XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 17 Juli 2011

DYLAN DOG : DEAD OF NIGHT Kasus Kembalinya Penyidik Bermata Spesial

Tagline:
Living investigator. Undead clients. Zombie partner.

Storyline:
Penyidik supernatural yang sudah pensiun, Dylan Dog mulai tergerak menangani kasus Elizabeth yang kehilangan ayahnya karena dibunuh monster berbulu nan misterius. Motif lain adalah pembalasan dendam dimana asistennya Marcus juga tewas walau akhirnya hidup kembali sebagai zombie. Petunjuk demi petunjuk pun dikumpulkan Dylan dari rekan-rekan lamanya yang berasal dari klan vampire, werewolf dll di teluk Louisiana. Setelah semua mulai jelas, Dylan mungkin harus membongkar sebuah konspirasi rahasia yang tidak terduga dan tidak terlihat seperti apa yang biasa dilihatnya.

Nice-to-know:
Salah satu vampir tua yang tertidur sepanjang masa dipanggil Sclavi yang terinspirasi dari Tiziano Sclavi, sang penulis komik Dylan Dog.

Cast:
Namanya dikenal luas setelah membintangi remake ambisius Superman Returns (2006), Brandon Routh berperan sebagai Dylan Dog
Kerjasama kembali dengan Routh dalam film yang sudah disebutkan di atas, Sam Huntington disini bermain sebagai Marcus
Peter Stormare sebagai Gabriel
Taye Diggs sebagai Vargas
Anita Briem sebagai Elizabeth

Director:
Merupakan film kedua bagi pria kelahiran Kanada bernama Kevin Munroe ini setelah TMNT (2007).

Comment:
Komik grafis Dylan Dog karangan Tiziani Sclavi mungkin tidak banyak dikenal oleh warga dunia pada umumnya, termasuk saya pada khususnya. Kemunculannya di akhir 80an sampai awal 90an hanya terdengar di negara asalnya yaitu Italia dan beberapa negara Eropa lainnya. Nyaris dua dekade kemudian tiba-tiba diangkat ke dalam versi layar lebar oleh Gilbert Adler yang sangat khas Amerika ini. Sebuah perjudian yang cukup berani memang.
Dari sebuah kisah lawas yang menonjolkan karisma seorang penyidik “bermata spesial” memecahkan kasus demi kasus yang membawanya berhadapan dengan makhluk-makhluk “istimewa” tersebut, penulis skrip Thomas Dean Donnelly dan Joshua Oppenheimer malah menghadirkan Dylan Dog sebagai pembasmi monster yang memiliki asisten zombie. Suatu kekecewaan yang bisa jadi dirasakan oleh para pecinta komik ini.
Sutradara Munroe tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Visinya dalam membangun film detektif beratmosfir noir harus diacungi jempol lewat serangkaian narasi dan eksekusi kamera yang gemilang. Kinerja art departemen, spesial/visual efek juga patut mendapat kredit tersendiri dalam mewujudkan sosok zombie, vampir, werewolf, monster dsb yang cukup menjijikkan meski hal-hal tersebut mungkin pernah disaksikan sebelumnya.
Routh terbukti belum membuktikan kapabilitasnya sebagai aktor bertalenta. Perannya sebagai Dylan Dog juga demikian, tidak spesial. Kelebihan fisik yang dimilikinyalah yang membuatnya terlihat pantas dalam kostum apapun di film ini. Sebetulnya menarik melihat Huntington sebagai asisten zombie alias Marcus yang tidak eksis dalam komik aslinya itu. Meski keluhan dan rengekan cerewetnya yang berulang-ulang itu mengganggu indera pendengaran anda, ia tetap terasa pas dalam karakternya disini.
Jika saja background asal muasal dunia yang berisikan manusia dan “non manusia” itu dapat diperjelas dari sudut pandang Dylan Dog, niscaya hasil akhirnya akan lebih baik lagi. Bukan hanya sekadar perpaduan Blade, Ghostbusters, Underworld dan sederetan judul yang dapat anda sebutkan sebagai referensi. Dylan Dog : Dead of Night bukanlah tontonan yang buruk dan rasanya masih cukup mampu memuaskan anda yang mencari film fantasi alternatif, layaknya serial televisi bertema supernatural yang bernuansakan lawas dengan konsep horor komedi yang diusungnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$1,183,354 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 16 Juli 2011

SHELTER : Pasien Berpsikologis Istimewa Penyidikan Misterius

Tagline:
The sheltering has begun.

Storyline:
Ahli forensik yang juga seorang psikiatris bernama Cara tengah menangani pasien istimewa yaitu Adam Saber yang memiliki kepribadian ganda. Identitas lainnya adalah David dan Wesley yang ternyata sudah meninggal di waktu yang sangat lampau. Cara pun berusaha mencari penjelasan yang logis secara sains apalagi ia penganut Kristen yang taat, cukup bertentangan dengan ayahnya Dokter Harding yang mempercayai adanya kekuatan supernatural yang sulit dijelaskan. Kini Cara harus menyelidiki semuanya hingga tuntas sebelum waktunya habis.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh NALA Films, Macari/Edelstein dan Shelter Productions.

Cast:
Julianne Moore yang lahir bernama Julie Anne Smith ini berperan sebagai Cara Harding.
Jonathan Rhys Meyers awalnya bernama Jonathan Michael Francis O'Keefe bermain sebagai David / Adam / Wesley
Jeffrey DeMunn sebagai Dr. Harding
Frances Conroy sebagai Mrs. Bernburg
Nathan Corddry sebagai Stephen Harding
Brooklynn Proulx sebagai Sammy

Director:
Kolaborasi Måns Mårlind dan Björn Stein yang sebelumnya menggarap Storm (2005) secara bersama-sama.

Comment:
Daya tarik utama film ini bagi saya jelas faktor aktor-aktris utamanya. Judulnya tergolong singkat dan sederhana serta mudah diduga artinya. Skrip yang ditulis oleh Michael Cooney ini juga mengusung misi horor/supernatural yang dibalut dalam nuansa thriller. Perpaduan yang sebenarnya tidak asing untuk genre yang satu ini, toh hasilnya tetap menarik untuk disimak apalagi jika melengkapinya dengan twist yang menarik di akhir cerita.
Plot cerita film ini seperti terbagi dalam dua tahapan yaitu thriller psikologis di paruh pertama dan horor supernatural di paruh kedua. Masing-masing sulit dijelaskan dengan logika apalagi disajikan dalam sudut pandang yang berbeda. Jika boleh memilih, saya lebih menyukai bagian pertama yang membuat penonton terus menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi pada tokoh Adam Saber yang misterius itu dan bagaimana tokoh Cara menjelaskan semuanya.
Sayangnya di bagian kedua terasa sedikit kedodoran dimana unsur agama, kepercayaan, adat istiadat dicampur-adukkan dalam sebuah konklusi yang klise yakni perpindahan roh selayaknya permainan voodoo yang mistis itu. Pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di bagian pertama lantas ditinggalkan begitu saja tanpa terjawab. Sebut saja bagaimana sang ayah dapat mengalami hal serupa? Atau bagaimana sang putri kecil bisa menderita hal semacam itu? Dan berbagai tanda tanya lain yang hinggap di kepala saya.
Sutradara Marlind-Stein yang lebih banyak terlibat dalam produksi film televisi tampak kesulitan mengadaptasi gaya film layar lebar. Walau demikian nuansa gloomy yang tidak nyaman di sepanjang film berhasil dipertahankan dengan baik. Berbagai penampakan tak terduga yang dibarengi dengan sound mengejutkan seperti berusaha menjaga intensitas penonton untuk tetap mengikutinya dengan sabar hingga menit terakhir.
Kinerja Rhys Meyers memuaskan disini. Penjiwaannya sebagai Adam/David/Wesley sekaligus teramat meyakinkan dengan sorot mata penuh arti dan emosi yang sangat beragam. Ketampanannya nyaris tertutupi oleh sosok pucat emosional yang sering mengalami gangguan identitas itu. Ekspresi finale nya juga terekam kamera dengan baik. Mudah-mudahan ia tidak sulit untuk kembali menjadi dirinya sendiri paska syuting karena beratnya tantangan yang diembannya.
Sedangkan Moore adalah always-good actress yang belum beruntung menggenggam Piala Oscar di tangannya sejauh ini. Peran ini adalah untuknya seperti yang pernah dilakoninya dalam beberapa judul sebelum ini yang juga berbau psikologis. Cara Harding adalah seorang putri, seorang ibu, seorang kakak sekaligus psikiatris yang wajib mempertanggungjawabkan pasiennya sendiri. Tidak mudah karena setiap saat bahaya bisa mengancam keberadaannya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Shelter merupakan sebuah thriller horror yang cukup melelahkan untuk diikuti muatannya. Sebuah perjalanan bersinema layaknya altitude naik turun yang terus mempermainkan emosi sekaligus rasa keingintahuan penonton. Sayangnya pembahasan dogma relijius (percaya Tuhan atau tidak) tanpa tedeng aling yang jelas ditambah ending yang mengaburkan seluruh konsep film membuat penilaiannya menurun. Penampilan duet J lah yang mampu menyelamatkan film dari kesan biasa-biasa saja!

Durasi:
110 menit

U.K. Box Office:
£141,452 till April 2010 (limited showing)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 15 Juli 2011

LOVE JULINSEE : Empat Cerita Cinta Semangat Remaja

Quotes:
Yo: Saat menyangkut cinta, untukku adalah hal yang besar..

Storyline:
LAMPANG IS VERY COLD (20 min)
Boat dan teman-temannya menyukai seorang gadis manis di sekolah mereka yang bernama Fon. Setelah nomor ponselnya berhasil didapatkan, Boat nekad mengajak Fon kencan ke daerah atas Lampang yang kemudian diiyakannya. Akankah kencan pertama tersebut berlangsung lancar dan sesuai ekspektasi mereka?

WAIT (15 min)
Bright dan Pla sama-sama menyukai musik, bahkan Pla tergabung dalam sebuah band sekolah sebagai vokalisnya. Ketertarikan satu sama lain tidak dapat dipungkiri hingga sepakat berpacaran. Sayangnya Bright harus pergi jauh menuntut ilmu sehingga hubungan jarak jauh pun menjadi pilihan Pla yang tidak terelakkan lagi. Mampukah kesetiaan teruji pada akhirnya?

LOVE IS NOT SOMETHING TO BE PLAYED WITH (20 min)
Sepasang kekasih Ann dan Yo sedang mempersiapkan diri untuk pertunjukkan seni akbar dimana keduanya terpilih sebagai penari utama. Kecemburuan dan kecurigaan Ann terhadap Yo yang dianggap menyukai gadis lain menjadi berlebihan. Lantas Ann sepakat memberi pelajaran pada Yo dengan pura-pura menjalin hubungan dengan lelaki lain. Berhasilkah kesabaran Yo diuji?

BELOVED FRIEND (30 min)
Dua sobat berlawanan jenis, Yok dan Eua sepakat menjalin hubungan cinta. Yok yang berbunga-bunga tak henti-hentinya mengekspresikan perasaannya terhadap Eua ataupun berbagi dengan orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut malah ditanggapi Eua dengan dingin yang menganggap Yok hanya ingin selalu “selangkah” lebih maju dalam hubungan mereka. Bagaimana kelanjutan romansa sejoli ini?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Ruk Man Yai Mak ini sudah dirilis di Thailand pada tanggal 3 Maret 2011 yang lalu.

Cast:
Alex Rendell sebagai Yo
Apinya Sakuljaroensuk sebagai Fon
Irada Siriwut sebagai Pla
Jirayu La-ongmanee sebagai Yok
Monchanok Saengchaipiangpen sebagai Eua
Nuttapong Pibultanakiet sebagai Boat
Tisanart Sornseuk sebagai Ann
Pravit Kadkaseam sebagai Bright

Director:
Kolaborasi Chainarong Tampong dan Sakol Tiachareon dalam menggarap antologi cerita cinta remaja ini.

Comment:
Cinta merupakan materi yang tidak pernah akan habis digali oleh para sineas di belahan dunia manapun juga apalagi jika menyangkut dunia remaja yang kental dengan pubertas. Kali ini negeri Gajah Putih menyuguhkannya dalam bentuk 4 cerita pendek yang dipersatukan oleh festival musik tahunan Big Mountain alias Kao Yai yang kesohor itu dimana semua muda-mudi disana selalu menyerbunya dengan antusias.
Band kenamaan Thailand, Paradox menyumbangkan 4 lagu berbeda yang disesuaikan dengan masing-masing tema 4 cerita pendek tersebut. Kisah 1-2 lebih mengarah pada permainan cinta, sedangkan 3-4 lebih menekankan pada keseriusan cinta. Laki-laki dan perempuan secara bergantian menjadi subyek-obyek tersendiri untuk mempertegas bahwa film ini tidaklah memihak, siapapun bisa menjadi pelaku ataupun korban sekalipun.








Urutan favorit saya kali ini adalah 3-4-2-1. Jika harus jujur, keempat cerita tersebut sudah pernah dialami secara pribadi. Dan rasanya sebagian dari anda juga demikian. Tidak masalah karena setiap pengalaman cinta apapun akan membawa pemahaman anda ke tingkat yang lebih lagi mengenainya. Pembahasan berikut dapat dikategorikan spoiler, bagi anda yang belum dan berniat menontonnya sebaiknya berhenti sampai baris ini.
Berikut beberapa highlight yang coba disimpulkan: (Kisah 1) Remaja pria cenderung berpikiran kotor dan berusaha mencoba segala sesuatu yang baru. Sebuah pelajaran yang manis di akhir cerita! (Kisah 2) Sempat berharap penantian Pla tidak sia-sia dan Bright menyimpan penjelasan yang masuk akal atas ketidaksetiaannya. Long distance relationship sucks! (Kisah 3) Sikap curiga hingga selalu mencobai pasangan anda bukanlah hal yang sehat dalam suatu hubungan. Putus menjadi taruhannya! (Kisah 4) Terlalu cepat menapaki sebuah hubungan memang tidak baik apalagi jika pasangan belum terlalu siap. Berjalanlah bersama lalui fase demi fase secara natural. Fokuslah pada tujuan akhir yang ingin dicapai berdua!








Sutradara Chainarong dan Sakol terbukti cukup memahami seluk beluk dunia remaja yang seringkali memulai tahap mencintai secara salah. Itulah sebabnya setiap chapter dalam Love Julinsee terasa sangat universal, laiknya simfoni cinta dengan berbagai nada dasar yang diformulasikan sedemikian rupa hingga enak dinikmati. Andai saja semua konklusi dapat dipertajam di bawah panggung Big Mountain Concert, niscaya antologi ini dapat lebih bermakna dan berdaya jual lebih tinggi lagi. Sementara itu tidak ada salahnya anda ikut tertawa, termenung, geregetan, terharu dalam deretan 4 sisi cinta khas ini.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 14 Juli 2011

TUMBAL JAILANGKUNG : Pembalasan Sakit Hati Cara Jelangkung

Quotes:
Mbah Jabrik: Kalian sudah membiarkan roh jahat mendapatkan amarahnya!

Storyline:
Betapa kecewanya Linda mengetahui bahwa Richard yang dicintainya ternyata hanya mempermainkannya bersdama kedua temannya, Galang dan Hanung. Belum lagi kenyataan bahwa dirinya hamil juga membuat murka sahabatnya Vena yang segera melabrak ketiga pria bejat tersebut. Demi menenangkan diri agar Linda tidak depresi bunuh diri, Vena mengajaknya berlibur ke villa sepupunya Ivan. Disana Linda malah menemukan sebuah jelangkung tua yang terkubur dalam dan memainkannya. Di luar dugaan kekuatan jelangkung tersebut mampu menuntaskan dendamnya pada Richard dkk. Mampukah Linda mengendalikan dirinya sendiri dari jelangkung yang juga berkaitan dengan peristiwa 30 tahun lalu di Angkerbatu itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures dimana screening terbatasnya diselenggarakan di Plaza Blok M pada tanggal 13 Juli 2011.

Cast:
Soraya Larasati sebagai Linda
Denny Weller sebagai Ivan
Violenzia Jeanette sebagai Vena
Rocky Jeff sebagai Richard
Tasa Rudman
Jerry Likumahwa
Romeo Sianipar sebagai Hanung
Anna Stepanova Jasmine
Nadedja Kovba

Director:
Merupakan film keempat Chiska Doppert secara keseluruhan yang diawali dengan Missing (2005).

Comment:
Permainan mistis tradisional yang terkenal dengan julukan jelangkung ini telah berulang kali menjadi benang merah cerita film-film nasional dari yang paling berkualitas sampai yang paling kacrut sekalipun. Lantas dimana posisi film yang skripnya ditulis oleh Aurellia ini? Kita kembalikan lagi pada opini masing-masing penonton sambil menunggu jumlah raihan rupiahnya paska rilis di bioskop-bioskop setanah air nanti.
Plot ceritanya sendiri tidak jauh beda dengan yang sudah-sudah, tentunya sudah dibalut dengan trademark khas Nayato yaitu muda-mudi cantik dan tampan yang berbuat nista hingga akhirnya harus membayar mahal dengan nyawanya masing-masing. Lihat saja konsep posternya yang teramat sangat “menjual” itu, pria-pria bertelanjang dada plus wanita-wanita memperlihatkan belahan dadanya yang rasanya mampu menarik mata siapapun yang melintasinya.
Sutradara Chiska yang konon asisten sutradara Nayato ini di luar dugaan mampu menyajikan sinematografi yang enak dipandang meski belum dapat dikatakan sempurna. Permainan warnanya yang terkadang berubah-ubah disesuaikan dengan mood para tokohnya menjadi suguhan yang cukup menarik. Eksekusi scene per scene nya juga tergolong runut sambil berusaha bertutur dengan lugas meski tak dipungkiri pengaruh Nayato masih sangat kuat.
Dari jajaran cast mungkin hanya Soraya yang mendapat porsi memadai untuk mengeksplorasi aktingnya dibandingkan film-film terdahulunya. Transisi manusia menjadi setan pendendam cukup baik dilakoninya, terima kasih pada make-up artist yang sukses mendandani wajah cantik orientalnya menjadi sosok yang menyerupai Sadako, lengkap dengan pergerakan patah-patahnya. Nama-nama lainnya cuma tampil sesuai standarisasi tokoh-tokoh horor lokal yang cheesy dan predictable.
Mengingat begitu banyaknya kekurangan disana-sini yang sulit tersamarkan, Tumbal Jailangkung justru cukup layak mendapat ponten yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Hal ini lebih karena jerih payah Chiska yang setidaknya sudah berupaya memberikan pondasi yang jelas bagi film secara keseluruhan. Meskipun pada akhirnya kembali dirusak oleh ending bergaya Mr. You-Know-Who itu, seakan tidak ada cara lain yang lebih berperike-Nayato-an!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 13 Juli 2011

KIDNAPPED : “Dokumentasi” Penyanderaan Keluarga Brutal

Tagline:
Home used to be a safe place.

Storyline:
Marta yang tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya Jaime dan putri mereka Isa mendadak kecewa karena kedua orang yang dicintainya itu mempunyai acara masing-masing. Dalam perselisihan, tiba-tiba tiga pria bertopeng tak dikenal menerobos masuk rumah mereka di kawasan elit Madrid. Ketiganya pun disandera dan dipaksa menyerahkan ponsel, kartu kredit berikut nomor sandinya atau sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. Malam yang seharusnya tenang pun berubah menjadi mimpi buruk dimana perlawanan harus dilakukan atau nyawa akan berharga cuma-cuma..

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Vaca Films, La Fabrique 2, Blur Producciones dan sudah tayang di nega asalnya sejak tanggal 25 Februari 2011 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya pernah mendukung The Orphanage (2007) yang legendaris itu, Fernando Cayo bermain sebagai Jaime
Manuela Vellés sebagai Isa
Ana Wagener sebagai Marta

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Miguel Angél Vivas setelah Reflections (2002).

Comment:
Konon setiap tahunnya di Eropa terjadi jutaan kasus perampokan rumah yang disertai dengan kekerasan. Atas dasar fakta itulah, Miguel Ángel Vivas dan Javier García sepakat menulis skrip film ini untuk kemudian dikembangkan dalam genre thriller yang dikonsep dengan gaya dokumenter. Menarik bukan? Unsur realistisnya menjadikan film-film berplot sejenis seperti Funny Games ataupun The Strangers menjadi “ringan”.
Vivas menggunakan handheld camera untuk menyajikan gambar-gambar bergerak menjelajah setiap sudut rumah lewat sudut pandang para tokohnya. Mayoritas dilakukan dalam longshot lewat sekali take saja. Tak lupa teknik splitting scenes juga diperlihatkan berkali-kali untuk menggambarkan dua kejadian bersamaan di dua tempat yang berbeda sekaligus. Hal ini mengingatkan saya pada serial 24 dimana ayah dan anak bisa menghadapi pertaruhan nyawanya masing-masing.
Sayangnya dari segi akting justru saya merasa masih kurang maksimal. Cayo dan Wagener tidak memperlihatkan chemistry yang cukup meyakinkan sebagai suami istri yang (semestinya) saling mengkhawatirkan nasib masing-masing. Justru Vellés menjadi satu-satunya yang outstanding disini sebagai Isa yang terlecehkan dimana emosinya keluar semua saat harus menangis atau melakukan perlawanan balik. Ketiga penjahat bertopeng malah lebih parah, selain wajahnya tertutup, aktingnya juga seakan turut terselubungi karena minimnya porsi kamera yang menyorot mereka satu-persatu.
Sisi thrillernya dapat dikatakan terjaga dengan baik. Cerita bergulir sedemikian rupa melalui proses yang masuk akal untuk menjaga tensi film agar tetap pada tempatnya. Itulah sebabnya anda seakan mampu merasakan “penderitaan” yang dialami Jaime-Marta-Isa di dalam rumahnya sendiri. Bayangan kekerasan ataupun siksaan yang dilakukan para penyusup itu memang mengerikan tanpa harus diwujudkan dalam hasil kinerja kamera sekalipun. Dengan demikian sugesti negatif bisa dikurangi sedikit.
Kekurangan yang paling mencolok adalah konklusi tragedi satu malam yang terkesan datar dan menyia-nyiakan apa yang sudah terbangun secara maksimal sebelumnya. Jerih payah perlawanan keluarga malang tersebut yang diharapkan memberikan sinyal positif justru diakhiri begitu saja. Kidnapped memang mudah dikagumi sebagai thriller berhasil tapi rasanya secara keseluruhan film akan sulit disukai oleh moviegoers pada umumnya.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 12 Juli 2011

KEPERGOK POCONG : Cara Kaya Foto Mayat Sumpah Pocong

Quotes:
Boy: Nama aslinya George Coolman.. Tapi kenapa dipanggil Aceng ya?

Storyline:
Aina adalah seorang mahasiswa abadi yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai penggali kuburan. Ia tinggal bersama kedua sahabatnya yang pintar-pintar bodoh yaitu Boy dan Ceko. Boy memiliki pacar cantik bernama Princess yang selalu mengukur kebahagiaan dari materi. Sedangkan Ceko memilih untuk memendam cintanya terhadap Niken. Saat rekan mereka di kampus, Donatus berusaha membuat dokumentasi tentang Aina, terbukalah sebuah buku rahasia yang membahas jika menyimpan foto jenazah orang yang tewas karena termakan sumpah pocong maka akan menjadi kaya. Boy dan Ceko mencoba cara tersebut hingga mendapatkan rejeki-rejeki yang mengalir. Akankah semua itu abadi dan tidak memiliki efek samping dari mayat yang mereka pinjam fotonya itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 11 Juli 2011.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Aina
Raymond Knuliq sebagai Boy
Rozie Mahally sebagai Ceko
Nadya Almira sebagai Princess
Keira Shabira sebagai Niken
Albert Putra sebagai Donatus

Director:
Merupakan film keempat Nayato di tahun 2011 ini dan sangatlah produktif untuk ukuran sutradara lokal.

Comment:
Penasaran dengan apa yang dimaksud judul film ini? Saya akan berikan jawabannya sebelum memulai review ini. KKPK alias Komite Kepergok Pocong Katro. *sepi* Saya akan biarkan anda semua ternganga lebar dan bermawas diri terlebih dahulu. Tolong pikirkan lagi keputusan anda untuk menyaksikan film ini jika tidak ingin bergabung dalam perkumpulan fiktif tersebut. Dan jangan katakan saya tidak pernah memperingatkan anda sebelumnya.
Penulis Erry Sofid sangat disarankan tidak bermain-main dengan intelejensi penonton lagi. Percayalah hal tersebut tidak menguntungkan kedua belah pihak samasekali. Premis film ini sendiri sudah tidak wajar yakni menggabungkan dunia nyata dengan dunia gaib dalam sebuah komedi situasi. Bisa bayangkan jika pocong dan kuntilanak dapat hidup berdampingan dengan anda secara terang-terangan sehari-harinya? Akankah reaksi anda sama seperti halnya Azis Gagap dkk disini?
Perlakuan tak senonoh bertubi-tubi menimpa Mr. P dan Mrs. K di sepanjang film. Demikian saya berikan julukan khusus untuk meredam rasa sakit hati mereka setelah dibanting, ditimpuk telor, dijitak dan menerima sederetan perilaku ajaib lainnya. Mungkin ada baiknya mereka memikirkan koalisi dalam mengajukan fatwa khusus terhadap Nayato? Mohon jangan ditanggapi terlalu serius karena ini hanya sebuah ide liar yang terlintas dalam kepala saya yang sudah semakin mumet ini.
Khusus Nayato sebaiknya tidak terlalu dicaci-maki karena ia membawa banyak sekali isu LGBT kali ini. Entah sebagai dukungan atau justru ia berusaha jujur dengan orientasi pribadinya? Jika tidak percaya lihat saja interaksi Reymond dan Rozie yang awkward di sebuah toilet itu. Atau segala tingkah laku tokoh transgender Aina yang dimainkan dengan “super-duper” oleh Azis Gagap? Jika memang murni dimaksudkan untuk memancing tawa rasanya kurang bijaksana.
Kabar yang berhembus bahwa Nayato dan Azis Gagap berencana membuat 50 film bertemakan pocong mudah-mudahan tidak terealisasi atas dasar apapun juga. Kepergok Pocong sejauh ini sudah menjadi bukti kuat bahwa ide cerita dan formula yang berulang-ulang hanya akan menyebabkan sakit kepala, kram otak, gangguan penglihatan dan pendengaran serta stress tingkat tinggi. Beruntung saya tertidur di sebagian durasinya sehingga efek samping dapat diminimalisir tanpa disengaja.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Senin, 11 Juli 2011

NO. 32, B DISTRICT : Found Footage Mockumentary Khas Tiongkok

Tagline:
Get lost in the apartment of devil.

Storyline:
Gao Yitung terkejut saat mendengar kabar bahwa suaminya, Shen Ang harus dirawat di rumah sakit karena mengalami kejadian-kejadian supernatural di rumahnya sendiri. Penasaran Gao pun meminta asistennya Michael untuk menemaninya menginap selama beberapa saat di tempat yang sama. Tetangga mereka Ding tak sungkan-sungkan menceritakan secara detail apa yang sesungguhnya menimpa Shen pada waktu itu. Michael yang hobi fotografi menempatkan berbagai kamera untuk merekam semua yang terjadi di setiap ruangan rumah tersebut. Akankah Gao dan Michael akan bernasib sama seperti Shen?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli B Qu 32 Hao ini dirilis di China pada tanggal 3 Juni 2011.

Cast:
Memulai karir aktingnya sejak Forever Young (2000), Tae berperan sebagai Michael
Deng Ziyi sebagai Gao Yitung
Li Rui sebagai Ding

Director:
Merupakan film keempat Lu Jianmin sejauh ini.

Comment:
Kesuksesan Paranormal Activity (2007) telah membuka trend genre “found-footage” mockumentary ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali China yang mengklaim film ini sebagai versi Asia dari Paranormal Activity. Nanti dulu! Sebaiknya tetap biarkan penonton yang menilai apakah pantas mendapat julukan tersebut terlebih Korea, Thailand, Jepang sekalipun mencoba peruntungan yang sama.
Formula yang digunakan nyaris sama persis. Peletakkan kamera di berbagai ruangan rumah untuk menangkap setiap detik peristiwa yang terjadi plus tambahan handheld camera juga dipegang oleh tokoh utama untuk memperkuat kesan realnya. Suasana kamar di malam hari yang dominan dengan biru tua pucat juga masih menjadi jualan utama untuk menakuti penonton. Dan yang paling penting adalah petunjuk waktu mulai dari hari keberapa dan jam berapa kejadian-kejadian itu mengalir.
Yang dibutuhkan tinggal sebuah skrip bagus untuk kemudian dieksekusi dengan brilian. Justru disinilah kelemahan utama sutradara Lu yang tidak muncul dengan ide-ide baru samasekali. Frightening moments yang tercipta hanyalah pintu yang membuka dan menutup dengan sendirinya. Padahal segala sudut ruang bisa saja dimaksimalkan untuk menyerap rasa takut dimana walking cabinet, toilet, dapur, tangga, garasi, ruang bawah tanah sekalipun sudah bolak-balik dijadikan setting film.
Sebetulnya saya mengharapkan interaksi lebih dari Michael dan Gao yang tampaknya menyimpan “cerita” dari hubungan persahabatan mereka yang sudah berlangsung lama sejak di Australia. Nyatanya Tae dan Deng bermain datar-datar saja tanpa keterikatan emosi yang dalam selain menanyakan apa yang baru saja terjadi dan kemudian berusaha menenangkan satu sama lain. Simple as that. Come on!
Sisi positif dari No. 32, District B adalah kinerja kamera yang tidak seshaky biasanya plus tidak adanya sosok mengerikan yang membuat anda terlompat dari kursi. Shocking ending yang biasanya ditunggu pada akhirnya cuma membuat penonton mengerutkan kening sambil bersungut dalam hati, “what the f**k?”. Saya tidak terlalu peduli jika review kali ini bersifat spoiler karena beranggapan anda tidak akan menyaksikannya juga kecuali rasa penasaran amat sangat terhadap film-film bergenre sejenis.

Durasi:
85 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 10 Juli 2011

WU XIA : Penyingkapan Identitas Masa Lalu Ahli Beladiri

Quotes:
Bagaimanapun dunia sekarang ini, kau telah menjadi bagiannya..

Storyline:
Liu Jinxi yang kini menjadi pengusaha kertas tanpa sengaja menghabisi dua pembunuh berbahaya, salah satunya bernama Yan Dongsheng yang mengacau di desanya. Penyidik Xu Baijiu tidak mempercayainya begitu saja dan menyelidiki kejadian tersebut dengan detail. Ia meyakini Liu bukanlah warga biasa dan mencurigainya sebagai mantan pembunuh kelas wahid yang berusaha hidup damai dengan istrinya Ayu beserta kedua putra mereka Tianxiang dan Xiaotian. Benarkah Liu telah bertobat dan siapa kelompok 72 Iblis yang terus mencarinya itu?

Nice-to-know:
Film yang sempat diputar dalam ajang Cannes 2011 ini diproduksi oleh Dingsheng Cultural Industry Investment, JSBC Eudemonia Blue Ocean TV & Movie Group, Stellar Mega Films, We Pictures, Yunnan Film Group.

Cast:
Tahun 2011 ini membintangi 3 film termasuk All's Well Ends Well, Donnie Yen berperan sebagai Liu Jinxi
Baru saja bermain sebagai Zhu Geliang dalam dwilogi Red Cliff, Takeshi Kaneshiro bermain sebagai Xu Bai-jiu
Angkat nama lewat Lust, Caution (2007), Tang Wei kebagian tokoh Ayu
Wang Yu sebagai The Master

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Peter Chan setelah terakhir The Warlords (2007) yang lalu.

Comment:
Seorang Donnie Yen rasanya sudah mencoba puluhan peran serupa yang berkaitan dengan jago beladiri dalam produksi film Mandarin. Belakangan ini ia tampaknya harus lebih cerdas memilih karakter yang dimainkannya atau para penggemar akan merasa bosan, walaupun saya yakin mereka akan selalu terhibur dengan “kemampuan” yang diperagakannya.
Skrip yang ditulis oleh Oi Wah Lam ini secara keseluruhan bekerja dalam campuran genre psikologis dan action. Paruh pertama disajikan ala Sherlock Holmes dimana proses Baijiu menyelidiki Jinxi teramat menarik. Segala petunjuk sekecil apapun berhasil menggiring penonton untuk berimajinasi lebih jauh apalagi dibantu dengan rekonstruksi flashback yang cerdas. Petunjuk akan siapa sesungguhnya Jinxi ini terkuak tahap demi tahap melalui berbagai kemungkinan yang ada.
Paruh kedua harus diakui sedikit kehilangan daya tarik. Setelah semua rahasia mulai terungkap, penonton lantas hanya diajak menikmati aksi kungfu “seorang diri” Donnie Yen seperti biasanya dalam menghadapi villains yang berujung pada Master yang tentunya harus menawarkan tingkat kesulitan khusus. Endingnya sendiri tidak dapat dibilang buruk tapi kita berkali-kali pernah menyaksikan hal serupa sebelumnya.
Sutradara Peter Chan menawarkan sinematografi yang keren. Bagaimana tempo lambat sekalipun tidak sampai membosankan. Teknik stop motion camera yang sempat diperlihatkannya dalam The Warlords kembali muncul disini. Sangat membantu fighting scenes yang disajikan sehingga terlihat artistik. Semua elemen pendukung film dapat dikatakan terintegrasi dengan baik terutama departemen akting yang memuaskan.
Donnie memberikan sedikit improvisasi dalam karakter Jinxi dari segi emosionalnya. Menarik melihat Takeshi sebagai penyidik berkelas sekaligus ahli jarum yang mumpuni dimana sedikit latar belakang Baijiu juga disinggung demi memperkuat karakternya. Menyenangkan mengetahui Tang Wei kembali sebagai istri setia Ayu. Paling bersinar kali ini adalah aktor senior Jimmy Wang Yu yang menakutkan sebagai Master, intonasi dan bahasa tubuhnya berbicara lebih banyak dalam porsi yang minimal.
Jika anda mencari hiburan Mandarin yang berbeda dari biasanya, Wu Xia tanpa diragukan lagi dapat menjadi pilihan utama. Sempilan kebiasaan warga desa yang bernyanyi merupakan keunikan sendiri terlepas dari kontribusi minim terhadap film secara keseluruhan. Donnie dan Takeshi merupakan daya tarik utama kali ini, kedua pria berdarah dingin yang sulit ditebak niat aslinya, satu dengan keahlian bela diri yang mumpuni sedangkan satu lagi dengan kemampuan analisa yang mematikan. Interaksi yang akan mencengangkan anda dalam setiap scene yang mempertemukan mereka!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$38,438,310 till Jun 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 09 Juli 2011

SOMETHING BORROWED : Pertentangan Hati Taruhan Persahabatan

Tagline:
It's a thin line between love and friendship.

Storyline:
Rachel dan Darcy adalah dua soulmate sedari kecil meski keduanya berbeda kepribadian. Rachel selalu menyikapi serius hidupnya sebagai pengacara sedangkan Darcy sangat menikmati menit-menit hidupnya. Di ultah ke-30 nya, Rachel justru bertemu kembali dengan tunangan Darcy yaitu Dex yang merupakan teman seangkatannya semasa kuliah jurusan hukum dahulu. Rahasia mulai terkuak saat ternyata Rachel dan Dex sama-sama pernah memiliki ketertarikan satu sama lain. Satu malam dihabiskan bersama membuat mereka berusaha mencari tahu makna dari hubungan tersebut sebelum semua benar-benar terlambat oleh pernikahan.

Nice-to-know:
Colin Farrell sempat dikabarkan akan bermain sebagai Marcus dan Peter Facinelli sempat mencoba peran Dex sebelum keduanya batal.

Cast:
Terakhir menyaksikannya dalam ensemble drama He’s Just Not That Into You (2009), Ginnifer Goodwin bermain sebagai Rachel
Sempat mengisi peran The Killer Inside Me tahun lalu, Kate Hudson berperan sebagai Darcy
Colin Egglesfield sebagai Dex
John Krasinski sebagai Ethan
Steve Howey sebagai Marcus
Ashley Williams sebagai Claire

Director:
Merupakan film ketiga Luke Greenfield setelah terakhir The Girl Next Door (2004).

Comment:
Penemuan cinta yang dibalut dengan perebutan pria diantara dua wanita kerapkali menjadi formula lawas komedi romantik Hollywood sejak dulu kala. Namun jika ditambahkan dengan pembahasan kisah cinta yang belum sempat selesai di antaranya bisa jadi sebuah hal yang baru apalagi jika tergarap dengan baik. Penasaran dengan adaptasi novel berjudul sama karangan Emily Giffin ini? Jawabannya HARUS iya karena terbukti memberikan nuansa yang berbeda.

Rachel & Darcy - Persahabatan yang dibangun sejak kecil biasanya putus..
Darcy yang dominan lebih sering diamini oleh Rachel yang pengalah. Keduanya selalu berbagi momen-momen penting dalam hidupnya secara bersama-sama termasuk dirty little secrets yang tidak heran selalu datang dari Darcy. Yang hebat disini adalah persaingan keduanya tergolong sehat, tidak ada yang melakukan hal-hal buruk untuk saling mengungguli satu sama lain. Itulah sebabnya penonton mampu bersimpati pada keduanya di sepanjang kisah meski tak diragukan akan berpihak lebih pada Rachel.

Darcy & Dex - Aku membuatnya lebih menikmati hidupnya dan dia membuatku sedikit lebih serius..
Di mata orang, Darcy & Dex merupakan pasangan sempurna. Keduanya good looking dan terlihat saling melengkapi dari dua kepribadian yang berbeda sekalipun. Konsep itulah yang membuat keduanya (dan sebagian besar pasangan lain di dunia) memutuskan untuk bersatu. Jangan salah, kesempurnaan hanya terjadi dalam dongeng, bukan dunia nyata yang penuh realita. Terlepas dari manisnya sikap satu sama lain, rasanya penonton mampu melihat sedikit celah “serius” dalam hubungan mereka.

Rachel & Dex – Andai aku tahu lebih awal perasaan ini. Sekarang semuanya sudah terlambat..
Hati-hati, perkawanan pria dan wanita seringkali dibumbui oleh cinta terpendam salah satu pihak (bisa jadi keduanya!). Jika itu yang terjadi, pilihan ada di tangan anda untuk tetap meneruskan persahabatan atau mengungkapkan perasaan yang bisa merusak semuanya. Dex yang ragu-ragu untuk mendekati atau Rachel yang terlalu rendah diri untuk melangkah? Sikap mundur maju keduanya tak jarang membuat penonton gemas sekaligus geregetan.

Karakter Rachel terasa pas di tangan Goodwin, wanita cerdas, baik hati kalau mau dikatakan tak berdaya, yang menganggap kecantikannya patut disembunyikan. Begitu pula karakter Darcy yang sangat melekat dalam diri Hudson, wanita cantik yang tak jarang egosentris, manipulatif dan patut diuji intelektualitasnya. Interaksi keduanya sebagai soulmates menepis stereotype film-film sejenis yang menonjolkan kebodohan female fighting saat akhirnya harus saling berhadapan.


Tokoh Ethan tidak kalah menariknya disini sebagai satu-satunya yang berpihak pada Rachel. Krasinski menjiwainya secara fun dengan tingkah laku yang jujur dan permainan kata-katanya yang menohok. Tokoh Dex juga dihidupkan dengan charming oleh Egglesfield. Tipe pria don juan yang untungnya tidak memanfaatkan kelebihannya itu untuk menarik wanita tetapi lebih pada usahanya untuk menjadi pria yang utuh dalam mewujudkan mimpi-mimpi hidupnya.


Sutradara Greenfield terbilang berhasil menggarap chick flick yang dewasa dan tidak dangkal ini. Bagaimana potongan-potongan masa lalu dari ketiga tokoh utamanya bertukaran dihadirkan lewat sudut pandang Rachel. Hal tersebut mampu menjawab setiap pertanyaan yang mungkin timbul dari penonton sebelum memutuskan kemana mereka akan berpihak. Sinematografinya cukup apik meski setting The Hamptons House agak berlebihan penggunaannya. Komposisi musik latar yang timeless tergolong tepat mengisi setiap bold scenes nya untuk mempertajam suasana galau dan sedih yang silih berganti hadir.

Something Borrowed tidak hanya manis romantis tapi juga sendu provokatif. Drama bermakna yang kental dengan proses “introspeksi” dengan kandungan momen back and forth nya. Membuat anda berpikir dalam-dalam bagaimana menjadi seorang sahabat sempurna, kekasih ideal tanpa harus menyakiti? Atau menerawang apakah sebuah kesalahan dapat diperbaiki secara benar, untuk kemudian melangkah maju merengkuh impian-impian pribadi yang terpendam? Ahhh pertanyaan-pertanyaan dilematis yang pasti dihadapi setiap orang tanpa terkecuali sebelum rasa penyesalan itu benar-benar datang pada akhirnya..

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,438,310 till Jun 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Juli 2011

ATTACK THE BLOCK : Geng Remaja London Hadapi Serangan Alien

Quotes:
Sam: We should call the police.
Pest: You'd be better off calling the Ghostbusters love.

Storyline:
Di sebuah pemukiman menengah ke bawah London Selatan, pada suatu malam gang remaja berandalan yang dipimpin Moses memeras suster muda yang baru lulus, Sam. Selang beberapa waktu kemudian, alien meluncur turun ke Bumi yang lantas langsung dihabisi oleh Moses dkk. Mereka tidak menyadari bahaya yang lebih besar mengintai dimana kumpulan alien lain tiba juga di kompleks tempat tinggal mereka untuk membalas dendam? Moses, Brewis, Pest, Dennis, Jerome pun mulai mempersenjatai diri mereka masing-masing untuk bertahan sekaligus memenangkan pertempuran tak terduga ini.

Nice-to-know:
Penulis sutradara Joe Cornish terinsipirasi dari kehidupan pribadinya dahulu dalam membuat film ini.

Cast:
John Boyega sebagai Moses
Nick Frost sebagai Ron
Jodie Whittaker sebagai Sam
Luke Treadaway sebagai Brewis
Jumayn Hunter sebagai Hi-Hatz
Alex Esmail sebagai Pest

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Joe Cornish setelah 1 dokumenter dan 2 serial konsumsi televisi sebelumnya.

Comment:
Jujur saja saat menyaksikan trailer film ini saya merasa pesimis. Demikian pula dengan beberapa penonton lain di sebelah saya yang mengatakan film ini lebih layak ditonton di DVD saja. Bukan apa-apa. Sudah banyak film sejenis bermunculan ke permukaan dengan hasil akhir yang mengecewakan dan terkesan membodohi penonton. Namun tidak fair rasanya jika saya tidak memberi kesempatan pada film yang mendapat rating cukup tinggi di IMDB ini untuk ditelaah lebih jauh.
Garis besar cerita adalah sekumpulan manusia yang berusaha bertahan hidup dari invasi alien mematikan. Memang terdengar sama saja dengan film-film bergenre sejenis. Untungnya Cornish kali ini memperkuat penokohan para karakter utamanya yang sudah “tidak biasa” itu dengan variasi tersendiri dimana pertukaran sudut pandang menjadi sebuah hal yang menarik disini. Unsur S.A.R.A juga turut ditambahkan sebagai atribut krusial tanpa bermaksud mengundang kontroversi luas.
Kinerja Cornish sebagai sutradara memang patut diacungi jempol. Plot yang terlihat klise mampu disiasati dengan baik sehingga membuat audiens tetap di kursi masing-masing menerka-nerka suguhan berikutnya. Dialog yang tercipta diantara para karakternya juga cukup smart terlepas dari beberapa penggunaan kata-kata yang tidak pantas di bagian openingnya. Tidak lupa menyebutkan sinematografi yang energetic dengan tempo yang pas sebagai latar aksi yang memikat.
Penampakan kawanan alien disini lebih mirip gorilla. Makhluk besar berbulu hitam lebat yang dilengkapi dengan gigi-gigi hijau bercahaya. Tampilan yang minimalis dan agak tradisional sehingga terkesan mudah disiasati dari segi visual/spesial efeknya. Put some men behind the costumes and you can add some visual graphics. Voila! Faktanya bisa jadi tidak sesederhana itu. Tidak ada salahnya karena momok mengerikannya tetap dapat tercapai secara maksimal.
Aktor aktris yang paling mencuri perhatian kali ini adalah Boyega dan Whittaker. Bagaimana karakter keduanya mengalami turning point sedemikian rupa. Moses dan Sam sama-sama memulai dari kesalahan dan kesalahpahaman tapi pada akhirnya mampu memperbaiki semua itu. Esmail juga bermain menarik sebagai Pest. Sedangkan bintang senior seperti Frost tetap memberikan warna tersendiri sebagai pengedar obat yang menyedihkan nasibnya.
Attack The Block terbukti mampu menghibur dalam hal memancing tawa dengan black humor sense nya plus memacu adrenalin dengan chasing scenes nya dari berbagai setting lokasi mulai dari jalan raya London plus gedung apartemen sepi yang temaram di malam hari. Awalnya anda akan membenci anak-anak muda ini karena satu dan lain hal tapi pada akhirnya mampu bersimpati sekaligus peduli pada nasib mereka masing-masing. Dan jangan lupa, semuanya dikemas dalam nuansa British yang kental!

Durasi:
85 menit

U.K. Box Office:
£2,444,205 till Jun 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: