XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label toto hoedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label toto hoedi. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Maret 2011

TIME : Garis Waktu Berbagai Peristiwa Tak Terduga

Tagline:
We never know when it comes

Storyline:
Empat sahabat masing-masing Bi, Angga, Deni dan Bagas berniat menonton sepakbola di Jakarta. Mereka melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil dari Semarang. Di saat bersamaan, dua gadis masing-masing Citra dan Candy harus menghadapi ayah dan ibu yang otoriter yang berujung pada penculikan dan pemberontakan mereka. Muda-mudi tersebut harus menghadapi tuntunan nasib masing-masing yang akhirnya mempertemukan mereka pada kejadian tak terduga yang mungkin mengubah segalanya.

Nice to know:
Diproduksi oleh Mega Entertainment dan diproduseri oleh M. Iqbal Ayub dan Abu Davy.

Cast:
Nicky Tirta
Sellen Fernandez
Chintami Atmanegara
Surya Lee
Rocky Jeff
Fahria Yasmin
Sinta Bachir
Ranti Purnamasari
Johgan Morgan
Deni Mono

Director:
Toto Hoedi terakhir menggarap Capres (2009) yang menyindir situasi kondisi Pemilu terakhir di Indonesia.

Comment:

Sejujurnya saya sangat penasaran dengan film ini, bukan karena isinya tetapi lebih pada ambisi pribadi untuk melengkapi daftar keseluruhan menonton 82 judul film nasional yang rilis di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2010 yang lalu. Kualitasnya sudah bisa diprediksi mengingat catatan sutradara yang juga bertindak sebagai penulis skripnya.
Toto seakan menggarap sebuah proyek film televisi dengan berbagai episode tak terhubung yang digabung menjadi satu. Penggunaan jam yang terus berjalan di berbagai scene rasanya tidak berdampak apa-apa selain menegaskan judul yang dipakai. Tidak ada garis lurus yang bisa ditarik dengan logika kuat akan penceritaan berbagai macam subplot yang dihadirkan. Terkadang beberapa di antaranya malah tidak memiliki sinergi apapun terhadap jalinan cerita, contoh seorang sersan yang menghebohkan rumah sakit karena putrinya Dinda tidak kunjung ditangani dalam kondisi darurat dsb.
Aktor-aktrisnya juga bermain seadanya. Karakterisasinya tidak terbangun samasekali. Mungkin anda akan menemukan beraneka wajah familiar di dalamnya, entah mantan model yang sudah lama tenggelam atau bintang baru yang belum jelas kiprahnya. Sungguh patut dipertanyakan motif masing-masing untuk mau terlibat disini karena tidak akan berkontribusi apapun terhadap karir mereka.
Berkali-kali saya menguap menyaksikan TIME sehingga WAKTU durasi yang berjalan (yang sebetulnya singkat) sudah tidak saya pedulikan lagi selain menunggu scene demi scene berjalan tanpa makna yang berarti. Rasanya malas sekali jika berusaha mengingat atau bahkan mencaritahu hubungan si A dengan si B atau si C, si D dst yang tiba-tiba muncul dalam layar. Tidak ada yang lebih melegakan ketika credit title mulai bergulir yang menandakan selesainya film ini. Namun yang cukup menyengsarakan kala harus menulis reviewnya karena tidak ada satupun aspek yang dapat saya ingat!
Keberanian Blitzmegaplex menayangkan film ini meski cuma dalam waktu seminggu tayang karena sepi peminat bisa jadi karena co-produsernya adalah salah satu pendiri jaringan bioskop tersebut. Jika anda menginginkan sebuah film dengan segala rumus, segala genre yang berbaur menjadi satu, inilah jawabannya. Hanya saja semua itu tanpa konklusi yang dapat dipertanggungjawabkan walaupun sesungguhnya dramatisasi menyentuh telah coba dihadirkan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 07 Juni 2009

CAPRES : Saat Wacana Politik Pilpres Dipertontonkan

Cerita:
Ketatnya kinerja KPK dalam memperlakukan beberapa pemimpin partai politik yang akan maju sebagai calon presiden membuat partai ASU mencari orang dengan kriteria lugu untuk dijadikan tumbal. Pilihan jatuh pada Hartono, staf administrasi kantor mereka yang segera "dipermak" demi kepentingan politik. Perlahan-lahan, Hartono melihat ketidakadilan, kekerasan, ketidakjujuran mewarnai hari-harinya yang membuatnya bertanya-tanya apa yang sesungguhnya ia perjuangkan?

Gambar:
Seadanya dimana lighting seringkali tidak begitu diperhatikan!

Act:
Dwi Sasono sebagai Hartono, boleh dibilang mengambil gaya Soekarno sebagai calon pemimpin bangsa.
Catherine Wilson sebagai Pretty.
Happy Salma.
Feby Febiola.
Beberapa cameo tokoh politik yang tidak perlu disebutkan.

Sutradara:
Toto Hoedi yang sebelumnya terkenal dalam film parodi carut-marut Film Horor yang herannya lumayan sukses masih menggunakan formula yang sama dalam CaPres yaitu keroyokan bintang dengan plot yang "ramai".

Komentar:
Film yang konon berbujet tinggi melebihi Laskar Pelangi ini rasanya sia-sia saja karena tidak didukung sumber daya yang baik. Ide cerita mengenai dunia politik pemilihan presiden memang menyentil tapi seharusnya dengan gaya sarkasme yang baik. Jika banyak yang mengatakan film ini bagus, saya justru heran karena saya merasa tersiksa dari awal sampai akhir dengan plot cerita yang berantakan dan seperti berlarian dari relnya. Pada akhir kata, bolehlah wacana ini menjadi cerminan kita bersama guna mendukung pemerintahan baru yang "bersih". Itu saja nilai plusnya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!