XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label kungfu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kungfu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

FLYING SWORDS OF DRAGON GATE : Pendekar Konspirasi Harta Karun Terpendam


Storyline:
Dinasti Ming, pendekar Zhao Huai An berupaya membersihkan korupsi yang melanda penguasa Blok Barat dan Blok Timur yang dipegang oleh Yu Hua Tian. Tanpa diduga kemudian Zhao bertemu Ling Yan Qiu, wanita dari masa lalunya ketika penginapan Dragon Gate masih berdiri. Konon badai pasir yang terjadi 60 tahun lalu telah mengubur sebuah kota tua berisikan harta karun tak ternilai harganya. Kini badai pasir akan terjadi kembali dan kemungkinan gerbang akan terbuka kembali. Zhao dan Ling harus bergabung dengan Gu Shaotang dan Pisau Angin serta kawanan Tartar yang juga mengincar harta tersebut di samping antek istana suruhan Yu Hua Tian yang mencari selir yang kabur dari istana. Duel Zhao dan Yu pun menjadi penentu kubu mana yang akan selamat dari jebakan maut kota tua.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Beijing Liangzi Group, Beijing Poly-bona Film Publishing Company, Bona International Film Group, China Film Group, Film Workshop, Shanda Pictures dan Shineshow dimana bujetnya menghabiskan 35 juta dollar Amerika.

Cast:
Jet Li sebagai Zhao Hui An
Zhou Xun sebagai Jade / Lin Langqiu
Kwan Mei Lun sebagai Tribal Princess
Chen Kun sebagai Yu Hua Tian
Li Yuchun sebagai Gu Shaotang
Fan Siu-Wong

Director:
Merupakan film ke-44 bagi Tsui Hark setelah terakhir menggarap Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame di tahun 2010.

Comment:
Tsui Hark bisa jadi masih terbuai dengan kesuksesannya meraih penghargaan Sutradara Terbaik dalam Hongkong Film Festival lewat film terakhirnya. Namun ia tidak berpangku tangan karena Flying Swords of Dragon Gate yang lebih tepat dikategorikan sekuel ini bukanlah proyek main-main. Jangan bandingkan dengan New Dragon Gate Inn (1992) yang juga disutradarainya itu atau judul serupa yang ditangani oleh King Hu di tahun 1996. Kemiripan ada pada tokoh dan latar belakang peristiwa meskipun timelinenya tidak dijelaskan apakah persis sama atau tidak.
Tsui tampaknya mengerti benar akan fungsi efek 3D yang baik. “Kedalaman” visualisasinya cukup memukau apalagi “pergerakan” berbagai macam senjata tradisional Cina yang amat bervariasi di tangan Jet Li, Zhou Xun, Li Yu Chun, Chen Kun ataupun Kwan Mei Lun. Kesemua aktor-aktris itu juga secara terampil menampilkan teknik bertarung yang unik sesuai dengan fungsi pedang, golok, keris, busur panah dsb tersebut. Anda akan berdecak kagum dibuatnya karena seakan ada di tengah-tengah medan pertarungan yang sengit.

Harus diakui Jet Li yang sudah memasuki usia paruh baya tidak dapat dieksplorasi secara maksimal kemampuan bertarungnya seperti dahulu. Namun ia tetap terlihat lincah dan enerjik jika harus beradu senjata dengan lawan mainnya baik dalam jarak dekat ataupun sambil terbang sekalipun. Meski demikian, kesulitan Jet Li menjalin chemistry dengan lawan mainnya masih tidak berubah, tanpa terkecuali dengan Zhou Xun yang memang jauh lebih muda darinya.
Twist yang disiapkan di akhir cerita juga sukses mendobrak pakem film kungfu Mandarin yang jarang sekali dilakukan. Belum lagi dualisme karakter yang dimainkan Chen Kun di sepanjang film, satu sebagai tokoh baik dan lainnya penjahat sekaligus merupakan inovasi tersendiri yang patut diapresiasi. Tidak ada yang bermain di bawah standar disini walaupun harus membagi porsi satu sama lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita yang juga dilengkapi dengan setting lokasi yang amat variatif ini.

Umumnya saya tidak menyukai CGI yang terlalu dominan dalam remake film klasik Asia beberapa tahun terakhir, sebut saja yang terbaru adalah Sorcerer and the White Snake. Namun dalam film ini, semua aspek terjalin dengan baik dalam spesial efek yang terlihat wajar dan sesuai kebutuhan. Memang bagian penutup film yang mengambil setting “Kota Emas” terasa berlebihan apalagi duel “badai pasir” yang agak tidak masuk akal itu. Editingnya di menit-menit terakhir sedikit merusak estetika film yang terkesan ingin menyiasati logika penonton atau sekedar mempecepat durasi. Entahlah!
Terlepas dari kekurangan yang terjadi di ending, Flying Swords of Dragon Gate adalah tontonan banyak aksi dan sedikit drama yang amat memuaskan anda kalau tidak mau diakui sebagai film epik Asia terbaik tahun 2011. Sangat direkomendasikan untuk ditonton dalam format 3D demi mempertegas nilai jualnya. Mata anda akan dimanjakan dan hati anda akan berdebar-debar dibuatnya menyaksikan berbagai pertarungan tingkat tinggi. Sayangnya grup 21cineplex tampak kurang percaya diri dengan merilis film ini di segelintir bioskop ibukota saja.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 03 Juni 2010

TEKKEN : Balas Dendam Di Pertarungan Perebutan Raja Iron Fist

Quotes:
Steve Fox-Who taught you how to fight?
Jin Kazama-My mother.
Steve Fox-[laughs] Your mother?
Jin Kazama-Yeah. She's dead.

Storyline:
Jin Kazama yang berduka ditinggal mati ibunya bergabung dengan kakeknya, Heihachi Mishima dan memohon untuk berlatih martial arts. Jin yang mulai menguasai beladiri tersebut tertarik mengikuti turnamen King Of Iron Fist yang diikuti oleh jago-jago seluruh dunia termasuk Ogre, pembunuh ibunya. DI luar dugaan ketua turnamen adalah Kazuya Mishima yang jahat dan licik luar biasa menggunakan kekuasaannya untuk niat terselubung. Mampukah Jin bertahan melewati babak demi babak dan pada akhirnya menuntaskan dendam lamanya?

Nice-to-know:
Setting dibangun di Louisiana State Fair Grounds, Shreveport termasuk The Hirsch Memorial Coliseum yang digunakan sebagai ajang pertarungan para jago beladiri tersebut.

Act:
Boleh dibilang kombinasi bintang laga senior kelas B dengan beberapa aktor Asia-Amerika yang belum banyak dikenal namanya.
Luke Goss sebagai Steve Fox
Mircea Monroe sebagai Kara
Gary Daniels sebagai Bryan Fury
Lateef Crowder sebagai Eddy Gordo
Cary-Hiroyuki Tagawa sebagai Heihachi Mishima
Cung Le sebagai Marshall Law
Tamlyn Tomita sebagai Jun Kazama
Ian Anthony Dale sebagai Kazuya
Jon Foo sebagai Jin Kazama

Director:
Dwight H. Little terakhir menggarap Anacondas 2: The Hunt for the Blood Orchid (2004) dan kebanyakan karyanya adalah serial televisi.

Comment:
Diangkat dari game fighting laris keluaran Namco yang sampai dibuat hingga beberapa versi, saya pernah memainkannya sewaktu kecil walaupun bukan game favorit. Beranjak dewasa nyaris terlupakan karena Street Fighter ataupun Mortal Combat lebih bergaung dan sudah dilayar lebarkan, tiba-tiba film ini masuk proses produksi dan dalam sekejap trailernya sudah muncul di bioskop! Untuk genre sejenis, rasanya sulit berekspektasi tinggi terlebih banyak sekali judul yang mengalami kegagalan karena sebab-sebab umum. Pertama, karakter dalam game terlalu banyak dan masing-masing punya fan base tersendiri, tentunya dalam mengambil sebagian diantaranya untuk lebih ditonjolkan bukan perkara mudah. Disini terpilihlah Jin Kazama yang dimainkan oleh Jon Foo yang sepertinya agak terlihat terlalu manis. Belum lagi kesalahan besar dimana Hwoarang dan Chaolan tidak disinggung samasekali. Kedua, proyeksi setting waktu dan tempat dari game ke dunia nyata juga sulit dirasionalkan. Terbukti arena pertarungan dalam film ini benar-benar terlihat kaku dan tua tetapi dipaksakan dinamis dan modern dengan permainan lighting dan angle kamera. Sorry it doesn't work at all! Apalagi tidak didukung oleh bujet yang memadai. Ketiga, plot umumnya tentang balas dendam dan kali ini juga nyaris tidak ada improvisasi untuk bercerita secara kreatif. Bagi fans Tekken rasanya akan sangat kecewa dan tentunya tidak akan mengharapkan sekuelnya di masa mendatang.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 Mei 2010

IP MAN 2 : Master Wing Chun Tertantang Beladiri Dunia Barat

Storyline:
Sejak kedatangan Ip Man di Hongkong pada tahun 1949, ia mengetahui bahwa sekolah beladiri yang beroperasi disana lebih sebagai triad. Untuk memperbaiki citra itu, ia membuka sekolah sendiri yang tidak hanya mengajarkan seni tetapi juga nilai-nilai keadilan. Namun kemudian Ip Man berselisih paham dengan guru Hung Gar yang jumawa dan menganggap beladiri harus diartikan dengan kemenangan dalam pertempuran. Lewat serangkaian peristiwa, Ip Man dan Hung Gar bisa saling respek satu sama lain sambil memikirkan tantangan Twister, juara dunia tinju yang mewakili seni beladiri dunia Barat yang meremehkan seni beladiri dunia Timur.

Nice-to-know:
Didistribusikan oleh Mandarin Film Distribution Co..

Cast:
Donnie Yen pernah meraih nominasi Hong Kong Film Award 1993 kategori Best Supporting Actor dalam Once Upon a Time in China II (1992). Kini ia melanjutkan peran Ip Man, pemrakarsa aliran beladiri Wing Chun.
Sammo Hung sebagai Hung Gar
Darren Shahlavi sebagai Twister

Director:
Wilson Yip pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai film Hongkong adalah 01:00 A.M. (1995).

Comment:
Hanya berselang setahun, Ip Man yang seru mengesankan itu dibuat sekuelnya. Terburu-buru demi mengejar aspek komersial? Saya rasa tidak. Saya percaya motif trio Wilson, Donnie dan Sammo lebih dari itu.
Sekadar mengingatkan, episode Ip Man terdahulu bisa jadi merupakan salah satu martial arts movie yang paling berkesan sepanjang masa, setidaknya bagi sebagian besar orang di belahan bumi Timur. Jika harus dibandingkan, episode kedua ini sedikit melemah karena plotnya hanya bercerita tentang perjuangan Ip Man agar seni beladiri kungfu dapat dihormati dunia Barat. Ya hanya itu para penonton!
Beruntung penampilan Donnie Yen tetap konsisten tanpa memberikan sentuhan berlebihan pada karakter Ip Man, gerakannya masih efektif dengan tutur bahasa yang lembut. Namun yang patut diacungi jempol adalah salah satu ikon perfilman Mandarin tahun 1980an, Sammo Hung Chin Pao. Selain berprofesi sebagai art director, ia juga solid memerankan tokoh Hung Gar yang tangguh dan keras hati. Catatan kecil sekaligus penting disini, pertarungan Donnie dan Sammo di paruh pertama film sangatlah memukau, melebihi endingnya itu sendiri. Keduanya yang asli menguasai kungfu beradu jurus dengan serunya di atas meja sampai dupa habis.
Sinematografi yang dihadirkan juga masih sama baiknya dengan atmosfer 1940an yang cukup kental. Secara keseluruhan Ip Man 2 memenuhi syarat film aksi hiburan yang baik. Anda yang belum pernah menyaksikan prekuelnya dijamin terkesan. Sedangkan bagi yang sudah menonton prekuelnya, tetap akan merasa terpuaskan walaupun rasa antusias yang muncul tidak akan sama seperti sebelumnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 16 Desember 2009

STORM WARRIORS : Pertarungan "Spesial Efek" Pendekar Andalan

Storyline:
Lord Godless berhasrat menaklukkan China dengan menyandera sejumlah ahli beladiri dan memaksa mereka mengabdi padanya. Di antaranya terdapat Cloud dan Nameless. Wind datang untuk menyelamatkan keduanya. Namun ketiganya terluka parah, begitupun dengan Chu Chu walau akhirnya selamat dengan bantuan para pendekar lainnya. Wind memilih untuk mempertajam ilmu dengan mencari Makam Naga meskipun hal tersebut dapat mengubahnya menjadi jahat. Cloud memilih jalan yang lebih aman dengan bekerjasama dengan pihak-pihak yang mampu menandingi Lord Godless. Pada akhirnya mereka semua harus bertarung satu sama lain di atas kekuatan baik dan jahat yang sulit berpihak pada siapapun jua.

Nice-to-know:
Dinominasikan kategori Best Visual Effect dalam Asian Film Awards 2010.

Cast:
Sebagian besar masih melanjutkan peran dari The Storm Riders (1998).
Aaron Kwok sebagai Cloud
Ekin Cheng sebagai Wind
Kenny Ho sebagai Nameless
Nicholas Tse sebagai Heart
Charlene Choi sebagai Second Dream
Simon Yam sebagai Lord Godless

Director:
Kembar asal Thailand yang menamakan diri Pang Brothers ini pertama kali dikenal luas lewat horor cult, Gin Gwai alias The Eye (2002).

Comment:
Meski bukan pecinta serial komiknya tetapi saya menyukai prekuelnya The Storm Riders yang keren itu. Tetapi 11 tahun berlalu, sekuel yang harusnya bertambah baik malahan hancur begitu saja. Film dibuka seperti berada di antah berantah tanpa banyak penjelasan terkait yang dapat mengingatkan penonton akan posisi mereka berpijak. Hal yang menegaskan bahwa plot cerita tidak dikembangkan dengan baik apalagi karakterisasi tokoh-tokohnya. Dari awal sampai akhir, penonton hanya dIbombardir dengan pertunjukan spesial efek yang tetap saya rasakan kurang relevan untuk tahun 2009 ini. Karakter Nicholas Tse terasa tidak penting. Sedangkan dua peran utama wanitanya, Charlene Choi dan Yan Tang juga tidak banyak membantu selain menjadi pemanis belaka. Jika anda penonton yang tidak terlalu mengindahkan pemikiran dalam menonton sebuah film, anda mungkin dapat terhibur dengan duduk manis menyaksikan kombinasi warna memanjakan mata beserta efek visual adegan laga yang ditonjolkannya. Namun jika tidak, lebih baik anda mencari hiburan lain daripada berusaha bersimpati pada tokoh-tokoh film ini tanpa alasan yang jelas.

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 16 Juni 2009

STREET FIGHTER : THE LEGEND OF CHUN-LI

Quotes:
Vega-[Chun Li has cut Vega's face and has her foot pressed against his head] You think this is over?
Chun Li-No. I’m just getting started.

Cerita:
Menekuni piano sejak kecil, Chun Li seringkali berpindah-pindah mengikuti ayahnya yang seorang pebisnis sukses dan ibunya yang hangat. Kecintaannya pada wushu mulai terbentuk saat melihat ayahnya berlatih sehingga ia bertekad mempelajarinya. Selang beberapa waktu kemudian, ayahnya diculik oleh gerombolan Bison untuk suatu proyek rahasia. Chun Li yang bertekad mencaritahu keberadaan ayahnya terus berlatih kungfu bersama Gen terlebih menguasai amarahnya. Kerja keras saja tidak cukup karena Bison memiliki kartu as dan juga anak buah yang tangguh. Berhasilkah Chun Li menuntaskan dendamnya?

Gambar:
Suasana hiruk pikuk Bangkok menjadi latar belakang film ini mulai dari pasar tradisional, lalu lintas yang rumit hingga pelabuhan besar tempat bongkar muat ekspedisi.

Act:
Terkenal lewat peran Lana Lang dalam serial teve Smallvile, Kristin Kreuk kali ini mencoba kemahiran kungfunya sebagai Chun Li, salah satu karakter legendaris Street Fighter.
Salah satu jebolan franchise American Pie (1999), Chris Klein kembali lewat peran Charlie Nash, kepala interpol yang gila kerja dalam mengungkapkan konspirasi.
Peraih Oscar yang berbadan besar dan hitam lewat The Green Mile (1999), Michael Clarke Duncan sebagai antagonis Balrog.
Aktor berkulit pucat, Neal McDonough sebagai Bison yang licik sekaligus tangguh berkelahi.
Aktor asli Hongkong, Robin Shou sebagai Gen, guru dari Chun Li.
Si cantik Moon Bloodgood sebagai Detektif Maya Sunee.

Sutradara:
Memulai karir penyutradaraan lewat Romeo Must Die (2000), Andrzej Bartkowiak yang asal Polandia sebenarnya lebih terkenal sebagai sinematografer banyak film sejak tahun 1976.

Komentar:
Satu lagi karya gagal yang diangkat dari anime/game populer Jepang. Plot cerita yang klise kalau mau dibilang hampir tidak ada, akting yang buruk dan adegan bertarung yang tidak cukup meyakinkan. Yang lebih parah, sinematografi yang menyedihkan membuat film ini rasanya bisa disebut kategori B. Seakan sang sutradara tidak dapat berbuat lebih maksimal untuk menyelamatkan kualitasnya walaupun didukung bujet yang cukup besar yaitu sekitar 50 juta dollar. Sejak awal, saya tidak mengharapkan akan bagus tetapi setidaknya tidak terlalu jelek. Pada akhirnya Legend Of Chun Li hanya akan lewat begitu saja ditelan kebesaran nama Street Fighter. Btw, jika ada rencana sekuel atau spin-off (seperti penyinggungan nama Ryu di ending film) di masa mendatang, agar lebih diperhatikan lagi.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$8,742,261 till May 2009

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 03 Desember 2008

WUSHU : Persahabatan Lima Remaja Menguasai Cabang Beladiri Tradisional

Tagline:
The art of combat has a new generation.

Cerita:
Yi dan Er yang dilatih wushu oleh ayah mereka, Li Hui diikirim ke sebuah sekolah beladiri. Berdua mereka membentuk kelompok Jin Wu Men bersama ketika orang temannya termasuk satu gadis energik Fong Fong. Sepuluh tahun kemudian, mereka berlima beranjak dewasa dan menghadapi kejuaraan nasional untuk saling berkompetisi satu sama lain. Selagi bertanding, mereka harus mengatasi Ke Le dan gengnya yang berencana melakukan penculikan anak-anak dibawah umur untuk dijual di luar negeri.

Gambar:
Beberapa adegan wushu di film ini terasa real dan menakjubkan. Mengambil lokasi di Shandong dan Beijing juga menyorot perguruan terbesar dengan ribuan murid di dalamnya.

Act:
Aktor senior Sammo Hung yang sudah bermain di ratusan film kungfu maupun action kali ini kebagian peran ayah dua putra remaja yaitu Li Hui yang juga seorang guru beladiri.
Beberapa remaja Tiongkok yaitu Liu Fengchao sebagai Yang Yauwu, Wang Wenjie sebagai Li Yi, Pheobe Wang sebagai Fong Fong, Liu Yongchen sebagai Xiao Zhang, Wang Yachao sebagai Li Er dan Mao Junjie sebagai Xiao Yi.

Sutradara:
Film ketiga bagi sutradara kelahiran Australia, Antony Szeto setelah Dragon Blade dan Taped, keduanya 2005. Ia dipercaya sang produser Jackie Chan untuk membesut Wushu ini.

Komentar:
Banyak pihak yang menantikan film ini terlebih fansnya film kungfu yang sudah sangat jarang diproduksi belakangan ini. Plot ceritanya sendiri sebetulnya sederhana yaitu tentang keluarga dan persahabatan yang dipadu dengan proses pembelajaran hidup. Ya memang kaya dengan nilai-nilai penting, hanya saja konfliknya kurang diperdalam. Ditambah lagi semua itu disajikan dengan agak datar dengan intensitas yang renggang sehingga mengganggu keasyikan menonton, kalau tidak mau dibilang membosankan dan mudah ditebak. Seharusnya Wushu bisa lebih baik lagi dari kualitas keseluruhan, bukan sekedar film yang hanya mempertontonkan keahlian beladiri dengan teknik mumpuni untuk disaksikan seluruh anggota keluarga. Jika ada prekuel atau sekuelnya di masa mendatang, saya harap bisa lebih baik lagi.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 24 September 2008

CHOCOLATE : Saat Gadis Autis Porak Porandakan Musuh

Storyline:
Yakuza bernama Masashi dan kekasihnya yang asli Thailand, Zin terpaksa berpisah karena Masashi ditugaskan ke Jepang kembali sementara Zin mengandung dan tetap tinggal di negaranya. Sayangnya kelahiran putri mereka, Zen tidaklah sempurna karena menderita autisme. Kekurangan tersebut menjadi kelebihan saat Zen menjadi sensitif panca inderanya dan menguasai berbagai ilmu beladiri termasuk Thai Boxing sebagai dasarnya. Bersama temannya Mang Moom, Zen remaja mulai mengumpulkan uang dari orang-orang yang berhutang pada ibunya yang tengah berjuang melawan kanker. Tugas yang tidak mudah ketika Zen harus menggunakan segenap kemampuannya.

Nice-to-know:
Awalnya beberapa adegan dalam film Jackie Chan dan Bruce Lee ditampilkan sekilas saat Zen menonton televisi. Tetapi akhirnya dihilangkan semua karena masalah lisensi termasuk beberapa scene yang sudah jadi.

Cast:
Yanin Vismitananda sebagai Zen
Hiroshi Abe sebagai Masashi
Pongpat Wachirabunjong sebagai No. 8
Taphon Phopwandee sebagai Mang Moom
Ammara Siripong sebagai Zin

Director:
Dipegang oleh Prachya Pinkaew yang pernah melejitkan Tony Jaa dalam Ong Bak (2003).

Comment:
JeeJa Yanin diganjar nominasi Asian Film Award 2009 lewat kategori Aktris Pendatang Baru Terbaik dan tampaknya pantas saja setelah mempertunjukkan kemampuan beladirinya yang mengagumkan disini. Itulah jualan utama film ini yaitu adegan aksi alias fighting scene di sepanjang durasinya. Bedanya kali ini protagonis wanita yang melakukannya dimana masih sedikit sekali aktris Asia yang mendapat porsi serupa. Sebut beberapa nama di masa silam seperti Michelle Yeoh, Cynthia Khan, Jade Leung dll yang rasanya belum didukung koreografi yang modern. Apalagi ditangani oleh Pinkaew yang sukses dengan Ong Bak yang fenomenal itu. Dari segi plot cerita harus diakui dangkal, bahkan tidak mengharuskan anda berpikir. Cukup duduk tenang menyaksikan aksi maut Yanin menghajar gerombolan lelaki di berbagai setting mulai dari pabrik es batu, rumah penjagalan dsb. Beruntung unsur humanis masih diselipkan dalam plotnya yaitu seorang anak "spesial", kurang secara fisik tetapi memiliki kelebihan tersendiri dalam hal mempelajari martial arts secara otodidak sejak kecil. Chocolate adalah sebuah film aksi Thailand yang akan membuat anda menghela nafas dan membuka mata lebar-lebar dari awal sampai akhir sambil membayangkan Bruce Lee atau Jackie Chan yang melakukannya dalam sosok gadis belia. Menarik bukan?

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 21 Agustus 2008

SHAOLIN GIRL : Gadis Kungfu Jago Lacrosse

Cerita:
Bercita-cita meneruskan sekolah kungfu kakeknya, seorang gadis cantik bernama Rin pulang ke Jepang setelah berguru selama 3000 hari di Sekolah Bela Diri Shaolin di Cina. Sayang semuanya tidaklah mudah karena kondisi kampung halamannya sama sekali berbeda sekarang. Berkenalan dengan beberapa teman baru dan akhirnya sepakat membentuk tim Lacrosse membuat Rin seakan lupa tujuan awalnya. Namun musuh lama perguruan mereka, Yuichiro mulai berulah dan menginginkan “sesuatu” dari Rin. Apa yang sesungguhnya disembunyikan Rin dari masa lalunya?

Gambar:
Lanskap pegunungan, sawah rerumputan khas Jepang menjadi setting utama film ini dan ditutup dengan sebuah gedung unik yang mencolok mata.

Act:
Bertaburan gadis cantik dan jangan lupakan 2 nama beken aktor Jepang!
Kou Shibasaki sebagai Rin
Kitty Zhang sebagai Minmin Ryu
Yosuke Eguchi sebagai Kenji
Toru Nakamura sebagai Yuichiro

Sutradara:
Pria asli Jepang bernama Katsuyuki Motohiro ini lebih banyak berkecimpung di negeri asalnya. Beruntung mendapat kepercayaan produser Stephen Chow untuk menangani Shaolin Girl dengan bujet yang cukup besar.

Philippines Box Office:
PHP 2,508,587

Komentar:
Dari segi akting agak sedikit berlebihan tapi itulah unsur hiburan yang dibawa oleh Stephen Chow termasuk dengan deretan gadis-gadis cantiknya. Tidak ketinggalan beberapa adegan khasnya seperti spesial efek bola dalam suatu olahraga yang kali ini diwakili lacrosse, sejenis sepakbola dengan tongkat berjaring panjang. Film yang sepintas terkesan menghibur tetapi jika ditelaah lebih jauh agak mudah ditebak dan cenderung mengabaikan daya pikir. Terutama penggunaan judul yang seakan tidak tepat dengan isinya apalagi plotnya yang bercampur aduk. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!