XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 15 Juni 2010

LAKE PLACID 2 : Momok Buaya Raksasa Penduduk Lokal

Quotes:
Sadie Bickerman-Don't get eaten.

Storyline:
Sheriff James Riley memimpin sekelompok paleontologis dari New York masing-masing Emma, Struthers, Ahmad dkk untuk menemukan makhluk buas yang telah memakan korban penduduk setempat. Mereka dengan cepat menyadari mereka tidak hanya menghadapi seekor buaya raksa tetapi tiga ekor! Sementara itu putra Sheriff, Scott sedang bersantai di pinggir sungai bersama gadis idamannya, Kerri dll tanpa menyadari bahawa yang mengintai mereka dari jauh. Akankah misi tersebut dapat dituntaskan tanpa banyak korban jiwa berjatuhan?

Nice-to-know:
Merupakan sekuel dari thriller horor Lake Placid (1999).

Cast:
John Schneider sebagai Sheriff James Riley
Sarah Lafleur sebagai Emily 'Emma' Warner
Sam McMurray sebagai Struthers
Chad Collins sebagai Scott Riley
Alicia Ziegler sebagai Kerri
Joe Holt sebagai Ahmad
Ian Reed Kesler sebagai Thad

Director:
David Flores sejauh ini baru menyutradarai beberapa film televisi.

Comment:
Banyak pihak menyukai Lake Placid yang memasang beberapa nama yang cukup dikenal pada waktu itu termasuk Bill Pullman, apalagi skrip ditulis oleh David E. Kelly dengan brilian. 8 tahun kemudian muncullah sekuelnya yang langsung diedarkan untuk konsumsi televisi. Lantas kualitasnya bisa ditebak bukan? Temanya sangat tambal sulam dan dipaksakan serasional mungkin. Namun hal itu membunuh karakter dalam film ini satu-persatu. Kita akan melihat gadis bodoh yang berjemur di pinggir sungai, cowok gendut sok jagoan, pria paruh baya yang hanya bisa mengatur dsb yang bisa ditebak hanya menjadi umpan buaya saja. Begitu banyaknya tokoh yang tidak penting sehingga penonton akan lupa berapa jumlah manusia yang sudah disantap! Bagi anda yang sekadar ingin menonton tanpa berpikir, mungkin bisa menikmati adegan demi adegan sadis sampai tuntas. Namun jika anda termasuk kelompok yang mengagumi Lake Placid, sebaiknya buang jauh-jauh rasa penasaran anda akan sekuelnya yang cukup mengecewakan ini.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 14 Juni 2010

I LOVE YOU, PHILLIP MORRIS : Pandangan Hidup dan Cinta Seorang Gay Radikal

Tagline:
The Conman who wouldn’t go straight.

Storyline:
Steven Russell kelihatan hidup bahagia bersama istrinya, Debbie dan karirnya sebagai polisi local. Namun sebuah kecelakaan mobil menyadarkannya bahwa ia seorang gay dan berusaha hidup sesuai takdirnya tersebut. Steven berpacaran dengan Jimmy Kemple dan seketika gaya hidupnya meningkat drastis menjadi penuh kemewahan. Semua itu butuh uang dan Steven tak segan-segan menipu asuransi ataupun berbelanja dengan kartu kredit palsu. Tindakan melawan hokum tersebut membuatnya dipenjara. Disanalah ia bertemu Phillip Morris yang lembut dan sensitif. Keduanya jatuh cinta dan sekali lagi Steven berusaha keras menciptakan akhir yang bahagia bagi dirinya sendiri.

Nice-to-know:
Berdasarkan kisah nyata kehidupan seorang Steven Jay Russell.

Cast:
Karakternya sebagai orang yang suka berbohong demi suatu tujuan nyaris serupa dengan yang terakhir dilakoninya dalam Yes Man (2008). Namun bedanya Jim Carrey memperlihatkan orientasi “lain” sebagai Steven Russell disini.
Berbagai karakter pernah dimainkannya termasuk dalam Trainspotting (1996) yang melejitkan nama Ewan McGregor. Kali ini ia kebagian peran Phillip Morris yang setia dan low-profile.
Leslie Mann sebagai istri Steven, Debbie dan Rodrigo Santoro sebagai Jimmy Kemple.

Director:
Bertindak juga sebagai penulis selain sutradara adalah duet Glenn Ficarra dan John Requa yang merupakan kolaborasi pertama mereka setelah sempat terlibat dalam jabatan yang berbeda dalam Cats & Dogs (2001).

Comment:
Cukup mengejutkan melihat dua actor berbakat bermain sebagai pasangan homo dalam sebuah film. Namun Carrey dan McGregor berhasil menjawab tantangan itu. Jim dengan gaya komedikal nyelenehnya seperti biasa memberikan sentuhan sebagai sosok gay yang tidak kepribadiannya sangat ekstrovert karena perilakunya kelewat ekstrim. Namun kehomoannya bisa dimaklumi lewat sejumlah visinya sedari kecil, lihat adegan menunjuk awan yang sangat imajinatif itu. Dan audiens mungkin saja tidak bersimpati pada tokoh Steven karena perilakunya tetapi realita itulah yang justru menarik untuk disaksikan. Sebaliknya Ewan bertransformasi menjadi pria blonde yang manis tutur katanya dan cara berpikirnya yang simple tetapi dalam. Interaksi keduanya sebagai kekasih di lingkungan penjara terasa realistis. Meskipun diilhami dari kisah nyata, Ficarra dan Requa berhasil menulis skrip dengan brilian dan melakukan penekanan pada elemen-elemen yang tepat sehingga seluruh kejadian yang diceritakan sangat membumi. I Love You, Phillip Morris tidaklah bercerita tentang Philip tetapi dari sudut pandang pria yang mengatakannya. Sebuah kisah cinta sesama jenis yang lucu sekaligus mengharukan dengan twist ending yang unik.

Durasi:
90 menit

U.K. Box Office:
£2,298,494 in early April 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 13 Juni 2010

THE A-TEAM : Kelompok Berani Mati Bersihkan Nama Baik dan Kehormatan

Tagline:
Col. John 'Hannibal' Smith-I love it when a plan comes together.

Storyline:
Dibuka dengan pertemuan John “Hannibal” Smith, Templeton “Faceman” Peck, BA “Bad Attitude” Baracus dan HM “Howling Mad” Murdock yang tidak terduga hingga akhirnya membentuk satu kesatuan militer rahasia yang tangguh. 8 tahun berlalu dan sudah ratusan kasus mereka tangani hingga dijebak atas tuduhan pembunuhan Jenderal Morrison dan pencurian plat uang bernilai jutaan dollar! Keempatnya segera dijebloskan ke penjara selama beberapa waktu hingga ditawarkan kebebasan oleh Letnan Lynch dengan syarat mencari plat yang sesungguhnya. Tugas The A-Team tidaklah mudah karena berbagai intrik harus mereka pecahkan disamping menghindari kejaran C.I.A yang meyakini mereka bersalah. Bagaimana Kolonel Hannibal dapat memimpin timnya pada kehormatan yang menjadi hak mereka?

Nice-to-know:
Awalnya akan ditangani oleh John Singleton yang pernah sukses lewat 2 Fast 2 Furious (2003). Namun akhirnya dibatalkan oleh 20th Century Fox dikarenakan beberapa perubahan besar yang dilakukannya.

Act:
Aktor senior, Liam Neeson yang pertama kali bermain film dalam Pilgrim's Progress (1979) didapuk sebagai Komandan Hannibal Smith yang pandai mengatur strategi.
Aktor berusia 35 tahun yang sedang naik daun bernama Bradley Cooper ini kebagian peran Letnan Templeton Peck yang flamboyan.
Jessica Biel mengawali akting lewat Its a Digital World (1994) dan kali ini bermain sebagai kapten cantik, Charisa Sosa.
Tidak lupa si 'Rampage', Quinton Jackson dan Sharlto Copley yang angkat nama lewat District 9 (2009) sebagai B.A. Baracus yang jago kelahi dan Murdock yang gila.

Director:
Joe Carnahan terakhir menggarap Smokin' Aces (2006) dan kali ini bertindak sebagai penulis skenario juga untuk film yang diangkat dari serial televisi ternama tahun 1980an.

Comment:
Serial televisinya yang top di tahun 1980an hanya pernah sesekali saya ikuti bersama bokap di rumah, tentunya karena masih berusia di bawah 10 tahun, saya belum terlalu mengerti keseluruhan jalan ceritanya. Saat mendengar akan dibuat versi layar lebarnya, saya penasaran walau tidak antusias. Nyatanya sejauh ini, inilah film musim panas 2010 yang seharusnya disuguhkan! Ceritanya meski tergolong klise, kalau tidak mau dibilang sedikit mengingatkan The Losers beberapa pekan lalu, tetapi disuguhkan dengan tempo cepat yang dipadukan dengan skenario yang gemilang. Dengarkan saja sindiran tajam Baracus, celotehan gila Murdock, rayuan manis Peck ataupun instruksi tegas cerdas Hannibal. Dan castnya merupakan nilai paling plus disini. Neeson yang kadung matang tidak mengecewakan kepemimpinannya, Cooper tampan menggoda, Jackson gahar dengan rambut Mohawknya, belum lagi Copley yang melebur dengan kesintingannya. Lupa untuk menyebutkan Biel yang cantik tegas seperti biasa, atau bahkan Patrick Wilson yang herannya tidak tercantum namanya dalam credit title? Bujet besar diimbangi dengan penggunaan spesial efek pada scene yang tepat sehingga hasilnya mengagumkan, lihat bagaimana tank berpayung meluncur bebas di pertengahan atau kontainer cargo berjatuhan tak karuan di penghujung cerita. Sutradara memaksimalkan semua elemen yang dimiliki sehingga durasinya yang cukup panjang tidak terasa. The A-Team memang tidak akan membuat anda berpaling pada pilihan B. Tidak percaya?

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$30,000,000 in opening week mid June 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 12 Juni 2010

THE KARATE KID : Berkungfu Demi Beradaptasi Di Lingkungan Baru

Storyline:
Kehidupan sebagai bocah Detroit berusia 12 tahun seketika direnggut dari Dre Parker saat ibunya, Sherry dimutasi dari kantornya ke China. Disana Dre kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya, mulai dari pertemuan tak terduganya dengan Mei Ying yang menyita perhatiannya dan juga Cheng beserta gank karatenya yang kemudian menjadi momok baginya. Di saat kesulitan mencari perguruan kungfu yang tepat baginya, Dre berkenalan dengan tukang serba bisa bernama Mr. Han yang pada akhirnya mengajarinya dasar-dasar kungfu. Saat Turnamen Karate Terbuka dimulai beberapa minggu, Dre harus mempersiapkan dirinya menghadapi seteru-seteru sekaligus rasa takutnya.

Nice-to-know:
Oleh Columbia Pictures didistribusikan dengan judul The Kungfu Kid untuk peredaran internasionalnya.

Act:
Debut layar lebarnya dalam The Pursuit Of Happyness (2006) dipuji banyak orang sehingga Jaden Smith mendapat kepercayaan dalam proyek remake ini sebagai Dre Parker, bocah kulit hitam yang harus beradaptasi dengan dunia Timur.
Karir mega-bintang Hongkong, Jackie Chan diawali Big and Little Wong Tin Bar (1962) dan kali ini bermain sebagai Mr. Han, seorang mekanik dan juga jago kungfu yang menyimpan duka masa lalu.
Taraji P. Henson sebagai Sherry Parker
Wang Zhenwei sebagai Cheng
Han Wenwen sebagai Mei Ying

Director:
Pria asal Belanda bernama Harald Zwart ini menggarap film ke-12 nya setelah karir penyutradaraannya diawali via Gabriel's Surprise (1990).

Comment:
Meskipun bukan film favorit saya di tahun 1980an tetapi cukup membekas dalam ingatan saat Ralph Macchio bersinergi dengan Pat Morita dengan naturalnya. Kali ini Jaden dan Jackie mengulangi pencapaian yang sama kalau tidak mau disebut sedikit lebih baik. Putra Will Smith ini merupakan salah satu calon superstar Hollywood dan penjiwaannya sebagai Dre cukup menjanjikan, tertindas di awal dan berusaha belajar giat untuk mengatasinya. Jackie yang biasa tampil kocak kali ini terlihat tenang sekaligus rapuh sebagai pria paruh baya. Beberapa supporting cast juga tidak kalah mengecewakan terutama Wang yang menampilkan mimik keji dan menyebalkan seorang Cheng. Plotnya setia dengan versi originalnya selain memindahkan setting US ke China dengan setting disesuaikan abad 21 ditambah sedikit sentuhan Cina kuno seperti pengenalan Forbidden City dan Great Wall. Sutradara Zwart melakukan yang terbaik demi menyajikan remake yang baik, tentunya dengan mengurangi elemen-elemen yang dianggap kurang di film aslinya. Jika anda mengharapkan film bertempo cepat dan banyak adegan pertarungan sepanjang durasinya mungkin akan kecewa. Sebaliknya The Karate Kid menyajikan problem kultural, penindasan anak jaman modern, romansa ABG yang wajar, kejar-kejaran di gang sempit, proses latihan kedisiplinan yang unik, turnamen kungfu ke dalam sebuah drama yang juga menyisipkan pesan moral bahwa kegagalan masa lalu dapat disikapi dengan mau bangkit atau tidaknya seseorang dalam hidupnya sendiri.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$50,000,000 in opening week mid June 2010.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 11 Juni 2010

MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK : Mencari "Hubungan" Yang Hilang Di Negeri Orang

Tagline:
Pejuang atau pecundang,
Pahlawan atau terbuang,
Persiangan atau persaudaraan..

Cerita:
Ditugaskan mencari adik kandungnya, Sekar yang berangkat lebih dahulu, Mayang berangkat ke Hongkong dengan restu kedua orangtuanya, Sukardi dan Lastri yang terkesan lebih menyayangi adiknya itu. Sebagai TKW, Mayang bekerja pada suami istri dan satu putra bernama Sai Jun yang gemar berkelahi. Lambat laun Mayang mulai mengenal kehidupan di negara asing tersebut terlebih setelah bergaul dengan sesama TKW termasuk Gandi yang dianggap "bapak" oleh para TKW. Belum lagi pertemuannya dengan Vincent, pemasok yang menaruh hati padanya. Lewat serangkaian peristiwa, Mayang berkesempatan bertemu dengan Sekar yang menghilang begitu saja. Akankah konflik kakak-beradik tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Pic[k]lock Production dan press conferencenya diadakan di PPHUI beberapa waktu lalu.

Cast:
Cukup lama absen bermain film dan pernah mengesankan dalam Ca Bau Kan (2002), Lola Amaria kembali lagi dengan peran utama sebagai Mayang, TKW yang baru 3 bulan menyesuaikan statusnya di Hongkong.
Pernah memenangkan beberapa penghargaan melalui Mereka Bilang Saya Monyet (2008), Titi Sjuman disini kebagian karakter Sekar yang cerdas dan keras hati.
Donny Alamsyah sebagai Vincent.
Donny Damara sebagai Gandi.
Imelda Soraya.
Permatasari Harahap.

Director:
Lola Amaria bekerjasama dengan penulis skenario handal, Titien Wattimena.

Comment:
Beruntung drama ini tidak terjebak pada pembahasan masalah yang itu-itu saja seperti yang sudah-sudah-sudah. Prolog dibuka dengan lambat dan tidak terlalu menarik. Pengenalan karakter Mayang dari berbagai sudut pandang mungkin dimaksudkan agar penonton benar-benar masuk pada sentralisasinya. Selain itu beberapa karakter TKW juga dihadirkan mulai dari yang lesbian, memiliki pacar matrealistis, senang belanja, berhutang dsb. Tak lupa penggunaan judul dijelaskan juga bahwa setiap hari Minggu pagi semua komunitas TKW berkumpul di Victoria Park yang tersohor itu. Setelah 30 menit berlalu, barulah konflik-konflik mulai dihadirkan dan intensitas cerita semakin diperdalam. Terus terang ini menjadi mengasyikkan apalagi didukung dengan permainan watak Lola dan Titi yang gemilang. Lola berhasil berbagi layar dengan siapapun ia bersinergi. Kontrol emosi Titi lewat karakter Sekar yang sebetulnya bukan tokoh utama terasa sangat meningkat dari awal sampai memuncak di akhir. Sayangnya tokoh Gandi yang dibawakan Damara terasa terlalu flamboyan dan tanggung, tidak mencerminkan kebapakan yang sudah banyak makan asam garam. Sebaliknya Alamsyah cukup bertaji sebagai WNI keturunan yang berpencaharian disana. Kesemuanya dibalut dengan sinematografi Hongkong yang indah dan wajar serta penggunaan bahasa Jawa yang konsisten sepanjang film. Klimaks Minggu Pagi Di Victoria Park dapat dikatakan kaya makna dengan bahasa gambar, bahasa tubuh yang solid. Jelas merupakan salah satu film terbaik nasional tahun ini meskipun mengalami penundaan jadwal tayang hingga beberapa kali!

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Juni 2010

MELODI : Perjuangkan Impian Menang Lomba Nyanyi

Cerita:
Kakak beradik, Ruli dan Mili hidup sederhana di kawasan pinggir kota bersama ayahnya yang menjadi tukang ojek. Demi membantu ayahnya memiliki motor sendiri, Ruli bekerja sebagai pelayan dan juga menekuni hobi bernyanyinya bersama sebuah trio kocak. Pada suatu kesempatan, Ruli bertemu Chika, putri Ibu Wati yang juga senang olah vokal. Kedekatan keduanya mulai terjalin dan Chika mendorong Ruli untuk mengikuti kompetisi nyanyi daerah. Berhasilkah Ruli akhirnya merintis impiannya dan juga menyokong perekonomian keluarga?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh kolaborasi dari Imajika Films, Gerilya Films & Dagoe Film Workshop dan gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI tanggal 8 Juni yang lalu.

Cast:
Emir Mahira
Nadya Amanda
Yasamin Jasem
Tengku Wikana
Djenar Maesa Ayu
Vety Vera
Daus Separo
Mario Maulana
Nadya Vella
Andre Hehanusa

Director:
Harry Dagoe Suharyadi terakhir kali cukup sukses dengan Cinta Setaman (2008) yang banyak dipuji berbagai kalangan itu.

Comment:
Ekspektasi yang cukup tinggi bisa jadi awalnya dialamatkan pada film musikal ini terlebih nama besar sang sutradara. Namun yang terjadi sungguh mengecewakan. Harry Dagoe terbilang gagal menggarap Melodi. Saya tidak tahu pasti tetapi yang terlihat tiga hal mendasar yang patut dipersalahkan yaitu dana yang minim, casting yang kurang tepat dan penulisan skenario yang sangat miskin. Dalam hal bernyanyi, Emir Mahira sebagai Ruli memang bersuara lumayan, sayang sekali tidak didukung karakterisasi yang baik. Sama halnya dengan beberapa pemain cilik utama lainnya. Djenar dan Wikana sebagai aktris-aktor senior seharusnya diberikan porsi lebih untuk mengangkat nilai secara keseluruhan. Dari segi harmonisasi, pemilihan nada dan lirik juga kurang maksimal, seharusnya lebih ear-catchy dengan tekstual yang ringan tetapi menyentil sesuai calon penonton yang ingin dituju. Sepanjang durasi film nyaris bergulir tanpa riak dan tempo sehingga benar-benar flat dan membosankan. Konflik yang coba dihadirkan masih kurang kuat dan tidak konsisten. Klimaks lomba nyanyi yang semestinya "nendang" juga seperti balon kempis begitu saja. Hm, mungkin terlalu kejam jika mengatakan ini adalah salah satu dari segelintir film lokal segmentasi anak-anak dengan kualitas terendah sepanjang sejarah!

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 09 Juni 2010

POSSESSION : Dilema Menghadapi "Perpindahan" Jiwa Suami

Tagline:
Jessica-He knows things about me. Things he couldn't possibly know. You really believe that a soul could leave its body?

Storyline:
Setelah merayakan pernikahan satu tahunnya dengan Ryan, hidup Jess seketika terbalik saat suami tercintanya mengalami kecelakaan mobil bersama dengan kakak kandungnya, Norman. Keduanya koma dan dirawat di rumah sakit. Tidak diduga, Norman justru sadar lebih dulu dan mengaku sebagai Ryan! Awalnya Jess tidak mempercayai Norman terlebih ia tidak menyukai kakak iparnya itu yang berkepribadian kasar. Namun beberapa fakta yang ditunjukkan Norman membuat Jess bimbang. Benarkah jiwa pria yang dikasihinya menitis ke dalam tubuh pria yang dibencinya itu?

Nice-to-know:
Produksinya selesai tahun 2007 dan dijadwalkan tayang di bioskop pada Februari 2008. Tetapi pihak distributor Yari Film Group mengalami kebangkrutan dan akhirnya Possession langsung dilempar ke pasaran DVD di bulan Maret 2010.

Act:
Kebintangan Sarah Michelle Gellar seakan jalan di tempat karena kerapkali kebagian film horor ataupun komedi romantis yang begitu-begitu saja termasuk disini sebagai Jess yang dilema mempercayai akal sehat atau kata hatinya sendiri.
Lee Pace mengawali karir lewat beberapa serial televisi hingga melakoni layar lebar pertamanya via The White Countess (2005). Kini ia kebagian peran Norman, mantan napi yang berperangai kasar.
Terakhir bermain dalam Last Chance Harvey (2008), Michael Landes tidak terlalu banyak porsinya sebagai Ryan yang koma nyaris sepanjang film.

Director:
Kolaborasi ketiga sejauh ini bagi Simon Sandquist dan Joel Bergvall yang diawali lewat Victor (1998).

Comment:
Jika anda mengharapkan horor atau thriller terlebih setelah melihat posternya, anda akan kecewa. karena film ini lebih tepat disebut drama. Plot ceritanya sendiri mengenai cinta segitiga dengan balutan tragedi, hanya saja sedikit "aneh" karena melibatkan kakak beradik, sesuatu yang cukup sensitif jika tidak dikemas dengan hati-hati. Gellar mendominasi scene sepanjang film dan ia tampil cukup decent disini tanpa memperlihatkan emosi yang berlebihan. Pace juga terlihat usahanya dengan memainkan dua karakter yang berbeda sebagai si keji Norman dan si baik Ryan. Overall dari segi cast sudah cukup maksimal. Kelemahan justru memang terlihat di skrip sehingga terkesan lambat dan sedikit mudah ditebak. Balutan suspensi yang coba dihadirkan lewat beberapa twist masih kurang kuat dan tanggung. Ending internasionalnya sedikit mengganggu karena mengarah pada pakem-pakem thriller pada umumnya. Beruntung pada DVD originalnya ada alternatif ending juga yang masih setia dengan versi aslinya. Ohya, Possession merupakan remake dari film Korea, Addicted (2002) meskipun sebetulnya judulnya terasa kurang pas dengan isi cerita.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 07 Juni 2010

SEX AND THE CITY 2 : Dua Tahun Setelah Mimpi Indah Berakhir

Tagline:
Carrie on.

Storyline:
Dua tahun setelah pernikahannya dengan Mr. Big, Carrie Bradshaw mulai merasakan kejenuhan dan ketidak sejalanan dengan konsep suami istri itu sendiri. Charlotte disibukkan dengan dua putri kecilnya dan juga pengasuh barunya, Erin. Miranda harus berurusan dengan bos barunya yang terlalu pengekang dan membatasi dirinya. Sedangkan Samantha masih berupaya mempertahankan kemudaannya dengan konsumsi berbagai macam obat hormon di sela-sela karirnya sebagai humas majalah terkenal yang pada akhirnya membawa mereka berempat kesempatan berlibur mewah secara gratis ke Abu Dhabi selama seminggu. Lantas apa saja yang akan terjadi pada mereka? Akankah perjalanan tersebut membawa dinamika baru pada kehidupan pribadi masing-masing?

Nice-to-know:
Film ini didelegasikan ke bioskop-bioskop dengan kode "Heart of the Desert".

Act:
Masih melanjutkan peran yang sama seperti sebelumnya, keempat aktris yang sebenarnya sudah tidak muda lagi ini tetap kompak setelah bersahabat lebih dari 20 tahun lamanya.
Sarah Jessica Parker sebagai Carrie Bradshaw
Kristin Davis sebagai Charlotte York
Cynthia Nixon sebagai Miranda Hobbes
Kim Cattrall sebagai Samantha Jones
Chris Noth sebagai Mr. Big

Director:
Pria kelahiran Pennsylvania berusia 55 tahun bernama Michael Patrick King ini mungkin salah satu tokoh di balik kesuksesan Sex and the City baik layar lebar maupun layar gelas.

Comment:
Saya bukanlah pecinta serial SatC tetapi menyukai The Movie nya yang meledak pada tahun 2008 yang lalu itu. Prolognya cukup menjanjikan dimana kita diajak melihat awal mula pertemanan Carrie, Miranda, Charlotte dan Samantha beserta chapter baru kehidupan masing-masing. Sampai disini beberapa adegan lucu dan bermakna menyertai pengembangan karakter keempatnya. Namun apa yang terjadi setelah setengah jam berlalu? Audiens seakan diajak ke negeri antah berantah bernama Abu Dhabi dimana saya yakin sebagian besar masyarakat Amerika masih asing dengan kehidupan Timur Tengah. Beberapa perbenturan budaya seperti cara bersosialisasi, berpakaian, bersikap mulai dipertontonkan dipadukan dengan keempat wanita dewasa yang saling curhat mengenai kejenuhan perkawinan, perselingkuhan, karir, anak hingga penuaan. Sebenarnya problematika tersebut relatif umum di mata kaum perempuan di belahan dunia manapun, hanya saja sedikit terlalu didramatisasi dan pada akhirnya diselesaikan begitu saja di menit-menit terakhir film. Peradaban Abu Dhabi itu sendiri memang menarik dimana kemewahan yang tidak akan kita lihat setiap hari terpampang dengan jelas, sayangnya "fashion show" ala Timur Tengah tidak terlalu mengesankan kali ini kalau tidak mau disebut aneh dan dipaksakan. Beruntung musik yang ditawarkan cukup membantu mood film sehingga durasi yang panjang sedikit tersiasasi. Pada ujungnya, Sex and the City 2 hanya terlihat cantik dari paket luarnya saja, tetapi kosong di dalam. Nikmatilah sebagai hiburan belaka dan berharaplah tidak akan ada lagi sekuel berikutnya jika temanya mengada-ngada lagi.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$36,835,353 in opening week end of May 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 03 Juni 2010

TEKKEN : Balas Dendam Di Pertarungan Perebutan Raja Iron Fist

Quotes:
Steve Fox-Who taught you how to fight?
Jin Kazama-My mother.
Steve Fox-[laughs] Your mother?
Jin Kazama-Yeah. She's dead.

Storyline:
Jin Kazama yang berduka ditinggal mati ibunya bergabung dengan kakeknya, Heihachi Mishima dan memohon untuk berlatih martial arts. Jin yang mulai menguasai beladiri tersebut tertarik mengikuti turnamen King Of Iron Fist yang diikuti oleh jago-jago seluruh dunia termasuk Ogre, pembunuh ibunya. DI luar dugaan ketua turnamen adalah Kazuya Mishima yang jahat dan licik luar biasa menggunakan kekuasaannya untuk niat terselubung. Mampukah Jin bertahan melewati babak demi babak dan pada akhirnya menuntaskan dendam lamanya?

Nice-to-know:
Setting dibangun di Louisiana State Fair Grounds, Shreveport termasuk The Hirsch Memorial Coliseum yang digunakan sebagai ajang pertarungan para jago beladiri tersebut.

Act:
Boleh dibilang kombinasi bintang laga senior kelas B dengan beberapa aktor Asia-Amerika yang belum banyak dikenal namanya.
Luke Goss sebagai Steve Fox
Mircea Monroe sebagai Kara
Gary Daniels sebagai Bryan Fury
Lateef Crowder sebagai Eddy Gordo
Cary-Hiroyuki Tagawa sebagai Heihachi Mishima
Cung Le sebagai Marshall Law
Tamlyn Tomita sebagai Jun Kazama
Ian Anthony Dale sebagai Kazuya
Jon Foo sebagai Jin Kazama

Director:
Dwight H. Little terakhir menggarap Anacondas 2: The Hunt for the Blood Orchid (2004) dan kebanyakan karyanya adalah serial televisi.

Comment:
Diangkat dari game fighting laris keluaran Namco yang sampai dibuat hingga beberapa versi, saya pernah memainkannya sewaktu kecil walaupun bukan game favorit. Beranjak dewasa nyaris terlupakan karena Street Fighter ataupun Mortal Combat lebih bergaung dan sudah dilayar lebarkan, tiba-tiba film ini masuk proses produksi dan dalam sekejap trailernya sudah muncul di bioskop! Untuk genre sejenis, rasanya sulit berekspektasi tinggi terlebih banyak sekali judul yang mengalami kegagalan karena sebab-sebab umum. Pertama, karakter dalam game terlalu banyak dan masing-masing punya fan base tersendiri, tentunya dalam mengambil sebagian diantaranya untuk lebih ditonjolkan bukan perkara mudah. Disini terpilihlah Jin Kazama yang dimainkan oleh Jon Foo yang sepertinya agak terlihat terlalu manis. Belum lagi kesalahan besar dimana Hwoarang dan Chaolan tidak disinggung samasekali. Kedua, proyeksi setting waktu dan tempat dari game ke dunia nyata juga sulit dirasionalkan. Terbukti arena pertarungan dalam film ini benar-benar terlihat kaku dan tua tetapi dipaksakan dinamis dan modern dengan permainan lighting dan angle kamera. Sorry it doesn't work at all! Apalagi tidak didukung oleh bujet yang memadai. Ketiga, plot umumnya tentang balas dendam dan kali ini juga nyaris tidak ada improvisasi untuk bercerita secara kreatif. Bagi fans Tekken rasanya akan sangat kecewa dan tentunya tidak akan mengharapkan sekuelnya di masa mendatang.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 02 Juni 2010

SEHIDUP (TAK) SEMATI : Pencarian Jodoh Kedua Pilihan Mendiang Istri

Cerita:
Merayakan hari jadi pernikahan yang pertama membuat TItan dan Helena bersemangat untuk memberi kado satu sama lain pada makan malam romantis di sebuah restoran mewah. Sayangnya insiden terjadi saat tidak membawa obat, Helena malah terserang asma akut di toilet dan meninggal seketika. Keseihan membuat Titan nyaris kehilangan gairah hidup sampai ia bertemu hantu Helena yang belum bisa naik ke atas karena janji yang pernah ia ucapkan dulu. Menganggap dirinya berhalusinasi, Titan menemui psikiater senior yang kemudian mengirim asistennya, Olin untuk mengawasi aktifitas Titan sehari-hari. Hantu Helena meminta Titan mencari istri terbaik dari sekian yang ditawarkan. Bagaimana Titan dapat memilih salah satu dari mereka di saat ia masih mencintai Helena?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Millenium Visitama dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 25 Mei yang lalu.

Cast:
Baru saja beberapa minggu lalu bermain antagonis dalam Demi Dewi, Winky Wiryawan kali ini didapuk sebagai Titan, eksekutif muda yang rapuh karena ditinggal mati istri yang dicintainya tetapi berusaha bangkit kembali untuk mencari cinta yang baru
Sempat masuk nominasi Aktris Favorit Indonesian Movie Awards beberapa waktu lalu, Fanny Fabriana sebagai hantu Helena, mendiang istri Titan yang berusaha menuntaskan misi terakhirnya.
Beberapa kali tampil dalam film-film Nayato kemarin, Joanna Alexandra memerankan Olin, asisten psikiater yang cupu dan menyimpan masa lalu menyedihkan.
Astri Nurdin sebagai Irene.

Director:
Terakhir kali tidak terlalu sukses lewat Bukan Malin Kundang yang kacau itu, Iqbal Rais mencoba peruntungannya disini dalam komedi romantis modern.

Comment:
Plotnya mengingatkan pada Ghost dan Over Her Dead Body ataupun judul-judul komedi romantis Hollywood lainnya yang bertemakan serupa. Harus diakui tidak terlalu orisinil tetapi untungnya Iqbal mengemasnya dengan humor bernuansa lokal yang khas. Terima kasih pada karakter supir-pembantu Titan yang kocak dan saling bersinergi dengan baik di setiap scene yang ditawarkan pada mereka. Winky berakting di luar kebiasaannya, gaya seorang eksmud yang loveable dibawakan dengan lugas dan natural. Fanny bermain ciamik sebagai manusia dan hantu sekaligus yang perfeksionis. Chemistry Winky dan Fanny di awal film juga cukup menarik. Joanna dan Astri meski scenenya tidak terlalu dominan tetap mampu mencuri perhatian. Tone drama yang cukup kental mampu didukung penggambaran lanskap kontemporer yang tepat. Alhasil Sehidup (Tak) Semati dapat dikatakan drama komedi romantis yang cukup hangat dan menyegarkan di tengah rendahnya kualitas genre film-film sejenis belakangan ini. Melepas orang yang anda cintai memang tidak mudah bukan? Apalagi bangkit dari rasa kehilangan setelah ditinggalkan orang yang dicintai tentunya lebih sulit lagi.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa