Gambar:
XL #PerempuanHebat for Kartini Day
THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day
Minggu, 29 Maret 2009
COMING SOON : Kutukan Film Arwah Penasaran Menjadi Nyata
Gambar:
Sabtu, 28 Maret 2009
DRAGONBALL EVOLUTION : Petualangan Mencari 7 Bola Naga Kuasai Dunia
Komentar:
Jumat, 27 Maret 2009
SOUL'S CODE : Arwah Penasaran Memecahkan Kasus Pembunuhan
Mysterious fact reveals the haunting horror case..
Cerita:Tubuh seorang gadis remaja terbunuh ditemukan tanpa busana dengan tanda-tanda aneh pada keningnya pertanda arwahnya dihalangi untuk membalas dendam. Detektif Khan dari DSI ditugaskan melakukan investigasi dibantu beberapa rekan-rekannya. Mayat tersebut dibawa ke Dr. Nicha bagian CIFS Bangkok untuk menemukan petunjuk lebih lanjut sekaligus identitas sesungguhnya. Sementara itu mantan idola remaja, C terlibat dalam kasus ini saat ia berusaha mencari mantan kekasihnya yang hilang. Beberapa kejadian supernatural pun mencoba mengungkapkan fakta dibalik itu semua.
Gambar:
Beberapa gambar kekerasan hasil penyiksaan ditampilkan cukup eksplisit sehingga terasa memilukan. Kontras dengan pencahayaan gelap sepanjang film.
Act:
Premsini Rathanasopa
Nuttakorn Taewakul
Patiwat Ruengsri
Napat Bhunjongjit-pisan
Saengthong Gate-uthong
Sutradara:
Atsajun Sattakovit
Komentar:
Kasus pembunuhan berantai yang dirangkai dengan kejadian supernatural mungkin bukan hal baru terutama pada perfilman Asia. Kelebihan Soul's Code adalah berhasil melakukannya dengan gaya film tahun 90an yang kental adegan flashback dengan sangat hati-hati dan cukup konsisten. Kekurangannya, arah cerita relatif mudah ditebak karena seringkali kita menyaksikan plot serupa sebelumnya, belum lagi alur lambat yang bisa jadi membosankan. Overall, ini memang bukan tipikal horor Thailand yang dinamis dengan twist mengejutkan, tetapi tetap sebuah alternatif tontonan yang lumayan di waktu senggang.
Durasi:
100 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Kamis, 26 Maret 2009
SUKA MA SUKA : "Berpura-pura" Demi Mendekati Gadis Impian
Cerita:Gambar:
Tidak selayaknya film keluaran MD Pictures, gambar-gambar di film SMS ini tidak terlalu memanjakan mata kecuali tentu saja warna kostum pemain-pemainnya yang mencolok.
Teuku Wisnu sebagai Nunu masih belum terlepas dari apa yang sudah dipertunjukkannya dalam layar kaca. Penampilan perdananya di layar lebar cenderung tidak lepas.
Sutradara:
Karya perdana Encep Masduki di kancah perfilman nasional. Tidak terlalu baik walau tidak bisa dibilang buruk juga. Casting yang melibatkan sebagian pemain Cinta Fitri menjadi nilai tambah karena mereka sudah cukup dikenal luas. Eksekusi cerita yang dilakukannya cukup detail walau secara keseluruhan diragukan originalitasnya.
Komentar:
Sepertinya baru minggu lalu menyaksikan tema serupa dalam Pijat Atas Tekan Bawah. Sejak menit awal saya sudah tahu dan langsung kehilangan minat untuk menyaksikannya sampai habis. Rasanya perlu diklarifikasi skenario mana yang selesai tulis terlebih dahulu? Konon keduanya merupakan jiplakan dari film India, Dostana. Jika memang benar tentu hal ini akan sangat memalukan karena sedemikian miskin idenya sampai melakukan hal seperti itu. Terlepas dari itu semua, saya merasa SMS yang beraliran drama komedi sedikit lebih baik dari PATB yang komedi slapstik dari semua segi. Bagaimana pendapat anda?
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Rabu, 25 Maret 2009
100 FEET : Berjuang Menghadapi Hantu Mantan Suami Pendendam
Bobby Cannavale sebagai Shanks selama ini lebih banyak terlibat dalam peran kecil di serial-serial teve ternama seperti Law & Order, Will & Grace dll.
Michael Pare sebagai hantu pendendam Mike Watson sebetulnya hanya tampil sebagai grafis dalam film ini.
John Fallon sebagai Jimmy pernah mendukung Saw II (2005).
Selasa, 24 Maret 2009
FEEL THE NOISE : Penemuan Jati Diri Musik Puerto Rico
Dream out loud.

Storyline:
Demi menghindari konflik di New York, rapper Harlem bernama Rob Vega dikirim ibunya ke tempat ayahnya, Roberto di Puerto Rico. Disana Rob bertemu dengan ibu tirinya, Marivi dan saudara tirinya, Javi yang sangat mencintai Reggaeton, gabungan hip-hop, reggae dan irama Latin. Rob dan Javi pun sepakat berkolaborasi untuk menciptakan aliran musik jenis baru dimana mereka dibantu oleh Jeffrey, produser kenamaan yang juga menaruh perhatian pada C.C. penari sensual yang menyukai Rob sejak pertama kali bertemu. Akankah perjalanan nasib semuanya akan berpuncak di Puerto Rican Day Parade bagi anak-anak muda bersemangat tersebut?
Nice-to-know:
Sempat beredar pula dengan judul lain Reggaeton.
Cast:
Omarion Grandberry sebagai Rob Vega
Zulay Henao sebagai C.C.
Victor Rasuk sebagai Javi
Giancarlo Esposito sebagai Roberto
Rosa Arredondo sebagai Marivi
James McCaffrey sebagai Jeffrey Skylar
Director:
Merupakan feature film kedua bagi Alejandro Chomski setelah Today and Tomorrow (2003).
Comment:
Saya tidak malu mengakui diri sebagai penggemar dance flick apapun jenisnya terlepas dari sedikitnya referensi judul yang dipunyai sejauh ini. Sebut saja Step Up, Stomp The Yard, Dirty Dancing 2 dsb. Atas fakta tersebut, saya memutuskan untuk menonton film yang beredar di Indonesia pada medio Maret 2009 ini apalagi bernuansakan Amerika Latin yang biasanya menumbuhkan sensualitas dan eksotisme tersendiri.
Ekspektasi yang cukup tinggi ternyata hancur lebur begitu saja karena dapat dibilang tidak ada skrip samasekali disini. Entah apa yang ada di pikiran sang penulis Albert Leon saat berupaya menciptakan subplot yang bertumpuk-tumpuk tapi tidak benar-benar jelas pangkal dan ujungnya. Pencarian jati diri yang digadang-gadang mampu menjadi klimaks yang ditunggu ternyata tidak terjadi. Semua adegan terasa tanpa nyawa hingga durasi berakhir.
Sutradara Chomski pun tampak tidak memaksimalkan Puerto Rico sebagai setting lokasi yang indah untuk membangkitkan chemistry di antara karakter-karakternya. Omarion, Zulay, Victor dkk tidak bisa dipersalahkan begitu saja jika tidak menampilkan emosi yang diharapkan. Bahkan tokoh-tokoh macam Rob, C.C., Javi, Roberto, Marivi, Jeffrey pun begitu satu dimensi dalam membawakan dialog-dialog klise yang seakan tidak membawa pengaruh apa-apa.
Acting dan dancing disertai musik pembangkit semangat tidak akan anda temukan disini. Feel The Noise hanya mengandalkan satu hit saja yang diputar berulang-ulang. Itupun tidak ingin anda dengarkan kembali setelah film berakhir. Jika anda masih bersikeras ingin menontonnya, silakan nikmati pengalaman berhalusinasi yang tidak jelas juntrungannya. Syukur-syukur sebelum mencapai credit title, anda sudah tertidur pulas dibuatnya.
Durasi:
85 menit
U.S. Box Office:
$5,701,408 till Oct 2007
Overall:
6 out of 10
Movie-meter:
Senin, 23 Maret 2009
FLOCK : Berkolaborasi Mengejar Pelaku Kekerasan Seksual
Evil has many faces. He has seen them all.
Cerita:Erroll Babbage telah menghabiskan hampir seluruh karirnya untuk melacak pelaku pelecehan seksual dan metodenya yang tidak lazim hampir sama brutalnya dengan kriminal yang dia monitor. Saat dia menghubungkan salah satu orang yang bebas bersyarat dengan menghilangnya salah satu gadis setempat, dia dan rekan barunya Allison Lowry harus mendatangi S&M bawah tanah untuk menemukannya sebelum terlambat. Bisakah permainan kucing tikus tersebut diakhiri dengan baik?
Gambar:
Lokasi syuting dilakukan di Albuquerque dan Bernalillo, New Mexico yang terasa pas menggambarkan suasana sepi dan gersang kota tempat penyidikan.
Cast:
Terakhir tampil lewat peran tokoh nyata Clifford Irving dalam The Hoax (2006), Richard Gere disini terlihat temperamen memainkan karakter detektif Erroll Babbage.
Sebelum tampil memikat dalam Stardust (2007), Claire Danes terlebih dahulu didapuk sebagai Allison Lowry, detektif forensik yang baru ditugaskan di kota kecil mendampingi seniornya.
Sutradara:
Andrew Lau Wai Keung mungkin baru dikenal sebatas Asia lewat karyanya trilogi Infernal Affairs (2002-2003) yang legendaris itu. Inilah film internasional pertamanya yang langsung memasang dua bintang Hollywood yang cukup ternama.
Comment:
Thriller yang mengangkat tema sulit yaitu kekerasan seksual yang dikaitkan dengan investigasi cenderung berat dan sukar diterima di pasaran, selayaknya yang pernah dilakukan Nicolas Cage dalam 8 MM. Terlepas dari fakta tersebut, Flock bisa dikatakan film gelap yang cukup baik karena menampilkan sesuatu yang jauh di atas permukaan walau belum terlalu maksimal. Gaya investigasi yang dilakukan Lau cukup unik. Namun editingnya kurang mulus disebabkan terlalu banyak adegan kilat dan beku yang biasanya terjadi di serial teve saja. Di sisi cast, Gere memukau dalam mengeluarkan emosi saat memperlakukan setiap tersangka sebagai pelaku kejahatan, tetapi Danes yang biasanya cemerlang kali ini kurang "berisi". Kejutan yang ditampilkan di ending mungkin tidak akan terduga oleh penonton walaupun masih kurang menggetarkan.
Durasi:
95 menit
Box Office:
$5,359,167
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Minggu, 22 Maret 2009
ROGUE : Perjalanan Wisata Berbuntut Teror Buaya Ganas
Pete McKell: I just saw a man get eaten by a fucking crocodile. This is not what I do, alright. You know what I do? I write stupid articles about hotels, restaurants, and resorts. Not about the Australian Outback. And by the way, I fucking hate animals, especially ones that can kill you!
[pause]
Pete McKell: [muttering to himself] Speaking of which, I'm going to kill my fucking editor when I get home.
Cerita:
Seorang penulis kolom wisata Amerika, Pete bertugas melaporkan perkembangan industri pariwisata di bagian Utara Australia. Saat berlayar dengan perahu, ia bertemu dengan beberapa turis dengan karakter yang berbeda-beda termasuk pemandu lokal, Kate yang cantik. Sayangnya tiba-tiba perahu yang mereka tumpangi diserang hingga terbalik dan menyebabkan kekacauan intern grup tersebut. Terdampar di sebuah pulau kecil, mereka segera menyadari sedang diintai seekor buaya ganas yang besar. Berhasilkah mereka selamat dan keluar hidup-hidup dari tragedi tersebut?
Gambar:
Dibuka dengan perjalanan wisata bahari seakan-akan kita melakukan safari di pedalaman Australia lengkap dengan semua ekosistemnya.
Act:
Aktor asal Perancis, Michael Vartan pertama kali dikenal luas setelah mendampingi Drew Barrymore dalam Never Been Kissed (1999). Kali ini sebagai penulis travel guide, Pete McKell, dia memperlihatkan impersonasi yang baik mulai dari pengetahuan sampai kecekatannya menjelajah alam.
Aktris Australia yang sebelum ini tampil dalam Feast Of Love, Radha Mitchell sebetulnya sering bermain dalam film Hollywood walau bukan sorotan utama. Dalam Rogue, Mitchell berperan sebagai pemandu lokal, Kate Ryan yang pintar walau tidak siap menghadapi situasi yang di luar kendalinya.
Didukung pula oleh aktor Bootmen (2000), Sam Worthington sebagai Neil Kelly.
Sutradara:
Greg McLean baru dikenal lewat Wolf Creek (2005) yang sadis itu. Dalam Rogue, McLean mengetengahkan sosok predator dalam wujud buaya air asin yang mampu menyusun strategi dalam memburu mangsanya. Eksplorasinya dalam film ini boleh mendapat acungan jempol karena mampu menjaga ketegangan dan intensitas cerita.
Komentar:
Set yang digunakan dalam film ini konon dibuat langsung oleh departemen art mulai dari pepohonan, pulau buatan di Northern Territory. Konstruksi buaya pun dibuat di sebuah gudang di Maidstone, Melbourne. Hasil akhirnya? Cukup meyakinkan di samping beberapa scene malam yang benar-benar gelap dan terkesan menyembunyikan special efek yang digunakan. Secara keseluruhan, Rogue tergolong lumayan, akting yang tidak buruk, suasana mencekam dari beberapa kematian akibat serangan buaya. Meskipun ending dapat ditebak dikarenakan keputusan bodoh yang dibuat karakternya, Rogue tetap dapat membuat anda melompat dari bangku penonton. Yah tidak ada salahnya menyaksikan flick ini, cukup memuaskan.
Durasi:
80 menit
U.S. Box-Office:
$10,452 till May 08 only in 10 screens
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Sabtu, 21 Maret 2009
KUNTILANAK KAMAR MAYAT : Mengusut Hilangnya Suster Dan Kisah Dibalik Itu
Cerita:Sesuai janji sutradara bernama banyak ini jika menggunakan nama Nayato maka artinya karya dibuat dengan serius. Terbukti ia bekerja cukup memenuhi "standar" di film ini dalam arti tidak jelek walau belum bisa dibilang bagus juga. Satu yang cukup mengganggu, bias antara kenyataan dan alam mimpi yang dialami tokoh utama masih diumbar olehnya di beberapa scene.
Cukup klise dimana cinta segitiga berlatar belakang tragedi dan berakhir dengan balas dendam. Apa lagi yang baru yang ditawarkan film ini selain mengumbar keseksian Jupe dan ketampanan Mandala Shoji yang cukup diekspos. Secara keseluruhan jika dibandingkan beberapa karya terakhir Nayato, KKM boleh dibilang lumayan karena menggunakan plot dan alur cerita yang cukup rapi dengan penokohan yang tergolong jelas.
Jumat, 20 Maret 2009
PIJAT ATAS TEKAN BAWAH : Slapstik Disorientasi Seksual Buatan KK
Cerita:Terapis pijit Garry dan fotografer freelance Barry berniat tinggal di rumah tante Titi yang seksi. Sayangnya ia hanya menerima perempuan kecuali lelaki gay. Maka Garry dan Barry berpura-pura menjadi pasangan gay terlebih setelah mereka berkenalan dengani keponakan tante Titi, Hanny yang cantik menawan. Pekerjaannya sebagai PR oil company tidak membuat Hanny bahagia karena hidupnya terasa hampa sampai ia berkenalan dengan Samuel yang menyenangkan. Hanny tidak menduga kalau Garry dan Barry bisa melakukan apa saja untuk menggagalkan hubungannya. Bagaimana akhir dari kisah ini? Siapa yang akan dipilih Hanny?
Dari awal sampai akhir terlalu banyak editing yang tidak mulus sehingga cukup mengganggu mata.
Saipul Jamil sebagai Garry
KK Dheeraj yang juga menulis skenario film ini masing menggunakan formula lama dengan mengumpulkan beberapa pelawak dalam satu film dengan mencoba merasionalkan cerita. Suatu hal yang mudah dilakukan tentunya tanpa bermaksud meningkatkan kualitas film secara keseluruhan.
Penuh dengan adegan slapstik komikal yang biasa ditemui di film-film remaja Hollywood. Hanya saja penerapannya seringkali jatuh menjadi norak karena humor yang ditampilkan cenderung berlebihan. Harus diakui memang ada sedikit peningkatan kualitas film produksi K2K di film ini dari segi kehalusan eksekusi film. Yang menjadi pertanyaan, entah kenapa belakangan ini pola dua pria yang berpura-pura menjadi pasangan gay demi menarik perhatian wanita idaman seringkali diangkat menjadi inti cerita sebuah film tanpa didukung dengan skenario yang menarik. Sedang trend kah? Satu yang pasti, perseteruan Kiki dan Saipul yang terjadi semasa syuting dan sempat marak diberitakan rupanya belum mampu mengangkat popularitas film ini.
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!


