XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 16 Agustus 2011

KUNGFU PANDA 2 : Memori Masa Lalu Tantangan Kungfu

Quotes:
Shen: The only reason you are still alive is that I find your stupidity mildly amusing.
Po: Well thank you, but I find your evilness extremely annoying!


Storyline:
Kiprahnya sebagai Pendekar Naga membuat Po mempertanyakan banyak hal termasuk masa lalunya pada ayah bangaunya, Mr. Ping yang juga pengelola restoran mie. Saat Raja Shen penguasa Gongmen City bertekad menaklukkan seantero Cina dengan senjata maut rahasianya, Po bersama Lima Pendekar, Tigress, Monkey, Mantis, Viper, Crane tidak tinggal diam apalagi eksistensi kungfu terancam punah karenanya. Sebelum berangkat, Master Shifu mengajarkan Po akan inner peace yang membuatnya semakin bingung. Prediksi yang dibuat oleh Soothsayer bahwa Lord Shen akan dikalahkan oleh pendekar hitam dan putih jelas tidak mudah diwujudkan begitu saja tanpa perjuangan dan pengorbanan nyata.

Nice-to-know:
Karakter Shen sedianya dihadirkan dalam film pertamanya tetapi dihapus sebelum memasuki produksi.

Voice:
Jack Black sebagai Po
Angelina Jolie sebagai Tigress
Dustin Hoffman sebagai Shifu
Gary Oldman sebagai Shen
Jackie Chan sebagai Monkey
Seth Rogen sebagai Mantis
Lucy Liu sebagai Viper
David Cross sebagai Crane

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Jennifer Yuh yang sebelumnya ”hanya” mengisi departemen animasi dalam Kungfu Panda (2008).

Comment:
Rentang waktu 3 tahun dibutuhkan untuk melanjutkan apa yang dikatakan sebagai film animasi favorit semua orang yaitu Kungfu Panda (2008). Perubahan paling mencolok cuma terjadi di kursi sutradara sedangkan sisanya masih sama termasuk produser Melissa Cobb dan penulis skrip Jonathan Aibel dan Glenn Berger meneruskan tanggungjawab masing-masing dimana beban sebuah sekuel terbukti memang tidak pernah enteng.
Jika harus membandingkan efektifitas bercerita, saya merasa prekuelnya lebih memperhatikan “timing” sedangkan sekuelnya ini menonjolkan “pace”. Dua hal tersebut harus diakui bekerja dengan baik terhadap intensitas film tetapi memberikan nuansa yang berbeda. Di satu sisi, saya merasa “timing” seakan memberikan kesempatan bagi penonton untuk mencerna dan menerka adegan demi adegan. Di sisi lain, “pace” tidak memungkinkan hal itu karena penonton terus dijejali dengan tumpukan scenes yang bahkan tidak sempat membuat berpikir.

Konsep “pace” yang dipilih sutradara Yuh ini bisa juga menyamarkan kelemahan-kelemahan yang dapat terlihat jika disajikan dengan “timing”, sebut saja karakterisasi. Itulah sebabnya kelima pendekar kali ini tidak mendapat porsi yang lebih adil dibandingkan dalam Kungfu Panda (2008). Yeah we all know, it’s all about Po, right? Beruntung action sequences nya tergolong lancar bersinergi dengan elemen humorisnya sehingga terciptalah perjalanan satu setengah jam yang menyenangkan.
Karakter Po berkembang dengan baik. Kemalasan dan kerakusannya hanya ditampilkan satu dua kali saja untuk memancing tawa. Sisanya adalah pertanyaan, “Who am i?” yang ditindaklanjuti dengan penelusuran masa lalu di sela-sela pencarian masa depan. Berbagai flashback yang menggambarkan Po kecil dalam sosok kartun 2 dimensi teramat menarik. Tidak usah anda pertanyakan bagaimana bisa suara bayi manusia keluar dari mulut seekor bayi panda, cukup nikmati sosok imut-imutnya itu.

Kehadiran Shen sebagai antagonis terkadang mengingatkan pada karakter jahat dalam film-film silat “real action” Mandarin dari masa ke masa. Personifikasi yang diwujudkan dalam sosok burung merak terbilang kreatif apalagi didukung kontribusi maksimal dari Gary Oldman lewat suara beratnya. Sumbangsih Michelle Yeoh dan Van Damme dalam karakter Soothsayer dan Master Crow juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja.
Masih didukung oleh scoring musik yang brilian, Kungfu Panda 2 sangatlah memukau sebagai kombinasi martial arts movie dan drama comedy apalagi lelucon super efektifnya sering muncul meski dalam adegan serius tak terduga sekalipun. Ditambah balutan pesan moral yang digelorakan di sepanjang durasinya, animasi Dreamworks yang satu ini jelas memiliki hati. Ready to feel in love deeper with the more mature and more skilled fatty charming Po? I do and I do not mind expecting more sequels coming up!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$162,695,957 till Aug 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 14 Agustus 2011

BEAT THE WORLD : Sekelumit Kisah Di Balik Layar Peserta Kompetisi

Tagline:
They live to dance.. They dance to win!


Storyline:
Yuson tengah mempersiapkan grupnya untuk berkompetisi dalam Beat The World. Sayangnya ia terbentur dengan urusan asmaranya dengan Maya ataupun sahabatnya Easy yang menentang konsep baru kombinasi parkour yang ditawarkan Justin. Di lain tempat, Nina dan Eric yang juga mantan kekasih berseteru untuk mendapat posisi ketua grup. Plus Carlos yang mempertaruhkan sejumlah uang besar untuk bisa ikut serta bersama grupnya para penari Samba di sebuah restoran Brasil. Mereka berkumpul untuk satu tujuan yaitu menjadi juara dunia sekaligus memenangkan hadiah seratus ribu dollar. Siapa yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang?

Nice-to-know:
Film yang juga dikenal dengan judul You Got Served : Beat The World ini langsung masuk pasaran DVD di USA pada tanggal 21 Juni 2011.

Cast:
Tyrone Brown sebagai Yuson
Mishael Morgan sebagai Maya
Ray Johnson sebagai Easy (as Sho-Tyme)
Nikki Grant sebagai Cherry
Chase Armitage sebagai Justin
Christian Loclair sebagai Eric
Kristy Flores sebagai Olivia
Shane Pollard sebagai Carlos
Stephanie Nguyen sebagai Nina

Director:
Merupakan film kedua Robert Adetuyi setelah Turn It Up (2000) yang juga bertemakan musik.

Comment:
Meski tidak bergaung dan rating yang tidak terlalu bagus, film ini tetap menarik perhatian saya untuk membuktikannya sendiri. Apalagi produser Amos Adetuyi menyajikan dance hip hop yang merupakan favorit pribadi untuk bergoyang mengikuti alunan musiknya. Ternyata 90 menit kemudian, ambisi Adetuyi bersaudara memang mengambil alih dan benar-benar mengalahkan dunia dengan minus di semua lini film tanpa kecuali.
Skrip yang ditulis oleh Robert Adetuyi yang juga merangkap sebagai sutradara secara khusus menyoroti 3 grup yaitu Yuson, Eric dan Carlos yang masing-masing berada di Detroit, Berlin dan Rio De Janeiro. Tidak banyak yang bisa diceritakan selain aktifitas berdansa ria dan berlatih sehari-harinya diselingi dengan problematika cinta di antara mereka yang gunanya hanya untuk memperpanjang durasi atau setidaknya mencoba membangkitkan empati penonton.
Sayangnya semua itu tidak berhasil karena para manusia disini adalah penari, bukan aktor ataupun aktris. Dapat dimaklumi jika penjiwaan mereka teramat minim dalam melontarkan dialog-dialog ataupun mengolah bahasa tubuh untuk bisa menyatu dengan plot cerita. Beruntung dalam urusan tari-menari, kesemuanya teramat fasih walaupun koreografi yang disuguhkan tergolong tidak baru lagi kalau mau dikatakan kurang inovatif.
Yuson dan gang jelas mendapat porsi yang paling dominan dalam film ini. Kisah kasih tarik ulur Yuson dan Maya terasa cheesy ditambah dengan kontribusi Cherry dan Eric yang sangat salah itu. Jika harus memihak pada salah satu tokoh disini, saya akan menyebut nama Justin. Entah mengapa Chase Armitage berhasil mencuri perhatian di setiap kemunculannya dengan parkour style dan gaya ngocolnya yang asyik itu. Malangnya ia tidak berkesempatan menjadi spotlight kali ini.
Kompetisi 25 menit disusul dengan final showdown selama 10 menit dalam kompetisi akbar yang menjadi tujuan akhir kesemua karakter disini justru terkesan antiklimaks. Tidak ada yang wah dalam pergerakan mereka ataupun penggunaan atribut yang mendukung untuk itu. Penetapan pemenang juga terasa tidak realistis karena tidak ada team yang terlalu menonjol. Coba anda bayangkan jika tambahan aksi parkour bisa menjadi nilai plus di mata juri? Hm, rasanya tidak seistimewa itu.
Beat The World adalah sebuah proyek ambisius yang tidak bergigi. Jangan bandingkan dengan Step Up dari Amerika ataupun Street Dance dari Inggris yang sudah lebih dulu rilis karena produksi Kanada ini terbukti kalah segala-galanya. Seandainya saja para penari disini mempertunjukkan kemampuan tarinya masing-masing dalam video klip berdurasi singkat (as you often see in Youtube) dan dikompilasi ke dalam sebuah film, mungkin saja hasilnya jauh lebih baik dan enjoyable.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 13 Agustus 2011

FAST FIVE : Misi Balapan Uang Kontra Mafia dan Agen Federal

Quotes:
Tej: [to Giselle] Did he smack that ass, or did he grab it?


Storyline:
Mantan polisi Brian O'Conner masih bertandem dengan bekas napi Dominic Toretto melewati hukum yang pernah membelenggunya itu. Perampokan mobil dari sebuah kereta kemudian membawa Dom, Brian, Mia ke Rio de Janeiro dimana mereka harus berhadapan dengan mafia setempat Hernan Reyes dan juga agen federal Luke Hobbs yang salah paham akan tindakan mereka. Ketiganya sepakat melakukan misi terakhirnya yaitu mencuri uang 100 juta dollar milik Reyes. Misi pun dirancang dan turut melibatkan gank lama mereka masing-masing Tej, Roman, Han, Gisele untuk berkolaborasi dengan satu tujuan. Melarikan diri dari Rio dengan uang di tangan atau tidak samasekali dengan nyawa sebagai taruhannya!

Nice-to-know:
Merupakan film Fast and Furious pertama yang dirilis dalam format IMAX.

Cast:
Satu-satunya peran yang patut diingat dalam daftar filmografi Vin Diesel adalah sebagai Dominic Toretto, walau sempat mendukung film pemenang Oscar, Saving Private Ryan (1998).
Paul Walker sebagai Brian O'Conner
Jordana Brewster sebagai Mia Toretto
Tyrese Gibson sebagai Roman Pearce
Ludacris sebagai Tej Parker
Elsa Pataky sebagai Elena Neves
Dwayne Johnson sebagai Luke Hobbs
Sung Kang sebagai Han Lue
Joaquim de Almeida sebagai Hernan Reyes
Gal Gadot sebagai Gisele Harabo

Director:
Justin Lin mengawali karir penyutradaraannya lewat Shopping For Fangs (1997).

Comment:
Jika harus jujur, saya sempat merasa nasib franchise ini akan tamat setelah Tokyo Drift (2006) (lebih tepat disebut spin-off) yang tidak buruk secara kualitas tapi terkesan antiklimaks itu. Nyatanya keputusan Vin Diesel, Michael Fottrell dan Neal H. Moritz yang bertindak sebagai produser untuk tetap meneruskan Fast & Furious (2009) disusul yang satu ini selang 2 tahun tergolong tepat. Beban berat yang ditanggung sebuah film sekuel pun terbukti mampu ditanggulangi dengan cemerlang.
Skrip yang ditulis oleh Chris Morgan ini memang tidak jauh berbeda dari yang sudah-sudah. Bagian pertama film mengetengahkan perampokan kereta api yang menantang bahaya tersebut sekaligus menjelaskan bagaimana Dom dkk pada akhirnya bisa terdampar di Brazil. Bagian kedua lebih menekankan perampokan brankas berisi 100 juta dollar sekaligus pertentangan antar 3 kubu yang bersinggungan termasuk kawanan milyuner kotor Hernan Reyes dan agen federal tangguh Luke Hobbs yang terus membayang-bayangi Brian dkk.
Kehadiran Dwayne Johnson menjadi penyegar tersendiri. Tokoh Hobbs mungkin teramat klise tapi penonton akan tetap mencintai polisi tangguh berperangai kasar taat hukum. Sedikit banyak aura kejantanan Vin Diesel malah sedikit tertutupi. Beruntung tokoh Dominic digambarkan masih memiliki rasa humanisme sehingga mampu menarik simpati penonton. Pergumulan keduanya saat mendekati ending memang teramat keras dan merusak, mengingatkan pada segmen WWF di televisi. Sayang minimnya guratan luka lebam di wajah mereka paska scene tersebut mengurangi unsur meyakinkannya.
Di luar keduanya, masing-masing cast memerankan karakter masing-masing dengan gaya. Sebut saja Sung, Pataky, Gadot yang menurut saya lumayan mencuri perhatian. De Almeida yang kebagian tokoh antagonis memang cukup real terlepas dari porsinya yang tidak terlalu memadai. Anda tidak akan terlalu peduli lagi dengan dialog-dialog cheesy di antara mereka selama spontanitas kata-kata tersebut masih mampu mengundang senyum dan relevan dengan plot cerita.
Sutradara Lin jelas paling patut mendapat kredit khusus karena mampu meracik setiap action sequence dengan brilian. Kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya terkadang tidak masuk akal tetapi tujuan memacu adrenalin jelas tercapai. Adegan kebut-kebutan yang menjadi ciri khasnya kembali disuguhkan dalam jatah yang wajar, kesan “jualan” mobil yang muncul dalam prekuelnya kali ini tidak terlihat. Finale act sangat memuaskan dan sontak membuat anda ingin bertepuk tangan.
Fast Five samasekali tidak membuat franchise ini kehabisan gas, melainkan meningkatkan gigi untuk terus dan terus memperpanjang sekuelnya. Lihat saja additional scene yang disembunyikan setelah credit title berakhir menyiratkan demikian. Agen tangguh, polisi korup, mafia culas, mantan polisi, ex-napi, pembalap, wanita cantik, apalagi yang anda inginkan dalam sebuah action summer movie yang sangat memorable bagi saya tahun ini. Fasten your seatbelt and enjoy the ride for hours!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$209,805,005 till Aug 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 11 Agustus 2011

FRIENDSHIP : Sejuta Kenangan Sejati Pertemanan

Quotes:
Mituna: Kau tahu mengapa aku menyukai bunga Marigold? Sebab kau yang memberikannya padaku..


Storyline:
Singha menyanggupi ajakan Jack untuk reuni bersama Song, Kanda, Jud Duang, Pong. Kelimanya bersahabat semasa SMP dimana pahit manisnya sudah dijalani bersama. Tidak lama kemudian, ingatan Singha melayang pada perkenalannya dengan Lam dan Mituna yang baru pindah ke sekolahnya. Lam yang jago beladiri mengajarkannya untuk bersikap secara jantan sedangkan Mituna membuatnya mengerti akan makna cinta pertama. Apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka selama bertahun-tahun? Akankah Singha berkesempatan menemui Mituna kembali pada akhirnya?

Nice-to-know:
Berjudul asli Friendship You and Me dirilis di Thailand pada tanggal 3 Juli 2008 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya meraih popularitas tinggi lewat The Love of Siam (2007), Mario Maurer bermain sebagai Singha
Terakhir tampil mendukung salah satu segmen dalam 4BIA (2008), Apinya Sakuljaroensuk berperan sebagai Mituna
Chalermpon Thikumporn Teerawong as Song
Jetrin Wattanasin as Singha Dewasa
Kanawat Chantaralawan as Jud Duang

Director:
Merupakan debut penyutradaraan dari Chatchai Naksuriya.

Comment:
Kepopuleran film ini belum sampai ke telinga saya (dan juga para penonton Indonesia) pada waktu rilis 2008 di Thailand sana mengingat jaman drama komedi romantik produksi Negeri Gajah Putih itu baru mencapai puncaknya paska 2009 ke atas sebut saja Bangkok Traffic Love Story, Hello Stranger dll yang sudah ditonton lebih dulu. Beruntung Blitzmegaplex masih bersedia menayangkannya di tahun 2011 ini sehingga perbandingan dari berbagai segi tetap dapat dilakukan.
Premisnya sekilas mengenai cinta sepasang remaja SMU. Namun setelah menyaksikannya, ternyata jauh lebih kompleks meski disajikan dengan sesederhana mungkin. Cukup banyak subplot yang dihadirkan yaitu keluarga, ibu dan anak, sesama sahabat lelaki atau perempuan bahkan gabungan dari keduanya. Kesemuanya diberikan porsi yang tidak dominan tetapi cukup untuk memback-up plot utama sehingga keterkaitannya dapat terjelaskan dengan lancar.

Sutradara Chatchai menggunakan alur maju mundur secara terampil. Setting tahun 80an juga ditampilkan dengan baik dimana penggunaan cat air palet, kembang kertas, rollerskate, kaset video porno sekalipun mungkin terasa jadul bagi kita di masa sekarang. Tempo yang ia gunakan memang cenderung lambat, sedikit terbantu dengan unsur humor simpel yang masih mampu mengundang senyum.
Mario dan Apinya berbagi chemistry secara natural. Sepintas jika diperhatikan ada kemiripan raut wajah di antara keduanya. Namun film ini bukan hanya milik mereka tapi juga teman-teman mereka yang tak kalah kaya karakteristiknya sehingga masing-masing tokoh disini tidak akan anda abaikan begitu saja kehadirannya. Penggambaran dewasa dan remaja yang terpisah dalam rentang waktu yang cukup panjang juga terasa pas meski Jetrin tidak dapat dikatakan mewarisi ke”bule”an Mario.

Prolog cerita yang menyajikan hal-hal ringan perlahan bergulir menjadi serius. Persahabatan yang menonjolkan kekonyolan satu sama lain terkadang menyinggung masalah pubertas. Pendekatan lawan jenis yang penuh bujuk rayu pun berganti menjadi rasa saling menghargai. Sayangnya setelah semua terbangun dengan sempurna, ending yang tidak diharapkan pun muncul. Tanpa penjelasan yang logis, film pun ditutup begitu saja dengan gloomy. Sampai disini mengingatkan saya akan The Notebook tetapi tidak sampai menghadirkan rasa haru yang sama.
Friendship tidak hanya menawarkan indahnya cinta dan persahabatan, melainkan suka dukanya kehidupan itu sendiri. Bagaimana suatu kenangan dapat demikian membekas di hati seseorang selama bertahun-tahun. Atau ketika sebuah kesalahan seakan tidak termaafkan hingga menghapus kesempatan untuk berbahagia. Film ini mengajarkan anda tentang berempati pada orang-orang di sekeliling anda, terlepas dari closing yang kurang bersahabat itu.

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 08 Agustus 2011

IGOR : Monster Temuan Asisten Terbelakang Brilian

Quotes:
Igor: As somebody I loved once said: It's better to be a good nobody, than an evil somebody.

Storyline:
Asisten Igor sudah lama bekerja pada Dr. Glickenstein. Diam-diam Igor menciptakan beberapa penemuan sendiri yaitu Brain dan Scamper yang anti hancur hingga pada akhirnya kreatifitasnya membuahkan monster perempuan yang dinamakan Eva. Sayangnya Eva ternyata malah berbudi pekerti dan jauh dari mengerikan. Segala upaya dikerahkan Igor untuk mengubah Eva sebelum Perayaan Ilmuwan Jahat berlangsung yang dipimpin oleh penguasa jahat Malaria, King Malbert. Bagaimana kiprah Igor selanjutnya terlebih rivalnya Dr. Schadenfreude yang telah menang berkali-kali mengincar temuannya itu?

Nice-to-know:
'Schadenfreude' is a German word meaning a feeling of pleasure caused by something bad happening to another person.

Voice:
John Cusack sebagai Igor
Molly Shannon sebagai Eva
Steve Buscemi sebagai Scamper
Sean Hayes sebagai Brain
John Cleese sebagai Dr. Glickenstein

Director:
Film kedua Anthony Leondis setelah Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch (2005) yang langsung rilis dalam format video

Comment:
Tidak semua film animasi ditujukan bagi anak-anak terutama karya-karya Tim Burton. Salah satunya adalah film kolaborasi Amerika dan Perancis ini yang animasinya sedikit mengingatkan anda pada The Nightmare Before Christmas (1993) yang spektakuler itu. Dengan didukung oleh sederetan aktor-aktris ternama Hollywood yang menyumbangkan suara mereka tentunya sudah menjadi daya tarik tersendiri yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Skrip yang ditulis oleh Chris McKenna ini memiliki kelebihan dalam karakterisasi tokoh-tokohnya yang variatif dengan sederetan dialog-dialog humoris sarkastis tak terduga. Kinerja CGI dalam memvisualisasikan keseluruhan bagian dalam film ini berhasil membawakan sebuah petualangan mengasyikkan yang penuh twists and turns menyenangkan. Sudut pandang kejahatan yang digunakan jelas konsep ide yang menyegarkan dan tidak lazim.
Igor mungkin tidak memiliki paras menggemaskan. Namun seiring film berjalan, anda akan jatuh hati padanya. Segala tindak tanduknya terutama interaksinya dengan Brain dan Scamper sangat memikat. Brain yang dipelesetkan sebagai Brian ataupun Scamper yang tidak bisa hancur itu berkali-kali menghidupkan cerita dengan matang. Sang “monsterwati” yang berperawakan aneh itupun ternyata mencintai dunia akting. Ahh. Isn’t she lovely?
Tokoh-tokoh lain di luar keempatnya juga banyak diilhami dari berbagai karakter legendaris sebelumnya. Sebut saja Dr. Glickenstein dari Dr. Victor Frankenstein atau Dr. Schadenfreude dan Jaclyn/Heidi yang mengingatkan kita pada Dr. Jekyll & Ms Hyde. Belum lagi King Malbert yang menciptakan dunia kegelapan dari alat canggihnya. Pelbagai aksi “evil” kubu antagonis ini tentu saja akan menyebabkan keberpihakan anda pada Igor dkk.
Igor memang tidak hanya sekadar animasi yang lebih mampu dipahami oleh remaja dan penonton lebih dewasa. Produksi Exodus Film Group ini juga mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki sisi jahat di dalam dirinya, hanya saja keputusan untuk bertindak sesuai hati nurani jelas ada di tangannya sendiri. Sebuah sajian bernuansa kegelapan yang sangat ringan untuk dinikmati, setiap adegan memiliki timing yang tepat dan konsep yang cerdas. Saya tidak memiliki alasan untuk tidak menyukainya. Definitely, one of the best “dark-horse” animated movies ever made.

Durasi:
85 menit

U
.S. Box Office:
$19,528,602 till January 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 Agustus 2011

TRANSFORMERS 3 DARK OF THE MOON : Pertarungan Baja Perebutkan Cybertron

Quotes:
Optimus Prime: In any war, there are calms between storms. There will be days when we lose faith. Days when our allies turn against us. But the day will never come, that we forsake this planet, and its people.


Storyline:
Kelompok Autobots yakti Bumblebee, Rachet, Ironhide, Sideswipe yang dipimpin oleh Optimus Prime harus menghadapi Decepticons yang ingin membalas dendam dengan cara menciptakan jembatan untuk mencapai kapal luar angkasa Cybertronian yang tersembunyi di bulan demi mempelajari rahasianya. Sementara itu Sam Witwicky yang kesulitan mencari pekerjaan selepas status pahlawannya harus sekali lagi berada di tengah-tengah pertarungan, tentunya dengan ditemani kekasihnya Carly yang sudah memiliki pekerjaan dan atasan yang teramat menjanjikan.

Nice-to-know:
Autobots mengalami peningkatan “kelas” antara lain Bumblebee menjadi Chevrolet Camaro 2011, warna Ratchet menjadi putih hijau-rumput, Sideswipe menjadi Chevrolet Centennial Corvette.

Cast:
Shia LaBeouf sebagai Sam Witwicky
Josh Duhamel sebagai Lennox
John Turturro sebagai Simmons
Tyrese Gibson sebagai Epps
Rosie Huntington-Whiteley sebagai Carly Spencer
Patrick Dempsey sebagai Dylan
John Malkovich sebagai Bruce Brazos

Director:
Installment ketiga dari 9 film yang sudah disutradarainya sejauh ini cukup menjelaskan kecintaan Michael Bay akan franchise ini.

Comment:
Rasanya semua orang mengamini fakta bahwa duet Bay-Spielberg hanya berusaha mengeruk dollar sebanyak-banyaknya dari franchise Transformers ini selama masih bisa dijual. Jadi tidak usah heran jika di kemudian hari akan muncul Transformers 4, 5, 6 dst. Sayang sekali mengingat banyak fans serial ini yang masih berharap adanya pengembangan kisah yang lebih cerdas lagi dari yang sudah-sudah tanpa mengurangi unsur fun to watch itu sendiri.
Skrip yang ditulis oleh Ehren Kruger ini boleh dibilang sedikit mengulang apa yang dikisahkan dari Revenge of the Fallen yang menekankan posisi umat manusia di tengah-tengah perseteruan dua kubu robot yang saling bertentangan yaitu Autobots dan Decepticon dengan perbedaan motif saja. Tak usah heran apabila anda merasa mengalami dejavu dengan suguhan demikian. In the end it’s always about good versus bad, right?

Hal serupa juga terjadi pada jajaran castnya. Anda tidak akan peduli akan nasib Duhamel, Turturro, Gibson, Dempsey dkk yang masih melambangkan superioritas kepahlawanan Amerika! Penggantian Megan Fox dgn Rosie Huntington-Whiteley juga cukup mengecewakan dari segi sensualitas dan eksotisme walaupun keduanya merupakan pemuncak daftar gadis FHM. Tokoh Carly memang sedap dipandang layaknya boneka Barbie pirang tetapi setiap kemunculannya terbilang mengganggu dengan sederetan dialog dumb cliche terlontar dari mulutnya.
Bagaimana dengan Sam Witwicky? Shia masih memerankannya dengan aura sama tapi dengan penjiwaan yang flat. Kesulitan mencari pekerjaan hingga menghadapi saingan cinta tidak membuat perbedaan apapun dari aktingnya. Mungkin ada baiknya ia berpikir ulang untuk menerima tawaran installment selanjutnya jika tidak ingin karirnya mandek. Interaksi yang menjurus gay jokes dengan Ken Jeong juga terasa tidak pada tempatnya. Jika dimaksudkan untuk memancing tawa, bagaimana dengan penonton belia yang mencernanya?

Bay memang mematuhi janjinya untuk mengedepankan visualisasi revolusioner dalam format 3D. Segala efek CGI berbujet 195 juta dollar dikerahkan sepenuhnya untuk memanjakan mata penonton, porsinya bahkan lebih dari yang bisa dibayangkan sebelumnya. Seakan semua terjadi tepat di hadapan anda atau justru anda yang serasa mengalaminya sendiri, sebuah pengalaman sinema yang mengagumkan asalkan indera pendengaran anda tidak lelah menerima rangsangan suara-suara “elektronis” di sepanjang film.
Highlight film ini adalah saat Shia terlontar keluar dari Bumblebee sehingga tergantung-gantung, atau ketika The Driller menggulung gedung bertingkat raksasa yang didiami Sam dkk, atau tentara yang terbang bebas layaknya kelelawar setelah terlontar dari pesawat yang terbakar? Terkadang saya merasa ini adalah film bencana akhir dunia, bukan Transformers apalagi dengan penghancuran jalan, bangunan hingga umat manusia yang menjadi abu. Mengingatkan pada War of the Worlds, anyone?

Satu kata untuk Transformers 3 yaitu OVER-THE-TOP. Sesuatu yang berlebihan biasanya tidak pernah baik. Durasi teramat panjang yang harusnya bisa diselesaikan dalam 90 menit andai tidak ada show off spesial efek tidak jarang malah membuat saya merasa bosan dan mengantuk di paruh pertama film. Harus diakui sedikit lebih baik dari Transformers 2 dari segi logika cerita tapi masih di bawah Transformers dari segi kelekatan dengan penonton. Endingnya cukup klimaks, ditutup dengan pertarungan finale Optimus vs Sentinel yang entah kenapa pergerakannya seperti dua jago martial arts yang tengah berlaga!
Satu lagi (dari sekian banyak) persembahan Michael Bay yang berputar-putar di plot cerita stereotype dengan berbagai pengulangan adegan aksi spektakuler rasanya memang hanya dirancang untuk kepuasan pribadinya sendiri. Dark of the Moon fantastis secara tampilan tetapi tidak memiliki nyawa. Sajian summer movies yang memenuhi standar “WAH” untuk lantas dilupakan begitu saja tanpa kesan berarti. Masih menantikan sekuelnya di masa mendatang? Rise of the Sentinel Prime, perhaps?

Durasi:
150 menit

U.S. Box Office:
$302,878,797 till mid July 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 05 Agustus 2011

PIRANHA 2 THE SPAWNING : Teror Ikan Amfibi Festival Pantai Tahunan

Tagline:
The Terror Is Back....But This Time It Flies!


Storyline:
Kapal persediaan Amerika yang tenggelam di resort Kepulauan Caribbean mensinyalir adanya serangan piranha misterius. Anne Kimbrough menyelidiki kematian sahabat putranya dalam sebuah penyelamaan untuk kemudian berjumpa dengan Tyler Sherman yang ternyata seorang biochemist. Di luar dugaan, ikan-ikan ganas tersebut memiliki sayap dan mampu terbang menciptakan teror di lautan dan di daratan sekaligus. Sayangnya perayaan pemanggangan ikan tahunan sudah dimulai dimana ratusan orang yang berpartisipasi mulai menyerbu pantai..

Nice-to-know:
Meski dalam credit title dicantumkan nama James Cameron sebagai sutradaranya, sebetulnya kinerja keseluruhan film dilakukan oleh sang produser yaitu Ovidio G. Assonitis lewat serangkaian kemelut yang sulit terjelaskan.

Cast:
Tricia O'Neil sebagai Anne Kimbrough
Steve Marachuk sebagai Tyler Sherman
Lance Henriksen sebagai Police Chief Steve Kimbrough
Ricky Paull Goldin sebagai Chris Kimbrough
Ted Richert sebagai Raoul, Hotel Manager

Director:
James Cameron / Ovidio G. Assonitis yang pernah menangani film bertemakan monster laut juga sebelumnya yaitu Tentacles (1977) dengan nama Oliver Hellman.

Comment:
Tidak sengaja menyaksikan tayangan film lawas ini rasanya bisa menjadi pemanasan yang baik sembari menunggu remake versi modernnya milik Alexandre Aja di tahun-tahun mendatang. Wishful thinking memang karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda master horor masa kini itu akan memulai proses produksinya meski isu yang berkembang sudah santer.
Sayangnya versi tahun 1981 ini dapat dikatakan belum mampu menandingi prekuelnya yang ditangani oleh Joe Dante di tahun 1978 tersebut. Pergantian sutradara bukan hanya menyebabkan hilangnya sebagian nyawa film tetapi juga intensitas ketegangan yang sama. Skrip yang dikembangkan oleh Ovidio G. Assonitis, James Cameron dan Charles H. Eglee ini sepintas memiliki pattern yang kurang lebih sama, hanya dimodifikasi pada bagian evolusinya saja.
Sayangnya teror yang disebabkan oleh ikan-ikan bersayap itu cenderung membosankan. Visual efeknya kurang meyakinkan. Adegan gory yang diharapkan mampu membuat penonton menjerit-jerit pun gagal dihadirkan karena gigitan hanya terlihat di leher dan wajah saja, itupun cuma sepintas lalu. Konsistensi suara monoton berenang dan terbang nya saja lah yang patut diacungi jempol mengiringi setiap kemunculan piranha-piranha revolusioner itu.

Karakterisasi juga tidak terbangun dengan baik. Banyak motif para tokoh disini yang tidak diungkapkan secara runut sebab musababnya. Pembagian frame dari kesemua tokohnya juga tidak merata yang diikuti perpindahan antar scene yang terganggu. Namun tidak bijak jika menyalahkan aktris-aktris yang kali ini sudah cukup "buka-bukaan" untuk memanjakan mata, sex and boobs rasanya akan selalu menghiasi film-film kelas B.
Sulit dipercaya nama besar James Cameron ternyata mengawali karirnya dengan film semacam ini terlepas dari keputusan kontroversial sang produser. Piranha 2 : The Spawning terasa terlalu serius sehingga tidak efektif sebagai sebuah hiburan. Seandainya dibuat sedikit parodi bisa jadi hasilnya sedikit lebih baik. Menurut pendapat saya bukanlah film terburuk pada jamannya tetapi memang mengecewakan. Seakan hanya repetisi dari prekuelnya saja, tinggal memposisikan kaum antagonis tersebut sebagai hewan amfibi. Semoga Aja muncul dengan ide yang lebih baik atau setidaknya buat menjadi lebih meyakinkan!

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 03 Agustus 2011

THE KILLER INSIDE ME : Pembunuh Psikotik Problema Perempuan

Quotes:
Sheriff Bob Maples: Name of Joyce Lakeland. Lives about four or five miles out on Derrick Road past the old Branch place.
Lou Ford: Oh, I know the old Branch place. She a hustling lady, Bob?
Sheriff Bob Maples: Well, I guess so, but she's - she's been pretty decent about it.



Storyline:
Hidup di Oklahoma pada akhir tahun 40an, wakil sheriff Lou Ford sepintas terlihat tenang dan berbudi pekerti yang baik. Saat bosnya sheriff Bob Maples menugaskan Lou untuk mengganggu pelacur bernama Joyce Lakeland, Lou malah terlibat percintaan panas yang dilakoni dengan seks setiap harinya. Saat Joyce menganggap Lou mencintainya, ia tidak tahu bahwa dirinya dimanfaatkan untuk menghabisi Elmer Conway, putra Chester Conway yang kaya raya di daerah tersebut. Pembunuhan demi pembunuhan keji pun dirancang Lou hingga bukti-bukti semakin memberatkannya. Namun Lou terbukti tetap tenang sampai saat-saat terakhirnya sekalipun.

Cast:
Pernah menerima nominasi Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007), Casey Affleck bermain sebagai Lou Ford
Kate Hudson sebagai Amy Stanton
Jessica Alba sebagai Joyce Lakeland
Ned Beatty sebagai Chester Conway
Elias Koteas sebagai Joe Rothman
Tom Bower sebagai Sheriff Bob Maples
Simon Baker sebagai Howard Hendricks
Bill Pullman sebagai Billy Boy Walker

Director:
Pria kelahiran Inggris bernama Michael Winterbottom ini mengawali karir penyutradaraan lewat Forget About Me (1990).

Comment:
Dengan judul dan trailer yang demikian disturbing, rasanya konten film yang satu ini sudah dapat diprediksikan sebelum anda menonton filmnya. Diangkat dari novel karya Jim Thompson, konon produksi film ini sempat kocar-kacir akibat begitu banyaknya aktor-aktris yang drop off sebelum proses syuting dimulai. Pada akhirnya produser berhasil mendapatkan beberapa bintang under the radar yang juga kualitasnya tidak kalah.
Sejak awal, film memang tidak menyimpan suspensi apapun. Semua sudah terpampang secara jelas akan sepak terjang Lou Ford sebagai pembunuh keji berkedok keluguan. Yang menarik adalah bagaimana intensitas film dapat dipertahankan sambil membuat penonton penasaran akan closing brilian yang diharapkan. Inilah tantangan yang tidak mudah karena dibutuhkan komitmen antara sutradara dan cast yang harus saling bersinergi.
Casey Affleck terbukti tidak mengecewakan. Saya selalu menganggapnya aktor yang lebih versatile dibandingkan kakaknya yang jauh lebih populer. Lihat cara Casey membawakan peran Lou dengan karisma tersendiri, tenang nan menghanyutkan, hangat yang berdarah dingin. Bagaimana kenangan masa kecil demikian mempengaruhinya hingga tega menyiksa para wanita yang mencintainya itu. Kekerasan fisik yang dilakoninya begitu meyakinkan hingga membuat emosi penonton tercabik-cabik.
Alba dan Hudson sesungguhnya bukanlah aktris yang istimewa. Peran Joyce dan Amy memang tidak dominan tetapi sangat krusial saat berbagi layar langsung dengan Lou Ford. Sedangkan jajaran aktor senior macam Beatty, Koteas, Pullman, Bower, Baker samasekali tidak mengecewakan dengan karakternya masing-masing disini.
Sutradara Winterbottom sukses menjaga sisi artistik film yang dihadirkan dalam konsep noir tahun 40an sehingga atmosfernya teramat mendukung. Belum lagi sumbangsih musik oleh duet Cadbury dan Parmenter yang turut membangun suasana terlebih ketika Lou Ford “beraksi”. Esensi kekerasan yang dihadirkannya mungkin belum separah kinerja David Lynch ataupun Coen Brothers tapi sudah cukup realistis untuk mengganggu rasa kemanusiaan penonton.
Ending process yang diharapkan klimaks justru menjadi sedikit antiklimaks. Hal ini menurut saya disebabkan oleh durasi yang terlampau panjang (mungkin ada baiknya dipangkas 10-15 menit). Saat Lou Ford berusaha digiring memasuki kuburannya sendiri, bagian ini terasa kurang maksimal padahal seluruh tokoh kunci sudah berkumpul dalam satu frame. Belum lagi adegan ledakan yang terasa sekali spesial efeknya itu malah sedikit memancing tawa.
The Killer Inside Me mungkin dapat dikategorikan sebagai black comedy meski tidak banyak unsur humor yang dapat diangkat. Jelas bukan sebuah film yang dapat dinikmati mayoritas orang. Ini adalah sebuah contoh studi kasus bagaimana pikiran sakit seorang psikopat mampu menjerumuskannya ke dalam tindakan-tindakan di luar batas. Mudah-mudahan perilaku S/M yang disajikan secara gambling disini tidak menginspirasi anda untuk berbuat serupa!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$214,966 till August 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 02 Agustus 2011

SUCKER PUNCH : Realitas Misi Pelarian Imajinatif

Quotes:
Sweet Pea: And finally. This question. The mystery of whose story it will be, of who draws the curtain. Who is it that chooses our steps in a dance? Who drives us mad, flashes us with whips, crowns us with victory when we survive the impossible? Who is it that tells all these things?


Storyline:
Gadis muda bernama Baby Doll terpaksa dikurung dalam RS mental oleh ayah dirinya yang penyiksa untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dalam 5 hari. Baby Doll lantas bertemu 4 gadis lainnya yaitu Sweet Pea, Rocket, Blondie, Amber dan menciptakan dunia fantasi sendiri untuk berencana keluar dari sana. Realitas antara kenyataan dan khayalan pun semakin samar dimana mereka membutuhkan 5 jenis barang untuk kabur sebelum High Roller yang ditakutkan datang menjalankan tugasnya.

Nice-to-know:
Film pertama Zack Snyder yang tidak didasarkan pada remake/adaptasi manapun juga.

Cast:
Aktris muda Australia ini mulai terkenal lewat Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events (2004), Emily Browning berperan sebagai Baby Doll
Baru saja tampil dalam Limitless (2011), Abbie Cornish bermain sebagai Sweet Pea
Jena Malone sebagai Rocket
Vanessa Hudgens sebagai Blondie
Jamie Chung sebagai Amber
Carla Gugino sebagai Dr. Vera Gorski
Oscar Isaac sebagai Blue Jones

Director:
Feature film pertama Zack Snyder adalah Dawn of the Dead (2004).

Comment:
Bagi kalangan moviegoers seluruh dunia rasanya setuju jika menganggap Zack Snyder adalah sutradara revolusioner yang dimiliki Hollywood. Visualisasi yang ciamik selalu menjadi menu utama di setiap karya-karyanya, sebut saja 300 yang melegenda itu atau Watchmen yang sama-sama diangkat dari novel grafis. Tidak jika jika sebagian besar bujet dihabiskan untuk menata departemen yang satu ini demi kepuasan mata tentunya.
Plot ceritanya merupakan salah satu inovasi yang patut diacungi jempol. Bukan hanya originalitasnya tetapi juga keberaniannya memadukan fiksi, drama dan action sekaligus. Permasalahannya adalah Snyder tidak berhasil membuat penonton terintrusi ke dalam jalinan kisahnya yang seakan berpijak di antara khayalan dan kenyataan. Hal ini menyebabkan ketidakpedulian terhadap karakter mana yang survive or dead in the end.
Meski demikian para ladies disini sangat memanjakan mata. Browning, Cornish, Hudgens, Chung, Malone masing-masing memancarkan pesona yang berbeda-beda. Blonde, brunette, feminin, tomboy silakan tentukan pilihan anda. Kemahiran Baby Doll, Sweet Pea, Rocket, Blondie, Amber dalam “beraksi” disini sangat menyenangkan untuk disaksikan walaupun nyaris tidak ada kedalaman karakter yang mampu membangkitkan emosi.
Sesaat bisa jadi anda merasa lost di bagian pembukaan dan pertengahan film karena merasa tidak terkoneksi dengan visi Snyder. Feeling yang hampir sama dengan Watchmen dimana serangkaian adegan spektakuler seakan bersifat ambigu. Memasuki ending setidaknya segala perasaan tersebut sedikit tergantikan oleh antusiasme. Namun twist yang disiapkan di akhir film mungkin tidak terlampau sukar diterka oleh anda yang sudah familiar dengan kejutan-kejutan sejenis. Well tried!
Sucker Punch memang semata-mata hanya berusaha menghibur penonton dengan koreografi dan sinematografi yang menakjubkan di sepanjang durasinya. Tidak lebih dan tidak kurang! Minus-minus yang disebutkan di atas kelihatannya akan mengurangi ponten anda terhadap film juga didesign untuk 3D dan IMAX ini pada akhirnya. Namun tidak ada salahnya mengikuti petualangan Baby Doll dalam menemukan peta, api, pisau, kunci sebelum menjawab misteri sendiri mengapa anda memutuskan untuk menonton yang satu ini.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$36,381,716 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 01 Agustus 2011

THE SNOW WHITE : Horor Janin Mayat Wanita Hamil


Storyline:
Dua siswa universitas yang bersahabat yaitu Yong dan Pong bisa dikatakan pecundang. Yong yang juga putra pengurus rumah sakit kesulitan mengatrol nilai-nilainya sedangkan Pong terobsesi menjadi penakluk gadis cantik klub malam. Keduanya tanpa sengaja menemukan cara untuk memenuhi keinginan masing-masing dengan cara melakukan ritual ilmu hitam yang menggunakan janin wanita yang sudah mati. Di sisi lain, pegawai rumah sakit Golf dan suster Oh tengah berencana menikah. Rumah sakit terkadang bisa menjadi panggung mengerikan bagi keempat insan tersebut.

Nice-to-know:
Berjudul asli Tai Tang Klom dan sudah dirilis di Thailand pada tanggal 23 September 2010 yang lalu.

Cast:
Pattaranan Deeratsamee sebagai Suster Oh
Atiwat Lamgul sebagai Golf
Nuttapong Chatpong sebagai Yong
Prinya Ngamwongwarn sebagai Pong

Director:
Sarawut Intaraprom yang sebelumnya menangani komedi romantis indie berjudul Boring Love.

Comment:
Sempat diputar dalam ajang iNAFFF 2010 yang lalu, Thailand tak henti-hentinya membombardir Indonesia dengan suguhan horor/thrillernya yang harus diakui jauh lebih baik dibandingkan produksi local. Itulah sebabnya masih dapat diminati para penonton kita yang membutuhkan tontonan bermutu dengan kultural yang tidak jauh berbeda.
Premis film ini harus diakui tidak banyak berbeda dari film-film Nayato, sutradara terproduktif kita itu. Setting rumah sakit yang menjadi backgroundnya plus cerita dua pemuda loser dan pasangan kekasih yang clueless. Yang baru hanyalah hantu wanita bunting yang dengan cerdasnya diperlihatkan dalam aksen warna hijau dengan perut membuncah dan separuh muka rusak yang cukup berhasil membangkitkan bulu roma.

Kelemahan utama film ini adalah bujetnya yang rendah sehingga sinematografinya terkesan murahan. Bukan berarti tidak mampu dimaksimalkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih artistik dengan teknik yang lebih baik. Hanya saja minus yang satu ini sangat mempengaruhi kualitas film secara keseluruhan. Bahkan janin bayi 8 bulan saja benar-benar terlihat seperti mainan lilin dengan ukuran super mini, bahkan berkali-kali ditunjukkan di atas kompor, tungku sate, kuah sop dsb. What the heck? Twist yang berusaha disembunyikan penulis skrip rasanya tidak terlalu sulit diterka oleh penonton. Semua petunjuk sudah mengarah kesana sejak memasuki pertengahan film. Beruntung masih ada satu scene tambahan sebelum credit title bergulir yang sedikit banyak menyelamatkan ending film ini dari keklisean serupa. Namun dengan konklusi demikian menyebabkan nyaris tidak ada tokoh yang patut mendapat simpati anda kali ini, sangat disayangkan.
The Snow White juga terkesan rancu dengan penggunaan judulnya yang entah mengacu pada siapa ataupun apa disini. Debut yang kurang meyakinkan bagi "Nannie" si cantik dari grup pop, Girly Berry. Kelebihan film ini jelas hanya pada sosok hantu wanita bunting yang inovatif bermain-main dengan pena, godam, janin atau usus sekalipun. Menjijikkan memang menyaksikannya tapi bukankah atraksi serupa yang ditunggu-tunggu penggila horor?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: