XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 06 Oktober 2009

THE SECRET OF MOONACRE : Perselisihan Dua Keluarga Membawa Bencana

Tagline:
A Magical Journey Begins.

Cerita:
Saat ayahnya meninggal, remaja 13 tahun, Maria Merryeather terpaksa meninggalkan London dan tinggal bersama pamannya yang eksentrik, Sir Benjamin di sebuah Puri Moonacre. Satu-satunya peninggalan ayahnya hanyalah buku fiksi tua yang berangsur-angsur menjadi kenyataan dimana perselisihan dua keluarga Merryweather dan de Noir bermula. Maria kemudian menemukan fakta bahwa dirinya adalah penerus terakhir Putri Moonacre yang harus menghentikan kutukan dengan cara menemukan seuntai kalung mutiara yang telah hilang bertahun-tahun sebelum semuanya terlambat.

Gambar:
Keindahan alam Hungaria dipaparkan dalam film ini dimana gambar-gambar klasik nan indah seakan pas dengan visualisasi bukit Moonacre.

Act:
Aktor Inggris, Ioan Gruffudd seumur hidupnya lebih banyak terlibat dalam produksi serial teve sampai Fantastic Four (2005) sukses mengangkat namanya di kancah perfilman Hollywood. Kali ini ia berperan sebagai Sir Benjamin Merryweather yang eksentrik dan keras hati.
Aktris cilik Dakota Blue Richards angkat nama lewat The Golden Compass (2007) yang walaupun digadang-gadang sukses tapi flop di pasaran. Disini ia bermain sebagai Maria Merryweather yang pemberani dan gigih.
Juliet Stevenson sebagai Miss Heliotrope, pengasuh Maria yang cerewet tapi baik hati.
Nastascha McElhone sebagai Loveday.
Tim Curry sebagai Coeur de Noir.
Augustus Prew sebagai Robin de Noir.

Sutradara:
Pria kelahiran Hungaria bernama Gabor Csupo ini boleh dibilang menguasai perfilman anak-anak baik animasi televisi ataupun fiksi layar lebar walau lebih sering duduk di kursi writer ataupun departemen animasi. Secret Of Moonacre merupakan film ketiganya setelah sebelumnya Bridge To Terabithia (2007).

Comment:
Selayaknya film fiksi yang diangkat dari novel remaja atau bisa disebut anak-anak, The Secret Of Moonacre fasih bercerita dengan narasi yang mudah diikuti dan tentunya detail dalam eksplorasi imajinasi. Tetapi penerjemahan ke versi layar lebar tentunya tidak semudah itu, butuh elemen-elemen bagus yang bisa mengangkatnya menjadi luar biasa. Beban berat disandangnya karena beberapa film sejenis belakangan flop di pasaran seperti contohnya Golden Compass dsb. Dari segi cast, Moonacre bisa dibilang sudah tepat karena aktor-aktrisnya tampil baik apalagi dibantu dengan kostum yang menarik mata. Spesial efek atau biasa disebut CGI juga terlihat halus disini terutama kemunculan singa hitam dan kuda unicorn. Secara keseluruhan di mata saya, dari segi kualitas Moonacre sedikit lebih baik daripada Bridge To Terabithia atau Seeker tetapi masih kalah memikat dibandingkan Stardust atau The Golden Compass. Permasalahan utama adalah plot cerita yang dirasa masih terlalu sederhana dan berlarut-larut bagi penonton dewasa.

Durasi:
100 menit

Europe Box Office:
£944,197 till May 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 05 Oktober 2009

MORE THAN BLUE : Saat Kesendirian Dua Individu Menyiksa

Cerita:
Produser radio, K ditinggalkan keluarganya. Sementara itu penulis lirik, Cream kehilangan keluarganya dalam suatu kecelakaan. Keduanya sepakat melanjutkan hidup bersama selayaknya teman dan saudara untuk saling mengisi satu sama lain. Namun K menyimpan rahasia bahwa hidupnya tidak akan panjang karena penyakit kanker yang dideritanya. Berusaha mencarikan Cream jodoh sepadan, K memasangkannya dengan dokter gigi Joo Hwan. Akankah pada akhirnya Cream mampu berdiri dan mencintai salah satu dari dua pria dalam hidupnya tanpa penyesalan apapun?

Gambar:
Kental dengan nuansa drama sehingga gambar-gambar Bergulir cukup lambat dengan flashback adegan khas melodrama Korea.

Act:
Kwan Sang Woo sebagai K
Lee Bo Yeong sebagai Cream
Lee Beom Soo sebagai Joo Hwan

Sutradara:
Bertindak sebagai penulis cerita sekaligus sutradara, film ini adalah debut penyutradaraan bagi Won Tae Yeon yang melejit setelah menjadi penulis cerita Il Mare (2000).

Komentar:
Tipikal melodrama Korea yang terasa fun di awal dan berangsur menyedihkan di bagian akhir walau rasanya tidak cukup menyentuh untuk membuat penonton menangis. Sejujurnya, bagian pertama film ini tidak terlalu menarik untuk diikuti karena sutradara terlalu fokus pada karakter tambahan dalam menceritakan pengenalan karakter utama dimana kedua karakter utama sebetulnya sudah memiliki daya tarik tersendiri. Bagian kedua menjadi lebih berkembang dengan bantuan musik, puisi cinta dan kesedihan seiring peningkatan akting dari Kwan dan Lee dalam mengaduk emosi penonton. Kejutan twist yang diberikan di ending mungkin saja sudah bisa ditebak sebelumnya tapi tetap memberikan warna tersendiri bagi More Than Blue yang terasa puitis di berbagai tingkatan.

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 04 Oktober 2009

THE REBOUND : Hidup Baru Wanita Dewasa Cinta Pria Muda

Quotes:
Sandy-You dirty little fucking scumbag! Take your disease-riddled whore and fuck her in hell, for all eternity! While the devil burns you with hot, jagged metal! And suffocates you, with molten fury!

Storyline:
Ketika Sandy yang pintar dan cantik dikhianati suaminya, ia tak segan membawa putra-putrinya yang masih kecil pindah ke New York untuk memulai hidup baru. Pekerjaan bagus yang diterimanya membuat Sandy terpaksa mencari pengasuh untuk anak-anaknya. Pilihan dijatuhkan pada Aram, pemuda 25 tahun yang kerja serabutan untuk hidup mandiri meskipun kedua orangtuanya berada. Kedekatan Aram pada Frank & Sadie juga membuka hati Sandy. Keduanya mulai berkencan terlepas dari kemungkinan-kemungkinan masalah yang mendera hubungan mereka. Akankah keduanya bersatu pada akhirnya?

Nice-to-know:
Syutingnya beragam mulai dari Turki, New York hingga Paris.

Cast:
Pernah menggenggam Oscar Aktris Pendukung Terbaik dalam Chicago (2002), Catherine Zeta Jones kali ini berperan sebagai Sandy, single parent yang berusaha lepas dari kegagalan perkawinan.
Pernah diarahkan Freundlich sebelumnya dalam Trust The Man (2005), Justin Bartha bermain sebagai Aram, duda muda yang berpikiran dewasa dan mau mengejar semua cita-cita dengan usahanya sendiri.

Director:
Meski karya-karyanya masih bisa dihitung jari, Bart Freundlich terakhir menghasilkan film layar lebar berjudul Trust The Man (2005).

Comment:
Awalnya dibuka dengan biasa saja dimana karakter Zeta Jones yang otomatis disukai penonton karena berusaha bangkit dari situasi sulit dalam hidupnya. Pertemuan dengan Bartha yang membawakan karakter pria muda sopan bervisi maju ke depan lewat beberapa kejadian yang tidak diduga berhasil membawa suasana alami diantara keduanya. Tokoh dua anaknya juga cukup menghadirkan nuansa tersendiri dengan celotehan-celotehan lugas nan menyentil. Belum lagi kehadiran orangtua Bartha yang idealis juga realistis. Chemistry antara Catherine dan Justin terasa kuat dan nilai lebih disini, keromantisan begitu terasa saat keduanya saling berbalas dialog, pandangan hingga sentuhan. Belum lagi kesenjangan usia belasan tahun dimana wanitanya lebih tua diantara keduanya sukses ditampilkan dengan alami tanpa ada kesan dipaksakan. Cerita mengalun dengan baik. Hampir setiap adegan tepat timingnya, diluar adegan menonton teater yang cukup membosankan. The Rebound pada akhirnya mengajarkan wanita untuk tidak terjebak peran stereotip ibu rumah tangga yang menggantungkan hidupnya pada sang suami dan mengurus keluarga, terlebih melupakan mimpi-mimpinya sebagai seorang individu. Film ini layak ditonton terutama karena kinerja sutradara, produser, penulis, kru dan jajaran cast yang saling bersinergi dengan maksimal.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 03 Oktober 2009

HE'S JUST NOT THAT INTO YOU : Menguji Ketepatan Sinyal Cinta

Quotes:
Gigi-Maybe his grandma died or maybe he lost my number or is out of town or got hit by a cab...
Alex-Or maybe he is not interested in seeing you again.

Storyline:
Di Baltimore, lima wanita dan empat pria berusaha mengartikan sinyal-sinyal yang diberikan lawan jenis mereka. Gigi membayangkan setiap pria yang ditemuinya merupakan jodohnya sampai ia bertemu Alex yang secara gamblang bicara blak-blakan. Lalu suami istri Janine dan Ben yang kelihatannya baik-baik saja hingga Ben berbincang dengan Anna yang bercita-cita menjadi penyanyi. Sementara itu Neil dan Beth telah tinggal bersama selama 7 tahun lalu Beth mulai ragu akan semua itu. Ada juga Mary yang sibuk mencari jodoh di dunia maya. Apakah cinta yang nyata itu benar-benar ada? Bagaimana sesungguhnya pasangan tepat dapat ditemukan?

Nice-to-know:
Dikirimkan ke sinepleks dengan nama samaran "Boy Trouble".

Cast:
Bertabur aktor-aktris ternama Hollywood dengan masing-masing karakter yang sangat beragam.
Ginnifer Goodwin sebagai Gigi Phillips
Scarlett Johansson sebagai Anna Marks
Bradley Cooper sebagai Ben
Justin Long sebagai Alex
Ben Affleck sebagai Neil
Jennifer Aniston sebagai Beth Murphy
Jennifer Connelly sebagai Janine
Drew Barrymore sebagai Mary
Kevin Connolly sebagai Conor Barry

Director:
Pertama kali Ken Kwapis menjadi sutradara di usia 26 tahun lewat The Beniker Gang (1983).

Comment:
Tidak diragukan lagi film ini lebih memihak feminisme daripada maskulinitas. Plotnya sendiri dilihat dari sudut pandang kaum wanita terhadap pria dan hubungan kasih yang mereka jalani terhadapnya. Mari kita bahas satu persatu.
Karakter Gigi merupakan contoh wanita yang selalu salah menafsirkan perilaku pria dan berpikir pria akan berubah suatu saat nanti. Pada beberapa kasus memang demikian, seperti tertera dalam buku Mens Are From Mars dan sejenisnya.
Karakter Anna merupakan jenis wanita oportunis yang mengutamakan mimpi dan visinya terlebih dahulu sebelum memutuskan mana yang rasional untuk dijalani.
Karakter Janine merupakan sosok wanita insecure yang pernah mengalami kepahitan masa lalu sehingga perilakunya cenderung obsesif kompulsif yang pada akhirnya sulit memahami dan menerima pasangannya.
Karakter Beth merupakan macam wanita yang mempercayai lembaga pernikahan adalah satu-satunya alasan untuk bahagia meskipun sudah mempunyai hubungan serius selama bertahun-tahun tanpa adanya ikatan perkawinan.
Keempatnya diprofilekan dengan sangat baik oleh Goodwin, Johansson, Connely dan Aniston. Ditambah dengan karakter minoritas Barrymore yang percaya dunia maya bisa memberikannya keintiman yang unik. Dari penuturan dan interaksi merekalah membuat karakter-karakter pria di film ini terlihat tidak terlalu positif. Walaupun demikian Affleck, Long, Cooper, Connoly tetap diapresiasi dalam menjiwai Neil yang takut kawin, Alex yang berganti-ganti wanita, Ben yang didominasi istri, Conor yang menjadi sahabat terbaik wanita.
Sutradara Kwapis yang berpengalaman mengarahkan drama romantis juga menyisipkan tagline-tagline secara bold untuk mempertegas scene demi scene yang ingin disampaikan penekanannya. Hal tersebut cukup bekerja walau terkadang membuat film kehilangan fokus.
Apapun pendapat anda, setidaknya He's Just Not That Into You mencoba jujur menuturkan kisah cinta dan permasalahan umum kaum wanita di penghujung dua puluhan sampai tiga puluhan, selayaknya sebuah diktat yang cukup menarik dan bisa menjadi bahan pembelajaran bersama.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$93,945,548 till early July 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 02 Oktober 2009

MALING KUTANG : Kutang Tua Menjadi Incaran Kesalahpahaman

Cerita:
1973, nenek Sugeni berduka saat kehilangan suaminya yang tewas ditabrak wagon setelah membelikan kutang merah biru polkadot berumbai-rumbai emas. Kenangan terus membekas sehingga Sugeni yang tidak pandai mencari uang dituntut menjadi banci untuk mendapatkan uang dengan mudah?! Secara tidak sengaja, Sugeni menghilangkan kutang tersebut yang jatuh ke tangan Ina, pemilik toko kelontong sukses. Lewat kejadian tak disengaja, tetangga sekaligus saingan Ina yakni Syamsul dan Yuyun mengasumsikan Ina menyembah kutang norak tersebut. Berbagai cara kocak mereka lakukan untuk mendapatkannya. Seketika, kutang itupun menjadi rebutan berbagai pihak..

Gambar:
Berbagai scene karikatural selayaknya komedi DKI tahun 80an muncul kembali disini. Lengkap dengan beberapa pelesetan kejadian ataupun tokoh-tokoh ternama.

Act:
Arie K. Untung sebagai Sugeni
Indra Birowo sebagai Syamsul
Deswita Maharani sebagai Yuyun
Kinaryosih sebagai Ina
Sogi Indra Huaja

Sutradara:
Serasa stripping sinetron, Rako Prijanto meluncurkan film ketiganya dalam bulan-bulan terakhir ini setelah KCK dan Preman In Love! Masih mengangkat tema komedi, kali ini ia bekerjasama dengan penulis novel remaja, Raditya Dika yang baru saja sukses dengan Kambing Jantan.

Komentar:
Entah ide gila apa yang muncul di kepala Raditya Dika saat menulis cerita film ini dan didukung dengan visualisasi kacaunya Rako hingga menghasilkan film semacam ini! Dari plot cerita memang fresh tetapi tidak didukung logika yang baik sehingga terkesan membodohi penonton. Dari sisi humor, seakan kembali ke jaman dahulu dimana lelucon pengocok tawa memang terasa tradisional alami, sayangnya tidak relevan dengan subplot cerita yang berlapis-lapis. Dari segi cast, tetap sulit menyukai salah satu dari beberapa karakter utama tersebut dikarenakan tampilan norak yang ditonjolkan mereka. Alhasil Maling Kutang hanya akan membuat kening kita berkerut saat menyaksikannya termasuk saya yang kadang bingung dengan orang-orang di sekitar yang masih bisa tertawa dengan dagelan yang ditawarkannya, yang menurut saya tidak lucu samasekali. Semoga dengan open ending, tidak akan ada sekuelnya di masa mendatang..

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 01 Oktober 2009

THE LAST LEGION : Epik Asal Mula Legenda King Arthur

Quotes:
Young Arthur-Is that where the last legion made their stand?
Ambrosinus-Of course. Just like in the story.
Young Arthur-With you as the hero.
Ambrosinus-Of course. We need heroes, don't we?

Cerita:
Tahun 460 Sebelum Masehi, kaum Goth yang dipimpin Odoacer menyerang Roma; membunuh orangtua Kaisar Romulis Augustus dengan brutal dan menculik bocah tersebut bersama gurunya Ambrosinus ke penjara di Capri. Pemerintahan Constantinople bersama Senator Nestor mengirim pejuang wanita bernama Mira untuk membantu Komandan setia, Aurelius untuk menyelamatkan Romulus dengan bermodalkan sedikit prajurit. Kesuksesan misi tersebut dikejutkan oleh fakta bahwa mereka dikhianati oleh Senator Nestor pada saat kembali. Tanpa pilihan, mereka mengubah haluan menuju Brittannia untuk bertemu kaum pejuang terakhir Roman.

Gambar:
Bersetting di Slovakia dan Tunisia, The Last Legion cukup berhasil mengedepankan bahasa gambar epik yang baik dan meyakinkan.

Act:
Colin Firth yang pernah mendukung Bridget Jones' Diary (2001) kali ini berperan sebagai Aurelius
Aktor berusia 65 tahun kelahiran Inggris bergelar Sir ini sudah malang melintang di kancah perfilman Hollywood. Disini Ben Kingsley bermain sebagai Ambrosinus / Merlin.
Salah satu aktris India yang cukup dikenal di Amerika, Aishwarya Rai kebagian tokoh Mira, pejuang wanita yang tangguh.
Angkat nama lewat Nanny McPhee (2005), Thomas Sangster didapuk sebagai Romulus Augustus kecil.

Sutradara:
Doug Lefler lebih berpengalaman dalam bidang art department sekaligus sutradara beberapa episode serial televisi epik selayaknya Hercules, Xena dll.

Komentar:
Melihat premis dan trailer The Last Legion, rasanya penonton akan berharap banyak. Tetapi sayangnya hanya akan dikecewakan pada akhirnya. Apa pasal? Walau didukung oleh efek CGI yang lumayan sebagai sebuah epik, film ini tidak didukung oleh jalan cerita yang memadai dan adegan laga yang memukau. Jajaran cast yang ada pun tergolong bermain biasa-biasa saja walaupun masing-masing dari mereka sebenarnya memiliki bakat, hal ini mungkin saja disebabkan kinerja sutradara yang belum maksimal. Ending yang ditawarkan pun terasa dipaksakan dan cenderung norak. Secara keseluruhan, The Last Legion mungkin tidak seburuk itu, hanya saja segmennya lebih ditujukan untuk remaja muda dibandingkan orang dewasa karena film yang ringan ini bebas dari adegan berdarah, kekerasan ataupun seks.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$5,920,150 till Nov 2007

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 28 September 2009

VACANCY 2 : Menghadapi Geng Maniak di Motel Terpencil

Quotes:
Otis-[Doris has let two strangers in need of help - Tanner and Jessica - into the house] Doris, what the hell are you doing?
Doris-Jesus would let these two in here.
Otis-Yeah, but he knows if they slit his throat he'll be back in three days! Doris-Otis, that is blasphemy,
Otis-And this here is crazy.

Cerita:
Tahun 2004, dua pengelola motel Meadowview yakni Gordon dan Reece memasang kamera pada 6 kamarnya untuk menjual video porno dari tamu-tamu yang menginap. Sampai pada suatu ketika, bisnis mereka sepi dan bertemu dengan Smith, pembunuh maniak yang merencanakan kerjasama berdarah. Tak lama kemudian, Caleb yang tengah bepergian bersama sahabatnya, Tanner dan tunangannya, Jessica ke Chicago sepakat bermalam di Meadowview tanpa menyadari bahaya yang mengintai. Bagaimana kelanjutan nasib mereka?

Gambar:
Hanya bersetting semalam penuh di motel Meadownview yang terpencil, suasana mencekam berhasil dibangun dengan pencahayaan yang minimalis dengan tata ruang terbatas.

Cast:
Agnes Bruckner sebagai Jessica
David Moscow sebagai Gordon
Scott G. Anderson sebagai Smith
Arjay Smith sebagai Tanner
Trevor Wright sebagai Caleb

Sutradara:
Karier Eric Bross lebih banyak dalam penyutradaraan serial televisi atau film format video. Satu-satunya karyanya yang cukup menonjol sejauh ini adalah Stranger Than Fiction (2000).

Comment:
Meskipun muncul setelah Vacancy (2007), film bersub judul The First Cut ini merupakan sebuah prekuel. Dengan label straight-to-dvd alias tidak layak tayang di bioskop, jajaran cast sebetulnya tampil lumayan, terlepas dari beberapa tindakan bodoh yang klise. Namun dari plot cerita tergolong lemah dan lebih merupakan pengulangan dari apa yang sudah-sudah. Twist yang diberikan di ending pun terasa dipaksakan dan tidak masuk akal. Satu-satunya segi yang menarik adalah suasana ketegangan yang cukup terjaga sepanjang film terutama di bagian awal. Selebihnya jangan terlalu berharap banyak dan tolong lepaskan ingatan anda dari thriller Vacancy nya Beckinsale-Wilson saat menyaksikannya. Itu akan membantu anda menikmati Vacancy 2 ini.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 27 September 2009

HORSEMEN : Pembunuh Berantai Mengatasnamakan Kitab Wahyu

Tagline:
Come and see. Four victims. Four painful secrets.

Cerita:
Detektif senior, Aidan Breslin secara psikologis jauh dari kedua putranya, si remaja Alex dan si kecil Sean terutama sejak kematian istri tercintanya beberapa tahun lalu. Selagi menangani kasus pembunuhan berantai yang sangat kejam, Aidan menemukan fakta bahwa hal tersebut dipicu oleh kejadian di Kitab Wahyu yang menyebutkan empat penunggang kuda penyebab kiamat yaitu Perang, Kekeringan, Penyakit dan Maut. Berpacu dengan waktu, Aidan berusaha memecahkan kasus tersebut dengan segala petunjuk yang ada termasuk dari Kristin, anak dari salah satu korban pembunuhan yang misterius.

Gambar:
Beberapa gambar kekerasan hasil penyiksaan ditampilkan cukup eksplisit sehingga terasa memilukan. Kontras dengan pencahayaan gelap sepanjang film.

Act:
Aktor kawakan berusia 55 tahun ini pertama kali bermain layar lebar dalam I Never Promised You a Rose Garden (1977). Kali ini Dennis Quaid berperan sebagai Aidan Breslin, seorang detektif yang dituntut mendahulukan profesinya sehingga mengabaikan keluarganya sendiri.
Mengawali debutnya dalam The Road Home (1999), Zhang Ziyi disini bermain sebagai Kristin, gadis anak korban pembunuhan yang merupakan salah satu kunci pembunuhan berantai tersebut.
Dikenal setelah bermain dalam Thumbsucker (2005), Lou Taylor Pucci sebagai Alex, anak Aidan yang beranjak dewasa.
Clifton Collins Jr. sebagai Stingray, rekan kerja Aidan.

Sutradara:
Nama Jonas Akerlund lebih banyak terlibat sebagai sutradara video klip artis-artis terkenal yakni Metallica, Blink 182, Madonna dsb. Horsemen merupakan film layar lebar kelima yang digarapnya.

Komentar:
Salah satu film yang setia dengan konsep kucing tikus pembunuhan berantai yang misterius, mengingatkan pada Silence Of The Lambs, Se7en atau bahkan Saw. Diawali dengan sangat menjanjikan tetapi berangsur menjadi antiklimaks hingga endingnya. Hal tersebut sedikit banyak disebabkan kinerja sutradara Akerlund yang kurang berhasil. Dari jajaran cast, Quaid seperti biasa tampil memikat dengan emosi dan penjiwaan yang konsisten dalam perannya sebagai detektif dan seorang ayah, sedangkan yang lainnya hanya standar saja termasuk Zhang yang tampaknya sedikit kesulitan berbahasa Inggris. Kepingan cerita yang terangkai untuk sebuah twist pada endingnya sebenarnya cukup baik, hanya saja tidak didukung oleh dialog yang pintar sehingga paruh akhir film mungkin saja sudah bisa diduga oleh sebagian besar penonton. Beberapa yang religius, mungkin menganggap plot ceritanya konyol. Namun bagi saya, terlepas dari segala kekurangannya, Horsemen tetaplah sebuah tontonan menarik.

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
$1,017,401 in March 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 25 September 2009

KETIKA CINTA BERTASBIH 2 : Proses Agamais Pencarian Jodoh dan Jati Diri

Cerita:
Kembalinya Azzam di tanah air setelah menyelesaikan kuliahnya disambut meriah karena berduaan dengan artis Eliana yang juga anak Kedubes Mesir. Sebagai sarjana lulusan universitas Al-Azhar, Azzam menanggung beban tersendiri yakni mencari nafkah sekaligus calon istri yang sesuai kriteria. Awalnya Azzam mencoba bisnis jasa antar paket lalu kembali ke makanan. Sementara itu ibu dan adik-adiknya juga sibuk mencarikan gadis terbaik untuk Azzam. Bagaimana pula dengan kelanjutan hubungan Anna dan Furqon yang dirundung bimbang?

Gambar:
Tidak seperti bagian pertamanya yang banyak menyorot keindahan Mesir, episode lanjutan ini bersettingkan suasana lokal di Jakarta, Yogyakarta, Magelang, Solo, dan Kudus.

Act:
Konsistensi kelima artis baru tersebut cukup lumayan untuk membintangi dua episode layar lebar. Dibantu dengan kemunculan beberapa aktor-aktris senior yang cukup dominan berhasil menyemarakkan jajaran cast.
Kholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam
Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunisa
Alice Sofie Norin sebagai Eliana Pramesti
Andri Arsyil sebagai Furqon
Meyda Sefira sebagai Ayatul Husna
Rahmi Nurulina sebagai Lia
Deddy Mizwar sebagai Kiai Lutfi
Niniek L Karim sebagai Ibu Azzam
Didukung pula oleh dua tokoh baru yaitu Dude Herlino dan Asmirandah.

Sutradara:
Kembalinya Chaerul Umam setelah absen 12 tahun dari perfilman nasional dimana karya terakhirnya adalah Fatahillah. Salah satu sutradara senior bertangan dingin ini dituntut bisa menerjemahkan novel best seller Habiburrahman El Shirazy dan mampu dijawabnya dengan baik.

Komentar:
Bagian pertama yang memfokuskan pada karakterisasi tokoh-tokoh utamanya ternyata jauh lebih menarik daripada pembahasan sekaligus penyelesaian konflik antar tokoh-tokohnya pada bagian kedua ini. Mengapa? Penyajiannya cenderung datar dikarenakan dramatisasinya tidak berhasil dibangun dengan baik. Alhasil plot cerita pun menjadi mudah ditebak, terutama bagi mereka yang sudah membaca bukunya. Beberapa hal yang seharusnya bisa menimbulkan unsur kejutan, tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Klimaksnya pun terkesan biasa saja. Secara keseluruhan jika memandang KCB sebagai mega film hanyalah sebuah drama yang sedap dipandang, mudah diikuti dan cukup bermakna bagi kaum tertentu, tidak ada yang spesial kalau mau dikatakan kelasnya hanya sedikit di atas sinetron ataupun film televisi. Sangat disayangkan!

Durasi:
130 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 24 September 2009

MAX MANUS : Perjalanan Hidup Ahli Sabotase Norwegia Kontra NAZI

Quotes:
Colonel J.S. Wilson-Why do you want to be a saboteur, Max?
Max Manus-My country was stolen from me, Sir... and I want it back.

Cerita:
Setelah memerangi komunis di Finlandia, Max Manus kembali ke Norwegia, yang sedang dikuasai kaum NAZI. Max bergabung dengan gerakan pertahanan Norwegia dengan menerbitkan surat kabar tetapi berakhir dengan ditangkapnya dia oleh tentara Jerman. Dengan bantuan seorang suster, Max berhasil kabur ke Skotlandia dan dilatih sebagai ahli sabotase. Dengan kemampuan barunya itu, Max bersama Gram dan yang lainnya secara gemilang berhasil menghancurkan kapal persediaan Jerman. Kontan ia menjadi buruan spesial bagi Komandan Siegfried Wolfgang Fehmer. Bagaimana kemelut tersebut dapat diakhiri dengan damai?

Gambar:
Sebagian besar bersetting di Norwegia dan Skotlandia termasuk Ardkinglas House dan Inveraray di Argyll and Bute, Skotlandia. Adegan sabotase pun terlihat nyata dan gerakan NAZI Jerman seakan benar-benar terjadi.

Act:
Meraih Best Actor Amanda Award 2009 untuk film ini, Aksel Hennie yang asli Norwegia memang bermain cemerlang sebagai Max Manus yang gagah berani sekaligus bernyawa sembilan.
Agnes Kittelsen sebagai Ida Nikoline 'Tikken' Lindebrække.
Nicolai Cleve Broch sebagai Gregers Gram.
Ken Duken sebagai Siegfried Fehmer.
Christian Rubeck sebagai Kolbein Lauring.
Knut Joner sebagai Gunnar Sønsteby.
Mats Eldøen sebagai Edvard Tallaksen (as Mads Eldøen).

Sutradara:
Joachim Rønning dan Espen Sandberg pernah menyutradarai Bandidas (2006) yang dibintangi Salma Hayek dan Penelope Cruz kali ini berusaha mengetengahkan film sejarah Norwegia pada jaman penjajahan Jerman.

Komentar:
Salah satu dari sedikit film perang yang menarik untuk disimak. Biasanya film sejenis seringkali dirusak oleh fokus yang terlalu banyak pada adegan aksi ataupun dramatisasi karakter yang terlalu berlebihan, tetapi Max Manus mampu menyeimbangkan kedua sisi tersebut dengan sangat baik. Bercerita tentang kejadian sesungguhnya pada tahun 1940-1945 di Norwegia, film ini berhasil memberikan gambaran nyata yang sangat realistis. Adegan sabotase kapal pada malam hari juga memancing ketegangan dengan baik. Semua cast nya bermain gemilang terutama Aksel yang sukses membangun simpati dan memancing emosi para penontonnya. Salah satu film bagus yang berasal dari negara yang tidak dikenal sebagai pembuat film, teks Inggris sangat membantu anda memahami jalan cerita secara keseluruhan. Jika tidak, tentunya akan sangat asing di telinga. Tontonlah di Blitz Megaplex jika punya uang lebih, walaupun banyak dipangkas dari versi aslinya yang berdurasi 2 jam!

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
$1,800,000 in Dec 2008 (opening week in Norway).

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Art can't be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!