XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 20 Oktober 2012

FRIENDS WITH KIDS : True Love, Marriage And Parenting In Discuss


Quotes: 
Ben: So, why didn't you guys ever even try to get together?
Jason Fryman: It's too much familiarity. It's like she's one of my limbs.
Ben: And that's bad, because...?
Jason Fryman: Because I hate myself.

Nice-to-know: 
Kristen Wiig, Maya Rudolph, Chris O'Dowd dan Jon Hamm semuanya pernah tampil bersama dalam Bridesmaids (2011).   

Cast: 

Adam Scott sebagai Jason Fryman
Jennifer Westfeldt sebagai Julie Keller
Maya Rudolph sebagai Leslie
Chris O'Dowd sebagai Alex
Kristen Wiig sebagai Missy
Jon Hamm sebagai Ben
Edward Burns sebagai Kurt
Megan Fox sebagai Mary Jane



Director: 
Jennifer Westfeldt yang lebih dikenal sebagai aktris ini memulai debut penyutradaraannya.

W For Words: 
Pernikahan bagi pria dan wanita di kota besar seperti New York mungkin bukan lagi sebuah tuntutan karena dapat mengubah kehidupan masing-masing. Tagline “Family doesn't always go according to plan“ dikemukakan dengan lugas oleh penulis skrip Jennifer Westfeldt yang juga menyutradarai dan membintangi sekaligus. Sayangnya film yang diproduksi oleh Locomotive, Points West Pictures dan Red Granite Pictures ini malah rilis terbatas di pasaran Amerika Serikat itu sendiri sehingga publisitasnya tidak terlalu luas apalagi diketahui luas oleh masyarakat.

Julie dan Jason adalah dua sahabat karib yang bertahan melajang di saat teman-teman mereka, Missy dan Ben serta Leslie & Alex sudah menikah. Tuntutan usia membuat keduanya mengambil keputusan gila yaitu melahirkan anak dan membesarkannya bersama! Lahirlah seorang putra bernama Joe. Awalnya pembagian tugas berjalan lancar sampai Jason berjumpa gadis idamannya yang juga aktris, Mary Jane dimana Julie bertemu lelaki impiannya yang juga duda beranak, Kurt. Akankah status mereka tetap seperti itu walaupun tuntutan perasaan dan masa depan semakin mendesak?

Skrip Westfeldt yang dikembangkan dari panggung teater ini sangat akurat dan relevan dengan kondisi kehidupan modern. Ben dan Missy adalah contoh nyata bahwa hubungan yang berapi-api di masa pacaran pada akhirnya bisa padam juga setelah memasuki jenjang pernikahan. Alex dan Leslie adalah umpama lain bahwa keharmonisan rumah tangga umumnya mulai luntur semenjak kehadiran anak. Pertukaran dialog di antara keenam orang dewasa mengenai karir, pernikahan dan membesarkan anak ini terbilang tajam, menertawakan sekaligus menohok dengan teramat jujur.

Kehidupan lajang tak jarang berarti kebebasan mencari pasangan termasuk urusan seks sekalipun. Konsep easy get, easy go banyak terjadi di masa sekarang yang serba egosentris ini sehingga membuat orang berubah menjadi “petualang” yang pada akhirnya mengindahkan kebutuhan berumah tangga. Jason adalah pria egois penyuka wanita seksi berdada besar sedangkan Julie adalah wanita sensitif pendamba pria kebapakan berpostur tinggi. Tanpa disadari sosok pasangan ideal yang selalu mereka cari itu sesungguhnya tak ada karena sesempurna apapun pasti memiliki kekurangan yang hakiki.

Saya mengagumi interaksi Westfeldt dan Scott disini. Mereka tampak saling melengkapi dengan plus minus dan pendirian masing-masing. Audiens akan jatuh cinta pada karakter keduanya sejak menit pertama. Lihat bagaimana perubahan emosi Jason ataupun Julie yang sangat bergantung pada timing seakan menegaskan peribahasa “A right person at the right moment”. O’Dowd dan Wiig juga mampu mencuri perhatian di setiap kemunculan mereka tanpa mengecilkan arti Rudolph dan Hamm. Sedangkan Burns dan Fox mampu menokohkan “perfect match” bagi Julie dan Jason sesuai talenta masing-masing.

Friends With Kids jelas komedi romantis wajib tonton di tahun 2012 bagi bff (best friends forever), terlebih penggunaan sudut pandang seimbang dari pria dan wanita ini. Peran seorang anak jelas penting sebagai perekat rumah tangga walau ironisnya kerapkali dianggap lebih penting daripada suami/istri itu sendiri. Pro dan kontra terhadap nilai keluarga dan struktur pembentuknya pun tak luput menjadi perhatian anda sehingga memberikan perspektif baru bagi yang (kebetulan) belum menjalani fase tersebut. Tenang, isu utama yaitu pencarian cinta sejati tak lantas tenggelam karenanya. Speaking about true love, marriage and parenting? Reality does bite!

Durasi: 
107 menit

U.S. Movie Box Office: 
$7,250,054 till June 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 19 Oktober 2012

PACARKU KUNTILANAK KEMBAR : Premis Daur Ulang Komedi Horor Gagal


Quotes:
Bodo: Seksi seksi.. Loe liat lukisan Monalisa aja mimisan!

Nice-to-know: 
Diproduksi oleh Studio Sembilan.

Cast: 
Nikita Mirzani sebagai Rosa/Rosi
Nicky Tirta sebagai Budi
Rizky Mocil sebagai Bodo

Director: 
Merupakan film keempat Nuri Dahlia di tahun 2012 setelah Mama Minta Pulsa.

W For Words: 
Jika biasanya ada trio pinpinbo, maka kali ini cuma ada dua. Jika biasanya ada satu sosok hantu, maka disini menjadi dua. Pada akhirnya sama saja toh? Produser tetap membayar 4 orang dengan asumsi Nikita Mirzani mendapat bayaran dobel atas peran gandanya, lumayan buat tabungan selama doi ada di bui. Oops, no offense. Ya, penulis skrip yang sepertinya ghost writer itu kembali lagi dengan gagasan horor komedi tematik yang sudah kadaluarsa semenjak kuntilanak bisa panjat pohon. Kapan itu terjadi jangan tanyakan pada saya.

Alkisah Budi yang ndeso berkawan dengan Bodo yang sesuai namanya. Keduanya kos dan kuliah di tempat yang sama serta melakukan aktifitas bersama-sama pula mulai dari mengumpulkan tugas ke dosen, menghindari tunggakan uang kos hingga cari pacar dengan kriteria di atas standar seharusnya. Alangkah senangnya saat pulang dari acara Kampus Nite di Seven Fly, keduanya bertemu Rosa dan Rosi yang bersedia menjadi pacar mereka tanpa syarat. Sesungguhnya kedua gadis cantik seksi itu adalah jelmaan kuntilanak kembar yang tengah menuntut balas pada Arnold dkk.

Kekuatan utama film ini jelas ada pada komedi yang tercipta lewat interaksi Budi dan Bodo dan horor yang terangkat melalui teror yang dilakukan Rosa dan Rosi. Saya harus katakan, keduanya gagal secara persentase keseluruhan. Hanya satu dua trik yang masih berhasil memancing tawa atau rasa takut. Selebihnya? Meh! Dialog garing dengan lelucon yang tidak lucu mendominasi layar, sama buruknya dengan spinning zoom penampakan rupa buruk kuntilanak berulang-ulang. Teknik terakhir ini mengingatkan saya terhadap kebodohan yang dilakukan KK Dheeraj dalam Genderuwo (2006).

Rupanya Rizky Mocil telah benar-benar melepaskan ciri khasnya selama ini yaitu rambut keriting kribo dan kacamata frame besar. Keputusan yang salah karena seiring perubahan itu, nuansa komediknya juga berkurang drastis. Yang tersisa tinggal suara sengau  yang tetap berupaya keras melontarkan humor spontan non efektif. Gantinya Nicky Tirta yang kali ini dikacamatai dan diubah aksennya menjadi Jawa kental. Kelambanan dan kepolosannya sedikit lebih menyenangkan tapi tak jarang berlebihan sehingga malah terkesan kemayu. Satu catatan positif, setidaknya Rizky dan Nicky cukup berhasil membangun chemistry.

Bagaimana dengan Nikita Mirzani? Ratu sensasi ini seperti halnya dalam Nenek Gayung (2012) ikhlas menokohkan manusia dan hantu sekaligus. Busana ketat nan minim yang menonjolkan payudara dan lekuk tubuhnya memang dianggap masih menjual. Namun stereotype aktingnya masih belum berubah. Teror yang dilakukan pun sangat sederhana, menipu calon korban dengan wujud cantik, berubah menjadi kuntilanak berwajah seram sebelum mengayunkan sabetan mautnya. Fungsi tokoh lain di luar mereka berempat sebatas numpang lewat saja demi memperpanjang durasi. Tidak heran!

Pacarku Kuntilanak Kembar adalah degradasi karya seorang “Nuri Dahlia”. Contoh nyata bagaimana industri ini tampak begitu putus asa dalam menelurkan konsep horor komedi yang fresh demi menjaring penonton dengan cara yang rendah. Premis daur ulang yang hanya akan menorehkan catatan hitam dalam sejarah perfilman Indonesia ini bahkan sudah salah dari penggunaan judul, “Pacarku” sebetulnya lebih tepat diganti dengan “Pacar kita” karena mengambil sudut pandang dua orang sekaligus yaitu Budi dan Bodo. Pada akhirnya, saya pun cuma bisa berucap, “Kasihan!”

Durasi:
90 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 18 Oktober 2012

GRABBERS : Enjoyable Creature Horror In Campy Ways


Quotes: 
Dr. Adam Smith: This is something completely different, something alien! In that it's undocumented, not from, you know...  

Nice-to-know: 
Sebelum syuting, sutradara Jon Wright mengajak Richard Coyle dan Ruth Bradley keluar minum dan memfilmkan keduanya saat mabuk. 

Cast: 

Richard Coyle sebagai Garda CiarĂ¡n O'Shea
Ruth Bradley sebagai Garda Lisa Nolan
Russell Tovey sebagai Dr. Adam Smith
Bronagh Gallagher sebagai Una Maher
Louis Dempsey sebagai Tadhg Murphy

Lalor Roddy sebagai
Paddy Barrett


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Jon Wright setelah Tormented (2009).

W For Words: 
Produksi keroyokan Forward Films, High Treason Productions, Irish Film Board, Nvizible dan Samson Films ini (lagi-lagi) mengetengahkan serbuan alien dalam wujud sejenis gurita. Ide yang muncul saat penulis skrip Kevin Lehane berkeliling dunia ala backpacker mendengar mitos bahwa memakan sejenis vitamin B yang disebut Marmite dapat menghindari gigitan nyamuk. Kala itulah ia berpikir bagaimana jika nyamuk mabuk setelah menyedot darah manusia. Premis itu kemudian dikembangkan menjadi skenario film Inggris berbujet 4 juta Poundsterling!

Sesuatu dari luar angkasa jatuh di perairan Irlandia yaitu kawanan gurita haus darah yang bisa meneror seantero warga di Pulau Erin. Petugas Garda lokal, Ciaran O’Shea bekerjasama dengan Lisa Nolan berupaya memecahkan misteri tersebut dengan mempelajari makhluk yang hanya bisa bertahan hidup dengan darah dan air itu. Ide gila yang muncul dari si pemabuk O’Shea adalah mengunci warga di bar Marley dan mengadakan pesta minum agar darah mereka terkontaminasi alkohol yang diyakini akan mematikan kawanan makhluk tersebut. Berhasilkah rencana tersebut? 

Harus diakui, gagasan film ini memang what the f*ck alias gila! Sutradara Wright mengeksekusinya dengan pas. Minimnya bujet memang terlihat dari sinematografi Trevor Forrest yang ala kadarnya, mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 80-90an. Meski demikian intensitas thriller tetap terjaga yang terkadang diselingi oleh komedi situasi yang tidak direncanakan. Visual dan spesial efek  “gurita” jantan dan betina beserta telur-telur dan bayi-bayi mereka setidaknya terlihat meyakinkan di layar, menciptakan teror tatkala dibutuhkan mulai dari cipratan darah hingga kepala menggelinding.

Tokoh-tokoh dalam film ini juga norak dengan keunikan masing-masing. Dr. Adam Smith yang spontan dan pelaut Paddy Barrett yang eksentrik akan membuat kening anda berkerut dengan tingkah mereka. Belum lagi deretan aktor-aktris uzur yang seliweran dengan amat fun nya. Namun perhatian penonton jelas jatuh pada duet Garda yang likeable, O’Shea dan Nolan yang chemistry nya secara pas dihidupkan oleh Coyle dan Bradley. Pada akhir film, anda akan berseru untuk mereka dalam perjuangannya mengalahkan gurita jantan raksasa itu bagaimanapun caranya.

Berbagai referensi  lawas juga dipunyai film ini. Anda akan melihat beberapa homages baik dari adegan ataupun percakapan seperti  The War of the Worlds (1953), Jaws (1975), Alien (1979), Gremlins (1984), Tremors (1990) serta yang terbaru Slither (2006). Lupakan kemiripan premis karena unsur alkohol lah yang membuatnya berbeda! Semakin mabuk maka tingkah laku dan celotehan para penghuni pulau di pesisir ini akan semakin tak terduga, semakin membuat anda terpingkal meskipun tak semua lrish jokes tersebut dapat diterima oleh nalar.

Grabbers terbukti setia pada pakemnya yang tidak berusaha ambisius. Jenis hiburan yang sejak awal disetel ke level medium dan berhasil mencapainya dengan baik. Anda boleh menertawakan plotnya, mengolok-olok logikanya, memandang rendah production value nya tetapi pada akhirnya mengakui bahwa sisi hiburan film yang diputar pada Edinburgh Film Festival ini amat memadai. Pesan saya cuma satu, jangan berharap terlalu tinggi. Grab this movie before it’s over. You will know how to get drunk and have some fun moments.

Durasi: 
94 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 17 Oktober 2012

SAMMY 2 : ESCAPE FROM PARADISE Sluggish Animation Still With Environmental Messages


Tagline: 
Watch and Sea.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh nWave Pictures, Illuminata Pictures, Motion Investment Group, BNP Paribas Fortis Film Fund, Le Tax Shelter du Gouvernement FĂ©dĂ©ral de Belgique dan uFilm ini sudah rilis di negara asalnya pada tanggal 15 Agustus 2012 yang lalu. 

Voice:
Pat Carroll
Carlos McCullers II
sebagai Ray
Cinda Adams sebagai Veterinarian
Dino Andrade sebagai Manuel Hogfish
Chris Andrew Ciulla sebagai Russian Snowcrab
Isabelle Fuhrman sebagai Shelly
Joe Thomas sebagai Lulu the Lobster
Billy Unger sebagai Sammy


Director: 

Merupakan feature film ketiga bagi Ben Stassen yang diawali dengan Fly Me to the Moon (2008).

W For Words: 
Kemunculan produksi Belgia, Sammy’s Adventure : The Secret Passage di tahun 2010 lalu rasanya tidak banyak dikenang (atau diketahui) orang. Saya pribadi hanya memberinya ponten 6.5 dan nyaris tertidur selama menyaksikannya karena bingung akan konsep animasi dokumenter yang diusungnya. Dua tahun kemudian, penulis skrip Domonic Paris dan sutradara Ben Stassen kembali lagi dengan premis yang tidak jauh berbeda yaitu isu lingkungan hidup yang terancam karena keegoisan manusia hingga merugikan ekosistem bawah laut. 

Dua kura-kura bersahabat karib, Sammy dan Ray tengah menggiring telur-telur cikal bakal cucu Ricky dan Ella menuju lautan bebas. Saat itulah mereka diganggu kawanan elang yang berniat menyantapnya. Ancaman lebih besar datang ketika sekawanan pemburu gelap menangkap mereka dan memenjarakannya di akuarium megah bawah laut penarik wisatawan di Dubai. Disana, Sammy berkenalan dengan si ikan buntal Jimbo, si lobster Lulu dan juga kuda laut pemimpin mereka Big D. Pelarian pun segera dirancang dimana kebebasan adalah tujuan akhirnya.

Jika pada prekuelnya membahas perjalanan besar Sammy kecil menjadi dewasa melewati berbagai macam perairan selama 50 tahun, maka kali ini rentang waktu dan ruang lingkupnya dipersempit. Hal ini menyebabkan sisi edukasinya tak lagi tercapai, tinggal menyisakan plot cerita yang usang, klise dan mudah diterka. Dialog yang tercipta antar karakternya pun hanya pengulangan belaka kalau tidak mau dikatakan tidak kreatif dan membosankan. Nyaris tak ada joke yang menggigit untuk menjaga rasa ketertarikan anda hingga akhir.

Satu-satunya yang pantas dihargai adalah kerja keras animator dalam mewujudkan obyek underwater yang memanjakan mata. Yang lebih mengesankan lagi adalah efek 3D nya yang membuat mereka semua tampak “bermunculan” di hadapan anda terlebih pada 15 menit pertama. Tatanan akuarium megah yang lebih mirip istana laut itu juga terbangun detail dengan segala seluk-beluknya mulai dari rongga pipa, saluran pembuangan, pintu air, pagar pembatas dan sebagainya yang menjadikan panggung aksi yang mengasyikkan mulai dari berenang hingga kejar-kejaran seru.


Sayangnya kelebihan itu masih tidak mampu menambal kelemahan alur cerita yang begitu kentara. Sammy’s Adventure 2 atau Sammy 2 : Escape From Paradise ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan standar animasi studio besar Hollywood jaman sekarang. Namun setidaknya pesan moral yang diembannya masih cukup efektif dicerna oleh penonton anak-anak pada khususnya. Kontribusi para pengisi suara juga tidak dapat diabaikan dimana kesemuanya terdengar wajar dan sesuai dengan situasi masing-masing. Tentunya suguhan musik Latin yang funky dan groovy juga semakin melengkapi. Actually i enjoyed this sequel slightly better than the previous one. Actually i enjoyed this sequel slightly better than the previous one. Don’t leave your cinema too soon for post-credit title scene.

Durasi: 
93 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 16 Oktober 2012

TALI POCONG PERAWAN 2 : Ritual Pikat Cowok Berbuntut Jerat Pocong


Quotes: 
Janet: Sebenarnya ada cara paling cepet buat kamu memikat cowok.
Tania: Apa?
Janet: Tali pocong perawan.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Movie Eight dan Unlimited Production ini screeningnya diselenggarakan di fX Platinum XXI pada tanggal 15 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Wiwid Gunawan sebagai Tania
Kartika Putri sebagai Grace
Nikita Mirzani sebagai Janet
Framly Nainggolan sebagai Jordy
Bella Esperance sebagai Ibu Tania
Icha Anisa sebagai Nisa

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Volkan Maida.

W For Words: 
Sejarah perfilman Indonesia mencatat bahwa pada tahun 2008 yang lalu ada sebuah horor urban legend yang berhasil mencatat jumlah penonton satu juta orang yaitu Tali Pocong Perawan dari rumah produksi Maxima Pictures. Empat tahun berlalu dan kondisi industri yang semakin sepi membuat para produser ingin mengambil jalan pintas dengan melanjutkan apa yang dulu pernah laris. Movie Eight yang notabene masih bagian dari Maxima secara total memperbarui konsep cerita walau masih dengan benang merah yang sama. Untuk itu ketidakhadiran tiga pemeran utama terdahulu bisa dimaklumi.

Tania adalah gadis introvert. Di rumah, ia harus mengurus ibunya yang sakit-sakitan terbaring di ranjang dengan temperamen tinggi. Di kantor, ia mesti menghadapi rekan-rekan kerja yang kerap menyudutkannya termasuk Grace, asisten Pak Jordy yang diam-diam dicintainya. Tetangganya Janet berupaya membantu Tania dengan memberi ide untuk memakai tali pocong perawan agar membuka auranya. Awalnya memang berhasil dimana hidup Tania berubah tapi keadaan tak bertahan lama terlebih ia kerap dikunjungi pocong Nisa yang menuntut talinya kembali. 

Bono Sutisno memang cukup cerdas menggabungkan berbagai elemen horor ke dalam skripnya. Tokoh Tania yang cenderung psycho karena sering mengamati idolanya diam-diam atau melukai dirinya sendiri sangatlah pantas menjadi sentral cerita. Selebihnya tinggal tambahkan tokoh-tokoh yang tidak menyenangkan seperti Grace ataupun Ibunya sendiri di samping tokoh-tokoh netral seperti sang penolong Janet dan sang pujaan Jordy. Saya menilai 80% film ini justru bergenre drama dimana unsur horor yang ada hanya sebagai pelengkap belaka.

Sutradara Volkan banyak dicurigai sama dengan sutradara prekuelnya yaitu Arie Azis. Jika benar rasanya tidak bijak menggunakan nama samaran untuk sesuatu yang kelasnya tidak jauh berbeda. Sekuensi cerita yang runut, tempo yang tepat dan editing yang lumayan rapi membuat narasi film ini mengalir lancar. Penampakan pocong perawan belia cukup meyakinkan walau suara yang mengisinya terlalu dewasa. Sayangnya transformasi sikap Ibu Tania dari awal ke akhir terasa dipaksakan, belum lagi penjelasan tidak penting yang dibabarkannya demi kebutuhan cerita. 

S
POILER ALERT! Masih banyak logika yang mengganjal dalam film ini. Kematian Grace karena (errr) tusuk rambut? Tali pocong yang bisa dikeluarkan lagi dari mulut Tania? Inkonsistensi sikap Janet yang awalnya menganjurkan tapi berbalik menyangkal? Fungsi Restu Sinaga sebagai teman Framlie? Apa yang membuat Tania berubah sesungguhnya, memakan tali pocong atau rombak penampilan? Apa maksud tanah bergetar di akhir cerita jika tidak berniat mengubur Tania hidup-hidup? Semua itu mungkin terkesan sepele tapi terbukti cukup mengusik intelejensi penonton kritis.

Tali Pocong Perawan 2 memang tak sampai membombardir penonton dengan teror suara” seperti prekuelnya. Namun beberapa penampakan terbukti hadir secara efektif sesuai dengan kapasitas. Kredit khusus bagi Wiwid Gunawan yang mampu memberi “nyawa” dalam peran Tania sekaligus menutupi kekurangan akting aktor-aktris lainnya. Franchise ini memang masih konsisten menawarkan mitos, horor, drama percintaan yang dibalut dengan (guess what) pesan moral yang melatarbelakanginya, sayang endingnya cenderung bermain “aman”. Terlepas dari status layak tonton, saya tidak menginginkan ada seri ketiganya.


Durasi: 
83 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 15 Oktober 2012

AIYYAA : Quirky Drama About Love At First Sniff


Quotes:
Meenakshi: Give me love and i’ll give you rice-cakes and pancakes..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Anurag Kashyap Films ini rilis di India pada tanggal 12 Oktober 2012

Cast: 

Rani Mukerji sebagai Meenakshi
Prithviraj Sukumaran sebagai Surya
Anita Date sebagai Mayna
Subodh Bhave sebagai Madhav
Nirmiti Sawant
Amey Wagh                      

Director: 
Merupakan feature film ketiga bagi Sachin Kundalkar setelah Gandha (2010).

W For Words: 
Distributor Viacom18 Motion Pictures khusus India tampaknya cukup percaya diri dengan premis cinta pada aroma pertama. Jelas bukan konsep love at first sight seperti kebanyakan film pada umumnya. Kisah ini sendiri merupakan pengembangan salah satu dari tiga cerita dalam omnibus Gandha (2010) yang kebetulan ditulis dan ditangani oleh sutradara yang sama. Banyak pihak mengatakan bahwa penunjukkan Rani Mukerji sebagai bintang utama memang dimaksudkan sebagai comeback aktris kelahiran Bengali tersebut. Will she rise again? 

Gadis sederhana yang memimpikan kehidupan glamor Bollywood, Meenakshi bekerja sebagai librarian di sebuah universitas. Ayah pecandu rokok, ibu penuntut pernikahan, adik penyayang anjing dan nenek bergigi emas yang rajin berkeliling dengan kursi roda selalu ada di sekelilingnya. Diam-diam, Meenakshi menyukai salah satu murid seni lukis bernama Surya yang misterius. Obsesi akan baunya yang khas membuat Meenakshi berupaya mencari informasi sebanyak mungkin. Ketika orangtuanya mengatur pertunangan dengan Madhav, Meenakshi harus segera menentukan pilihan hatinya.

Penulis sekaligus sutradara Kundalkar seakan memutar waktu kembali ke era 80-90an dengan tema perjodohan dan pencarian cinta yang kental. Sayangnya beberapa bagian dalam film terasa bertele-tele, belum lagi repetisi adegan pengejaran yang cukup mengganggu. Untungnya sinematografi Amalendu Choudary setidaknya mendukung nuansa lawas itu ditambah dengan kerapian editing kinerja Abhijeet Deshpande. Koreografi menarik karya Vaibhavi Merchant terutama dalam lagu Aga Bai berpadu manis dengan komposisi musik memikat dari Amit Trivedi. 

Tiga puluh menit pertama sudah menunjukkan absurditas film lewat perkenalan terhadap Meenakshi dan sederetan karakter ajaib lainnya. Sampai disini anda boleh mengambil keputusan apakah harus tetap tinggal di dalam gedung bioskop atau tidak. Konsekuensinya adalah waktu yang terbuang jika ide “surealis” sang filmmaker tidak sejalan dengan pikiran. Saya memilih untuk melanjutkan, berharap ada terobosan baru atau kejutan menyenangkan di akhir cerita. Turns out its twist ending will remind you of recent Thai/Korean romantic movies.

Rani Mukerji memberikan penampilan gemilang sebagai Meenakshi yang narsis dramatis dan memilih untuk mengikuti hati yang sebetulnya penuh keraguan. Anda dapat mengapresiasi aktingnya jika toleran terhadap puluhan ujaran “Aiyyaa” atau “Issh” di sepanjang film. Prithviraj yang seliweran dalam kebisuan lebih dari separuh film setidaknya mampu membawakan sosok Surya yang gelap dan dingin. Satish Alekar, Nirmiti Sawant, Ameya Wagh dan Jyoti Subhash melengkapi susunan keluarga unik bin ajaib. Sedangkan Date dan Bhave akan menarik perhatian anda dengan peran eksentrik Mayna dan simpatik Madhav.

Bagi sebagian besar penonton, Aiyyaa akan dianggap sebagai idealisme egois seorang Sachin Kundalkar yang tidak peduli karyanya dianggap aneh. Namun bagi penonton eksperimental, tentunya akan menemukan suatu semangat yang berbeda. Bagaimana tidak? Seorang perempuan yang dibesarkan dalam keluarga ortodoks nyatanya masih sanggup mengejar lelaki yang tidak menganggapnya samasekali. Tikungan seratus delapan puluh derajat di ending mungkin akan membuat mata anda terbelalak tapi jelas sepadan dengan usaha Mukerji untuk bertingkah ekstrim kali ini.

Durasi: 
149 menit

Hindi Box Office: 
6.25 crore in first week

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 14 Oktober 2012

LOOPER : Gripping Time Travel Tale About Hitman


Quotes:
Older Joe: I'm going to stop this guy. 
Joe: None of this concerns me... 
Older Joe: It is going to happen to you! 
Joe: It's going to happen to YOU, it's not going to happen to ME! 

Nice-to-know:
Adegan dimana Joe muda terjatuh menghindari ledakan bertepatan dengan hari ulang tahun ke-30 Joseph Gordon-Levitt. Ia lantas dibiarkan menggantung dengan kabel karena kru menyanyikan “Happy Birthday" sambil menyodorkan kue ulang tahun. 

Cast:
Joseph Gordon-Levitt sebagai Joe
Bruce Willis sebagai Old Joe
Emily Blunt sebagai Sara
Paul Dano sebagai Seth
Noah Segan sebagai Kid Blue
Piper Perabo sebagai Suzie
Jeff Daniels sebagai Abe 

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rian Johnson setelah Brick (2005) dan The Brothers Bloom (2008).

W For Words:
Science fiction dengan premis time travel memang tidak banyak. Oleh karena itu beberapa diantaranya tercatat sebagai cult movies sebut saja Terminator, Planet of the Apes, Star Trek dsb yang telah melahirkan berbagai seri. Namun untuk yang satu ini, referensi terdekat mungkin ada pada 12 Monkeys (1995). Selain sama-sama dibintangi Bruce Willis, duet Joseph Gordon-Levitt dan Emily Blunt yang telah memasuki jajaran bintang papan atas Hollywood mengingatkan anda pada Brad Pitt dan Madeleine Stowe di situasi yang kurang lebih sama pada masanya dahulu. 

2044, Joe adalah penembak jitu yang mengarungi perjalanan waktu untuk menghabisi target-targetnya dari masa depan. Ia dan looper-looper lainnya menikmati kehidupan mewah hasil bayaran tinggi yang didapat. Pada satu kesempatan, Joe tanpa sengaja membebaskan buruannya karena menyadari bahwa orang itu adalah dirinya sendiri dalam versi 30 tahun lebih tua. Keduanya lantas terlibat dalam permainan hidup dan mati sambil melibatkan nyawa seorang anak yang diyakini akan menjelma menjadi The Rainmaker di masa mendatang.

Upaya Gordon-Levitt untuk menyamakan penampilannya dengan Willis patut diacungi jempol (terima kasih pada hasil make-up Kazuhiro Tsuji). Aktingnya sebagai Joe muda kian matang dan dominan di setiap kemunculannya. Willis yang mulai menua terbukti masih tangguh dan cekatan sebagai Joe tua meski dengan gaya yang tak jauh berbeda. Sama halnya dengan Daniels sebagai antagonis Abe yang berdarah dingin. Blunt amatlah likeable sebagai ibu protektif yang keras kepala. Kredit tersendiri pantas dilayangkan bagi si cilik Gagnon yang mampu memberikan kesan polos dan misterius secara bersamaan. 

Satu-satunya komplain saya terhadap skrip yang brilian ini adalah paruh pertamanya yang terlalu naratif menjelaskan paradoks alam semesta, mitos dan kondisi yang dihadapi Joe. Beruntung di paruh kedua, tempo lebih efektif dalam bertutur sambil mempersempit karakter yang ada menuju klimaks yang ditunggu-tunggu itu. Kerumitan buah pikiran nan orisinil milik Johnson tersebut mampu diterjemahkan lewat cara yang paling sederhana sekalipun tanpa harus merendahkan intelejensi penonton.

Johnson yang juga bertindak sebagai sutradara sukses mengetengahkan konsep masa lalu, masa kini dan masa depan yang saling berkaitan. Bagaimana labirin pikirannya dituangkan ke dalam setiap potongan puzzle yang fasih bertutur membentuk sebuah pola tidak biasa. Pembagian ragam karakternya yang variatif terbilang seimbang. Elemen-elemen futuristik semisal sepeda terbang, telekinesis sampai senjata masa depan turut membangkitkan imajinasi. Penggunaan spesial efek juga tergolong maksimal, tidak melulu bombastis tapi tetap disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

Eksekusi Johnson yang rapi diikuti dengan koneksi past and future yang sinergis dari Gordon-Levitt dan Willis menjadikan Looper sebuah time travel sci-fi movie terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Perjalanan waktu yang akan membawa anda berputar-putar melihat masa depan secara antusias sambil melontarkan segudang pertanyaan yang turut terjawab pada akhirnya. Jangan lupakan endingnya yang emosional dan mind-blowing itu yang menegaskan hukum sebab akibat yang dapat mengubah segalanya. Beware that you might need second viewing to understand the concepts better!

Durasi:
118 menit

U.S. Movie Box Office:
$20,801,552 till September 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 13 Oktober 2012

BACHELORETTE : Raunchy Comedy About Vulnerable Ladies

Quotes:
Clyde: And you're wearing a dress? 
Gena: No, actually it's a t-shirt. 
Clyde: well, it's good to see you're still fighting the good fight against the tierney of pants. 

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Gary Sanchez Productions dan BCDF Pictures ini rilis di Amerika dalam format Video On Demand pada tanggal 10 Agustus 2012 yang lalu. 

Cast:
Kirsten Dunst sebagai Regan
Rebel Wilson sebagai Becky
Lizzy Caplan sebagai Gena
Isla Fisher sebagai Katie
Hayes MacArthur sebagai Dale
Kyle Bornheimer sebagai Joe
James Marsden sebagai Trevor 
Adam Scott sebagai Clyde

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Leslye Headland.

W For Words:
Entah harus malu karena ketinggalan atau bersyukur karena belum sempat menyaksikan Bridesmaids (2011). Setidaknya penilaian saya terhadap film produksi Gary Sanchez Productions DAN BCDF Pictures ini bersih dari pembandingan. Premis polah tingkah pendamping pengantin yang kacau selama ini berjalan dalam tradisi pria, sebut saja The Hangover (2009), sekuelnya The Hangover 2 (2011) atau dari negeri kanguru, A Few Best Men (2011). Tentu tidak ada salahnya jika kita menyaksikan versi wanitanya yang dijamin memberikan pemahaman berbeda. 

Regan mendapat telepon dari sahabatnya Becky bahwa ia akan menikah! Selain itu dua sahabat lainnya, Gena dan Katie juga diundang untuk menjadi pendamping wanita. Tidak mengejutkan mengingat mereka berempat adalah kawanan B-Girls semasa SMU. Permasalahannya, Becky yang mendapat julukan “pig face” adalah anggota yang paling tidak popular. Hal ini menimbulkan kecemburuan ketiga lainnya. Regan tak kunjung dinikahi kekasihnya, Katie yang sulit mendapatkan pria mapan, Gina yang belum mampu melupakan Clyde yang akan ditemuinya menjelang resepsi. Kekacauan demi kekacauan harus diselesaikan atau pernikahan Becky-Dale menjadi pertaruhannya.

Skrip yang didasari oleh stage play di Broadway milik Headland sebetulnya cukup menjanjikan dimana waktu yang diambil untuk bercerita hanya sehari semalam. Sisi gelap Regan, Gena dan Katie secara bergantian diekspos sehingga penonton tidak dipaksa untuk menyukai mereka melainkan melihat potret asli kehidupan wanita 30 tahunan pada umumnya. Sebagai padanan, Trevor, Joe dan Clyde juga disandingkan walau screen presencenya tidak terlalu dominan. Sang pengantin, Becky dan Dale adalah pasangan loveable sehingga penonton sulit untuk tidak mendukung keduanya. 

Headland yang juga merangkap sutradara berupaya membangun sisi feminin dari ketiga karakter utamanya termasuk pandangan stereotype masyarakat umum terhadapnya. Ya, pernikahan, gaun bagus, hotel mewah adalah dukungan terbaik bagi pengantin sempurna dan pendamping mumpuni. Demi menjaga ketertarikan penonton, ia mengandalkan pertukaran dialog cynical yang cukup menggigit di sepanjang durasi meski tak semua tepat sasaran. Salah satunya yang mudah diingat adalah teori oral seks panjang lebar dari Gina di atas pesawat yang sedang terbang! Wow!

Dari jajaran aktris, Dunst yang terlihat lebih tua mampu menjiwai leader of the pack bermuka dua. Caplan adalah favorit saya disini dengan frustrasi dan spontanitas yang kentara. Tidak halnya dengan Fisher yang tampak kacau dan putus asa. Wilson seperti biasa menjadi scene stealer meski susah senang sekalipun. Dari jajaran aktor, MacArthur dan Bornheimer memang mudah disukai. Scott paling menantang dengan pergeseran emosinya yang cukup kentara dari awal hingga akhir. Sedangkan Marsden tidak fungsional selain wajah tampan dengan kelakuan minus.

Bachelorette mungkin tidak memiliki esensi apa-apa untuk membuatnya likeable apalagimemorable. Namun pembahasan isu di antara Dunst-Fisher-Caplan mengenai wanita cantik, langsing dan sukses semestinya mudah mendapatkan jodoh mampu menjadi studi kasus yang menarik. Tidak pernah ada ukuran multak bagi seseorang dalam menemukan kebahagiaannya sendiri. Melakukan hal-hal bodoh untuk menjadi sempurna bukanlah jalan keluar yang bijak. Komedi yang sepintas kosong dan tidak memiliki hati ini nyatanya masih menyimpan pesan moral.It’s what we called realism in disguise! Being honest isn’t always stay true to yourself.

Durasi:
87 menit

Worldwide Box Office:
$418,268 till September 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 12 Oktober 2012

GO FOR IT! : Uninspired Dance Flick With Positive Messages



Tagline:
Follow your own beat. 

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Go For It! dan Sparkhope Entertainment ini sudah rilis di Amerikat Serikat pada tanggal 13 Mei 2011 yang lalu. 

Cast:
Aimee Garcia sebagai Carmen Salgado
Al Bandiero sebagai Frank Martin
Jossara Jinaro sebagai Loli
Gina Rodriguez sebagai Gina
Louie Alegria sebagai Pablo
Derrick Denicola sebagai Jared
Andres Perez-Molina sebagai Jesse Salgado

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Carmen Marron yang juga bertindak sebagai produser dan penulis skrip.

W For Words:
Jika sudah demikian banyak film bertemakan dance yang dibumbui dengan pencarian jati diri, cinta hingga ajang pembuktian lantas apa lagi yang tersisa? Film produksi Go For It! dan Sparkhope Entertainment ini setidaknya masih mencoba setia dengan pakem realita kehidupan remaja masa kini di jaman modern yang semakin keras meskipun didukung oleh muka-muka baru, bukan hanya di jajaran cast tetapi juga produser, penulis dan sutradara yang bukan kebetulan kalau kesemuanya satu nama!

Sesungguhnya Carmen adalah siswi yang cerdas walau berkelakuan buruk. Sang guru, Frank Martin mengetahuinya dan merekomendasikan dirinya mengikuti audisi sekolah dansa formal di California. Permasalahannya, Carmen harus mengikuti kemauan kedua orangtuanya yang menganjurkan pendidikan daripada seni tari underground yang dianggap tidak menjanjikan. Kekasihnya Jared dan sahabatnya Gina selalu setia mendukung Carmen meraih mimpi-mimpinya terlepas dari tantangan terbesar yang dihadapi.

Layaknya Carmen, skrip film ini tampak kebingungan menentukan identitasnya sendiri. Itulah sebabnya mood film ini kerap bergonti-ganti. Plot cerita semacam suasana keluarga besar yang tidak harmonis,  kondisi pembelajaran sekolah yang tidak kondusif, status sosial kekasih yang lebih tinggi, sahabat karib yang bermasalah, penyaluran hobi yang tidak konsisten, pengejaran mimpi yang belum jelas dsb silih berganti muncul. Semua hal tersebut diracik ke dalam paket "drama" komplit berdurasi 87 menit. At this point, you couldn't ask for more.

Sutradara Marron mengemas film dance yang terlihat dari design posternya itu tanpa menonjolkan adegan dance itu sendiri. Segmen yang menunjukkan itu terasa seperti tempelan belaka, bahkan sebagian besar tanpa kehadiran sang tokoh utama! Muncul sebentar dengan koreografi basa-basi lalu diedit secara kasar sebelum berpindah ke adegan lain. Tata musik dari Matthew Llewellyn dan Jack Rayner juga tidak cukup ear-catchy dan memorable apalagi sampai mengajak penonton bergoyang.

Aimee Garcia sudah berupaya semaksimal mungkin membawakan tokoh Carmen sesuai emosi yang diharapkan tapi sayang karakternya tidak terlalu likeable. Sahabatnya Gina dan kekasihnya Jared yang dihidupkan Rodriguez dan Denicola memang cukup mengundang simpati sesuai karakteristik yang telah disetting sedemikian rupa. Sama halnya dengan pemeran guru, Al Bandiero yang berkali-kali mencuri perhatian walau saya berharap ada konklusi tersendiri dari kompleksitas seorang Frank Martin yang sudah dibeberkan sejak menit pertama.

Nyaris tak ada yang tersisa dari Go For It selain 10-15 menit pamungkas terakhirnya yang lumayan inspiratif itu. Saya katakan begitu sebab filmmaker berniat positif mengajak kawula remaja (Amerika Latin pada khususnya) untuk membuat keputusan tegas demi masa depan mereka yang lebih baik. Selebihnya? Inkonsistensi drama tanpa tarian dan musik nan asyik bisa jadi akan membuat anda bosan dan tak jarang merasa dejavu dengan storytelling yang klise. Watch this only if u don't expect a vibrant dance flick like its' predecessor!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$172,687 till May 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 11 Oktober 2012

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH : Presentasi Inspiratif Mimpi dan Perjuangan


Quotes:
Mbah: Rejeki itu nggak pernah pergi, cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Humanplus Production ini screeningnya diadakan di Djakarta XXI pada tanggal 2 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Agus Kuncoro sebagai Bapak Agus
Donny Alamsyah sebagai Pegawai restoran Padang
Nina Tamam sebagai Ibu Agus
Iwuk Tamam sebagai Nenek Agus
M Syihab Imam Muttaqin sebagai Agus
Rizqullah Maulana Daffa sebagai Jono
Iqbal Zuhda Irsyad sebagai Puji
Dewi Wulandari Cahyaningrum sebagai Mey/Sri
Luh Monika Sokananta

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Eugene Panji yang juga bertindak sebagai produser.

W For Words: 
Pengertian cita-cita menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Tentunya anda masih ingat ketika duduk di bangku sekolah dasar, tenaga pengajar selalu menanyakan apa cita-cita masing-masing anak. Manfaatnya tentu saja untuk mengukur kemampuan sekaligus menetapkan tujuan yang mau dicapai sejak dini. Film segala umur produksi Humanplus ini mengambil sudut pandang anak-anak sehingga cocok menjadi tontonan seantero keluarga. 

Agus berasal dari keluarga sederhana di Muntilan. Ayahnya bekerja di pabrik tahu sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang terampil membuat tahu bacem. Suatu ketika ibu guru menugaskan murid-muridnya menulis karangan tentang cita-cita. Sri yang beken dipanggil Mey ingin menjadi artis terkenal dimana ibunya turut membantu, Jono yang selalu menjabat sebagai ketua kelas ingin menjadi tentara, Puji ingin selalu membahagiakan orang lain. Bagaimana dengan Agus? Ia hanya ingin makan di restoran Padang sehingga rela menabung setiap harinya untuk mewujudkannya.

Penata skrip Satriono mampu bertutur secara linier. Alur film mudah dinikmati layaknya air mengalir. Sentralisasi tokoh Agus yang dianggap memiliki cita-cita rendah tapi menyusahkan berhasil menjembatani konflik dengan karakter-karakter di sekitarnya yang juga variatif merepresentasikan dirinya masing-masing. Permasalahan yang diangkat memang tergolong ringan tetapi cukup untuk menyentuh perasaan penonton meski tanpa kehadiran satu sosok antagonis pun di sepanjang 82 menit durasinya.

Produser-sutradara Eugene Panji yang selama ini berkecimpung dalam pembuatan video klip musik terampil memaksimalkan setting Muntilan, Jawa Tengah sebagai panggung indah lengkap dengan segala atribut pendukungnya. Potret kehidupan sederhana di desa kecil di kaki gunung Merapi ini teramat kontras dengan kota besar yang selama ini anda kenal. Sebuah perbandingan nyata yang mungkin akan membuat anda lebih bersyukur. Lantunan suara merdu Endah dan Rhesa dari Bumble Bee Studio turut mengalun serta.

Sekolah akting yang dilakoni keempat bintang cilik selama setahun ini terbukti membantu mereka dalam menjiwai perannya. M Syihab berhasil menghidupkan sosok Agus dengan natural dimana tekad kuat dan kerja kerasnya pantas menjadi panutan. Dewi dengan impersonifikasi artisnya akan membuat anda terpingkal-pingkal. Rizqullah dan Iqbal juga bermain menggemaskan dengan kebiasaan masing-masing. Jangan lupakan kontribusi Agus Kuncoro, Donny Alamsyah serta ibu dan putrinya, Iwuk dan Nina Tamam sebagai wanita-wanita bersahaja.

Cita-citaku Setinggi Tanah akan membuka mata anda bahwa film “baik” itu pantas untuk dinikmati. Bukan hanya itu, 100% hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada Yayasan kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) demi memotivasi semangat mereka untuk melanjutkan hidup. Antara menginginkan dan mewujudkan tentunya ada proses yang harus dilalui. Kita lantas menyebutnya perjuangan dimana besar kecilnya usaha akan menentukan hasil akhir. Berhasil atau gagal ada di tangan anda. Wujudkan cita-cita, berawal dari kita, slogan penutup sempurna untuk sebuah presentasi inspiratif dari seorang Eugene Panji.

Durasi: 
82 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter: