XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label pong hardjatmo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pong hardjatmo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

DREAM OBAMA : Kampanye Antik ‘Yes We Can’ Damien Dematra


Quote:
Kakek Hendra: Kamu harus berani, ga boleh nangis, ga boleh cengeng.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Damien Dematra Production ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Natasha Dematra
sebagai Margareth
Ayu Azhari sebagai Maryam, ibu Margareth
Pong Hardjatmo sebagai Hendra, kakek Margareth
Rahayu Saraswati sebagai Leticia
Radhit Syam sebagai Bintang
Azka Liansyah sebagai Willy
Steve Emmanuel sebagai Dokter
Ari Wibowo
Dorce Gamalama
Tracy Trinita

Director:
Merupakan film keempat yang disutradarai Damien Dematra.

W For Words:
Apa lagi yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh seorang Damien Dematra dimana namanya sudah tercatat sebagai salah satu filmmaker lokal? Rekor pembuatan film tercepat yang diakui oleh Royal World Record lewat film ini yaitu 9 hari 17 jam dan 45 menit? Sebegitu pentingkah pencapaian-pencapaian tersebut baginya? Bukankah tujuan terpenting film hanyalah sesederhana media komunikasi antara pembuat dan penontonnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut padanya. Bisa jadi anda akan tercengang mendengar jawaban diplomatisnya. Bisa jadi..

Hendra selalu terinspirasi oleh sosok Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih kembali. Obama dream statue yang berada di sekolah Asisi juga memperkenalkan cucunya yang baru pindah, Margareth Kurniawan untuk pantang menyerah mengejar mimpinya. Tak sia-sia karena prestasi Margareth begitu memuaskan hingga membuat teman sekelasnya, Bintang dan Willy iri. Kecelakaan mobil membuat Hendra mengalami koma dan Margareth menderita kebutaan. Akankah ketidakmampuan itu menurunkan semangat Margareth?
 
Damien pernah mengeksplorasi sosok Obama kecil mengenyam pendidikan dalam skrip Obama Anak Menteng (2010). Sempat terjadi kontroversi yang akhirnya ‘hanya’ mengukuhkan nama John De Rantau seorang di kursi sutradara. Kali ini Damien kembali menulis skripnya sendiri yang sayangnya memulai dengan sesuatu yang salah. Kelas sekolah dibuka dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris antara anak lokal dan bule. Jika tujuannya untuk melucu, saya tidak melihat unsur jenakanya samasekali. Lantas dilanjutkan dengan ‘kompetisi’ aneh yang mulai dari ujian tertulis hingga balap karung antara siswa dan siswi? Nalar saya seakan berpindah ke bagian tubuh paling bawah.

Dramatisasi tak berkesudahan kemudian menjadi menu utama. Entah kenapa saya merasa sosok Natasha Dematra malah dieksploitasi sedemikian rupa di atas upaya aktingnya yang masih dapat dihargai. Margareth digambarkan seharusnya mengundang simpati orang-orang di sekitarnya maupun penonton yang menyaksikannya. Entah kenapa bangunan konflik yang terlalu instan dan tidak terjalin padu satu dengan lainnya membuat semuanya menjadi blur. Penyelesaian penderitaan melalui kematian seakan opsi satu-satunya agar pesan yang disampaikan bisa langsung menohok. Benarkah begitu?
 
Damien sebagai sutradara tampak kian menurunkan standar penggarapannya mulai dari Si Anak Kampung, L4Lupus hingga yang satu ini. Intrusi dialog kerapkali berlomba-lomba dengan gerak bibir cast. Pencantuman subtitel bahasa Inggris juga tidak terlalu membantu, mungkin berharap perhatian penonton sedikit teralihkan dari kekurangan-kekurangan yang tampak di depan mata mereka. Sinkronisasi musik latar untuk membangun suasana malah banyak yang tidak pas. Mungkin cuma Damien dan Tuhan yang tahu, seberapa keras usaha Virda Anggraini untuk menata gambarnya secara ‘wajar’.
    
Dream Obama tinggal menyisakan footage video Barack Obama sebagai satu-satunya part yang watchable. Selebihnya adalah siksaan batin tanpa landasan logika yang memaksakan setiap fungsi dalam film berjalan terseok-seok menuruti durasi film. Tampak wajah-wajah lega selepas meninggalkan gedung bioskop. Secara tidak langsung, ini adalah kampanye DD dalam menyuarakan semangat “Ayo, kita bisa!” dalam mengatasi setiap masalah yang menghadang, besar ataupun kecil walaupun bukan dengan cara yang istimewa sekalipun. Ia melupakan fakta jika penonton film nasional sudah lebih istimewa sekarang.

Durasi:
87 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 12 Januari 2012

MOTHER KEDER : EMAKKU AJAIB BENER Lebih Kurang Arti Keluarga

Quotes:
Mami: Kebahagiaan itu bukan dari apa yang kita dapet tapi dari apa yang kita rasa..


Storyline:
Hidup mapan dengan karir bagus, mobil dan apartemen pribadi membuat Vivi sibuk dengan urusannya sendiri. Ia tak kepalang kaget menyaksikan kekasihnya Valdi malah berselingkuh. Problematika di kantor pun membuat Vivi mengundurkan diri dan memutuskan pulang ke rumah orangtuanya. Kenyataan tak terduga lagi-lagi menghampiri ketika mengetahui adiknya Dinda akan menikah lebih dahulu dengan Bayu. Berhasilkah Vivi menyelesaikan semua masalah pribadinya dan melebur dalam sebuah jalinan keluarga yang utuh terlepas dari segala ke”ajaib”an ayah ibunya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Visi Lintas Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 10 Januari 2012.

Cast:
Ira Maya Sopha sebagai Mami
Qory Sandioriva sebagai Vivi
Jill Gladys sebagai Dinda
Pong Hardjatmo sebagai Papi
Yoga Prasetya sebagai Valdi
Zahra Nurani Farisza sebagai Inka
Yati Surachman sebagai Nenek
Athoy Herlambang sebagai Bayu

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Eko Nobel.

Comment:
Masih ingat dengan Putri Indonesia Fotogenik 2001 yaitu Viyanthi Silvana? Jika tidak, inilah kisahnya yang menginspirasi Reka Wijaya untuk mengembangkan skrip film yang berjudul unik. Seorang ibu merupakan permata keluarga dimana pancaran kasihnya selalu tulus menerangi setiap anggota tanpa terkecuali. Namun bagaimana jika sosok ibu digambarkan eksentrik, bahkan mendapat predikat ajaib? Tentu itulah alasan utama anda untuk menoleh pada film ini.
Ira Maya Sopha memang jagoan dalam berakting. Aktris senior yang satu ini mampu menjiwai peranan “Mami” annoying ataupun “Istri” penggerutu secara natural. Lihat gesturnya yang meyakinkan apalagi dengan bantuan outfit daster, rol rambut bahkan kacamata hitam mentereng. Emosinya pun mampu berbalik 180 derajat dari senang menjadi sedih dengan wajar sesuai tuntutan skenario. Anda akan geregetan sekaligus bersimpati dibuatnya.

Qory Sandioriva dan Jill Gladys memperlihatkan ikatan kakak adik dengan menarik. Respek satu sama lain pun tercipta dengan sendirinya, bagaimana si adik sesungguhnya iri pada kemandirian hidup sang kakak hingga berusaha lari dari rutinitas rumah yang tidak “normal” itu dengan jalan menikah muda. Tokoh Vivi sendiri sangat lekat dengan cerminan wanita ibukota masa kini yang sibuk berkarir sampai melupakan urusan asmaranya sendiri yang tidak terpelihara dengan baik.
Saya jadi teringat pada salah satu curhat teman saya, “Jangan pernah kembali ke rumah orangtua jika sudah bertahun-tahun hidup mandiri dan tinggal sendiri. Jika itu terjadi, maka posisimu akan kembali dari nol di mata orangtua alias diperlakukan sebagai anak kecil kembali.” Itulah yang menimpa tokoh Vivi, dimana ia harus berurusan dengan ayah-ibunya yang ajaib dan ketiga adiknya yang sulit diatur. Ayah ibu akan tetap menjadi orangtua dan putra putri mereka akan selalu menjadi anak-anaknya. Hubungan keluarga tidak pernah mengenal usia atau jabatan sekalipun.

Kekurangan mendasar adalah Eko Nobel terlalu datar dalam menggarap karya perdananya. Film ini seperti takut dikategorikan sebagai drama kekomedian atau komedi kedramaan. Akibatnya fokus cerita menjadi hilang, apakah sentral ada di Mami dengan sudut pandang Vivi? Namun Dinda juga ternyata menyita perhatian besar disini. Melihat penekanan di tokoh ibu ajaib, lebih baik kecemplung sekalian dalam genre komedi slapstick jika tujuan utamanya menghibur. Toh, pesan moral masih bisa diselipkan di berbagai lini tanpa harus kehilangan identitas.
Mother Keder : Emakku Ajaib Bener sesungguhnya dibangun di atas pondasi yang memikat tetapi lemah dalam eksekusi ide. Film ini tak lebih seperti sebuah sinetron tanpa jeda iklan. Terkadang anda akan melirik jam untuk mengetahui berapa lama durasinya sudah berjalan. Setidaknya berbagai adegan konyol akan membuat anda tertawa lepas tanpa banyak berpikir. Jangan lupakan message film ini, esensi orangtua adalah pembangun sekaligus pendukung anda untuk tumbuh dewasa karena di mata mereka, anda akan selalu menjadi anaknya yang teristimewa!

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 30 November 2011

ARISAN! 2 : Reuni Sahabat Lama Rahasia Terkuak

Quotes:
Meimei: Teman datang dan pergi tetapi teman-teman sejati selalu di hati


Storyline:
Delapan tahun berlalu, kini Sakti, Meimei, Andien nyaris menginjak usia 40 tahun. Sakti telah berpisah dengan Nino dimana keduanya sudah memiliki hubungan yang baru masing-masing dengan om Gerry dan brondong glamor Octa. Andien yang ditinggal mati suaminya serta Meimei yang bercerai mulai menyibukkan diri dengan kegiatan ibu-ibu sosialita Jakarta, di antaranya ada dokter Joy dengan asisten keuangannya Ara serta kritikus Yayuk Asmara. Belum lagi Lita yang terus membayangi kehidupan Sakti dan Nino sambil menekuni profesi pengacara hukum. Perkenalan Meimei dengan healer Tom dan bartender Moli mulai memberikan perspektif baru dalam hidupnya terutama rahasia besar yang disimpannya rapat-rapat. Bagaimana mereka mengartikan makna persahabatan panjang yang telah dilalui bertahun-tahun pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films, Mra Media Group, Ezy Productions dan Add Word Productions, gala premierenya diselenggarakan secara megah di Plaza Senayan XXI pada tanggal 24 November 2011.

Cast:
Tora Sudiro sebagai Sakti
Cut Mini sebagai Meimei
Rachel Maryam sebagai Lita
Aida Nurmala sebagai Andien
Surya Saputra sebagai Nino
Pong Harjatmo sebagai Gerry
Rio Dewanto sebagai Octa
Sarah Sechan sebagai Joy
Atiqah Hasiholan sebagai Ara
Adinia Wirasti sebagai Moli
Edward Gunawan sebagai Tom
Ria Irawan sebagai Yayuk Asmara

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Nia Dinata yang lebih banyak bertindak sebagai produser dalam film-film produksi Kalyana Shira Films.

Comment:
Delapan tahun lalu ada sebuah film drama komedi metropolitan yang menghentak dunia perfilman nasional karena mengangkat tema yang cukup “berani”. Adalah Nia Dinata, wanita di balik layar Arisan! (2003) yang mencapai kesuksesan fenomenal itu baik dari raihan jumlah penonton ataupun gaung yang masih sering dibicarakan hingga detik ini (kita bisa pinjam istilah cult untuk penggambarannya). Tepat pada bulan Mei 2011 yang lalu, Kalyana Shira Films sepakat merilis 1000 keping DVD original dalam kemasan yang baru untuk menjawab permintaan pasar yang masih cukup tinggi.
Keputusan tersebut sangat tepat untuk menjadi koleksi penonton lama sekaligus pemanasan penonton baru. Sebab Teh Nia samasekali tidak berbasa-basi untuk memulai sekuelnya ini karena penonton dianggap sudah mengerti akan karakter-karakternya. Meimei, Sakti, Lita, Andien, Nino pun tanpa tedeng aling langsung melanjutkan fase hidup mereka di akhir usia 30an menjelang 40an dimana problematika penuaan,eksistensi, rumah tangga, keturunan dsb mulai menghinggapi mereka.

Sakti & Nino
Tora dan Surya masih “asyik” melebur dalam peran pasangan gay yang memilih jalannya masing-masing setelah sekian lama berkomitmen. Di antara keduanya hadirlah Rio Dewanto dan Pong Harjatmo yang di luar dugaan tampil menggigit. Rio sebagai brondong “super” memang annoying dengan kelakuan sok selebnya sedangkan Pong sebagai sugar daddy sangat diskrit menjaga keutuhan rumah tangganya dengan berbagai pengaturan disana-sini.
Meimei
Kegelisahan Cut Mini di sepanjang film tertangkap kamera dengan baik lewat ekspresi dan bahasa tubuhnya. Kemunculan Edward dan Adinia sedikit banyak mengalihkan perhatiannya. Saya suka interaksi ketiga tokoh ini satu sama lain, permainan fokus kamera yang kerapkali menyorot anggota tubuh tertentu terasa amat personal plus penggunaan bahasa gambar yang ambigu membuat penonton berimajinasi sendiri. Konklusinya pun diserahkan pada pemahaman masing-masing. Dewasa!

Lita & Andien
Aida dan Rachel meneruskan mulut tajam mereka dari Arisan! Sebelumnya. Rachel terlihat lebih matang dengan kesibukan sebagai single parent tak jarang mengurusi abangnya juga. Celotehan-celotehannya dalam bahasa Batak masih mampu mengundang tawa. Aida secara gamblang menjiwai peran wanita yang takut gejala penuaan, hingga membuat karakter-karakter “ramai” yang dimainkan Sarah, Ria, Atiqah bisa masuk secara wajar dalam kehidupan sosialita mereka.
Tiga segmentasi tersebut dicampur adukkan oleh Teh Nia ke dalam drama ensemble dengan banyak babak yang masing-masing memberikan nuansa berbeda. Panorama dari berbagai lokasi syuting juga menguatkan kesan tersebut, mulai dari Jakarta, Magelang (Candi Borobudur) hingga Lombok (Gili Trawangan). Sayangnya ketidak konsistensian jarak pandang yang diambil terkadang mengganggu sinematografi film secara keseluruhan. Belum lagi penempatan scoring music ataupun tembang yang tidak sedinamis prekuelnya.

Konflik-konflik rumit yang melanda setiap tokohnya dalam durasi yang lumayan panjang tiba-tiba diselesaikan begitu saja di menit-menit akhir ending yang agak terkesan antiklimaks. Tidak ada proses yang cukup matang bagi penonton untuk bisa menelusuri jiwa-jiwa galau mereka secara emosional kecuali segmen Meimei yang memang mendapat sorotan lebih. Semudah membalikkan telapak tangan, kesemua karakternya pada akhirnya ditempatkan pada posisi yang happy ending. That’s it!
Jika harus membandingkan; Arisan! (2003) menurut saya adalah film yang smart, simple, witty and fun to watch. Sedangkan Arisan! 2 (2011) ini lebih mencerminkan sisi glam, mature, complex and spiritual. Kedua episode memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Namun ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar “eksis” di dunia nyata (party, holiday) dan dunia maya (Twitter, Facebook) bagi kaum hedon metropolitan tersebut yaitu persahabatan jangka panjang melewati suka dan duka. Itulah yang ingin digarisbawahi oleh Teh Nia lewat sajian dialog berbobot nan menohok.

Durasi:
119 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 19 April 2011

SI ANAK KAMPOENG : Perjalanan Masa Kecil Sang Guru Bangsa

Quotes:
Awak akan terus berjalan, sampai mimpi dapat tergapai dengan sendirinya..

Storyline:
Syafii Maarif terlahir dari keluarga Sumatera Barat yang masih menganut paham matriarkat. Sayangnya ibunya Fathiyah sudah meninggalkannya sejak kecil hingga ia tumbuh bersama ayahnya Ma’rifah yang terus membekalinya dengan ilmu pengetahuan. Kesulitan belajar mulai dirasakan Syafii hingga ia bertemu Onga Sanusi, seorang tokoh dan pengajar Muhammadiyah yang mulai membuka pikirannya. Syafii memutuskan untuk merantau suatu saat nanti hingga kelak menjadi Buya Syafii Maarif yang juga dikenal sebagai Guru Bangsa.

Nice to know:
Diproduksi oleh Maarif Production dan Damien Dematra Production dimana premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 19 April 2011.

Cast:
Radhit Syam sebagai Syafii/Pi’i
Pong Hardjatmo sebagai Onga Sanusi
Lucky Moniaga sebagai Ma'rifah
Virda Anggraini sebagai Fathiyah
Ayu Azhari
Maya Ayu Permata Sari
Ingrid Widjanarko
Elmendy
Mohammad Firman
Ayu Gumay

Director:
Damien Dematra terakhir menggarap Obama Anak Menteng (2010).

Comment:
Jika di kuartal terakhir 2010 lalu ada Sang Pencerah maka di kuartal kedua 2011 ini ada Si Anak Kampoeng yang kebetulan sama-sama mengangkat tokoh cendekiawan Islam. Kali ini adalah Buya Syafii Maarif yang menghabiskan masa kecilnya di Desa Calau, sebuah kampung terpencil di Minangkabau. Jangan coba membandingkan sebab karya tiap orang tentunya bercitarasa berbeda.
Bagi pengarang Damien Dematra seharusnya tidak terlalu sulit menerjemahkan tulisannya sendiri ke dalam format film. Begitu banyak peran yang dilakoninya dalam film ini termasuk penggarapan musik dan lirik nya yang sangat bernuansakan Sumatera Barat tersebut. Dan saya mengagumi apa yang dilakukannya dalam ini terlepas dari berbagai kekurangan di beberapa departemen.








Saat prolog bergulir sampai dengan setengah durasi film, saya tidak menemukan esensi apapun dari penyajian scene demi scene yang mengetengahkan profil Syafii di usia 3 tahun dan kemudian melompat ke umur 7 tahun. Damien tidak mampu memanfaatkan start awal untuk mengajak penonton bersinergi dengan sebuah film biografi yang sedang mereka saksikan.
Sedangkan paruh kedua film hingga penutupan, pembahasan konflik yang terjadi mengalami perbaikan dimana relasi Syafii dengan gurunya, ayahnya, sahabatnya, saudaranya mulai meruncing. Namun lagi-lagi Damien mencampur adukkan perasaan penonton tanpa maksud yang jelas dengan adegan sukacita dan dukacita yang silih berganti dihadirkan.
Radhit Syam bermain cukup maksimal sebagai Syafii kecil terutama saat berpidato di depan publik yang dilakukannya lumayan inspiratif. Sedikit fakta yang mengganggu adalah usia Radhit yang sesungguhnya terlihat jauh di atas tokoh Syafii kecil. Aktor kawakan Pong berakting agak di bawah kinerja terbaiknya meski karakter Onga Sanusi di tangannya masih terlihat arif dan berwibawa. Sayangnya Inggrid dan Ayu hanya kebagian 2 scene saja padahal kontribusi mereka seharusnya bisa lebih tinggi lagi.








Kebetulan sekali saya menyaksikan film ini bersama sahabat yang juga berasal dari Sumatera Barat sehingga banyak menemukan kesalahan referensi yang cukup fatal. Paling mendasar adalah penggunaan bahasa yang tidak seharusnya dan pemakaian beberapa properti syuting yang tidak semestinya ada dalam setting daerah sekitar. Rentang waktu yang dihadirkan di era 1930-1940an juga masih terasa kurang meyakinkan karena tidak dilengkapi dengan faktor-faktor pendukung.
Si Anak Kampoeng bukanlah karya di atas rata-rata seperti yang banyak diharapkan banyak orang. Emosi turun naik dan pengeksekusian yang cenderung flat tanpa gejolak menjadi kelemahan utamanya sehingga gagal menuntun audiens untuk berempati pada jalinan kisahnya. Meski demikian saya menghargai usaha Damien yang tampaknya sudah berupaya maksimal untuk menyajikan kisah Syafii kecil ini dengan sefaktual mungkin. Mudah-mudahan saja jika dilanjutkan sekuelnya akan ada perencanaan yang lebih matang lagi.

Durasi:
110 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: