XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label sienna miller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sienna miller. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2009

G.I. JOE : RISE OF THE COBRA

Quotes:
Duke-[after crashing into cars while running in the accelerator suits] Okay, that was crazy... What happened to you?
Ripcord-I went through the train. What happened to you?
Duke-I jumped over it.
Ripcord-[pause] You can do that?
Duke-I told you to read that manual.
Ripcord-There's a manual?

Cerita:
Ahli senjata James McCullen berhasil menciptakan nanoteknologi yang dipercaya mampu menghancurkan seluruh kota tanpa sisa. Adalah Duke dan Ripcord yang diselamatkan oleh Scarlett, Snake Eyes dan Heavy Duty saat bertugas untuk kemudian direkrut Jenderal Hawk untuk menjadi anggota pasukan G.I. Joe yang berpusat di Afrika Selatan. Setelah berlatih keras dan mempersiapkan strategi jitu, pasukan elit tersebut harus menghadapi McCullen yang rupanya mendapat bantuan Doctor dalam menciptakan armada tentara yang kebal dan tidak kenal rasa takut. Berhasilkah G.I. Joe terlebih setelah Duke mengetahui bahwa mantan kekasihnya Ana telah berubah sifat 180 derajat?

Gambar:
Sebagian besar berlokasi syuting di California dan Republik Ceko termasuk adegan utama di Paris yang menggunakan replikanya. Aksi seru yang ditampilkan hampir sepanjang film membuat scene bergerak cepat dan kerapkali sulit tertangkap mata.

Act:
Hampir seluruh jajaran castnya memiliki nama di kancah perfilman Hollywood.
Dennis Quaid sebagai Jenderal Hawk.
Channing Tatum sebagai Duke.
Sienna Miller sebagai Ana.
Marlon Wayans sebagai Ripcord.
Ray Park sebagai Snake Eyes.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Rex.
Rachel Nichols sebagai Scarlett.
Jonathan Pryce sebagai Presiden AS.
Jangan lupakan aktor papan atas Lee Byung Hun yang memulai debut internasionalnya dengan meyakinkan sebagai Storm Shadow.

Sutradara:
Belum banyak film yang dihasilkan Stephen Sommers. Namun yang paling melecutkan namanya tentu saja The Mummy (1999) dan sekuelnya The Mummy Returns (2001). Sejak saat itu ia mulai dipercaya menangani film-film berbujet besar dan potensial box-office.

Komentar:
Teringat saat usia terbilang belia menyaksikan kartun G.I. Joe di televisi hampir 15 tahun silam membuat ekspektasi tinggi kala mendengar film layar lebarnya akan diproduksi. Hari ini saya menontonnya dan satu hal yang paling merasuk dalam pikiran saya adalah adegan kejar-kejaran di Paris saat G.I. Joe berusaha menghentikan Baroness dan Storm Shadow untuk menghancurkan Menara Eiffel dengan nanoteknologi! Adegan hampir 30 menit tersebut sangat spektakuler dan membuat penonton menghela nafas kagum. Selebihnya? Ini hanyalah manifestasi CGI yang sudah berulang-ulang-ulang kembali disuntikkan pada film aksi Hollywood liburan musim panas berbujet ratusan juta dollar dengan mengabaikan kecerdasan plot cerita dan hanya terlihat cool dari luarnya saja. Terlalu dangkal dan mudah ditebak dengan akting yang standar dan dialog yang juga biasa. Untungnya hampir semua penonton masih bisa dipuaskan karena harus diakui sebagai film aksi, Rise Of The Cobra memiliki banyak unsur yang bisa dijual. Saya menganggap ini masih sedikit lebih baik dibandingkan sekuel Transformers. Namun yang paling diharapkan adalah peningkatan kualitas di berbagai sisi jika memang muncul sekuelnya di masa mendatang. Kita tunggu saja!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$54,713,046 in opening week Aug 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 03 Juni 2009

THE EDGE OF LOVE : Rumitnya Cinta Klasik London

Quotes:
Vera Phillips: You don't even see me, do you? Dylan! All you've got is stories in your head. Words. And I have to feel real. William... makes me real.

Storyline:
Selama Perang Dunia II dimana Angkatan Udara Jerman menyerang London, penulis puisi Inggris yang terkenal asal Wales, Dylan Thomas bertemu kembali dengan Vera Philips, kekasihnya sewaktu remaja. Merekapun berkencan kembali. Sayangnya Dylan ternyata sudah menikah dengan Caitlin. Karena situasi kota yang porak poranda dan merasa senasib sepenanggungan, Vera mengajak Thomas dan Caitlin untuk tinggal bersamanya. Hubungan mereka sangat unik sekaligus rumit, terlebih ketika Vera mulai menjalin asmara dengan tentara Kerajaan Inggris bernama William.

Nice-to-know:
Penulis skrip film ini merupakan ibu kandung dari Keira Knightley.

Cast:
Rasanya baru kemarin melihatnya berperan sebagai Cecilia Tallis dalam Atonement (2007), Keira Knightley disini kebagian tokoh Vera Philips.
Sebelumnya mengisi suara dalam The Little Fox 2 (2008), Sienna Miller kembali sebagai Caitlin Thomas
Matthew Rhys sebagai Dylan Thomas
Cillian Murphy sebagai William Killick

Director:
Kerjasama kedua dengan Keira Knightley setelah The Jacket (2007) yang juga dibintangi Adrien Brody, John Maybury maju dengan film yang mengangkat kisah penulis puisi Inggris, Dylan Thomas ini.

Comment:
Sama-sama bernuansakan Inggris berpuluh-puluh tahun lalu, film ini otomatis mengingatkan anda pada Atonement, apalagi dibintangi oleh aktris yang sama yaitu Keira Knightley yang sama-sama bertemakan puisi dan perang. Dan Keira sekali lagi mempertontonkan bakat aktingnya yang lugas, belum lagi dilengkapi dengan kemampuannya menyanyikan dua-tiga lagu di beberapa scene yang cukup memikat hasil belajar vocal secara singkat dengan Claire Underwood. Sienna pun demikian baiknya memperlihatkan emosi sebagai istri sekaligus sahabat yang merasa dikhianati. Trauma paska perang juga dipotretkan dengan baik oleh Cillian serta Matthew yang terampil membawakan karakter penulis yang egois sekaligus pemabuk.
Setting London jaman dahulu divisualisasikan dengan brilian oleh sutradara Maybury yang seakan membagi sinematografi menjadi dua bagian. Bagian pertama film digambarkan sebagai dunia fantasi yang menjual mimpi-mimpi dimana bar yang berasap dengan pencahayaan lemah menjadi latar belakangnya. Bagian kedua film sebaliknya kental dengan dunia nyata dimana keganasan perang sekaligus kegetiran hidup menjadi permasalahan utama yang ingin disampaikan.
Seperti halnya asmara itu sendiri selalu dimulai dengan hal-hal indah dan seringkali berakhir dengan janji-janji yang terlupakan. The Edge Of Love sebetulnya bukan drama yang buruk, hanya saja membosankan karena lebih memilih berjalan dalam suasana moody daripada mempertahankan daya tarik itu sendiri lewat jalinan cerita yang nyaris tidak eksis dan teramat sangat lambat. Daripada mengeksplorasi karakter Dylan Thomas yang seharusnya dilakukan, penulis Sharman Macdonald nampaknya lebih memilih berfokus pada tokoh Caitlin dan Vera dalam menyikapi rasa cinta masing-masing.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$18,089 till end of March 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent