XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 18 Juli 2012

SILENT HOUSE : Dark Ride One Woman Show

Tagline:
Experience 88 minutes of real fear captured in real time.

Nice-to-know:
Keseluruhan film seakan disyut secara kontinuitas tanpa terputus. Sesungguhnya dilakukan setidaknya 10 menit per segmen sebelum diedit secara halus untuk menyamarkannya.

Cast:
Elizabeth Olsen sebagai Sarah
Adam Trese sebagai John
Eric Sheffer Stevens sebagai Peter
Julia Taylor Ross sebagai Sophia
Adam Barnett sebagai Stalking Man
Haley Murphy sebagai Little Girl

Director:
Dalam menggarap film ketiganya ini, Chris Kentis menggandeng sang istri, Laura Lau yang memulai debutnya.

W For Words:
Sebagian besar dari anda mungkin tidak pernah mendengar film Uruguay yang diinspirasi dari kejadian nyata berjudul La Casa Muda di tahun 2010 karya sutradara Gustavo Hernandez. Jangan khawatir karena Chris Kentis yang terkenal lewat Open Water (2003) memutuskan untuk meremakenya dengan mengandalkan gadis berusia 23 tahun, Elizabeth Olsen yang lebih populer sebagai saudari termuda Olsen twins yaitu Mary Kate dan Ashley. Yet, she already proved that her last role in Martha Marcy May Marlene (2011) was no luck.

Sarah bersama ayahnya John dan pamannya Peter sepakat membereskan rumah peristirahatan keluarga yang rencananya akan dijual dengan tampilan yang lebih menarik. Listrik yang mati membuat mereka harus mengandalkan lampu portable untuk menjelajahi setiap ruangan. Sarah mulai mencurigai adanya penyusup misterius yang berujung pada kondisi dimana ayahnya tidak sadarkan diri di lantai atas. Sayangnya Peter tidak begitu saja percaya tanpa berinisiatif mencari bantuan dari luar rumah yang terisolasi itu sehingga Sarah harus berjuang sendiri mengungkap misteri yang terjadi di tempat itu.

Penghargaan pantas dilayangkan bagi Olsen yang mampu menjaga kualita aktingnya di sepanjang film yang amat dominan. Yes, it’s a one-woman-show! Ekspresi ketakutan sekaligus kebingungan Sarah diimbanginya dengan sisi emosional yang stabil mengikuti pergeseran konflik. Ia tidak mengumbar pekikan histeris yang mengganggu telinga tapi disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Anda tidak akan bosan menyaksikannya hilir mudik mengatasi klastrofobia mencekam, melainkan penasaran yang berujung pada simpati akan nasib tokoh yang dimainkannya itu. Trese dan Sheffer Stevens memang tak banyak mendapat kesempatan screen time tetapi sudah cukup memenuhi standar yang diinginkan.

Sutradara Kentis dan istrinya Lau secara cerdas memanfaatkan ruang sempit dan pencahayaan terbatas untuk menipu teknis kamera yang seakan berjalan linier dari menit ke menit tanpa terputus. Penggunaan berbagai sudut pandang, mostly from Sarah’s POV, membuat penonton seakan diajak menelusuri setiap sudut rumah tersebut. Kejutan demi kejutan disiapkan sehingga anda dibiarkan terus menerka-nerka gambar keseluruhan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh filmmakers. Momen terbaik jelas saat Sarah berada dalam kegelapan pekat dan hanya mengandalkan kamera Polaroid untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Creepy!

Silent House adalah sebuah film dimana semakin sedikit petunjuk maka semakin mungkin anda menikmatinya. Sebuah presentasi yang dilakukan tanpa mengekspos aksi kekerasan ataupun momok ketakutan yang biasa disuguhkan film horor thriller found-footage. Namun lebih pada kegelapan yang mengerikan sehingga nalar anda dibiarkan bermain liar tanpa batas. Overall, the theme reminds me of our own, Joko Anwar’s Modus Anomali with similar one main character is seeking for an answer. Well, the conclusion itself might be as confusing as Kentis-Lau wanted to end but surely this is type of movie that either you love it or hate it.

Durasi:
86 menit

U.S. Box Office:
$12,555,230 till April 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:






Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 16 Juli 2012

COCKTAIL : Sip and Feel the Sweetest Triangle Tangle

Quotes:
Veronica: Me, him and you. Awesome threesome, like a family..

Nice-to-know:
Awalnya Deepika Padukone diberi pilihan untuk memerankan Meera atau Veronica. Ia milih Veeru karena karakter Meera mirip dengan apa yang pernah dimainkannya dalam Love Aaj Kal. Lantas Diana Penty kebagian peran Meera dimana dalam dunia modeling, Diana juga menggantikan Deepika sebagai duta Maybelline.

Cast:
Deepika Padukone sebagai Veronica D'Costa
Saif Ali Khan sebagai Gautham
Diana Penty sebagai Meera
Randeep Hooda sebagai Kunal
Dimple Kapadia sebagai Ibu Gautham
Boman Irani sebagai Paman Gautham

Director:
Merupakan film kedua bagi Homi Adajania setelah Being Cyrus (2005).

W For Words:
Trailer resmi film ini mendapatkan respon yang luar biasa yaitu diakses via Youtube lebih dari satu juta kali cuma dalam jangka waktu 3 hari. Saya mungkin termasuk yang beruntung (atau tidak) dengan melangkahi trailernya sehingga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap produksi kolaborasi Cocktail Film, Eros International, Illuminati Films ini. Bagi anda yang merindukan kisah cinta segitiga modern tidak boleh melewatkan yang satu ini, terlebih melihat nama Saif Ali Khan dan Deepika Padukone di jajaran castnya.

Veronica menjalani hidup jetset dimana fashion, pria dan pesta adalah makanan sehari-harinya. Suatu saat ia berjumpa Meera yang baru tiba di London tetapi dicampakkan suaminya Kunal. Keduanya dengan cepat menjadi akrab dimana Veronica menawarkan Meera tinggal bersamanya. Kemudian datanglah playboy flamboyan, Gautham yang sepakat menjalin hubungan tanpa ikatan dengan Veronica.  Masalah timbul ketika ibu Gautham yang kolot tiba-tiba hadir dan menyangka Meera sebagai calon istri Gautham. Kesalahpahaman yang berbuntut cinta segitiga itu pun semakin rumit.

Penulis skrip kaliber Imtiaz Ali memulai paruh pertama dengan gemilang. Introduksi terhadap tiga tokoh utama mengalir lancar lewat bumbu humor yang menggigit. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tinggal bersama di bawah satu atap, berbagi persahabatan sekaligus kesenangan hidup. Perpindahan setting lokasi ke Capetown menciptakan turning point yang manis dimana romantika yang awalnya dikesampingkan ketiganya tiba-tiba menjadi menu utama. Easy-goers Gautham menyadari perasaan lain yang tumbuh pada Meera yang jauh berbeda dari gadis-gadis yang dikenalnya. Sedangkan Veronica mendadak bosan dengan rutinitas kosongnya dan ingin membina rumahtangga bersama Gautham.

Sayangnya paruh kedua mengalami degradasi yang cukup signifikan. Alur yang melambat terus mengiringi dramatisasi yang sebenarnya tak sulit diterka. Meera yang memilih pergi agar tidak mengecewakan sahabatnya, Veronica yang mengubah diri habis-habisan demi memenangkan hati pria pujaannya, Gautham yang tidak ingin membohongi kata hatinya sendiri supaya kelak bahagia dengan gadis yang dicintainya. Beruntung sutradara Ajania meramu semua bahan tersebut dalam komposisi yang tepat sambil menjaga sisi emosional tetap berada pada jalurnya. Sinematografer Anil Mehta berhasil memaksimalkan London sebagai latar belakang yang menakjubkan.

Performa aktor-aktris disini memang kelebihan utama. Ali Khan walau tidak muda lagi mampu menjiwai tokoh Gautham di usia 30an dengan brilian. Ekspresi dan bahasa tubuhnya komikalnya tepat dengan timing sehingga mampu memancing tawa secara natural termasuk satu adegan berpakaian wanita! nd flair. Padukone juga memukau sebagai independent bitch Veronica yang sebetulnya rapuh dan kesepian di balik penampilannya yang selalu hot itu. Pendatang baru Penty patut diacungi jempol atas interpretasi alamiah Meera yang paling bersahaja dan berkarakter itu sehingga mudah mengambil simpati penonton.

Cocktail memang menawarkan romansa urban “instan” yang berefek pada kelangsungan jangka panjang. Rasanya semua orang setuju pada konsep jodoh itu satu untuk selamanya. Oleh karena itu, pilihan harus dibuat dari berbagai pertimbangan hati dan akal sehat. Penampilan prima Saif Ali-Deepika-Diana dalam berakting dan berkoreografi dalam suguhan musik yang upbeat dan ear-catchy jelas merupakan kenikmatan tersendiri, layaknya campuran minuman beralkohol yang langsung terasa begitu anda menyisipnya. Get drunk and you wouldn’t even care how bad it might feels like in the end!

Durasi:
146 menit

Asian Box Office:
Rs 36 crore in opening week in India

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 15 Juli 2012

ICE AGE 4 : CONTINENTAL DRIFT Familiar Adventure Forgetable Additional Series

Quotes:
Peaches: So tell me, when exactly will I be allowed to hang out with boys?
Manny: When I'm dead. Plus three days, just to make sure I'm dead.

Nice-to-know:
Awalnya film berjudul Ice Age: Th4w dimana bercerita seputar Manny, Sid, Diego, Ellie dan Scrat yang membeku sebelum dicairkan di museum masa kini.

Cast:
Ray Romano sebagai Manny
Seann William Scott sebagai Crash
Queen Latifah sebagai Ellie
Denis Leary sebagai Diego
John Leguizamo sebagai Sid
Peter Dinklage sebagai Captain Gutt
Wanda Sykes sebagai Granny
Jennifer Lopez sebagai Shira
Keke Palmer sebagai Peaches
Josh Gad sebagai Louis


Director:
Mike Thurmeier melanjutkan karya penyutradaraannya di installment ketiga dengan menggandeng debutan Steve Martino.

W For Words:
Saya merupakan salah satu penggemar berat franchise animasi Ice Age di samping Shrek dan Toy Story. Ketiga seri sebelumnya cenderung memuaskan meski kekhawatiran sempat muncul dalam benak jika installment keempatnya ini akan kehabisan energi. Michael Berg yang juga menulis seri 1 dan 3 nya kali ini kembali menggandeng Jason Fuchs yang lebih dikenal sebagai aktor televisi untuk menulis skrip bersama. Jangan ketinggalan film pendek The Simpsons yang berjudul “The Longest Daycare” sebagai menu pembukanya yang amat memikat itu.

Dunia seakan terbelah, memecah benua menjadi dataran-dataran terpisah. Manny, Diego dan Sid harus bertualang sekali lagi menggunakan potongan es sebagai kapal, mencari jalan kembali pada keluarga masing-masing. Perjalanan yang semula mulus itu lantas dihempas badai sebelum menghadapkan mereka pada kawanan bajak laut yang diketuai oleh Kapten Gutt sebagai pemilik ambisi penguasa lautan. Sid yang didampingi neneknya, Diego yang jatuh cinta pada Shira harus mendukung Manny bertemu dengan Ellie dan putri keduanya yang beranjak remaja, Peaches.

Kemunculan Scrat seperti biasa dinantikan sebagai penyeimbang yang fresh. Adegan pembuka yang memperlihatkannya mengacaukan “bumi” terbilang hilarious meski harus mengabaikan korelasi waktu itu sendiri, apakah benar ia dan Manny cs berada pada jaman yang sama? I don’t think so. Adegan penutup yang mempertontonkan keserakahannya akan biji kenari merupakan pesan moral yang patut diingat baik anak-anak maupun orang dewasa sekalipun. Yes, Scratlantis is one super idea, not to giving away a lot of spoilers here.

Terus terang petualangan yang dilalui Manny, Diego dan Sid tidaklah sekuat pada seri sebelumnya. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kemiripan elemen dengan film yang sudah-sudah, sebut saja Kapten Gutt dan Sirene yang mengingatkan anda pada Blackbeard dan Syrena dalam franchise Pirates of the Caribbean. Tidak dijelaskan apa yang melatarbelakangi aksi bajak laut yang tiba-tiba muncul tersebut. Romantika Diego dan Shira juga tidak tergali dengan baik, tidak seperti Louis dan Peaches yang mengajarkan bahwa perbedaan tak sewajarnya mengganggu persahabatan.

Animasinya sendiri masih tergolong berisi dan penuh warna sebagai penyokong karakter-karakter baru maupun lama yang variatif itu. Efek 3D nya lumayan mendukung walau tidak sampai megah sekali. Adegan badai dan tornado di laut serta pertempuran di akhir yang melibatkan si paus Precious mampu mencuri perhatian anda yang mungkin sudah mulai bosan dengan plot yang itu-itu saja tanpa kejutan berarti. Sayangnya tidak dibarengi oleh penerapan humor menggigit yang masih labil, dalam arti terkadang berhasil, terkadang tidak.

Ice Age 4 : Continental Drift lebih terasa sebagai pelengkap saja terhadap keseluruhan seri tanpa mampu menandingi kualitas tiga episode sebelumnya yang benar-benar mengikatkan penonton pada karakter-karakternya tersebut. Tidak ada tikungan yang berarti untuk membangkitkan excitement anda yang terjaga di level standar. It’s fairly plain for adults but still enjoyable for kids despite its fun ride for such new adventure. Film ini jelas hanya diperuntukkan bagi anda yang kangen dengan Manny cs dan sekadar ingin bernostalgia dengan kondisi jaman es yang imajinatif tersebut. Well, I do hope this will be the last installment from Fox before gets ugly.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$46,000,000 in opening week mid July 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 14 Juli 2012

I MISS YOU : When Overlong Move-On Has Fear To Face


Quotes:
Bee: Jika kau hanya ingat hal yang membahagiakan, kau tak akan pernah bisa melepas kesedihan.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Rak Chan Yaa Khid Tueng Chang rilis di Thailand pada tanggal 31 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Jesdaporn Pholdee sebagai Dr. Thana
Apinya Sakuljaroensuk sebagai Bee
Natthaweeranuch Thongmee sebagai Dr. Nok
Inthira Charoenpura

Director:
Monthon Arayangkoon sebelumnya menangani Big Boy (2010).

W For Words:
Thailand pernah dikenal sebagai produsen horor Asia berkualitas tapi belakangan semakin tenggelam oleh pakem komedi romantik yang sedang laris-larisnya beberapa tahun terakhir. Tahun ini sutradara Monthon Arayangkoon kembali dengan genre yang membesarkan namanya. Premisnya tidak asing lagi yaitu cinta segitiga antara satu pria dan dua wanita dimana salah satunya adalah hantu. Dua bintang utamanya sudah tidak asing lagi yaitu Jesdaporn yang tampan dan Apinya yang cantik. Kombinasi yang menarik bukan?

Staf rumah sakit Bee mengetahui rahasia gelap Dr. Thana. Konon 2 tahun lalu, atasannya itu berpacaran dengan sesama dokter dimana mereka akan menikah sebelum kecelakaan maut merenggut nyawa Nok. Kesedihan tak bisa dihapus begitu saja sehingga Tana selalu menganggap Nok masih ada di sekitarnya. Bee sepakat membantu Tana untuk menata hidupnya kembali atas dorongan orang-orang terdekatnya. Namun arwah Nok tidak senang dan menghantui semua wanita yang berusaha mendekati Tana. Bee pun dihadapkan pada pilihan sekaligus mencari tahu rahasia gelap keduanya di masa lalu.

Lagu cinta cengeng dari Boyd Koysibong menjadi latar belakang film yang repetitif dari awal sampai akhir, layaknya tape rusak yang lama-kelamaan membuat anda jengah. Sutradara Arayangkoon berupaya membangun konstruksi cerita dalam tempo lambat yang membosankan. Untungnya adegan menakutkan yang dirancang secara khusus di beberapa bagian masih mampu mencekam suasana.Sebagian misteri aneh yang tersimpan untuk kemudian dibuka satu persatu diyakini dapat membuat anda terjaga sampai akhir. Saya baru tahu ternyata di negara asalnya sendiri terdapat tiga alternatif ending yang berbeda. Wow!

Sejak menit awal, penonton diajak bersimpati pada kesetiaan Dr. Thana yang tampak sulit melanjutkan hidupnya. Karangan bunga yang ia letakkan di TKP setiap minggunya, segelas kopi tambahan yang ia sediakan setiap break hingga poster raksasa yang ia pajang di dinding rumahnya. Anda dibuat berpikir sedalam apa perasaannya terhadap Dr. Nok, benarkah hatinya tak akan pernah tergantikan? Aktor Jesdaporn menjaga emosinya dengan baik walaupun kebimbangannya cukup mengesalkan kita. Benarkah ia hanya korban lugu dari sebuah tragedi?


Sebaliknya Bee bukanlah tipe gadis yang suka mencuri kesempatan begitu saja. Kesukaannya pada Dr. Thana diwujudkan sebagai seorang teman dan pendengar setia. Satu demi satu kenangan yang terkuak sudah cukup menjadi pertimbangannya dalam mengambil keputusan harus maju atau tidak. Aktris Apinya menggambarkan karakternya dengan tegar dan analitis walau mesti digempur kebingungan dan kengerian yang sulit dijelaskan. Penampilan khusus aktris Nang Nak, Inthira Charoenpura lumayan mencuri perhatian sebagai maneater bitch yang selalu membenarkan setiap tindakannya.

I Miss You adalah satu dari sekian horor romantik yang telaten menjabarkan detil-detilnya mulai dari yang paling penting sampai yang tidak penting. Masalahnya apakah penonton cukup sabar menanti dalam durasi dua jam lebih? Saya pribadi sempat berkhayal memegang remote control di dalam bioskop dan segera menekan tombol fast-forward untuk segera mengakhirinya. Twist ending cerdas mengejutkan yang saya (dan sebagian besar penonton) harapkan muncul di ending pun tidak terjadi, cuma ambiguitas yang berujung pada kesimpulan pribadi anda. This movie is simply about a man who wants to move on but not brave enough to face his past guilty with nice touchs of horror here and there.

Durasi:
123 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent


Kamis, 12 Juli 2012

18++ : Esai Cinta dan Ujian Identitas Nayato


Quotes:
Scarlet : Loe boleh bikin gua patah hati tapi loe gak usah kasihani gua.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 10 Juli 2012.

Cast:
Adipati Dolken sebagai Kara
Kimberly Ryder sebagai Mila
Gege Elisa sebagai Scarlet
Roy Marten sebagai Opa Kara
Keke Soeryo Renaldi sebagai Ibu Mila
Maxime sebagai Pascal
Jordi Onsu sebagai Ruben
Rozi Mahally sebagai Martin
Reska Tania sebagai Sasi

Director:
Merupakan film ketujuh di tahun 2012 bagi Nayato Fio Nuala.

W For Words:
Masih ingat film 18+ : True Love Never Dies yang kontroversial dengan dialog vulgarnya itu yang tak perlu saya sebutkan lagi? Hasil box office yang dianggap cukup baik membuat rumah produksi PT. Kharisma Starvision Plus berinisiatif memproduksi sekuelnya masih dari tangan dingin seorang Nayato Fio Nuala. Satu-satunya cast yang kembali disini adalah Adipati Dolken (sudah jauh lebih ternama sekarang), bukan dengan karakter Topan yang telah menemui ajalnya di penghujung prekuel tersebut tetapi Kara yang harus menerima perubahan status sosialnya.

Ulang tahun ke-18 dihabiskan Kara dengan hura-hura bersama pacarnya Scarlet dan teman-temannya Pascal, Ruben, Martin. Saat itulah Opa Kara, Ben memutuskan supply materi melimpah yang biasa diterimanya. Kara yang malu memilih pergi dari kehidupan jetsetnya untuk menyepi di rumah sederhana milik Mila yang menyelamatkannya di terminal bis. Keadaan memaksa Kara untuk bekerja serabutan, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membalas budi Mila, ibunya dan adiknya Sasi. Cinta mulai tumbuh di antara mereka tepat ketika teman-teman Kara kembali. 

Terus terang saya cukup menikmati satu jam pertama film ini. Tipikal Nayato dengan premis dan eksekusi yang basi tidak terlihat disini. Beruntung sekali skrip karya Cassandra Massardi setidaknya dibiarkan “utuh” berbicara. Pendewasaan tokoh Kara yang melakoni hidup senang menjadi susah lewat serangkaian proses memang terkesan terlalu instan tapi masih masuk akal dengan sekuensi adegannya. Akting Adipati yang lumayan apik setidaknya mampu membuat penonton bersimpati padanya. Interaksinya dengan tokoh-tokoh di sekitarnya juga terbangun dengan baik, apalagi Reska Tania sebagai si kecil Sasi yang manis itu.

Sayangnya tiga puluh menit terakhir kembali dibumbui dengan sebuah penyakit yang menimpa karakter wanita. Kali ini gangguan fungsi hati diderita Mila yang amat mungkin merenggut nyawanya. Predictable, right? Sekecil apapun harapan hidup yang tersisa tetap harus disudahi lengkap dengan dramatisasi terjatuh, bangkit lagi hingga terkulai lemas pada akhirnya tepat di momen ulang tahun. Padahal Kimberly Ryder yang cantik itu sangat terlihat fresh di layar dengan kesenduan yang memikat. Ah mengapa?

Sutradara Nayato masih bermain dengan shot-shot andalannya terutama dunia gemerlap di prolog yang menampilkan kebut-kebutan mobil dan dunia malam diskotik. Namun storytelling yang jauh lebih baik sedikit menimbulkan harapan akan perubahan gaya positif dari karya-karyanya kemudian, layaknya sebuah ujian identitas baginya. Dukungan penata suara Khikmawan Santosa terbilang pas, kontras dengan duet Anto Hoed-Melly Goeslaw yang lagi-lagi menghasilkan satu tembang mendayu-dayu yang meluncur dari bibir merah Kimberly Ryder di sepanjang filmnya.

18++ : Forever Love merupakan sebuah esai cinta yang mengetengahkan banyak topik mulai dari one night stand, cinta segitiga, cinta berjurang status sosial yang biasa terjadi di kalangan remaja belasan tahun. Suguhan drama yang mengandalkan decent chemistry dari Adipati dan Kimberly yang masih dapat dinikmati terlepas dari romansa klise berujung penyakit mematikan. Angka 18 itu sendiri diperlakukan sebagai simbolik kedewasaan seseorang yang ditandari dengan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab atas kesediaan menjalani hidup kemandirian.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 11 Juli 2012

DETACHMENT : Portrait Of Educational Dysfunction That Slaps Hard


Quotes:
Henry Barthes: Y'know it's funny, I spend a lot of time trying to not have to deal... to not really commit. I'm a substitute teacher, there's no real responsibility to teach. Your responsibility is to maintain order, make sure nobody kills anybody in your classroom, and then they get to their next period.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Paper Street Films, Appian Way, Kingsgate Films dan di Amerika Serikat rilis dalam format Video On Demand bulan Februari lalu.

Cast:
Adrien Brody sebagai Henry Barthes
Marcia Gay Harden sebagai Principal Carol Dearden
James Caan sebagai Mr. Charles Seaboldt
Christina Hendricks sebagai Ms. Sarah Madison
Lucy Liu sebagai Dr. Doris Parker
Blythe Danner sebagai Ms. Perkins
Sami Gayle sebagai Erica
Betty Kaye sebagai Meredith
Tim Blake Nelson sebagai Mr. Wiatt
William Petersen sebagai Mr. Sarge Kepler
Bryan Cranston sebagai Mr. Dearden

Director:
Merupakan karya ketujuh Tony Kaye setelah Black Water Transit (2009).

W For Words:
Premis cerita mengenai guru pengganti mungkin paling mengingatkan anda pada Dangerous Minds (1995) yang digawangi oleh Michelle Pfeiffer. Kini Adrien Brody, salah satu under-used quality actor, mengambil peran serupa dengan interpretasi yang sedikit berbeda yaitu “anti ikatan”. Penulis skrip debutan Carl Lund melakukan pendekatan realisme yang ekstrim terhadap arti bersekolah sebagai bekal melanjutkan hidup dari sudut pandang siswa-siswi bermasalah, selain kerasnya perjuangan hidup untuk mempertahankan eksistensi bagi orang dewasa sekaligus.

Henry Barthes diutus untuk mengisi kelas ‘neraka’ selama beberapa waktu. Disanalah ia mengenal berbagai pribadi bermasalah termasuk siswi Meredith yang menggemari black art dan sesama pengajar Ms Madison yang sangat kesepian menjalani hari-harinya. Pertemuannya dengan pelacur belia Erica mulai mengubah pandangan Henry untuk setidaknya membuka mata bahwa pertolongannya terhadap orang-orang di sekitar mungkin akan menghapus kenangan masa lalunya yang tidak menyenangkan. Namun seberapa jauh ia dapat bertindak di atas pergulatan batin yang semakin memuncak?
Akting Brody terasa mengagumkan sebagai Henry dimana rasa marah, sedih silih berganti dihadirkan dalam ekspresi minim sekalipun. Kepribadian yang berlapis mulai penuh perhatian hingga ketidakpedulian samasekali jelas terbentuk dari proses panjang sejarah kehidupannya yang berat. Hal yang konon mempengaruhi setiap tindakannya yang tidak mengatasnamakan ikatan sehingga membebaskannya dari masalah apapun yang menghadang. Interaksinya dengan tiga wanita muda yang berbeda memberikan dinamika penuh warna dengan rentang maksimal.

Di luar Brody terdapat jajaran cast yang tak kalah mumpuni. Gay Harden sebagai Kepsek Carol di ujung masa pengabdiannya, Blake Nelson sebagai Mr. Wiatt yang penuh kekhawatiran, William Petersen sebagai Mr. Sarge Kepler yang krisis eksistensi, Lucy Liu sebagai Dr. Doris Parker yang akhirnya mengalami mental breakdown dsb. Dua aktris belia Betty Kaye sebagai Meredith yang butuh fuller figure dan Sami Gayle sebagai Erica yang radikal bermulut tajam juga tak kalah mencengangkan. Namun seberapa baiknya nama-nama tersebut mencuri perhatian lewat adegan masing-masing, curahan fokus film tetap ada pada karakter Henry Barthes.
Sutradara Kaye menuntaskan tugasnya dengan stylish. Nuansa depresif yang tercermin di sepanjang film mampu disiasati dengan selingan grafis animasi dari coretan kapur di atas papan tulis, gaya dokumenter khusus sesi wawancara langsung dengan para guru hingga referensi literatur berupa kutipan “The Stranger” oleh Albert Camus atau “The Fall of the House of Usher” oleh Edgar Allan Poe. Flashback masa lalu juga dimunculkan satu persatu untuk memperkuat kompleksitas pribadi Henry yang seringkali alami delusi dan apatis itu. Scoring music milik The Newton Brothers terasa memprovokasi anda untuk hanyut dalam setiap memorable scenes yang ada disini.

Detachment menyatakan kecemasannya terhadap sistem parental dan edukasi dengan brilian. Bagaimana orangtua yang gagal mendidik menuntut pihak sekolah menggantikan tanggungjawabnya membesarkan seorang “calon” manusia. Bagaimana tenaga pengajar mengatasi tekanan dan beban mental yang teramat berat menghadapi sekelompok murid yang merasa tidak memiliki masa depan. Kelas disfungsi hubungan antar personal di dalamnya secara tak langsung menempeleng anda di wajah dengan keras sekaligus meninggalkan jejak mendalam di atas sanubari meski harus melalui serangkaian potret tingkah laku di luar kontrol yang tak nyaman dilihat. The best psychological haunting drama I’ve ever seen!

Durasi:
97 menit

U.S. Box Office:
$71,177 till April 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 10 Juli 2012

A LITTLE BIT OF HEAVEN : Cancer Weeper That Trying Too Hard To Be Fun

Quotes:
Marley Corbett: Do you mind if I ask you a personal question?
Julian Goldstein: No.
Marley Corbett: Why do you not have a girlfriend?

Nice-to-know:
Dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 4 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Gael García Bernal sebagai Julian Goldstein
Kate Hudson sebagai Marley Corbett
Kathy Bates sebagai Beverly Corbett
Peter Dinklage sebagai Vinnie
Lucy Punch sebagai Sarah Walker
Rosemarie DeWitt sebagai Renee Blair
Whoopi Goldberg sebagai God


Director:
Merupakan feature film kedua bagi Nicole Kassell setelah The Woodsman (2004).

W For Words:
Tampaknya Kate Hudson adalah satu dari sedikit aktris Hollywood yang terus menerus terjebak dalam peranan komedi romantik. Beberapa berkualitas baik, beberapa tidak, tentunya kembali ke masalah selera. Kali ini ia kebagian tokoh Marley Corbett yang menderita kanker, penyakit yang sudah ribuan kali menjadi tema cerita dalam sebuah film. Sah-sah saja selama interpretasi karakternya variatif dan memberikan perspektif baru. Pesan saya, jangan tertipu dengan poster film ini yang terlihat ceria sehingga anda mengharapkan suguhan ringan nan manis antara Hudson dan Gael Garcia Bernal.

Eksekutif periklanan sukses, Marley hidup di New Orleans dengan sedikit kepusingan. Ia tidak mau terikat apalagi memiliki anak. Daya pikatnya sudah cukup membuat pria manapun bertekuk lutut. Sayangnya pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya mendiagnosa Marley mengidap kanker yang mungkin akan merenggut nyawanya. Saat itulah ia bermimpi bertemu Tuhan yang menawarkannya tiga permintaan. Semangat hidup muncul kembali ketika dokter tampan Julian Goldstein yang merawatnya mulai memikat hati. Mampukah Marley memanfaatkan sisa waktunya secara maksimal?

Kekurangan utama jelas terletak pada skrip karya Gren Wells. Elemen drama, romansa, komedi tidak berhasil menyeimbangkan unsur kebahagiaan hingga kesedihan secara konsisten. Beberapa momen memang sudah diciptakan untuk itu tetapi tidak benar-benar menggugah penonton dalam merasakan keterikatan yang sama. Sutradara Kassell sukses menghadirkan esensi feminis lewat karakter Marley yang digambarkan wanita ceria, tegar dan cerdas meskipun dalam keadaan sakit sekalipun. Pergeseran kondisinya tercermin melalui pilihan baju dan warnanya yang semakin pudar, tak melulu ekspresi pucat dengan bahasa tubuh yang semakin lemah.

Hudson lagi-lagi menampilkan kesan happy-go-lucky woman dengan pergeseran cara pandang hidup dari menit awal hingga akhir. Malang, percintaannya dengan Bernal yang berakting datar justru terkesan dipaksakan dengan chemistry yang minim di antara mereka. Apakah penonton mudah dibuat percaya bahwa menizer seperti Marley bisa menyukai Julian tanpa mengindahkan keputusasaannya di penghujung hidup? Interaksi dengan orangtuanya sedikit banyak menguak latar belakang keluarga Marley yang menyebabkan sikap detachment nya tersebut. Acungan jempol bagi nama-nama senior Bates dan Williams sebagai pendukung yang tepat.

Tiga sahabat Marley menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Punch yang easy going dan eksentrik, DeWitt yang family minded dan protektif, Romano yang gay oriented dan suportif hingga sepakat mengundang Mr. “A Little Bit Of Heaven” alias Dinklage yang sukses mencerahkan suasana dengan pertukaran dialog dan adegan kocaknya bersama Marley. Cameo Whoopi Goldberg sebagai Tuhan tidak inspiratif meski dapat menggali sisi kemanusiaan Marley untuk benar-benar sadar sebelum terlambat. Mitos tiga permintaan yang ternama itu disini hanya sebatas lalu tanpa makna yang berarti. Gee!

Satu-satunya yang memorable bagi saya adalah konsep pemakaman riang yang diidamkan oleh Marley. There’s a FUN in funeral words. Exactly! Terkadang kepergian seseorang tak perlu ditangisi, jadikan kenangannya sebagai episode terindah yang tak akan terulang kembali. A Little Bit Of Heaven mungkin bisa membuat anda tersenyum dalam kesedihan, hanya saja inkonsistensi subplot dengan banyak karakter yang timbul tenggelam menjadikannya tidak memorable. Antusiasme dan kecantikan Hudson di tengah hiruk pikuk kota New Orleans yang stylish saja rupanya belum cukup.

Durasi:
108 menit

U.S. Box Office:
$10,011 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent