XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rachel weisz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rachel weisz. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Agustus 2012

THE BOURNE LEGACY : Bourne Experiences With Aaron Cross

Tagline:
There Was Never Just One.

Nice-to-know:
Sebelum kemunculan film ini dipertimbangkan, sutradara Paul Greengrass berkelakar bahwa film Bourne keempat seharusnya berjudul "The Bourne Redundancy".

Cast:
Jeremy Renner sebagai Aaron Cross
Rachel Weisz sebagai Dr. Marta Shearing
Scott Glenn sebagai Ezra Kramer
Stacy Keach sebagai Retired Adm. Mark Turso, USN
Edward Norton sebagai Retired Col. Eric Byer, USAF
Donna Murphy sebagai Dita Mandy

Director:
Merupakan film ketiga bagi Tony Gilroy setelah Duplicity (2009).

W For Words:
Keputusan Universal Pictures untuk meneruskan franchise Bourne bisa jadi didasari oleh uang. Bagaimana tidak? Ketiga serinya yaitu The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007) telah menghasilkan lebih dari 500 juta dollar untuk peredaran di Amerika Serikat saja, belum internasional. Namun para fans menjadi skeptis begitu mengetahui fakta bahwa Paul Greengrass dan Matt Damon yang sedianya terlibat dalam proyek ini ternyata menarik diri. Lantas apa yang tersisa?

Aksi Jason Bourne terhadap Operasi Blackbriar membuat CIA yang dipimpin pensiunan Kolonel Eric Byer menutup semua program operasi hitam termasuk Treadstone. Untuk itu semua agen dan staf pendukung harus dibinasakan oleh virus yang terkandung dalam pil baru. Adalah Aaron Cross yang tengah bertugas di lapangan berhasil lolos dari maut. Demi kelangsungan hidup yang didapat dari pil hijau dan biru, ia terpaksa menyelamatkan ahli kimia, Dr. Marta Shearingz dan bersama-sama melarikan diri ke Manila.














Tony dan Dan Gilroy yang menulis skripnya masih berupaya mengambil referensi dari kreator Bourne asli yakni Robert Ludlum. Itulah sebabnya wajah dan aksi Jason Bourne, Pamela Landy dan Dr. Albert Hirsch masih dihadirkan sekilas sebagai konektivitas. Namun setting utama plot tetap ada pada proses pengejaran tokoh-tokoh utamanya, baik hidup atau mati. Tambahan berbagai subplot pendukung yang sedikit rumit tapi terbilang mudah dicerna ini tampak berusaha memperkuat bangunan cerita yang penuh karakter lalu lalang.

Jeremy Renner mungkin tak dapat menyaingi karisma Matt Damon tapi ia sama tangkasnya dalam beraksi, menghindari bahaya atau melumpuhkan musuh dengan efisien demi memuaskan penonton. Rachel Weisz juga tampil meyakinkan sebagai heroine yang pandai menyembunyikan emosi dalam menjalankan misinya. Sayang aktor sekelas Edward Norton "cuma" kebagian akting berbicara memberikan instruksi sambil duduk atau berdiri untuk peran antagonis sekuat ini.

Sutradara Gilroy berhasil menjaga tempo film, kapan harus cepat, kapan harus melambat lewat serentetan aksi "nyata" minim CGI ala blockbuster Hollywood. Durasi 135 menit tak akan terlalu dirasakan mengingat setiap adegannya memiliki arti. Bagaimana Aaron Cross bertarung tangan kosong secara keras atau mengendarai motor secara brutal akan membuat anda menahan nafas. Pemanfaatan beberapa lokasi variatif juga memberikan nilai tambah sendiri, termasuk adegan pembuka yang memperlihatkan lanskap pegunungan bersalju.

The Bourne Legacy memang tak dapat dibandingkan dengan trilogy Jason Bourne sebelumnya meski masih melibatkan konspirasi Pemerintahan yang kompleks. 30 menit terakhir yang penuh energi dijamin akan memacu adrenalin anda terlepas dari logika yang sedikit terabaikan mengenai apa yang sesungguhnya tengah terjadi. Installment baru ini sukses membangun animo untuk kelanjutan serinya yang pantas ditunggu. Mungkinkah suatu saat Aaron Cross akan berhadapan langsung dengan Jason Bourne? One thing for sure, Renner looks tougher and he's going rogue in a very good way.

Durasi:
135 menit

U.S. Box Office:
$69,618,465 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 03 Februari 2012

DREAM HOUSE : Misteri Pembunuhan Rumah Sempurna


Tagline:
Once upon a time, there were two little girls who lived in a house.

Nice-to-know:
Selama syuting film ini, Daniel Craig dan Rachel Weisz saling jatuh cinta dan mulai berkencan. Beberapa bulan kemudian, mereka menikah dalam sebuah upacara rahasia.

Cast:
Daniel Craig sebagai Will Atenton
Naomi Watts sebagai Ann Patterson
Rachel Weisz sebagai Libby
Elias Koteas sebagai Boyce
Marton Csokas sebagai Jack Patterson

Director:
Merupakan film kedelapan bagi Jim Sheridan yang meraih nominasi Oscar pertamanya lewat film debut My Left Foot: The Story of Christy Brown (1989).

W for Words:
Ada dua hal yang bisa menjadi unsur “turn-offs” bagi film ini. Pertama adalah setting rumah megah yang menyimpan berjuta cerita di dalamnya yang melingkupi tokoh sentral, biasanya filmmakers mempunyai dua alternatif untuk plot serupa apakah akan dibawa horor atau thriller. Kedua ialah trailer yang biasanya menjadi media promosi sebuah film justru berbalik menjadi boomerang saat semua kejutan dalam film diungkapkan bulat-bulat!
Will Atenton membawa istrinya Libby dan kedua putri kecil mereka yaitu Trish dan Dee Dee untuk menempati sebuah rumah baru yang terlihat sempurna. Lambat laun, Will mengetahui fakta bahwa telah terjadi pembunuhan sadis yang menimpa para penghuni sebelumnya. Kasus yang belum terungkap jelas itu akhirnya menyeret Will pada sebuah kenyataan yang memilukan sekaligus mencari fakta bahwa pelaku sesungguhnya masih berkeliaran di luar sana.

Sutradara Sheridan yang memiliki sejarah filmografi yang cukup cemerlang memang terkesan berjudi dalam mengeksekusi skrip karya David Loucka yang seakan gabungan dari berbagai plot sejenis demi menghadirkan sebuah twist after twist yang diharapkan “fresh”. Malangnya, upaya Sheridan untuk “menipu” penonton berpengaruh pada identitas film secara keseluruhan yang terkadang terlalu dipaksakan horror di tengah-tengah jalur thriller yang ditempuhnya.
Beruntung jajaran cast utama yang mendukung film ini memiliki kualitas akting yang tidak perlu diragukan lagi. Terlebih Craig dan Weisz yang berbagi chemistry dengan manis sebagai suami istri yang penuh tanda tanya. Beda halnya dengan Watts atau Boyce yang karakternya kurang dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka seperti “over-qualified” untuk peran-peran tersebut. Kontribusi kakak beradik Taylor dan Claire yang menggemaskan juga tergolong sia-sia dengan kemunculan yang timbul tenggelam.

Dream House memang masih berupaya menyimpan kejutan yang harus diakui tidak akan terlalu mencengangkan anda terlebih bagi para pengamat film beraliran semacam ini. Konstruksi plot cerita yang dilakukan bisa jadi tidak semaksimal yang diharapkan tetapi saya menyukai cara yang dipilih dalam mengakhiri film. Provokatif yang memungkinkan berdiskusi terbuka after movie dengan kesimpulan masing-masing anda di kepala anda. Keputusan produser untuk “menjual” film ini amat tidak bijaksana sehingga mengurangi daya tariknya.

Durasi:
92 menit

U.S. Box Office:
$21,283,440 till Nov 2011.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 14 Desember 2011

THE WHISTLEBLOWER : Mengungkap Pelaku Berpengaruh Human Trafficking

Tagline:
Nothing is more dangerous than the truth.


Storyline:
Polisi Nebraska, Kathryn Bolkovac tiba di Bosnia untuk bekerja di dalam lembaga U.N. khusus pengawasan polisi internasional di Bosnia bertahun-tahun setelah penandatanganan Dayton Agreement. Tak lama kemudian, Kathryn berjumpa gadis 15 tahun bernama Raya yang melarikan diri setelah diperbudak secara seksual dari Ukraina. Ketika Kathryn bertindak, ia menyadari bahwa pihak di balik semua itu ternyata berasal dari rekan-rekannya sendiri serta orang-orang yang memiliki kedudukan dalam U.N. Apakah ia berani bersaksi perbuatan bejat DynCorp tersebut kepada publik?

Nice-to-know:
Rachel Weisz awalnya membaca skrip di tahun 2005 ketika mengandung. Ia mundur dari proyek dikarenakan peran Bolkovac yang cukup keras. Namun produksi tidak pernah berlanjut hingga tahun 2009 sehingga Weisz akhirnya terlibat juga.

Cast:
Terakhir muncul dalam The Lovely Bones (2009), Rachel Weisz didapuk sebagai Kathryn Bolkovac
Sempat mengesankan mendukung Letters to Juliet (2010), aktris gaek Vanessa Redgrave bermain sebagai Madeleine Rees
Monica Bellucci sebagai Laura Leviani
David Strathairn sebagai Peter Ward
Nikolaj Lie Kaas sebagai Jan Van Der Velde

Director:
Merupakan film pertama Larysa Kondracki yang pernah menggarap film pendek berjudul Viko di tahun 2009.

Comment:
Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai “human trafficking” yang kenyataannya masih dialami lebih dari 2.5 juta penduduk dunia setiap tahunnya. Larysa Kondracki dan Eilis Kirwan mereka-reka langsung skripnya berdasarkan pengalaman pribadi mereka saat terlibat dalam konflik Balkan di Bosnia beberapa tahun lalu. Tentunya beberapa penyamaran/pengubahan identitas wajib dilakukan terlebih jika menyangkut identitas asli para korban selama kejadian ini.

Rachel Weisz bisa jadi memberikan salah satu akting terbaik selama karirnya. Tokoh Kathryn yang bersemangat sehingga dengan mudah mendapat pengakuan oleh para koleganya dijiwainya dengan kompleksitas emosi yang pas. Bagaimana mencampuri sebuah urusan yang tidak pernah melibatkannya itu hanya karena merasa setiap orang berhak mendapat persamaan hak di atas kebenaran yang patut dijunjung tinggi. Sungguh suatu inspirasi yang patut dicontoh!
Jajaran tokoh pendukung disini juga menyuguhkan performa yang baik. Redgrave dan Bellucci bermain kuat sebagai Madeleine dan Laura walaupun kemunculan mereka dapat dihitung jari. Aktor senior Strathairn bagaikan oase di tengah padang pasir yang menyiksa, ia tidak terpengaruh oleh polisi-polisi kotor di sekitarnya. Salah satu highlight dalam cast adalah pendatang baru Roxana Condurache yang mengundang simpati sebagai sang korban Raya yang merasa tidak berdaya untuk berbuat apa-apa.

Sutradara Kondracki tampak amat memahami bahwa ia berdiri di sisi korban dalam hal ini kaum wanita. Keseluruhan adegan gadis-gadis muda yang mengalami penyiksaan dan kekerasan seksual ditampilkan secara eksplisit untuk membuat anda trenyuh. Setting lokasi pun dibuat mirip dengan tone film yang juga tersendat-sendat. Faktor sinematografi yang maksimal tidak didukung oleh editing yang baik, seringkali momentum konflik tidak terangkat secara maksimal.
The Whistleblower belum mampu berdiri sebagai drama thriller politik yang konsisten membangun emosi penonton dari awal hingga akhir. Beberapa bagian yang “mengenaskan” memang cukup sulit bagi sebagian penonton. Namun setidaknya orang-orang seperti Kathryn Bolkovac yang mungkin satu dari sejuta itu kiranya dapat mengingatkan anda untuk berbuat sesuatu memerangi human-trafficking walaupun harus menghadapi pihak yang lebih dominan segala-segalanya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$1,120,914 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 April 2010

THE LOVELY BONES : Saat Perasaan Kehilangan dan Pelepasan Terperangkap

Quotes:
Susie Salmon-I was slipping away, that's what it felt like, life was leaving me, but I wasn't afraid; then I remembered: "There was something I was meant to do; somewhere I was meant to be."

Storyline:
6 Desember 1973, saat mengambil jalan pintas perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, Susie Salmon dikuntit tetangganya, George Harvey dan diajak ke lubang rahasia di bawah ladang jagung. Disana Susie diperkosa, ditikam dan dimutilasi George. Ayah-ibunya Jack dan Abigail melaporkan pada polisi dan ditangani oleh Detektif Len Fenerman. Sayangnya penyelidikan tidak kunjung mendapat titik temu walau semuanya sempat mencurigai George tapi tidak menemukan bukti yang kuat. Beberapa waktu berlalu, arwah Susie tidak benar-benar pergi, dia terjebak di antara alam hidup dan mati. Menyaksikan dari kejauhan kekasih yang belum sempat diciumnya, Ray dan keluarganya termasuk neneknya serta kedua adiknya, Lindsey & Buckley. Akankah akhirnya kasus tersebut dapat terungkap? Berhasilkah Susie menemukan kedamaian sendiri dalam jalan hidupnya?

Nice-to-know:
Penulis novel laris ini, Alice Sebold lebih menginginkan aktris yang tidak terkenal untuk peran Susie Salmon. Setelah ikut menentukan proses casting dan menjatuhkan pilihannya, Saoirse Ronan dinominasikan Oscar kategori Aktris Pendukung Terbaik lewat Atonement (2007).

Cast:
Terakhir tampil cukup memikat dalam City Of Ember (2008), Saoirse Ronan kebagian tokoh Susie Salmon, remaja putri 14 tahun yang periang tetapi bernasib malang.
Pertama kali dinominasikan Academy Awards 2010 kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat peran George Harvey disini, Stanley Tucci sudah membintangi puluhan judul film termasuk debutnya dalam Prizzie's Honor (1985).
Kedua orangtua Susie yaitu Jack dan Abigail Salmon dimainkan oleh Mark Wahlberg dan Rachel Weisz.
Rose McIver dan Christian Thomas Ashdale memerankan Lindsey dan Buckley.

Director:
Angkat nama di seantero dunia lewat trilogi The Lord Of The Rings, Peter Jackson juga memperoleh satu-satunya Oscar Sutradara Terbaik lewat bagian penutup trilogi tersebut.

Comment:
Durasi aslinya dipangkas 10-15 menit untuk konsumsi bioskop Indonesia. Tebakan saya itu terjadi di bagian pembunuhan terhadap Susie yang dianggap terlalu sadis dan provokatif karena pedofilia bukan sesuatu yang dapat diterima umum apalagi untuk masyarakat umum, juga beberapa adegan di ending yang dirasa tidak terlalu perlu. Plot ceritanya simpel tetapi dieksplorasi dengan sangat riil dan detail. Dramatisasinya dibangun cukup sempurna oleh Jackson. Dunia orang hidup dan orang mati dikombinasikan dengan menarik. Dunia peralihan yang biasanya digambarkan gelap gulita kali ini ditampilkan dengan nuansa yang berbeda. Sinematografinya tergolong indah dengan warna kuning dan coklat yang dominan disertai perubahan suasana siang dan malam. Dari segi cast, Ronan bermain cemerlang dimana emosinya terekam baik sebagai remaja 14 tahun yang masih kebingungan dengan jati dirinya. Yang patut diacungi jempol adalah Tucci yang menambah bobot dan memangkas bulu-bulu tubuhnya untuk menghayati peran psikopat pedofil. Pada beberapa bagian, peran-peran pendukung anggota keluarga Salmon juga berhasil mengisi peran secara utuh. Apakah terlihat seperti review yang sempurna? Tidak juga. Minus film ini cukup banyak, narasi yang terlalu datar dan terkesan berulang-ulang. Belum lagi perpindahan antar sekuens dua dunia yang cukup mengganggu. Dialog-dialognya cenderung biasa sehingga agak membosankan. Inti cerita The Lovely Bones sesungguhnya mengenai pelepasan terhadap sesuatu, bagaimana keterikatan duniawi menjadi suatu dilema yang sulit diselesaikan. Masalah yang bisa jadi dialami setiap orang di muka bumi.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$43,818,839 till Mar 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 29 November 2008

MY BLUEBERRY NIGHTS : Setiap Peristiwa Adalah Babak Kehidupan

Quotes:
Elizabeth-So what's wrong with the Blueberry Pie?Jeremy-There's nothing wrong with the Blueberry Pie, just people make other choices. You can't blame the Blueberry Pie, it's just... no one wants it.
---
Elizabeth[wiping her tears]-How do you say goodbye to someone you can't imagine living without? I didn't say goodbye.. I didn't say anything.. I just walked away..

Cerita:
Putus cinta menyebabkan Elizabeth patah hati. Demi mengobati rasa kehilangan, dia seringkali mampir di cafe milik Jeremy pada di tengah malam. Sambil menikmati sepotong pai blueberry, mereka berbincang-bincang sampai Lizzy tertidur di meja cafe. Tiba di suatu titik dimana Lizzy merasa harus meninggalkan New York untuk memulai hidup baru di Memphis dengan bekerja di resto pada pagi hari dan di bar pada malam hari. Disana, ia bertemu polisi yang acapkali minum sampai mabuk akibat patah hati ditinggal istrinya Sue Lynne. Kemudian, Lizzy berangkat ke Nevada, bekerja di kasino dan bertemu Leslie, seorang penjudi wanita yang mengaku pandai membaca raut wajah. Walau jauh, Lizzy selalu menyempatkan diri menulis surat untuk Jeremy. Hari-hari berlalu. Bagaimana semua peristiwa itu bisa mengubah hidup Lizzy sekaligus mengetahui apa yang sebetulnya diinginkannya?

Gambar:
Khas sutradara kenamaan Hongkong ini kembali muncul dimana selalu memperlihatkan kereta melintas di malam hari dengan bayangan gedung-gedung tinggi. Beberapa adegan lambat yang seperti difast-forward sama sekali tidak mengganggu mata. Suasana malam Memphis dan New York serta Nevada siang hari mampu ditangkap dengan pas.

Act:
Dalam debut film pertamanya ini, Norah Jones bermain cemerlang sebagai Elizabeth, wanita muda yang naif dan selalu berpikir baik tentang semua hal sampai akhirnya menemukan arti hidupnya.
Jude Law yang muncul di awal dan akhir film seperti biasa bermain mengesankan dengan aksen Britishnya sebagai Jeremy, pemilik cafe yang selalu menonton security video nya sendiri di malam hari.
Kehadiran Rachel Weisz, Natalie Portman dan David Strathairn sebagai peran pendukung juga tampil memikat sesuai karakternya masing-masing.

Sutradara:
Wong Kar Wai yang biasa bermain dengan slow pace movie dengan banyak tokoh kali ini masih mempertahankan gaya yang sama untuk debut penyutradaraan internasional pertamanya. Hanya saja, menurut saya My Blueberry Nights ini lebih menyenangkan untuk diikuti dibanding beberapa film Mandarin yang pernah ditanganinya.

Komentar:
Film yang sempat membuka Festival Film Cannes 2007 ini dihiasi score dan ilustrasi musik yang menarik dengan alunan suara jazzy Norah Jones yang asyik. Beberapa adegan lambat di film ini seakan mengajak penonton meresapi setiap maknanya bahwa perjalanan hidup itu penuh dengan berbagai peristiwa yang mungkin mengubah pola pikir kita. Worth to watch for such art drama!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$886,778

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!