XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 17 Mei 2013

STAR TREK INTO DARKNESS : Mesmerize Space Voyage Favors Non Trekkies


Quote:
James T. Kirk: If Spock were here, and I were there, what would he do?
Scotty: He'd let you die.

Nice-to-know:
Menurut J.J. Abrams, konsep perjalanan waktu dan kenyataan alternatif yang digunakan pada seri terdahulu mendorong kemungkinan adanya reboot film baru.

Cast:
Chris Pine
sebagai James T. Kirk
Zachary Quinto sebagai Spock
Zoe Saldana sebagai Uhura
Karl Urban sebagai Bones
Simon Pegg sebagai Scotty
John Cho sebagai Sulu
Benedict Cumberbatch sebagai Khan
Anton Yelchin sebagai Chekov
Bruce Greenwood sebagai
Pike

Director:
Merupakan feature film ke
empat bagi J.J. Abrams setelah terakhir menangani Super 8 (2011).

W For Words:
Apabila menilik sejarah panjang Star Trek dari serial televisi hingga film layar lebar, niscaya anda akan menemukan ratusan judul/episode dengan puluhan aktor-aktris yang pernah memerankan multi karakter dalam franchise ini. Lantas apa bedanya dengan garapan J.J. Abrams melalui dua seri reboot nya yang terpaut empat tahun sejauh ini? Jawabannya bisa jadi karena Hollywood minded. Ya, nama Abrams memang kian tersohor sebagai filmmaker, baik produser, penulis skrip maupun sutradara. Terbukti Star Trek (2009) berhasil meraup lebih dari 250 juta dollar lewat peredaran di Amerika Serikat saja.

Kembali dari misi Enterprise yang kontroversial karena mengancam keselamatan Komandan Spock, Kapten James T. Kirk menjadi sorotan organisasi karena melanggar beberapa peraturan dasar Starfleet. Saat
sidang tengah dilakukan di London, markas mereka diserang oleh seorang pria misterius yang belakangan diketahui bernama John Harrison. Kepalang tanggung, Kirk dan Spock kembali bertandem dan melakukan pengejaran hingga ke Klingon demi menghentikan teror penghancuran dunia. Persahabatan dan kesetiaan mereka pun diuji di atas ambang hidup dan mati.

Kolaborasi Roberto Orci dan Alex Kurtzman kembali menelurkan skrip yang mengambil kejadian beberapa bulan setelah kejadian film pertama. Bagi para Trekkies (die hard fans Star Trek) mungkin akan kecewa melihat penyempitan karakter menjadi segelintir saja. Namun penonton umum tampaknya tidak akan keberatan mengingat konflik dapat lebih terfokus lagi dalam skala yang lebih besar. Interaksi antar tokohnya menjadi lebih efisien setelah disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Keputusan yang cerdas sehingga plotnya terkesan lebih dinamis tanpa harus meninggalkan ‘identitas’ Star Trek itu sendiri.

Abrams
masih mempertahankan trademark nya yaitu CGI mumpuni yang membuat setiap adegan aksinya terasa megah. Terlebih detail setting kapal dan angkasa luar nya yang menakjubkan, sesuai dengan bujet besar yang dihabiskan. Efek 3D nya pun tidak melulu gimmick, banyak eye-popping yang memanjakan mata. Apalagi kisaran tiga puluh menit adegan yang khusus disyut dengan kamera IMAX yang kian merelakan kocek lebih penonton. Semua itu bisa jadi mubazir jika tidak dilengkapi karakterisasi kuat yang untungnya tercipta meski tak seluruh tokoh mendapat porsi yang memadai.
 
Pine yang selama ini berupaya lepas dari bayang-bayang William Shatner sukses menerjemahkan karakter Kirk muda yang rebel sekaligus intuitif tanpa berlebihan. Tumbuh kembangnya yang dominan di atas karakter lain jadi kekuatan tersendiri. Quinto merupakan penyeimbang yang tepat di sini dimana karakter Spock yang sebetulnya Vulcan tetap mampu membawakan emosi manusia dengan gemilang. Munculnya karakter baru Dr. Carol Marcus dan John Harrison yang dijiwai secara memorable oleh Eve dan Cumberbatch tidak menghalangi Saldana, Urban, Cho, Yelchin, Pegg, Greenwood untuk mencuri perhatian pula selama durasi berjalan.

Star Trek Into Darkness memang masih menawarkan tipikal ending ‘hero movies’ yang kerap dipakai Hollywood beberapa tahun terakhir. Quite predictable if you already get used to it. Beruntung ikatan emosional Kirk dan Spock yang kental berhasil membangun nyawa film secara keseluruhan. Thanks to smart dialogue and humor sides that get along well! Imajinasi tinggi dengan twist dan turns yang variatif plus skala yang lebih besar tanpa harus meninggalkan ‘akar’ Star Trek akan membuat space voyage anda kali ini lebih berarti, better than its predecessor!

Durasi:
1
32 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 12 Mei 2013

SHOUTOUT AT WADALA : Rise And Fall Bollywood Gangster Flick

Quote:
Zubair Imtiaz Haskar: Kaam kya kargea?
Manya Surve: Sharir mein 206 haddiya hain aur samvidhan mein 1670 kanoon. Haddi se lekar kanoon... sab thodta hoon!

Nice-to-know:
Turut dimeriahkan oleh Sunny Leone, Priyanka Shopra dan Sophie Chaudhary dengan special appearance nya
yang sensual itu.  

Cast:
John Abraham sebagai Manya Surve
Manoj Bajpayee sebagai Zubair Imtiaz Haskar

Kangana Ranaut sebagai Vidya Joshi
Anil Kapoor sebagai ACP Afaaque Bhaagran

Siddhant Kapoor sebagai Gyanchod
Tusshar Kapoor sebagai Sheik Munir
Sonu Sood sebagai
Dilawar Imtiaz Haskar

Director:
Merupakan film ke-10 bagi Sanjay Gupta yang mengawalinya sejak Aatish : Feel the Fire (1994)
.

W For Words:
Retro gangster flick selalu menarik perhatian saya. Jika Hollywood memiliki Gangster Squad (2012) yang diilhami dari kejadian nyata tahun 40an maka Bollywood mempunyai persembahan terbaru Balaji Motion Pictures dan White Feather Films ini yang bedanya mengambil setting tahun 70an. Biasanya anda akan menemukan bentrok antara polisi dan penjahat beserta kaum sipil yang menjadi saksi (atau bahkan korban?) di dalamnya. Penasaran? You should be! Apalagi melihat nama-nama pendukung dan sutradara yang track record nya lumayan memuaskan selama ini.

Mahasiswa bermasa depan cerah dengan kekasihnya yang cantik bernama Vidya, Manohar Surve tiba-tiba dijebloskan ke penjara karena dianggap membantu kakaknya yang seorang preman, Bhargav melakukan pembunuhan. Dalam sekejap dunianya berubah total. Kakaknya dibunuh sesama napi dan iapun menjadi target berikutnya. Beruntung napi yang paling dihormati Veera mau mengajarkannya pertahanan diri. Lantas Manohar memutuskan kabur bersama kawannya Sheikh Munir dan mengubah imejnya menjadi Manya yang segera menjadi momok baru di kalangan polisi dan sesama penjahat.

Skrip yang dikerjakan secara bersama-sama oleh Sanjay Bhatia, Abhijit Deshpande dan Sanjay Gupta ini tidak berisikan pertukaran dialog yang memadai dari Milap Zaveri, bahasa kasar dan humor cadasnya tak jarang membuat penonton mengernyitkan dahi. Storytelling nya pun masih terasa episodik sehingga kurang membentuk suatu kesatuan utuh, seringkali tidak benar-benar menjelaskan proses dari A ke B nya dengan aksi reaksi logis yang seharusnya ada. Contoh paling nyata adalah untuk apa Manya merekrut anak buah jika tidak dimaksimalkan dalam aksinya? 

Sebagai sutradara, Gupta berupaya keras menonjolkan unsur tahun 70an lewat setting lokasi, wardrobe sampai props tapi cenderung masih inkonsistensi. Koreografi tarungnya memang terlihat stylish dan meyakinkan tapi seiring film berjalan malah terkesan repetitif. Berbagai adegan berdarah-darah disiapkan untuk menjual sisi ‘machismo’ yang kental. Scoring musik yang mengiringi kerap terdengar berlebihan di beberapa bagian, tanpa lupa menyebut “sumbangsih” penampilan tiga aktris cantik seksi yaitu Sunny Leone, Priyanka Chopra dan Sophie Choudry.

Abraham sebagai lead actor tampak terlalu bulky dan berotot layaknya Hulk Hogan. Karismanya kuat terpancar tapi belum dibarengi dengan mulusnya transformasi dari Manohar menjadi Manya yang seharusnya lebih emosional. Sebaliknya Bajpayee dan Anil Kapoor tampak solid sebagai dua pihak yang berseberangan. Ranaut mewakili feminisme di sini sebagai Vidya yang dilematis. Menarik menyaksikan akting ‘beringas’ Sood dan Tusshar Kapoor yang ‘goofy’ sebagai supporting lead. Cameo dari Jackie Shroff semakin memperkaya jajaran cast yang mumpuni ini.
 
Shoutout At Wadala yang terinspirasi dari novel non fiksi berjudul Dongri to Dubai: Six Decades of the Mumbai Mafia karangan wartawan S Hussain Zaidi ini tergolong menggunakan pendekatan yang mirip dengan apa yang dilakukan Quentin Tarantino yang biasanya menjual seks dan kekerasan sekaligus. Namun tidak dibarengi dengan aspek kebrutalan yang memorable meski porsinya cukup dominan. Endingnya pun terkesan antiklimaks setelah serangkaian peristiwa ‘epik’ yang mengarah kesana. Overall still has international taste to score well in box office section but not in rating part.

Durasi:
1
55 menit

Asian Box Office:
Rs 30.7 crore first week in India

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 11 Mei 2013

SUNSET AT CHAO PHRAYA : Miscast and Unimpressive Script Sum It All

Original title:
Koo Kam

Nice-to-know:
Produksi berjalan mulai dari September 2012 hingga Januari 2013.

Cast:
Nadech Kugimiya sebagai Kobori
Oranate D Caballes sebagai Angsumalin / Hideko
Nithit Warayanon sebagai Wanus
Marina Muongsiri sebagai Aorn (Hideko's mother)
Surachai Chanthimakorn sebagai Uncle Phol
Mongkol U-tok sebagai Uncle Beau


Director:
Merupakan feature film kesembilan bagi Kittikorn Liasirikun setelah terakhir menggarap Dream Team (2008)
.

W For Words:
Romansa yang mengambil latar belakang Perang Dunia ke-2 di Bangkok ini sesungguhnya telah berulang kali diangkat baik film televisi maupun layar lebar. Adaptasi novel berjudul “Khu Kam” milik Thommayanti ini merupakan remake film bertitel sama yakni Sunset at Chaophraya di tahun 1996. Entah apa yang sesungguhnya menjadi motivasi studio M-Thirtynine. Peremajaan kisah klasik? Perbaikan kualitas dengan teknologi yang semakin maju? Atau justru persaingan dengan studio GTH yang tampaknya sudah semakin jauh meninggalkan para pesaingnya di industri film Thai tersebut?

Seorang perwira Jepang yang bekerja di angkatan udara, Kobori melihat Angsumalin tengah berkeliaran di sungai. Pertemuan itu menggelitik rasa penasaran Kobori yang segera mencari tahu dimana Angsumalin tinggal. Keduanya tanpa sengaja terus dipertemukan oleh takdir walaupun perang tengah berkecamuk hebat. Ayah Angsumalin yang juga pejabat pemerintahan sepakat menikahkan mereka demi aliansi Thailand-Jepang yang lebih kokoh. Konflik kian memuncak ketika atasan Kobori menganggap orang Thai tidak membantu perjuangan mereka samasekali pada masa Perang Dunia ke-2.
Saya bersyukur karena tidak pernah menyaksikan versi sebelumnya, setidaknya bisa obyektif dalam menilai yang satu ini. Lebih dari dua jam kemudian saya menyesal mendapati skrip yang tidak solid dan interpretasi sutradara yang juga tidak membantu samasekali. Pertama, hubungan Kobori dan Angsumalin berjalan datar, mulai dari perkenalan sampai pernikahan. Penamaan Hideko yang diberikan Kobori sebagai bagian dari ‘Japan’-isasi justru terkesan menggelikan. Belum lagi rahasia besar yang disembunyikan Angsumalin terasa berlarut-larut hingga penonton tak kuasa menunggu.

Kedua, Kittikorn memang berupaya menghadirkan perasaan epik dengan invasi Jepang yang nyata. Namun impresi ‘menipu’ penonton dengan adegan peperangan yang tak tampak tak dapat dihindari. Lihat bagaimana ledakan demi ledakan kerap diterjemahkan dengan efek suara disertai asap dan kobaran api saja. Come on, we wanna see any better than that! Scoring music yang mendayu-dayu itu tak hanya gagal membangun suasana tetapi membosankan karena terlalu banyak repetisi nyaris di setiap adegan Kobori dan Angsumalin berhadap-hadapan.

Kecanggungan akting Nadech setidaknya tertutupi oleh sosok Kobori yang atraktif dan simpatik. Seiring film berjalan, bahasa Thai nya yang semula patah-patah menjadi semakin lancar. Kepolosan Angsumalin tak mampu menyelamatkan kakunya penjiwaan Oranate. Ia tampak seperti gadis cilik yang sering merajuk ketimbang wanita muda yang dewasa. Chemistry keduanya pun kurang padu, diperburuk dengan dialog one liners yang cheesy. Ambil contoh saat malam dimana Kobori mabuk dan ingin bercinta dengan istrinya. Mereka bagaikan tengah bermain kucing tikus di dalam kamar selama hampir sepuluh menit! 

Sunset at Chao Phraya versi terbaru ini awalnya berhasil membangun ekspektasi yang cukup tinggi, setidaknya terlihat menarik di poster dan trailernya. Namun faktanya tidak pada isinya yang membuat saya berkali-kali ingin walkout sejak memasuki pertengahan durasi. Jika sebagian besar review dari media dan moviegoers Thailand saja sudah demikian negatif karena ketidak akuratan dengan sejarahnya maka sulit mengharapkan respon bagus dari peredaran di negara Asia lainnya. Pada akhirnya proyek ambisius yang menghabiskan biaya 35 juta baht ini kelihatannya akan sia-sia belaka. Painful to watch nor wait until it’s really finished!

Durasi:
127
menit

Asian Box Office:
26.5 juta baht in first week in Thailand

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Mei 2013

EVIL DEAD : You’re All Going To Scream Together


Quote:
Mia: You're all going to die tonight!

Nice-to-know:
Inisial nama lima karakter utama jika dieja akan membentuk kata
D.E.M.O.N.  

Cast:
Jane Levy sebagai Mia
Shiloh Fernandez sebagai David
Lou Taylor Pucci sebagai Eric
Jessica Lucas sebagai Olivia
Elizabeth Blackmore sebagai Natalie
Jim McLarty sebagai Harold
 


Director:
Merupakan feature film pertama bagi Fede Alvarez setelah empat film pendek sebelumnya
.

W For Words:
Hollywood tampaknya kian telaten mendaur ulang horor lawas setelah terakhir Don't Be Afraid of the Dark (2011) dan segera menyusul Carrie (2013). Tak terkecuali produksi terbaru FilmDistrict, Ghost House Pictures dan TriStar Pictures ini. Mudah-mudahan alasannya bukan karena kehabisan ide, melainkan "pelestarian" sebuah karya besar (dikenang sebagai salah satu yang terbaik di genrenya sepanjang masa) demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi. Itu harapan saya. Pada akhirnya memang harus siap diperbandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik. Bukan begitu?
 
Mia yang kecanduan narkoba terpaksa diisolir di pondok terpencil tengah hutan. Kakaknya David datang menjenguk bersama kekasihnya Natalie dan teman-teman mereka guru Fisika, Eric dan mahasiswi perawat, Olivia. Ketika menemukan buku misterius di lantai bawah, Eric tanpa sengaja merapal mantera pembangkit iblis yang segera merasuki Mia. Satu persatu dari mereka mulai bertingkah aneh dan saling membunuh. David harus mencari cara untuk menghentikan semua itu sebelum hujan darah turun dan iblis mampu berkuasa kembali di bumi. 

Sam Raimi merupakan otak dari Evil Dead yang ditulis dan disutradarainya dalam dua versi resmi yaitu The Evil Dead (1981) dan Evil Dead II (1987) dengan tokoh utama Ashley ‘Ash’ J. Williams. Namun pujian kali ini pantas dialamatkan pada Fede Alvarez dan Rodo Sayagues yang tampak tidak mau terjebak stereotype dengan menggabungkan berbagai plot dari dua pendahulunya dengan penyesuaian yang lebih logis dan modern tentunya. Lihat bagaimana kakak beradik David dan Mia memiliki hubungan sebab akibat yang menjelaskan situasi nyata yang dialami keduanya saat ini.

Alvarez sebagai filmmaker juga menunjukkan taringnya. Sinematografi yang kelam, blocking yang dinamis sampai pengaturan sekuens yang runut menjadikan tontonan satu ini begitu menyenangkan. Memang masih terasa pengaruh gaya Raimi terlebih menyangkut penggunaan efek tradisional untuk membangun horornya. Pengemasan kejutan dari satu adegan sadis dengan yang lainnya juga sukses menciptakan sensasi miris sekaligus magis membius. Tensinya pun terjaga secara maksimal selama kurang dari sembilan puluh satu menit, terima kasih pada lembaga sensor film kita.

Aktor-aktris belia yang belum terlalu dikenal tersebut mampu melebur dalam peran masing-masing. Levy berhasil menghidupkan sosok iblis yang kotor dan menjijikkan di samping Mia yang terlihat liar dan rapuh. Fernandez tak kalah dramatisnya menghadapi pergulatan batin dalam diri David yang merupakan karakter sentral. Pucci kali ini bertugas menonjolkan sisi komedinya sebagai Eric yang konyol dan eksentrik, tokoh yang mungkin akan membuat anda geregetan sejak menit pertama. Sedangkan Blackmore dan Lucas justru menampilkan pesonanya tatkala menjadi  Natalie dan Olivia yang ‘berbeda’.

Evil Dead tampaknya akan tercatat sebagai satu dari sedikit remake tersukses sepanjang sejarah, bahkan lebih daripada inisiatornya yang dikenal sebagai film kelas B. Begitu banyak sick moment dan changeover twist yang digulirkan membuat anda sulit menerka tokoh mana yang bertahan paling akhir. Itupun jika sempat berpikir mengingat begitu intensnya teror berpacu dengan waktu. Penonton lama dan baru dijamin terpuaskan dengan tertawa, menjerit dan meringis bersama di dalam bioskop. Definitely best rare cinematic experiences for truly horror fans who might prefer late night show.

Durasi:
91
menit

U.S. Box Office:
$53.200.013 till May 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 07 Mei 2013

CINTA BRONTOSAURUS : Love Expires But Remains Still


Quote:
Dika: Gue butuh cewe yang kalo gue ngeliat gue ga kebayang putusnya bakal kayak gimana.

Nice-to-know:
Jika anda cermati seluruh karakter pria dalam film ini mengenakan kacamata.

Cast:
Raditya Dika sebagai Dika
Eriska Rein sebagai Jessica
Soleh Solihun sebagai Kosasih
Ronny P. Tjandra sebagai Soe Lim
Bucek Depp sebagai Papa Dika
Dewi Irawan sebagai Mama Dika
Meriam Bellina sebagai Mama Jessica
Tyas Mirasih sebagai Wanda

Director:
Merupakan film ketiga bagi Fajar Nugros setelah Cinta Di Saku Celana (2012).

W For Words:
Dika Angkasaputra Moerwani yang lebih dikenal dengan nama Raditya Dika adalah seorang novelis jenaka yang kontan tenar sejak menerbitkan Kambing Jantan di tahun 2005 yang segera disusul empat judul berikutnya dengan status keseluruhan best seller! Empat tahun setelah bukunya, adaptasi layar lebar Kambing Jantan segera diproduksi oleh Indika Pictures dan Vito Production di tahun 2009. Saat itu Dika merambah layar lebar dan digarap langsung oleh sutradara kondang Rudy Soedjarwo. Empat tahun kemudian, giliran buku keduanya difilmkan. Penasaran? 

Kerap diputuskan kekasihnya dalam waktu singkat, Dika memilih percaya pada konsep cinta itu bisa kadaluarsa. Semua uneg-uneg nya sejak masa kecil tertuang pada buku terbarunya, Cinta Brontosaurus. Adalah produser film Soe Lim yang tertarik mengadaptasi karyanya tersebut ke layar lebar. Tawaran yang kemudian diamini oleh agennya, Kosasih yang memang sedang membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup istrinya Wanda yang boros. Tanpa sengaja, Dika justru berkenalan dengan Jessica yang tak dipungkiri memiliki pemikiran setipe dengannya. Mungkinkah pandangannya berubah?

Skrip yang terinspirasi dari kisah nyata percintaan semasa hidup seorang Raditya Dika ini memang terbilang sangat jujur. Bukan hanya bagi yang bersangkutan tetapi juga kaum pria secara umum. Siapa sih yang tidak pernah ditolak cewe? Berapa kali anda pernah mengalami putus cinta? Jawaban yang dapat dipastikan frekuentif itu dirasa cukup untuk menjadi ‘nyawa’ film. Nyatanya tidak. Begitu menit-menit awal yang menjanjikan berlalu, yang tersisa adalah menit-menit yang agak membosankan karena konflik cerita yang terasa ditarik ulur kesana kemari.

Pertama, ada produser film sohor Soe Lim yang begitu rajin mengedepankan segala sosok ‘hantu’ di kancah perfilman nasional. Jangan salah. Ronny P. Tjandra sudah melakukannya dengan gaya eksentrik yang memikat. Namun pola sindiran terhadap pihak tertentu yang dianut tampaknya belum terlalu kuat menjalankan fungsinya. Kedua, ada rumah tangga Kosasih dan Wanda yang didominasi oleh masalah uang. Tanpa latar belakang mereka yang memadai membuat penonton sulit untuk larut dalam keprihatinan yang dikondisikan sedemikian rupa. Di satu sisi, Soleh lumayan berhasil memberikan nyawa tapi tidak halnya dengan Tyas yang berakting satu dimensi.

Sutradara Nugros selama ini saya kenal sebagai storyteller yang baik. Ia sudah melakukan upaya terbaiknya untuk mengemas kisah yang sesungguhnya biasa-biasa saja itu ke dalam tontonan yang mengalir. Tak sepenuhnya berhasil karena masih ada berbagai pengulangan yang tipikal dan tak jarang membuat penonton letih mengikutinya. Beruntung alunan suara HiVi! lewat suguhan tiga tembang manisnya sedikit banyak memberi esensi fun. Permainan kamera yang dinamis dari Yadi Sugandi dan editing yang rapi dari Cesa David juga menghadirkan nilai plus yang dibutuhkan.

Raditya Dika dari tahun ke tahun merupakan figur komedian yang khas. Tidak semua sasarannya lucu, banyak di antaranya cenderung datar saja. Butuh lebih dari sekadar fans untuk bisa tertawa mengikuti jalan pikirannya. Namun sebagai aktor, saya melihat peningkatan positif dibandingkan film sebelumnya. Eriska Rein dapat dikatakan beruntung mampu menjadi leading act hanya di film ketiganya ini menjadi pasangan yang pas. Walau Jessica digambarkan sebagai cewek freak dengan segala polah tingkah dan pemikiran ajaibnya, ia tetap girly dan loveable.

Cinta Brontosaurus secara cerdas kali ini menggandeng provider XL yang juga tengah melakukan peluncuran perdana program NONTON demi viral marketing yang lebih luas lagi. Terlepas dari formula cinta yang cheesy dan efektifitas lelucon yang minim, setidaknya produksi terbaru Starvision ini masih cukup akrab menyapa penonton remaja hingga dewasa muda yang kerap mempertanyakan arti cinta ataupun teori batas waktu pacaran yang sedianya berlaku. Masih butuh jawaban? Ayo coba dipikirkan kembali matang-matang.

Durasi:
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

*Bespeak for Starvision/Fajar Nugros

Sabtu, 04 Mei 2013

THE GIFTED HANDS : Gripping Thriller About Souls to Save and Hearts to Keep

Tagline:
Hands that reveal the past.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Psycho-metry ini sudah rilis tanggal 7 Maret 2013 lalu di Korea Selatan.

Cast:
Kim Beom
sebagai Kim Joon
Kim Kang-woo sebagai Detektif Yang Choon-dong
Esom sebagai Kim Seung-gi
Lee Joon-Hyuk sebagai Yang-Soo
Kim Yu-Bin sebagai Da-hee

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Kwon Ho-Jung.

W For Words:
Kita harus mengakui jika Korea Selatan merupakan produsen thriller terbaik di Asia saat ini semenjak era tahun 2000 mulai merambah pasar Indonesia. (Terima kasih pada berbagai seri melodrama yang efektif menguras air mata) Sebut saja judul-judul seperti Tell Me Something (1999), Oldboy (2003), I Saw The Devil (2010) silih berganti menjadi rekomendasi jika sedang ditanya. Kini suguhan terbaru negeri ginseng tersebut kembali menyapa penikmat film di Indonesia melalui distributor langganan CJ Entertainment yang masih menggandeng jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Detektif Yang Chun-dong tengah menyelidiki kasus menghilangnya gadis cilik yang kemudian ditemukan tewas terkubur. Satu-satunya petunjuk yang tertinggal adalah gambar grafiti dari seniman jalanan Kim Joon yang selalu mengenakan jaket hitam untuk menutupi fisiknya yang pucat lemah. Saat Da-hee yang pernah ditemuinya di jalan diculik, Chun-dong harus berpacu dengan waktu untuk menemukan pelaku. Kim Joon yang ternyata mampu membaca masa lalu seseorang lewat sentuhan tangannya setuju untuk membantu walau harus menyakiti dirinya sendiri.

Skrip yang ditulis oleh Ho-Jung ini memang tidak terlalu ‘gelap’. Bagaimana tidak? Introduksi terhadap Detektif Chun-dong yang sembrono dilakukan secara komikal. Lihat bagaimana ia berbicara dengan mulut penuh makanan, bertengkar dengan warga yang menjalani kerja sosial hingga dipukuli atasannya dengan dokumen. Bagi sebagian orang, hal ini terkesan mengurangi superioritasnya. Namun bagi saya justru terlihat manusiawi, ia tidak sempurna. Kim Kang-woo menokohkannya dengan baik, mengundang keberpihakan yang jelas dalam diri penonton.

Kim Beom yang berpenampilan ‘manis’ itu terasa melekat dalam karakter Kim Joon yang berkemampuan khusus. Tutur katanya yang halus, bahasa tubuhnya yang gemulai cukup menjelaskan perlakuan apa yang kira-kira diterimanya dari orang-orang di sekitarnya. Sayangnya masih banyak hal yang tak terjawab mengenainya bahkan sampai durasi berakhir. Setidaknya chemistry “bromance” antara Kim Joon dan Chun-dong terjalin erat. Pada satu titik, penonton dibuat percaya bahwa keduanya akan dapat saling mengisi kekosongan yang ditinggalkan keluarga masing-masing.

Sebagai sutradara Ho-Jung masih memanfaatkan beberapa elemen klise yang biasa ditemui yaitu basement gelap, lorong sepi, bangunan terbengkalai, ruang terisolasi dll. Setting lokasi yang digunakan cukup variatif untuk menonjolkan paranoia tersendiri. Yang juga menarik adalah pengadeganan masa silam lewat potongan-potongan flashback yang dikerjakan dengan serius. Suspensinya terbangun sempurna semenjak melewati pertengahan hingga akhir film sehingga klimaksnya dapat tercapai. Tak jarang penonton akan memekik gemas dibuatnya.

The Gifted Hands memang belum beranjak dari fakta bahwa anak-anak, perempuan pada khususnya, masih menjadi sasaran utama tindak kekerasan dan obyek seksual para pelaku yang umumnya menderita gangguan mental walau terlihat normal dari luar. Protagonis yang diset sedemikian rupa dalam wujud anggota kepolisian lengkap dengan trauma masa kecilnya saja sudah merupakan polemik tersendiri. Secara keseluruhan bukan thriller mumpuni tapi sudah lebih dari cukup dalam menghibur. It’s all about souls to save and hearts to keep. Memories do fading away.

Durasi:
1
07 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:



Jumat, 03 Mei 2013

THE CALLER : Is It Worth Staying On The Line?


Tagline:
Some calls are best left unanswered.

Nice-to-know:
Brittany Murphy sempat dicast sebagai Mary Kee sebelum digantikan Rachelle Lefevre.

Cast:
Rachelle Lefevre sebagai Mary Kee
Stephen Moyer sebagai John Guidi
Lorna Raver sebagai Rose Lazar
Ed Quinn sebagai Steven Campbell
Luis Guzmán sebagai George

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Matthew Parkhill setelah Dot the I (2003).

W For Words:
Jika telepon dapat dikategorikan sebagai sebuah teror, anda akan mendapati suguhan thriller atau horor. Contoh dari klan thriller adalah Phone Booth (2002) atau Cellular (2004). Sedangkan dari klan horror, kita punya The Phone (2002) atau One Missed Call (2003) dari Korea dan Jepang. Bagaimana jika Puerto Rico mencoba melakukannya dengan mixed up thriller/horror yang beralaskan misteri? Maka didapatlah judul terbaru produksi kolaborasi Alcove Entertainment, Head Gear Films, Pimienta dan The Salt Company International ini yang terpaksa ‘ditinggalkan’ seorang aktris muda berbakat Hollywood.

Mary Kee baru saja bercerai dengan Steven Campbell meski sang suami masih kerap menyambanginya tanpa alasan. Pada suatu ketika, Mary mulai menerima telepon-telepon aneh dari wanita misterius yang mengaku bernama Rose Lazar. Ternyata Rose berasal dari masa lalu hingga tega meneror Mary yang dianggap mengabaikannya. Hubungan Mary yang baru dengan seorang guru bernama John Guido pun berantakan. Susah payah Mary berupaya memutuskan hubungan dengan Rose tetapi apa yang sedari awal ditakutkan terjadi juga. Siapa sesungguhnya Rose? 

Premis yang dimiliki Sergio Casci ini sesungguhnya menjanjikan. Sekelumit latar belakang yang minim di bagian pembuka seakan disengaja untuk memancing rasa penasaran penonton. Memang berhasil di awal tapi mulai mengganggu begitu memasuki pertengahan hingga akhir. Apa sebab? Petunjuk yang demikian sedikit terasa tak sebanding dengan durasi yang begitu panjang. Intensitasnya pun cenderung turun naik. Anda dipaksa untuk duduk manis menunggu telepon berdering di sepanjang film sambil berujar, "What's next?"

Sutradara Parkhill banyak memanfaatkan pencahayaan minimalis untuk mempertegas teror klastrofobik yang terjadi di dalam rumah. Ya sebagian besar di antaranya bahkan terjadi di malam hari. Tempo film yang cukup lambat berusaha disiasati dengan elemen-elemen klise nan mengejutkan seperti derit pintu, ketokan dinding, suara erangan dll. Kemunculan berbagai karakter pendamping memang menarik sebagai pengalih, hanya saja tidak ditunjang oleh karakteristik memadai yang tujuannya tentu saja memperkaya konflik.
Jangan salahkan Rachelle Lefevre yang sedang mencoba keluar dari bayang-bayang Twilight saga. Sebagai frontliner Mary Kee di sini, ia cukup solid menokohkan sejak menit pertama. Sikap tak berdaya menghadapi mantan suami penyiksa, keraguan mempercayakan hatinya lagi hingga rasa parno mendengar dering telepon dilakoninya dengan meyakinkan. Stephen Moyer yang kebagian peran John juga tidak mengecewakan. Lorna Raver yang sepanjang film hanya terdengar suaranya saja berhasil menuntaskan tugas dengan baik. They all should be appreciated eventhough relatively unknown.

The Caller seperti sudah disebutkan di atas merupakan film menarik berkelas medioker yang berangsur-angsur kehilangan daya tariknya seiring durasi bergulir. Suspensi yang disiapkan jadi tak ada artinya karena penonton kadung merasa bosan. Begitu banyak plot holes disana-sini tanpa adanya penjelasan logis antara dunia paralel masa silam dan masa kini kian memperburuk pemahaman twist yang sesungguhnya telah tersimpan rapat selama lebih kurang 53 menit. In the end, we will questioning like "is it worth staying on the line?" Well, i think you already knew the answer.

Durasi:
92
menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 02 Mei 2013

LAWLESS : Riveting Truth and Fiction Bootlegging Days


Quote:
Forrest Bondurant: Jack, look at me. We're survivors. We control the fear. And without the fear, we are all as good as dead. Do you understand? - Do you?

Nice-to-know:
Karakter Forrest Bondurant seharusnya lebih kurus tapi tubuh Tom Hardy membesar karena The Dark Knight Rises (2012).

Cast:
Shia LaBeouf sebagai Jack Bondurant
Tom Hardy sebagai Forrest Bondurant
Jason Clarke sebagai Howard Bondurant
Guy Pearce sebagai Charlie Rakes
Jessica Chastain sebagai Maggie Beauford
Mia Wasikowska sebagai Bertha Minnix

Dane DeHaan sebagai Cricket Pate
Gary Oldman sebagai Mason Wardell

Director:
Merupakan feature film kelima John Hillcoat setelah terakhir menangani The Road (2009).

W For Words:
Jika anda pernah membaca atau setidaknya mengetahui novel berjudul "The Wettest County in the World" (2008) karangan Matt Bondurant, bisa dipastikan bayangan kerasnya kondisi kehidupan negara barat pada masa lampau sedianya akan terpampang dalam benak. Sekadar catatan, Matt adalah cucu langsung dari Jack Bondurant yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam cerita. Nah film ini adalah adaptasi resmi yang skripnya ditulis oleh Nick Cave. Jajaran cast yang mengisi pun tidak main-main.  Penasaran?  You should be.

Tahun 1931 di Franklyn County, Virginia hiduplah tiga bersaudara Bondurant yang menjadi penguasa setempat, terima kasih pada Kepala Wilayah Mason Wardell yang korup. Si sulung, Forrest dikenal sebagai legenda karena selamat dari perang. Ia lantas jatuh hati pada Maggie, mantan penari yang bekerja di barnya. Si tengah, Howard adalah begundal tangguh yang sulit mengontrol emosi. Si bungsu, Jack dapat dikatakan pengecut bersama sahabat karibnya si pincang Cricket Pate. Ketenangan mereka mulai terusik saat Sherif Khusus, Charles Rakes bertekad menjalankan peraturannya.

Kisah nyata memang tak pernah mudah diterjemahkan. Namun sutradara Hillcoat tergolong berhasil melakukannya. Kita tak hanya disuguhi sepak terjang Bondurant bersaudara tetapi juga intrik politik yang terjadi di Franklin County. Sah-sah saja jika pada akhirnya ditambahkan beberapa elemen fiktif untuk memperkuat narasi. Pilihan warna-warni tonenya seakan menegaskan era The Great Depression yang cenderung naik turun bagi siapapun yang hidup di dalamnya. Menarik melihat panggung berlanskap yang begitu alami lengkap dengan nilai produksi yang tinggi.

Sebagai dua pihak berseberangan yang sudah memilih jalan hidupnya masing-masing, Hardy dan Pearce tampil menawan. Keberingasan Forrest (masih dalam bayang-bayang Bane) masih akan mengundang simpati penonton. Sedangkan kesadisan Charlie (masih terbawa sosok Killian) secara tidak langsung menggiring antipati pemirsa. Upaya LaBeouf untuk menokohkan Jack yang labil pantas diapresiasi karena berhasil menjembatani berbagai karakter dalam film. Sayangnya Clarke tidak mendapat porsi memadai untuk benar-benar unjuk gigi dibanding abang dan adiknya itu.

Chastain seperti biasa memperlihatkan kelasnya. Tak peduli seberapa minim kemunculannya, tokoh Maggie tetaplah penting untuk menunjukkan ‘peran wanita’ di antara dominasi pria sekalipun. Sedangkan Wasikowska kebagian karakter Bertha yang polos manis. Status scene-stealer patut dialamatkan terhadap DeHaan yang tampak begitu hidup sebagai si lugu timpang. Sayangnya aktor senior Oldman terkesan kurang diberdayakan di sini. Banyaknya nama yang terlibat membuat fokus utama dan tambahan silih berganti masuk demi penyesuaian konfliknya.

Lawless menghadapi tantangan sulit dalam penyajiannya. Bagaimana drama konspirasi harus tetap terkait erat dengan konten historis yang ada. Bagi saya tontonan yang satu ini tetap akan memorable karena akting mumpuni para cast dan strategi filmmaking cerdas sang sutradara. Belum lagi porsi kekerasan brutal yang tak jarang membuat penonton merasa gelisah di kursi masing-masing. Tak usah memungkiri keberpihakan anda pada keluarga Bondurant di masa jayanya yang tak taat hukum tersebut. You know that true-life is (always) stranger than fiction!

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$37.397.291 till Nov 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 01 Mei 2013

Nonton Gratis 3 Film Indonesia Terbaru

Bioskopers, menyambut rilis 3 @film_indonesia dalam satu hari untuk pertama kalinya, kita mau bagi-bagi tiket nonton nih. Caranya gampang kok.

1. Follow @film_bioskop
2. Tweet alasan kamu nonton film pilihan, salah satu dari (The Legend Of Trio Macan, Kisah 3 Titik, What They Don't Talk About When They Talk About Love) sebelum jam 10.30
Khusus domisili Jakarta saja ya.
3. Tweet jam tayang dan bioskop pilihanmu untuk hari ini.
The Legend of Trio Macan 
Cilandak: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Citra: 13.15-15.15-17.15-19.15-21.15
Kisah 3 Titik
Citra: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Blitz GI: 11.00-13.30-16.00-18.30
What They Don't Talk About When They Talk About Love
Kemang Village: 12.45-14.55-17.05-19.15-21.25
Blitz GI: 12.45-17.15-19.30-21.45
4. Jawaban terpilih akan diumumkan pukul 11 dimana masing-masing pemenang mendapat 2 tiket nonton. 
5. Ayo dukung terus film Indonesia berkibar di bioskop negeri sendiri.