XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 11 Mei 2011

INFESTATION : Serbuan Alien Serangga Raksasa

Tagline:
You will be infected.

Storyline:
Cooper yang tidak bahagia dengan pekerjaannya memilih untuk mengganggu rekan-rekannya di kantor hingga membuatnya dipanggil atasannya, Maureen. Sekelebat cahaya tiba-tiba membuat mereka semua pingsan. Saat terbangun, Cooper menyadari dirinya terbungkus benang layaknya kepompong. Iapun membangunkan beberapa orang di sekitarnya sebelum menyadari dunianya telah berubah drastic. Sekelompok alien berwujud serangga raksasa pun sedang menciptakan dunia baru untuk menyempurnakan populasi mereka. Berhasilkah Cooper dkk selamat sekaligus menjadi pahlawan kesiangan bagi umat manusia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Heavy Duty Entertainment dan Icon Productions

Cast:
Sempat mendukung Fanboys (2008) sebelum ini, Chris Marquette berperan sebagai Cooper
Brooke Nevin sebagai Sara
Kinsey Packard sebagai Cindy
E. Quincy Sloan sebagai Hugo
Wesley Thompson sebagai Albert
Ray Wise sebagai Ethan

Director:
Merupakan film panjang kedua bagi Kyle Rankin setelah The Battle of Shaker Heights (2003).

Comment:
Di medio awal tahun 200an sempat muncul beberapa film yang mengatas namakan serangga sebut saja Arachnid (2001) dan Eight-Legged Freaks (2002). Satu produksi independen bernuansa serius sedangkan yang lain produksi studio besar Hollywood bernuansa komedi. Nyaris satu dekade kemudian muncullah film ini dengan tema serupa, tentunya sudah dibekali dengan tema survival masa kini sehingga cukup menyegarkan.
Sutradara Rankin menggunakan formula sederhana yaitu from zero to hero terlihat dari berbagai karakter yang ia sodorkan berikut polah tingkahnya. Sedangkan dari sisi teknis, sinematografinya terasa sesuai dengan mood film yang ingin diketengahkan yaitu sedikit bias. Bujet rendah yang digunakan disini berhasil dimaksimalkan dengan baik lewat kinerja tata rias maupun spesial efek sederhana yang tergolong menarik.
Nyaris tidak ada nama terkenal yang mengisi jajaran castnya dimana fakta ini justru membantu penonton untuk lebih lepas dalam mengikuti kiprah para tokohnya satu-persatu. Yang mungkin sudah pernah diketahui sebelumnya adalah Marquette yang memerankan Cooper dengan sangat natural. Kita akan bersimpati pada keluguannya yang masih mencari jatidiri dan juga kekerasan hatinya dalam membuktikan eksistensinya sendiri di mata orang-orang terutama ayahnya yang pensiunan militer dan ambisius. Dimainkan oleh Wise dengan cukup kharismatik.
Prolog film berhasil dibuka dengan menarik. Sayangnya kemudian terjadi penurunan tensi dimana keklisean film-film kelas B kembali dihadirkan disini. Meski demikian konsep aksi dan humor yang berjalan seimbang rasanya mampu menjaga minat penonton untuk terus mengikuti hingga akhir tanpa perlu banyak berpikir.
Infestation dikemas sebagai sebuah tontonan ringan yang berkualitas standar, tidak luar biasa tapi juga tidak buruk. Berbagai jenis serangga dari berbagai ukuran hasil kinerja CGI jelas akan memuaskan keingintahuan anda sejak menit pertama hingga terakhir tanpa terasa ada yang ditutup-tutupi. Mudah-mudahan “penampakan” tersebut tidak sampai membuat anda bergidik apalagi membayangkan situasi serupa terjadi di kehidupan anda sendiri. Let them (or us) save the world!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 10 Mei 2011

PURPLE LOVE : Ungunya Cinta Sewaan Berkembang Manis

Quotes:
Pasha: Kalau kamu ingin aku bahagia, kamu harus membiarkanku membahagiakanmu dulu..

Storyline:
Pada suatu malam, Pasha berbunga-bunga kala bertekad melamar gadis pujaannya, Lisa di sebuah taman. Cincin pun sudah disiapkan. Malangnya Lisa lebih memilih laki-laki lain dan menghancurkan hati Pasha seketika. Keempat sahabat sekaligus tim kreatifnya masing-masing Oncy, Makki, Rowman dan Enda pun memutar akal untuk membuat Pasha bangkit kembali. Mereka menghubungi sebuah agency rahasia “Purple Heart” yang diprakarsai oleh Talita. Maka diutuslah Shelly untuk berkencan dengan Pasha tapi malah nyambung dengan Oncy. Di luar dugaan Pasha malah menemukan kecocokan dalam diri Talita. Akankah keduanya mampu bersatu tanpa mengorbankan kebahagiaan masing-masing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya diselenggarakan di Hollywood XXI pada tanggal 10 Mei 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Talita
Pasha
Oncy
Makki
Enda
Rowman
Kirana Larasati sebagai Shelly
Henidar Amroe sebagai Tante Talita
Qory Sandioriva sebagai Lisa
Djenar Maesa Ayu

Director:
Film kelima Guntur Soeharjanto sejauh ini yang karir penyutradaraannya diawali lewat Otomatis Romantis (2008).

Comment:
Jika The Changcuters dan Wali sudah lebih dulu bermain film, maka tidak ada salahnya Ungu mencoba peruntungannya sendiri. Setidaknya sudah dikalkulasi terlebih dahulu oleh sang produser Chand Parwez yang mempertimbangkan popularitas tinggi band yang dibentuk sejak tahun 1996 ini. Maka diutuslah dua orang handal di bidang perfilman yaitu Cassandra Massardi dan Guntur Soeharjanto untuk duduk di kursi penulis skrip dan sutradara.
Selama ini Cassandra sudah dikenal dengan karya-karya bermuatan ringannya. Beberapa di antaranya nyaris tanpa esensi, murni hiburan kosong. Dan kali ini ia kembali melakukannya, tidak heran jika identitas film ini dipertanyakan karena berpijak di antara genre komedi dan drama romantis sekaligus dengan batasan yang kabur. Dialog-dialognya berusaha dibuat puitis tapi malah sedikit berlebihan, beruntung hit-hit Ungu sudah dikenal luas sehingga tidak masalah jika dijadikan backsound.
Bagaimana dengan Guntur? Seperti biasa ia memulai prolog film seperti sudah berada di tengah-tengah sesuatu. Lantas penonton dibiarkan mereka-reka sendiri latar belakang dan karakterisasi para tokohnya. Khusus sinematografi sebetulnya sudah cukup baik dimana menggunakan berbagai lokasi yang cukup familiar sebagai latar belakangnya. Kekurangannya mungkin pemotongan scene per scene yang seringkali teramat kasar sehingga esensi perpindahan adegan menjadi kurang bermakna.
Sebagai satu-satunya yang memiliki jam terbang tinggi disini, Nirina Zubir memang tampil ceria dan sendu sama baik seperti biasanya. Hanya saja seiring bertambahnya usia dan pergantian status, Nirina sebaiknya lebih selektif memilih peran di kemudian hari karena saya merasa ia tidak seenergik dulu lagi apalagi harus memerankan tokoh yang usianya di bawah.
Bagaimana dengan Ungu sendiri? Pasha kelihatan tampil dengan beban berat di pundaknya sehingga kurang lepas. Menjelang pertengahan film barulah permainannya membaik. Lain halnya dengan Oncy, Makki, Onda, Rowman yang justru berakting dengan lugas. Menarik melihat interaksi mereka satu sama lain dalam memancing spontanitas yang terkadang berhasil mengundang senyum terutama interaksi Oncy dengan Kirana Larasati yang berperan super lebay itu.
Purple Love memang dikemas sebagai tontonan remaja tapi sayangnya kurang meremaja dari berbagai sisi. Dramatisasi yang berusaha dihidupkan menjelang ending juga agak dipaksakan, apalagi melihat kehadiran Qory kembali secara tiba-tiba itu. Hm, secara keseluruhan saya beranggapan film yang satu ini lebih seperti pentas drama sekolah yang disuguhkan babak per babak. Cukup memenuhi standar walaupun ada rasa tidak puas pada akhirnya.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 09 Mei 2011

AKIBAT PERGAULAN BEBAS 2 : SKANDAL VIDEO PORNO

Storyline:
Berada di puncak karirnya sebagai bintang film, Denis Yudhistira merasa berada di atas angin. Kebiasaan buruknya adalah memiliki affair dengan banyak wanita walau sudah berhubungan serius dengan penyanyi terkenal, Rasty Maria. Hal ini dikritik habis-habisan oleh sahabat sekaligus lawan mainnya, Jimmy Ardiansyah yang jadwal syutingnya sering terganggu apalagi Tiara, wanita yang disukainya lebih memilih berkencan dengan Denis. Puncak kemarahan Jimmy ditumpahkan pada manajer artis Mario sebelum baku hantam terjadi. Paska kejadian itu, Denis kehilangan laptop pribadinya yang berisikan rekaman percintaan panasnya dengan sejumlah wanita yang kemudian sampai ke media. Akankah karir Denis berakhir?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Production dimana gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 9 Mei 2011.

Cast:
Keith Foo sebagai Denis Yudhistira
Leylarey Lesesne sebagai Rasti
Lia Aulia sebagai Tiara
Rocky Jeff sebagai Jimmy
Amink sebagai Mario
Tasya Djerly sebagai Dini

Director:
Film kedua Findo Purwono HW di tahun 2011 ini dimana tahun lalu menyutradarai total 4 film.

Comment:
Semua orang yang mengaku Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui kasus video porno Ariel, Luna Maya, Cut Tari beberapa waktu lalu yang sangat menghebohkan itu. (Kepada artis yang bersangkutan mohon maaf jika menyinggung kembali nama anda-anda sekalian karena saya hanyalah seorang movie reviewer). Dan entah apa yang ada di pikiran produser HM Firman Bintang untuk merekayasa kembali skandal tersebut dalam sebuah produksi layar lebar. Berusaha mengeruk keuntungan di sela-sela minimnya pasokan film impor di bioskop-bioskop Ibukota?
Findo juga terkesan “mendegradasi” dirinya sendiri dengan duduk di kursi sutradara kali ini. Biasanya film-film beliau mempunyai ciri khas tersendiri dan mayoritas bermain di genre horor/komedi yang harus diakui mudah dicerna penonton awam. Kali ini ia murni menggarap sebuah drama yang tidak menawarkan kejutan apapun di dalamnya karena mayoritas audiens sudah mengetahui arah yang ditujunya. Yang tersisa tinggal bagaimana penulis Aviv Elham menutup film ini.
Saya pribadi merasa nama-nama yang mengisi film ini sangat miscasting, terlebih berbagai cameo yang sangat tidak penting. Keith Foo bukanlah Ariel dan setidaknya ia berusaha menginterpretasikan versinya sendiri dengan cukup wajar. Itulah satu-satunya nilai plus dari aktingnya disini selain logat Inggris-Melayunya yang terkadang mengganggu pendengaran. Aming seperti biasa terlihat nyaman tampil sebagai dirinya sendiri dalam peran manajer artis yang banci.
Sedangkan dari aktris-aktrisnya sendiri masih kurang maksimal. Ley terlihat tidak konsisten dalam mengeksplorasi sisi emosionalnya saat menghadapi kesulitan. Lia tidak mendapat banyak kesempatan selain tampil seksi menggoda. Lain lagi dengan Tasya yang dikabarkan sebagai perawan lugu dari Bogor tetapi justru berpenampilan wah selayaknya gadis metropolitan. Sekali lagi saya tekankan kalau karakterisasi mereka sudah diplot sedemikian rupa tanpa perlu banyak adiksi.
Akibat Pergaulan Bebas 2 di paruh pertama durasinya kelihatan berusaha untuk bercerita secara runut mengenai pengenalan tokoh-tokohnya. Namun jatuhnya membosankan dan tidak menarik. Paruh kedua mencoba meningkatkan intensitas seiring dengan mencuatnya konflik tapi malah semakin tergelincir. Penulis terkesan bingung menyajikan ending yang diplot dengan twist. Sayangnya tidak lagi mengejutkan penonton yang bahkan lebih memilih pergi duluan sebelum sampai kesana.
Sekadar catatan, film ini tidak ada kaitan apapun dengan APB versi Nayato yang edar tahun lalu itu. Murni berdiri sendiri dan hanya menambah angka 2 di belakangnya plus subtitle tambahan “Skandal Video Porno” untuk memberikan penegasan. Dari sisi sinematografi dan editing, APB 2 ini kualitasnya di bawah FTV sekalipun. Dan jika anda masih (setidaknya) mengharapkan sex scene sebagai suguhan utamanya maka bersiaplah untuk kecewa juga dengan film yang super minus ini.

Durasi:
80 menit

Overall:

6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 08 Mei 2011

KUNGFU KID : Misi Jago Kungfu Cilik Sempurnakan Ilmu

Original title:
Kanfû-kun

Storyline:
Di usianya yang baru 7 tahun, Kungfu telah menuntaskan 35 tingkatan beladiri Shaolin. Tugas terakhirnya didapat dari Master yang segera mengirimnya ke Jepang dengan sebuah gelang. Jika gelangnya berbunyi maka menandakan ia dekat dengan musuh terbesarnya. Dan gelang tersebut juga akan mencegahnya menggunakan beladiri semena-mena. Di Jepang, Kungfu diadopsi oleh seorang wanita pemilik restoran Chinese yang cekatan dan memiliki cucu perempuan bernama Reiko. Di sisi lain, pemilik perusahaan “Black Game” bertekad menjadikan seantero warga cilik Jepang menjadi bodoh dengan pengaruhnya. Kini Kungfu pun tahu ia harus berhadapan dengan siapa!

Nice-to-know:
Film yang dirilis di Jepang pada tanggal 29 Maret 2007 ini diproduksi secara keroyokan oleh Area Japan, Kadokawa Pictures, NICE Day, Plusmic CFP dan Sedic International.

Cast:
Zhuang Zhang sebagai Kungfu
Mari Yaguchi sebagai Sayuri
Nanami Fujimoto sebagai Reiko
Arata Furuta sebagai CM Tarento
Sô Hirosawa sebagai Ibu Reiko
Masatô Ibu sebagai Reiko no Ojîchan

Director:
Merupakan karya kedua Issei Oda setelah Arch Angels (2006) yang sebetulnya lebih banyak bermain di departemen visual efek.

Comment:
Rasanya di tahun 1980an sudah banyak sekali film anak-anak bertemakan sejenis, sebut saja The Karate Kid (1984) yang kemudian diremake kembali seperempat abad kemudian. Kini pada medio tahun 2000an, Jepang berusaha membuat versinya sendiri dengan beberapa perubahan yang diharapkan fresh dan lebih sesuai dengan perkembangan jaman. Benarkah begitu? Anda boleh berpendapat sendiri.
Plot ceritanya sendiri terbilang sederhana dan sangat ramah untuk dikonsumsi seantero keluarga dari berbagai tingkatan umur. Logikanya teramat mudah dicerna sehingga anda hanya perlu duduk santai tanpa perlu banyak berpikir menemani putra-putri anda menyaksikannya. Adegan pertarungannya juga dikemas tanpa menonjolkan kekerasan yang nyata. Bukankah sulit menemui film serupa di masa yang serba canggih ini?
Sutradara Oda menyajikan semuanya dengan runut disertai beberapa flashback untuk memberikan penjelasan latar belakang. Memang sinematografi dan editing yang dihasilkan masih mengesankan serial televisi jaman dahulu, sebut saja Ksatria Baja Hitam tapi tidak terlalu mengganggu. Kemampuannya di bidang visual efek juga sangat membantu karena berbagai scene disini menuntut hal itu termasuk hal-hal simpel seperti slow motion gerakan Kungfu hingga yang cukup kompleks selayaknya lontaran bola api, sinar tenaga dalam, dsb.
Aspek komedi disini juga kadarnya terasa pas dimana dominan sekali kelucuan dari sudut pandang kanak-kanak. Terkadang saya merasa “eksploitasi” terhadap sosok Kungfu terasa berlebihan dimana ia diperlakukan seperti bayi. Beruntung Zhuang masih dapat menampilkan mimik wajah polos dan kemampuan beladiri yang meyakinkan sehingga figurnya dapat diidolakan segenap audiens.
Kungfu Kid memang tidak menawarkan suatu konsep yang baru apalagi luar biasa secara tampilan. Namun semuanya dikemas dalam sebuah hiburan yang gampang dinikmati dengan asupan pesan moral disana-sini. Satu semboyan pasti yang didengungkan sejak lawas juga muncul kembali disini yaitu “Kebaikan akan selalu unggul dari kejahatan.”

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 07 Mei 2011

DON’T GO BREAKING MY HEART : Sweet Indecisive Urban Love Triangle


Quotes:
Cheng Zixin: Bagaimana dia bisa mencintaiku saat hatinya tidak hanya untukku?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Media Asia Films, China Film Media Asia Audio Video Distribution Co. dan Milky Way Image Company ini dirilis di China pada tanggal 31 Maret 2011 yang lalu.

Cast:
Louis Koo sebagai Cheung Shen-ran
Daniel Wu sebagai Fang Qihong
Gao Yuanyuan sebagai Cheng Zixin
Lam Suet
Selena Li
JJ Jia
Terence Yin


Director:
Merupakan film ke-51 bagi Johnnie To yang mengawalinya sejak The Enigmatic Case (1990).

W For Words:
Jangan terpengaruh oleh judul ceritanya yang klise. Film yang mengadakan world premierenya pada ajang 35th Hong Kong International Film Festival ke-35 tanggal 20 Maret 2010 yang lalu ini terbukti menawarkan berbagai hal baru dari sisi realita romansa yang tidak selalu mulus dan indah layaknya dongeng cinta putri dan pangeran. Tak peduli bumbu cinta segitiga yang mungkin basi tersaji hasil buah pemikiran kuartet penulis skrip Wai Ka Fai, Yau Nai Hoi, Ryker Chan, Jevons Au, anda akan tetap merasakan keterikatan yang kuat dari tiga tokoh utamanya yang karismatik ini.

Zixin adalah gadis manis bersahaja yang patah hati karena kekasihnya lebih memilih untuk menikahi wanita lain. Saat itulah ia berkenalan dengan pria tampan kaya pemilik perusahaan keuangan di seberang kantornya, Shenran yang ternyata seorang playboy sejati. Hubungan mereka semakin dekat apalagi Cheng mengajaknya tinggal bersama. Zixin lupa bahwa pertemuan manis tak disengaja bertahun-tahun lalu dengan pemuda mantan arsitek ganteng Qihong juga menyimpan kisah yang belum selesai. Siapa yang akhirnya dipilih oleh Zixin sebagai pendamping hidupnya?
Spesies lelaki dalam film ini diklasifikasikan menjadi tiga yaitu yang selingkuh, yang akan selingkuh atau jenis ketiga yang diidentikkan dengan makhluk dari dunia lain. Menarik sekaligus faktual bukan? Louis Koo mewakili jenis pertama (dan kedua) dengan karakter Cheng yang flamboyan, menganggap semua cinta dapat dibeli dengan uang, sama mudahnya dengan menghabiskan stok kondom di mobilnya. Daniel Wu menginterpretasikan jenis ketiga dengan karakter Fang yang santun, meyakini sebuah cinta dalam seumur hidupnya, jelas tipikal pemuda yang ingin dibawa pulang setiap gadis ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga.

Gao Yuanyuan dengan kenaifan dan kecerdasannya bertransformasi dari pecundang cinta menjadi gadis menarik yang mampu memikat dua pria sukses. Sikap moody dan kebimbangannya dalam memilih memang kadang menjengkelkan, membuat konflik berlarut-larut sampai akhir. Namun audiens tentu dapat memahami pergolakan batinnya dalam menentukan pria mana yang tepat baginya. Momen demi momen yang dijalani oleh tokoh Zixin bersama Cheng ataupun Fang diyakini akan menempatkan penonton (terutama wanita) dalam dua kubu yang saling berseberangan. Teka-teki yang dibiarkan tanda tanda sampai akhir film.
Sutradara Johnnie To lebih banyak menggunakan aksen Mandarin daripada Cantonese dalam film yang kerap berpindah dari Hongkong ke Suzhou ini. Interaksi asmara unik mampu dihadirkan melalui dua elemen yang amat kekinian. Satu, jendela kaca di tempat kerja yang berseberangan, membuka kemungkinan pertukaran simbolisasi bahasa tubuh ataupun bahasa gambar dari dua pihak yang saling pandang dari kejauhan. Dua, ponsel canggih masa kini yang memungkinkan pertukaran tulisan, suara hingga video secara interaktif, meretas jarak yang terbentang sekalipun.

Don’t Go Breaking My Heart merupakan satu dari sedikit komedi romantis berkualitas Asia yang muncul selama beberapa tahun terakhir. Satu dari sedikit film pula yang mau mengedepankan kodok sebagai ikon kesetiaan sekaligus penjawab keraguan. Kekuatan karakterisasi yang konsisten dari Koo, Wu dan Yuanyuan berhasil menjaga konsep romansa yang seringkali salah timing atau bahkan tak terungkapkan. Tendensi yang pada akhirnya menimbulkan rasa penyesalan yang mendalam bagi siapapun yang mengalaminya. Selain itu, penerapan teori bahwa jatuh cinta memang tak selalu melihat kesempurnaan dari diri seseorang melainkan mencintai ketidaksempurnaannya itu adalah benar adanya. Path of true love doesn’t always run smooth. Yes, this one is charming for ladies and delicate also for gentleman.

Durasi:
114 menit

Asia Box Office:
$1,500,000 on first day in China till end of March 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 06 Mei 2011

INCONTROLABLE : Derita Kehilangan Kendali Tubuh

Original title:
Son corps se rebelle!

Storyline:
Penulis skenario Georges memang bernasib buruk. Penampilan fisiknya yang kurang menarik juga membuatnya tidak disukai sahabat dan rekan-rekannya, terkecuali Marion yang diam-diam memperhatikannya. Kesialan demi kesialan yang dialami Georges diakhiri dengan sengatan listrik akibat kabel yang membelit di tepi jalan pada suatu malam. Keesokan harinya, Georges mendapati alter ego lain bernama Rex yang mengendalikan tubuhnya sendiri! Kini ia harus berjuang untuk memperbaiki hidupnya sendiri termasuk memenangkan hati Marion di depan keluarganya walaupun harus jatuh bangun.

Nice-to-know:
Mengacu banyaknya kritik yang diterima film ini, Michael Youn sempat menerbitkan surat tanggapan bernada kurang enak di website resminya sebelum akhirnya dihapus. Namun sayangnya isinya sudah tersiar kemana-mana.

Cast:
Sebelumnya mendukung Iznogoud (2005), Michaël Youn bermain sebagai Georges Pal
Hélène de Fougerolles sebagai Marion
Hippolyte Girardot sebagai Roger
Thierry Lhermitte sebagai Denis
Patrick Timsit sebagai Marc

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Raffy Shart setelah lebih banyak menjadi penulis dan aktor.

Comment:

Sebelum menyaksikan film ini, rating system sebuah movieweb terpercaya di internet telah memperingatkan saya akan buruknya tontonan yang akan dicerna. Namun saya memutuskan untuk tetap menontonnya dan bersikap netral. Malang memang karena rating nyaris tidak dapat dibohongi. Komedi selama nyaris satu setengah jam ini “menyiksa” para penontonnya terus menerus dari awal sampai akhir dari berbagai sisi yang dimilikinya.
Sebenarnya plot dibuka dengan cukup menjanjikan dimana karakter Goerges seakan diberikan “kesempatan kedua” untuk menata hidupnya dari suatu “musibah” tak terduga yang dialaminya di suatu malam. Nyatanya hal itu tidak terjadi, skrip yang ditulis Raffy Shart ini malah dibiarkan terperosok semakin dalam dan dalam, seakan tidak ada jalan untuk kembali yang dapat menyelamatkan kualitas film ini, tanpa terkecuali endingnya yang aneh itu.
Sebetulnya Youn bukanlah komedian Perancis yang buruk. Perannya disini seakan mengingatkan kita pada tingkah laku Jim Carrey yang ajaib dan berlebihan itu. Dan ia tergolong cukup berhasil memainkan ekspresi dan bahasa tubuhnya sedemikian rupa untuk menyesuaikan kondisi “lepas kendali”nya tersebut. Memang sebagian dibantu properti palsu ataupun tali-tali kasat mata untuk menipu penglihatan audiens. Sah-sah saja!
Di luar karakter Goerges juga tidak membantu samasekali. Helene sebagai leading actress Marion memang terlihat menarik di depan kamera tapi sulit untuk menerka naik-turun perasaannya terhadap Georges. Lhermitte sebagai Denis memang terlihat sebagai ayah yang keras dan otoriter tapi apa yang dilakukannya tersebut nyaris tidak berarti apa-apa terhadap tokoh-tokoh sentral lainnya. Belum lagi karakter Grandma yang sangat komikal nan mengganggu itu.
Entah motivasi apa yang ada dalam pikiran penulis-sutradara Shart dalam menangani komedi yang terlalu slapstick ini. Incontrolable benar-benar sebuah bencana yang akan membuat pikiran anda sejenak kehilangan kontrol kewarasannya dengan kebodohan-kebodohan yang tidak berujung. Pada akhirnya rasa bingung, jijik dan sia-sia sudah membuang waktu akan mengiringi langkah gontai anda meninggalkan gedung bioskop.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 05 Mei 2011

THE MIRROR NEVER LIES : Keikhlasan Cermin Laut Kerinduan Bapak

Quotes:
Pakis: Kemana angin-angin itu membawa kabar Bapak? Aku tidak mengerti..

Storyline:
Gadis kecil berusia 12 tahun bernama Pakis kerapkali menantikan kepulangan ayahnya yang hilang saat melaut. Ia melakukan ritual suku Bajo dengan membawa-bawa cermin kemanapun pergi yang dipercaya bisa menampilkan bayangan ayahnya itu. Sayangnya sang ibu, Tayung sudah putus asa dan beranggapan suaminya telah meninggal sehingga menghardik kebiasaan putri semata wayangnya itu. Datanglah Tudo, seorang peneliti lumba-lumba yang juga mengajar di sekolah Pakis dan Lumo. Kehadiran Tudo dari kota besar Jakarta itu membawa pengalaman baru tersendiri bagi Tayung ataupun Pakis dan kawan-kawannya. Akankah keempat manusia dengan kompleksitas masing-masing ini dapat menemukan jawaban mengenai jati diri masing-masing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SET Film and WWF Indonesia dan gala premierenya dilangsungkan di Djakarta XXI pada tanggal 29 April 2011.

Cast:
Atiqah Hasiholan sebagai Tayung
Reza Rahadian sebagai Tudo
Gita Lovalista sebagai Pakis
Eko sebagai Lumo
Zainal
Halwiyah
Darsono

Director:
Debut pertama penyutradaraan layar lebar bagi Kamila Andini setelah sebelumnya menangani video musik Slank dan beberapa serial televisi.

Comment:
Kapan terakhir kali sebuah film lokal mampu menjual sebuah lokasi dengan begitu indahnya menjadi background cerita yang kuat? Judul pertama yang terlintas di kepala saya adalah Laskar Pelangi (2008) yang mengedepankan Propinsi Bangka Belitung. Kini hadir sebuah film yang juga disponsori WWF yang tentunya mengusung juga semboyan pelestarian alam pada umumnya dan hewan-hewan yang dilindungi pada khususnya.

Sutradara Kamila yang pernah tinggal langsung 20 hari di Kabupaten Wakatobi dengan jeli memfilmkan kehidupan suku Bajo yang nyaris sebagian besar aktifitasnya dilakukan di atas air. Shoot panjang dan pendek terhadap lanskap yang begitu indah tergolong berhasil menciptakan sinematografi yang dinamis dan variatif. Beberapa kali saya justru “tersentuh” dengan gambar-gambar yang begitu hidup dan memanjakan mata.







Berbagai adat istiadat setempat juga disinggung disini. Semisal penggunaan masker wajah bagi wanita janda (yang tengah menunggu kepulangan suami yang entah hilang/meninggal), konsep pernikahan massal yang unik dan meriah, penangkapan ikan dengan bantuan lumba-lumba, penggunaan cermin untuk mencari orang yang hilang dsb. Kesemuanya itu akan membuat anda tersenyum sekaligus takjub melihat kebiasaan orang-orang Bajo dari tua maupun muda.

Sentralisasi peran memang dipercayakan kepada Gita dan Eko. Sulit memang untuk menerjemahkan karakter Pakis dan Lumo tapi kedua remaja belia itu berhasil melakukannya dengan sangat natural. Bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain di dalam ruangan (sekolah, rumah) ataupun di luar ruangan (padang rumput, laut) memberikan nuansa yang berbeda-beda. Jangan lupakan juga karakter Zainal sebagai teman Lumo yang mencuri perhatian dengan nyanyian spontan berlirik “nendang” itu.









Kwalitet akting seorang Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian memang tidak diragukan lagi terlebih Atiqah mampu beraksen Sulawesi dengan lancar. Namun kehadiran keduanya disini lebih merupakan supporting casts yang matang dan dianggap menjual. Sebetulnya saya mengharapkan tokoh Tayung dapat memberikan nilai yang lebih sebagai single parent, ataupun tokoh Tudo bisa menjadi inspirasi tersendiri sebagai pengajar sekaligus peneliti bagi murid-murid didikannya. Pada akhirnya keduanya malah terasa “dilepas” begitu saja dari konklusi cerita. Cukup disayangkan.

Keunggulan The Mirror Never Lies memang dari bahasa gambar Kepulauan Wakatobi yang berbicara banyak plus potret kehidupan warga Sulawesi Tenggara sehari-harinya. Meskipun bertempo lambat dan runut dalam bercerita, anda tetap antusias dan terkagum-kagum menyaksikannya. Di saat credit title menggulung layar, saya jamin pikiran anda sudah melayang pada nikmatnya makanan khas kazuami dan bergegas merencanakan perjalanan ke Kabupaten yang beribukota Wangi-Wangi tersebut.

Durasi:
95 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 04 Mei 2011

GO FAST : Penyamaran Balas Dendam Pengedar Narkoba

Storyline:
Petugas polisi criminal, Marek berusaha membalaskan dendam rekan sekaligus sahabat karibnya yang terbunuh di tangan geng pengedar narkoba. Cara yang ditempuh adalah dengan menyamar sebagai salah seorang anggota geng bernama Slimane. Perjalanan narkoba tersebut bermula dari Morocco sampai berlabuh di Perancis dengan metode “Go Fast" dengan speedboat dan angkutan darat super cepat. Kini Kepolisian Perancis harus bekerjasama untuk menjebak geng tersebut yang sudah merugikan banyak pihak termasuk korban nyawa.

Nice-to-know:
Berjudul asli Au Coeur du trafic, film ini diproduksi oleh Avalanche Productions dan Europa Corp.

Cast:
Pernah memenangkan gelar Aktor Terbaik dalam Festival Film Cannes 2006 lewat Indigènes (2006), Roschdy Zem bermain sebagai Marek / Slimane

Olivier Gourmet sebagai Jean-Do Paoli
Jocelyn Lagarrigue
sebagai Sylvain

Julie Durand
sebagai Nadia

Mourade Zeguendi
sebagai Luigi

Director:
Merupakan film kedua bagi Olivier Van Hoofstadt setelah Dikkenek (2006).

Comment:
Sesuai judul dan penampakannya, seharusnya film yang satu ini mampu memenuhi ekspektasi setiap orang akan sebuah film action Perancis yang klasik dan memacu adrenalin. Nyatanya kinerja sutradara Van Hoofstadt terlalu datar dan tidak menawarkan sesuatu yang baru samasekali. Belum lagi cara kamera mensyut adegan demi adegan yang menurut saya terlalu monoton dimana sekuensnya banyak menghasilkan scene yang tidak terlalu penting bagi penonton.

Plotnya sederhana mengenai seorang polisi yang sedang dalam penyamaran demi membalaskan dendam rekannya yang tewas di tangan bandar narkoba. Yang menarik mungkin hanyalah metode penyelundupan narkoba yang disampaikan dengan detail dari Morroco ke Spanyol hingga ke Perancis menggunakan sarana transportasi yang super cepat. Tugas polisi untuk menghentikannya menjadi sulit jika tidak dibekali dengan siasat yang baik.

Rasanya tidak bijaksana menyalahkan semua aktor-aktris yang bermain disini dikarenakan karakterisasi mereka dalam skrip juga tergolong satu dimensi. Hal ini menyebabkan penyampaian emosi nyaris tidak ada, bagaimana sebuah kejadian menimpa salah satu tokoh tapi tidak berdampak apapun selanjutnya. Zem jelas bukan aktor yang buruk tapi kiprahnya sebagai Marek / Slimane tidak mampu menggiring penonton untuk telaten mengikuti segala aksinya. Percayalah.

Go Fast juga terkesan mengakhiri kisahnya dengan kelewat idealis. Kesatuan polisi disini bekerja terlalu cermat, akurat dan dilengkapi dengan strategi yang teramat matang. Coba bandingkan dengan kenyataannya! Jika harus ada pemangkasan di setengah durasinya hingga menjadi sebuah episode film televisi, rasanya film ini jauh lebih menyenangkan untuk ditonton dengan segala turun naik tensi dan kekliseannya.


Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$5,205,343 till Sept 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Selasa, 03 Mei 2011

COWOK BIKIN PUSING : Rebound Bersama Setelah Kandasnya Percintaan

Quotes:
Cecile: Mungkin emang loe yang mau hidup gw sepi dan menderita. Sama kayak apa yang loe alami!

Storyline:
Cecile, Tasha dan Justin telah bersahabat lama dimana mereka selalu berbagi cerita apapun. Cecile bersama Tasha bahkan mendirikan sebuah toko kue Cecile’s Bittersweet Chocolate yang laris manis itu termasuk salah satu pelanggan setianya, Dino. Sayangnya kebahagiaan tidak berlangsung lama karena Cecile harus putus dengan tunangannya, Marco setelah berjalan 5 tahun. Tasha dan Justin pun menghibur Cecile dengan membalas perlakuan Marco. Di sisi lain, Dino pun mengakhiri hubungannya dengan Angela yang ketauan berselingkuh. Kesamaan nasib membuat Dino dan Cecile menjadi dekat. Namun apakah perasaan yang mereka miliki itu sungguhan, bukan sekadar rebound saja?

Nice-to-know:

Diproduksi oleh MVP Pictures dan screening terbatas diadakan di Planet Hollywood pada tanggal 28 April 2011.

Cast:
Julie Estelle
sebagai Cecile

Laudya Chintya Bella
sebagai Tasha

Nino Fernández
sebagai Dino

Aming
sebagai Justin

Marcel Chandrawinata
sebagai Marco

Marissa Nasution sebagai Angela
Alex Abbad sebagai Alex

Director:
Winalda E. Melalatoa pernah menggarap MBA (Married By Accident) di tahun 2008 lalu.

Comment:
Tertunda nyaris selama 3 tahun sebelum akhirnya dirilis pada 5 Mei 2011 telah mengubah banyak fakta dalam film ini. Pertama, judul awalnya adalah “Selingkuh”. Kedua, Aming dan Marissa Nasution melakukan debutnya disini, sebelum film-film mereka yang justru rilis duluan. Entah apa penyebab pastinya mengenai penundaan tersebut, yang pasti komedi romantik yang satu ini tidak lantas dipandang sebelah mata.

Plotnya simpel yaitu mengenai cinta dan persahabatan. Cinta yang harus kandas karena banyaknya faktor penghambat yang tidak mampu diselesaikan oleh kedua belah pihak. Bukan sesuatu yang tidak umum, terlebih anda yang sudah sering melewati gagal/suksesnya sebuah hubungan. Lantas bagaimana jika persahabatan yang seharusnya suportif di dalam segala hal justru menjadi pengganjal cinta itu sendiri untuk maju. Siapkah anda untuk berpikir jernih jika harus memilih salah satu di antaranya?

Kurang lebih itulah yang ingin disampaikan oleh penulis skrip kondang, Sekar Ayu Asmara. Apalagi latar belakang tempatnya adalah Bali yang sangat menjual dengan eksotisme uniknya yang tentu sudah sangat dikenalnya secara pribadi. Modal awal tersebut memang terbukti mempermudah kinerja sutradara Winalda yang sebelumnya sudah familiar dengan tema percintaan. Bahkan pada beberapa bagian, kita akan turut merasakan campur tangan seorang Rizal Mantovani yang tampaknya lebih memilih untuk duduk di Departemen Artistik kali ini.
Keempat karakter utamanya disini yakni Julie, Laudya, Nino dan Marcel memang bermain “aman”. Tidak banyak perbedaan yang ditampilkan dari peran-peran mereka sebelumnya. Yang menarik adalah profesi masing-masing dimana bisnis Cecile's Bittersweet Chocolate yang dijalankan Cecile dan Tasha memperkenalkan cake dan coklat dalam tampilan menggugah selera serta tokoh Dino yang digambarkan sebagai seorang guru surfer yang handal. Sedangkan Aming dan Alex Abbad lumayan mencuri perhatian sebagai sidekick, alias pasangan gay yang serba heboh perkataan dan tindak tanduknya. Mudah-mudahan anda tidak terganggu.
Keputusan pemakaian judul film ini memang terkesan tidak tepat. Premis yang dihadirkan di awal mengenai “angka-angka statistik” cowok seakan lenyap begitu saja memasuki pertengahan. Konflik berganti menjadi kaburnya arti persahabatan dan sulitnya menjalankan hubungan baru paska putus alias rebound. Pada akhirnya, permasalahan yang cukup krusial tersebut memang terselesaikan kelewat mudah. Demi mengejar konsep happy ending yang aman dan menyenangkan bagi semua pihak? Apapun alasannya, Cowok Bikin Pusing tetaplah sebuah tontonan yang fun dan ringan untuk dinikmati.

Durasi:
85 menit


Overall:
7.5 out of 10


Movie-meter:

Minggu, 01 Mei 2011

MY SASSY GIRL : Pertemuan Gadis Aneh Asmara Unik

Quotes:
Charlie Bellow: If we never see each other again... And you're out walking one day and you feel a certain presence beside you... that will be me, loving you, wherever I am.

Storyline:
Charlie Bellow merasa telah jatuh cinta pertama dan terakhirnya terhadap seorang gadis aneh bernama Jordan Roark. Pertemuan mereka diawali di stasiun kereta bawah tanah dimana Jordan yang mabuk bertingkah aneh dan memanggil Charlie “sayang” sebelum pingsan. Charlie yang sedang dalam proses menata karir impiannya selepas bangku kuliah mulai terganggu karena terus memikirkan Jordan. Kebersamaan keduanya juga sulit dijelaskan karena dilalui dengan banyak pertengkaran dan kesalahpahaman. Namun ketika keduanya sama-sama menulis surat cinta untuk dikubur di bawah pohon selama setahun, nasib mungkin berbicara lebih banyak bagi hubungan Charlie dan Jordan di kemudian hari.

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film Korea laris berjudul Yeopgijeogin geunyeo (2001).

Cast:
Namanya mulai dikenal sejak membintangi The Girl Next Door (2004), Elisha Cuthbert bermain sebagai Jordan Roark
Peran Charlie Bellow merupakan 1 dari 3 film yang dibintangi Jesse Bradford di tahun 2008 selain W dan The Echo.
Austin Basis sebagai Leo
Chris Sarandon sebagai Dr. Roark

Director:
Merupakan karya kedua bagi pria berkebangsaan Perancis bernama Yann Samuell ini setelah Jeux d'enfants (2003) alias Love Me If You Dare itu.

Comment:
Di tahun 2001 lalu, My Sassy Girl yang di luar dugaan meledak di pasaran Asia. Saat itu merupakan masa awal booming film-film Korea di Indonesia, dimulai dari serial televisi hingga beberapa feature film. Beruntung sekali pihak distributor Blockbuster merilis originalnya sehingga saya dan keluarga bisa menyaksikannya hingga jatuh hati dengan keunikan dan kehangatan sebuah komedi romantis yang tidak biasa itu.
Satu dekade berlalu, remake Hollywood yang aslinya tahun 2008 itu akhirnya tiba juga ke bioskop-bioskop tanah air lebih karena krisis film yang terjadi di negara ini. Entah harus bersyukur atau tidak. Yang jelas niat saya menyaksikan film yang satu ini adalah rasa penasaran untuk membandingkan meskipun sudah tahu versi mana yang akan lebih unggul pada akhirnya. Plus dua leading casts nya yang merupakan mantan aktor aktris remaja idola saya dulu.
Nyatanya Victor Levin yang sudah berusaha setia dalam mengerjakan screenplay nya masih tidak mampu menerjemahkan segala unsur penting dari versi aslinya. Paling fatal adalah karakterisasi si gadis sassy yang seharusnya terlihat hancur dan marah terhadap apapun/siapapun juga karena kehilangan orang yang dicintainya. Oleh karena itu bisa dimaklumi jika ia bersikap demikian terhadap sang pria lugu yang teramat sangat toleran itu.
Cuthbert tidaklah bermain buruk sebagai Jordan. Ia tetap manis dan memikat terlebih saat kebagian momen serius. Namun dalam momen komedik masih terasa kurang lepas. Sedangkan Bradford tampaknya sudah cukup maksimal dalam memerankan Charlie. Dia polos, sabar dan menyenangkan walaupun transformasi mahasiswa berbakat menjadi eksekutif muda tidak terlalu ditonjolkan disini. Chemistry keduanya tidak terlalu pas meski tetap mampu mengundang simpatik penonton.
Sutradara Samuell nyaris menerjemahkan setiap scene dari versi aslinya termasuk adegan-adegan yang bersetting di stasiun kereta bawah tanah ataupun taman. Sayangnya kelekatan nuansa Asia nyatanya tidak dapat digantikan begitu saja. Ada beberapa elemen gembira dan sedih yang hilang serta tidak mampu menohok perasaan audiens dengan maksimal. Termasuk penggunaan kata-kata puitis dalam surat yang dituliskan Charlie untuk Jordan di ending.
Bagi anda yang belum pernah menyaksikan versi Koreanya, mungkin tetap bisa menikmati My Sassy Girl versi Amerika ini sebagai sebuah komedi romantis yang dalam artinya. Namun jika anda pernah rasanya akan beranggapan nilai film ini satu atau dua tingkat di bawah originalnya. Memang bukan sebuah remake yang buruk tetapi sudah kehilangan sebagian dari esensi penantian, pengorbanan dan kasih sayang itu sendiri yang seringkali bertabrakan dengan konsep jodoh dan nasib.

Durasi:
90 menit

Asian Box Office:
$23,606 opening week June 2008 in Thailand

Overall:

7 out of 10

Movie-meter: