XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 12 September 2012

RESIDENT EVIL : RETRIBUTION Mixed Repetition About Alice’s World

Tagline:
Evil goes global.

Nice-to-know:
Jensen Ackles sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran Leon S. Kennedy sebelum jatuh ke tangan Johann Urb.

Cast:
Milla Jovovich sebagai Alice
Sienna Guillory sebagai Jill Valentine
Michelle Rodriguez sebagai Rain
Aryana Engineer sebagai Becky
Li Bingbing sebagai Ada Wong
Boris Kodjoe sebagai Luther West
Johann Urb sebagai Leon S. Kennedy
Kevin Durand sebagai Barry Burton



Director:
Merupakan feature film kesepuluh bagi Paul W.S. Anderson setelah remake The Three Musketeers (2011).

W For Words:
Tepat satu dasawarsa lalu, Resident Evil (2002) yang merupakan adaptasi game populer diluncurkan ke pasaran film internasional dan menuai sukses dengan mengumpulkan lebih dari 100 juta dollar di seluruh dunia. Kini sang kreator, Paul W.S. Anderson sudah sampai pada installment kelimanya masih dengan pembahasan Umbrella Corporation dan T-Virus yang menjadi pemicu “kiamat” ini. Pertanyaannya, “Masihkah franchise ini memiliki daya pikat setelah formula bakunya digunakan berulang-ulang?” Again and again and again and again and again. Did i say “again” 5 times already?

Alice terbangun dari tidurnya, mendapati suaminya Carlos akan berangkat kerja dan putrinya Becky akan pergi sekolah. Pagi yang sempurna itu dalam seketika dikacaukan oleh kawanan zombie yang menyerbu masuk rumah mereka. Alice melakukan perlawanan sebelum akhirnya terbangun kembali di dalam ruang tahanan tanpa baju dan senjata. Tak diduga, Ada Wong membantunya melarikan diri dan bersama dengan Luther West, Leon S. Kennedy, Barry Burton mereka melakukan perlawanan terakhir sebelum populasi bumi benar-benar hancur.

Rentang waktu yang digunakan Paul W.S. Anderson disini tidaklah linier. Alice di masa depan dapat bercampur baur dengan Alice di masa lampau, atau justru masa sekarang? Untuk itu tidak perlu heran jika karakter-karakter yang sempat hilang atau sudah tewas di seri-seri terdahulunya bisa muncul kembali, sebut saja Jill Valentine (RE dan RE3), Ada Wong ( RE2 dan RE4) dan Rain (RE) dan juga Albert Wasker (RE5), Leon. S Kennedy (RE2 dan RE4), Carlos Olivera (RE2 dan RE3). Fungsi mereka mungkin hanya sebagai pendamping Alice sehingga tidak terkesan berjuang sendirian di atas kemustahilan.

Milla Jovovich masih tampil dalam kostum kulit ketat berwarna hitam dengan perlengkapan senjata andalannya. Jika biasanya ia menghadapi undead dog maka kali ini monster yang ditawarkan adalah gynormos dan The Axe Man di samping lawan manusia seperti Jill dan Rain atau setengah manusia macam zombie di bagian pembuka. Sayangnya aksi-aksi tersebut sudah pernah kita saksikan sebelumnya mulai dari peluru berhamburan, pisau berterbangan, salto, back flip dsb. Pertarungan pamungkasnya di atas lapisan es pun tak lagi istimewa, lengkap dengan slow motion disana-sini. 
Li Bingbing jelas merupakan salah satu daya tarik bagi penonton Asia. Tokoh Ada Wong di tangannya cukup mencuri perhatian karena kecantikan dan keahliannya. Maafkan kekakuannya dalam berakting yang sedikit terobati dengan kefasihan bahasa Inggris yang sudah cukup terasah. Sinematografi Paul memang masih bersahabat sehingga mudah dinikmati, terlepas dari fakta bahwa efek 3D nya tidak sebaik RE: Afterlife (2010). Jika demikian, maka anda tidak perlu memaksakan diri menyaksikannya dalam format IMAX 3D. It wasn’t that outstanding, regular 3D is more than enough.

Resident Evil : Retribution adalah repetisi tambal sulam dari keempat seri sebelumnya tanpa plot cerita eksis yang berupaya menjelaskan segalanya. Jika anda seperti saya yang sudah telanjur mengikuti Resident Evil series terlepas dari mutu yang semakin hancur bukan karena T-virus ini maka bersiaplah menyongsong The Last Stand sebagai perhentian terakhir nanti. Buang jauh-jauh nalar anda jika ingin (setidaknya) menikmati jibaku seorang Alice dimana Paul W.S. Anderson tahu betul bagaimana memaksimalkan Milla Jovovich sebagai daya tarik utama franchise ini. Hell yes, this is her world, not ours!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 10 September 2012

THE THIEVES : Easy Korean Blockbuster With International Taste

Tagline:
All for the money. One for the revenge. Every man for himself.  

Nice-to-know:
Pembukaan film ini di Korea Selatan sendiri menduduki posisi kedua terbesar sepanjang masa di bawah The Host (2006).

Cast:
Lee Jeong Jae sebagai Popeye
Kim Hae Suk sebagai Chewing Gum
Gianna Jun sebagai Yescall
Gi Guk Seo sebagai Wei Hong
Ju Jin Mo sebagai Polisi
Oh Dal Su sebagai Andrew
Kim Sy Hyeon sebagai Zampano
Simon Yam sebagai Chen
Derek Tsang sebagai Jonny
Anjelica Lee sebagai Julie
Kim Yun Seok sebagai Macau Park
Ye Su Jeong sebagai Madame Tiffany
Kim Hye Su sebagai Pepsi

Director:
Merupakan
film keempat bagi Choi Dong-Hoon setelah Woochi (2009).

W For Words:
Korea Selatan tampaknya sudah mulai mengambil alih tampuk perfilman Asia yang selama berpuluh-puluh tahun dipegang oleh Hongkong dengan keberanian dan inisiatifnya mengolah ide-ide baru yang lebih menjual bagi pasaran internasional. Kali ini penulis dan juga sineas Choi Dong Hoon menggarap film yang paling ditunggu dengan plot sedemikian rupa sehingga lokasi syutingnya mencakup Hongkong, Macau dan Korea Selatan itu sendiri.  Jajaran castnya pun menampilkan nama-nama tenar dari negara-negara tersebut. Menarik bukan?
 
Popeye dan asistennya Zampano meninggalkan Korea untuk merencanakan sebuah perampokan berlian ‘Air Mata Matahari’ bernilai tinggi di Macau. Mereka mengajak ibu dan anak pencuri yaitu Chewing Gum dan Yescall yang baru saja memperdaya pemilik Leesung Gallery serta Pepsi yang baru dibebaskan dari penjara. Ternyata mafia veteran Chen dari Hongkong juga memiliki rencana yang sama dengan bantuan Jonny dan Andrew yang setengah berdarah Korea. Kedua kelompok itu sepakat berafiliasi ditambah dengan putri pembobol brankas ternama, Julie dan juga mantan bos Popeye, Macau Park. Berhasilkah misi besar tersebut di luar agenda tersembunyi yang dimiliki masing-masing personilnya?

Banyak pihak menyebutkan judul-judul seperti The Big Swindle (2003), Tazza : The High Rollers (2006), The Chaser (2008) serta The Yellow Sea (2010) sebagai referensi film ini. Namun Hollywood sendiri memiliki deretan sejarahnya untuk tema serupa, sebut saja Heist (2001), Ocean’s Eleven (2001) dan sekuelnya serta The Italian Job (2003) yang juga proyek remake tersebut. Sutradara Choi tampak masih terpengaruh gaya sinema Hongkong dengan permainan tempo yang dibutuhkan sebuah action thriller sesuai dengan penempatan berbagai elemen genre sejenis ke dalam narasinya.

Sulit untuk mengatakan jika ragam karakter yang terlibat telah mendapatkan porsi yang seimbang selama 135 menit. Memang Gianna, Jeong Jae, Hye Su dan Yun Seok kebagian mayoritas screentime tapi tidak lantas menutupi kesempatan aktor-aktris lain untuk unjuk gigi kala diberi kesempatan. Baik protagonis maupun antagonis kebagian menerjemahkan karakteristik masing-masing lewat dialog-dialog “berisi” dan keahlian yang berbeda-beda dalam upaya memperkuat bangunan cerita yang penuh dengan twist di setiap tikungannya itu. Kendalanya mungkin hanyalah pergantian bahasa repetitif yang terkadang mengganggu pelafalannya.

Apabila sebelumnya nuansa Korea amatlah kuat dalam film-film produksi lokal seperti yang ditunjukkan dalam dua cult movie mereka yaitu Tae Gukgi (2004) dan The Host (2006), maka disini tidak demikian. Unsur cosmopolitan tanpa mengkotak-kotakkan ras atau gender lebih ditonjolkan demi terciptanya sebuah blockbuster bercitarasa universal. Anda akan berdecak kagum melihat sajian kejar-kejaran, kebut-kebutan, tembak-menembak, lompat-melompat sampai terjun bebas dengan memakai sling yang kesemuanya terlihat meyakinkan.

The Thieves memang hiburan menyenangkan yang tampak cerdas, percaya diri, menjual dan penuh adrenalin sehingga cuma menyisakan sedikit waktu bagi penonton untuk berpikir secara logis atau setidaknya cukup peduli pada nasib salah satu tokohnya.  Disitulah pintarnya Choi menyiasati lubang-lubang dalam plot yang masih tersisa untuk dibahas setelah film berakhir dengan teman menonton anda. Setidaknya selama duduk di dalam bangku bioskop, anda dibuat sibuk menikmati pengkhianatan demi pengkhianatan yang tak terhitung bermotif uang, harga diri dan balas dendam. Guess who’s gonna walk away full-handed? That’s the only question you can only ask!

Durasi:
135 menit

Asian Box Office:
12,326,147 in Korea till Sept 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 09 September 2012

RED LIGHTS : Believers Versus Non-Believers Prejudice

Quotes:
Margaret Matheson: There are two kinds of people out there with a special gift. The ones who really think they have some kind of power. And the other guys, who think we can't figure them out. They're both wrong.


Nice-to-know:
Pada lab video dimana Buckley bekerja terdapat poster "I Want To Believe" dari The X-Files tetapi quote nya diubah menjadi "I Want To Understand".

Cast:
Robert De Niro sebagai Simon Silver
Cillian Murphy sebagai Tom Buckley
Sigourney Weaver sebagai Margaret Matheson
Elizabeth Olsen sebagai Sally Owen
Toby Jones sebagai Paul Shackleton
Joely Richardson sebagai Monica Handsen

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rodrigo Cortés setelah Buried (2010).

W For Words:
Gejala paranormal disini tidak melulu berarti ada hubungannya dengan hantu melainkan kemampuan cenayang seseorang yang dapat digunakan untuk memanipulasi pikiran atau kenyataan. Premis yang tidak biasa ini lahir dari buah pemikiran seorang Rodrigo Cortes. Namun ia bersama Adrian Guerra yang juga bertindak sebagai produser tampaknya tidak yakin film ini dapat dinikmati oleh orang banyak sehingga rilisnya terbatas. Padahal menilik jajaran castnya samasekali tidak mengecewakan dimana kombinasi senior dan junior lagi-lagi dilibatkan disini.
 
Psikolog Margaret Matheson dan asistennya yang turut mempelajari aktifitas paranormal, Tom Buckley seringkali mengungkap tabir rahasia para psychic lewat penjelasan-penjelasan rasional. Mendapat sokongan dana dari Dr. Shackleton untuk menunjang kegiatan operasional, mereka juga mengajar di kampus sebagai gantinya. Tatkala psychic kelas dunia yang sudah 30 tahun menghilang, Simon Silver tiba-tiba muncul kembali, rasa penasaran Tom menjadi tumbuh walaupun tantangan tersebut ditentang oleh Margaret yang masih menyimpan trauma di masa lampau.

Saya tidak pernah meragukan talenta seorang Cillian Murphy. Sejak awal tokoh Tom dibawakan secara misterius. Pergeseran dari second menjadi first act selama film bergulir semakin memberikan ruang padanya untuk bereksplorasi lebih. Meski kemunculannya tidak sampai akhir, Sigourney Weaver tetap memikat untuk disaksikan. Tokoh Margaret yang sebetulnya logis kerap menemui jalan buntu kala dihadang keraguan demi keraguan. Sedangkan Robert De Niro tidak mengecewakan terlepas dari peran “watak” tipikal pada tokoh Silver yang penuh muslihat. Selain itu masih ada Elizabeth Olsen yang semakin menancapkan namanya dan juga Toby Jones yang menunjukkan senioritasnya.
 
Ide milik Cortes ini bagi penonton yang agamais mungkin akan menganggapnya atheis, radikal dan skeptis. Namun bagi saya teori Occam’s Razor yang mendasari semua itu dimana prinsip utamanya adalah penjelasan yang lebih sederhana dari segala sesuatu yang dianggap rumit. Pertentangan ilmuwan melawan cenayang merupakan pertarungan analytical minds yang menarik. Imbasnya tentu saja mempengaruhi orang-orang awam yang menjadi saksi, bagaimana mereka mempercayai semua teori sekaligus menjaga harapan positif dari kemalangan sekalipun.

Red Lights tersaji dalam tempo yang tepat, semakin gelap dan menyeramkan menjelang epilog yang ternyata menyimpan twist tersendiri. Tidak usah mencoba memahami seratus persen maksud filmmakers disini, cukup pahami garis besar dari hubungan antara Tom-Margareth-Simon saja. Penampilan gemilang para pendukung film ini setidaknya menjaga rasa penasaran anda dalam menyatukan kepingan puzzle misteri yang tersebar. What you have to believe that anything’s possible. It’s not wrong either to accept the fact that possession might lead to certain mental powers especially if you had ever experienced it yourself.

Durasi:
113 menit

Worldwide Box Office:
$8,513,616 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 September 2012

SADAKO 3D : Nowhere Near Inside The Ring

Quote:
Sadako: Bukan.. Bukan kau orangnya..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi secara kolaborasi oleh Kadokawa Pictures, Tokai Television Broadcast Company, Shizuoka Telecasting, Kansai Telecasting (KTV), Tohokushinsha Film Corporation ini rilis di Jepang pada tanggal 12 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Ai Hashimoto sebagai Sadako
Satomi Ishihara sebagai Akane Ayukawa
Kôji Seto sebagai Takanori Ando
Yusuke Yamamoto sebagai Kiyoshi Kashiwada
Tsutomu Takahashi
Shôta Sometani
Hikari Takara
Ryôsei Tayama

Director:
Merupakan feature film keempat Tsutomu Hanabusa setelah terakhir Ike! Danshi koukou engekibu (2011).

W For Words:
Nyaris semua pecinta film setidaknya mengenal Sadako, sosok hantu perempuan Jepang berambut panjang dan berbaju putih yang lahir atas ide Koji Suzuki yang kemudian dipopulerkan oleh franchise Ringu (1998), Ringu 2 (1999), Ringu 0 (2000). Entah apa yang ada di pikiran produser Atsuyuki Shimoda untuk membangkitkannya kembali lebih dari satu dekade kemudian. Keuntungan semata? Atau sekadar meremajakannya dalam format masa kini yaitu 3D? Anda boleh memiliki pendapat masing-masing dan sebagian besar diantaranya pasti tergerak untuk menyaksikannya. Tidak percaya?

Guru SMU, Akane mendengar desas-desus bahwa ada video bunuh diri beredar di internet yang menyebabkan pemirsanya turut bunuh diri. Awalnya ia tak percaya tapi satu persatu korban berjatuhan. Selain itu kekasihnya Takanori juga menghilang setelah menontonnya. Penyidikan mengarah pada seorang pemuda bernama Kashiwada yang bertekad membangkitkan kembali arwah Sadako untuk menghancurkan dunia. Kini Akane harus mengerahkan segenap keberaniannya sebelum semuanya terlambat.

Tampaknya duet penulis skrip Yoshinobu Fujioka dan Tsutomu Hanabusa menyadari bahwa jaman kaset video sudah berganti menjadi video streaming sehingga media yang digunakan untuk kemunculan Sadako pun berubah dari televisi tabung menjadi smartphone berbasis internet tanpa harus saya sebutkan merknya. Namun apakah media 4 inci tersebut “muat” dibandingkan 21 inci? Mereka cukup cerdas untuk menampilkan tangan Sadako saja yang keluar dari layar secara cepat, tiada lagi tubuh yang merangkak dengan slow motion.

Sosok Kiyoshi Kashiwada mungkin mengingatkan anda pada karakter Light Yagami dalam Desu noto (2006) dimana Yusuke Yamamoto didandani mirip bintang rock. Tokoh sentral disini adalah si cantik Satomi Ishihara yang terlihat lemah gemulai tapi mampu melakukan perlawanan dengan “cara”nya sendiri yang akan membuat anda bertepuk tangan. Tidak banyak yang bisa dilakukan Koji Seto atau Tsutomo Takahashi dengan kemunculan ala kadarnya itu. Penampilan spesial Ai Hashimoto mungkin dapat memuaskan rasa rindu anda padanya. Don’t know what I’m trying to say here!

Efek 3D nya tidak banyak membantu. Sutradara Tsutomu Hanabusa “hanya” memanjakan anda dengan tangan menjulur, lengan pucat, gumpalan rambut panjang atau tubuh Sadako yang melayang-layang masuk ke dalam sumur. Temponya memang lebih cepat dengan teror yang lebih bombastis tapi fans lawas franchise ini rasanya tidak akan mengapresiasi hal-hal tersebut. Endingnya pun terasa konyol saat monster-monster imitasi Sadako bermunculan dengan gaya laba-laba. Sungguh menggelikan!

Sadako 3D lebih banyak memicu tawa dibandingkan ketakutan penonton karena kebodohan premis dan keabsurdan plot ceritanya. Mudah-mudahan hal ini masih dapat meraup sejumlah dollar dari sejumlah orang yang penasaran selayaknya penonton Indonesia yang datang berbondong-bondong ke Blitzmegaplex. Tidak ada lagi intensitas ketegangan ala Hideo Nakata yang merambat lewat suguhan misteri yang sulit diungkapkan. Hasil akhirnya lebih menyerupai horor kelas B yang tidak inspiratif samasekali. This is how Japan has ruined its own horror icon.

Durasi:
96 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 September 2012

DARK TIDE : Documentary Typical When Shark Doesn’t Bite

Tagline:
In Shark Alley, courage runs deep.

Nice-to-know:
Berdasarkan kisah nyata dari Amy Sorlie.

Cast:
Halle Berry sebagai Kate Mathieson
Olivier Martinez sebagai Jeff
Ralph Brown sebagai Brady
Luke Tyler sebagai Luke
Mark Elderkin sebagai Tommy

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi John Stockwell yang juga dikenal sebagai aktor ini.




W For Words:
Mungkin film bertemakan hiu sebaiknya tetap berada dalam format petualangan fiktif yang menjual kemustahilan seperti contohnya Jaws (1975) dan Deep Blue Sea (1999) yang laris itu. Jika pendekatan thriller documenter semacam ini, mengikuti pakem Open Water (2003), maka hasilnya belum tentu dapat memuaskan selera penonton mayoritas. Namun tampaknya duo produser Jeanette Buerling dan Matthew E. Chausse cukup percaya diri memasang nama dan tubuh berbikini Halle Berry sebagai jualan utamanya.

Ahli hiu lokal, Kate Mathieson mengalami trauma setelah pria yang menjadi figur ayahnya, Thambe tewas diserang hiu pada suatu kesempatan. Satu tahun kemudian, kekasihnya Jeff mengajaknya kembali ke laut untuk menyelesaikan masalah keuangan. Saat itulah, konglomerat temperamen Brady dan putranya Luke berani membayar tinggi untuk berenang bersama hiu di dalam kandang. Tugas yang terlihat mudah menjadi sulit tatkala Brady mulai berulah. Kate dan Jeff yang tengah rukun kembali bertengkar sekaligus mengantisipasi bahaya tak terduga yang mengancam.

Sutradara Stockwell menghabiskan bujet 25 juta dollar sebagian besar untuk membuat tipikal “dokumenter” yang mahal, terlihat dari lokasi syuting asli di Afrika Selatan mulai dari Cape Town hingga False Bay yang mengagumkan dan juga penggunaan efek CGI di dalam Pinewood Studios yang meyakinkan. Skenario milik Ronnie Christensen dan Amy Sorlie itu sendiri tidak mampu memungkiri kelemahan tempo dan tensi film yang turun naik. Bandrol film kelas B pun sulit dilepaskan, beruntung masih mendapat kesempatan rilis bioskop terbatas sebelum peluncuran DVD nya.

Halle Berry sendiri sudah melakukan upaya terbaiknya untuk memberi sisi emosional yang dibutuhkan dalam karakter Kate. Rasa trauma bercampur dengan kecintaan terhadap pekerjaan itu kerap menimbulkan dilema sendiri. Aktor senior Ralph Brown juga berhasil membangun sosok antagonis yang menggiring antipati penonton dengan karakter Brady yang pemarah dan menyebalkan. Bintang Perancis, Olivier Martinez sebaliknya tak menawarkan kontribusi apapun dengan karakter Jeff yang sedikit bicara dan tidak konsisten dalam penggambarannya tersebut.

Dark Tide merupakan film yang realistis lewat pengalaman fotografis yang nyata. Tontonan tepat bagi anda yang mencari keakuratan fakta tentang kehidupan liar spesies hiu putih di Afrika Selatan, kawanan predator yang sayangnya hanya kebagian sedikit korban kali ini. Sulit untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi pada klimaks yang mengingatkan anda akan The Perfect Storm (2000). Ini adalah sekelumit kisah mengenai segerombolan orang yang “kebingungan” apakah harus menentang bahaya atau tidak dengan motif yang berbeda-beda. That’s what you get for such shark alley challengers.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$42,043,633 till July 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 05 September 2012

RADIO GALAU FM : Galau Tak Kenal Jomblo Atau Berpasangan

Quotes:
Bara: Ujan di luar sih udah berhenti tapi ujan di hati gue masih deres

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 5 September 2012.

Cast:
Dimas Anggara sebagai Bara Mahesa
Natasha Rizki sebagai Velin Caliandra
Jordi Onsu sebagai Rio
Joe P Project sebagai Ayah Bara
Alisia Rininta sebagai Diandra Pramita
Indri Giana sebagai Tata
Ramon Y Tungka sebagai Edo

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Iqbal Rais setelah The Tarix Jabrix (2011).

W For Words:
Sesungguhnya novel Radio Galau FM terdiri dari 12 chapter yang menceritakan petualangan cinta seorang remaja pria bernama Bernard Batubara dan 5 chapter tambahan kiriman followers @RadioGalauFM tentunya dengan satu tema: GALAU. Terbitan 2011 ini lantas menuai sukses karena dianggap dekat dengan kehidupan pribadi pembacanya. Akun Twitternya yang berhasil meraup lebih dari empat ratus ribu pengikut itu pun berhasil menciptakan eforia bagi galauers. Tak heran jika Rapi Films melihat peluang ini untuk melakukan adaptasi layar lebar dengan bintang-bintang anyar.

Aktif di mading sekolah, Bara Mahesa bermimpi menjadi penulis sukses meski impian terdekatnya belum tercapai yaitu punya pacar. Kesempatan itu datang saat adik kelasnya, Velin menunjukkan sinyal cinta yang kuat. Segera Bara membalasnya setelah berkonsultasi dengan ayah dan kakaknya Rara yang sama-sama gokil itu. Lambat laun, Velin berubah manja serta penuntut hingga Bara meminta break dan memilih untuk mendekati kakak kelasnya, Diandra. Benarkah keputusan Bara tersebut menghalau kegalauan dari hidupnya?

Istimewanya, sudut pandang dari novel dan film ini adalah remaja laki-laki bernama Bara Mahesa. Untuk itu penonton pria bisa jadi merasa amat dekat dengan karakter utamanya. *switch sudut pandang pria* Fase galau karena jomblo atau pacaran mulai dari pencarian hingga penemuan kekasih hati dijelaskan secara gamblang. Proses pendekatan yang berujung 'penembakan' akan membuat anda tertawa mengenang pengalaman pribadi, dag-dig-dug sekaligus harap-harap cemas menanti jawaban gadis pujaan. Proses pacaran yang kerap membuat cowo sulit mengerti isi hati cewe pun dijabarkan disini, tak ayal anda akan berujar: "Ah itu gue banget."

Namun bukan berarti penonton wanita dikesampingkan begitu saja. *switch sudut pandang wanita* Penulis skrip Haqi Achmad punya cara khusus bagi anda untuk memasuki pikiran karakter Velin atau Diandra yang sebenarnya hanya ingin perhatian dalam skala besar atau kecil. Semuanya dilakukan pada timing tepat sehingga konsep the battle of sexes dapat diselesaikan secara seimbang walaupun keduanya memiliki dunia masing-masing yang samasekali berbeda. Natasha Rizki mampu menerjemahkan emosi Velin lewat tangisan berurai air mata, menegaskan dirinya sebagai gadis rapuh nan posesif. Kebalikannya Alisia Rininta adalah gadis high class Diandra yang punya segudang tingkah menyebalkan karena merasa memiliki kelebihan fisik.

Dimas Anggara akhirnya mendapat kesempatan emas untuk berkibar sebagai aktor setelah lakonnya dalam Kembang Perawan (2009). Keragaman ekspresi yang luwes turut mengiringi karakter Bara yang masih mencari jati diri dan tambatan hati. Tiga chemistry inti dengan orang-orang terdekatnya berhasil dibawakan secara pas. Apresiasi khusus ditujukan bagi Joe P'Project sebagai ayah nyablak gaul, Jordi Onsu sebagai sohib kepo cerewet dan Tiara Sumiarto sebagai kak Rara yang gokil nyentrik. Yang terakhir ini seringkali kemunculannya tak sedap dipandang mata.

Kembalinya Iqbal Rais ke bangku sutradara setelah sempat berjuang melawan leukimia memang pantas diacungi jempol. Kapabilitasnya menggarap drama roman terbukti masih terjaga terlepas dari segmentasi film yang jauh lebih muda dari karya-karya sebelumnya. Frame demi frame tertata rapi untuk menghadirkan konteks emosi yang dibutuhkan sehingga storytellingnya mengalir lancar dan tidak melebar kesana-sini. Sumbangan musik dari Andhika Triyadi juga mampu menghidupkan suasana di samping kreatifitas Khikmawan Santosa yang lagi-lagi menata suara dengan begitu asyik, sound effect denyut jantung akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Untungnya Radio Galau FM tidak berusaha menjadi istimewa. Pengerucutan belasan karakter yang semula ada di novelnya membuat konflik cinta remaja ini semakin fokus. Kesahajaannya meramu formula biasa menjadi baru lewat sentuhan personal yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman jelas menjadi nilai tambah tersendiri. Fenomena sosial media dan ponsel komunikatif masa kini turut menjadi sarana percakapan yang umum disamping realita dialog dan spontanitas humor yang berkali-kali mengundang tawa. Galau is word of the year and get ready to experience it in the movie.Beware, reflection might come along afterwards!

Durasi:
94 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 04 September 2012

TEST PACK : Drama Pasutri Menghadapi “Bagaimana Jika”

Quotes:
Tata: Disini dikatakan sperma mencapai tingkat kematangannya dalam 3 hari.
Rahmat: Ya udah kalo gitu kita berhubungan 3x sehari.
Tata: Dih mending kuat.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 4 September 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rahmat
Acha Septriasa sebagai Tata
Renata Kusmanto sebagai Shinta
Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo
Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo
Oon ‘Project Pop’ sebagai dr Peni
Karissa Habibie sebagai Dian
Uli Herdinansyah sebagai Markus
Dwi Sasono sebagai Heru

Director:
Merupakan film kedua Monty Tiwa di tahun 2012 setelah Sampai Ujung Dunia.

W For Words:
Novel Test Pack milik Ninit Yunita beredar pada tahun 2005 dimana istri Adhitya Mulya itu masih menetap di Afrika Barat. Bukan rahasia jika ide tersebut muncul dari kehidupan pribadi mereka yang kerap dihujani pertanyaan “Kapan punya anak?” setelah beberapa lama menikah. Pertanyaan yang juga amat familiar di kalangan pengantin baru yang kebetulan tak kunjung diberi keturunan. Kedekatan dengan realita kehidupan itulah yang membuat suguhan terbaru Starvision ini diyakini mampu menarik minat penonton untuk sekadar merefleksikan.

7 tahun menikah, pasutri Rahmat dan Tata belum dikaruniai anak. Segala tips dan trik telah dicoba. Tata yang berkeinginan lebih sampai menemui dokter Peni untuk melakukan tes kesuburan dimana Rahmat sendiri sebenarnya sudah cukup bahagia dengan kebersamaan mereka. Nyatanya hasil tes menunjukkan Rahmat yang tidak subur. Dalam keputusasaan ia bertemu mantannya yang juga supermodel internasional, Shinta yang baru dicerai suaminya, Heru karena mandul. Keputusan Rahmat ingin kembali ke masa lalu atau memperbaiki masa kininya merupakan dilema tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah bagi Adhitya untuk menerjemahkan karya Ninit ke dalam bentuk skenario. Film ini seakan dibagi dalam dua bagian. Pertama, komedi romantis saat Rahmat dan Tata saling berbagi kasih dalam canda dan tawa dimana panggilan sayang yaitu kang dan neng selalu menyertai. Kekesalan Tata menggunakan sejumlah testpack yang menyiratkan depresi diimbangi dengan kekocakan dokter Peni yang menanganinya. Kedua, drama romantis ketika Shinta mulai kembali masuk dalam kehidupan Rahmat dimana rumah tangganya sedang diuji. Ketidakstabilan emosi Tata akibat terapi yang dijalaninya mulai merentang jembatan konflik suami istri yang tak dapat dihindari.

Kelebihan utama jelas ada pada kinerja sutradara Monty Tiwa yang berhasil menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Arahan yang baik terhadap jajaran cast ternama beserta kumpulan cameo yang tak asing lagi, pemilihan lokasi sebagai panggung bercerita yang maksimal, pengaturan tempo momen-momen penting sebagai nyawa film dsb. Editing Cesa David yang ciamik juga memperkuat storytelling sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Sama halnya dengan tata suara dari Khikmawan yang kali ini berkolaborasi dengan Bongky sebagai penata musik sukses mengantarkan emosi yang diharapkan.

Senang rasanya melihat Acha mampu berbagi chemistry manis dengan pria di luar Irwansyah. Lakon suami istri bersama Reza terasa meyakinkan tanpa terlihat canggung dalam berbagi keintiman fisik. Deretan pendukung Sampai Ujung Dunia (2012) juga hadir kembali disini, salah satunya Renata yang semakin mengukuhkan imej “beautiful babe” lewat peran supermodel yang tak terlalu terlihat pede. Pasangan senior Jaja-Meriam juga turut mencuri perhatian sebagai pasien psikolog Rahmat. Jangan lupakan Oon, sang pengocok tawa lewat spontanitas dan wajah polosnya itu.

Test Pack adalah drama yang personal karena mengangkat persoalan umum suami istri dan rumah tangga secara keseluruhan. Kadangkala kita memang tidak siap menghadapi perubahan dan kerapkali lebih peduli pada perkataan orang dibandingkan pasangan sendiri. Obyektifitas yang terganggu tentunya mempengaruhi keputusan akhir yang dibuat bagi kedua belah pihak. Kehati-hatian Monty dalam menggarap tema sensitif tentang momongan ini untungnya didukung oleh sumbangsih maksimal dari aktor-aktris yang terlibat di dalamnya. A must see for couples and newly wed who might face the same ”first world” problems.

Durasi:
109 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 03 September 2012

WU DANG : Horrendous Script Awful Martial Arts

Original title:
大武当之天地密码

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Mei Ah Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 6 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Zhao Wenzhuo sebagai Tang Yunlong
Yang Mini sebagai Tian Xin
Fan Siu-Wong sebagai Shui Heyi
To Yu-Hang sebagai Bai Long
Shaun Tam sebagai Paul Chen
Xu Jiao sebagai Tang Ning

Director:
Merupakan feature film ke-13 bagi Patrick Leung yang terakhir menggarap komedi Hei wong ji wong (2007).


W For Words:
Melihat nama Vincent Zhao, Louis Fan dan Dennis To ada di jajaran pendukungnya tentu wajar jika para penggemar film Mandarin mengharapkan suguhan martial arts yang luar biasa memukau. Apalagi settingnya sendiri mengambil lokasi pegunungan Wudang, terletak di bagian selatan lembah sungai Hansui yang dikenal sebagai pusat akademi praktisi meditasi, pengobatan tradisional, pengajaran Tao hingga pelatihan seni beladiri kungfu sejak jaman Dinasti Han ratusan tahun yang lalu. Namun jangan buru-buru menarik kesimpulan akan apa yang tersaji di hadapan anda.

Daratan Cina di jaman pembentukan RRC, pegunungan Wudang dibanjiri oleh pendekar-pendekar berilmu tinggi dari segala penjuru untuk mengikuti kompetisi beladiri. Dua kubu diantaranya adalah Professor Tang Yunlong beserta putrinya Tang Ning dan Tian Xin yang pernah mewarisi pedang pusaka dari kakeknya. Ternyata bukan hanya itu tujuan mereka, melainkan harta karun yang tersembunyi selama beratus-ratus tahun. Perburuan tersebut juga melibatkan penyelundup barang pusaka, Paul Chen melaksanakan niat jahat yang sudah lama direncanakannya.

Ujian terberat bagi aktor-aktris yang terlibat disini mungkin ada di cuaca dingin yang bahkan mencapai minus dimana kostum yang digunakan masing-masing terbilang tipis. Mereka juga berupaya menampilkan karakteristik beladiri yang berbeda-beda di atas kelemahan akting yang terasa amat kaku . Sutradara Patrick Leung menggunakan pendekatan old-fashioned untuk menerjemahkan tiap konflik dan penyelesaian yang ada meski mengalami keterbatasan dana. Untungnya scoring music dari Lincoln Lo dan editing milik Cheung Ka Fai tak terlalu mengecewakan.

Skrip Huang Jianxin menyimpan kelemahan terbesar dalam produksi film. Prolog yang dibuka dengan perburuan harta karun bergeser menjadi kompetisi bela diri. Belum selesai, penonton sudah disuguhi konflik percintaan dan pengorbanan yang cheesy. Kalimat-kalimat semacam: “Maukah kau menikahi ayahku?”, “Bersediakah kau menjadi istri anakku?”, “Jika aku mati..” akan membuat kening anda berkerut. Pada akhirnya semua tumpukan plot cerita tersebut ditutup begitu saja dengan menyisakan banyak pertanyaan, kenapa begini, kenapa begitu?

Sebenarnya Wu Dang berpotensi tinggi untuk menjadi besar jika digarap dengan lebih serius dan terencana. Bukan sekadar pengadeganan yang believable tanpa mengandung unsur “wow” samasekali. Koreografi yang tidak memukau dari Cory Yuen karena terlalu textbook dengan permainan kamera disini tak juga mampu dicover dengan pemanfaatan efek CGI yang tidak maksimal. Hasilnya? World Heritage Site di provinsi Hubei ini adalah satu-satunya hiburan anda lewat suguhan pemandangan alami yang tak terbantahkan indahnya.

Durasi:
99 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 September 2012

THE CABIN IN THE WOODS : A Tribute To Timeless Horror Flicks

Tagline
You think you know the story.

Nice-to-know:
Tanggal rilis mengalami pemunduran hingga 3 tahun karena studio sempat berniat mengkonversi film ke format 3D walau ditentang oleh Joss Whedon dan Drew Goddard.

Cast:
Kristen Connolly sebagai Dana
Chris Hemsworth sebagai Curt
Anna Hutchison sebagai Jules
Fran Kranz sebagai Marty
Jesse Williams sebagai Holden
Richard Jenkins sebagai Sitterson
Bradley Whitford sebagai Hadley

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Drew Goddard yang sebelumnya berpengalaman menulis berbagai serial televisi ternama.

W For Words:
Judulnya sederhana. Posternya pun tidak istimewa. Jangan buru-buru membuat keputusan bahwa ini akan menjadi thriller horor yang biasa-biasa saja karena anda akan tertipu mentah-mentah. Keterlambatan rilis internasional selama tiga tahun lebih dari rencana awal tak lantas menyurutkan animo para pecinta genre ini termasuk di Indonesia. Bahkan saya sempat berinisiatif mengakomodir ratusan suara terangkum dalam sebuah petisi yang ditujukan kepada jaringan 21 Cineplex untuk mempercepat tanggal penayangannya.

Dana dan sahabat sekamarnya Jules, sepakat mengajak bintang football sekolah, Curt berlibur di sebuah pondok tengah hutan. Turut serta adalah Holden yang segera memikat perhatian Dana dan si kutu buku geek, Marty. Ketika pintu bawah tanah terbuka, mereka turun dan menemukan artefak tua yang membangkitkan kumpulan zombie ganas yang mulai memburu kelimanya. Tak hanya itu, sebuah rahasia gelap tersimpan di balik semua itu dimana permainan nasib akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Premis dan skenario yang dirancang secara brilian oleh duet Joss Whedon dan Drew Goddard sukses membawa genre ini ke tingkatan yang baru sekaligus lebih tinggi. Tidak lupa berbagai elemen sains fiksi, mitologi sampai satir dicampur aduk sedemikian rupa untuk menghasilkan plot cerita yang fresh dan unpredictable. Percayalah semakin sedikit anda mengetahui apapun tentang film ini, maka kenikmatan menontonnya akan semakin tinggi. Tinggalkan trailer, review atau diskusi yang terpampang dimana-mana sebelum menontonnya sendiri.

Goddard yang juga bertindak sebagai sutradara memang tidak menawarkan horor intens bergaya thriller slasher yang diharapkan. Sebaliknya kejutan demi kejutan bergaya dark humor yang berjalan meniti durasinya kerapkali membuat anda tergelak. Dialog-dialog simpel dari para pendukungnya mungkin terdengar klise di samping adegan-adegan yang juga terkesan familiar. Namun kinerja kamera yang liar dengan angle yang variatif berhasil menciptakan nuansa mencekam yang tidak umum.

Connolly, Hutchison, Hemsworth, Williams, Krantz yang diidentifikasikan sebagai "virgin", "whore", "jock", "scholar", "fool" tersebut menjiwai peran lima pelajar sesuai standarnya. Tak ada aksi bodoh atau reaksi murahan yang biasa terjadi sehingga masing-masing dari mereka mampu mendapatkan simpati penonton sejak awal untuk tidak menjadi korban. Kehadiran dua aktor senior, Jenkins dan Whitford serta satu aktris berpengalaman yang berada di balik ruang kendali semakin memperkuat jajaran cast kali ini.

Tak dipungkiri, The Cabin In The Woods menyimpan kejutan manis nan cerdasnya pada 30 menit terakhir dimana emosi anda akan dimainkan lewat pemaparan utuh konsep tak terduganya yang menjalin benang merah dengan setiap ikonik horor yang pernah ada. Brilian! Lupakan beberapa unsur logika yang terabaikan atau korelasi yang tak terdefinisikan, perjalanan pilihan anda ke pondok di tengah hutan ini akan sangat menyenangkan. Mungkin sedikit berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah surat kematian berdarah yang menjadi signature penghormatan dari sejarah film horor sepanjang masa.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$42,043,633 till July 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent