XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label mel gibson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mel gibson. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

GET THE GRINGO : Manipulative Gringo In Old West Action Style


Quotes:
Driver: Is this a prison or the world’s shittiest mall?

Nice-to-know:
Anggota tim produksi, Alejandra Cuervo sempat ditugaskan untuk melakukan riset langsung terhadap beberapa tahanan El Pueblito mengenai kondisi internalnya demi kesamaan dalam film.

Cast:
Mel Gibson sebagai Driver
Kevin Hernandez sebagai Anak
Daniel Giménez Cacho sebagai Javi
Dolores Heredia sebagai Ibu
Jesús Ochoa sebagai Caracas
Peter Stormare sebagai Frank
Gerardo Taracena sebagai Ramiro
Tenoch Huerta sebagai Carlos

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Adrian Grunberg yang sebelumnya banyak menjadi astrada film-film besar termasuk Apocalypto (2006) untuk Mel Gibson sendiri.

W For Words:
Melihat trailernya, rasa pesimis muncul dalam diri saya. I know I shouldn’t judge the movie by its trailer. Namun menimbang fakta bahwa usia Mel Gibson sudah tak muda lagi untuk berperan sebagai jagoan dalam sebuah film action crime seperti ini, kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Namun melihat keberaniannya untuk duduk di kursi produser sekaligus penulis skrip bersama Stacy Perskie dan sang sutradara itu sendiri tentunya bukan sesuatu yang main-main. Sebagian besar syuting yang berlangsung di Mexico menghadirkan warna yang berbeda dari biasanya.

Saat berkendara melarikan sejumlah besar uang melewati perbatasan, Driver tertangkap polisi setempat dan dijebloskan ke penjara “El Pueblito” yang dikelola oleh penguasa Javi beserta saudaranya Caracas dan Carlos. Semua fase kehidupan berjalan wajar disana kecuali hukuman mati jika melarikan diri. Driver akhirnya berjumpa dengan seorang anak cerdas berusia 10 tahun yang amat berarti bagi Javi. Anak itulah yang kemudian mendorong Driver untuk memutar akal demi keluar hidup-hidup sekaligus membawa apa yang menjadi haknya.

Ceritanya sendiri tergolong bukan hal baru, balas dendam yang dilandasi oleh cinta sekaligus uang. Kombinasi aksi baku tembak, ketegangan pelarian yang diselingi dengan unsur komedi hitam yang tergambar dari pertukaran dialog antara Driver dengan tokoh-tokoh di sekitarnya jelas menyenangkan apalagi hadir dalam tempo tinggi. Dunia “El Pueblito” yang suram, kumuh dan depresif akan membawa anda dalam situasi yang tidak nyaman, menyaksikan sebuah masyarakat hidup di dalamnya dengan segala kondisi demikian mungkin membuat anda merasa menjadi manusia paling beruntung.

Gibson sendiri sudah sangat berpengalaman memerankan karakter serupa, terlebih dalam Payback (1999) yang berbeda lokasi. Nama karakter seakan bukan sebuah faktor yang signifikan, Driver di tangannya tetap mematikan dengan segala keahliannya. Tokoh karismatik yang patut mendapat simpati anda karena kemiskinan dan kemalangan yang dialaminya hingga terdampar disana. Giménez Cacho dan Ochoa juga memuaskan sebagai tokoh antagonis, satu stylish keras kepala, satu lagi sopan kejam. Jangan lupakan si kecil Hernandez yang berakting dengan begitu dewasa dan natural.

Cukup mengherankan keputusan Gibson yang namanya besar di Hollywood tapi justru memilih jalur Video On Demand untuk perilisan film yang juga dikenal dengan judul How I Spent My Summer Vacation ini di Amerika. Karakternya yang tangguh dan manipulatif dalam mengobrak-abrik penguasa Mexico adalah hiburan terbaik yang bisa anda dapatkan. Terima kasih pada konstruksi sinematik yang cukup solid dari sutradara Grunberg melalui film berbahasa Spanyol yang kerap mengumbar darah, kekerasan, konten seks hingga kata-kata kotor ini. Kesan chaos ala Barat lawas akan membangkitkan kenangan anda pada judul-judul terdahulu, lengkap dengan typical stereotype where our hero gets the girl and runaway with victory!

Durasi:
95 menit

Worldwide Box Office:
$4,506,115 till June 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 24 Juli 2011

THE BEAVER : Boneka Tangan Dualisme Kehidupan Baru

Quotes:
The Beaver: I’m here to save your God-damn life, Walter!

Storyline:
Mewarisi perusahaan mainan yang sudah mapan tidak membuat hidup Walter Black bahagia. Hubungannya dengan istrinya Meredith dan putranya Porter yang beranjak dewasa mulai mendingin meski si kecil Henry tidak pernah mengecewakan. Hingga pada suatu saat dalam perjalanan pulang, Walter menemukan boneka tangan berang-berang yang kemudian dijulukinya The Beaver. Percobaan bunuh diri yang gagal seketika memberikan energi baru bagi Walter untuk tetap menjalani hidup dengan bantuan komunikasi The Beaver yang selalu setia di tangan kirinya. Walter tidak peduli akan tudingan tidak waras yang terlontar dari mulut orang-orang di sekitarnya selama ia merasa mendapat kehidupan baru yang diharapkannya.

Nice-to-know:
Awalnya Jim Carrey dan Steve Carell sempat dikabarkan akan berperan sebagai Walter Black.

Cast:
Terakhir bermain dalam Edge of Darkness (2010), Mel Gibson bermain sebagai Walter Black.
Mulai angkat nama lewat Star Trek (2009), Anton Yelchin sebagai Porter Black
Cherry Jones sebagai Vice President
Jodie Foster sebagai Meredith Black
Riley Thomas Stewart sebagai Henry Black
Jennifer Lawrence sebagai Norah

Director:
Debut penyutradaraan Jodie Foster diawali dengan Little Man Tate tepat dua dekade yang lalu

Comment:
Siapa di kalangan moviegoers yang tidak kenal nama Mel Gibson atau Jodie Foster? Jawabannya mutlak tidak ada. Meski sudah banyak bermunculan megabintang Hollywood yang jauh lebih muda, keduanya tidak lantas dapat dikesampingkan begitu saja. Jika dipersatukan dalam sebuah film, tentunya akan menjadi ajang adu akting yang sangat menarik apalagi Mel dan Jodie dipasangkan menjadi suami istri bermasalah kali ini.
Film yang skripnya ditulis oleh Kyle Killen ini memang bukan drama biasa-biasa saja. Banyak sekali isu keluarga yang coba ditengarai baik yang tersirat maupun yang tidak. Sebut saja mendinginnya hubungan suami istri yang telah puluhan tahun menikah, figur orangtua di mata anak seiring berjalannya waktu tidak akan pernah sama, krisis kepercayaan diri manusia paruh baya yang mulai menggerogoti dan banyak lagi.
Duduk di kursi sutradara untuk ketiga kalinya, Foster memang tidak pernah benar-benar memposisikan dirinya sebagai sorotan utama. Dramatisasi yang ia bangun di sepanjang film terasa realistis dengan balutan scoring musik yang ciamik. Tempo yang cukup lambat dan setting tempat yang agak monoton mampu disiasati dengan pergerakan kamera yang secara menarik mengambil angle yang berbeda-beda silih berganti.
Gibson sendiri mampu menampilkan sosok pria dewasa yang depresi. Sayang tidak ada penjelasan turning point seperti apa yang membuat keadaannya demikian terpuruk. Namun tokoh Walter harus diakui mampu mengambil simpati penonton, terlepas dari anggapan tidak waras yang menyertainya. Perubahan intonasi suara Gibson saat menjadi man dan puppet memang sedikit berbeda, antara low voice yang menandakan ketidakpercayaan diri sampai strong voice yang terkesan dominan.
Yang juga menarik bagi saya adalah tokoh Porter Black yang harus berhadapan dengan tiga pihak sekaligus yaitu ayahnya, gadis yang disukainya atau dirinya sendiri. Yelchin mampu menerjemahkan sosok Walter muda itu ke dalam remaja pria beranjak dewasa yang temperamental dan bingung akan tujuan hidupnya sendiri. Chemistry nya dengan Lawrence yang bermain sebagai Norah memang tidak terlalu bersinar tapi sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka berdua.
The Beaver tidak akan mudah dicerna oleh penonton awam yang bisa jadi mengernyitkan kening mengikuti perjalanan Walter selama 90 menit dan misah misuh begitu meninggalkan gedung bioskop. Namun jika ditelaah lebih jauh, arti film ini tak lebih dari sekadar frase questioning ourselves. Setiap manusia memiliki alter ego yang seringkali berganti-ganti seiring berjalannya waktu terlebih saat melewati masa-masa up and down yang akan selalu ada. Ingatlah bahwa kita tidak pernah sendiri dalam melalui semua fase kehidupan. You always got people around you, no matter how close/far they seems..

Durasi:
90 menit

U
.S. Box Office:
$958,319 till June 2011 (limited showing)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 07 Februari 2010

EDGE OF DARKNESS : Balas Dendam Berbuntut Intrik Tingkat Tinggi

Quotes:
Thomas Craven: I'm a guy with nothin to lose!


Storyline:
Detektif pembunuhan Departemen Kepolisian Boston yang sudah pensiun, Thomas Craven menjemput putrinya yang baru berusia 24 tahun, Emma selepas pulang tugasnya. Setelah berbincang-bincang singkat di rumahnya, Emma mimisan dan tiba-tiba ditembak oleh pembunuh misterius di pintu rumah Thomas. Emma pun tewas seketika! Semua orang berasumsi, Emma tidak sengaja terbunuh karena target utamanya adalah Thomas. Dalam masa berkabungnya, Thomas mulai mencurigai bahwa sesungguhnya Emma memang diincar. Thomas mulai menyelidiki masa lalu Emma dan pekerjaan apa yang dilakukannya sampai bertemu pejabat penting perusahaan dan juga pemerintahan. Dibantu salah satu staf pemerintahan, Jedburgh, Thomas pun terlibat dalam intrik yang rumit.

Nice-to-know:
Dibuat berdasarkan miniseri 6 episode populer Inggris di tahun 1985 berjudul sama yang ditulis Troy Kennedy-Martin dan juga disutradarai oleh Martin Campbell.

Cast:
Bermain kembali sebagai aktor utama setelah terakhir Signs (2002), Mel Gibson didaulat sebagai Thomas Craven, mantan detektif paruh baya yang berduka karena kehilangan putrinya, Emma Craven yang diperankan pendatang baru, Bojana Novakovic.
Dua aktor senior, Ray Winstone dan Danny Huston kebagian peran Jedburgh dan Jack Bennett.

Director:
Salah satu dari sedikit sutradara yang mengarahkan lebih dari satu pemeran James Bond yaitu Goldeneye (1995) dengan Pierce Brosnan dan Casino Royale (2006) dengan Daniel Craig, Martin Campbell bisa dibilang spesialis film-film aksi.

Comment:
Temanya tentang ayah yang berusaha membalaskan dendam kematian anaknya mungkin sudah beratus-ratus kali diangkat. Lantas apakah kelebihan film ini? Pertama, kita bicara cast, Gibson, Huston dan Winstone yang sudah sangat kaliber menunjukkan kelas akting yang baik disini. Kedua, Campbell sang sutradara merupakan jaminan mutu dan juga perolehan pundi-pundi dollar selama ini. Tengok saja filmografinya di masa lalu. Dari segi cerita, intensitasnya memang terjaga dari awal sampai akhir sehingga membawa penonton tetap konsisten mengikutinya. Namun jika anda berharap sebuah film aksi yang cepat alurnya dimana sang jagoan membunuh setiap penjahat yang ditemuinya, anda akan kecewa. Pasalnya Edge Of Darkness lebih ke arah drama kepolisian dengan intrik tingkat tinggi yang baru terungkap di akhirnya. Agak membosankan? Mungkin saja anda berpendapat begitu. Tetapi jika dilihat secara keseluruhan, masih banyak nilai plus film yang dirilis oleh Warner Bros Pictures ini. Satu hal yang agak mengganggu bagi saya yaitu "seakan-akan" roh Emma yang kembali di setiap langkah ayahnya, berbau supernatural walau unsur personal yang ingin ditonjolkan.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$17,214,384 in the opening week end of Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!