XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 24 Februari 2013

KAI PO CHE : Moving Portrait of Meaningful Friendship


Quotes:
Brothers.. .For life.

Nice-to-know:
Adaptasi novel berjudul The Three Mistakes of My Life dari Chetan Bhagat.

Cast:
Amrita Puri sebagai Vidya
Sushant Singh Rajput sebagai Ishaan
Amit Sadh sebagai Omi
Raj Kumar Yadav sebagai Govind

Director:
Merupakan film ketiga bagi Abhishek Kapoor setelah Rock On!! (2008).

W For Words:
Seberapa banyak kita melakukan kesalahan dalam hidup? Jawabannya mungkin tak terhingga. Sama halnya dengan film produksi UTV Motion Pictures ini yang menyorot garis besar ambisi, cinta dan mimpi dalam balutan persahabatan antara tiga pemuda dengan karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ingatan anda akan melayang pada 3 Idiots (2009) tapi yang membedakannya adalah tidak ada Aamir Khan atau satupun nama besar di sini. Semua didominasi oleh wajah-wajah baru yang menyuguhkan akting terbaik mereka.

Tiga sahabat yang tinggal di Ahmedabad merajut impian bersama yaitu membuka toko olahraga dengan fasilitas pelatihan. Ishaan yang pernah menjadi pemain cricket berjumpa dengan bocah 9 tahun bertalenta, Ali. Govind yang paling cerdas kerap mencermati siklus keuangan. Omi mengandalkan pamannya yang juga tokoh politik sebagai investor tetap. Lambat laun usaha mereka menampakkan hasil terlepas dari jatuh bangun dalam prosesnya. Namun insiden gempa bumi dan kerusuhan Gujarat yang terjadi mengubah segalanya.
Skrip yang dikerjakan oleh kuartet Pubali Chaudhari, Supratik Sen, Abhishek Kapoor, Chetan Bhagat ini betul-betul terasa membumi dengan mengambil potret kehidupan warga kelas menengah India sebagai settingnya. Bagaimana setiap karakter yang terlibat meski terlihat sederhana tetap mewakili kompleksitas nyata keadaan negara tersebut mulai dari tingkat sosial ekonomi yang rendah hingga kondisi politik yang carut marut. Tak lupa beberapa peristiwa historis juga diangkat bukan melulu gimmick melainkan unsur penguat konflik yang ada.

Govind Patel mewakili kaum kapitalis, Omkar Shastri Rajkumar menyoroti kepentingan politik, Ishaan Bhatt mencerminkan kawula muda pemimpi. These characters will represent each of you! Tell you what, Raj Kumar Yadav, Amit Sadh, Sushant Singh Rajput terlepas dari embel-embel ‘pendatang baru’ di belakang nama masing-masing sukses menampilkan akting luar biasa. Penjiwaan yang begitu kuat membuat penonton mampu menangkap setiap kegelisahan yang bergejolak di antara mereka. Persahabatan yang berjalan dari awal sampai akhir pun terkesan believable.

Kerja keras sutradara Abhishek Kapoor yang sempat kesulitan mencari cast yang mau terlibat dalam film ini terbayar sudah. Narasinya yang unpredictable akan menjaga rasa penasaran anda untuk menerka kemana arah film melaju lengkap dengan sinematografi memukau dari berbagai aspek. Kinerja art director, make-up artist, costume designer dalam mewujudkan props ‘sungguhan’ kian mengukuhkan nuansa Gujarat dan India secara global. Jangan lupakan musik Amit Trivedi yang megah itu termasuk satu track berjudul “Manja” yang dinyanyikan ketiga aktor utamanya.

Kai Po Che akan membuat anda merasakan selama menonton dimana rasa itu masih akan tertinggal setelahnya. Bingkai persahabatan indah yang menggulirkan begitu banyak makna dalam prosesnya. Bagaimana tolak ukur dalam hidup terkadang menjadi obsesi setiap orang, keuntungan, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan, ketenaran kerap kali mempunyai harga yang harus dibayar mahal. Jika demikian air mata dan penyesalan sekalipun tidak dapat mengubah segalanya. It’s a mainstream film with coming-of-age approach. Bittersweet yet satisfying.

Durasi:
125
menit

U.S. Box Office:
$552.765 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10 

Movie-meter:

Minggu, 10 Februari 2013

MAMA : Horror With Heart and Fright


Quotes:
Dr. Dreyfuss' Secretary: A ghost is an emotion bent out of shape, condemned to repeat itself time and time again.


Nice-to-know:
Saat Annabel mendengar Victoria dan Lilly masih bermain, dia pergi ke kamar mereka untuk mengatakan bahwa hari sudah larut dan waktunya tidur tetapi nyatanya jendela menunjukkan siang hari. Kejadian ini berlangsung tiga kali..

Cast:
Jessica Chastain sebagai Annabel
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Lucas / Jeffrey
Megan Charpentier sebagai Victoria
Isabelle Nélisse sebagai Lilly
Daniel Kash sebagai Dr. Dreyfuss
Javier Botet sebagai Mamal

Director:
Merupakan debut penyutradaraan feature film bagi Andrés Muschietti.

W For Words:
Jika anda cermati
, horor kreasi seorang Guillermo del Toro yang kali ini bertindak sebagai produser eksekutif selalu mengedepankan tokoh wanita dan anak. Lihat saja The Orphanage (2006) dan Don't Be Afraid Of The Dark (2010). Menilik premisnya, yang satu ini rasanya masih mengusung 'identitas' yang sama. Namun apakah hasil akhirnya akan serupa? Nanti dulu! Satu yang selalu saya kagumi adalah kesetiaan del Toro mempertahankan pakem horor tradisional yang tetap bisa dinikmati oleh penonton modern sekalipun.

Sebelum menyaksikan yang satu ini, ada baiknya anda menengok film pendek berdurasi 3 menit dari Andres Muschietti sebagai pemanasan. Skrip yang ditulisnya sendiri bersama saudarinya, Barbara Muschietti dan Neil Cross untuk debut film panjangnya ini tergolong berhasil mengeksplorasi ketakutan tanpa harus meninggalkan kekuatan konflik orangtua dan anak. Tiga sosok dewasa yaitu Annabel, Lucas dan Dr. Dreyfuss serta dua gadis cilik Victoria dan Lilly masing-masing diperkaya dengan karakterisasi kompleks yang menarik untuk dieksploitasi satu persatu.
Alkisah Victoria dan Lilly dilarikan ke sebuah pondok di hutan oleh ayah mereka yang berlaku tak waras hingga membantai rekan kerja dan istrinya sendiri. Entah bagaimana dua gadis cilik itu mampu bertahan hidup selama 5 tahun sampai ditemukan paman mereka, Lucas. Terapi demi terapi perlahan memulihkan kondisi Victoria dan Lilly yang berada di bawah pengawasan langsung Dr. Dreyfuss. Lucas lantas mengasuh keduanya di rumah hibahan bersama kekasihnya Annabel. Lambat laun, Annabel menyadari ada sosok lain yang selama ini menjaga Victoria dan Lilly kemanapun mereka pergi.

Muschietti sebagai sutradara sukses membangun creepy moments yang bernuansa klastrofobik lewat dua set rumah dan segala isinya dimana sisi artistik tertata begitu rapi. Production value yang pantas diapresiasi tinggi melihat detail yang begitu diperhatikan. Timing setiap adegannya pun terbilang apalagi ditambah penempatan sound yang tepat dijamin akan membuat anda semakin mengkeret di kursi masing-masing. Sosok mama dengan bantuan CGI itu memang mengerikan di awal karena gerak-geriknya yang tak tertuga tetapi semakin diungkap seiring bergulirnya cerita malah kian kehilangan tajinya.

Para wanita di film ini menunjukkan kelasnya. Pertama, Chastain dengan penampilan gothic eksentrik mampu bertransformasi dari rocker cuek menjadi ibu penuh perhatian. Kedua, Charpentier yang seakan terjebak dalam memori masa lalu sebelum dan sesudah tragedi nyatanya dapat menyadari keadaan yang sesungguhnya. Lihat bagaimana sebuah kacamata mengubah visinya 180 derajat. Ketiga, Nelisse yang lebih mirip sebagai hewan liar itu benar-benar terlihat polos. Momen saat ia berontak dalam pelukan Annabel cukup menyentuh bagi saya.

Mama memulainya dengan begitu sempurna lewat potongan-potongan gambar dan cerita yang belum tersusun rapi. Namun memasuki paruh kedua dimana puzzle sudah mulai terbentuk nyata, horor ini terasa sedikit kehilangan gregetnya. Ending yang agak overlong demi mengejar aspek ketakutan dan keharuan sekaligus malah menurunkan mood saya. Meski demikian, kualitas keseluruhannya masih di atas film-film bergenre sejenis yang beredar beberapa tahun terakhir. Setidaknya Mama memiliki hati daripada sekadar menebar teror yang membuat anda memekik.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$68.273.535 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Februari 2013

A GOOD DAY TO DIE HARD : A Bad Way To Stay Alive


Quotes:
John McClane: Need a hug?

John McClane Jr.: We're not a hugging family.
John McClane: Damn straight!


Nice-to-know:
Seri Die Hard pertama yang disyut dengan kamera film Fuji. Empat sebelumnya menggunakan Kodak.

Cast:
Bruce Willis sebagai John McClane
Jai Courtney sebagai Jack McClane
Sebastian Koch sebagai Komarov
Mary Elizabeth Winstead sebagai Lucy
Yuliya Snigir sebagai Irina
Radivoje Bukvic sebagai Alik
Cole Hauser sebagai Collins
Sergei Kolesnikov sebagai Chagarin

Director:
Merupakan feature film kelima bagi John Moore setelah terakhir Max Payne (2008).

W For Words:
Jika icon action baru di Hollywood hanya bertahan melalui satu atau dua judul film saja maka yang dapat dilakukan produser adalah memberi kepercayaan kembali pada icon lawas sebut saja Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis. Nama terakhir (sekaligus yang termuda) ini memang mencuat sejak Die Hard (1988) yang diikuti oleh Die Hard 2 : Die Harder (1990), Die Hard With A Vengeance (1995) dan Live Free or Die Hard (2007). Lebih dari lima tahun kemudian, muncullah seri kelimanya yang secara mengejutkan rilis di bulan Februari alias bukan summer period! Are you kidding me?

Detektif John McClane terbang ke Moscow dengan satu tujuan, membawa pulang putranya Jack yang dituduh melakukan pembunuhan. Padahal Jack adalah anggota CIA yang tengah menjalankan misi mendekati tahanan politik, Yuri Komarov yang memiliki berkas tersembunyi yang akan memberatkan politikus Chagarin. John yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya nyaris menimbulkan kekacauan ketika mengejar Jack di jalan raya. Pada akhirnya ayah dan anak yang tidak akur ini harus bertandem untuk membereskan segalanya. 

Penulis skrip Skip Woods memang masih setia dengan karakter original John McClane rekaan Roderick Thorp tapi entah mengapa saya merasa semua tokoh dalam seri ini teramat satu dimensi alias dangkal. Hubungan ayah-anak John dan Jack yang seharusnya menjadi highlight tersendiri pun gagal memunculkan chemistry yang believable. Sebagian di antaranya bahkan dibantu oleh dialog termasuk keinginan John agar Jack memanggilnya ayah, dari awal sampai akhir! Sosok antagonis yang biasanya menjadi nilai jual franchise pun tidak sampai benar-benar mencuat ke permukaan. Lantas apa yang tersisa selain konflik linier yang juga tak terlalu istimewa itu?

Sutradara Moore berupaya menutupi setiap kekurangan plot ceritanya dengan bombardir adegan aksi sejak menit pertama. Sayangnya semua kecanggihan spesial efek itu hanya membuat saya menahan nafas sesekali tapi tak mampu memuaskan segenap indera. Bagaimana penghancuran puluhan mobil di jalan raya selama paruh pertama film itu jadi begitu mengganggu karena seorang detektif senior sekelas John McClane bertingkah laku begitu konyol ketika menguber puteranya sendiri. Jelas bukan modal yang meyakinkan saya untuk memberi rekomendasi positif.

Terlepas dari faktor usia yang semakin senja, setidaknya Willis masih meyakinkan sebagai bad ass hero John McClane. Ia tidak sendiri karena McClane Jr alias Jack juga sama tangguhnya. Courtney yang mencuat lewat serial Spartacus sudah memiliki postur yang mendukung tapi belum mampu menyaingi kharisma Willis disini. Penampilan Koch yang biasanya kuat dan berwatak menjadi lemah karena ketipisan karakternya. Pun begitu dengan Snigir sebagai Irina atau Kolesnikov sebagai Chagarin yang tak lebih selain mempertebal nuansa Russian dalam film ini.

Dengan segala kekurangannya, Die Hard ini masih berharap meraih keuntungan maksimal dengan sepinya persaingan film awal tahun. Perlu diketahui bahwa versi IMAX nya hanya memikat pada pertarungan akhir di dalam gedung. Selebihnya, regular version is more than enough. Pecinta action movies rasanya masih dapat terpuaskan. Namun penggemar franchise Die Hard besar kemungkunan akan kecewa dan beranggapan bahwa seri ini adalah yang terlemah dari keseluruhan. Tetap penasaran menyaksikan kegilaan bukan hanya satu tetapi dua McClane yang sama-sama ‘susah mati’ tersebut?

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 29 Januari 2013

A Journey Has Begun..


Setelah empat tahun berjalan, blog ini telah membawa saya ke dunia baru yang tidak pernah terpikir untuk dimasuki, FILM-MAKING! Bukan apa-apa, saya hanyalah satu dari sekian penikmat film sekaligus pengunjung bioskop yang setia dengan tujuan mengisi waktu sekaligus melihat jendela kehidupan seseorang yang mungkin tidak akan pernah saya alami sendiri. Saya percaya sebuah film selalu memiliki sisi plus minus yang dapat dieksplorasi. Itu saja!

Tujuan awal membuat blog pun lebih untuk kepentingan pribadi yaitu mendokumentasikan opini saya sendiri terhadap sebuah film yang sudah saya tonton. Siapa yang bisa mengira jika hingga hari ini, ribuan orang per harinya mengakses Database Film sebagai referensi terpercaya mereka. Saya tidak jumawa melainkan bersyukur, tulisan saya ada yang baca dan setidaknya dirasa bermanfaat. Kerja keras saya begadang nyaris tiap malam menuangkan pikiran pun tidak sia-sia.

Saya bukanlah seorang moviesnob. Referensi film atau pengetahuan tentang film yang dimiliki mungkin tidak seluas rekan-rekan movieblogger atau moviereviewer lainnya. Kemampuan saya berdiskusi aktif dengan mereka bisa jadi kalah baik. Kerapkali saya butuh waktu untuk mencerna sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan Sebuah bentuk komunikasi yang selalu saya pilih sejak dahulu, mengingat kepribadian pemalu dan introvert yang memang sudah melekat dalam diri sejak usia dini.

Review pertama saya adalah Laskar Pelangi di bulan Oktober 2008, hanya satu paragraf dengan beberapa kalimat. Perlahan mulai mengembangkan rentang penilaian dari berbagai sisi karena saya menyadari, film memiliki banyak dimensi yang bisa ditelaah. Lambat laun, tulisan-tulisan saya khususnya film lokal membawa kesempatan bagi saya untuk mengenal secara pribadi para pelaku industri perfilman nasional mulai dari aktor, aktris, sutradara, produser dsb. Memang tidak semuanya terang-terangan bisa diajak bicara ataupun tatap muka, tapi saya selalu menghargai usaha mereka yang tidak kecil dalam berkarya.

Tak selamanya tulisan saya menyenangkan untuk dibaca, terkadang bisa pedas menyinggung. Saya selalu berusaha jujur, faktor mengenal atau tidak filmmakernya sebisa mungkin dikesampingkan demi obyektifitas murni. Satu pedoman yang selalu saya pegang, identifikasi lah film mana yang dibuat dengan hati dan niat baik. Jika sebuah film sudah dibuat dengan bumbu-bumbu di atas tapi hasil akhirnya masih kurang baik, bolehlah anda memberi masukan, tak melulu menghujat. Terkadang orang yang mau maju itu butuh input untuk memperbaiki. Peran kita sangat dibutuhkan di sini. Bukankah sesama manusia wajib saling mengingatkan?

Jumat, 25 Januari 2013

DREAM OBAMA : Kampanye Antik ‘Yes We Can’ Damien Dematra


Quote:
Kakek Hendra: Kamu harus berani, ga boleh nangis, ga boleh cengeng.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Damien Dematra Production ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Natasha Dematra
sebagai Margareth
Ayu Azhari sebagai Maryam, ibu Margareth
Pong Hardjatmo sebagai Hendra, kakek Margareth
Rahayu Saraswati sebagai Leticia
Radhit Syam sebagai Bintang
Azka Liansyah sebagai Willy
Steve Emmanuel sebagai Dokter
Ari Wibowo
Dorce Gamalama
Tracy Trinita

Director:
Merupakan film keempat yang disutradarai Damien Dematra.

W For Words:
Apa lagi yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh seorang Damien Dematra dimana namanya sudah tercatat sebagai salah satu filmmaker lokal? Rekor pembuatan film tercepat yang diakui oleh Royal World Record lewat film ini yaitu 9 hari 17 jam dan 45 menit? Sebegitu pentingkah pencapaian-pencapaian tersebut baginya? Bukankah tujuan terpenting film hanyalah sesederhana media komunikasi antara pembuat dan penontonnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut padanya. Bisa jadi anda akan tercengang mendengar jawaban diplomatisnya. Bisa jadi..

Hendra selalu terinspirasi oleh sosok Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih kembali. Obama dream statue yang berada di sekolah Asisi juga memperkenalkan cucunya yang baru pindah, Margareth Kurniawan untuk pantang menyerah mengejar mimpinya. Tak sia-sia karena prestasi Margareth begitu memuaskan hingga membuat teman sekelasnya, Bintang dan Willy iri. Kecelakaan mobil membuat Hendra mengalami koma dan Margareth menderita kebutaan. Akankah ketidakmampuan itu menurunkan semangat Margareth?
 
Damien pernah mengeksplorasi sosok Obama kecil mengenyam pendidikan dalam skrip Obama Anak Menteng (2010). Sempat terjadi kontroversi yang akhirnya ‘hanya’ mengukuhkan nama John De Rantau seorang di kursi sutradara. Kali ini Damien kembali menulis skripnya sendiri yang sayangnya memulai dengan sesuatu yang salah. Kelas sekolah dibuka dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris antara anak lokal dan bule. Jika tujuannya untuk melucu, saya tidak melihat unsur jenakanya samasekali. Lantas dilanjutkan dengan ‘kompetisi’ aneh yang mulai dari ujian tertulis hingga balap karung antara siswa dan siswi? Nalar saya seakan berpindah ke bagian tubuh paling bawah.

Dramatisasi tak berkesudahan kemudian menjadi menu utama. Entah kenapa saya merasa sosok Natasha Dematra malah dieksploitasi sedemikian rupa di atas upaya aktingnya yang masih dapat dihargai. Margareth digambarkan seharusnya mengundang simpati orang-orang di sekitarnya maupun penonton yang menyaksikannya. Entah kenapa bangunan konflik yang terlalu instan dan tidak terjalin padu satu dengan lainnya membuat semuanya menjadi blur. Penyelesaian penderitaan melalui kematian seakan opsi satu-satunya agar pesan yang disampaikan bisa langsung menohok. Benarkah begitu?
 
Damien sebagai sutradara tampak kian menurunkan standar penggarapannya mulai dari Si Anak Kampung, L4Lupus hingga yang satu ini. Intrusi dialog kerapkali berlomba-lomba dengan gerak bibir cast. Pencantuman subtitel bahasa Inggris juga tidak terlalu membantu, mungkin berharap perhatian penonton sedikit teralihkan dari kekurangan-kekurangan yang tampak di depan mata mereka. Sinkronisasi musik latar untuk membangun suasana malah banyak yang tidak pas. Mungkin cuma Damien dan Tuhan yang tahu, seberapa keras usaha Virda Anggraini untuk menata gambarnya secara ‘wajar’.
    
Dream Obama tinggal menyisakan footage video Barack Obama sebagai satu-satunya part yang watchable. Selebihnya adalah siksaan batin tanpa landasan logika yang memaksakan setiap fungsi dalam film berjalan terseok-seok menuruti durasi film. Tampak wajah-wajah lega selepas meninggalkan gedung bioskop. Secara tidak langsung, ini adalah kampanye DD dalam menyuarakan semangat “Ayo, kita bisa!” dalam mengatasi setiap masalah yang menghadang, besar ataupun kecil walaupun bukan dengan cara yang istimewa sekalipun. Ia melupakan fakta jika penonton film nasional sudah lebih istimewa sekarang.

Durasi:
87 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 24 Januari 2013

TIGA SEKAWAN : IIHH.. HANTU..!!! Persahabatan dan Eksplorasi Mahkluk Gaib

Quote:
Zee: Kita harus baca doa dulu, Jo. Supaya hantunya takut..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Global Pictures ini tidak mengadakan press screening ataupun gala premiere.

Cast:
Rizky Black
sebagai Zee
Stefhani Zamora Husen sebagai Flo
Dandy Rainaldy sebagai Jo
Dede Yusuf Effendi
Rizky Hanggono
Virnie Ismail
Tike Priatna Kusumah

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ivan Alvameiz.

W For Words:
Tanpa gaung, tanpa iklan, tanpa promo, film anak-anak yang satu ini melenggang ke bioskop seluruh Nusantara. Sebegitu percaya dirikah produser Ferry Noerdin Lawadue? Atau justru ketiadaan bujet untuk melakukan itu semua? Saya jadi ingat kasus Keumala tahun lalu yang tiba-tiba muncul di hari Kamis tanggal 1 Maret. Mungkin hanya Tuhan dan mereka yang tahu. Kita sebagai penonton pun dibebaskan untuk membuat keputusan, tahu atau tidak tahu. Dua opsi yang pada akhirnya berujung pada nonton atau tidak nonton? Silakan tentukan pilihan anda sekarang juga.

Zee, Flo dan Jo belajar di sebuah sekolah negeri yang sama. Ketiganya bersahabat karib meski memiliki karakter dan status sosial yang berbeda satu sama lain. Organisasi kepramukaan merencanakan camping ke desa Jatinangor. Zee yang ketakutan terus menerus dibujuk kedua temannya. Bukan apa-apa, orangtua sejak awal digambarkan menggunakan momok hantu agar anak-anak tidak membangkang. Berbagai cara dilakukan Flo dan Jo termasuk membuat riset mengenai hantu hutan demi meyakinkan Zee. Benarkah hantu itu ada?

Skrip yang ditulis oleh Ivan Alvameiz ini samasekali mengabaikan strukturalisme sastra yang baku. Nyaris tak ada garis lurus yang dapat ditarik sejak menit pertama hingga terakhir. Jikapun menurutnya ada, keseluruhan sekuens alur sangatlah mengganggu. Ivan yang juga duduk di kursi sutradara tampak terlalu sibuk menerjemahkan ide-idenya sendiri tanpa peduli apakah daya tangkap penonton sama dengannya. Alhasil durasi yang sekian menit kurang dari dua jam ini begitu menyiksa dengan segala tetek bengek yang mengaburkan mana plot utama, mana subplot tambahan.
 
Peran orangtua dalam memberi pengertian pada anak-anaknya terutama yang menyangkut hal-hal mendasar amat diperlukan. Pertama, menstruasi yang dialami Flo, papa mamanya malah malu daripada menjelaskan secara benar. Kedua, sifat klenik yang dimiliki Jo, papa mamanya malah terbirit-birit dibanding menerangkan secara rasional. Tunggu, ada yang aneh, dalam dua scene itu orangtua sama-sama diperankan Rizky Hanggono. Apakah Flo dan Jo kakak beradik? Atau mereka hanya dua sahabat yang tinggal serumah? Mohon koreksi jika ada pembaca yang kebetulan lebih cermat dalam menonton.

Peran sekolah dalam memberi pendidikan pada siswa-siswinya tidak digambarkan secara detail. Kepala pembina yang dimainkan oleh Dede Yusuf Effendi cuma berpesan pada Zee, Flo dan Jo. Selebihnya? Mereka bertualang sendiri. Apakah aturan melarang murid membawa ponsel masih berlaku di jaman sekarang hingga Flo bersusah payah menyembunyikan di ketiaknya? Benarkah Zee yang katanya miskin sampai terkesan tidak pernah memegang ponsel sekalipun? Mengingat kedua temannya, Flo dan Jo justru sibuk ‘berinteraksi’ dengan gadget yang jauh lebih modern.

Pada end credit title tertera, “Nantikan petualangan selanjutnya.” Sebuah optimisme yang pantas diacungi jempol. Terus terang saya tidak mengerti dimana letak istimewanya penggunaan judul dan subjudul Tiga Sekawan : Iihh Hantu. Satu alasan yang mungkin mendasari adalah konsistensi pembahasan hantu di dalam konten filmnya meski lebih dominan dalam ranah tak berpati. Mengajak untuk tidak takut atau justru semakin takut? Arti persahabatan yang menjadi misi di sini pun terbilang dangkal sehingga tak banyak pesan yang dapat diambil kecuali teman tak saling meninggalkan.

Durasi:
116 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Sumber Foto: KapanLagi.com

Rabu, 23 Januari 2013

MATRU KI BIJLEE KA MANDOLA : Quirky Characters Underutilized Satire Comedy


Quotes:
Bijlee: Baru aku tau kenapa kau suka miras. Kebenaran tak akan terasa pahit jika kau sedang mabok.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Vishal Bhardwaj Pictures dan Fox STAR Studios ini rilis di India pada tanggal 11 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Imran Khan sebagai Matru
Anushka Sharma sebagai Bijlee
Pankaj Kapur sebagai Mandola
Arya Babbar sebagai Badal
Shabana Azmi sebagai Deviji


Director:
Merupakan
feature film ketujuh bagi Vishal Bhardwaj setelah terakhir 7 Khoon Maaf (2011).

W For Words:
Sudah cukup lama rasanya saya absen menonton film India. Melihat rilis mendadak film ini di jaringan bioskop 21, perhatian saya langsung tertuju pada posternya yang unik plus nama Imran Khan dan Anushka Sharma, dua calon mega bintang Bollywood di masa mendatang. Kebetulan sekali, kawan movieblogger saya, Haris dari Medan yang sedang berkunjung ke Jakarta mau menemani. Setidaknya pertukaran opini dapat terjadi sekaligus memperkaya sudut pandang penilaian. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan jika anda nonton seorang diri.

Desa Haryana secara tidak langsung dikuasai oleh penduduknya yang paling kaya raya, Harry Mandola yang berkonspirasi dengan politikus licik, Deviji dalam mengakali tanah pertanian milik warga miskin demi membangun lahan industri. Harry yang juga kecanduan alkohol memiliki putri cantik, Bijlee yang akan dijodohkan dengan putra Deviji, Baadal. Tangan kanan Harry, Matru yang diam-diam menyukai Bijlee berupaya membalikkan keadaan dengan menggunakan identitas palsu bernama Mao. Bagaimana akhir dari konflik yang saling terkait ini?

Vishal Bhardwaj yang menulis skrip bersama Abhishek Chaubey ini sesungguhnya memiliki ide yang brilian dengan nuansa politik satir yang kental. Sayangnya inkonsistensi fokus kerap mengambil minat penonton untuk tetap terjaga. Paruh pertamanya penuh dengan intrik dimana masing-masing tokohnya terlihat memiliki kepentingan. Namun paruh keduanya justru sibuk membongkar cinta segitiga yang tiada juntrungannya sebelum diakhiri dengan konklusi yang tidak terlalu memuaskan juga. Setidaknya saya menghargai ‘fakta putar balik’ seorang Mandola saat sadar atau mabuk. This is twisting!

Pankaj Kapur memang “bintang” nya kali ini. Mandola di tangannya terasa energik, berkeinginan kuat walau sulit diterka. Kapur juga berinteraksi secara hidup dengan Imran dan Anushka di setiap scene bersama. Sosok Bijlee dihidupkan Anushka dengan lugas, menggoda tapi tetap berpendirian. Tokoh Matru dilakoni Imran dengan cerdik, koperatif dan pantang menyerah. Aksen dan penggunaan bahasa dari aktor-aktris di sini terkadang sulit ditangkap. Beberapa terbantu oleh kemunculan subtitel untuk memahami dialognya.

Matru ki Bijlee ka Mandola mempunyai plot cerdas yang berlapis-lapis tapi tidak dikembangkan dengan maksimal dalam bertutur, cenderung menghabiskan durasi saja. Beruntung dukungan scoring musik berkali-kali mampu menghidupkan suasana terlebih ketika kemunculan kelompok penyanyi dan penari Zulu. Sebagai sebuah komedi, film ini berpijak di antara slapstick dan humor efektif, kerapkali gagal membangun tawa penonton yang tidak memahami dimana letak kelucuannya. Setidaknya ‘gaya bebas’ Bhardwaj dalam menyutradarai pantas diapresiasi, apalagi peringatan-peringatan yang diusungnya sebagai pembuka film. Ready to get drunk and meet pink buffalo?

Durasi:
145 menit

Overall:
7 out of 10 

Movie-meter:

Minggu, 20 Januari 2013

HOPE SPRINGS : Basic Ingredients For Marriage Reconnection


Quotes:
Dr. Feld: What about oral sex?
Kay: I wasn't... I wasn't comfortable with that.
Dr. Feld: Giving or receiving?
Kay: [pause] Huh?  


Nice-to-know: 

Film Perancis yang disaksikan Kay dan Arnold di bioskop adalah Le dîner de cons, yang diremake menjadi Dinner for Schmucks dengan bintang Steve Carell.

Cast: 
Meryl Streep sebagai Kay
Tommy Lee Jones sebagai Arnold
Steve Carell sebagai Dr. Feld
Jean Smart sebagai Eileen, Kay's Friend
Ben Rappaport sebagai Brad, Their Son
Marin Ireland sebagai Molly, Their Daughter


Director: 
Merupakan feature film kelima bagi David Frankel setelah terakhir The Big Year (2011).

W For Words: 
Hanya berselang dengan The Iron Lady (2011) yang mengantarnya kembali meraih Piala Oscar, Meryl Streep (63 tahun) bermain dalam drama roman komedi bersama lawan main yang sepantaran usianya. Jika Steve Martin (64 tahun) dan Alec Baldwin (51 tahun) sudah mengiringinya dalam It’s Complicated (2009) maka kali ini giliran Tommy Lee Jones (66 tahun) yang mendampinginya. Prolog saya ini tidak bermaksud membicarakan orang di usia lanjut karena menjadi tua adalah sebuah proses hidup. Duet Black dan Casady rupanya melihat konsep ini secara cermat hingga sepakat memproduserinya.

Paska peringatan hari jadi ke-31, Kay dan Arnold menyadari bahwa api cinta mereka mulai memudar, terlihat dari tidur berbeda kamar dan jarang melakukan kontak fisik. Kay yang putus asa menghubungi penulis buku sekaligus konselor pernikahan, Dr. Feld untuk menjadwalkan terapi baginya. Arnold awalnya menolak mentah-mentah tapi dengan berat hati menuruti kemauan istrinya itu. Perjalanan lintas kota pun dilakoni. Dr. Feld menelusuri akar pemasalahan dan menganjurkan sesi sepanjang minggu. Berhasilkah Kay dan Arnold menjalani semua proses tersebut dari awal?

Vanessa Taylor yang menulis skrip ini tampak memahami betul sensitifitas wanita berumah tangga. Ada satu mitos yang selalu saya benarkan, pria cenderung tertidur setelah orgasme sehingga wanitanya merasa diabaikan. I’m sure this happen to all of you. Okay, let’s get back to topic! Saya menikmati setiap tahap reconnect antara Kay dan Arnold di sini mulai dari yang biasa hingga paling ekstrim sekalipun. Tak lupa proses penuaan juga diterjemahkan dengan begitu baik dari bahasa tubuh maupun aktifitas keseharian yang perlahan-lahan bergeser.

Meryl Streep masih terlihat cantik dan seksi di usia sekarang ini. Auranya begitu kuat terpancar di setiap kemunculannya. Karakter Kay di tangannya begitu rapuh dan konvensional. Menarik melihat Tommy Lee Jones bermain dalam film semacam ini setelah sekian lama. Karakter Arnold digambarkan keras kepala dan berjiwa petualang tetapi takut untuk mengakuinya. Chemistry keduanya cukup kuat, tergambar dari kecanggungan intimacy yang believable. Anda tidak akan menemukan Steve Carell yang slapstick dan eksplosif disini melainkan sosok dokter intelek nan sabar. 

Pengalaman panjang David Frankel dalam menggarap serial televisi sukses Sex and the City (2001-2003) memang berpengaruh pada kesan episodik dari satu scene ke scene lain. Kinerja kamera repetitif memperlihatkan Kay memasak telor mata sapi beserta sosis dan Arnold tertidur menyaksikan acara golf semakin menegaskan kebosanan rutinitas di antara keduanya. Pertukaran dialog suami istri tersebut tergolong realistis tanpa harus didramatisir. Dukungan musik latar yang minim dan sederhana membuatnya terasa kian nyata.

Hope Springs mengajak penonton untuk menjadi pengamat sebelum memutuskan, tanpa bermaksud menguliahi. Kesimpulan yang akhirnya berujung pada penerimaan terhadap kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing selain penghargaan yang ditunjukkan melalui afeksi nyata. Cinta kerapkali terkikis oleh waktu yang tak jarang bermuara pada ketidak bahagiaan. Pada akhirnya kendali ada di tangan kita, mau memperbaharui cara memasak atau menambahkan bumbu baru? Bagi saya sih simpel, ingatlah saat pertama anda jatuh cinta kepadanya walau terkadang tanpa alasan spesifik.

Durasi: 
100 menit

U.S. Box Office: 
$63,536,011 till Oct 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 19 Januari 2013

LES MISERABLES : Showcasing Sacrifice, Change, Hope In Live Adaptation


Quotes: 
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!

Nice-to-know: 

Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.

Cast: 
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine


Director: 
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.

W For Words: 
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara.  Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!

19 tahun dipenjara karena mencuri roti untuk diberikan pada saudaranya, Jean Valjean akhirnya dibebaskan dalam pengawasan ketat penegak hukum Javert. Jean dipekerjakan oleh pendeta baik hati sampai berhasil menjadi pengusaha sukses dengan nama palsu. Nasib mempertemukannya dengan Fantine, mantan buruh pabrik yang terpaksa melacur demi menghidupi putrinya, Cosette yang dibesarkan oleh pasangan pencuri kejam Thénardier dan Madame Thénardier. Sepeninggal Fantine, Jean sepakat membesarkan Cosette sampai beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Marius, pemberontak revolusi. Jalanan Perancis lantas jadi saksi pergulatan takdir melawan gejolak politik yang kian memanas. 

Pencapaian Hooper sebagai sutradara dalam film ini perlu diapresiasi tinggi. Ketajaman visinya menghidupkan suasana Perancis di masa lampau tidak hanya detail tetapi juga epik. Desain produksi termasuk tata rias dan tata kostum betul-betul diperhatikan unsur estetikanya. Kebulatan hatinya untuk tetap meminta aktor-aktrisnya bernyanyi live di lokasi syuting daripada merekam di studio paska produksi terbukti semakin mempertajam pengalaman musikal yang sinematik. Lihat bagaimana ia membuka dan menutup film dengan stylish dan memorable. Wonderful!

Penampilan terbaik menurut saya jatuh pada Hathaway dan Redmayne. Meskipun Fantine hanya kebagian porsi minor, ia seakan menyanyikan isi hatinya dengan begitu lugas. Upaya Jackman pantas dihargai karena penonton dapat merasakan emosinya dalam rentang waktu yang begitu panjang. Beberapa track favorit saya tentu saja Look Down, I Dreamed A Dream dan On My Own. Menarik melihat debut Samantha Barks dan pelakon cilik Daniel Huttlestone disini. Jangan lupakan juga sumbangsih Baren Cohen dan Bonham Carter sebagai pasangan antagonis tersebut.

Kekurangan yang cukup mencolok ada pada Crowe dengan kemampuan bernyanyi yang begitu terbatas tapi justru ini membuatnya believable. Lihat bagaimana Hooper banyak menyiasati ketika Javert menyanyi dengan tidak menyorot wajahnya melainkan scene panoramik yang megah. Seyfried sendiri tampak terlalu terbebani dengan peran Cosette yang krusial sehingga membuatnya kurang lepas dalam berakting. Secara keseluruhan, mereka saling mengisi dengan plus minus masing-masing, memberikan dimensi interpretasi karakter yang begitu emosional.

Les Misérables memang bukan film musikal biasa, bisa jadi luar biasa bagi anda yang sudah sangat familiar dengan cerita dan pertunjukannya. Namun bagi sebagian orang yang tidak terbiasa, mungkin akan menyiksa apalagi tidak semua unsur melodi dapat menyatu sempurna dengan pelafalan dialognya. Durasi nyaris tiga jam dengan total 49 lagu yang berkumandang jelas membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak kehilangan esensinya di tengah-tengah. Kombinasi pengorbanan cinta, perubahan dunia, pengharapan tanpa batas membuatnya pantas menyandang status ‘istimewa’. I liked this but don’t think that second viewing is necessary to do.

Durasi: 
157 menit

U.S. Box Office: 
$118,723,185 till Jan 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 18 Januari 2013

CHINESE ZODIAC : You’ve Seen These Actions Before


Quote: 
Vulture: I can kick your ass without leaving this couch.
JC: Show me.  


Nice-to-know: 

Jackie Chan mencatatkan diri dalam Guinness World Record sebagai empunya kredit terbanyak dalam sebuah film yaitu 15, menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Robert Rodriguez dengan 11.  

Cast: 
Jackie Chan sebagai Asian Hawk
Oliver Platt sebagai Lawrence Morgan
Laura Weissbecker sebagai Katherine
Caitlin Dechelle sebagai Katie
Emilie Guillot sebagai French Reporter
Rani Bheemuck sebagai Indian Reporter
Alaa Safi sebagai Vulture
Zhang Lanxin
Kwon Sang Woo
Liao Fan


Director: 
Merupakan film ke-16 yang disutradarai oleh Jackie Chan setelah terakhir 1911 (2011).

W For Words: 
Aksi akrobatik Jackie Chan tentu bukan hal baru lagi, terlebih bagi anda para penikmat film Mandarin sejak tahun 90an, atau bahkan 80an. Ayolah, tak perlu malu berbicara umur. JC saja di usia 57 tahun masih berani mempertontonkan kebolehannya yang fenomenal itu. Filmnya yang ke-101 ini diidentifikasikan oleh banyak pihak sebagai remake tak resmi dari Armor of God (1986) yang diikuti oleh sekuelnya Armor of God II : Operation Condor (1991). Bahkan di China sendiri beredar versi IMAX 3D nya meski sebetulnya cukup dinikmati dalam versi 2D saja.

Pebisnis kaya sekaligus pengumpul barang antik, Lawrence Morgan terobsesi mengumpulkan 12 artefak kepala shio hingga mengutus pemburu harta karun, JC dan mengganjarnya satu juta dollar untuk setiap temuannya. JC bersama timnya berangkat ke Paris demi bertemu Coco, wanita Cina yang bertekad mengembalikan semua peninggalan ke negerinya. Dalam perjalanan mencari Summer Palace yang juga diincar oleh banyak pihak, Duchess Katherine yang menanggung hutang kakek buyutnya menawarkan bantuan. 

Butuh empat orang untuk merampungkan skrip ini, masing-masing Frankie Chan, Jackie Chan, Edward Tang, Stanley Tong. Premisnya memang mirip dengan franchise cult Indiana Jones atau yang lebih baru National Treasure, ekspedisi harta karun yang melibatkan berbagai kelompok sebelum saling berseteru untuk jadi pemenang mutlak. Sayangnya chapter demi chapter dalam film ini terasa disconnected, perpindahannya tidak smooth dan terkesan dipaksakan. Konfliknya pun ditarik ulur sedemikian rupa sampai diakhiri dengan kurang logis. 

JC memang seorang yang berbakat sekaligus ambisius. Multitasking yang dilakukannya disini tak kurang dari 15! Tetap saja tugas terberat adalah produser, sutradara dan tentunya aktor. Jika anda sempat melihat behind the scene yang mengiringi end credit, beberapa adegan disyut dengan kamera otomatis. Luar biasa! Khusus akting, harus diakui faktor umur sudah melimitasinya walaupun kekerasan hati untuk masih melakukan sebagian besar adegan tanpa stuntman harus diacungi jempol. Namun keseluruhan aksinya itu nyaris tidak menawarkan hal baru. Predictable!

Sesungguhnya Chinese Zodiac memiliki pesan yang mulia, “Hargailah setiap peninggalan antik dengan mengembalikannya pada pihak yang memang berhak menyimpannya”. Hanya saja durasi dua jam dirasa terlalu panjang apalagi kebanyakan diisi dengan plot-plot tidak penting yang gagal menyunggingkan senyum atau memacu detak jantung. Berbagai tokoh dengan kebangsaan yang berbeda-beda juga mengganggu karena tidak semuanya fasih berbahasa Inggris. Saya berharap mudah-mudahan kemunculan “terakhir”nya dalam tipikalitas produksi Hongkong ini  masih mampu menghibur anda. Mind the story, just enjoy the action!

Durasi: 
120 menit

China Box Office: 
$127,000,000 till Jan 2013

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter: