XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 10 Oktober 2012

BANGKITNYA SUSTER GEPENG : Saatnya KKD Jungkir Balik dan Kita Bilang WOW


Quotes: 
Larasati: Keturunan Sato harus membayar janjinya.. atau mati!

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi olek K2K Productions ini screeningnya diselenggarakan di Kota Kasablanka XXI pada tanggal 10 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: Aelke Mariska sebagai Keiko
Baby Margareth sebagai Sita
Andreano Philip sebagai Dodo
Shidiq Kamidi sebagai Henry
Roro Fitria sebagai Suster Larasati
Jenny Cortez
Ozy Syahputra

Director: 
K-Team

W For Words: 
Urban legend yang selalu santer berhembus di kota Surabaya adalah suster gepeng yang mendiami Rumah Sakit Simpang dimana sekarang lokasinya telah digantikan oleh Delta Plaza. Produser berdarah India, KK Dheeraj yang sempat dituntut kasus pembohongan publik karena film terakhirnya di bulan Juni lalu itu kini merekayasa kisah melalui skrip yang katanya ditulis oleh Jane Yosijoko. Tidak ada yang tahu kebenarannya tapi eksperimen “ajib”nya jelas selalu ditunggu para penikmat film-film kacrut alias vividism. Apakah anda salah satunya?

Dalam perjalanan pulang dari clubbing, pasangan kekasih Keiko-Dodo dan Sita-Henry menerima transmisi radio dari jaman proklamasi kemerdekaan Indonesia dimana suara wanita mengancam mereka dalam bahasa Jepang. Konon kakek Keiko yang juga serdadu Jepang, Sato Hirosuke pernah menjalin asmara dengan suster Indonesia, Larasati. Hubungan yang kemudian diendus komandan Jepang sehingga menewaskan Larasati di dalam sebuah lift tepat di depan mata kepala Sato yang tidak berbuat apa-apa. Dendam harus dituntaskan dimana keturunan harus menanggungnya.

Seperti biasa logika cerita menjadi permasalahan utama. Tidak ada perbedaan setting dari transisi masa silam dan masa sekarang selain perbedaan warna yang tak terlalu kentara. Hospital Van Broug Center yang jadi panggungnya, entah ini bahasa penunjuk apa, malah terkesan seperti rumah biasa. Peperangan yang terjadi antara tentara Jepang dan Indonesia seharusnya bisa menjadi jualan utama tetapi saya merasa adegan ledakan dan tembakan seakan menjadi tempelan belaka, bahkan beberapa di antaranya seperti comotan dari film sejenis. Mudah-mudahan praduga ini tidak terbukti.
Sederetan turnover ini akan membuat otak anda jungkir balik dan berkata WOW! Simak yok!
1. Keiko dan Dodo yang berargumen saat ingin menghubungi kakeknya. Tinggal telepon saja, bodoh!
2. Keiko berupaya menyelamatkan Sita yang tenggelam di kolam renang dengan.. Err, samurai?
3. Suara narasi Sato saat suratnya dibaca oleh Larasati tidak konsisten. Kadang berbahasa Indonesia lancar, kadang terbata-bata. Dua orang yang berbeda?
4. Hantu Larasati yang merangkak keluar dari televisi lalu berjalan santai dengan gerakan patah-patah. Ini kombinasi The Ring dan Ju-On rupanya.

5. Serdadu Jepang yang awalnya ngotot menyiksa penduduk desa demi mendapatkan markas pemuda malah mengubah sasaran menjadi.. Suster Larasati! Who the hell is she?
6. Adegan peperangan antara Jepang dan Indonesia seperti terjadi di dimensi lain. Ada yang bisa jelaskan dari judul film mana itu terjadi?
7. Menempuh perjalanan dari Jakarta ke Karawang hanya dalam sekejap. Pertengkaran mereka sebelum memutuskan pergi bahkan lebih lama dari itu. Dodo dan Henry nyaris tonjok-tonjokan!
8. Tembang berbasis perjuangan pun berkumandang di penghujung film. Nasionalisme KKD yang tidak pada tempatnya. Dia berkebangsaan Indonesia atau India sih sebenarnya?
9. Kala pejuang Indonesia secara instan berbalik meraih kemenangan, mereka sukses menghabisi serdadu Jepang. Eh, Sato Hirosuke kok berhasil selamat?
10. Keiko dan Sita yang sempat ber”drama-ria” ketika melarikan diri dari rumah sakit. Dialog seperti “Aku pernah tidur dengan kekasihmu, Dodo” pun bergulir. Aaargh,kill these bitches please!

11. Hantu bocah lelaki yang berlarian dalam nuansa hijau itu siapa? Anak Suster Larasati? Emang dia hamil pas dibunuh? Terus sempet ngelahirin gitu di dalam lift? Otak gua rasanya pindah ke pantat.
12. Ojisan mungkin memiliki pintu kemana saja sehingga tepat waktu menyelamatkan cucunya dari Jepang ke Indonesia. Plok plok plok!

Itulah 12 pertanyaan yang harus dijawab oleh KK Dheeraj yang secara brilian membentuk nama “K-Team” untuk mengisi kursi sutradara. Jika sudah mendapatkan semua jawabannya maka Bangkitnya Suster Gepeng saya nyatakan sah sebagai film lokal terbaik tahun 2012 ini. Mari getok kepala, eh palu tiga kali tanda setuju. Bagaimana dengan “special return” nya Ozzy Syahputra? Dude, I feel sorry for you. Mari  dukung bangkitnya aksi pengecaman dan penolakan terhadap penayangan film ini demi memperbaiki imej suster gepeng! Yakusoku wa shakkindesu....inochi ga kiken narudarou! Jangan tanya artinya ya.

Durasi: 
77 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 09 Oktober 2012

THE RAVEN : Confusing Fact Or Fiction Resume Nothing

Tagline:
The only one who can stop a serial killer is the man who inspired him. 

Nice-to-know:
Ewan McGregor dan Jeremy Renner sedianya bermain sebagai Edgar Allan Poe dan Inspector Emmet Fields tetapi keduanya menarik diri. 

Cast:
John Cusack sebagai Edgar Allan Poe
Luke Evans sebagai Detective Fields
Alice Eve sebagai Emily Hamilton
Brendan Gleeson sebagai Captain Hamilton
Kevin McNally sebagai Maddux
Oliver Jackson-Cohen sebagai John Cantrell 

Director:
Merupakan film keempat bagi James McTeigue yang kondang lewat V For Vendetta  (2005).

W For Words:
Edgar Allan Poe dikenal dengan syair, cerpen, kritik hingga fiksi detektif, ilmiah dan criminal yang telah mengantarkannya menjadi salah satu pemimpin Gerakan Romantik Amerika. Sayangnya ia harus tutup usia pada tanggal 7 Oktober 1849 di umur 40 tahun karena sebab-sebab yang kurang jelas. Intrepid Pictures, FilmNation Entertainment, Galavis Film, Pioneer Pictures merekayasa kisah pria yang lahir di Boston ini ke dalam film bergenre mystery thriller. Bukan sesuatu yang asing mengingat beberapa waktu lalu sempat ada Abraham Lincoln : Vampire Hunter (2012).

Pertengahan tahun 1880, penyair Edgar Allan Poe mendapati seorang pembunuh serial tengah beraksi menggunakan metode pribadi yang diungkapkan melalui tulisan fiktifnya. Pembunuhan brutal yang terjadi membuat Detektif Fields dan Kapten Hamilton berinisiatif mengajaknya bekerjasama meringkus pembunuh tersebut yang tampak selalu selangkah lebih maju. Ketika kekasih Poe, Emily Hamilton menjadi target berikutnya, mereka harus berkejaran dengan waktu sebelum segalanya terlambat.

Kesalahan utama skrip karya Ben Livingston dan Hannah Shakespeare ini adalah berupaya menggabungkan fakta dengan fiksi. Biopik Poe terutama 10 hari terakhir dalam hidupnya seharusnya bisa menjadi suguhan menarik. Namun kasus pembunuhan unik nan kompleks yang kemudian diungkap dengan begitu instan pada akhirnya menghancurkan konsep thriller itu sendiri. Misteri yang coba digali pun cenderung datar mengingat begitu lemahnya pengembangan para karakter utama disini.

Cusack berhasil menghidupkan sosok Poe yang dikagumi termasuk lontaran kalimat-kalimat puitisnya yang sangat British itu tapi eksplorasinya sebagai peminum yang terkadang bersifat agresif tak jarang berlebihan. Evans menokohkan sosok Detektif Fields dengan fleksibilitas dan rasa penasaran tinggi tapi karismanya masih kalah dominan saat bersanding dengan Cusack. Eve menjadikan sosok Emily cantik menarik di luar fakta wajahnya yang kelewat modern. Gleeson membawakan sosok ayah Emily yang overprotektif dengan baik, tak terlalu mengherankan untuk aktor sekelasnya.


Sutradara McTeigue seakan kebingungan menentukan apakah filmnya mau dibawa menjadi film seni klasik atau sekadar horor ringan. Temponya juga terkesan bermasalah, terkadang terlalu lambat, terkadang malah mempercepat di saat penonton butuh waktu untuk mencerna teka-teki yang ada. Untungnya atmosfir Gothic yang melingkupi setting detil periode masa lampau masih mampu dihadirkan sebagai penyeimbang. Pembunuhan demi pembunuhan juga sukses memberikan unsur gory yang dibutuhkan, terutama pada segmen “The Pit and the Pendulum”.

Pada akhirnya mungkin banyak yang mengatakan bahwa The Raven adalah KW-1 nya Sherlock Holmes karena kemiripan premis dan settingnya. Materi yang begitu potensial gagal dieksploitasi sehingga menyisakan sedikit kejutan apalagi ketidakadaan twist yang biasa menyertai genre serupa. Mungkin hanya pihak yang tidak pernah mengetahui siapa Poe sebenarnya yang bisa bersikap netral dalam menilai film yang secara judul saja sudah tidak tepat ini. If you’re going for historical lessons about Edgar Allan Poe save the money and read his Wikipedia.

Durasi:
110 menit

Worldwide Box Office:
$22,485,095 till July 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 07 Oktober 2012

ENGLISH VINGLISH : Awareness Translation For One Woman’s Life


Quotes:
Shashi: Aku ingin menyelesaikan apa yang telah aku mulai sejak dulu yaitu menjadi ibu bagi anak-anakku..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Curbside Films dan Hope Productions ini telah rilis di India pada tanggal 5 Oktober 2012.

Cast:
Sridevi sebagai Shashi
Adil Hussain sebagai Satish
Priya Anand sebagai Radha
Mehdi Nebbou sebagai Laurent
Cory Hibbs sebagai David Fischer
Rajeev Ravindranathan sebagai Ramamurthy
Maria Romano sebagai Yu Son
Ruth Aguilar sebagai Eva
Ross Nathan sebagai Kevin
Damian Thompson sebagai
Udumbke

Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Gauri Shinde setelah Oh Man! (2001).

W For Words: 
Bagi sebagian besar negara-negara di Asia, bahasa Inggris telah menjadi bahasa kedua dan sudah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan anak sejak usia dini. Film terbaru produksi Curbside Films dan Hope Productions ini mengetengahkan premis tersebut yang dikombinasikan dengan nilai-nilai kekeluargaan terutama dari sudut pandang seorang ibu. Kembalinya peraih 2 penghargaan Filmfare Award, Sridevi ke layar lebar tentu menjadi nilai jual tersendiri yang tidak dapat diabaikan begitu saja oleh para penggemarnya.

Seorang istri dan ibu bagi putra-putrinya, Shashi menunjukkan dedikasi tinggi terhadap keluarganya. Keahliannya dalam memasak terutama laddoos mampu membuka catering kecil di rumahnya. Saat keponakannya yang akan menikah mengundang ke New York, Shashi sempat ragu karena tak bisa berbahasa Inggris. Meski demikian ia akhirnya berangkat dan menetap selama 6 minggu. Tekad kuat menggiring Shashi belajar bahasa secara instan hingga mempertemukannya dengan teman-teman baru dari berbagai negara termasuk Laurent, koki Perancis yang menaruh hati padanya. 

Kali ini Gauri Shinde yang juga menulis sekaligus menyutradarai samasekali tidak melupakan akar budaya India dalam bertutur. Bagaimana aspek kekeluargaan dapat ditampilkan secara seimbang dari sisi plus minusnya. Pengenalan laddoos, semacam snack manis untuk desert seakan menjadi simbol khusus akan citarasa kuliner India. Filtrasi kehidupan Amerika Serikat yang terwakili oleh setting kota New York juga sedikit banyak menyentuh topik kebebasan dan keterbukaan. Narasi dan storytellingnya mampu menjelmakan sosok heroine yang begitu membumi dalam kehidupan sehari-hari.

Sridevi belum kehilangan pesonanya. Peran Shashi ibarat magnet yang mampu menarik hati siapapun. Seorang istri sekaligus ibu India konvensional yang harus menyesuaikan diri dengan tekanan tradisi modern yang melingkupinya. Rasa malu dan rendah diri yang wajib diatasinya. Bagaimana pilihan hidup sekaligus pengambilan keputusan menjadi dua hal krusial yang pantas direnungi bersama. Para pendukung lainnya juga mampu menunaikan tugas masing-masing tatkala bersanding dengan Sridevi terutama Nebbou yang sukses memberi kelembutan dan emosi yang dibutuhkan bagi tokoh Laurent.

Infusi ragam karakter tercermin dari latar belakang rekan-rekan belajar Shashi di sekolah bahasa New York tersebut mulai dari Perancis, China, Mexico, Bangladesh, Pakistan, Inggris dsb. Pelafalan kata/kalimat atau ketidakfasihan berbicara dalam bahasa Inggris memang menjadi menu utama yang mudah saja ditertawakan tapi tidak sampai kelewat batas. Sutradara memperhalus realism yang ada sambil menggabungkan unsur dunia Timur dan Barat tanpa harus kehilangan identitas awal. 

English Vinglish adalah salah satu film India terbaik tahun ini lewat kesahajaan premis dan kejujuran eksekusi. Sridevi menuntaskan misinya sebagai istri, ibu, bibi, saudara, teman, murid dalam sampul wanita India yang menjunjung tinggi kehormatan dan penghormatannya. Transformasi yang dibangun lewat langkah kecil sampai berujung pada kebanggaan dan kepercayaan diri sebagaimana mestinya. Tak lupa esensi penting juga menyertainya, ketika kata ajaib sederhana seperti “sorry” dan “thank you” terhadap orang-orang terdekat kita seringkali terlupakan begitu saja. There’s no doubt that this movie is dedicated to every woman in the world! Love ‘em with all your heart.

Durasi: 
129 menit

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 06 Oktober 2012

TAKEN 2 : Downgrade Repetition Of Lethal Neeson


Quotes:
Bryan Mills: If I kill you, your other sons will come and seek revenge? 
Murad: They will... 
Bryan Mills: And I will kill them too. 

Nice-to-know:
Menurut sang penulis, Luc Besson, ini akan menjadi sekuel satu-satunya.

Cast:
Liam Neeson sebagai Bryan Mills
Maggie Grace sebagai Kim
Famke Janssen sebagai Lenore
Leland Orser sebagai Sam
Jon Gries sebagai Casey
D.B. Sweeney sebagai Bernie
Rade Serbedzija sebagai Murad Krasniqi

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Olivier Megaton setelah Colombiana (2011).

W For Words:
Masih ingat dengan action thriller yang sepadan dengan bumbu drama yang melingkupi dalam Taken (2008) dari produser bertangan dingin Luc Besson? Saya yakin moviefreak pasti mengingatnya dengan jelas bagaimana seorang Liam Neeson mengobrak-abrik seantero kota Paris untuk mencari putrinya yang disekap oleh sindikat human trafficking internasional. Empat tahun kemudian, muncullah sekuelnya dengan premis balas dendam yang kental. Would it still be engaging for audiences like before? You have to see this to answer.

Bryan Mills masih menjalankan peran ayah dan mantan suami yang baik bagi putrinya Kim dan istrinya Lenore sehingga mengajak keduanya untuk berlibur di Instanbul selepas tugas pengawalan yang diembannya. Suasana yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk ketika ketua Mafia Albania, Murad Hoxha berniat meringkus ketiganya sebagai aksi balas dendam putranya yang tewas di tangan Bryan empat tahun lalu. Lenore yang diculik, Kim yang diburu membuat Bryan harus menggunakan keahliannya sekali lagi.

Skrip yang ditulis oleh Besson bersama Robert Mark Kamen ini memulai dengan rutinitas "biasa" seorang family man yang sebetulnya tidak terlalu penting. Barulah pada satu jam terakhir, Bryan Mills harus berjibaku menggunakan segala ketangkasan dan pengalaman yang dimilikinya menghadapi deretan musuh yang hanya menawarkan "sedikit" tantangan baginya. Jika Taken (2008) masih menyimpan suspensi menuju epilog, tidak halnya dengan sekuelnya ini yang begitu predictable di saat begitu banyak aspek yang bisa digali untuk kompleksitas lebih.

Sutradara Megaton tampak mempersiapkan set lokasi yang lebih baik dibanding prekuelnya tapi sayang tidak diikuti oleh koreografi beladiri yang lebih keras. Kerapkali permainan kamera yang shaky atau cut-to-cut editing digunakan untuk menyamarkan kelemahan tersebut sehingga ketangguhan seorang Bryan Mills seakan tersembunyikan. Perpindahan frame dari Kim ke Lennie atau sebaliknya pun sering tidak mulus, menimbulkan jeda fokus yang sulit dihindari, yang kemudian berimbas pada timing yang terlalu cepat/lambat.

Neeson memang belum kehilangan karismanya sebagai jagoan tapi saya justru merasa ia sedikit lambat dan rapuh disini. Salahkan skrip atau kapabilitas sutradara jika boleh. Janssen yang bertindak sebagai korban tidak memberikan banyak pengaruh selain mengaduh atau berteriak. Justru Grace yang mendapat pengembangan karakter berlebih baik sebagai pihak yang terancam sekaligus pendamping sang hero di lain kesempatan. Tidak ada sosok antagonis yang pantas diingat atau bahkan ditakuti kali ini meski Serbedzija cukup berhasil memberikan warna.

Sebagian besar Taken 2 cuma berisikan backtracking dan juga pengulangan formula dari yang sudah-sudah. Adegan penutupnya terbilang antiklimaks, justru adegan kejar-kejaran mobil di sepanjang jalan Istanbul yang ramai itulah yang membuat jantung saya berdegup kencang. Secara keseluruhan masih memuaskan para pecinta genre ini tapi tidak terlalu memenuhi ekspektasi mereka yang sudah teramat mencintai prekuelnya tersebut. Koneksi setia dengan cerita original mungkin satu-satunya benang merah yang membuat franchise ini menuai sukses dan konon akan berlanjut pada tahun 2014 mendatang. We may hope for even better sequel for sure!

Durasi:
91 menit

U.S. Movie Box Office:
$49,514,769 till October 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 05 Oktober 2012

FINDING NEMO 3D : Quality Post-Conversion Enrich Your Vision


Quotes: 
Marlin: I can't read human.
Dory: Then we need to find a fish that can read this. Hey, look! Sharks!

Nice-to-know: 
Didedikasikan untuk mengenang Glenn McQueen (1960-2002), seorang animator Pixar yang namanya kemudian menjadi Lightning McQueen dalam Cars.

Voice:
Albert Brooks sebagai Marlin
Ellen DeGeneres sebagai Dory
Alexander Gould sebagai Nemo
Willem Dafoe sebagai Gill
Brad Garrett sebagai Bloat
Allison Janney sebagai
Peach

Director: 

Merupakan kerjasama pertama bagi Andrew Stanton dan Lee Unkrich.

W For Words: 
Film dengan pembukaan terbesar sepanjang sejarah animasi pada masanya ini telah menetapkan standar tersendiri bagi premis serupa yang kemudian bermunculan, sebut saja Shark Tale (2004), Sammy’s Adventure (2010) dan sederetan judul lainnya. Setelah nyaris satu dekade sukses dalam peredaran dvd, blu-ray, komik, merchandise serta sejumlah bentuk lainnya, Walt Disney dan Pixar sepakat melakukan konversi 3D dan mengedarkannya kembali secara terbatas di bioskop. Apakah anda masih merasa perlu menontonnya jika demikian? Yes, you should!
Sebagai bonus alias tradisi film pendek pembuka, kali ini “Partysaurus Rex” akan membuat anda tertawa sambil bergoyang. Tokoh Rex yang juga anggota dari keluarga besar Toy Story kerap dituding sebagai penghancur pesta. Suatu saat ia menyelinap ke dalam kamar mandi dan menemukan sekelompok mainan yang hanya bisa bersenang-senang selama 15 menit per harinya. Rex melakukan upaya terbaiknya untuk membahagiakan mereka hingga akhirnya mendapat julukan pemeriah pesta sebelum tindakannya tersebut mulai ke luar batas.

Mari kembali lagi kisah pada sepasang ikan badut ayah dan anak yang menemui petualangan masing-masing. Nemo berjumpa dengan Gill, Bloat, Peach, Gurgle, Bubbles, Deb/Flo di akuarium milik seorang dokter gigi. Sedangkan Marlin bersua dengan Dory yang mengidap short term memory lost. Keduanya sama-sama berjuang demi kebebasan sekaligus pertemuan kembali walau harus menghadapi ancaman maut yang tidak ringan. Bagaimana skrip karya Andrew Stanton, Bob Peterson dan David Reynolds bertutur secara seimbang dan efektif untuk segala kalangan usia.

Nostalgia anda akan kembali saat menyaksikan beberapa karakter pendukung yang sukses mencuri perhatian terlepas dari minimnya screentime mulai dari si pelikan Nigel, si penyu Crush, kumpulan kepiting jago kungfu, gerombolan merpati bersuara unik sampai si kecil penyiksa binatang Darla yang kemunculannya selalu ditandai dengan scoring musik dari Psycho (1960). Pesan moral yang disampaikan pun jelas tanpa mesti terkesan menggurui sehingga film ini menuai review positif serta disukai kritikus dan publik tanpa terkecuali.

Konversi 3D yang dilakukan tergolong memuaskan dibanding upaya sejenis pada umumnya. Pixar tampak memperbaiki kualitas gambar disana-sini secara detail, scene per scene sesuai posisinya baik foreground maupun background. Kedalaman gambar tercipta meski tidak sampai mengakibatkan timbulnya obyek-obyek terkait. Toh kekayaan warna yang dimiliki sudah cukup memanjakan mata penonton. Petualangan bawah laut ini seakan mengajak anda mengarungi samudera atau akuarium dengan mata kepala sendiri sambil merasakan kesenangan dan ketegangan sekaligus.

Tidak ada adegan tambahan atau perpanjangan durasi, Finding Nemo 3D tetap setia pada versi originalnya. Sebuah karya cult yang tetap layak diapresiasi dan disaksikan di layar besar baik oleh penonton lama ataupun baru. Harus diakui, tahun-tahun berlalu yang banyak diisi oleh film-film sejenis dengan kualitas lebih buruk memang sedikit mengurangi kenikmatan saya menontonnya dibandingkan kali pertama tahun 2003. Well, fortunately its’ rich visual enhancement and quality post-conversion will satisfy you better. Put on your 3D glasses please!

Durasi: 
100 menit

Worldwide Movie Box Office: 
$867,893,978 till Nov 2011)

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 04 Oktober 2012

RUMAH KENTANG : Horor Kentang Tanpa Aroma dan Impresi


Quotes:
Farah: Kamu benar Rika, kita gak sendirian di rumah itu. Cerita tentang rumah kentang itu benar.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi
oleh Hitmaker Studios ini gala premierenya diadakan di Senayan City XXI pada tanggal 28 September 2012 yang lalu.

Cast:
Shandy Aulia
sebagai Farah
Tasya Kamila sebagai Rika
Chintami Atmanegara sebagai Tante Anti
Sonia Wibisono sebagai Dokter
Gilang Dirgahari sebagai Arman
Ki Kusumo sebagai Pak Hadi


Director:
Merupakan film kedua Jose Poernomo di tahun 2012 setelah Pulau Hantu 3.

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal legenda rumah kentang yang santer dari era 1990-2000an? Rumah mewah yang terletak di bilangan Dharmawangsa Square itu tak ada yang berani meninggali karena selalu tercium bau kentang dari dalam. Konon ada seorang bocah yang tewas karena terjatuh ke dalam panci saat merebus kentang. Dari dulu saya selalu berpikir, sebesar apa pancinya? Rasa penasaran yang selalu saya simpan tanpa berani crosscheck sendiri ke lokasi. Bukan apa-apa, sebagai orang “sensitif”, saya tidak mau bermain-main dengan hal-hal berbau supernatural. Lebih dari satu dekade kemudian, muncullah adaptasi film layar lebarnya. Penasaran?

Suatu pagi, Farah terbangun dari tidurnya mendengar kabar duka bahwa ibunya meninggal karena kecelakaan mobil. Nyaris tak ada harta yang ditinggalkan kecuali rumah warisan yang tidak pernah laku dijual. Mau tak mau, Farah mengajak adiknya, Rika untuk sementara pindah kesana. Kondisi buruk perlahan diperbaiki Dua gadis harus bertahan hidup setelah kedua orangtuanya wafat. Karena tidak mampu membayar uang kontrak rumah, keduanya  tinggal di sebuah rumah warisan ibu mereka yang berada di kawasan cukup elit di Jakarta Selatan. Rumah itu awalnya direncanakan untuk investasi, namun tidak pernah laku terjual. Keduanya mengalami hal-hal yang ganjil ketika mendiami rumah tersebut.

Riheam Junianto. Berapa dari anda yang pernah mendengar namanya sebelumnya?  Penulis skrip yang satu ini memiliki masalah storytelling yang cukup serius. Pemilihan bahasanya pun masih terlalu baku sehingga mengalir kaku di telinga pendengarnya. Sekuens ruang plot demi plotnya terasa kurang mengalir di sepanjang durasi padahal waktu tergolong cukup untuk dimanfaatkan secara lebih efektif. Terkadang jalan cerita malah dituturkan langsung oleh karakter-karakternya lewat dialog panjang lebar tanpa relevansi yang masuk akal. Ingin melihat polisi membuat pernyataan hal-hal gaib? Anda akan menemukan disini. 

Sutradara Jose memang berupaya melakukan eksekusi terbaiknya untuk premis yang tergolong sulit diwujudkan. Mengapa tidak? Teror aroma kentang tentunya mengandalkan indera penciuman yang tak mungkin dirasakan penonton. Selain itu wujud fisik ribuan kentang yang tersebar dimana-mana rasanya susah menimbulkan paranoid akut. Alih-alih konyol jatuhnya. Namun penampakan hantu ciliknya memang cukup mendirikan bulu kuduk meski hanya bagian tubuh tertentu. Sekadar catatan kecil, Jose melakukan banyak bloopers di film ini. Tugas anda untuk menemukannya!

Entah harus menyalahkan Shandy Aulia atau tidak jika sebagian besar dialog yang diucapkannya sering tidak tepat sasaran. Belum lagi reaksi ketakutannya yang kurang wajar di saat aspek inilah yang paling diharapkan darinya. Pelik untuk menilai akting Tasya karena porsinya yang minor. Namun sejauh ini saya tidak melihat kemajuan berarti. Gilang malah terlihat lebih pas dimana kemauannya untuk ditarik dan diseret habis-habisan pantas mendapat kredit tersendiri. Nama-nama lain di luar ketiga itu juga gagal memberikan kontribusi signifikan.

Rumah Kentang sebaiknya tetap dibiarkan menjadi urban legend. Adaptasi film yang "kentang" alias tanggung tidak menyuguhkan pemaham baru bagi penontonnya. Tidak menyeramkan tetapi menggelikan karena begitu banyak minusnya. Satu lagi yang tak termaafkan adalah kemalasan filmmaker menyajikan flashback mengenai kronologis akhir hayat anak kecil tersebut. You owe the audience for sure. Terakhir, media film seharusnya dapat lebih eksperimental, tanpa harus selalu terpaku dengan kenyataan yang berlaku saja.

Durasi:
1
05 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
 

Rabu, 03 Oktober 2012

PERAHU KERTAS PART 2 : Berlabuh Tambatkan Hati dan Perasaan


Quotes: 
Remi: Cari orang yang bisa kasih kamu segala-galanya tanpa kamu harus minta.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi kolaborasi oleh Starvision, Bentang Pictures dan Dapur Film ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 1 Oktober 2012.

Cast: 
Maudy Ayunda sebagai Kugy
Adipati Dolken sebagai Keenan
Reza Rahadian sebagai Remi
Elyzia Mulachela sebagai Luhde
Sylvia Fully R sebagai Noni
Fauzan Smith sebagai Eko
Ira Wibowo sebagai Lena
Tio Pakusadewo sebagai Wayan
August Melasz sebagai Adri

Director: 
Hanung Bramantyo mengawali karir penyutradaraannya lewat dua film di tahun 2004 yaitu Brownies dan Catatan Akhir Sekolah.

W For Words: 
Jika Perahu Kertas Part 1 sudah berlayar menghanyutkan mimpi dan cinta dengan hasil lebih dari lima ratus ribu penonton selama periode penayangan libur Lebaran 2012 yang lalu maka kelanjutannya tentu layak ditunggu. Akankah Kugy dan Keenan dapat bersatu pada akhirnya? Itulah yang menjadi pertanyaan anda semua. Presentasi yang menyisakan seperempat novelnya akan berusaha dijawab oleh sang sutradara, Hanung Bramantyo dan empunya cerita, Dewi Lestari dalam film berdurasi lebih kurang 105 menit ini. Penasaran?

Ketika Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy, timbul ide mereka untuk menerbitkan cerita anak yang selama ini diidam-idamkan. Kesibukan itu mengganggu pekerjaan Kugy di AdVocaDo sehingga banyak karyawan menyorot hubungannya dengan Remi. Liburan ke Bali yang dimanfaatkan untuk refreshing malah mempertemukan Kugy dengan Luhde di pura.Saat itulah semua rahasia terbongkar. Keenan berupaya menetapkan hatinya, demikian pula dengan Remi berusaha membuktikan keseriusan cintanya. Mungkinkah empat hati tersebut menemukan pasangan sejatinya?

Karakteristik yang sudah terbangun di bagian pertamanya membuat Hanung lebih leluasa untuk mengeksplorasi ruang perasaan empat tokoh utama disini. Memori masa lampau yang terus membekas di hati tak ayal menimbulkan keraguan untuk melangkah ke depan. Lihat bagaimana sulitnya Keenan meyakinkan Luhde bahwa ia tak perlu menjadi orang lain untuk dicintainya, atau susahnya Remi memastikan Kugy bahwa dirinya adalah orang yang tepat untuk dipilihnya. Tarik ulur konflik tersebut bergulir secara bergantian untuk memberikan sudut pandang terbaik dalam takaran seimbang.

Dialog merupakan kekuatan utama di bagian keduanya ini. Lontaran isi hati acapkali menusuk kalbu karena kejujuran yang mengiringi. Sayangnya momen-momen yang sudah dikondisikan untuk itu terkadang dirusak oleh perpindahan fokus yang kurang berarti. Tak jarang penonton malah tertawa saat seharusnya dituntut meresapi maknanya dalam-dalam. Tata musik dari Andhika Triyadi masih memberikan nuansa menggetarkan yang sama, berpadu cantik dengan tata kamera dari Faozan Rizal dan penyuntingan mulus dari Cesa David Luckmansyah.

Maudy, Adipati, Reza, Elyzia berhasil melalui transisi remaja di bagian pertama untuk melebur ke dalam fase dewasa muda disini. Kedewasaan Kugy, Keenan, Remi dan Luhde kian terasa tatkala dihadapkan pada problema cinta. Mereka tidak memilih untuk galau atau menangis tetapi bersikap tegar dan terus melangkah dengan pilihannya masing-masing. Intervensi kisah dari tokoh Wayan, Lena dan Adri di penghujung justru semakin memperkaya pemahaman bahwa setiap keputusan harus didasari pada konsekuensi dan tanggungjawab kelak. 

Perahu Kertas Part 2 ini memang lebih sederhana dibandingkan Part 1 nya. Fokus yang lebih sempit membuat ruang gerak menjadi lebih terkendali. Hanya saja tarik ulur yang terlalu detail mengenai arah hubungan Kugy dan Keenan bagi sebagian penonton bisa jadi bertele-tele dan membosankan. Penutupnya pun berlangsung sekejap tanpa kesan mendalam, layaknya kita menjentikkan jari tangan. Sebuah umpama tafsir perasaan yang mengikuti kata hati dan tidak, semua kembali lagi pada pribadi yang menjalaninya. Pelabuhan terakhir jelas tujuan agen Neptunus yang satu ini, dengan atau tanpa radar.

Durasi: 
105 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 02 Oktober 2012

BUNRAKU : Visually Good Quirky Mixed Genres


Quotes: 
Yoshi: Great lessons are often found in defeat.

Nice-to-know: 
Judul film ini didasarkan pada teater boneka Jepang yang sudah berusia lebih dari 400 tahun termasuk mempengaruhi gaya penceritaannya.

Cast: 
Josh Hartnett sebagai The Drifter
Gackt sebagai Yoshi
Woody Harrelson sebagai The Bartender
Ron Perlman sebagai Nicola
Kevin McKidd sebagai Killer No. 2
Demi Moore sebagai Alexandra


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Guy Moshe setelah Holly (2009).

W For Words: 
Menilik judul dan posternya, anda bisa jadi membayangkan sebuah fighting championships yang biasanya menghadapkan dua tokoh utamanya di final. Dugaan itu nyaris benar melihat nama Yoshi dan The Drifter yang dominan di sepanjang film. Namun sesungguhnya cerita yang disusun oleh Boaz Davidson yang kemudian dikembangkan dalam bentuk skrip oleh Guy Moshe ini mengambil setting dunia post-apocalyptic. Jajaran cast ternama yang cukup menjanjikan adalah alasan lain yang membuat anda tertarik menyaksikan produksi patungan Snoot Entertainment, Picturesque Films dan Ram Bergman Productions tersebut.

Nicola alias the Woodcutter merupakan sosok penguasa terhebat yang disegani di dunia. Tangan kanannya, Killer No. 2 beserta delapan pembunuh handal lain justru semakin melengkapi kedigdayaannya. Pada suatu ketika, muncul pengembara asing yang dikenal sebagai The Drifter, samurai misterius bernama Yoshi (Gackt) dan juga bartender berdarah dingin dari Horseless Horseman Saloon dimana ketiganya ternyata menguasai kemampuan di atas rata-rata. Mampukah hegemoni Nicola ditaklukkan pada akhirnya? 

Sutradara Moshe sukses menciptakan dunia baru dalam nuansa origami yang stylish ke dalam filmnya termasuk sekelumit animasi yang membukanya. Tampilan warna-warni ala komik dengan dominan biru dan merah berhasil menciptakan visual yang menarik. Belum lagi efek suara ala video game yang menyertai setiap adegan pertarungan yang mencampuradukkan elemen dari film-film Japanese, western, noir hingga martial arts. Gaya serupa mengingatkan saya akan V for Vendetta (2005) dimana permainan angle dengan latar belakang CGI amatlah dominan.

Hartnett mungkin familiar dengan peran The Drifter layaknya dalam Sin City (2005). Penampilan perlente berjas yang mengandalkan gerak cepat dalam bertarung jelas enak dilihat. Gackt yang bergaya samurai terbilang efisien melakukan dialog dan koreografinya dalam sosok Yoshi. Tiga nama di belakangnya, Harrelson yang timbul tenggelam sebagai pemandu The Drifter dan Yoshi ke babak akhir, Moore yang kemunculannya sangat minim dan tidak inspiratif, Perlman yang baru benar-benar menggebrak di penghujung sebagai Nicola merupakan aset terbaik yang dimiliki Moshe.

Sayangnya nyaris tiap adegan pertarungannya tidak memukau. Terjadi terlampau cepat tanpa isi yang tak jarang memakai trik kamera dalam eksekusinya. Itulah sebabnya penonton sulit terikat dengan salah satu karakter utamanya. Durasi yang panjang juga menjadi masalah besar untuk film eksperimental semacam ini apalagi tidak didukung kekuatan plot cerita yang nyata. Bunraku mampu memberikan pengalaman bersinema yang unik tapi kenikmatan menyaksikannya jauh dari harapan. However it’s a “good versus evil” disjointed mixtures, definitely not for everyone!

Durasi: 
124 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 01 Oktober 2012

MOTHER’S DAY : Overkill Antagonist As Humanity Figure


Quotes: 
Mother: This is unacceptable. I swear, sometimes you boys are just little savages.  

Nice-to-know: 
Saat proses syuting dimana aktor yang tengah beraksi ditodongkan senjata oleh polisi karena kasusu perampokan yang sesungguhnya di lokasi tak jauh dari situ. Kekeliruan yang akhirnya diselesaikan dengan tawa dari polisi dan kru film bersangkutan. 


Cast: 
Rebecca De Mornay sebagai Natalie 'Mother' Koffin
Jaime King sebagai Beth Sohapi
Patrick John Flueger sebagai Izaak 'Ike' Koffin
Warren Kole sebagai Addley Koffin
Deborah Ann Woll sebagai Lydia Koffin
Briana Evigan sebagai Annette Langston
Shawn Ashmore sebagai
George Barnum 

Director: 

Merupakan feature film keenam bagi Darren Lynn Bousman yang angkat nama lewat Saw II, III dan IV.

W For Words:
“Mother knows best.” Bagaimana jika peribahasa tersebut digunakan menjadi premis film bergenre thriller? Penulis skrip Scott Milam terinspirasi dari skenario film berjudul sama di tahun 1980 karya Charles Kaufman dan Warren Leight. Perbedaannya adalah setting lokasi dimana hutan menjadi rumah dengan tambahan multi karakter yang dijamin mampu memperkaya kompleksitas yang ada. Tokoh sentral kali ini adalah Rebecca De Mornay, aktris senior berusia 53 tahun yang angkat nama lewat peran sejenis dalam The Hand That Rocks the Cradle (1992).Coincidence?

Tiga bersaudara Koffin yaitu Addley, Ike, Johnny melarikan diri setelah perampokan bank ke rumah masa kecil mereka. Nyatanya rumah tersebut telah berganti pemilik menjadi suami istri Daniel dan Beth Sohapi yang tengah menyelenggarakan pesta bersama teman-teman mereka. Sang ibu, Natalie Koffin bersama putrinya, Lydia kembali ke lokasi untuk menuntaskan masalah sekaligus mencari uang kiriman yang selama ini salah alamat. Teror berdarah pun dimulai dimana pertaruhan hidup dan mati semakin sulit diprediksi.

Paruh pertama film berjalan dalam modul crime drama dimana kedok asli para karakternya biasa terungkap kala ditempatkan pada situasi berbahaya. Satu persatu lantas dieliminasi karena kegegabahan yang dilakukan hingga menyisakan sebagian di antaranya yang dianggap likeable. Paruh kedua lebih menekankan slasher thriller dimana tingkat kekerasan yang diikuti dengan tumpahan darah mendominasi. Sayangnya banyak aksi dan reaksi yang tidak masuk logika, bagaimana satu bisa terus bertahan hidup sedangkan yang lain amat mudah terbunuh.

Sutradara Lynn Bousman tampak masih terbawa gaya lamanya dimana dalam satu adegan, dua “korban” diberikan opsi untuk membunuh atau dibunuh. Secara keseluruhan, upayanya pantas diapresiasi mengingat konsep horor thriller di sepanjang film cukup terjaga dengan baik. De Mornay menunaikan tugasnya dengan baik sebagai ibu yang gila, sadis dan kelewat protektif. King juga tidak mengecewakan sebagai heroine yang diharap penonton mampu memberikan perlawanan balik. Selebihnya mampu membawakan karakter-karakter tumpang tindih secara believable sesuai porsi masing-masing.

Mother’s Day sesungguhnya bisa menjadi film yang lebih menjanjikan andai ada beberapa elemen yang diubah. Pertama, skrip yang terlampau panjang semestinya dapat disederhanakan. Kedua, pemilihan endingnya seharusnya lebih straight-forward. Filmmaker tampak bersikeras mempertahankan imej sang ibu sedemikian rupa untuk penekanan antagonis yang humanis. Kontradiksi yang harus dibayar mahal tatkala film ini menemui jalan buntu dalam perilisan bioskopnya sebelum diputuskan langsung ke pasaran DVD di sebagian besar negara.

Durasi: 
112 menit

Europe Box Office:
€25,505 in Netherlands till May 2011

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent