XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jeffrey dean morgan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeffrey dean morgan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

THE POSSESSION : Speedless Exorcism With Thin Connections


Tagline:
Fear The Demon That Doesn't Fear God.

Nice-to-know: 

Awalnya MPAA memberikan rating Dewasa untuk kekerasan, terror dan gambar yang mengganggu sebelum akhirnya diubah menjadi Remaja.

Cast: 

Jeffrey Dean Morgan sebagai Clyde
Natasha Calis sebagai Em
Kyra Sedgwick sebagai Stephanie
Jay Brazeau sebagai Professor McMannis
Madison Davenport sebagai Hannah
Matisyahu sebagai Tzadok
Grant Show sebagai Brett


Director: 
Merupakan film ketujuh bagi Ole Bornedal yang mulai dikenal luas sejak Nightwatch (1997) yang merupakan remake Nattevagten (1994).

W For Words: 
Nyaris setengah abad sudah sejak kemunculan pertama kali “leluhur” film-film kesurupan dalam titel The Exorcist (1973) yang melejitkan nama Ellen Burstyn, Max von Sydow dan Linda Blair pada masanya. Film produksi Ghost House Pictures dan North Box Productions ini memang tidak sepenuhnya berjalan pada template yang sama meski terjadi kemiripan disana-sini. Ilham utamanya berasal dari artikel “Jinx in a Box” milik Leslie Gornstein yang kemudian digubah dalam bentuk skrip oleh Juliet Snowden dan Stiles White. Penasaran? Saya iya, apalagi desain posternya yang unik itu.

Pasutri Brenek yaitu Clyde dan Stephanie sepakat bercerai. Kedua putrinya  yaitu Hannah dan Em ikut ibu mereka dan sesekali meluangkan waktu bersama ayah di akhir pekan. Saat mengunjungi cuci gudang tetangga, Em memilih sebuah kotak misterius dengan tulisan Hebrew. Usaha keras untuk membuka ternyata tidak dibarengi dengan hasil, tidak ada yang berarti di dalamnya. Lambat laun perilaku Em mulai berubah ganjil mengarah kekerasan. Awalnya Clyde mengira hal tersebut karena perpisahan orangtua tapi ada sesuatu lebih gelap dari itu dimana cuma Rabbi Tzadok yang dapat menjawabnya.

Campur tangan produser Sam Raimi yang juga spesialis horor masih terasa meskipun tampuk sutradara ada pada Bornedal. Paruh pertama film terus terang lebih menakutkan bagi saya, kengerian yang merambat perlahan dengan scoring music minim sambil sesekali dikejutkan dengan sound effect. Belum lagi serbuan ribuan serangga misterius sejenis kupu-kupu di kamar tidur Em yang juga temaram bermandikan sinar bulan yang masuk dari jendela. Paruh kedua memang menawarkan tempo lebih cepat tapi tidak dibarengi oleh rasionalitas yang diharapkan terutama pada proses pengusiran roh itu sendiri.

Banyak sekali pertanyaan tak terjawab. SPOILER ALERT! Pertama, tetangga Clyde dalam perban yang tampak ketakutan melihat Em memegang kotak itu. Kedua, Brett yang kehilangan giginya tatkala mendekati Em. Ketiga, guru Em yang menemui ajalnya karena menahan kotak. Keempat, roh Abyzou yang sempat terlihat pada scan MRI tidak menimbulkan reaksi apa-apa dari dokter atau suster. Kelima, tangan Clyde yang ditusuk garpu tidak memberikan indikasi apapun pada adegan berikut. Terakhir, kegaduhan di lantai 6 rumah sakit saat exorcism berlangsung tidak mengundang perhatian samasekali.

Dean Morgan menyuguhkan penampilan terbaiknya di sini. Lakon Clyde mampu mengundang simpati sebagai suami yang masih menghargai istri sekaligus ayah yang menyayangi anaknya. Sayang, isu child abuse yang dituduhkan mantan istrinya tidak tereksploitasi dengan baik. Sama halnya dengan karakter yang dimainkan Sedwick dan Davenport yang timbul tenggelam. Upaya Calis pantas diapresiasi. Transformasinya dari bocah perempuan manis dan santun menjadi anak iblis yang menyeramkan. Tak lupa rasa takut dan kebingungannya menjadi transisi yang cukup believable.

The Possession dikatakan sebagai terinspirasi dari kisah nyata dengan sedikit latar belakang Yahudi yang tak cukup kuat menyokong faktualnya. Kelemahan yang paling kentara adalah berbagai subplot yang digulirkan memberi koneksi tipis terhadap plot utamanya kalau tidak mau disebut tempelan belaka. Setidaknya kombinasi drama keluarga dan horor kerasukan ini masih menyimpan genuine creepy moments yang predictable, terlebih bagi anda yang memilii banyak referensi film-film sejenis tetapi masih senang mendapatkan pengalaman serupa.

Durasi: 
92 menit 

U.S. Box Office: 

$49,122,319 till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 27 Juni 2012

TEXAS KILLING FIELDS : Promising Casts Confusing Thriller

Tagline:
Once in... There's no way out.

Nice-to-know:
Dalam mempersiapkan peran mereka, Sheryl Lee dan Chloƫ Grace Moretz menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi pengguna narkoba.

Cast:
Sam Worthington sebagai Mike Souder
Jeffrey Dean Morgan sebagai Brian Heigh
Chloƫ Grace Moretz sebagai Little Ann Sliger
Corie Berkemeyer sebagai Shauna Kittredge
Trenton Perez sebagai White Kid
Sheryl Lee sebagai Lucie Sliger
Jessica Chastain sebagai Pam Stall

Director:
Merupakan feature film kedua Ami Canaan Mann setelah Morning (2001).

W For Words:
Konon film ini dibuat berdasarkan kisah nyata pembantaian sejumlah gadis belia yang terjadi di Texas bagian Selatan yang hingga hari ini kasusnya belum terungkap. Skrip yang dikerjakan oleh Don Ferrarone ini mungkin akan mengingatkan anda pada The Texas Chainsaw Massacre (2003) walau tidak sampai mencapai tingkat gory yang sama. Sekali lagi kombinasi kejahatan dan kegilaan pelaku yang kontras dengan kelambanan polisi dalam beraksi di kota kecil menjadi suguhan utama yang banyak dilakukan oleh filmmakers internasional sebelumnya.

Mike Souder yang bertindak sebagai detektif pembunuhan di kota Texas mendapat partner baru dari New York yaitu Brian Heigh. Keduanya tengah mengusut jejak pembunuh berantai sadis yang selalu membuang mayat korbannya yang telah dimutilasi ke dalam area yang disebut The Killing Fields. Sang pembunuh yang selalu selangkah lebih maju dalam permainan kerapkali menjebak kedua detektif tersebut dengan petunjuk palsu. Ketika gadis lokal Ann Sliger menghilang, Mike dan Brian pun harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sekaligus membekuk orang yang mereka buru.

Prosedur interogasi dan penyidikan kasus dalam film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah disuguhkan serial televisi bertemakan serupa, sebut saja Law & Order atau CSI. Sang penulis skrip yang juga mantan petugas administrasi Badan Anti Narkoba seakan langsung menempatkan audiens di tengah situasi yang berjalan dimana segala petunjuk sebelumnya tidak lagi dijelaskan. Belum selesai kebingungan berlangsung, penonton lantas diperkenalkan pada serentetan tokoh baru dari yang paling penting hingga yang selayang pandang begitu saja.

Dean Morgan sebenarnya sudah bermain meyakinkan dengan karisma detektif berpengalaman dan family man yang kuat dalam diri Heigh. Sebaliknya Worthington masih terjebak stereotype peran-peran sebelumnya, belum lagi perangai keras tokoh Souder seakan tanpa sebab. Moretz seperti biasa tampil paling memikat sebagai Ann yang memiliki problem keluarga tapi korelasinya terhadap bangunan cerita patut dipertanyakan. Belum lagi Clarke yang sebenarnya terlihat sukses sebagai bad ass Rule tapi timbul tenggelam sepanjang film. Sulit rasanya menjalin koneksi dengan salah satu tokoh disini meskipun nama-nama yang terlibat di dalamnya jelas bukan aktor-aktris sembarangan.

Upaya sutradara Canaan Mann (putri kandung Michael Mann) dalam menyuguhkan thriller kompleks beratmosfer depresi dan kehampaan memang cukup berhasil. Namun kesan amatir masih sulit lepas menilik sinematografi dan editingnya. Narasi liar antara tokoh, tempat dan kejadian yang terus berpindah-pindah pada akhirnya menyisakan minim ketertarikan bagi penonton yang sesungguhnya setia menantikan sesuatu yang brilian dan twisted. Hal tersebut tidak pernah terjadi! Texas Killing Field seharusnya tetap menjadi misteri menakutkan di dunia nyata, bukan menggelikan di layar lebar.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$45,282 till Nov 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 22 Juli 2011

THE RESIDENT : Pengintaian Rahasia Penghuni Apartemen

Tagline:
She Thought She Was Living Alone

Storyline:
Dokter emergency, Juliet Devereau mencari tempat tinggal baru untuk menjauh dari suaminya, Jack yang ketahuan berselingkuh. Juliet akhirnya menemukan apartemen tipe studio di Brooklyn milik Max yang baru direnovasi dengan harga murah. Awalnya Juliet dan Max mampu menciptakan hubungan yang menjanjikan sebelum Juliet sadar bahwa ia masih mendambakan Jack. Nyatanya Max bukan lelaki yang bisa ditolak begitu saja dan akses yang dimilikinya untuk mengintai Juliet sudah lebih dari cukup untuk melakukan sesuatu yang buruk!

Nice-to-know:
Karena keterbatasan dana, syuting yang dilakukan pada bulan April 2010 harus memangkas berbagai adegan yang seharusnya ada dalam skrip film ini.

Cast:
Kemunculannya dalam seni peran diawali dengan serial televise ABC TGIF di tahun 1990, Hilary Swank bermain sebagai Juliet Devereau
Terakhir melihatnya dalam proyek remake Shanghai (2010), Jeffrey Dean Morgan berperan sebagai Max
Lee Pace sebagai Jack
Christopher Lee sebagai August
Aunjanue Ellis sebagai Sydney

Director:
Merupakan feature film pertama Antti Jokinen yang sebelumnya lebih banyak terlibat dalam pengarahan serial televisi ataupun dokumenter.

Comment:
Entah apa yang membuat aktris sekaliber Hilary Swank mau membintangi film ini. Jika ditilik dari skrip yang ditulis oleh Antti Jokinen dan Robert Orr rasanya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Semua terbaca dari menit awal sampai akhir terlebih bagi anda para pecinta genre thriller yang sudah puluhan kali menyaksikan premis serupa.
Image pria dalam film ini digambarkan demikian buruk. Max yang berpikiran “kotor”, berjiwa psycho dan berkepribadian “lemah”. Sedangkan Jack adalah suami peselingkuh yang terkesan memanfaatkan kelembekan hati istrinya yang juga seorang wanita mandiri itu. Ada lagi August sebagai orang tua yang hanya bisa menggerutu dengan sumpah serapah terhadap cucunya tanpa berusaha mengubah “garis keluarga” yang diyakininya itu.
Sedangkan Juliet dihidupkan dengan tegar dan tangguh tapi tidak cukup “keras” dalam menonjolkan sisi tersebut. Tidak dijelaskan bagaimana kemandirian seorang dokter emergency dapat begitu saja luluh menerima pria yang telah menyakitinya itu. Hanya karena kesepian seorang wanitakah? Belum lagi intuisinya di awal film yang sedikit “menggoda” pria yang baru dikenalnya. Cuma sebagai pelarian atay coba-coba? Sulit memastikannya.
Swank seharusnya mampu melahap peran Juliet dengan mudahnya. She DID! Namun karakterisasinya memang kurang berwarna dalam film yang seperti tidak percaya diri ini. Begitu pula dengan Dean Morgan yang mampu memperlihatkan transformasi dari sosok Max yang semula romantis, lembut dan perhatian menjadi cabul, posesif dan berinsting pembunuh. Interaksi keduanya cenderung naik turun, terkadang menarik, terkadang dipaksakan.
Sutradara Jokinen tampaknya sudah berusaha menghadirkan sinematografi yang cukup memikat, konsisten dengan pencahayaan indoor minimalis di setiap sudut apartemen baik yang terlihat maupun tersembunyi. Namun editingnya masih kurang memuaskan, banyak perpindahan scene selayaknya film televisi. Tensi film yang diharapkan merambat naik mendekati endingnya tidak terlalu berhasil terlebih adegan kejar-kejaran ala cat and mouse yang diharapkan klimaks ternyata berakhir begitu saja.
Alhasil The Resident masih jauh dari hasil yang diinginkan penonton kecuali bagi mereka yang tidak pernah menyaksikan film sejenis sebelumnya. Sia-sia belaka kemunculan Pace dalam peran Jack yang sudah mampu anda prediksi nasibnya itu. Seandainya saja seorang Christopher Lee dapat lebih dimaksimalkan dalam peran August. Tidak adanya improvisasi dari keempat karakter utama disini menjadi kelemahan utama. Jika anda berpikir bisa melihat Swank dalam pose syur yang privat? Voila! Anda akan temukan disini meskipun tidak yakin adegan tersebut akan “sepanas” ekspekstasi anda.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 28 Mei 2010

THE LOSERS : Kebangkitan Sekelompok Pecundang Terkhianati

Quotes:
Pooch-Oh my God, I'm the Black Macgyver.
[pause]
Pooch-Blagyver.

Storyline:
Anggota U.S. special force masing-masing Jensen, Roque, Pooch, Cougar yang dikomandani oleh Clay tiba-tiba menjadi sorotan media karena menyebabkan 25 anak Bolivia terbunuh dalam suatu misi karena pengkhianatan Max. Mereka berlima membuang identitas dan hidup bersembunyi di Karibia. Semua mulai berubah saat anggota C.I.A yang cantik, Aisha menawarkan kehidupan mereka kembali seperti semula dengan cara menghentikan Max yang berencana membeli senjata mutakhir berteknologi tinggi yang bisa meleburkan dunia tanpa sisa dalam sekejap! Berhasilkah Clay dkk menuntaskan misi tersebut sambil tetap berjalan di bawah radar?

Nice-to-know:
Skripnya didasarkan pada bagian awal komik "The Losers" yang muncul dalam edisi 1-6 DC Vertigo comic ditulis oleh Andy Diggle dan digambar oleh Jock.

Act:
Boleh dibilang Jeffrey Dean Morgan telat bersinar justru di usia memasuki pertengahan padahal memulai karir layar lebar dalam Uncaged (1991). Kali ini sebagai Clay, Dean Morgan kembali menunjukkan kharismanya.
Baru saja memesona dalam film terlaris sepanjang masa Avatar (2009), Zoe Saldana disini sebagai Aisha, si cantik yang misterius.
Pernah mendukung sekuel yang dianggap gagal, Speed 2 : Cruise Control (1997), Jason Patric bermain antagonis sebagai Max.
Chris Evans sebagai Jensen
Idris Elba sebagai Roque
Columbus Short sebagai Pooch
Ɠscar Jaenada sebagai Cougar

Director:
Sylvain White terakhir menggarap Stomp The Yard (2007) yang banyak bertaburan bintang-bintang Afro-Amerika termasuk penyanyi R&B kontroversial, Chris Brown.

Comment:
Memasuki musim panas, banyak sekali film-film yang diunggulkan meraih hit termasuk salah satunya ini. Tanpa ekspektasi apa-apa, saya menyaksikannya hanya sekadar mengisi waktu. Pada akhirnya merasa terhibur dengan aksi-aksi yang disuguhkan. Dan rasanya itulah yang seharusnya dilakukan anda juga yaitu jangan menaruh harapan tinggi! Semua elemen film aksi ada disini seperti pahlawan yang dikhianati, sekelompok protagonis yang memiliki keahlian masing-masing, antagonis yang ingin menguasai dunia dan tentunya gadis cantik seksi bersenjata yang tangguh. Belum lagi kejar-mengejar, tembak-menembak jarak jauh maupun dekat, ledakan mobil helikopter dsb. Keseluruhan unsur tersebut untungnya dikombinasikan sutradara White dengan humor yang memancing tawa sehingga plotnya yang mudah ditebak menjadi sedikit terselamatkan. Dean Morgan rasanya terlihat terlalu tua untuk bertarung tetapi memperlihatkan akting yang baik sebagai pemimpin. Evans cukup mencuri perhatian dengan pakaian warna-warninya sepanjang film. Saldana agak sulit mengesankan karena masih terkenang peran Neytiri yang legendaris itu, Short, Elba dan Jaenada terlihat kelebihannya dari fisik yang kokoh sehingga cocok dalam film semacam ini, Kesatuan protagonis tersebut tidak diimbangi oleh antagonis yang terkesan canggung termasuk Patric dan McCallany. Endingnya mungkin sudah dapat diduga audiens tetapi memungkinkan adanya sekuel jika The Losers ini laris. Kita tunggu saja!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$23,082,102 till end of May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 03 Desember 2009

THE ACCIDENTAL HUSBAND : Konflik "Dua" Orang Ketiga Dalam Romantika

Quotes:
Patrick-with a mouth full of sample wedding cake] This cake is fantastic!
Emma-Shh. Please...
Patrick-You mix these two together, it tastes just like a ring-ding.
Emma-[Patrick shoves a fork of cake in her face] No. No, no.
Patrick-Ah!
Emma-No.
Patrick-Ah!
Emma-[she accepts the forkful of cake] it was yummy.
Patrick-It's super-duper.

Cerita:
Berkarir sebagai pembawa acara sukses "True Love" di radio, Emma Lloyd juga memiliki hubungan sempurna dengan tunangannya, Richard. Suatu saat tanpa disengaja, saran Emma membuat hubungan sepasang sejoli, Patrick dan Sophia yang sedang menuju pernikahan menjadi berantakan. Patrick yang terluka berusaha membalas dendam dibantu temannya menciptakan identitas palsu sebagai suami resmi dari Emma. Kemudian Emma mengetahui hal ini dan sangat heran mendapati dirinya sudah menikah, iapun menemui Patrick untuk mencari jawaban. Tak dinyana hubungan tak disengaja tersebut malah mendekatkan keduanya. Siapakah yang akhirnya dipilih Emma?

Gambar:
Penggambaran New York City sebagai latar belakang komedi romantis memang sangat menjual. Termasuk stasiun pemadam kebakaran Engine 312 - 22-63 di Astoria tempat Patrick bekerja. Sedangkan adegan penutup dilangsungkan di First Church of Round Hill, Connecticut.

Act:
Uma Thurman pernah dinominasikan sebagai Aktris Pendukung Terbaik dalam Pulp Fiction (1994) dan disini kebagian peran Dr. Emma Lloyd, psikiatris pembawa acara Real Love di radio yang tengah bimbang menghadapi pernikahannya.
Aktor Inggris yang memulai debutnya dalam Another Country (1984), Colin Firth kali ini menjadi pria perfeksionis Richard Bratton, calon suami dari Emma.
Sempat mencuat namanya setelah membintangi serial teve Supernatural, Jeffrey Dean Morgan didapuk menjadi petugas pemadam kebakaran yang baru saja patah hati, Patrick Sullivan.

Sutradara:
Karier penyutradaraan Griffin Dunne dimulai saat mengarahkan Meg Ryan dan Matthew Broderick dalam Addicted To Love (1997). 11 tahun berselang, ia mencoba jalur yang sama dengan plot cinta segitiga yang unik.

Comment:
Diawali dengan klise-klise buruk sebuah komedi romantis, film ini bergulir dengan roda yang seakan terseok-seok. Hubungan sang wanita pemecah masalah cinta dan pria patah hati harusnya bisa diekspos dengan detail, tetapi disini karakter Patrick seakan bisa melupakan begitu saja cintanya yang dalam pada Sophia dan ironisnya karakter Emma pun seakan tidak mengalami pengalaman cinta apa-apa dalam menghadapi situasi yang bisa menjebaknya. Chemistry Uma dengan Jeffrey sedikit dipaksakan, apalagi Uma dan Richard yang hampir selalu terlihat kaku. Hal tersebut sulit membuat penonton jatuh hati dengan salah satu dari karakter yang mereka perankan. Plot cerita terdeskripsikan dengan dangkal sekali sehingga skenario hanya sekedar ok lah sedikit memaksa di beberapa sisi. Unsur komedi yang biasanya menyelamatkan juga kurang berhasil. Sedikit unsur India yang ditanamkan malah mengaburkan identitas film secara keseluruhan. Alhasil The Accidental Husband hanya akan mengambang di permukaan tanpa meninggalkan kesan yang dalam bagi para pencinta genre ini.

Durasi:
85 menit

U.K. Box Office:
£2,072,869 till March 2008

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 05 Mei 2009

WATCHMEN : Reuni Superhero Berbuntut Misteri

Quotes:
Adrian Veidt-It doesn't take a genius to see the world has problems.
Edward Blake-No, but it takes a room full of morons to think they're small enough for you to handle.
----------
Rorschach-A Comedian died last night, and nobody cares. Nobody cares but me.
----------
D
an Dreiberg-Maybe this was a political killing?
Rorschach-Maybe. Or maybe someone's picking off costumed heroes.
Dan Dreiberg-Um. Don't you think that's maybe a little paranoid?
Rorschach-That's what they're saying about me now? That I'm paranoid?

Cerita:
Sekitar 1985, masa-masa pahlawan dan penjahat berkostum telah berakhir, Pemerintah tenang dan rakyat menyikapi revolusi dengan biasa. Namun saat satu pahlawan bertopeng ditemukan tewas mengenaskan, investigasi kembali dimulai. Sekelompok pahlawan super pun mau tidak mau bereuni kembali untuk menghindari kehancuran kubu mereka. Tetapi hal tersebut tidaklah mudah karena konspirasi dan akar permasalahan sangat rumit dan perlu penelusuran lebih dalam. Masing-masing pahlawan tersebut juga harus menghadapi ego dan karakteristik mereka yang unik sekaligus kompleks.

Gambar:
Seakan bergaya grafis dengan dominan warna biru gelap, gambar-gambar Watchmen bisa dibilang stylish membaur dengan kostum warna-warni superhero yang mencolok.

Act:
Malin Akerman sebagai Laurie Jupiter / Silk Spectre II yang seksi dengan balutan kostum kuning.
Billy Crudup sebagai Dr. Manhattan / Jon Osterman yang sepanjang film hanya sebagai grafis bayangan biru dimana sesungguhnya telanjang dalam komiknya tapi mengenakan cawat pada filmnya.
Matthew Goode sebagai Adrian Veidt / Ozymandias pernah mendukung Chasing Liberty (2004) bersama Mandy Moore.
Jackie Earle Haley sebagai Rorschach yang selalu bertopeng kain putih dengan siluet hitam yang membentuk dan mengikuti ekspresinya.
Jeffrey Dean Morgan terkenal dari serial Supernatural kali ini bermain sebagai The Comedian / Edward Blake yang kasar dan playboy.
Belum lama ini tampil dalam Passengers (2008), Patrick Wilson cukup konsisten karir aktingnya. Sebagai Nite Owl II disini, Patrick memperlihatkan karakter pahlawan super yang cool.
Carla Gugino yang pernah mendukung Spy Kids berperan sebagai Silk Spectre I.


Sutradara:
Pria kelahiran Wisconsin 1 Maret 1966, Zack Snyder angkat nama lewat karya perdananya Dawn of the Dead (2004) yang cukup sukses itu. Reputasinya dipertaruhkan saat membesut Watchmen yang dahulu komiknya populer tapi proyek layar lebarnya selalu tertunda sampai akhirnya terealisasi. Hasilnya? Patut berkaca dahulu pada angka box-office film ini di Amerika dan seluruh dunia.

Komentar:
Penonton Watchmen mungkin akan terbagi dua kubu yaitu mereka yang membaca komiknya dan yang tidak. Hal itupun yang mempengaruhi hasil akhir film ini dimana sebagian menyukai film ini dan sebagian tidak. Yang pasti Watchmen menampilkan film superhero yang berbeda dari yang pernah ada, nuansa gelap sangat terasa karena menampilkan kelemahan dan sisi lain dari masing-masing karakter pahlawan super tersebut. Bagaimana mereka saling berinteraksi, bersahabat sekaligus diam-diam bersaing satu sama lain. Tergantung selera anda apakah bisa menerima gaya seperti itu atau tidak untuk bertahan di bangku bioskop sampai film yang berdurasi panjang ini berakhir. Di samping itu nikmati saja semua adegan pertempuran yang menarik untuk diikuti karena memperhatikan detail dengan didukung grafis spesial efek yang sangat baik.

Soundtrack:
”The Times They Are A’Changin” by Bob Dylan
”Hallelujah” by Leonard Cohen
”First We Take Manhattan” by Janis Joplin
”Me and Bobby McGee” by Janis Joplin
”All Along The Watchtower” by Jimi Hendrix
”The Sounds of Silence” by Paul Simon
”99 Luftballons” by Nena
”I’m Your Boogie Man” by KC & The Sunshine Band
”Everybody Wants to Rule the World” by Tears for Fears
”Prophecies” by The Philip Glass Ensemble
”Pruit Igoe” by The Philip Glass Ensemble
”Desolation Row” by My Chemical Romance
”Unforgettable” by Nat King Cole

Durasi:
150 menit

U.S. Box Office:
$107,061,353 till end of April 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!