XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 12 Februari 2010

NGEBUT KAWIN : Supir Taksi "Terpaksa" Menikahi TKW

Storyline:
Hidup pas-pasan sebagai supir taksi tidak membuat Ones bermalas-malasan. Ia tetap bekerja keras terutama untuk membahagiakan engkongnya yang sudah sangat lanjut usia hingga meminjam uang 5 juta rupiah demi membeli kursi pijat modern! Kalut didera hutang, pada suatu hari Ones bertemu Ningsih, TKW yang baru pulang dari Arab Saudi dan berniat pulang kampung ke Indramayu. Diiming-imingi 5 juta rupiah, Ones tergiur mengantar Ningsih. Komunikasi pun mulai terjalin diantara keduanya. Berjam-jam perjalanan ditempuh tidak membuat masalah Ones selesai begitu saja, Ningsih memohon agar Ones berpura-pura menjadi calon suaminya di hadapan kedua orangtuanya yang sebetulnya sudah memiliki calon lain yaitu Cecep, pemuda setempat yang kaya raya. Cecep pun menantang Ones untuk menjalani fit and proper test demi menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Berhasilkah Ones menjawab tantangan tersebut sekaligus melunasi hutangnya pada bos Rambo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures.

Cast:
Kembali dengan peran lucu setelah terakhir dalam Bukan Malin Kundang, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai supir taksi bernama Ones yang bernasib kurang baik karena dikejar hutang.
Film keenamnya bagi Wiwied Gunawan terlepas dari kesuksesan dwilogi Kawin Kontrak. Disini ia bermain sebagai TKW bernama Ningsih yang dituntut kawin oleh kedua orangtuanya.
Lagi-lagi kebagian karakter menyebalkan, Vincent Rompies sebagai Cecep, perjaka desa kaya raya yang penuh tipu muslihat.
Jangan lupakan kehadiran aktor-aktris senior macam Kadir, Ira Wibowo, Doyok, Harry de Fretes, Hengky Soelaiman sampai Boneng.

Director:
Pernah sukses dengan duet Luna Maya dan Tora Sudiro dalam Cinlok (2008), Guntur Soeharjanto kembali dengan film beraroma komedi romantis.

Comment:
Dari ide cerita tidak ada yang baru karena sudah berkali-kali diketengahkan oleh film2 Hollywood ataupun Korea. Hanya saja penggarapan yang dilakukan Guntur terbilang menyegarkan apalagi dengan tone warna hijau yang dominan sepanjang film mulai dari warna taksi, seragam Ones hingga suasana pedesaan yang kental kealamiannya. Pemasangan Ringgo dan Wiwied bisa disebut fresh karena belum pernah terpikirkan sebelumnya. Walaupun chemistry diantara keduanya tidak terlalu pas tapi mereka berhasil menguasai scene-scene bersama dengan gaya humornya masing-masing. Vincent lagi-lagi terjebak dengan peran stereotype pemuda terpandang yang menyebalkan dengan improvisasi yang itu-itu saja. Dikhawatirkan lama kelamaan penonton akan bosan padanya. Terima kasih pada segerombolan bintang lawas yang turut memberikan andil positif bagi jajaran cast yang ada. Sulit memberi rating film ini karena berada di antara 6.5 dan 7. Pada akhirnya Ngebut Kawin bisa dikategorikan komedi menghibur dengan unsur-unsur pembentuk yang setidaknya dijelaskan ini itunya walaupun ada kesan agak dipaksakan.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 11 Februari 2010

PERCY JACKSON & THE LIGHTNING THIEF : Perjuangan Demigod Membersihkan Nama Baik

Quotes:
Chiron-Use this to defend yourself. It's a powerful weapon.
Percy Jackson-This is a pen. Chiron-Only use it in times of severe distress. Percy Jackson-This is a *pen*.

Storyline:
Abad 21 tetapi dewa-dewa pegunungan Olympus dan juga bermacam-macam monster masih menyembunyikan keberadaannya. Hingga pada suatu ketika, pelajar SMU bernama Percy Jackson mengetahui bahwa dirinya adalah keturunan spesial, setengah manusia dan setengah dewa yaitu putra dari Poseidon. Hal tersebut menjelaskan kemampuan bertahan lama di bawah air! Kemudian Percy secara semena-mena dituduh mencuri petir milik Zeus yang juga menyebabkan ibunya hilang secara misterius. Dikawani oleh pelindungnya, Grover dan putri dewi Athena, Annabeth, Percy harus membersihkan namanya sekaligus menyelamatkan ibunya dengan mencari pencuri yang sesungguhnya meskipun harus berpacu dengan waktu sebelum pegunungan Olympus menjadi ricuh.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel laris Rick Riordan yang sudah terbit hingga 5 seri sampai saat ini.

Cast:
Tiga pemeran utamanya justru aktor-aktris muda yaitu Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario sebagai trio Percy Jackson, Grover dan Annabeth dimana masing-masing dari mereka pernah bermain dengan bintang-bintang yang lebih senior sebelumnya.
Sederetan aktor-aktris kawakan Hollywood turut andil seperti Uma Thurman sebagai Medusa, Pierce Brosnan sebagai Chiron, Sean Benn sebagai Zeus dsb.

Director:
Pria berusia 51 tahun bernama Chris Columbus ini kebanyakan menyutradarai film keluarga sepanjang karirnya. Satu-satunya kemunculan di tahun 2009 lalu boleh dianggap gagal yaitu I Love You, Beth Cooper.

Comment:
Meskipun belum melihat atau membaca bukunya, saya tertarik dengan film ini setelah menyaksikan trailernya selama satu setengah menit! Apalagi setelah mengetahui di Indonesia sendiri rilis 2 hari lebih awal dibanding Amrik sana. Setengah jam pertama agak membosankan, kehidupan Percy yang monoton di rumah ataupun sekolah hingga perkenalannya dengan kedua orang yang akan membantunya kelak. Mulai dari sini, cerita bergulir lebih menarik tetapi harus diakui agak flat dan mudah ditebak. Apalagi endingnya yang terasa antiklimaks. Dukungan sutradara sekaliber Columbus rasanya belum cukup mengangkat film ini walaupun castnya boleh dibilang menjadi modal awal. Kemunculan Thurman, Brosnan, Bean yang singkat rasanya tidak terlalu banyak berpengaruh. Sedangkan Lerman masih dengan kharisma remaja biasa, tidak ada yang spesial begitupun dengan apa yang diperlihatkan Daddario ataupun Jackson terasa klise. Pertarungan Percy melawan musuh-musuhnya, tidak terlalu jauh dengan apa yang dipertunjukkan The Golden Compass ataupun Seeker yang juga flop itu. Sesuatu yang seharusnya lebih digarap serius atau setidaknya mengekor Harry Potter dalam pendekatannya. Efek CGI yang digunakan juga tidak wah, standar saja di era yang mestinya lebih maju ini. Dengan rating PG, rasanya Percy Jackson & The Lightning Thief ini hanya akan memuaskan kalangan remaja saja, bagi orang dewasa rasanya sedikit sulit untuk menikmatinya bahkan agak merasa dilecehkan nalarnya. Gunakanlah sudut pandang masa kecil anda saat menontonnya, itu akan sangat membantu..

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 09 Februari 2010

FROM PARIS WITH LOVE : Memburu Sekaligus Diburu Di Kota Paris

Quotes:
Richard Stevens-What do you think this is about?
FBI agent Charlie Wax-Its about terrorists!

Storyline:
Asisten pribadi Dubes AS di Perancis, James Reece memiliki kehidupan yang mengagumkan di Paris mulai dari kekasih sempurnanya, Caroline hingga memelihara impiannya menjadi anggota CIA suatu saat nanti. Semua itu mulai terwujud saat bertemu agen khusus Charlie Wax yang punya aturan main sendiri. Keduanya mulai terlibat kerjasama untuk menghentikan serangan teroris di Perancis sekaligus memberantas gerombolan pengedar kokain. Namun ketika menyadari dirinya juga menjadi incaran kelompok penjahat yang akan mereka berantas, James harus mengandalkan Charlie untuk tetap hidup yang mungkin mengubah hidupnya selamanya.

Nice-to-know:
Memiliki referensi film dengan From Russia with Love (1963), The Karate Kid (1984) dan Pulp Fiction (1994).

Cast:
Pernah gagal total saat memproduseri film berbujet besar Battlefield Earth (2000), John Travolta disini bermain sebagai Charlie Wax yang keras, tangguh dan juga hedonis.
Baru saja bermain dalam serial televisi The Tudors, Jonathan Rhys Meyers berperan sebagai James Reece yang lugu sekaligus memiliki rasa ingin tahu yang besar.

Director:
Pria kelahiran Perancis bernama Pierre Morel ini lebih banyak bertugas di bidang sinematografi. District 13 (2004) merupakan debut penyutradaraannya.

Comment:
Nama besar Luc Besson mungkin jaminan tersendiri bagi sebagian besar penonton terutama setelah kesuksesan Leon (1994). Namun setelah itu film-film yang ditulis, diproduseri ataupun disutradarainya nyaris serupa tapi tak sama dari segi tema. Tengok saja Taxi yang dibuat sampai 4 jilid, belum lagi trilogi The Transporter dll. Plot ceritanya tentang dua orang yang semula bertolak belakang dan akhirnya harus berjibaku untuk bertahan hidup. Simpel bukan? Dari nama Morel sang sutradara, rasanya cukup menjanjikan karena walaupun baru sedikit film aksi yang dibesutnya terbukti cukup laris dan baik secara kualitas. Adegan perkelahian satu lawan banyak, tembak-tembakan, kebut-kebutan, kejar-mengejar juga tetap menjadi menu andalan yang seringkali terkesan mengabaikan pengembangan karakter-karakter utamanya. Belum lagi twist dan ending yang sangat klise. Pemasangan Rhys Meyers dan Travolta cukup aneh karena Travolta masih terlihat sama dengan apa yang ditampilkannya dalam Pelham 123 dan Rhys Meyers yang aslinya beraksen Inggris dipaksakan menjadi orang Amerika. Pada akhirnya, From Paris With Love hanyalah mengandalkan aksi semata dalam tempo yang cepat. Pemilihan judul yang sebetulnya tidak berkorelasi apapun terhadap isi filmnya..

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 07 Februari 2010

EDGE OF DARKNESS : Balas Dendam Berbuntut Intrik Tingkat Tinggi

Quotes:
Thomas Craven: I'm a guy with nothin to lose!


Storyline:
Detektif pembunuhan Departemen Kepolisian Boston yang sudah pensiun, Thomas Craven menjemput putrinya yang baru berusia 24 tahun, Emma selepas pulang tugasnya. Setelah berbincang-bincang singkat di rumahnya, Emma mimisan dan tiba-tiba ditembak oleh pembunuh misterius di pintu rumah Thomas. Emma pun tewas seketika! Semua orang berasumsi, Emma tidak sengaja terbunuh karena target utamanya adalah Thomas. Dalam masa berkabungnya, Thomas mulai mencurigai bahwa sesungguhnya Emma memang diincar. Thomas mulai menyelidiki masa lalu Emma dan pekerjaan apa yang dilakukannya sampai bertemu pejabat penting perusahaan dan juga pemerintahan. Dibantu salah satu staf pemerintahan, Jedburgh, Thomas pun terlibat dalam intrik yang rumit.

Nice-to-know:
Dibuat berdasarkan miniseri 6 episode populer Inggris di tahun 1985 berjudul sama yang ditulis Troy Kennedy-Martin dan juga disutradarai oleh Martin Campbell.

Cast:
Bermain kembali sebagai aktor utama setelah terakhir Signs (2002), Mel Gibson didaulat sebagai Thomas Craven, mantan detektif paruh baya yang berduka karena kehilangan putrinya, Emma Craven yang diperankan pendatang baru, Bojana Novakovic.
Dua aktor senior, Ray Winstone dan Danny Huston kebagian peran Jedburgh dan Jack Bennett.

Director:
Salah satu dari sedikit sutradara yang mengarahkan lebih dari satu pemeran James Bond yaitu Goldeneye (1995) dengan Pierce Brosnan dan Casino Royale (2006) dengan Daniel Craig, Martin Campbell bisa dibilang spesialis film-film aksi.

Comment:
Temanya tentang ayah yang berusaha membalaskan dendam kematian anaknya mungkin sudah beratus-ratus kali diangkat. Lantas apakah kelebihan film ini? Pertama, kita bicara cast, Gibson, Huston dan Winstone yang sudah sangat kaliber menunjukkan kelas akting yang baik disini. Kedua, Campbell sang sutradara merupakan jaminan mutu dan juga perolehan pundi-pundi dollar selama ini. Tengok saja filmografinya di masa lalu. Dari segi cerita, intensitasnya memang terjaga dari awal sampai akhir sehingga membawa penonton tetap konsisten mengikutinya. Namun jika anda berharap sebuah film aksi yang cepat alurnya dimana sang jagoan membunuh setiap penjahat yang ditemuinya, anda akan kecewa. Pasalnya Edge Of Darkness lebih ke arah drama kepolisian dengan intrik tingkat tinggi yang baru terungkap di akhirnya. Agak membosankan? Mungkin saja anda berpendapat begitu. Tetapi jika dilihat secara keseluruhan, masih banyak nilai plus film yang dirilis oleh Warner Bros Pictures ini. Satu hal yang agak mengganggu bagi saya yaitu "seakan-akan" roh Emma yang kembali di setiap langkah ayahnya, berbau supernatural walau unsur personal yang ingin ditonjolkan.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$17,214,384 in the opening week end of Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 06 Februari 2010

MANAGEMENT : Kompromi Cinta Idealis dan Praktis

Quotes:
Mike: Take care of yourself a little... so that the people who love you don't feel like they're annoying you!

Storyline:
Mike bekerja di hotel orangtuanya di Kingman yang terletak di Route 66 yang berpopulasi 27 ribu orang saja. Sedangkan Sue menjual karya seni untuk firma Baltimore dalam mengisi ruang kantornya. Keduanya berkenalan dan memulai interaksinya dengan menarik. Seiring waktu, perbedaan kepribadian Mike dan Sue semakin menimbulkan jarak di antara mereka. Bahkan Sue lebih memilih menikah dengan mantan pacarnya Jango yang dianggap lebih siap menghidupinya. Namun apakah Mike harus tinggal diam dalam comfort zone nya menyaksikan cinta mulai menjauh dari hidupnya?

Nice-to-know:
Sempat mengutip sebaris kalimat dari An Officer and a Gentleman (1982) yaitu being swept away like...

Cast:
Sempat mendukung salah satu episode Dirt (2007) sebelum film ini, Jennifer Aniston bermain sebagai Sue yang praktis.
Pernah memenangkan Special Jury Prize dalam Sundance Film Festival lewat Happy, Texas (1999), Steve Zahn berperan sebagai Mike yang idealis
Margo Martindale sebagai Trish
Fred Ward sebagai Jerry
Woody Harrelson sebagai Jango

Director:
Merupakan debut pertama bagi Stephen Belber setelah sebelumnya lebih banyak menulis untuk serial televisi.

Comment:
Belber mungkin belum berpengalaman dalam menyutradarai tetapi menerjemahkan tulisannya sendiri mungkin mendekatkan film ini dengan ekspektasinya sendiri. Dan plot yang ditawarkan sangat sederhana yaitu hubungan personal antara Mike dan Sue dimana sudut pandang keduanya bergantian ditampilkan sehingga penonton mendapatkan pemahaman netral.
Konsep asmara disini lebih merupakan pertentangan antara si idealis dan si praktis. Si idealis memandang cinta harus diperjuangkan kebersamaannya meski tidak memiliki rencana yang matang sekalipun, bagaimana mengubah dirinya sendiri untuk menjadi lebih positif. Sedangkan si praktis selalu menyusun rencana hidup masa depannya sendiri serealistis mungkin meski harus mengorbankan cinta yang tidak menjanjikan apa-apa.
Aniston dan Zahn harus diakui benar-benar terkesan melebur dalam tokoh Sue dan Mike yang mereka perankan disini. Diawali dari hal-hal kecil, saling berbagi visi, menghabiskan waktu bersama hingga intensitas hubungan yang cenderung datar membuat akting mereka terasa alami termasuk chemistry yang terbangun apa adanya. Kita bisa melihat keduanya nyaman satu sama lain tetapi menyimpan kompleksitas tersendiri di antaranya.
Film ini tidak hanya bercerita mengenai dua sejoli berlawanan jenis tersebut tetapi juga teman-teman dan keluarga di sekitar mereka yang turut memberikan sumbangsih bagi suara hati masing-masing. Sejak menit awal hingga menit akhir, tokoh Mike dan Sue tidaklah sama karena karakterisasi keduanya berkembang seiring perjalanan waktu tanpa melupakan unsur komedi dan romantisme yang cenderung dewasa.
Iba rasanya melihat Management gagal berbicara di tangga box-office manapun ditayangkan. Terkadang audiens memang lebih ingin melihat mimpi yang menjadi nyata dalam sebuah komedi romantik. Namun bagi anda yang berniat menyaksikan sebuah kisah cinta yang membuat tersenyum dan menghangatkan hati dalam konsep kejujuran yang sejujur-jujurnya, inilah pilihan yang tepat. Kompromi terhadap pilihan hati anda sendiri seringkali dibutuhkan untuk mengejar kebahagiaan bersama orang terkasih, tentunya juga mempertimbangkan ketepatan waktu.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$933,224 till Aug 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 05 Februari 2010

HAEUNDAE : Bencana Tsunami Kepunahan Republik Korea

Tagline:
There is no escape from nature’s wrath.


Storyline:
Man-sik dan Yeon-hee yang pernah gagal membangun rumah tangga berusaha menjaga kesempatan kedua yang mereka miliki. Dr. Kim yang peduli akan prediksi tsunami di Pantai Haeundae harus berkutat dengan istrinya yang menuntut cerai dan pertumbuhan putri kecil mereka. Hyoung-sik yang menyelamatkan seorang gadis Seoul harus berjuang di tengah badai ganas. Tsunami yang meluluh-lantakkan seantero Republik Korea pun menciptakan konflik kepentingan, provokasi bahkan gejolak jiwa yang tragis selepas bencana berakhir.

Nice-to-know:
Merupakan film Korea berbujet terbesar yaitu sekitar US$ 11 juta sekaligus film bencana pertama yang banyak diinspirasi dari film-film legendaris bergenre serupa.

Cast:
Ha Ji-won sebagai Gang Yeon-heui
Park Joong-Hoon sebagai Kim Hwi
Sol Kyung-gu sebagai Choi Man-shik
Eom Jeong-hwa sebagai Lee Yu-jin
Song Jae-ho sebagai Paman Choi

Director:
Yun Je-Gyun menggarap film kelimanya dimana karir sutradaranya diawali oleh My Boss, My Hero (2001).

Comment:
Hollywood dari waktu ke waktu telah menelurkan begitu banyak judul film bergenre bencana mulai dari banjir, angin puyuh, badai dsb. Jika sudah demikian, lantas apa yang tersisa buat sineas Asia untuk difilmkan? Contoh paling konkrit adalah Korea Selatan yang cukup ambisius memproduksi yang satu ini. JK Youn yang menulis skripnya rasanya terinspirasi dari berbagai judul yang sudah ada sehingga tidak heran jika banyak kemiripan disana-sini yang mengurangi kadar originalitasnya.
Penceritaan berbagai tokoh dengan segala karakteristiknya di beberapa belahan bumi kembali digunakan secara tidak efektif disini. Lebih dari satu jam pertama dihabiskan dengan drama beralur lambat yang cukup membosankan, diselingi dengan humor getir yang sesekali menyeruak. Fakta-fakta pendukung akan hadirnya tsunami yang mengancam juga terkesan kurang meyakinkan meskipun data-data dan gambar grafis sudah berusaha dimunculkan di layar komputer para peneliti tersebut.
Walaupun sudah menggunakan nama-nama tenar yang dimiliki negeri ginseng itu entah mengapa saya masih merasa penjiwaannya kurang maksimal. Tidak ada satupun karakter yang mampu membangun koneksi dengan penonton, bisa jadi karena terlalu sedikit ekspos yang diberikan terhadap mereka akibat harus bergantian berbagi layar. Jikapun ada adegan yang menyentuh, lebih karena tuntutan skenario yang mengharuskan seperti itu, contohnya 40 menit terakhir yang tampak terlalu berupaya menguras air mata, sebagian mungkin berhasil tetapi sebagian lagi tidak.
Haeundae alias Tidal Wave ini secara garis besar belum mampu memenuhi standar film bencana yang kompeten. Nyaris sama lemahnya dengan 2012 yang kebetulan malah saya saksikan lebih dahulu. Spesial efek yang digunakan juga tidak terlalu spektakuler, masih kalah dari dramatisasi berlebihan yang dibangun oleh penyutradaraan yang terkesan amatir. Tidak ada yang tersisa selain keju lembek yang dipaksa meleleh sebagai analoginya. Rasanya akan lebih baik apabila anda lebih memilih menyaksikan Poseidon, Armageddon ataupun judul-judul lawas lain yang mungkin saja diputar di TV cable tengah malam hari.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 04 Februari 2010

JINX : Gadis Pembawa Sial Orang-Orang Sekitar

Storyline:
Tidak direstui hubungannya bersama Jono oleh kedua orangtuanya dengan alasan sama-sama melarat membuat Shanti nekad lari dari rumah dan akhirnya memutuskan bunuh diri dengan terjun dari gedung tinggi. Namun bukan kematian yang menjemput karena ia keburu diselamatkan, tetapi kesialan yang disebabkannya menjalar kemana-mana, ke orang-orang di sekitarnya baik yang dikenal ataupun tidak. Bagaimana nasib hubungan Shanti dan Jono pada akhirnya? Apakah kesialan tersebut akan berhenti sampai disitu atau justru awal dari semuanya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan baru Skylar Pictures dan diluncurkan pertama kali lewat jumpa pers di Cafe Casa, Kemang.

Cast:
Pendatang baru Aurellie Moeremans didaulat sebagai Shanti, gadis rapuh yang mudah putus asa.
Pernah mendukung Mas Suka Masukin Aja, Ferdi sebagai Jono.
Sederet aktor-aktris lawas seperti Ray Sahetaphy, Yurike Prastika, Him Damsyik, Hengky Solaiman turut mendukung film ini.

Director:
Pendatang baru di kursi sutradara adalah Muhammad Yusuf yang dipercaya oleh produser Sarjono Sutrisno.

Comment:
Genre dark comedy mungkin belum banyak disentuh sineas lokal. Inilah yang coba dijual sang penulis Jazzy Mu dalam menulis ceritanya. Tema yang diusung sebenarnya unik tetapi sayangnya masih banyak alasan tidak logis yang mendasari film ini terutama perjalanan hidup karakter utamanya selaku sentral cerita. Dari segi cast, hadirnya bintang-bintang senior turut memberikan warna tersendiri walau kontribusinya tidak mampu mengangkat film juga. Aurellie dan Ferdi bermain cukup natural sebagai orang miskin tetapi tidak banyak eksplorasi yang diberikan. Minimnya pengalaman sang sutradara juga patut dicermati sehingga dari segi penggarapan terkesan mediocre, apalagi kamera juga terasa berlari-lari di sepanjang film. Dari segi humor hitam yang berusaha ditampilkan terkadang berhasil memberikan kesan sarkastis lucu, selayaknya apa yang biasa ditawarkan film sejenis dari negeri ginseng. Namun secara keseluruhan frase "jinx" hanyalah tempelan belaka, tanpa menghasilkan konklusi apapun termasuk endingnya yang antiklimaks dan terselesaikan begitu saja.

Durasi:
100 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 03 Februari 2010

PENELOPE : Kisah "Penerimaan" Gadis Berhidung Babi

Quotes:
Annie: So what are you hiding from the law or is it just a bad nose job?
Penelope: Mhm, bad nose job..

Storyline:
Meski berasal dari keluarga terhormat dan berkecukupan, hidup gadis muda bernama Penelope tetaplah menderita. Pasalnya ia terkunci kutukan seseorang dari masa lalu kakeknya sehingga berhidung babi. Karena itulah ayah ibunya Franklin dan Jessica memalsukan kematiannya dan mengurungnya selama belasan tahun di dalam istana. Penelope yang semakin dewasa mulai tertarik melihat dunia luar sekaligus mencari cinta sejatinya dengan harapan mampu mematahkan kutukannya. Sayangnya hal tersebut nyaris tidak mungkin karena sudah beratus-ratus pria berdarah biru yang lari saat berhadapan dengannya. Hingga pada suatu ketika datanglah Max yang menarik hati Penelope, perbincangan keduanya dari balik kaca menimbulkan optimisme Penelope. Akankah perjalanan hidupnya seketika dapat berubah menjadi berwarna?

Nice-to-know:
Butuh waktu satu setengah jam untuk memasang hidung prostetik pada Christina Ricci.

Cast:
Setelah Cursed (2005) dan beberapa episode Grey's Anatomy, Christina Ricci kembali dalam film ini sebagai gadis berhidung babi tetapi berhati mulia, Penelope.
Sempat bermain sebagai Mr. Tumnus dalam The Chronicles of Narnia (2005), James McAvoy kebagian peran Max/Johnny yang dibayar untuk mengenal Penelope tetapi malah jatuh hati sungguhan.
Debut pertama Reese Witherspoon sebagai produser utama sekaligus peran Annie.
Richard E. Grant sebagai Franklin Wilhern
Catherine O'Hara sebagai Jessica Wilhern
Simon Woods sebagai Edward Vanderman
Peter Dinklage sebagai Lemon

Director:
Merupakan karya pertama Mark Palansky yang sebelumnya hanya menangani beberapa film pendek dan video interview.

Comment:
Premis gadis berhidung babi terdengar biasa dalam sebuah film. Lalu apakah ini hanya sekadar fairytale biasa? Jangan menyimpulkan terlalu cepat. Benang merahnya menggunakan formula yang sangat sederhana dan jalan ceritanya akan dapat ditebak dengan mudahnya. Namun yang membedakan adalah Penelope menggunakan kejujuran dan ketulusan dalam bertutur sehingga menarik untuk disaksikan.
Daya tarik utamanya jelas ada di Christina Ricci yang membawakan karakter Penelope dengan pesona yang mengundang simpati terlepas dari keanehan fisik yang dideritanya. Diperkuat pula oleh James McAvoy yang sangat natural dengan mata birunya yang polos. Chemistry keduanya berhasil menciptakan romantisme tersendiri yang realistis. Catherine O'Hara yang bermain sebagai Jessica Wilhern juga memukau karena mempotretkan tokoh ibu overprotektif yang luar biasa cerewet. Belum lagi Reese Witherspoon yang walaupun hanya sebagai karakter pendukung tetap memberikan kekuatan akting tersendiri. Sungguh cast yang menarik!
Sutradara Palansky meski belum banyak berpengalaman cukup berhasil membangun mood film dengan baik didukung dengan tone warna pucat kota London yang selalu terang benderang. Menonton Penelope seakan mengikuti sebuah komedi satir yang penuh dengan sindiran-sindiran duniawi seperti orang yang cenderung melihat dari luarnya saja, bisa jadi sebuah drama kehidupan yang sarat makna seperti bagaimana kita diajarkan untuk menerima diri kita sendiri terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Kekurangannya adalah terkadang karakter-karakter tertentu seakan diabaikan begitu saja setelah scene demi scene berlalu.
Nikmatilah Penelope dengan santai dan niscaya anda serasa dibawa masuk ke sebuah dunia sinis dimana seorang gadis manis yang menderita karena penolakan dunia terhadapnya berusaha menjalani hidup sewajar dan setulus mungkin. Bukankah cinta kadang dapat menyergap tanpa alasan yang masuk akal? It's a cute movie indeed with sense of touch!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$10,011,274 till Jun 2008

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 02 Februari 2010

TOOTH FAIRY : Kutukan Peri Gigi Sadarkan Keajaiban

Quotes:
Derek Thompson: I'm the Tooth Fairy.
Randy: Thought you said you were a vampire. You got some inconsistent mythology.

Storyline:
Pemain hoki es terkuat dan terpopuler, Derek Thompson tidak percaya keajaiban peri gigi. Ia dengan entengnya mengambil uang di bawah bantal calon putrinya, Tess yang baru tanggal giginya dan mengharapkan kedatangan peri gigi. Atas perbuatannya itu, Derek dihukum menjadi peri gigi selama seminggu oleh Lily, ibu dari peri gigi seluruh dunia. Dengan bantuan Ziggy, Derek berusaha belajar menggunakan perlengkapan-perlengkapannya sampai tugasnya berakhir. Akankah pada akhirnya Derek belajar dari keajaiban yang sesungguhnya ada di sekitarnya?

Nice-to-know:
Merupakan film live-action pertama bagi Billy Crystal semenjak Analyze That (2002).

Cast:
Tahun ini sempat juga mendukung serial televisi Family Guy, Dwayne Johnson bermain sebagai Derek Thompson / Tooth Fairy.
Siapa yang tidak mengenal aktris senior yang angkat nama lewat The Sound of Music (1965) bernama Julie Andrews ini. Kali ini ia berperan sebagai Lily, ibu peri gigi yang lembut hati dan bijaksana.
Ashley Judd sebagai Carly
Stephen Merchant sebagai Tracy
Ryan Sheckler sebagai Mick Donnelly
Seth MacFarlane sebagai Ziggy
Chase Ellison sebagai Randy
Destiny Whitlock sebagai Tess

Director:
Sutradara senior, Michael Lembeck terakhir kali menggarap The Santa Clause 3: The Escape Clause (2006) dan beberapa film televisi.

Comment:
Ide pembuatan film ini sebetulnya sudah cukup konyol tetapi nyatanya masih mampu menarik jajaran cast seperti Judd, Crystal ataupun Andrews untuk terlibat di dalamnya. Kalau nama The Rock rasanya tidak perlu aneh karena tampaknya ia semakin nyaman dalam film bertemakan keluarga belakangan ini.
Siapa tidak mengenal dongeng peri gigi, dari kecil hingga dewasa rasanya akan terus diingat oleh anda, sama halnya dengan sinterklas. Hal ini kemudian dikembangkan oleh lima orang penulis Lowell Ganz, Babaloo Mandel, Joshua Sternin, Jeffrey Ventimilia dan Randi Mayem Singer sehingga konsepnya menjadi komedi baik secara personal maupun keluarga yang dibungkus dengan berbagai pesan moral yang cukup mendidik.
Permasalahannya adalah film ini hanya masuk akal bagi bocah berusia di bawah 10 tahun! Bagi orang dewasa cenderung membosankan dengan alur cerita yang terlalu sederhana dan mudah ditebak. Ok mungkin untuk beberapa scene bisa jadi membuat anda tersenyum malu-malu melihat tindak-tanduk The Rock apalagi kostumnya yang “tidak wajar” itu. Namun secara keseluruhan, talenta semua aktor-aktris pendukungnya menjadi terkesan sia-sia untuk sesuatu yang terlalu absurd. Kharisma Andrews dan Crystal sebagai Lily dan Jerry menunjukkan kualita acting mereka. MacFarlane juga terasa pas dengan tokoh Ziggy yang nerd tetapi baik hati itu. Saya nyaris tidak mengenali Judd sebagai Carly disini karena lebih terpikat pada si kecil Whitlock yang mengesankan sebagai Tess.
Sutradara Lembeck sudah berusaha keras memodifikasi cerita tetapi tampaknya Tooth Fairy tidak lebih dari sekadar pengisi waktu luang anda akan kebutuhan film yang ringan dan menghibur saja. Akhir kata setelah ending berlalu, anda diharapkan bisa percaya akan keajaiban yang niscaya dapat membuat hidup lebih bermakna.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$60,020,099 till end of Jun 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 01 Februari 2010

IT'S ALIVE : Aksi Mematikan Bayi Pembunuh

Tagline:
Please be quiet. Do not wake him up.

Storyline:
Hari-hari terakhir semester menjelang kelulusannya, Lenore Harker memutuskan meninggalkan bangku kuliah untuk melahirkan bayi dari kekasihnya yang seorang arsitek, Franck di sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Namun keanehan terjadi saat janin tersebut membesar dua kali lipat hanya dalam sebulan dan masih dalam hitungan prematur saat dilakukan operasi caesar. Di luar dugaan, dua dokter dan dua perawat yang membantu persalinan tewas secara misterius. Bagaimanapun juga Lenore tetap membawa pulang buah hatinya tersebut tanpa menyadari bahaya selanjutnya.

Nice-to-know:
Merupakan remake berjudul sama di tahun 1974.

Cast:
Bijou Phillips sebagai Lenore Harker
James Murray sebagai Frank Davis
Raphaël Coleman sebagai Chris Davis

Director:
Karya Josef Rusnak sebelumnya yang paling berkesan bagi saya adalah The Thirteenth Floor (1999).

Comment:
Versi Larry Cohen di tahun 1974? Saya belum pernah mendengarnya tetapi rasanya selalu menarik bagi penggemar horor seperti saya untuk menyimak remake horor klasik pada jaman dimana saya belum lahir. Dari beberapa remake yang saya saksikan rasanya cukup memenuhi standar jaman sekarang. Nyatanya tidak dengan yang satu ini!
Plotnya sendiri memang sudah menggelikan, seorang bayi yang bisa membunuh. Tunggu dulu, apakah bayi itu sudah bisa disebut seorang? Yang pasti saya tidak mau menyebutnya demikian. Kita paparkan apa saja yang dilakukan sang bayi disini, mulai dari membunuh tikus, kucing, penguin, musang hingga orang dewasa! Baiklah, jelas bukan tipikal bayi favorit anda yang menggemaskan dan tidak berdosa. Lantas apa saja yang dilakukan sang bayi dalam menuntaskan misinya? Jawabannya tidak ada! Sepanjang narasi film, penonton hanya digiring untuk menduga-duga "kesadisan" sang bayi lewat serangkaian adegan cepat ataupun cipratan darah. Itupun dibantu oleh efek CGI yang dieksekusi secara kasar mengingat rendahnya bujet. Oh well!
Saya masih terkesan hingga saat ini dengan kinerja Rusnak dalam The Thirteenth Floor dimana saya belum genap 17 tahun pada waktu itu. Jelas salah satu sci-fi terbaik yang pernah saya tonton. Sayangnya Rusnak melakukan eksekusi yang buruk kali ini, diperparah dengan jajaran cast yang terlalu datar, mungkin juga karena skrip buruk yang disodorkan mereka. Saya tidak mampu mengingat satupun sisi positif dari It's Alive yang membuatnya layak ditonton.

Durasi:
80 menit

Asian Box Office:
PHP 6,111,827 till August 2009 in Philippines.

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent