XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label japan movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label japan movie. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 September 2012

SADAKO 3D : Nowhere Near Inside The Ring

Quote:
Sadako: Bukan.. Bukan kau orangnya..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi secara kolaborasi oleh Kadokawa Pictures, Tokai Television Broadcast Company, Shizuoka Telecasting, Kansai Telecasting (KTV), Tohokushinsha Film Corporation ini rilis di Jepang pada tanggal 12 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Ai Hashimoto sebagai Sadako
Satomi Ishihara sebagai Akane Ayukawa
Kôji Seto sebagai Takanori Ando
Yusuke Yamamoto sebagai Kiyoshi Kashiwada
Tsutomu Takahashi
Shôta Sometani
Hikari Takara
Ryôsei Tayama

Director:
Merupakan feature film keempat Tsutomu Hanabusa setelah terakhir Ike! Danshi koukou engekibu (2011).

W For Words:
Nyaris semua pecinta film setidaknya mengenal Sadako, sosok hantu perempuan Jepang berambut panjang dan berbaju putih yang lahir atas ide Koji Suzuki yang kemudian dipopulerkan oleh franchise Ringu (1998), Ringu 2 (1999), Ringu 0 (2000). Entah apa yang ada di pikiran produser Atsuyuki Shimoda untuk membangkitkannya kembali lebih dari satu dekade kemudian. Keuntungan semata? Atau sekadar meremajakannya dalam format masa kini yaitu 3D? Anda boleh memiliki pendapat masing-masing dan sebagian besar diantaranya pasti tergerak untuk menyaksikannya. Tidak percaya?

Guru SMU, Akane mendengar desas-desus bahwa ada video bunuh diri beredar di internet yang menyebabkan pemirsanya turut bunuh diri. Awalnya ia tak percaya tapi satu persatu korban berjatuhan. Selain itu kekasihnya Takanori juga menghilang setelah menontonnya. Penyidikan mengarah pada seorang pemuda bernama Kashiwada yang bertekad membangkitkan kembali arwah Sadako untuk menghancurkan dunia. Kini Akane harus mengerahkan segenap keberaniannya sebelum semuanya terlambat.

Tampaknya duet penulis skrip Yoshinobu Fujioka dan Tsutomu Hanabusa menyadari bahwa jaman kaset video sudah berganti menjadi video streaming sehingga media yang digunakan untuk kemunculan Sadako pun berubah dari televisi tabung menjadi smartphone berbasis internet tanpa harus saya sebutkan merknya. Namun apakah media 4 inci tersebut “muat” dibandingkan 21 inci? Mereka cukup cerdas untuk menampilkan tangan Sadako saja yang keluar dari layar secara cepat, tiada lagi tubuh yang merangkak dengan slow motion.

Sosok Kiyoshi Kashiwada mungkin mengingatkan anda pada karakter Light Yagami dalam Desu noto (2006) dimana Yusuke Yamamoto didandani mirip bintang rock. Tokoh sentral disini adalah si cantik Satomi Ishihara yang terlihat lemah gemulai tapi mampu melakukan perlawanan dengan “cara”nya sendiri yang akan membuat anda bertepuk tangan. Tidak banyak yang bisa dilakukan Koji Seto atau Tsutomo Takahashi dengan kemunculan ala kadarnya itu. Penampilan spesial Ai Hashimoto mungkin dapat memuaskan rasa rindu anda padanya. Don’t know what I’m trying to say here!

Efek 3D nya tidak banyak membantu. Sutradara Tsutomu Hanabusa “hanya” memanjakan anda dengan tangan menjulur, lengan pucat, gumpalan rambut panjang atau tubuh Sadako yang melayang-layang masuk ke dalam sumur. Temponya memang lebih cepat dengan teror yang lebih bombastis tapi fans lawas franchise ini rasanya tidak akan mengapresiasi hal-hal tersebut. Endingnya pun terasa konyol saat monster-monster imitasi Sadako bermunculan dengan gaya laba-laba. Sungguh menggelikan!

Sadako 3D lebih banyak memicu tawa dibandingkan ketakutan penonton karena kebodohan premis dan keabsurdan plot ceritanya. Mudah-mudahan hal ini masih dapat meraup sejumlah dollar dari sejumlah orang yang penasaran selayaknya penonton Indonesia yang datang berbondong-bondong ke Blitzmegaplex. Tidak ada lagi intensitas ketegangan ala Hideo Nakata yang merambat lewat suguhan misteri yang sulit diungkapkan. Hasil akhirnya lebih menyerupai horor kelas B yang tidak inspiratif samasekali. This is how Japan has ruined its own horror icon.

Durasi:
96 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 08 Mei 2011

KUNGFU KID : Misi Jago Kungfu Cilik Sempurnakan Ilmu

Original title:
Kanfû-kun

Storyline:
Di usianya yang baru 7 tahun, Kungfu telah menuntaskan 35 tingkatan beladiri Shaolin. Tugas terakhirnya didapat dari Master yang segera mengirimnya ke Jepang dengan sebuah gelang. Jika gelangnya berbunyi maka menandakan ia dekat dengan musuh terbesarnya. Dan gelang tersebut juga akan mencegahnya menggunakan beladiri semena-mena. Di Jepang, Kungfu diadopsi oleh seorang wanita pemilik restoran Chinese yang cekatan dan memiliki cucu perempuan bernama Reiko. Di sisi lain, pemilik perusahaan “Black Game” bertekad menjadikan seantero warga cilik Jepang menjadi bodoh dengan pengaruhnya. Kini Kungfu pun tahu ia harus berhadapan dengan siapa!

Nice-to-know:
Film yang dirilis di Jepang pada tanggal 29 Maret 2007 ini diproduksi secara keroyokan oleh Area Japan, Kadokawa Pictures, NICE Day, Plusmic CFP dan Sedic International.

Cast:
Zhuang Zhang sebagai Kungfu
Mari Yaguchi sebagai Sayuri
Nanami Fujimoto sebagai Reiko
Arata Furuta sebagai CM Tarento
Sô Hirosawa sebagai Ibu Reiko
Masatô Ibu sebagai Reiko no Ojîchan

Director:
Merupakan karya kedua Issei Oda setelah Arch Angels (2006) yang sebetulnya lebih banyak bermain di departemen visual efek.

Comment:
Rasanya di tahun 1980an sudah banyak sekali film anak-anak bertemakan sejenis, sebut saja The Karate Kid (1984) yang kemudian diremake kembali seperempat abad kemudian. Kini pada medio tahun 2000an, Jepang berusaha membuat versinya sendiri dengan beberapa perubahan yang diharapkan fresh dan lebih sesuai dengan perkembangan jaman. Benarkah begitu? Anda boleh berpendapat sendiri.
Plot ceritanya sendiri terbilang sederhana dan sangat ramah untuk dikonsumsi seantero keluarga dari berbagai tingkatan umur. Logikanya teramat mudah dicerna sehingga anda hanya perlu duduk santai tanpa perlu banyak berpikir menemani putra-putri anda menyaksikannya. Adegan pertarungannya juga dikemas tanpa menonjolkan kekerasan yang nyata. Bukankah sulit menemui film serupa di masa yang serba canggih ini?
Sutradara Oda menyajikan semuanya dengan runut disertai beberapa flashback untuk memberikan penjelasan latar belakang. Memang sinematografi dan editing yang dihasilkan masih mengesankan serial televisi jaman dahulu, sebut saja Ksatria Baja Hitam tapi tidak terlalu mengganggu. Kemampuannya di bidang visual efek juga sangat membantu karena berbagai scene disini menuntut hal itu termasuk hal-hal simpel seperti slow motion gerakan Kungfu hingga yang cukup kompleks selayaknya lontaran bola api, sinar tenaga dalam, dsb.
Aspek komedi disini juga kadarnya terasa pas dimana dominan sekali kelucuan dari sudut pandang kanak-kanak. Terkadang saya merasa “eksploitasi” terhadap sosok Kungfu terasa berlebihan dimana ia diperlakukan seperti bayi. Beruntung Zhuang masih dapat menampilkan mimik wajah polos dan kemampuan beladiri yang meyakinkan sehingga figurnya dapat diidolakan segenap audiens.
Kungfu Kid memang tidak menawarkan suatu konsep yang baru apalagi luar biasa secara tampilan. Namun semuanya dikemas dalam sebuah hiburan yang gampang dinikmati dengan asupan pesan moral disana-sini. Satu semboyan pasti yang didengungkan sejak lawas juga muncul kembali disini yaitu “Kebaikan akan selalu unggul dari kejahatan.”

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 27 Mei 2010

DEPARTURES : Ketika Kematian Membuka Gerbang Kehidupan Baru

Tagline:
The gift of last memories.

Storyline:
Pemain celio, Daigo Kobayashi dilanda kebimbangan setelah orkestra tempatnya bernaung dibubarkan. Ia akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya bersama istrinya, Mika. Daigo melihat iklan lowongan pekerjaan di koran berjudul "Keberangkatan" dan memutuskan untuk melamar posisi tersebut demi menyambung hidup. Ternyata yang dimaksud adalah pemberangkatan orang meninggal sebelum memasuki gerbang kehidupan yang baru! Daigo menerima pekerjaan itu dan berguru pada Tsuyako dan asistennya, Yuriko. Dari rasa enggan, Daigo mau tidak mau belajar bahwa pekerjaan barunya itu mempunyai arti yang lebih bagi sebagian orang.

Nice-to-know:
Memenangkan gelar Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Academy Awards 2009.

Act:
Masahiro Motoki sebagai Daigo Kobayashi
Tsutomu Yamazaki sebagai Ikuei Sasaki
Ryoko Hirosue sebagai Mika Kobayashi
Kazuko Yoshiyuki sebagai Tsuyako Yamashita
Kimiko Yo sebagai Yuriko Kamimura

Director:
Sutradara kawakan Jepang berusia 55 tahun, Yojiro Takita sempat membesut Ashura (2005) yang juga diputar di Indonesia itu.

Comment:
Tempo drama Jepang biasanya lambat dengan suasana depresif. Setidaknya itulah yang ada di pikiran saya saat menyaksikan poster film ini di Jiffest 2009 yang lalu. Namun melihat review positif dan juga fakta film Asia Timur ini berjaya di ajang sekelas Oscar, saya baru berkesempatan menyaksikannya nyaris setahun kemudian! Prolog dibuka dengan pengenalan pada karakter Daigo yang tidak beruntung. Meskipun berbakat dalam memainkan cello toh nasib tidak berpihak padanya saat menerima pekerjaan yang bagi sebagian besar orang sangatlah rendah dan menjijikkan karena menerima uang di saat orang berduka. Awalnya ia merasa demikian sampai akhirnya menyadari upacara pelepasan itu sangatlah penting bagi keluarga yang ditinggalkan. Peran itu dilakoni oleh Motoki dengan sangat wajar dan terjaga emosionalnya. Lihatlah caranya memandikan, memakaikan baju dan merias mayat yang juga diperlihatkan secara detail lagi di credit title. Belum lagi penjiwaannya dalam memainkan cello seakan unsur kesepian dan putus asa benar-benar melekat padanya. Sejak mula, audiens seperti halnya Daigo enggan melihat upacara tersebut tetapi lambat laun dapat memaknainya dan diajak juga melihat dari sudut pandang keluarga yang sedang berduka dengan segala macam emosinya. Cast lain juga dengan gemilang mendukung penceritaan beberapa sub plot yang dibangun dan pada akhirnya mengukuhkan suatu lingkaran penuh. Sutradara Takita membangun mood film yang sendu lewat alunan cello sebagai musik latar yang terasa pas hingga menutupnya dengan ending yang brilian. Departures akan membawa anda sebuah pengalaman baru bersinema yang ironisnya dilihat dari sudut pandang kematian dimana rasanya setiap momen kehidupan terasa sangat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Tidak diragukan sebagai salah satu film Asia terbaik sepanjang masa!

Durasi:
125 menit

Asian Box Office:
$61,010,217 till mid Apr 2009 in Japan.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 12 Oktober 2009

A SLIT-MOUTHED WOMAN : Arwah Wanita Gila Penculik Anak

Cerita:
Legenda hantu wanita bermulut sobek dan berjubah panjang membawa gunting panjang telah bertahan selama lebih dari 30 tahun. Hingga pada suatu ketika, hantu tersebut muncul kembali dan menculik anak-anak yang ditinggalkan oleh orangtua mereka. Guru baru Yamashita dan guru senior Matsuzaki berusaha mengungkap misteri tersebut dengan menelusuri asal-usul hantu wanita itu sekaligus menyelamatkan murid-murid mereka.

Gambar:
Tidak jauh beda dengan horor Jepang lain, suasana sunyi mencekam indoor diciptakan dengan baik. Ditambah dengan make-up hantu yang cukup menyeramkan.

Act:
Eriko Sato sebagai Yamashita
Haruhiko Kato sebagai Matsuzaki

Sutradara:
Film layar lebar keempat bagi Koji Shiraishi.

Comment:
Sebetulnya bukan sebuah film yang buruk, hanya saja sulit dinikmati karena mengabaikan logika dan intelegensia penonton. Suatu hal yang sangat fatal! Plot awalnya memang menjadikan dan cukup orisinil hanya saja unsur-unsur pendukungnya tidak cukup kuat. Walaupun demikian, elemen horornya tetap membangun terutama saat kemunculan hantu wanita dan kengerian anak-anak yang diculik, jangan lupakan juga beberapa adegan berdarah yang cukup membuat ngilu. Satu hal lagi yang mungkin membuat penonton wanita terganggu adalah seakan-akan tokoh wanita di film ini sangat tidak berperasaan baik manusia maupun hantunya. Setidaknya seorang ibu ataupun guru yang normal akan sekuat tenaga menyelamatkan anak-anak tidak berdosa dari mara bahaya yang mengancam, tapi sayangnya tidak dalam film ini. Ohya, hal klise juga sangat terasa disini yaitu saat kemunculan hantu wanita yang tidak bisa mati tapi berusaha dibunuh berkali-kali teramat sangat tidak penting.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 08 Mei 2009

ICHI : Gadis Buta Titisan Ahli Samurai

Cerita:
Seorang goze (pemain shamisen/alat musik petik tradisional Jepang) cantik nan buta bernama Ichi terlibat perjalanan mencari tahu asal usul pendekar pedang buta yang disinyalir masih memiliki hubungan darah dengannya. Bersama Toma Fujihira, mereka berdua harus menghadapi kawanan Banki yang menguasai wilayah Bito pimpinan Toraji Shirakawa.

Gambar:
Suasana pedesaan kuno Jepang tergambar dengan baik dengan setting yang rapi di siang dan malam hari.

Act:
Memulai debutnya di beberapa film mulai tahun 2008 termasuk disini, Haruka Ayase memperlihatkan gesture dan penjiwaan yang baik sebagai si gadis buta pendekar pedang Ichi.
Seakan mengulang peran yang sama dalam Aragami (2003), Takao Osawa sebagai samurai berhati emas namun bodoh saat harus menghunus pedang yang disebabkan masa lalunya yang tragis.
Shido Nakamura sebagai pimpinan geng Banki setelah produksi film ini melebarkan sayapnya dengan bermain di film kolosal Mandarin berbujet terbesar sepanjang masa Red Cliff.
Yosuke Kubozuka sebagai Toraji Shirakawa yang mewarisi penginapan besar di wilayah Bito sekaligus berusaha melindungi teritorialnya itu.

Sutradara:
Ichi merupakan film ketiga Fumihiko Sori yang memulai debut penyutradaraan dalam Ping Pong (2002). Versi wanita dari pendekar pedang buta ini berhasil dibawakannya dengan nuansa berbeda.

Komentar:
Kisah Zatoichi yang pengembara dan melawan ketidakadilan sudah sangat melegenda di Jepang dan tidak kurang dari 26 kali difilmkan dalam berbagai versi termasuk di Hollywood, Blind Fury yang disutradarai oleh Phillip Noyce dengan bintang Rutger Hauer.Jika ingin menikmati ICHI, jangan bandingkan dengan pendahulunya termasuk Zatoichi (2003) yang sangat kuat deliverynya itu. Dari segi casting agak sedikit lemah, mungkin sebagian besar disebabkan oleh skrip yang serba tanggung terutama di bagian ending yang sangat fatal, sepertinya terkesan adanya kewajiban mengharu-biru penonton. Meski banyak adegan berdarah, ICHI masih menyisakan humor segar di awal film terutama dari Takao Osawa yang menjadi satu-satunya cast yang tampil di atas rata-rata.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 10 April 2009

THE MACHINE GIRL : Pembalasan Dendam Gadis Tangguh Cacat

Tagline:
It's Payback Time!

Storyline:
Mahasiswi enerjik dan populer, Ami bertekad menjaga adik lelaki satu-satunya, Yu sepeninggalan ayahnya yang bunuh diri setelah dituduh melakukan pembunuhan. Sayangnya Yu bersama temannya, Takeshi berhutang pada gerombolan Sho yang juga anak yakuza. Dalam suatu pertikaian, Yu dan Takeshi secara keji dijatuhkan dari gedung tinggi oleh Sho. Sedangkan Ami yang tertangkap orangtua Sho juga dipotong lengannya. Dibantu suami istri orangtua Takeshi, Ami mendapat lengan baru yaitu senapan mesin. Bersama mereka siap membalas dendam terhadap orang-orang yang telah merenggut nyawa insan terkasihnya.

Nice-to-know:
Keluarga pembunuh Sho menggunakan nama Hanzo Hattori dimana nama tersebut adalah ninja populer yang seringkali digunakan dalam dunia fiksi dan hiburan.

Cast:
Minase Yashiro sebagai Ami Hyuga
Asami sebagai Miki
Kentarô Shimazu sebagai Ryûji Kimura / Kimura gang boss
Honoka sebagai Violet Kimura
Nobuhiro Nishihara sebagai Sho Kimura

Director:
Bagi pria kelahiran Jepang 40 tahun silam bernama Noboru Iguchi, The Machine Girl adalah karya penyutradaraan ke-31.

Comment:
Dibuat dengan gaya film kelas B, apa yang berusaha ditawarkan film ini? Plotnya tidak asing yaitu balas dendam. Namun di tangan perusahaan Tokyoshock, nampaknya segala sesuatu dapat menjadi plus. Tidak seperti film Jepang yang bertempo lambat, film ini mengalun cepat walaupun diselingi beberapa flashback. Semua scene terasa menyatu dengan bangunan utama cerita tanpa dipaksakan. Akting Minase sebagai Ami patut diacungi jempol, dia cantik, pandai, nekad, emosional sekaligus berdarah dingin. Jangan heran jika banyak sekali darah yang tertumpah di sepanjang durasi dari potongan tubuh ataupun luka-luka yang sangat mengenaskan yang mungkin membuat anda menutup mata sejenak. Unsur orisinil Jepang seperti samurai, ninja, yakuza juga masih dibawa ini. Anda yang menginginkan keluarga yakuza yang gila, penganiayaan remaja, senjata khas beterbangan selayaknya unsur 3D yang dibalut dengan kekonyolan, tawa getir, kegilaan dan unsur gory, The Machine Girl yang dibesut dengan brilian oleh sutradara Iguchi dengan bujet yang rendah adalah pilihan tepat untuk mengisi waktu senggang anda.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 14 Maret 2007

SINKING OF JAPAN : Misi Menyelamatkan Jepang Dari Tenggelam

Tagline:
It’ll take another miracle to survive.

Storyline:
Ilmuwan meramalkan bahwa Jepang akan tenggelam dalam waktu kurang dari 40 tahun karena patahan tektonik di bagian barat. Namun Dr. Tadokoro berpendapat lain karena berdasarkan perhitungan teamnya yang juga beranggotakan Toshiro, hal tersebut akan terjadi dalam 338 hari! Dr. Tadokoro memperingati Perdana Menteri Yamamoto yang kemudian membentuk departemen baru untuk menangani bencana yang dipimpin oleh Saoro Takamori. Didera gempa bumi, tsunami, letusan gunung merapi, Jepang mungkin menunggu waktunya untuk kiamat..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Dentsu, J Dream, S.D.P., Sedic, Shogakukan, Toho Company serta didukung oleh MBS dan TBS

Cast:
Pernah membintangi salah satu horor legendaris Jepang yaitu One Missed Call (2003), Kô Shibasaki bermain sebagai Reiko Abe
Tsuyoshi Kusanagi sebagai Toshio Onodera
Etsushi Toyokawa sebagai Yusuke Tadokoro
Mao Daichi sebagai Saori Takamori
Mitsuhiro Oikawa sebagai Shinji Yuki

Director:
Shinji Higuchi sebelumnya berpengalaman menggarap serial televisi Fushigi no umi no Nadia (1990-1991).

Comment:
Kerapkali kita saksikan film-film bencana sebelumnya produksi Hollywood ataupun beberapa di antaranya dari Eropa. Bagaimana dengan Asia sendiri? Setidaknya kali ini Jepang mencoba peruntungannya dengan bujet yang tentu saja tidak sedikit. Tidak sepenuhnya dapat dikatakan bencana, lebih merupakan ancaman kehancuran seantero negeri Sakura yang disebabkan oleh alam itu sendiri. Siapa yang dapat memprediksi kiamat?
Sutradara Higuchi melakukan usaha terbaiknya untuk meremake film berjudul sama di tahun 1973. Tentunya perkembangan teknologi sudah jauh lebih baik di masa sekarang ini sehingga spesial efek dapat ditampilkan dengan lebih megah dan realistis. Hal ini kemudian bercampur aduk dengan latar belakang ilmiah, aksi reaksi Pemerintah dan tidak lupa sekawanan orang biasa yang berjuang demi hidup dan matinya.
Castnya menawarkan begitu banyak nama-nama tenar di dalamnya yang kebanyakan tidak dikenal di luar Jepang sendiri. Namun Kusanagi dan Shibasaki bermain amat maksimal dengan daya pikat masing-masing yang dilengkapi dengan esensi kemanusiaan yang sangat kental. Beberapa scene bisa jadi membuat anda terharu melihat perjuangan mereka yang bahkan harus mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan banyak orang.
Suasana yang dihadirkan sepanjang film memang dominan dengan kemurungan, didukung dengan pewarnaan, pencahayaan dan pengambilan gambarnya. Agak terlalu monoton untuk film yang berdurasi di atas 2 jam ini sehingga bisa jadi membosankan bagi penonton yang menantikan kejutan-kejutan berarti. Namun saya ingatkan sekali lagi bahwa ini bukanlah produksi Hollywood dan sudah menjadi ciri khas film Jepang yang rata-rata bertempo lambat dengan detail yang teramat cermat.
Sinking Of Japan memang murni sebuah fiksi drama yang berkualitas cukup baik dengan beberapa sisi emosional yang berusaha disampaikan. Namun sayangnya masih miskin elemen-elemen yang dapat mempertahankan minat dan intensitas penonton untuk benar-benar dapat menyelami konflik dan esensi yang ingin disampaikan pembuatnya. Membayangkan Jepang terhapus dari peta dunia mungkin jadi satu-satunya alasan anda mau menyaksikan yang satu ini.

Durasi:
135 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!