjalaninya. Pelabuhan terakhir jelas tujuan agen Neptunus yang satu ini, dengan atau tanpa radar.

Durasi: 
105 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Agustus 2012

PERAHU KERTAS PART 1 : Berlayar Hanyutkan Mimpi dan Cinta

Quotes:
Kugy: Karena hanya denganmu, semua terasa dekat, terasa nyata..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 8 Agustus 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Kimberly Ryder sebagai Wanda
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Dion Wiyoko sebagai Ojos
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director:
Film Hanung Bramantyo kembali lagi mengisi libur Lebaran setelah tahun lalu muncul lewat Tendangan Dari Langit.

W For Words:
Film yang diangkat dari sebuah novel best seller tentunya memiliki beban berat untuk bisa benar-benar menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa visual yang tak kalah bobotnya. Untuk itulah Dewi ‘Dee’  Lestari dipercayakan menulis skenarionya langsung dari 444 halaman buah pemikirannya itu. Tampuk komando diserahkan pada sutradara papan atas Hanung Bramantyo. Demi menghindari adanya esensi yang hilang, produser Chand Parwez Servia dan Putut Widjanarko sepakat membagi film menjadi dua bagian dimana Part 1 dirilis di bulan Agustus demi menyambut Lebaran sedangkan Part 2 direncanakan menyusul di bulan Oktober nanti.

Sama-sama kuliah di Bandung, Kugy dan Keenan mengambil jurusan yang berbeda yaitu Sastra dan Ekonomi dan bersahabat erat dengan pasangan Noni dan Eko yang juga sepupu Keenan. Diam-diam keduanya saling mencintai walau Kugy telah menjalin hubungan dengan Ojos dan Keenan lebih memilih mundur. Tahun demi tahun berlalu, Keenan yang bertengkar dengan ayahnya memilih lari ke Bali dan menekuni seni lukis di bawah arahan Wayan dan didukung oleh keponakannya Luhde. Kugy yang magang di advertising milik Remi mulai menunjukkan talentanya dan menarik perhatian atasannya itu. Akankah mereka berjumpa lagi pada waktu dan kesempatan yang lebih tepat?
 
Kekhawatiran yang muncul di kalangan moviegoers sejak awal adalah menemukan cast yang tepat. Kontroversi sempat terjadi ketika diputuskan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken berperan sebagai Kugy dan Keenan. Melihat aksi mereka selama nyaris dua jam, tampaknya saya harus setuju dan tidak setuju. Chemistry keduanya agak terasa dipaksakan dan masing-masing cukup sulit untuk keluar dari peran stereotype sebelumnya. Namun jika harus mengapresiasi, Adipati menunjukkan usaha yang lebih dalam menginterpretasikan karakter Keenan yang harus jatuh bangun mengejar mimpinya. Sedangkan Maudy masih kurang dewasa dalam menjiwai karakter Kugy yang cerdas tomboy dan memiliki dunianya sendiri.

Dari jajaran pendukung, Sylvia dan Fauzan berulang kali sukses mencuri perhatian baik sebagai pasangan ataupun sahabat kawan-kawan mereka. Coba lihat adegan ijab kabul yang super kocak itu. Lain lagi Reza Rahadian yang berhasil memerankan Remi dengan kreatif dan dewasa tanpa harus kehilangan imej cool. Penampilan menjanjikan dibawakan pendatang baru Elyzia sebagai gadis Bali yang lemah lembut dan pengertian. Jangan lupakan kontribusi nama-nama senior macam Tio Pakusadewo, August Melasz dll.

Sutradara Hanung sudah berupaya keras mempertahankan momen-momen penting yang amat berpengaruh dalam perjalanan hidup Kugy dan Keenan tetapi proses editing yang kurang mulus karena keterbatasan durasi memang terkadang merenggut sebagian intisarinya. Yang tersisa adalah kumpulan potongan mozaik mengenai reaksi campur aduk akan perasaan yang tak dapat terungkapkan mulai dari marah, kecewa, putus asa dsb. Kesemua konflik tersebut berjalan linier melewati lompatan waktu yang kerapkali tak terukur kadar dan porsinya secara utuh.

Separuh pertama film terbilang sibuk bertutur, sesekali meninggalkan penonton yang masih berusaha mencerna atau pada kesempatan lain malah berlama-lama mendramatisir ini itunya. Namun percayalah, Hanung cukup kompeten menyatukan semua percabangan sehingga tontonan ini terkesan kian menyenangkan seiring berjalannya waktu. Salah satu rekan saya menginformasikan bahwa bagian pertama ini ‘digantungkan’ setelah tiga perempat isi novelnya diceritakan. Mudah-mudahan bagian keduanya kelak dapat lebih fokus pada perasaan Kugy dan Keenan secara personal walau harus mengecewakan orang-orang di sekitar mereka.
 
Perahu Kertas Part 1 ini mungkin akan menuai review kontradiktif, tak disukai penggemar novelnya tapi disukai penonton awam yang tidak membaca novelnya. Selalu ada dua sisi yang berseberangan. Argumen bahwa teenlit intelek bercitarasa dewasa bertransformasi menjadi roman picisan bercitarasa remaja memang tampaknya sulit dihindari. Satu yang pasti, itikad baik sudah dilakukan filmmakers dalam mengembalikan genre drama romantis lokal ke jalur yang variatif dan menyegarkan, tak melulu terjebak pada premis yang itu-itu saja. Siap untuk memasuki misteri keseimbangan dunia Kugy dan Keenan yang mesti bersua di tengah situasi kemustahilan untuk bersama? 

Durasi:
112 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Kamis, 09 Februari 2012

MALAIKAT TANPA SAYAP : Cinta Lepas Situasi Donor Organ


Quotes:
Vino: Embun tak perlu warna untuk bisa bikin daun jatuh cinta.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 7 Februari 2012.

Cast:
Maudy Ayunda sebagai Mura
Adipati Dolken sebagai Vino
Surya Saputra sebagai Ayah Vino
Ikang Fawzi sebagai Ayah Mura
Kinaryosih sebagai Ibu Vino
Agus Kuncoro sebagai Calo
Geccha Qheagaveta sebagai Wina
Reza Pahlevi

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Rako Prijanto yang tahun lalu menelurkan Perempuan-Perempuan Liar.

W For Words:
Lagu Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu pernah membahana di radio-radio tanah air pada medio 2008. Kini Starvision Plus menggaet penulis skrip Anggoro Saronto untuk menjadikan lagu tersebut inspirasi dalam menulis skrip yang juga berkisah tentang kegetiran hidup tanpa kasih sayang dan masa depan itu.
Nasib sial menimpa kakak beradik Vino dan Wina setelah ayah mereka Amir ditipu oleh rekan bisnisnya hingga berpindah ke rumah kontrakan sekaligus ditinggal ibunya Mirna. Wina yang mengalami kecelakaan membutuhkan transfusi darah golongan A negatif dari Vino. Disitulah Vino ditawarkan oleh Calo untuk mendonorkan organ bagian dalamnya demi sejumlah besar uang. Awalnya Vino menyetujui demi membantu perekonomian keluarga tetapi setelah mengenal Mura di rumah sakit, ia menyesali keputusannya. Akankah ada keajaiban yang tidak merenggut kebahagiaan dari hari-hari “terakhir” mereka?

Sutradara Rako pernah menghasilkan dramaturgi indah nan puitis semacam Ungu Violet di masa lampau. Kali ini ia berupaya mengulang kembali kinerjanya itu, mudah-mudahan tidak sekadar bernostalgia. Terbukti Rako mampu bertutur runut menyibak lembar demi lembar kehidupan Vino dan Mura yang penuh kepahitan lengkap dengan pertukaran dialog yang menggigit di antara pemainnya sambil sesekali didukung dengan bahasa gambar yang menawan.
Adipati Dolken dan Maudy Ayunda berbagi ikatan emosional yang cukup dalam sebagai pasangan remaja disini. Lihat bagaimana keduanya terlihat saling mengisi di tengah harapan hidup yang semakin menipis mampu mengundang simpati. Masuknya karakter-karakter pendukung juga efektif dalam memperkuat pemahaman penonton akan tokoh Vino dan Mura secara utuh. Agus Kuncoro seperti biasa cukup menggigit walaupun porsinya tidak dominan. Tampaknya peran ayah menjadi “makanan” yang sulit dihindari oleh Surya Saputra belakangan ini.

Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

Durasi:
104 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Senin, 22 Agustus 2011

TENDANGAN DARI LANGIT : Mimpi Sepakbola Realitas Pengharapan

Quotes:
Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri! Kalo di kandang lawan? Mandul!!


Storyline:
Wahyu yang masih duduk di bangku SMU memiliki bakat luar biasa dalam sepakbola. Itulah sebabnya ia memiliki cita-cita untuk bermain dalam tim nasional Indonesia walau hanya berdomisili di Desa Langitan di lereng gunung Bromo bersama ayah ibunya yang hidup sederhana itu. Pak Lik Hasan kerapkali menawarkan sejumlah bayaran bagi Wahyu untuk memperkuat suatu tim sepakbola. Tidak sulit bagi Wahyu untuk meraih kemenangan dan mendapat sejumlah uang untuk dibelikan kuda bagi ayahnya Pak Darto. Sayang niat Wahyu untuk maju ditentang habis-habisan oleh sang ayah yang menganggap pesepakbola Indonesia tidak memiliki masa depan. Dengan dukungan teman-temannya Putro dan Purnomo serta gadis yang disukainya Indah, Wahyu nekad mengikuti try out Persema di bawah bimbingan Coach Timo. Akankah keberhasilan menghinggapi Wahyu pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sinemart Pictures dimana gala premierenya dilangsungkan di Gandaria XXI pada tanggal 22 Agustus 2011.

Cast:
Yosie Kristanto sebagai Wahyu
Maudy Ayunda sebagai Indah
Giorgino Abraham sebagai Timo
Jordi Onsu sebagai Putro
Joshua Suherman sebagai Purnomo
Agus Kuncoro sebagai Pak Lik Hasan
Sujiwo Tejo sebagai Pak Darto
Natasha sebagai Melly
Irfan Bachdim
Kim Kurniawan
Mathias Ibo

Director:
Merupakan film ke-16 Hanung Bramantyo sekaligus pertama yang bertemakan olahraga.

Comment:
Tema olahraga memang tak sering dilirik sineas tanah air dalam membesut film-filmnya. Beberapa judul yang sudah edar pun cenderung bermain “aman” dengan segmentasi anak-anak. Hasilnya pun harus diakui lebih baik dibandingkan dengan yang menyasar penonton dewasa. Lalu bagaimana posisi film ini? Tentunya nama Hanung Bramantyo sudah menjadi jaminan kualitas itu sendiri.
Penulis skrip Fajar Nugros dengan cerdik mengambil sudut pandang seorang remaja SMU sehingga baik anak-anak maupun orang dewasa sekalipun bisa menikmati film ini. Tokoh Wahyu seakan menjadi pembatas antara dua jendela, satu mengetengahkan mimpinya menjadi pesepakbola handal negeri ini, sedangkan satu lagi menyorot kehidupan cintanya terhadap orang-orang di sekitarnya. Dua sisi yang sukses bersinergi satu sama lain dalam menghadirkan jalinan kisah yang teramat menarik.
Yosie bermain dengan cemerlang. Sosok Wahyu yang tinggi kurus berkulit hitam dan tidak pandai berbahasa Inggris ini menegaskan konsep pemuda ndeso yang sederhana. Sebaliknya kemampuan olah kakinya diperlihatkan dengan mumpuni mulai dari menggiring bola hingga menjebol gawang. Simpati anda niscaya timbul melihat senyum tulus yang selalu terpancar dari wajahnya, belum lagi perangai santun yang selalu diperlihatkannya.

Dari jajaran senior, Sujiwo seperti biasa menyuguhkan akting luar biasa. Kekerasan hatinya di awal film mampu mengangkat konflik secara drastis walaupun tidak lantas berlarut-larut menghadirkan drama berlebihan. Agus Kuncoro juga melanjutkan penjiwaan gemilangnya lewat tokoh Pak Lik Hasan yang abu-abu itu, disebut abu-abu karena kita semua tahu motifnya disini. Menarik melihat Giorgino dan Mathias yang memiliki rupa bule tapi lancar berbahasa Indonesia sebagai Coach dan Fisioterapis.
Dari generasi muda, Joshua yang seakan hilang setelah ketenaran masa kecilnya kembali lagi sebagai sahabat pemantun. Bertandem dengan Jordi yang tidak kalah kocaknya sebagai kawan berapi-api. Maudy juga memberikan nyawa yang pas dalam karakter Indah, love interest Wahyu. Keduanya menampilkan cinta SMU yang polos manis tanpa romantisme norak samasekali. Sebagai cameo, Irfan dan Kurniawan bermain sebagai dirinya sendiri meski nyaris tanpa dialog.
Sutradara Hanung memang tidak berusaha memberi wacana panjang lebar mengenai sepakbola dan segala peraturannya disini. Yang terpenting justru bagaimana membuat para aktornya terlihat meyakinkan bermain bola di lapangan hijau tersebut. Desa Langitan yang berpadu dengan pesona Bromo itu sendiri rasanya sudah mampu menjadi magnet yang tidak biasa bagi penonton. Lihat saja scene dimana Wahyu berlatih keras dengan bola kulit usangnya. Amazing!
Tendangan Dari Langit selayaknya sebuah masakan berbumbu komplit, anda akan menemukan berbagai rasa di dalamnya. Scoring musik garapan Tya Subiakto dan lantunan suara Kotak juga terasa megah dalam melebur dinamis ke dalam bangunan cerita. Perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan tulus memang dibutuhkan untuk mengejar pilihan dan tujuan hidup anda. Rasakanlah dukungan perhatian, kasih sayang, kesetiakawanan dari orang-orang terdekat anda di sepanjang perjalanan tersebut. Film ini berhasil menjadi salah contoh konkrit bagaimana sebuah mimpi harus diwujudkan secara benar. Very recommended!

Durasi:
110 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 Februari 2011

RUMAH TANPA JENDELA : Sudut Pandang Anak Miskin dan Terbelakang

Quotes:
Rara mau punya rumah yang ada jendelanya, Mak!

Storyline:
Rara mendambakan jendela di rumahnya yang kumuh lewat gambar-gambarnya. Sayangnya ayahnya Raga hanya berjualan ikan hias keliling disamping harus membiayai si Mbok yang tinggal bersama mereka. Lewat satu kejadian, Rara berkenalan dengan Aldo yang memiliki keterbelakangan. Karena hal tersebut, Aldo sedikit merasa terasing di tengah keluarganya sendiri yang terlihat serba sempurna. Beruntung ia masih memiliki Nenek Aisyah yang menyayanginya. Suatu musibah menghanguskan rumah Rara dan menewaskan Raga. Dalam kalut, Rara ditampung sementara di rumah Aldo. Aldo sendiri semakin merasa terjepit saat kakaknya dan ibunya kerapkali memojokkan dirinya tanpa sengaja. Akankah persahabatan tulus di antara mereka dapat menjadi jalan keluar bagi masing-masing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh PT. Smaradhana Pro and Sanggar Ananda yang bekerjasama pula untuk kegiatan donasi yang ditujukan bagi yayasan yatim piatu.

Cast:
Emir Mahira sebagai Aldo
Dwi Tasya sebagai Rara
Aty Kanser sebagai Nenek Aisyah
Alicia Djohar sebagai Nyonya Ratna
Aswin Fabanyo sebagai Pak Syahri
Maudy Ayunda sebagai Andini
Varissa Camelia sebagai Ibu Alya
Ingrid Widjanarko sebagai Mbok

Director:
Merupakan kerjasama kedua Aditya Gumay dengan penerbit Asma Nadia setelah Emak Ingin Naik Haji (2009) yang lalu.

Comment:
Kegemilangan Emak Ingin Naik Haji menyajikan sebuah kisah yang membumi dan menyentuh membuat saya (dan tentunya para penikmat film lokal lainnya) sedikit menaruh harapan yang sama akan film ini. Namun kenyataannya tidak cukup mendekati. Jika kelas Emak sejajar dengan Ayat-Ayat Cinta, maka film ini diibaratkan Ketika Cinta Bertasbih yang sekelas di bawahnya meski sama-sama masih dapat dinikmati sebagai sebuah tontonan yang bermakna.
Satu hal yang kurang maksimal adalah fokus cerita. Entah mengapa saya lebih merasa ini adalah sinetron miniseri 10 episode yang dipadatkan menjadi sebuah film layar lebar. Itulah sebabnya konflik “kemiskinan” Rara di prolog film yang seharusnya menjadi benang merah cerita sesuai judul film ternyata menguap begitu saja setelah setengah jam berlalu. Setelah itu kisah bergulir seakan benar-benar baru dengan konflik “keterbelakangan” Aldo yang nyaris menyita dua pertiga durasinya. Memang disini masih ada Rara tetapi relevansi cerita patut dipertanyakan.
Konsep drama musikal anak-anak yang sempat diusung oleh sutradara Aditya juga masih terkesan tanggung, anak-anak itu hanya perform dalam 2-3 lagu saja dalam beberapa scene yang terkesan sedikit dipaksakan. Sutradara Aditya terkadang seperti kesulitan membagi rata porsi per karakternya. Apalagi cukup banyak dialog tempelan dari karakter-karakter numpang lewat yang dirasa tidak perlu.
Dari segi akting, Emir terlihat meyakinkan sebagai anak “aneh”, menarik melihatnya berimprovisasi disini. Sedangkan Tasya sudah cukup maksimal meski kegetirannya tidak sampai jatuh dalam kecengengan semu. Peran yang dimainkan Aty dan Ingrid sepertinya terbalik, jika anda tahu apa yang saya maksud. Raffi telah berusaha “tampil” sebagai kepala keluarga disini tapi perannya memang terbatas. Apalagi debut Yuni yang cuma 2-3 scene disini rasanya tidak akan berarti apa-apa.
Terlepas dari berbagai kekurangannya, Rumah Tanpa Jendela masih tetap harus diapresiasi karena sudah berusaha maksimal menampilkan isu kemiskinan dan keterbelakangan dari sudut pandang anak-anak. Beberapa momen diyakini cukup menyentuh untuk membangkitkan rasa haru-biru anda terlebih karenapermainan sinematografi dan musik latar yang cukup dominan di sepanjang durasi. Sebuah tontonan down-to-earth persembahan Asma Nadia Grup yang dijejali oleh nilai-nilai keluarga dan persahabatan sekaligus.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: