XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label chaerul umam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chaerul umam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

CINTA SUCI ZAHRANA : Proses Pemenuhan Kodrat Wanita Sesungguhnya

Quotes:
Zahrana: Rana ikhlas menuruti kemauan bapak tapi tidak dengan mengorbankan hati nurani.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh SinemArt Pictures ini gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 7 Agustus 2012.

Cast:
Meyda Sefira sebagai Zahrana
Miller Khan sebagai Hasan
Kholidi Asadil Alam sebagai Rachmad
Amoroso Katamsi sebagai Pak Munajat
Nena Rosier sebagai Ibu Munajat
El Manik sebagai KH Amir Shadiq
Rahman Yacob sebagai Sukarman


Director:
Merupakan film ke-24 bagi Chaerul Umam setelah dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (2009).

W For Words:
Masih ingat dengan dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (2009) yang fenomenal menurut raihan jumlah penonton dan strategi promosi yang menghebohkan itu? Diam-diam sang sutradara senior, Chaerul Umam menyiapkan drama religi terbaru yang lagi-lagi diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama milik Habiburahman El-Shirazy. Perbedaan mendasar hanyalah ada pada tokoh utama, dari pria menjadi wanita. Sedangkan konflik utamanya masih sama yaitu seputar pencarian jodoh terbaik dari sudut pandang seorang muslim/muslimah berpendidikan tinggi.

Beragam penghargaan atas kecerdasan Siti Zahrana tak lantas membuat kedua orangtuanya bangga. Masalah utama adalah ia masih melajang di usia 34 tahun sedangkan ayahnya Pak Munajat didiagnosa tak akan berumur panjang karena penyakit jantung yang dideritanya. Rana bahkan sempat mempertimbangkan lamaran dekannya sendiri, Sukarman yang mata keranjang tapi memilih mundur dan berkarya di sebuah pondok pesantren kecil. Kedatangan Hasan yang meminta bimbingan skripsi dan Rachman yang dijodohkan oleh Pak Kyai membuat Rana harus memutuskan pria mana yang dipilih hatinya.


Tak sulit menebak alur cerita hasil transkripsi almarhum Misbach Yusa Biran ini. Introduksi terhadap tokoh Zahrana dimulai dari penggambaran prestasi dan dedikasinya di bidang pendidikan sebelum bergeser ke lingkungan keluarga dan teman-temannya. Proses pencarian jodoh pun bertahap mulai dari yang terburuk hingga terbaik. "Save the best for last" mungkin kalimat yang tepat untuk menjabarkannya. Tentu anda semua (diasumsikan) akan memihak Zahrana sejak menit pertama bergulir walau harus memaafkan dialog-dialog klise nan polos dari mulutnya.

Meyda Sefira yang mengenakan jilbab sepintas mengingatkan saya pada sosok Paramitha Rusady. Akting dominannya di sepanjang film dapat dikatakan memenuhi standar. Keteguhannya memegang prinsip dan menjunjung tinggi ajaran Islami patut diacungi jempol lewat tutur kata lembut yang ditunjang perangai soleh. Sayangnya Miller dan Kholidi tak cukup mendapatkan "frame" untuk benar-benar beradu akting dengannya. Penokohan Rachman sebagai antagonis memang disengaja walau terkadang tingkah laku "negatif"nya terasa berlebihan.

Cinta Suci Zahrana adalah perjalanan hidup seorang muslimah yang tabah menghadapi cobaan demi mendapatkan cinta terbaik yang diridhoi Allah. Prosesnya memang belum sempurna karena masih mengikuti pakem FTV atau sinetron yang marak menghiasi layar kaca menjelang Lebaran. Meski demikian, anda mungkin dapat mengapresiasinya dengan toleransi disana-sini karena itikad baik sebagai hiburan dan pembelajaran tradisional dimana kodrat wanita sesungguhnya di mata masyarakat adalah menikah dan berumah tangga, bukan berprestasi dan berkarir setinggi-tingginya.


Durasi:
108 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 25 September 2009

KETIKA CINTA BERTASBIH 2 : Proses Agamais Pencarian Jodoh dan Jati Diri

Cerita:
Kembalinya Azzam di tanah air setelah menyelesaikan kuliahnya disambut meriah karena berduaan dengan artis Eliana yang juga anak Kedubes Mesir. Sebagai sarjana lulusan universitas Al-Azhar, Azzam menanggung beban tersendiri yakni mencari nafkah sekaligus calon istri yang sesuai kriteria. Awalnya Azzam mencoba bisnis jasa antar paket lalu kembali ke makanan. Sementara itu ibu dan adik-adiknya juga sibuk mencarikan gadis terbaik untuk Azzam. Bagaimana pula dengan kelanjutan hubungan Anna dan Furqon yang dirundung bimbang?

Gambar:
Tidak seperti bagian pertamanya yang banyak menyorot keindahan Mesir, episode lanjutan ini bersettingkan suasana lokal di Jakarta, Yogyakarta, Magelang, Solo, dan Kudus.

Act:
Konsistensi kelima artis baru tersebut cukup lumayan untuk membintangi dua episode layar lebar. Dibantu dengan kemunculan beberapa aktor-aktris senior yang cukup dominan berhasil menyemarakkan jajaran cast.
Kholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam
Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunisa
Alice Sofie Norin sebagai Eliana Pramesti
Andri Arsyil sebagai Furqon
Meyda Sefira sebagai Ayatul Husna
Rahmi Nurulina sebagai Lia
Deddy Mizwar sebagai Kiai Lutfi
Niniek L Karim sebagai Ibu Azzam
Didukung pula oleh dua tokoh baru yaitu Dude Herlino dan Asmirandah.

Sutradara:
Kembalinya Chaerul Umam setelah absen 12 tahun dari perfilman nasional dimana karya terakhirnya adalah Fatahillah. Salah satu sutradara senior bertangan dingin ini dituntut bisa menerjemahkan novel best seller Habiburrahman El Shirazy dan mampu dijawabnya dengan baik.

Komentar:
Bagian pertama yang memfokuskan pada karakterisasi tokoh-tokoh utamanya ternyata jauh lebih menarik daripada pembahasan sekaligus penyelesaian konflik antar tokoh-tokohnya pada bagian kedua ini. Mengapa? Penyajiannya cenderung datar dikarenakan dramatisasinya tidak berhasil dibangun dengan baik. Alhasil plot cerita pun menjadi mudah ditebak, terutama bagi mereka yang sudah membaca bukunya. Beberapa hal yang seharusnya bisa menimbulkan unsur kejutan, tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Klimaksnya pun terkesan biasa saja. Secara keseluruhan jika memandang KCB sebagai mega film hanyalah sebuah drama yang sedap dipandang, mudah diikuti dan cukup bermakna bagi kaum tertentu, tidak ada yang spesial kalau mau dikatakan kelasnya hanya sedikit di atas sinetron ataupun film televisi. Sangat disayangkan!

Durasi:
130 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 14 Juni 2009

KETIKA CINTA BERTASBIH : Roman Religius Mahasiswa Indonesia Di Kairo

Judul Inggris:
WHEN LOVE IS EXTOLLED

Cerita:
Memasuki tahun kesembilan kuliahnya di Al Azhar, Khairul Azzam mulai mempertanyakan hidupnya sendiri. Ingin mencari istri tapi tidak percaya diri bisa melakukannya karena ia hanya berdagang tempe di Kairo untuk menyambung hidup sekaligus membantu ibu dan adik-adiknya di Indonesia. Berkawan dengan anak dubes, Eliana yang juga seorang artis tidak membuatnya nyaman. Sebaliknya saat berjumpa pertama kali di sebuah bis dengan Anna Althafunisa, hatinya berdegup kencang. Sayangnya Anna yang sebenarnya memiliki perasaan yang sama sudah dijodohkan dengan Furqon yang notabene teman Khairul sendiri. Bagaimana asal mula percintaan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Kairo ini dibabarkan? Temukan sendiri dalam bagian pertama Ketika Cinta Bertasbih.

Gambar:
Bersetting secara penuh di kota Kairo sehingga keindahan Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, Kota Alexandria dengan pemandangan laut Mediterania yang indah, Benteng Qait Bay, dan lain-lain bisa dinikmati oleh mata.

Act:
Semuanya tampil menarik walaupun tergolong artis-artis baru, mereka berlima lahir dari hasil audisi massal di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu yang lalu!
Kholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam
Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunisa
Alice Sofie Norin sebagai Eliana Pramesti
Meyda Sefira sebagai Ayatul Husna
Andri Arsyil sebagai Furqon

Sutradara:
Kembalinya Chaerul Umam setelah absen 12 tahun dari perfilman nasional dimana karya terakhirnya adalah Fatahillah. Salah satu sutradara senior bertangan dingin ini dituntut bisa menerjemahkan novel best seller Habiburrahman El Shirazy dan mampu dijawabnya dengan baik.

Komentar:
Walaupun terkesan melebar kemana-mana, penokohan beberapa karakter utama cukup menarik. Yang disayangkan perpindahan scene terkadang tidak mulus. Dari segi alur cerita terkesan sedikit terinspirasi dari apa yang telah dilakukan Ayat-Ayat Cinta walau dramatisasinya cenderung lebih natural. Sinematografinya paling menjanjikan karena menampilkan gambar-gambar indah yang sedap dipandang mata. Dikarenakan terlalu setia dengan ikhtisar novelnya, film ini terpaksa "dibagi" 2, mudah-mudahan tidak menyurutkan niat penonton untuk menyaksikannya secara utuh. Kita tunggu saja sekuelnya!

Soundtrack:
Lagu yang sebetulnya indah, Ketika Cinta Bertasbih oleh Melly Goeslaw feat Amee gubahan Anto Hoed ini terasa over-the-top dan terkadang dipaksakan muncul mengisi scenenya walau tidak pas. Semoga ke depannya ada perbaikan lagi.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!