Tagline:Dari balik pegunungan beku.. Dedemit mengincar nyawamu..
Storyline:Pengusaha Rodney yang sakit-sakitan memiliki dua putri yaitu Vicky dan Jane. Karena hutang besar pada gembong mafia kaya bernama Mark, iapun menyerahkan Vicky untuk dinikahi Mark. Keduanya pun hanyut dalam pernikahan yang bahagia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, Vicky dikabarkan tewas saat berlibur menelusuri Gunung Kidul. Mark dan Jane pun sangat sedih mengetahui fakta tersebut. Namun Rodney “menyatukan” keduanya agar hubungan bisnis mereka tetap baik. Berat hati Jane menerima keputusan itu tapi gangguan supernatural mulai dialaminya ketika tinggal di rumah Mark. Belum lagi kemunculan asisten Mark, Peter yang sulit diduga motif sesungguhnya. Misteri apa yang sesungguhnya menyelimuti keluarga itu?Nice to know:Diproduksi oleh K2K Production dan screeningnya diadakan di Blok M Square 21 pada tanggal 17 Maret 2011.Cast:Uli Auliani sebagai JaneTasa Rudman sebagai MarkAfdhal Yusman sebagai PeterAmmy TawaqalDirector:Film kedua bagi Yoyok Dumprink di tahun 2011 ini setelah Pelukan Hantu Janda Gerondong di bulan Januari lalu.Comment:Lagi! Pemakaian judul film lokal dengan menggunakan nama tempat. Rasanya tinggal tunggu waktu jika masyarakat Yogya akan memprotes film ini seperti yang sudah dilakukan masyarakat Karawang beberapa waktu lalu. Padahal jika ditelaah, Gunung Kidul tidak menjadi suatu faktor yang krusial disini selain kejadian nyata yang konon menginspirasi cerita film ini. Entahlah. Tidak ada yang tahu kebenarannya. Belum apa-apa kontroversi sudah dituai kala posternya terang-terangan menjiplak versi Drive Angry yang rilis nyaris berbarengan. Sungguh tidak kreatif!Plot ceritanya sendiri sebetulnya dapat dituliskan dalam beberapa kalimat saja. Namun hebatnya seorang KK Dheeraj, susunan kata dalam kalimat-kalimat tersebut bisa ditukar-tukar untuk memberikan arti yang berbeda. Bayangkan anda sedang bermain scramble dengan anak TK nol kecil dan andapun dipaksa menerima logika yang sedikit aneh tersebut. Begitulah yang terjadi disini dimana IQ anda akan ditantang habis-habisan dari menit awal sampai menit akhir. Jika anda rajin, cobalah catat berbagai kejanggalan yang saya maksud, dijamin daftar anda akan penuh di penghujung film.Aktor-aktris yang bermain kali ini saya yakini tidak mendapatkan briefing yang cukup bagaimana mendalami peranannya masing-masing. Namun kecurigaan saya adalah tidak adanya skrip yang memadai yang bisa dipelajari dengan baik. Uli yang paling senior sekalipun terlihat bingung memposisikan karakternya dalam film ini. Ada lagi pemeran Vicky (yang bahkan namanya tak tercantum di credit title) samasekali tak jelas posisinya apalagi terlihat berkacamata hitam nyaris di setiap scenenya. Saya asumsikan ia melakukan penyamaran walaupun motifnya belum diketahui. Sedangkan Tasa dan Afdhal merupakan nama baru di dunia akting sehingga kekikukan mereka mesti bisa dimaklumi terlebih menerima skrip “bayangan” di tangan. Betapa sulitnya..Satu lagi yang khas pada produksi film K2K adalah adegan syur. Uli dan Vicky bergantian mempertontonkan aset mereka dalam balutan bikini ataupun lingerie berwarna mencolok baik dalam adegan kamar tidur, kamar mandi ataupun kolam renang. Belum lagi sesi foto pinggir kolam yang dilakukan empat cewek bohay berbody-tidak-bagus dengan percaya diri tinggi itu yang tidak memberikan kontribusi apa-apa terhadap bangunan cerita.Dedemit Gunung Kidul akan mengajak anda masuk dalam dunia mimpi buruk tiada berlogika yang tidak berkesudahan. Sewaktu bangun, anda akan mendapati kesadaran anda terganggu juga volume otak yang mengecil. Beruntunglah hal tersebut bersifat tidak permanen karena efek itu akan hilang dengan sendirinya beberapa saat setelah anda meninggalkan bioskop.Durasi:85 menit
Overall:6 out of 10Movie-meter:
Quotes:Padre Benito del Toro: It's not safe for you to be here.Machete: I'm not looking for "safe".Padre Benito del Toro: No, I mean it's not safe for me for you to be here!
Storyline:Demi melindungi saksi dari gangster Torrez, Machete malah menyaksikan keluarganya dibantai dan rumahnya dibakar. 3 tahun kemudian, ia telah kembali dari kondisi fisik yang buruk dan disewa menjadi pengawal Senator John McLaughlin yang ambisius beserta kaki tangannya Booth yang culas. Belakangan Machete mengetahui bahwa ada hubungan khusus antara McLaughlin dengan Torrez yang merugikan orang Meksiko dan menguntungkan bandar pengedar obat bius dalam melewati perbatasan. Ia kemudian bertekad menumpas semua yang menghalanginya walau harus dibantu oleh Sartana yang menaruh perhatian padanya.Nice-to-know:Ide film ini muncul setelah trailer palsu yang dipertunjukan sebelum karya ganda Robert Rodriguez yaitu Grindhouse/Planet Terror (2007).Cast:Kerjasama kesekian dengan Robert Rodriguez yang diawali dalam Desperado (1995), Danny Trejo kini bermain sebagai Machete yang juga berarti pisau.Robert De Niro sebagai Senator McLaughlinJessica Alba sebagai SartanaSteven Seagal sebagai TorrezMichelle Rodriguez sebagai LuzJeff Fahey sebagai BoothDirector:Debut Robert Rodriguez sebagai sutradara diawali dalam El Mariachi (1992). Kali ini ia berkolaborasi dengan Ethan Maniquis yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai editor.Comment:S
epertinya belakangan ini bioskop tanah air dijejali film-film kelas B setiap minggunya demi mengisi kekosongan slot paska “boikot”. Tidak masalah jika berkualitas tapi rasanya tidak demikian. Balik lagi ke masalah selera, bukan? Film ini contohnya menuai banyak review yang positif dari publik internasional dimanapun ditayangkan. Namun sayangnya tidak bagi saya dan saya memiliki alasan untuk itu.Ciri khas film karya Rodriguez adalah kejujurannya. Jujur dalam segalanya termasuk plot cerita yang straight-forward dan adegan sadis yang sangat gamblang. Tidak heran jika anda akan selalu menemui hal-hal demikian dalam beberapa filmnya dan mulai menyukai gayanya itu. Namun saya melihat esensi yang hilang dalam penggarapannya kali ini.Awal cerita dibuka dengan menjanjikan dimana Sang Machete dikhianati habis-habisan hingga hanya satu hal yang kemudian ada di kepalanya yaitu balas dendam. Dan itu tercermin dari aksinya di menit-menit awal yang sangat brutal. Kemudian film melebar dengan berbagai subplot yang sebetulnya menarik tapi saya tidak merasa penekanannya pas dalam merekonstruksi cerita yang diinginkan terutama banyaknya karakter antagonis dan pendamping protagonis yang muncul.Pendamping protagonis (atau lebih tepat disebut eye-candy) kebetulan disini adalah 2 wanita yaitu Jessica dan Michelle. Jujur saja Jessica bukan pilihan terbaik dimana karakter Sartana terasa cukup dominan dan mengganggu dengan polah tingkah dan aksennya. Kemunculan Rodriguez juga seperti saklar on-off dimana sempat dikabarkan tewas tapi muncul kembali memasuki akhir. Sedangkan di jajaran antagonis kita punya 3 nama yakni DeNiro, Fahey dan Seagal. Silih berganti memperlihatkan taringnya di sepanjang durasi tetapi pada akhirnya tidak memberikan pertarungan berarti yang dinanti-nanti pada klimaksnya.Selain karakterisasi yang terasa lemah, keterlibatan unsur politik dalam cerita sedikit dipaksakan. Seakan duet penulis Robert dan Alvaro Rodriguez yang juga bersepupu itu berusaha menjalin cerita dengan lebih smart dan kompleks. Namun saya katakan dalam film sejenis hal tersebut tidak diperlukan karena penonton tidak akan peduli lagi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu ending yang juga ternyata antiklimaks.Satu-satunya yang menghibur dalam Machete adalah akting Danny Trejo yang luar biasa di usia 64 tahun! Aksinya yang kejam plus berbagai sex scenes yang dilakukan di sepanjang misinya menjadikannya seorang lelaki sejati karena masih melindungi wanita dan kaum-kaum tertindas yang senasib dengannya. Di luar itu, film ini membosankan dengan tempo lambat plus kekurangan-kekurangan yang tersebut di atas.Durasi:95 menitU.S. Box Office:$26,589,953 till Nov 2010Overall:7.5 out of 10Movie-meter:
Storyline:Demi merayakan malam terakhir Putri di Jakarta sebelum bertolak ke Melbourne, Dini, Tika dan Sherry nekad masuk ke klab malam yang eksklusif atas bantuan seorang fotografer bernama Tyo. Keempat remaja cewek yang masih belia dan minim pengalaman itu segera menarik perhatian sejumlah pria hidung belang dengan berbagai motif yang mulai mencekoki mereka minuman dan obat-obatan. Lewat serangkaian kejadian, keempatnya kemudian terbangun di sebuah kamar mewah di pagi hari dalam keadaan mabuk dengan luka berdarah di sekujur tubuh. Belum lagi kemunculan seorang pria asing yang belakangan diketahui bernama Allan di toilet hotel tersebut. Apa yang sesungguhnya terjadi semalam?Nice to know:Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 15 Maret 2011.Cast:Irish Bella sebagai SherryAlex Abbad sebagai AllanFero Walandouw sebagai BenGege Elisa sebagai TikaShapira Indah sebagai DiniYnessa Ioa Gaffar sebagai PutriRaffi AhmadDirector:Film ketiga bagi Nayato di tahun 2011 ini setelah dua film bergenre horor komedi.Comment:Tidak butuh waktu lama bagi Nayato untuk kembali menghadirkan drama remaja yang berlatar belakang seks bebas. Dan tidak usah kaget jika franchise Virgin yang awalnya diprakarsai oleh Hanny R. Saputra mulai saat ini akan diklaim olehnya. Jika pada sekuelnya tahun lalu bersubtitle Bukan Film Porno maka sekuel keduanya ini bertajuk Satu Malam Mengubah Segalanya. Mungkin beberapa di antara anda mulai berpikir jika skenario yang ditulis oleh Cassandra Massardi ini jangan-jangan jiplakan The Hangover? Hm, jangan terlalu cepat menyimpulkan.Saya sendiri sebetulnya lebih suka memberi subjudul Clubbing Satu Malam karena lebih dari separuh durasinya setting dihabiskan di klab malam dengan musik menghentak-hentak. Berbagai jenis dan bentuk muda-mudi sibuk berdansa, minum, lalu lalang dengan pakaian minim nan mencolok mata. Seakan gemerlap kehidupan benar-benar tertuang disana walaupun motif masing-masing belum tentu sama, bisa baik, bisa jahat. Seabu-abu warna seragam empat tokoh remaja putri kita disini.Tak dipungkiri jika Irish, Shapira, Gege, Ynessa memang camera-face sekali. Nilai jualnya ditambah dengan kulit putih, wajah Indo dan juga berbodi yahud. Namun sedikit mengganggu mendengar mereka berdialog dengan cepat dan tak jarang berteriak akibat frustrasi. Seperti biasa Nayato tidak banyak memberikan ruang akting yang cukup bagi artis-artis barunya. Beruntung Alex Abbad masih bisa mencuri perhatian dengan peranan yang lain dari biasanya, kesan misterius cukup berhasil dipertahankannya di sepanjang film. Belum lagi Raffi yang tampil sekilas sebagai cameo penjual burger di sekolah.Tampaknya Nayato kali ini sedikit bereksperimen dengan petualangan semalam suntuk yang menggunakan alur linier dengan berbagai subplot sederhana. Namun tak jarang shaky handheld camera semakin melelahkan mata untuk terus mengikuti sampai habis. Entah angin surga mana yang merasuk ke kepalanya, isu human trafficking dibahas juga di bagian ending. Untuk mempertegas maksud dan tujuannya, digunakanlah tulisan besar dengan huruf warna merah yang seharusnya tidak perlu.Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut di atas dan juga beberapa stereotype film-film bergenre sejenis yang masih ditemui, Virgin 3 sebetulnya masih dapat dikatakan lumayan menarik untuk disimak. Komposisi Tya Subiakto yang mengisi musik scoring nya terasa pas membangun mood film yang turun naik. Nuansa depresi tidak sampai lekat disini tetapi rasanya cukup menyampaikan untuk pesan moral yang dibidik khusus remaja belasan tahun yang seringkali mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan mereka.
Durasi:80 menit
Overall:6.5 out of 10Movie-meter:
Tagline:We never know when it comes
Storyline:Empat sahabat masing-masing Bi, Angga, Deni dan Bagas berniat menonton sepakbola di Jakarta. Mereka melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil dari Semarang. Di saat bersamaan, dua gadis masing-masing Citra dan Candy harus menghadapi ayah dan ibu yang otoriter yang berujung pada penculikan dan pemberontakan mereka. Muda-mudi tersebut harus menghadapi tuntunan nasib masing-masing yang akhirnya mempertemukan mereka pada kejadian tak terduga yang mungkin mengubah segalanya.Nice to know:Diproduksi oleh Mega Entertainment dan diproduseri oleh M. Iqbal Ayub dan Abu Davy.Cast:Nicky TirtaSellen FernandezChintami AtmanegaraSurya LeeRocky JeffFahria YasminSinta BachirRanti PurnamasariJohgan MorganDeni MonoDirector:Toto Hoedi terakhir menggarap Capres (2009) yang menyindir situasi kondisi Pemilu terakhir di Indonesia.
Comment:Sejujurnya saya sangat penasaran dengan film ini, bukan karena isinya tetapi lebih pada ambisi pribadi untuk melengkapi daftar keseluruhan menonton 82 judul film nasional yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2010 yang lalu. Kualitasnya sudah bisa diprediksi mengingat catatan sutradara yang juga bertindak sebagai penulis skripnya.Toto seakan menggarap sebuah proyek film televisi dengan berbagai episode tak terhubung yang digabung menjadi satu. Penggunaan jam yang terus berjalan di berbagai scene rasanya tidak berdampak apa-apa selain menegaskan judul yang dipakai. Tidak ada garis lurus yang bisa ditarik dengan logika kuat akan penceritaan berbagai macam subplot yang dihadirkan. Terkadang beberapa di antaranya malah tidak memiliki sinergi apapun terhadap jalinan cerita, contoh seorang sersan yang menghebohkan rumah sakit karena putrinya Dinda tidak kunjung ditangani dalam kondisi darurat dsb.Aktor-aktrisnya juga bermain seadanya. Karakterisasinya tidak terbangun samasekali. Mungkin anda akan menemukan beraneka wajah familiar di dalamnya, entah mantan model yang sudah lama tenggelam atau bintang baru yang belum jelas kiprahnya. Sungguh patut dipertanyakan motif masing-masing untuk mau terlibat disini karena tidak akan berkontribusi apapun terhadap karir mereka.Berkali-kali saya menguap menyaksikan TIME sehingga WAKTU durasi yang berjalan (yang sebetulnya singkat) sudah tidak saya pedulikan lagi selain menunggu scene demi scene berjalan tanpa makna yang berarti. Rasanya malas sekali jika berusaha mengingat atau bahkan mencaritahu hubungan si A dengan si B atau si C, si D dst yang tiba-tiba muncul dalam layar. Tidak ada yang lebih melegakan ketika credit title mulai bergulir yang menandakan selesainya film ini. Namun yang cukup menyengsarakan kala harus menulis reviewnya karena tidak ada satupun aspek yang dapat saya ingat!Keberanian Blitzmegaplex menayangkan film ini meski cuma dalam waktu seminggu tayang karena sepi peminat bisa jadi karena co-produsernya adalah salah satu pendiri jaringan bioskop tersebut. Jika anda menginginkan sebuah film dengan segala rumus, segala genre yang berbaur menjadi satu, inilah jawabannya. Hanya saja semua itu tanpa konklusi yang dapat dipertanggungjawabkan walaupun sesungguhnya dramatisasi menyentuh telah coba dihadirkan. Durasi:80 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:
Quotes:Piper: Gimme one good reason I shouldn't shoot you in the face.Milton: I'm driving.Piper: You know what I mean!
Storyline:Misi John Milton cuma satu yaitu mencari Jonah King yang telah menculik cucu perempuan dari putrinya yang menghilang demi persembahan sebuah sekte sesat. Namun John selalu dibuntuti pria perlente, The Accountant yang bertekad menangkapnya kembali. Dalam perjalanan, John bertemu pramusaji Piper yang diyakini dapat membantunya. Berdua mereka menelusuri jejak Jonah dengan mobil dan senjata untuk menumpas siapapun yang menghalangi jalan mereka.Nice-to-know:Karakter Nicolas Cage disini adalah John Milton yang juga nama penulis film Paradise Lost, sebuah epic yang bercerita Satan pencipta neraka.Cast:Kemunculan pertamanya lewat film televisi Best of Times (1981) telah menuntun Nicolas Cage menjadi seperti sekarang ini. Peran John Milton diwujudkannya dalam sosok berambut setengah pirang, berjaket kulit dan berkacamata hitam.3 dari 4 filmnya di tahun 2009 sudah saya saksikan termasuk Zombieland, kini Amber Heard bermain sebagai Piper, mantan waitress yang dikhianati tunangannya hingga harus menelusuri perjalanan maut.William Fichtner sebagai The AccountantBilly Burke sebagai Jonah KingDavid Morse sebagai Webster
Director:Merupakan film berbasis 3D kedua bagi Patrick Lussier setelah My Bloody Valentine (2009).Comment:Terus terang saya teramat jengah melihat nama Cage mengisi sebuah film selama 2 tahun terakhir. Kebintangannya semakin memudar dengan peran-peran stereotype yang samasekali tidak membantu apapun dalam peningkatan karirnya. Bagaimana dengan tokoh John Milton disini? Di luar dugaan, Cage mampu memainkan sosok tangguh gila yang berpenampilan dingin dengan penampilan super cuek berantakan dari luka dan codet di sekujur wajahnya. Dan ini menyenangkan apalagi dilengkapi dengan kacamata hitam dan senjata-senjata mematikan yang dimilikinya.Di luar Cage juga ternyata didukung oleh aktor-aktris yang bermain cool dan nyaman. Sang heroine adalah Heard yang cantik seksi tetapi mampu bertarung dengan cekatan, tipikal jagoan wanita dalam action flick favorit anda. Sang messiah adalah Burke yang terlihat flamboyan yang mengingatkan pada sosok Elvis Presley dengan aksen Amerika Selatan yang mantap. Sang accountant adalah Fichtner yang berdandan kelimis seperti Neo dalam The Matrix tetapi dengan dialog-dialog tajam terlontar dari mulutnya. Lihat bagaimana ia menjentikkan koin dan mengubahnya menjadi kartu identitas FBI dengan cepatnya. Menarik!Sutradara Lussier memadukan segala elemen yang biasanya dipertontonkan oleh film kelas B yaitu konten-konten dewasa. Sebut saja minuman keras, rokok, seks bebas, senjata tajam dsb plus berbagai umpatan kasar mewarnai nyaris setiap pertukaran kalimatnya. Semua itu terasa cukup menyenangkan dalam balutan 3D seperti desingan peluru, sambaran api, pecahan bom dll meskipun semua itu bukan hal baru lagi.Skrip yang ditulis oleh Lussier sendiri bersama Todd Farmer memang tergolong klise dan murahan. Anda akan dengan mudah menebak adegan demi adegan bahkan mungkin pengucapan dialog demi dialognya. Namun penempatan soundtrack yang tepat rasanya tetap mampu membuat anda bersemangat mengikutinya sampai selesai walaupun harus menggeleng-gelengkan kepala akan apa yang anda baru saksikan.Bagi saya, Drive Angry merupakan sebuah guilty pleasure. Film yang berkualitas buruk tapi herannya masih dapat dinikmati sebagai tontonan aksi yang lengkap termasuk suguhan adegan vulgar dan sadis dimana-mana. Sekarang terserah anda menilainya apakah sependapat dengan saya atau tidak. Yang pasti bagian penutup yang memperlihatkan jalan raya terbakar menuju neraka saat credit title bergulir sangatlah indah di mata!
Durasi:95 menit
U.S. Box Office:$9,103,951 till March 2011
Overall:7.5 out of 10Movie-meter:
Quotes:Jacques Mesrine: One day they'll shoot me to death, and it will completely make sense. Natural. After all, for someone who was in prison with maximum security, there are no rules. Like me, I live without rules.
Storyline:Pelarian dari penjara bersama Jean Paul membuat Mesrine tersohor dan menjadi criminal nomor satu yang paling sulit dilumpuhkan. Mesrine kembali ke Perancis dan merampok sejumlah bank bersama rekan-rekannya serta selalu berhasil lolos dari kejaran polisi dengan cara-cara yang luar biasa. Sempat dijebloskan ke Maximum Security Prison di Paris, Mesrine malah bertandem dengan François Besse untuk kabur sekali lagi. Statusnya pun mulai berubah menjadi revolusioner, berkencan dengan Sylvia dan kemudian dengan bangga melakukan interview di media akan perspektif dirinya.Nice-to-know:Vincent Cassel menambah bobotnya sekitar 20 kg selama 4 bulan sebelum proses syuting dimulai.Cast:Pertama kali saya lihat aktingnya dalam Birthday Girl (2001), Vincent Cassel melanjutkan peran Jacques Mesrine disini.Ludivine Sagnier sebagai Sylvia JeanjacquotMathieu Amalric sebagai François BesseSamuel Le Bihan sebagai Michel ArdouinGérard Lanvin sebagai Charlie BauerDirector:Jean-François Richet mengawali debut penyutradaraannya lewat État des lieux (1995).Comment:Beruntung sekali, film ini akhirnya bisa tayang di Indonesia lebih karena kekosongan slot film-film studio besar Hollywood. Jika episode pertamanya banyak berkisah mengenai pembentukan karakter sang kriminal nomor satu. Maka episode keduanya ini lebih bertutur tentang bagaimana melumpuhkannya setelah audiens disuguhkan kepintaran dan kelicinannya dalam aksi-aksinya. Tentu saja menggunakan penekanan yang berbeda dimana sudut pandang kita akan terbentuk sepenuhnya akan sosok Mesrine sesungguhnya.Sutradara Richet masih tetap mempertahankan nuansa serius episode pertama dimana level kekerasannya masih realistis. Namun saya merasa episode keduanya ini lebih konservatif terlihat dari aksi kejar mengejarnya. Skrip di awal yang tergolong monoton dengan hanya memperlihatkan perampokan dan pelarian berubah menjadi pertunjukan karakter Mesrine sebagai hipokrit yang seringkali merugikan orang-orang di sekitarnya terutama ambisinya untuk melumpuhkan sistem demi sistem demi mencapai target yang semakin tinggi.Penampilan Cassel disini sangat kuat. Terbukti ia mengubah penampilan fisiknya sedemikian rupa dengan perut yang mulai membuncit, belum lagi serangkaian penyamaran yang dilakukannya teramat meyakinkan. Terkadang kita sulit mengenali karakter Mesrine yang memiliki 1001 wajah. Emosinya yang keras juga terlihat dari setiap aksinya, membentuk karisma seorang kriminal hebat dengan sempurna. Kebetulan nama-nama di luar Cassel juga bermain secara maksimal sehingga satu sama lain terasa saling mendukung menyuguhkan plot cerita yang intens.Saya harus akui episode pertamanya lebih berkualitas secara keseluruhan tetapi entah mengapa saya lebih antusias mengikuti jalinan cerita episode keduanya ini dari menit awal sampai akhir. Terlepas dari obyektifitas yang terkadang kabur akan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan ke penonton, Public Enemy Number One yang judul aslinya Mesrine : Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy #1 ini merupakan salah satu biografi terbaik yang dibuat Perancis sepanjang sejarah perfilman Eropa. Akting yang mumpuni, penyutradaraan yang brilian berhasil menjaga intensitas film dengan baik lewat serangkaian aksi memukau yang sangat tradisional dalam pengertian positif. Selamilah pola pikir seorang Mesrine dan silakan tarik kesimpulan yang bisa anda rangkai.Durasi:120 menitU.S. Box Office:$275,125 till Feb 2011Overall:7.5 out of 10Movie-meter:
Quotes:Sparky: Ohh! Those are my friends. My stinky farts, if I can't hold them they escape without my permission! But they are my friends. Sometimes when I need to breathe, I use them.
Storyline:Daniel adalah seekor lumba-lumba beranjak dewasa yang berusaha keluar dari habitatnya yang selalu melarang pengembaraan. Ia pun nekad menelusuri samudera sekaligus menemukan ombak terbaik untuk berselancar yang menjadi tujuan hidupnya. Di perjalanan ia bertemu dengan si udang Carl yang bersedia menemaninya. Namun lautan luas memang terkadang kejam dan mereka berdua pun harus bertahan menghadapi rintangan-rintangan yang menghadang.Nice-to-know:Diproduksi secara keroyokan oleh DDG, Passworld Unipersonale, Passworld, Dolphin-Films dan sudah dirilis di negara-negara Amerika Latin pada periode Oktober-November 2009.Voice:Robbie Daymond sebagai Daniel Dolphin / Carl / Barracuda Jr. / Crab #1 / Crab #2 / Blowfish #1 / Fish #1 / Fish #2 / Fish #3Debra L. Repashy sebagai Leena / Voice of the Sea / Sparky / Carl's MomMichael Ferreri sebagai LuciusSteven Booth sebagai MichaelDirector:Merupakan film ketiga bagi Eduardo Schuldt sejauh ini yang semuanya berbahasa Spanyol.Comment:Jika sebuah film animasi berformat 3D bercerita mengenai fabel alias kehidupan hewan tertentu, biasanya pangsa pasar ditujukan bagi anak-anak. Diangkat dari buku karya Sergio Bambaren yang kemudian digubah oleh Judy Kellem, Eduardo Schuldt dan Michael Wogh ke dalam skrip film, akankah ekspektasi penonton dapat terpenuhi pada akhirnya?Pertama, suara narator disini teramat mengganggu. Intonasi monoton yang mengarahkan setiap tingkah laku ke dalam perjalanan absurd Daniel terasa menggelikan. Seakan Tuhan berseru dari langit dan menuntun tokoh utama untuk memenuhi panggilan hatinya yaitu berselancar di ombak yang paling sempurna. Pernahkah terlintas dalam pikiran anda seekor lumba-lumba mampu mempunyai pemikiran serupa?Kedua, semangat naïf yang digelorakan di sepanjang durasi film terkesan membodohi penonton tanpa alasan. Bayangkan berbagai makhluk buas di dalam samudera awalnya terlihat baik dan tidak menimbulkan kecurigaan hingga pada akhirnya bertindak dengan tujuan keji. Meskipun beberapa diantaranya bisa “tobat” berkat kepolosan dan ketulusan Daniel? Hm, he’s not a superhero whatsoever in here!Ketiga, animasi yang dihasilkan seakan dikerjakan oleh orang yang baru mempelajari 3D. Pergerakan binatang-binatang laut disini terasa sekali efek komputernya sehingga terasa kurang natural. Keseluruhan teknik yang digunakan masih tidak matang, tak heran bagi anak-anak sekalipun tidak ada daya tarik yang mampu membuat mereka peduli pada masing-masing karakternya disini. Terkadang zooming in-out juga agak dipaksakan sekadar usaha untuk mendapatkan angle yang berbeda.Keseluruhan logika cerita yang berjalan terasa dipermudah kalau tidak mau dikatakan tidak berotak samasekali. Endingnya pun antiklimaks dan membuat kita mengerutkan alis saja. Satu-satunya yang mungkin worth to watch hanyalah pada menit ke-29 dimana terjadi kejar mengejar yang cukup seru antara Daniel dan Lucius selama sekitar 210 detik, selebihnya Dolphin : Story Of A Dreamer mungkin akan membuat anda terlelap dalam mimpi yang bisa jadi jauh lebih menarik daripada ini.Durasi:85 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:
Storyline:Masih dibayang-bayangi Rangga tunangannya yang hilang 3 tahun lalu di kawasan RKT 2000, Nadia malah ditugaskan bosnya Pak Wijaya untuk pergi ke Papua untuk mencari lokasi tambang yang baru. Dengan berat hati disertai wejangan eyangnya, Nadia akhirnya berangkat. Di luar dugaan David, putra Pak Wijaya yang playboy itu membuntutinya hingga disana. Nadia tidak sendiri karena ditemani Ebi, Merry dkk untuk mengunjungi Suku Korowai di Buven Digu. Semakin jauh melangkah, mereka tidak menyadari bahwa ada sekelompok suku primitif yang semua anggotanya perempuan mengintai mereka. Benarkah Rangga masih hidup? Bagaimana Nadia dapat terus menyimpan harapannya sekaligus keluar dengan selamat dari sana?Nice to know:Diproduksi oleh Nayakom Mediatama dan Merauke Enterprice, gala premierenya dilangsungkan pada tanggal 8 Maret 2011 di Epicentrum XXI.Cast:Fanny Fabriana sebagai NadiaFauzi Baadilla sebagai DavidPiet Pagau sebagai Eyang JokoDidi Petet sebagai Pak WijayaEdo Borne sebagai RanggaPetrus Taro Gerze sebagai EbiDirector:Irham Acho Bachtiar pernah menggarap Melodi Kota Rusa sebelumnya yang beredar secara terbatas di kalangan masyarakat Papua.Comment:Jika anda mencermati poster ini dengan seksama, niscaya akan mengetahui kemana arah yang dituju. Penulisan tagline dalam huruf besar “Unik, Romantis, Penuh Misteri & Mencekam rasanya sudah menjelaskan semua genre yang diusungnya. Dua pertiga film ini banyak diisi oleh misi budaya yang memperkenalkan aktifitas masyarakat Papua sambil sesekali dibubuhi oleh unsur roman dan komedi. Sedangkan sisanya baru mengetengahkan konsep slasher yang diyakini mampu meningkatkan tensi.Namun apakah penonton akan cukup sabar mengikuti jalinan cerita skrip yang ditulis oleh Ace Arca dan Augit Prima tersebut? Bagi yang tidak terlalu berharap banyak sedari awal mungkin masih dapat menikmatinya sebagai sebuah hiburan belaka meskipun sedikit bertanya-tanya apa misi yang sesungguhnya diemban film ini?Sutradara Irham terkesan berusaha menghadirkan sinematografi khas tahun 80an dengan teknik close up dan cutting scene yang dominan terutama di bagian awal film. Sayangnya proses editing masih terlihat kurang mulus antar perpindahan adegannya. Jika harus mencari kambing hitam, mungkin disebabkan pemotongan beberapa bagian oleh LSF yang dirasa terlalu mengganggu. Kekurangan lain adalah alam Papua yang seharusnya mendapat perhatian lebih dengan keasrian dan keindahannya malah terlihat seperti setting hutan biasa saja.Sebagai nyawa film ini, Fanny bermain cukup apik. Pengekspresian suasana hatinya tergambar jelas di sepanjang adegan yang melibatkan dirinya. Interaksinya dengan Fauzi yang tampil ngocol berhasil mengundang “reaksi” penonton walau tak jarang terasa berlebihan. Aktor-aktris asli Papua yang terlibat disini bermain natural terlepas dari minimnya pengalaman mereka dalam sebuah produksi film layar lebar.Secara keseluruhan, Lost In Papua rasanya tidak buruk dalam memenuhi standarisasi tontonan lokal di masa seperti ini. Hanya saja proses “mixing ideas” tidak diperhitungkan secara matang sehingga mengaburkan identitas film. Tak jarang berbagai konflik yang dikembangkan selama durasinya tidak berujung dengan sempurna. Hati-hati dengan isu seksual yang radikal dan eksplisit yang diketengahkan disini walau tidak memiliki dasar yang kuat, belum lagi suguhan kesadisan yang ternyata masih kurang meyakinkan. Sangat disayangkan mengingat plot ceritanya memiliki potensi yang cukup besar, andaikata tidak dicampuri terlalu banyak pihak dalam pengeksekusiannya.Durasi:105 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:
Storyline:Menempuh perjalanan jauh dari Vienna ke Berlin, tujuan Michael cuma satu yaitu menemui mantan kekasihnya Gabi yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Namun begitu sampai di apartemen Gabi, Michael langsung disambut oleh zombie yang menyerangnya. Pontang-panting ia dibantu oleh seorang remaja bernama Harper untuk menyelamatkan diri. Situasi ternyata sudah berubah menjadi mencekam dimana bahaya mengancam dimana-mana. Berhasilkah Michael keluar dari mimpi buruk itu?Nice-to-know:Didistribusikan secara internasional oleh EastWest Distribution pada tahun 2010 yang lalu.
Cast:Michael Fuith sebagai MichaelTheo Trebs sebagai HarperSebastian Achilles sebagai KaiIngrid Beerbaum sebagai StimmeCarsten Behrendt sebagai ManniAnna Graczyk sebagai GabiDirector:Merupakan feature film pertama bagi Marvin Kren setelah 3 film pendek yang dihasilkannya.Comment:Merupakan salah satu film yang mencuri perhatian pada ajang iNAFFF10 yang berlangsung di Blitzmegaplex beberapa waktu yang lalu. Nanti dulu jika anda pikir yang satu ini akan sejenis dengan film-film bertemakan zombie lainnya. Dikarenakan buatan Jerman bisa jadi hasilnya berbeda dari apa yang sudah-sudah.Plot ceritanya sangat sederhana dan mudah diikuti. Langsung menuju sasaran tanpa berbelit-belit dengan tempo yang cukup cepat, tidak mencoba untuk terlihat terlalu pintar atau istimewa. Itulah nilai lebih film yang berjudul internasional Siege of the Dead ini sehingga penonton hanya duduk tertib dan menikmati suguhan yang disajikan saja.Sutradara Kren dengan gemilang menyiasati bujet kecil yang dipercayakan padanya. Ia memaksimalkan ruang sempit antar unit apartemen untuk menjaga teror dari gerombolan zombie tersebut. Skrip minimum yang dieksekusinya terkesan membebaskan aktor-aktrisnya untuk bermain sewajarnya disini terutama Fuith yang berperan sebagai Michael.Endingnya tergolong di luar dugaan karena menampilkan sebuah romantisme dalam cara yang aneh. Entahlah apakah ini didramatisasi atau sekadar keberanian untuk mewujudkan konsep “out-of -the-box-thinking”. Rammbock tetaplah sebuah karya non Hollywood yang cukup menegangkan untuk disimak, terlebih bagi anda zombie-mania untuk sekadar perbandingan.Durasi:60 menitOverall:7 out of 10Movie-meter: