Quotes:
Duke-[after crashing into cars while running in the accelerator suits] Okay, that was crazy... What happened to you?
Ripcord-I went through the train. What happened to you?
Duke-I jumped over it.
Ripcord-[pause] You can do that?
Duke-I told you to read that manual.
Ripcord-There's a manual?
Cerita:
Ahli senjata James McCullen berhasil menciptakan nanoteknologi yang dipercaya mampu menghancurkan seluruh kota tanpa sisa. Adalah Duke dan Ripcord yang diselamatkan oleh Scarlett, Snake Eyes dan Heavy Duty saat bertugas untuk kemudian direkrut Jenderal Hawk untuk menjadi anggota pasukan G.I. Joe yang berpusat di Afrika Selatan. Setelah berlatih keras dan mempersiapkan strategi jitu, pasukan elit tersebut harus menghadapi McCullen yang rupanya mendapat bantuan Doctor dalam menciptakan armada tentara yang kebal dan tidak kenal rasa takut. Berhasilkah G.I. Joe terlebih setelah Duke mengetahui bahwa mantan kekasihnya Ana telah berubah sifat 180 derajat?
Gambar:
Sebagian besar berlokasi syuting di California dan Republik Ceko termasuk adegan utama di Paris yang menggunakan replikanya. Aksi seru yang ditampilkan hampir sepanjang film membuat scene bergerak cepat dan kerapkali sulit tertangkap mata.
Act:
Hampir seluruh jajaran castnya memiliki nama di kancah perfilman Hollywood.
Dennis Quaid sebagai Jenderal Hawk.
Channing Tatum sebagai Duke.
Sienna Miller sebagai Ana.
Marlon Wayans sebagai Ripcord.
Ray Park sebagai Snake Eyes.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Rex.
Rachel Nichols sebagai Scarlett.
Jonathan Pryce sebagai Presiden AS.
Jangan lupakan aktor papan atas Lee Byung Hun yang memulai debut internasionalnya dengan meyakinkan sebagai Storm Shadow.
Sutradara:
Belum banyak film yang dihasilkan Stephen Sommers. Namun yang paling melecutkan namanya tentu saja The Mummy (1999) dan sekuelnya The Mummy Returns (2001). Sejak saat itu ia mulai dipercaya menangani film-film berbujet besar dan potensial box-office.
Komentar:
Teringat saat usia terbilang belia menyaksikan kartun G.I. Joe di televisi hampir 15 tahun silam membuat ekspektasi tinggi kala mendengar film layar lebarnya akan diproduksi. Hari ini saya menontonnya dan satu hal yang paling merasuk dalam pikiran saya adalah adegan kejar-kejaran di Paris saat G.I. Joe berusaha menghentikan Baroness dan Storm Shadow untuk menghancurkan Menara Eiffel dengan nanoteknologi! Adegan hampir 30 menit tersebut sangat spektakuler dan membuat penonton menghela nafas kagum. Selebihnya? Ini hanyalah manifestasi CGI yang sudah berulang-ulang-ulang kembali disuntikkan pada film aksi Hollywood liburan musim panas berbujet ratusan juta dollar dengan mengabaikan kecerdasan plot cerita dan hanya terlihat cool dari luarnya saja. Terlalu dangkal dan mudah ditebak dengan akting yang standar dan dialog yang juga biasa. Untungnya hampir semua penonton masih bisa dipuaskan karena harus diakui sebagai film aksi, Rise Of The Cobra memiliki banyak unsur yang bisa dijual. Saya menganggap ini masih sedikit lebih baik dibandingkan sekuel Transformers. Namun yang paling diharapkan adalah peningkatan kualitas di berbagai sisi jika memang muncul sekuelnya di masa mendatang. Kita tunggu saja!
Durasi:
110 menit
U.S. Box Office:
$54,713,046 in opening week Aug 2009
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:
In A City Of Violence, One Man Will Stand Up And Fight
Cerita:
Merantau adalah salah satu tradisi di Minangkabau yang harus dijalankan setiap pemuda yang beranjak dewasa termasuk Yuda yang harus meninggalkan ibunya Wulan dan kakaknya Yayan untuk pergi ke Jakarta. Sejak awal kedatangannya, Yuda seringkali dipaksa menggunakan jurus pencak silatnya termasuk saat menolong kakak beradik Astri dan Adit dari kerasnya kehidupan kota besar. Perkara tersebut membesar dan melibatkan dua bule Ratger dan Luc beserta konco-konconya dan seorang mucikari bernama Johnny. Berhasilkah pelarian mereka di sepanjang jalan ibukota dan juga pertempuran seorang diri Yuda melawan kawanan penjahat itu?
Gambar:
Prolog film yang bersetting langsung di Minangkabau yang tenteram dan berpindah ke semrawutnya Jakarta dari pertengahan sampai akhir cukup memperhatikan detail dengan baik sehingga setiap scene terasa bernyawa.
Act:
Pendatang baru Iko Uwais berakting natural tapi yang patut diacungi jempol adalah aksinya mempertunjukkan jurus harimau dengan sangat lugas tanpa pemeran pengganti sebagai Yuda, pemuda Minangkabau yang berusaha mengadu nasib di Jakarta.
Christine Hakim seperti biasa tampil mengagumkan walau kebagian sedikit scene sebagai Wulan, ibunda Yuda.
Terlepas dari beberapa sahutan spontanitas, Sisca Jessica cukup meyakinkan sebagai Astri, korban persekongkolan bar yang berujung pada kenistaan.
Yusuf Aulia bermain lugas sebagai Adit, adik Astri yang berprofesi sebagai pencopet cilik dan pengamen jalanan demi menabung sepeser demi sepeser uang.
Dua tokoh antagonis bule yakni aktor Denmark, Mads Koudal sebagai Ratger dan aktor Perancis, Laurent Buson sebagai Luc.
Sutradara:
Baru menghasilkan satu karya yaitu Footsteps (2006), Gareth Evans justru terkesan terampil menggarap genre yang belum pernah ada di Indonesia sebelumnya ini dengan sinematografi yang kuat dan penyutradaraan yang gemilang tanpa menjadikan film ini bercitarasa asing tapi tetap mengakar pada Indonesia.
Komentar:
Film laga nasional mungkin bisa dihitung dengan jari apalagi sampai mengangkat cabang beladiri sendiri. Merantau mematahkan semua premis tersebut dengan mengedepankan pencak silat alias silat Harimau! Tiga puluh menit pertama film meski terkesan lambat tapi bisa dimaklumi karena bercerita tentang asal usul Yuda dan budaya Minangkabau. Setelah itu, film mengalir dahsyat dengan full action pertunjukan koreografi beladiri yang sangat mencengangkan antara seorang pria melawan puluhan penjahat. Tidak hanya itu, isu human trafficking ilegal diangkat dengan pas apalagi dengan karakter antagonis yang kuat. Namun film ini bukan tanpa kekurangan seperti beberapa bagian cerita yang terkesan dipermudah, sebagian dialog yang terasa kurang pas, dan terutama ending yang dipaksakan "begitu" tidak biasa selayaknya film sejenis. Secara keseluruhan Merantau tetaplah sebuah film pemacu adrenalin yang pantas diapresiasi dan wajib ditonton tentunya. Beberapa penonton di berbagai bioskop malah bertepuk tangan setelah menyaksikannya. Suatu hal yang jarang terjadi bukan?
Durasi:
140 menit
Overall:
8 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Henry Durand-You? You have a boyfriend?
Martha Durand-A boyfriend? No... hell no. I'm not gonna make the same mistake I made with your father.
Henry Durand-Okay, good.
Martha Durand-I have several boyfriends.
Emily Lott-Party hearty, Marty.
Cerita:
Agen muda FBI, Henry pulang ke rumah setelah tiga tahun lamanya. Sesampainya disana alangkah kaget melihat ibunya, Marty yang berhasil menurunkan bobot lebih dari 50 kg dan berkencan dengan beberapa pria sekaligus! Tetapi semua tidak menyurutkan rasa hormatnya pada sang ibu terlebih saat tunangannya, Emily yang juga seorang profiler FBI diterima dengan baik oleh Marty. Kegembiraan mereka bertiga berubah saat bertemu dengan pria Latin misterius bernama Tommy. Dalam sekejap Tommy dan Marty menjadi dekat. Belakangan Henry mengetahui bahwa Tommy adalah orang yang dicari-cari FBI karena berprofesi sebagai pencuri barang seni internasional. Cinta, kesetiaan dan kekuatan hukum pun berkolaborasi pada satu ujung tak terduga.
Gambar:
Sepintas mirip film televisi biasa dimana kamera bergerak teratur dari satu scene ke scene yang lain dengan beberapa variasi perpindahannya. Sebagian besar bersetting di Louisiana.
Act:
Antonio Banderas mengawali karirnya sebagai Antonio Juan dalam PestaƱas postizas (1982). Setelah puluhan judul, kali ini ia berperan sebagai pria romantis misterius yang juga pencuri benda seni internasional, Tommy Lucero.
Rasanya tidak perlu memperkenalkan aktris yang bermain film pertama kali dalam Rich and Famous (1981) ini. Meg Ryan pernah menjadi Hollywood's sweetheart dan disini ia masih memperlihatkan daya tariknya di usia yang sudah tidak muda lagi sebagai Marty Durand.
Didukung oleh putra Tom Hanks, Colin Hanks sebagai Henry Durand dan Selma Blair dari dwilogi Hellboy sebagai Emily Lott.
Sutradara:
Sama sekali belum dikenal khalayak, George Gallo memulai debutnya dalam Local Color (2006). Beruntung dalam My Mom's New Boyfriend ini, ia didukung empat aktor-aktris yang sudah dikenal pecinta film Hollywood.
Komentar:
Sebenarnya film yang teramat sangat standar kalau tidak mau dikatakan format televisi atau direct to DVD! Dari segi cerita meski menarik tapi tidak menawarkan sesuatu yang baru. My Mom's New Boyfriend adalah sebuah komedi romantis sebagaimana umumnya, dimana saya masih bisa menikmatinya walaupun tidak ada kesan yang dalam yang mungkin tertinggal selepas menyaksikannya. Ryan, Banderas, Hanks, Blair bermain cukup memikat sesuai porsinya dan mereka tidak perlu terlalu berusaha keras menjiwai perannya masing-masing. In the bottom of the line, this is a suitable romantic comedy, only for those who miss (queen of the genre) Meg Ryan on big screen! That's all.
Durasi:
95 menit
Europe Box Office:
In Spain $446,172 till May 2008
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Jake Pearson-We're gonna need a bigger potato.
Cerita:
Tom, Bethany dan Hannah adalah tiga anak keluarga Pearson, Stuart dan Nina yang berencana menghabiskan liburan musim panas di Michigan. Bergabung bersama mereka adalah nenek dan paman mereka, Nana dan Nathan beserta anak-anaknya Jake, Art, Lee. Tak ketinggalan Ricky, pacar Bethany yang menyebalkan. Tanpa mereka sadari, hujan meteor turut membawa sebuah armada kecil berisi empat alien masing-masing bernama Sparks, Tazer, Skip dan Razor mendarat di atap rumah peristirahatan tersebut. Dengan tujuan menguasai bumi, keempat alien itu harus menghadapi keluarga Pearson yang mati-matian mempertahankan eksistensi planet mereka.
Gambar:
Persatuan gambar animasi dengan dunia manusia cukup mulus karena tidak terlalu kentara spesial efek yang digunakan film yang sebagian besar syuting di New Zealand ini.
Act:
Semuanya tampil fun sesuai kapasitasnya masing-masing.
Kevin Nealon sebagai Stuart Pearson
Gillian Vigman sebagai Nina Pearson
Carter Jenkins sebagai Tom Pearson
Ashley Boettcher sebagai Hannah Pearson
Ashley Tisdale sebagai Bethany Pearson
Robert Hoffman sebagai Ricky Dillman
Andy Richter sebagai Uncle Nate
Austin Butler sebagai Jake
Doris Roberts sebagai Nana Rose
Henri Young dan Regan Young sebagai kembar Art dan Lee
Voice:
Thomas Haden Church sebagai Tazer
Josh Peck sebagai Sparks
Ashley Peldon sebagai Skip
Kari Wahlgren sebagai Razor
Sutradara:
Belum banyak berkarya terutama menilik debutnya dalam Bandwagon (1996) tidak membuat John Schultz kesulitan menggarap Aliens In The Attic karena hasil akhirnya boleh dibilang rapi dan mampu memadukan banyak unsur sekaligus.
Komentar:
Memang ditujukan untuk segmen anak-anak walau mungkin bisa juga menghibur orang dewasa. Saya sendiri ragu orang dewasa mau menyaksikannya kecuali anak-anak mereka ingin menontonnya. Hm, saya akan coba review film ini dari sisi usia 7-12 tahun. Akting ok, terlihat wajar. Ashley Tisdale, Robert Hoffman dan Doris Roberts banyak bermain "slapstick" sepanjang film, dijamin membuat tertawa ngakak. Ceritanya simpel dan fun. Spesial efeknya menarik. Aksinya cukup seru. Humornya lucu meski agak dangkal dan childish, tapi sekali lagi ini film anak-anak. Yah kesimpulannya, Aliens In The Attic enteng dan mudah untuk dinikmati dengan sedikit sentuhan nilai keluarga. Young kids, go watch it!
Durasi:
85 menit
U.S. Box Office:
$8,008,423 till Aug 2009
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Cerita:
Petugas kamar mayat sebuah rumah sakit bernama Adam kerapkali mempertanyakan jati dirinya dikarenakan masa lalu ayahnya yang kelam. Adam baru merasa hidup saat memandikan dan mendandani mayat-mayat yang akan dikremasi atau dikubur atau bahkan jika tanpa identitas akan diberikan pada fakultas kedokteran sebagai bahan penelitian. Pada suatu ketika, perhatian Adam jatuh pada seorang perempuan tanpa nama yang menunggui ayahnya di rumah sakit dan akhirnya terpaksa melacur demi menebus semua obat. Keduanya mulai menjalin hubungan yang kompleks dimana akhir yang tragis mungkin saja menanti keduanya.
Gambar:
Dengan setting segala sudut rumah sakit dan lokalisasi pelacuran, semua adegan di film ini terasa real dan membumi dengan pencahayaan yang temaram.
Act:
Seperti biasa Tio Pakusadewo tampil maksimal. Kali ini sebagai Adam, petugas kamar mayat, ia terlihat agak "gila" dan terbelakang.
Leony VH masih terlihat sedikit canggung sebagai Hawa apalagi jika dihadapkan dengan Tio. Tetapi peran off mainstream dan gesturenya masih bolehlah mendapat apresiasi tersendiri.
Didukung pula oleh Ray Sahetapy dan Titi Sjuman.
Sutradara:
Pernah menelurkan sejumlah film yang justru tak pernah diputar di bioskop tanah air termasuk Beth tidak membuat Aria Kusumadewa jera. Kali ini Identitas "berhasil" tayang layar lebar dengan mengangkat konflik keseharian yang seringkali luput dari pandangan.
Komentar:
Kesan depresi akan anda tangkap sepanjang durasi film sehingga bisa jadi akan sangat membosankan bagi penonton awam. Kompleksitas hubungan antar dua tokoh utama memang bisa ditangkap dengan baik, terima kasih pada penjiwaan Tio walau banyak hal tak terjelaskan yang sebetulnya sulit dicari korelasinya. Secara keseluruhan boleh dibilang inilah dunia sarkasme rekaan Aria Kusumadewa yang menyoroti masalah politik, hukum sosial ekonomi, kemasyarakatan yang banyak terjadi, lengkap dengan celetukan-celetukan sinis di sana-sini yang akan membuat kita tertawa sambil mengernyitkan kening.
Durasi:
85 menit
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:
Every body has a different taste.
Cerita:
Dalam tugas mencari macan langka di pedalaman Tasmania, empat muda-mudi masing-masing Matt, Nina, Jack, Rebecca mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing dan penduduk setempat yang bersikap aneh. Adalah suatu legenda Pieman yang keluar dari mulut seorang bocah perempuan bernama Katie tentang kanibalisme. Benarkah pembantaian turis asing terjadi disitu demi stok daging mentah sebagai bahan makanan dan juga penghasil keturunan?
Gambar:
Pedalaman Tasmania yang didominasi hutan dan jurang berdasar sungai berhasil menampilkan gambar-gambar alami. Suasana sepi mencekam semakin terasa karena lingkungan masih terlihat asri dan belum terjamah.
Act:
Sebelumnya tampil mendukung Kevin Bacon dalam Death Sentence (2007), Leigh Whannell sebagai Matt.
Pernah membintangi film serupa dalam Wolf Creek (2005), Nathan Phillips kali ini tidak jauh berbeda dalam memerankan Jack yang temperamen dan kasar.
Bagi yang masih ingat film tragedi bom Bali yaitu Long Road To Heaven (2007), Mirrah Foulkes bermain sebagai wartawan disana dan disini kebagian peran Nina.
Film pertama bagi Melanie Vallejo dengan tokoh Rebecca yang tewas pertama kali dari empat sekawan tersebut.
Sutradara:
Film layar lebar ketiga yang disutradarai Jody Dwyer setelah pertama kali, A Whole New You (2004), Dying Breed berhasil terpilih dalam After Dark Horrorfest III : 8 Films To Die For yang banyak mengetengahkan tema serupa.
Komentar:
Storyline ekspedisi pencarian macan Tasmania seakan hanya tempelan belaka, sedikit informasi dan tidak ada eksplorasi sama sekali mengenainya. Yang ada hanyalah formula sama thriller perburuan manusia sejenis yang sudah berulang kali ditampilkan dimana masih setia menampilkan darah, potongan tubuh dan penjagalan hidup-hidup!
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan plot serupa, hanya saja penulisan cerita yang baik dan penokohan yang pas bisa jadi menjadi nilai tambah. Sayangnya Dying Breed tidak menyentuh sampai kesana sehingga hanya menjadi sebuah suspense menegangkan yang sangat membosankan dan mudah ditebak.
Durasi:
90 menit
Australia Box Office:
AUD 525,384 till Nov 2008
Overall:
6 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:A nasty Cop vs an iron fist Godfather. Now his son has to choose between his love or his father.
Storyline:Gembong mafia cekatan Malakian sudah bertahun-tahun mengendalikan dunia bawah Perancis Selatan termasuk pencurian mobil ataupun pencucian uang. Sang ayah, Milo juga menguasai tangan yang mahir menembak ataupun berkelahi dengan apapun juga dan tiba saatnya ia mewariskan semua kejayaannya di tangan putranya, Anton. Sayangnya Anton justru mendambakan hidup tenang pilihannya sendiri termasuk menikahi kekasihnya Elodie yang belum lama dikenalnya itu. Namun Milo tidak menyerah begitu saja dan tetap melibatkan Anton dalam misi-misinya. Akankah titik balik terjadi dalam keluarga tersebut saat Inspektur Saunier mengincar keberadaan mereka dari jauh?Nice-to-know:Diproduksi oleh Alter Films dan Thelma Films.Cast:Aktor senior yang mengawali akting lewat The Hypothesis of the Stolen Painting (1979), Jean Reno bermain sebagai Milo Malakian, kepala keluarga sekaligus kepala gang yang handal.Pernah dipercaya menjadi Hannibal muda dalam Hannibal Rising (2007), Gaspard Ulliel berperan sebagai Anton Malakian yang berusaha memilih jalannya sendiri di luar keluarganya.Vahina Giocante sebagai ElodieSami Bouajila sebagai L'inspecteur SaunierDirector:Film ketujuh bagi Laurent Tuel setelah debutnya dalam CĆ©leste (1991).Comment:Bisa jadi sedikit terinspirasi The Godfather yang legendaris itu. Tidak heran karena diakui publik sebagai salah satu film terbaik dunia yang pernah dibuat bahkan hingga saat ini. Inside Ring yang beraroma Perancis pun menawarkan plot yang tidak jauh berbeda. Ayah mafia yang sangat berpengaruh bertekad menurunkan kejayaan pada anaknya yang mempunyai impian lain sambil menghindari kejaran Inspektur Polisi yang ambisius. Reno, Ulliel, Bouajila bermain decent saja disini sesuai skrip yang disodorkan pada mereka, kehadiran si cantik Giocante pun tidak banyak berpengaruh selain menjadi love interest Ulliel semata. Sutradara Tuel tampaknya setia dengan originalitas dan stereotype serupa tanpa berupaya menambahkan beberapa twist dan turns disana-sini yang mampu membuat penonton lebih excited menyaksikannya. Film berjudul asli Le premier cercle ini pada akhirnya hanya merupakan drama aksi biasa yang cenderung klise, hanya saja bercitarasa Eropa. Harapan anda untuk menyaksikan aksi seru harus dikubur dalam-dalam karena sebaliknya drama bertempo lambat tanpa pendalaman karakter yang disuguhkan disini. Secara keseluruhan lebih merupakan film televisi dengan kualitas sinematografi dan editing yang sedemikian standarnya.Durasi:90 menitEurope Box Office:$2,524 in opening week Estonia Jun 2009.Overall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:
Bruno-Why do you wear pajamas all day?
Shmuel-The soldiers. They took all our clothes away.
Bruno-My dad's a soldier, but not the sort that takes people's clothes away.
Cerita:
Merasa bosan dan tidak nyaman di rumah barunya, Bruno, seorang anak lelaki polos berusia 8 tahun, tidak memperdulikan ayah-ibunya dan memulai suatu petualangan di hutan. Kemudian dia bertemu seorang anak lelaki plontos bernama Shmuel yang berusia sama dengannya. Lambat laun keduanya menjalin persahabatan yang dibatasi oleh kawat listrik. Apakah pada akhirnya Bruno yang anak komandan Jerman mengetahui bahwa Shmuel sesungguhnya adalah tawanan Yahudi ayahnya?
Gambar:
Bersetting di Budapest, Hungaria, film ini bisa dikatakan kaya dengan gambar-gambar alaminya termasuk rumah tahanan dan rumah komandan tentara yang terlihat sangat otentik.
Act:
Asa Butterfield yang sebelumnya tampil dalam Son of Rambow (2007) kali ini bermain mengesankan sebagai Bruno, anak lelaki yang tidak bahagia karena kondisi ayah-ibunya yang saling bertengkar dan kakak perempuan yang berbeda watak dengannya.
Tidak kalah gemilang dalam debut layar lebarnya, Jack Scanlon yang asal Inggris berperan sebagai Shmuel, anak tahanan Yahudi yang terbelenggu dan terbatas ruang geraknya.
Pernah mendukung film Oscar, The Departed (2006), Vera Farmiga juga terampil memerankan Ibu Bruno yang tertekan oleh kekejaman suaminya yang merupakan tentara Jerman sejati.
Sutradara:
Absen 5 tahun setelah menelurkan Hope Springs (2003), Mark Herman merupakan sutradara berbakat yang ada di luar pantauan. Ia sukses membawa film ini memenangkan Audience Choice Award bersama Slumdog Millionaire di ajang Chicago Film Festival 2008.
Komentar:
Diangkat dari novel laris karya John Boyne, The Boy In The Stripped Pyjamas mampu mentransformasikan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar yang mengagumkan. Cast yang kuat terutama Farmiga dan Butterfield berhasil mendukung penonton bersimpati pada mereka. Persahabatan yang terjalin antar dua bocah tersebut terasa natural dan berkembang dengan baik. Dari awal sampai akhir, film ini memang dirancang untuk menggugah sekaligus mengejutkan sehingga mungkin anda akan terpaku lama di bangku selepas endingnya berakhir. Ending dengan seribu arti yang tidak terjelaskan oleh kata-kata..
Durasi:
95 menit
U.S. Box Office:
$9,030,581 till Jan 2009
Overall:
8 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:Beth Cooper-Thank you... for loving me.Denis Cooverman-What's not to love? You remember that. .
Storyline:Saat pidato menutup wisuda SMU, si kutu buku Denis di luar dugaan menyatakan cinta pada kembang sekolah Beth sembari menunjuk teman-temannya yang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kontan semua terkejut, sebagian heran dan sebagian berang termasuk Kevin, mantan kekasih Beth. Bersama Rich, Denis mengundang Beth ke pesta kecil-kecilan di rumahnya. Tak dinyana, Beth datang bersama Cammy dan Treece. Apa yang terjadi setelah itu sungguh mengejutkan dan menggelikan yang mungkin mengubah masa depan Denis memasuki bangku kuliah!Nice-to-know:Penulis novel adaptasi film ini, Larry Doyle mengakui awalnya ia mengembangkan ceritanya untuk sebuah film. Tetapi setelah gagal, ia menerbitkannya sebagai novel. Lucunya novel tersebut menjadi populer dan akhirnya diadaptasi menjadi tontonan layar lebar.Cast:Angkat nama lewat peran Claire Bennet dalam serial ternama Heroes, Hayden Panettiere berperan sebagai Beth Cooper, kembang sekolah yang ceria dan penuh kejutan.Terakhir tampil singkat dalam Inglourious Basterds, Paul Rust bermain sebagai Denis Cooverman, kutubuku pandai yang bernyali besar.Didukung pula oleh Jack Carpenter, Lauren London, Lauren Storm dan Shawn Roberts.Director:Chris Columbus memulai karir penyutradaraannya lewat Adventures in Babysitting (1987). Film ini merupakan film garapan ke-14 nya.Comment:Komedi remaja Hollywood banyak sekali didominasi oleh tema seks semisal keperawanan yang harus dilepaskan pada pesta graduasi seperti yang ditunjukkan American Pie, Road Trip dsb. Memang harus diakui, siapa sih yang tidak ingin melakukan hal-hal gila yang menyenangkan setelah terlepas dari suatu masa. Namun tidak halnya dengan film ini yang murni berkisah tentang cinta terpendam yang seharusnya diucapkan. Plot ceritanya sederhana saja dengan tempelan humor disana-sini yang cukup norak walaupun tidak sampai jatuh menjijikkan. Karakter Panettiere menjadi jualan utama sebagai fantasi remaja pria seumurnya tapi tetap rendah hati, disini ia terlihat manis menarik dan seksi tentunya. Rust meski terlihat tua untuk ukuran anak SMU tapi ekspresi dan tingkah lakunya cukup menyelamatkan aktingnya. Endingnya yang sewajarnya menyelipkan pesan moral mungkin saja mudah ditebak meskipun bisa jadi tidak memuaskan anda. I Love You, Beth Cooper bukanlah film emas yang dapat diingat penonton dalam waktu yang lama, tetapi setidaknya cukup berarti untuk tontonan remaja apalagi yang akan ataupun baru lulus sekolah. Tertawalah selama lebih kurang 100 menit dan renungkan masa yang sudah pernah anda lalui itu.Durasi:100 menitU.S. Box Office:$14,793,904 till Oct 2009.Overall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:
Carl Fredricksen-[Carl, with his house high in the air, opens his door to see who knocked on it. Looking around, he spots Russell and yells... ] Whaa!
Russell-Hi, Mr. Fredricksen! It's me, Russell!
Carl Fredricksen-What are you doing out here, kid?
Russell-I found a snipe, and I followed it under your porch, but this snipe had a long tail, and looked more like a large mouse.
[His flag then blows away in the wind, and he gasps]
Russell-[Turns to Mr. Fredricksen] Please let me in.
Carl Fredricksen-[pause] No.
[He slams the door shut]
Carl Fredricksen-[Russell waits uncertainly for a few seconds. The door opens again] Oh, all right...
[Russell runs inside]
Cerita:
Bocah penyendiri Carl Fredrickson bertemu dengan anak perempuan bersemangat Ellie. Lewat serangkaian kejadian, mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia sambil mempertahankan mimpi untuk pergi ke negeri yang hilang di Amerika Selatan. Sayang sebelum semuanya terwujud, Ellie meninggal. Carl yang berduka bertekad mewujudkan impian istrinya dengan cara apapun juga. Lewat ide brilian menggunakan puluhan ribu balon udara, Carl berhasil menerbangkan rumahnya untuk menuju tujuannya tanpa menyadari bahwa seorang pramuka siaga bernama Russell turut serta dalam perjalanannya. Petualangan apa yang akan mereka temui kemudian?
Gambar:
Animasi Pixar yang berkolaborasi dengan Disney terkenal sangat halus dan indah apalagi ditambah dengan sentuhan 3D yang dijamin memuaskan mata anda!
Voice:
Aktor kawakan berusia 80 tahun, Edward Asner sebagai Carl Fredricksen
Jordan Nagai sebagai Russell
Christopher Plummer sebagai Charles Muntz
Sutradara:
Pernah sukses dengan Monsters, Inc. (2001), Pete Docter kembali setelah 8 tahun menjadi penulis, pengisi suara atau produser dalam beberapa film animasi kondang. Dibantu pula oleh Bob Peterson sebagai asisten sutradara.
Komentar:
Bagian pertama UP boleh dibilang sangat sederhana tetapi menyentuh mengenai kisah cinta sepasang manusia berlainan jenis yang terjalin abadi. Sedangkan bagian kedua lebih menekankan pada petualangan Carl, Russell bersama seekor anjing Dug dan burung langka Kevin yang seru sekaligus lucu. Kombinasi itulah yang menjadi jualan animasi terbaru Disney-Pixar ini yang kerapkali menyuguhkan nilai-nilai kemanusiaan dan pesan moral yang kental. Ya, menyaksikan UP akan membuat anda tertawa sekaligus terharu. Bagaimana sebuah ide simpel bisa dikembangkan menjadi suatu tontonan yang sangat kreatif. Lupakan sejenak beberapa logika dasar yang nonsense dan juga plot cerita yang predictable, film ini tetaplah juara di berbagai aspek lain!
Soundtrack:
"Habanera" from "Carmen" by Georges Bizet
"The Spirit of Adventure" by Craig Copeland
Durasi:
90 menit
U.S. Box Office:
$279,583,282 till mid July 2009
Overall:
8 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!