XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Senin, 10 September 2012

THE THIEVES : Easy Korean Blockbuster With International Taste

Tagline:
All for the money. One for the revenge. Every man for himself.  

Nice-to-know:
Pembukaan film ini di Korea Selatan sendiri menduduki posisi kedua terbesar sepanjang masa di bawah The Host (2006).

Cast:
Lee Jeong Jae sebagai Popeye
Kim Hae Suk sebagai Chewing Gum
Gianna Jun sebagai Yescall
Gi Guk Seo sebagai Wei Hong
Ju Jin Mo sebagai Polisi
Oh Dal Su sebagai Andrew
Kim Sy Hyeon sebagai Zampano
Simon Yam sebagai Chen
Derek Tsang sebagai Jonny
Anjelica Lee sebagai Julie
Kim Yun Seok sebagai Macau Park
Ye Su Jeong sebagai Madame Tiffany
Kim Hye Su sebagai Pepsi

Director:
Merupakan
film keempat bagi Choi Dong-Hoon setelah Woochi (2009).

W For Words:
Korea Selatan tampaknya sudah mulai mengambil alih tampuk perfilman Asia yang selama berpuluh-puluh tahun dipegang oleh Hongkong dengan keberanian dan inisiatifnya mengolah ide-ide baru yang lebih menjual bagi pasaran internasional. Kali ini penulis dan juga sineas Choi Dong Hoon menggarap film yang paling ditunggu dengan plot sedemikian rupa sehingga lokasi syutingnya mencakup Hongkong, Macau dan Korea Selatan itu sendiri.  Jajaran castnya pun menampilkan nama-nama tenar dari negara-negara tersebut. Menarik bukan?
 
Popeye dan asistennya Zampano meninggalkan Korea untuk merencanakan sebuah perampokan berlian ‘Air Mata Matahari’ bernilai tinggi di Macau. Mereka mengajak ibu dan anak pencuri yaitu Chewing Gum dan Yescall yang baru saja memperdaya pemilik Leesung Gallery serta Pepsi yang baru dibebaskan dari penjara. Ternyata mafia veteran Chen dari Hongkong juga memiliki rencana yang sama dengan bantuan Jonny dan Andrew yang setengah berdarah Korea. Kedua kelompok itu sepakat berafiliasi ditambah dengan putri pembobol brankas ternama, Julie dan juga mantan bos Popeye, Macau Park. Berhasilkah misi besar tersebut di luar agenda tersembunyi yang dimiliki masing-masing personilnya?

Banyak pihak menyebutkan judul-judul seperti The Big Swindle (2003), Tazza : The High Rollers (2006), The Chaser (2008) serta The Yellow Sea (2010) sebagai referensi film ini. Namun Hollywood sendiri memiliki deretan sejarahnya untuk tema serupa, sebut saja Heist (2001), Ocean’s Eleven (2001) dan sekuelnya serta The Italian Job (2003) yang juga proyek remake tersebut. Sutradara Choi tampak masih terpengaruh gaya sinema Hongkong dengan permainan tempo yang dibutuhkan sebuah action thriller sesuai dengan penempatan berbagai elemen genre sejenis ke dalam narasinya.

Sulit untuk mengatakan jika ragam karakter yang terlibat telah mendapatkan porsi yang seimbang selama 135 menit. Memang Gianna, Jeong Jae, Hye Su dan Yun Seok kebagian mayoritas screentime tapi tidak lantas menutupi kesempatan aktor-aktris lain untuk unjuk gigi kala diberi kesempatan. Baik protagonis maupun antagonis kebagian menerjemahkan karakteristik masing-masing lewat dialog-dialog “berisi” dan keahlian yang berbeda-beda dalam upaya memperkuat bangunan cerita yang penuh dengan twist di setiap tikungannya itu. Kendalanya mungkin hanyalah pergantian bahasa repetitif yang terkadang mengganggu pelafalannya.

Apabila sebelumnya nuansa Korea amatlah kuat dalam film-film produksi lokal seperti yang ditunjukkan dalam dua cult movie mereka yaitu Tae Gukgi (2004) dan The Host (2006), maka disini tidak demikian. Unsur cosmopolitan tanpa mengkotak-kotakkan ras atau gender lebih ditonjolkan demi terciptanya sebuah blockbuster bercitarasa universal. Anda akan berdecak kagum melihat sajian kejar-kejaran, kebut-kebutan, tembak-menembak, lompat-melompat sampai terjun bebas dengan memakai sling yang kesemuanya terlihat meyakinkan.

The Thieves memang hiburan menyenangkan yang tampak cerdas, percaya diri, menjual dan penuh adrenalin sehingga cuma menyisakan sedikit waktu bagi penonton untuk berpikir secara logis atau setidaknya cukup peduli pada nasib salah satu tokohnya.  Disitulah pintarnya Choi menyiasati lubang-lubang dalam plot yang masih tersisa untuk dibahas setelah film berakhir dengan teman menonton anda. Setidaknya selama duduk di dalam bangku bioskop, anda dibuat sibuk menikmati pengkhianatan demi pengkhianatan yang tak terhitung bermotif uang, harga diri dan balas dendam. Guess who’s gonna walk away full-handed? That’s the only question you can only ask!

Durasi:
135 menit

Asian Box Office:
12,326,147 in Korea till Sept 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 09 September 2012

RED LIGHTS : Believers Versus Non-Believers Prejudice

Quotes:
Margaret Matheson: There are two kinds of people out there with a special gift. The ones who really think they have some kind of power. And the other guys, who think we can't figure them out. They're both wrong.


Nice-to-know:
Pada lab video dimana Buckley bekerja terdapat poster "I Want To Believe" dari The X-Files tetapi quote nya diubah menjadi "I Want To Understand".

Cast:
Robert De Niro sebagai Simon Silver
Cillian Murphy sebagai Tom Buckley
Sigourney Weaver sebagai Margaret Matheson
Elizabeth Olsen sebagai Sally Owen
Toby Jones sebagai Paul Shackleton
Joely Richardson sebagai Monica Handsen

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rodrigo Cortés setelah Buried (2010).

W For Words:
Gejala paranormal disini tidak melulu berarti ada hubungannya dengan hantu melainkan kemampuan cenayang seseorang yang dapat digunakan untuk memanipulasi pikiran atau kenyataan. Premis yang tidak biasa ini lahir dari buah pemikiran seorang Rodrigo Cortes. Namun ia bersama Adrian Guerra yang juga bertindak sebagai produser tampaknya tidak yakin film ini dapat dinikmati oleh orang banyak sehingga rilisnya terbatas. Padahal menilik jajaran castnya samasekali tidak mengecewakan dimana kombinasi senior dan junior lagi-lagi dilibatkan disini.
 
Psikolog Margaret Matheson dan asistennya yang turut mempelajari aktifitas paranormal, Tom Buckley seringkali mengungkap tabir rahasia para psychic lewat penjelasan-penjelasan rasional. Mendapat sokongan dana dari Dr. Shackleton untuk menunjang kegiatan operasional, mereka juga mengajar di kampus sebagai gantinya. Tatkala psychic kelas dunia yang sudah 30 tahun menghilang, Simon Silver tiba-tiba muncul kembali, rasa penasaran Tom menjadi tumbuh walaupun tantangan tersebut ditentang oleh Margaret yang masih menyimpan trauma di masa lampau.

Saya tidak pernah meragukan talenta seorang Cillian Murphy. Sejak awal tokoh Tom dibawakan secara misterius. Pergeseran dari second menjadi first act selama film bergulir semakin memberikan ruang padanya untuk bereksplorasi lebih. Meski kemunculannya tidak sampai akhir, Sigourney Weaver tetap memikat untuk disaksikan. Tokoh Margaret yang sebetulnya logis kerap menemui jalan buntu kala dihadang keraguan demi keraguan. Sedangkan Robert De Niro tidak mengecewakan terlepas dari peran “watak” tipikal pada tokoh Silver yang penuh muslihat. Selain itu masih ada Elizabeth Olsen yang semakin menancapkan namanya dan juga Toby Jones yang menunjukkan senioritasnya.
 
Ide milik Cortes ini bagi penonton yang agamais mungkin akan menganggapnya atheis, radikal dan skeptis. Namun bagi saya teori Occam’s Razor yang mendasari semua itu dimana prinsip utamanya adalah penjelasan yang lebih sederhana dari segala sesuatu yang dianggap rumit. Pertentangan ilmuwan melawan cenayang merupakan pertarungan analytical minds yang menarik. Imbasnya tentu saja mempengaruhi orang-orang awam yang menjadi saksi, bagaimana mereka mempercayai semua teori sekaligus menjaga harapan positif dari kemalangan sekalipun.

Red Lights tersaji dalam tempo yang tepat, semakin gelap dan menyeramkan menjelang epilog yang ternyata menyimpan twist tersendiri. Tidak usah mencoba memahami seratus persen maksud filmmakers disini, cukup pahami garis besar dari hubungan antara Tom-Margareth-Simon saja. Penampilan gemilang para pendukung film ini setidaknya menjaga rasa penasaran anda dalam menyatukan kepingan puzzle misteri yang tersebar. What you have to believe that anything’s possible. It’s not wrong either to accept the fact that possession might lead to certain mental powers especially if you had ever experienced it yourself.

Durasi:
113 menit

Worldwide Box Office:
$8,513,616 till August 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 September 2012

SADAKO 3D : Nowhere Near Inside The Ring

Quote:
Sadako: Bukan.. Bukan kau orangnya..

Nice-to-know:
Film yang diproduksi secara kolaborasi oleh Kadokawa Pictures, Tokai Television Broadcast Company, Shizuoka Telecasting, Kansai Telecasting (KTV), Tohokushinsha Film Corporation ini rilis di Jepang pada tanggal 12 Mei 2012 yang lalu.

Cast:
Ai Hashimoto sebagai Sadako
Satomi Ishihara sebagai Akane Ayukawa
Kôji Seto sebagai Takanori Ando
Yusuke Yamamoto sebagai Kiyoshi Kashiwada
Tsutomu Takahashi
Shôta Sometani
Hikari Takara
Ryôsei Tayama

Director:
Merupakan feature film keempat Tsutomu Hanabusa setelah terakhir Ike! Danshi koukou engekibu (2011).

W For Words:
Nyaris semua pecinta film setidaknya mengenal Sadako, sosok hantu perempuan Jepang berambut panjang dan berbaju putih yang lahir atas ide Koji Suzuki yang kemudian dipopulerkan oleh franchise Ringu (1998), Ringu 2 (1999), Ringu 0 (2000). Entah apa yang ada di pikiran produser Atsuyuki Shimoda untuk membangkitkannya kembali lebih dari satu dekade kemudian. Keuntungan semata? Atau sekadar meremajakannya dalam format masa kini yaitu 3D? Anda boleh memiliki pendapat masing-masing dan sebagian besar diantaranya pasti tergerak untuk menyaksikannya. Tidak percaya?

Guru SMU, Akane mendengar desas-desus bahwa ada video bunuh diri beredar di internet yang menyebabkan pemirsanya turut bunuh diri. Awalnya ia tak percaya tapi satu persatu korban berjatuhan. Selain itu kekasihnya Takanori juga menghilang setelah menontonnya. Penyidikan mengarah pada seorang pemuda bernama Kashiwada yang bertekad membangkitkan kembali arwah Sadako untuk menghancurkan dunia. Kini Akane harus mengerahkan segenap keberaniannya sebelum semuanya terlambat.

Tampaknya duet penulis skrip Yoshinobu Fujioka dan Tsutomu Hanabusa menyadari bahwa jaman kaset video sudah berganti menjadi video streaming sehingga media yang digunakan untuk kemunculan Sadako pun berubah dari televisi tabung menjadi smartphone berbasis internet tanpa harus saya sebutkan merknya. Namun apakah media 4 inci tersebut “muat” dibandingkan 21 inci? Mereka cukup cerdas untuk menampilkan tangan Sadako saja yang keluar dari layar secara cepat, tiada lagi tubuh yang merangkak dengan slow motion.

Sosok Kiyoshi Kashiwada mungkin mengingatkan anda pada karakter Light Yagami dalam Desu noto (2006) dimana Yusuke Yamamoto didandani mirip bintang rock. Tokoh sentral disini adalah si cantik Satomi Ishihara yang terlihat lemah gemulai tapi mampu melakukan perlawanan dengan “cara”nya sendiri yang akan membuat anda bertepuk tangan. Tidak banyak yang bisa dilakukan Koji Seto atau Tsutomo Takahashi dengan kemunculan ala kadarnya itu. Penampilan spesial Ai Hashimoto mungkin dapat memuaskan rasa rindu anda padanya. Don’t know what I’m trying to say here!

Efek 3D nya tidak banyak membantu. Sutradara Tsutomu Hanabusa “hanya” memanjakan anda dengan tangan menjulur, lengan pucat, gumpalan rambut panjang atau tubuh Sadako yang melayang-layang masuk ke dalam sumur. Temponya memang lebih cepat dengan teror yang lebih bombastis tapi fans lawas franchise ini rasanya tidak akan mengapresiasi hal-hal tersebut. Endingnya pun terasa konyol saat monster-monster imitasi Sadako bermunculan dengan gaya laba-laba. Sungguh menggelikan!

Sadako 3D lebih banyak memicu tawa dibandingkan ketakutan penonton karena kebodohan premis dan keabsurdan plot ceritanya. Mudah-mudahan hal ini masih dapat meraup sejumlah dollar dari sejumlah orang yang penasaran selayaknya penonton Indonesia yang datang berbondong-bondong ke Blitzmegaplex. Tidak ada lagi intensitas ketegangan ala Hideo Nakata yang merambat lewat suguhan misteri yang sulit diungkapkan. Hasil akhirnya lebih menyerupai horor kelas B yang tidak inspiratif samasekali. This is how Japan has ruined its own horror icon.

Durasi:
96 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:

Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 September 2012

DARK TIDE : Documentary Typical When Shark Doesn’t Bite

Tagline:
In Shark Alley, courage runs deep.

Nice-to-know:
Berdasarkan kisah nyata dari Amy Sorlie.

Cast:
Halle Berry sebagai Kate Mathieson
Olivier Martinez sebagai Jeff
Ralph Brown sebagai Brady
Luke Tyler sebagai Luke
Mark Elderkin sebagai Tommy

Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi John Stockwell yang juga dikenal sebagai aktor ini.




W For Words:
Mungkin film bertemakan hiu sebaiknya tetap berada dalam format petualangan fiktif yang menjual kemustahilan seperti contohnya Jaws (1975) dan Deep Blue Sea (1999) yang laris itu. Jika pendekatan thriller documenter semacam ini, mengikuti pakem Open Water (2003), maka hasilnya belum tentu dapat memuaskan selera penonton mayoritas. Namun tampaknya duo produser Jeanette Buerling dan Matthew E. Chausse cukup percaya diri memasang nama dan tubuh berbikini Halle Berry sebagai jualan utamanya.

Ahli hiu lokal, Kate Mathieson mengalami trauma setelah pria yang menjadi figur ayahnya, Thambe tewas diserang hiu pada suatu kesempatan. Satu tahun kemudian, kekasihnya Jeff mengajaknya kembali ke laut untuk menyelesaikan masalah keuangan. Saat itulah, konglomerat temperamen Brady dan putranya Luke berani membayar tinggi untuk berenang bersama hiu di dalam kandang. Tugas yang terlihat mudah menjadi sulit tatkala Brady mulai berulah. Kate dan Jeff yang tengah rukun kembali bertengkar sekaligus mengantisipasi bahaya tak terduga yang mengancam.

Sutradara Stockwell menghabiskan bujet 25 juta dollar sebagian besar untuk membuat tipikal “dokumenter” yang mahal, terlihat dari lokasi syuting asli di Afrika Selatan mulai dari Cape Town hingga False Bay yang mengagumkan dan juga penggunaan efek CGI di dalam Pinewood Studios yang meyakinkan. Skenario milik Ronnie Christensen dan Amy Sorlie itu sendiri tidak mampu memungkiri kelemahan tempo dan tensi film yang turun naik. Bandrol film kelas B pun sulit dilepaskan, beruntung masih mendapat kesempatan rilis bioskop terbatas sebelum peluncuran DVD nya.

Halle Berry sendiri sudah melakukan upaya terbaiknya untuk memberi sisi emosional yang dibutuhkan dalam karakter Kate. Rasa trauma bercampur dengan kecintaan terhadap pekerjaan itu kerap menimbulkan dilema sendiri. Aktor senior Ralph Brown juga berhasil membangun sosok antagonis yang menggiring antipati penonton dengan karakter Brady yang pemarah dan menyebalkan. Bintang Perancis, Olivier Martinez sebaliknya tak menawarkan kontribusi apapun dengan karakter Jeff yang sedikit bicara dan tidak konsisten dalam penggambarannya tersebut.

Dark Tide merupakan film yang realistis lewat pengalaman fotografis yang nyata. Tontonan tepat bagi anda yang mencari keakuratan fakta tentang kehidupan liar spesies hiu putih di Afrika Selatan, kawanan predator yang sayangnya hanya kebagian sedikit korban kali ini. Sulit untuk mencerna apa yang sesungguhnya terjadi pada klimaks yang mengingatkan anda akan The Perfect Storm (2000). Ini adalah sekelumit kisah mengenai segerombolan orang yang “kebingungan” apakah harus menentang bahaya atau tidak dengan motif yang berbeda-beda. That’s what you get for such shark alley challengers.

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$42,043,633 till July 2012

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 05 September 2012

RADIO GALAU FM : Galau Tak Kenal Jomblo Atau Berpasangan

Quotes:
Bara: Ujan di luar sih udah berhenti tapi ujan di hati gue masih deres

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 5 September 2012.

Cast:
Dimas Anggara sebagai Bara Mahesa
Natasha Rizki sebagai Velin Caliandra
Jordi Onsu sebagai Rio
Joe P Project sebagai Ayah Bara
Alisia Rininta sebagai Diandra Pramita
Indri Giana sebagai Tata
Ramon Y Tungka sebagai Edo

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Iqbal Rais setelah The Tarix Jabrix (2011).

W For Words:
Sesungguhnya novel Radio Galau FM terdiri dari 12 chapter yang menceritakan petualangan cinta seorang remaja pria bernama Bernard Batubara dan 5 chapter tambahan kiriman followers @RadioGalauFM tentunya dengan satu tema: GALAU. Terbitan 2011 ini lantas menuai sukses karena dianggap dekat dengan kehidupan pribadi pembacanya. Akun Twitternya yang berhasil meraup lebih dari empat ratus ribu pengikut itu pun berhasil menciptakan eforia bagi galauers. Tak heran jika Rapi Films melihat peluang ini untuk melakukan adaptasi layar lebar dengan bintang-bintang anyar.

Aktif di mading sekolah, Bara Mahesa bermimpi menjadi penulis sukses meski impian terdekatnya belum tercapai yaitu punya pacar. Kesempatan itu datang saat adik kelasnya, Velin menunjukkan sinyal cinta yang kuat. Segera Bara membalasnya setelah berkonsultasi dengan ayah dan kakaknya Rara yang sama-sama gokil itu. Lambat laun, Velin berubah manja serta penuntut hingga Bara meminta break dan memilih untuk mendekati kakak kelasnya, Diandra. Benarkah keputusan Bara tersebut menghalau kegalauan dari hidupnya?

Istimewanya, sudut pandang dari novel dan film ini adalah remaja laki-laki bernama Bara Mahesa. Untuk itu penonton pria bisa jadi merasa amat dekat dengan karakter utamanya. *switch sudut pandang pria* Fase galau karena jomblo atau pacaran mulai dari pencarian hingga penemuan kekasih hati dijelaskan secara gamblang. Proses pendekatan yang berujung 'penembakan' akan membuat anda tertawa mengenang pengalaman pribadi, dag-dig-dug sekaligus harap-harap cemas menanti jawaban gadis pujaan. Proses pacaran yang kerap membuat cowo sulit mengerti isi hati cewe pun dijabarkan disini, tak ayal anda akan berujar: "Ah itu gue banget."

Namun bukan berarti penonton wanita dikesampingkan begitu saja. *switch sudut pandang wanita* Penulis skrip Haqi Achmad punya cara khusus bagi anda untuk memasuki pikiran karakter Velin atau Diandra yang sebenarnya hanya ingin perhatian dalam skala besar atau kecil. Semuanya dilakukan pada timing tepat sehingga konsep the battle of sexes dapat diselesaikan secara seimbang walaupun keduanya memiliki dunia masing-masing yang samasekali berbeda. Natasha Rizki mampu menerjemahkan emosi Velin lewat tangisan berurai air mata, menegaskan dirinya sebagai gadis rapuh nan posesif. Kebalikannya Alisia Rininta adalah gadis high class Diandra yang punya segudang tingkah menyebalkan karena merasa memiliki kelebihan fisik.

Dimas Anggara akhirnya mendapat kesempatan emas untuk berkibar sebagai aktor setelah lakonnya dalam Kembang Perawan (2009). Keragaman ekspresi yang luwes turut mengiringi karakter Bara yang masih mencari jati diri dan tambatan hati. Tiga chemistry inti dengan orang-orang terdekatnya berhasil dibawakan secara pas. Apresiasi khusus ditujukan bagi Joe P'Project sebagai ayah nyablak gaul, Jordi Onsu sebagai sohib kepo cerewet dan Tiara Sumiarto sebagai kak Rara yang gokil nyentrik. Yang terakhir ini seringkali kemunculannya tak sedap dipandang mata.

Kembalinya Iqbal Rais ke bangku sutradara setelah sempat berjuang melawan leukimia memang pantas diacungi jempol. Kapabilitasnya menggarap drama roman terbukti masih terjaga terlepas dari segmentasi film yang jauh lebih muda dari karya-karya sebelumnya. Frame demi frame tertata rapi untuk menghadirkan konteks emosi yang dibutuhkan sehingga storytellingnya mengalir lancar dan tidak melebar kesana-sini. Sumbangan musik dari Andhika Triyadi juga mampu menghidupkan suasana di samping kreatifitas Khikmawan Santosa yang lagi-lagi menata suara dengan begitu asyik, sound effect denyut jantung akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Untungnya Radio Galau FM tidak berusaha menjadi istimewa. Pengerucutan belasan karakter yang semula ada di novelnya membuat konflik cinta remaja ini semakin fokus. Kesahajaannya meramu formula biasa menjadi baru lewat sentuhan personal yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman jelas menjadi nilai tambah tersendiri. Fenomena sosial media dan ponsel komunikatif masa kini turut menjadi sarana percakapan yang umum disamping realita dialog dan spontanitas humor yang berkali-kali mengundang tawa. Galau is word of the year and get ready to experience it in the movie.Beware, reflection might come along afterwards!

Durasi:
94 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 04 September 2012

TEST PACK : Drama Pasutri Menghadapi “Bagaimana Jika”

Quotes:
Tata: Disini dikatakan sperma mencapai tingkat kematangannya dalam 3 hari.
Rahmat: Ya udah kalo gitu kita berhubungan 3x sehari.
Tata: Dih mending kuat.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision Plus ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 4 September 2012.

Cast:
Reza Rahadian sebagai Rahmat
Acha Septriasa sebagai Tata
Renata Kusmanto sebagai Shinta
Meriam Bellina sebagai Ibu Sutoyo
Jaja Mihardja sebagai Pak Sutoyo
Oon ‘Project Pop’ sebagai dr Peni
Karissa Habibie sebagai Dian
Uli Herdinansyah sebagai Markus
Dwi Sasono sebagai Heru

Director:
Merupakan film kedua Monty Tiwa di tahun 2012 setelah Sampai Ujung Dunia.

W For Words:
Novel Test Pack milik Ninit Yunita beredar pada tahun 2005 dimana istri Adhitya Mulya itu masih menetap di Afrika Barat. Bukan rahasia jika ide tersebut muncul dari kehidupan pribadi mereka yang kerap dihujani pertanyaan “Kapan punya anak?” setelah beberapa lama menikah. Pertanyaan yang juga amat familiar di kalangan pengantin baru yang kebetulan tak kunjung diberi keturunan. Kedekatan dengan realita kehidupan itulah yang membuat suguhan terbaru Starvision ini diyakini mampu menarik minat penonton untuk sekadar merefleksikan.

7 tahun menikah, pasutri Rahmat dan Tata belum dikaruniai anak. Segala tips dan trik telah dicoba. Tata yang berkeinginan lebih sampai menemui dokter Peni untuk melakukan tes kesuburan dimana Rahmat sendiri sebenarnya sudah cukup bahagia dengan kebersamaan mereka. Nyatanya hasil tes menunjukkan Rahmat yang tidak subur. Dalam keputusasaan ia bertemu mantannya yang juga supermodel internasional, Shinta yang baru dicerai suaminya, Heru karena mandul. Keputusan Rahmat ingin kembali ke masa lalu atau memperbaiki masa kininya merupakan dilema tersendiri.

Bukan pekerjaan mudah bagi Adhitya untuk menerjemahkan karya Ninit ke dalam bentuk skenario. Film ini seakan dibagi dalam dua bagian. Pertama, komedi romantis saat Rahmat dan Tata saling berbagi kasih dalam canda dan tawa dimana panggilan sayang yaitu kang dan neng selalu menyertai. Kekesalan Tata menggunakan sejumlah testpack yang menyiratkan depresi diimbangi dengan kekocakan dokter Peni yang menanganinya. Kedua, drama romantis ketika Shinta mulai kembali masuk dalam kehidupan Rahmat dimana rumah tangganya sedang diuji. Ketidakstabilan emosi Tata akibat terapi yang dijalaninya mulai merentang jembatan konflik suami istri yang tak dapat dihindari.

Kelebihan utama jelas ada pada kinerja sutradara Monty Tiwa yang berhasil menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Arahan yang baik terhadap jajaran cast ternama beserta kumpulan cameo yang tak asing lagi, pemilihan lokasi sebagai panggung bercerita yang maksimal, pengaturan tempo momen-momen penting sebagai nyawa film dsb. Editing Cesa David yang ciamik juga memperkuat storytelling sehingga tidak banyak ruang kosong yang tersisa. Sama halnya dengan tata suara dari Khikmawan yang kali ini berkolaborasi dengan Bongky sebagai penata musik sukses mengantarkan emosi yang diharapkan.

Senang rasanya melihat Acha mampu berbagi chemistry manis dengan pria di luar Irwansyah. Lakon suami istri bersama Reza terasa meyakinkan tanpa terlihat canggung dalam berbagi keintiman fisik. Deretan pendukung Sampai Ujung Dunia (2012) juga hadir kembali disini, salah satunya Renata yang semakin mengukuhkan imej “beautiful babe” lewat peran supermodel yang tak terlalu terlihat pede. Pasangan senior Jaja-Meriam juga turut mencuri perhatian sebagai pasien psikolog Rahmat. Jangan lupakan Oon, sang pengocok tawa lewat spontanitas dan wajah polosnya itu.

Test Pack adalah drama yang personal karena mengangkat persoalan umum suami istri dan rumah tangga secara keseluruhan. Kadangkala kita memang tidak siap menghadapi perubahan dan kerapkali lebih peduli pada perkataan orang dibandingkan pasangan sendiri. Obyektifitas yang terganggu tentunya mempengaruhi keputusan akhir yang dibuat bagi kedua belah pihak. Kehati-hatian Monty dalam menggarap tema sensitif tentang momongan ini untungnya didukung oleh sumbangsih maksimal dari aktor-aktris yang terlibat di dalamnya. A must see for couples and newly wed who might face the same ”first world” problems.

Durasi:
109 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 03 September 2012

WU DANG : Horrendous Script Awful Martial Arts

Original title:
大武当之天地密码

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Mei Ah Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 6 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Zhao Wenzhuo sebagai Tang Yunlong
Yang Mini sebagai Tian Xin
Fan Siu-Wong sebagai Shui Heyi
To Yu-Hang sebagai Bai Long
Shaun Tam sebagai Paul Chen
Xu Jiao sebagai Tang Ning

Director:
Merupakan feature film ke-13 bagi Patrick Leung yang terakhir menggarap komedi Hei wong ji wong (2007).


W For Words:
Melihat nama Vincent Zhao, Louis Fan dan Dennis To ada di jajaran pendukungnya tentu wajar jika para penggemar film Mandarin mengharapkan suguhan martial arts yang luar biasa memukau. Apalagi settingnya sendiri mengambil lokasi pegunungan Wudang, terletak di bagian selatan lembah sungai Hansui yang dikenal sebagai pusat akademi praktisi meditasi, pengobatan tradisional, pengajaran Tao hingga pelatihan seni beladiri kungfu sejak jaman Dinasti Han ratusan tahun yang lalu. Namun jangan buru-buru menarik kesimpulan akan apa yang tersaji di hadapan anda.

Daratan Cina di jaman pembentukan RRC, pegunungan Wudang dibanjiri oleh pendekar-pendekar berilmu tinggi dari segala penjuru untuk mengikuti kompetisi beladiri. Dua kubu diantaranya adalah Professor Tang Yunlong beserta putrinya Tang Ning dan Tian Xin yang pernah mewarisi pedang pusaka dari kakeknya. Ternyata bukan hanya itu tujuan mereka, melainkan harta karun yang tersembunyi selama beratus-ratus tahun. Perburuan tersebut juga melibatkan penyelundup barang pusaka, Paul Chen melaksanakan niat jahat yang sudah lama direncanakannya.

Ujian terberat bagi aktor-aktris yang terlibat disini mungkin ada di cuaca dingin yang bahkan mencapai minus dimana kostum yang digunakan masing-masing terbilang tipis. Mereka juga berupaya menampilkan karakteristik beladiri yang berbeda-beda di atas kelemahan akting yang terasa amat kaku . Sutradara Patrick Leung menggunakan pendekatan old-fashioned untuk menerjemahkan tiap konflik dan penyelesaian yang ada meski mengalami keterbatasan dana. Untungnya scoring music dari Lincoln Lo dan editing milik Cheung Ka Fai tak terlalu mengecewakan.

Skrip Huang Jianxin menyimpan kelemahan terbesar dalam produksi film. Prolog yang dibuka dengan perburuan harta karun bergeser menjadi kompetisi bela diri. Belum selesai, penonton sudah disuguhi konflik percintaan dan pengorbanan yang cheesy. Kalimat-kalimat semacam: “Maukah kau menikahi ayahku?”, “Bersediakah kau menjadi istri anakku?”, “Jika aku mati..” akan membuat kening anda berkerut. Pada akhirnya semua tumpukan plot cerita tersebut ditutup begitu saja dengan menyisakan banyak pertanyaan, kenapa begini, kenapa begitu?

Sebenarnya Wu Dang berpotensi tinggi untuk menjadi besar jika digarap dengan lebih serius dan terencana. Bukan sekadar pengadeganan yang believable tanpa mengandung unsur “wow” samasekali. Koreografi yang tidak memukau dari Cory Yuen karena terlalu textbook dengan permainan kamera disini tak juga mampu dicover dengan pemanfaatan efek CGI yang tidak maksimal. Hasilnya? World Heritage Site di provinsi Hubei ini adalah satu-satunya hiburan anda lewat suguhan pemandangan alami yang tak terbantahkan indahnya.

Durasi:
99 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 01 September 2012

THE CABIN IN THE WOODS : A Tribute To Timeless Horror Flicks

Tagline
You think you know the story.

Nice-to-know:
Tanggal rilis mengalami pemunduran hingga 3 tahun karena studio sempat berniat mengkonversi film ke format 3D walau ditentang oleh Joss Whedon dan Drew Goddard.

Cast:
Kristen Connolly sebagai Dana
Chris Hemsworth sebagai Curt
Anna Hutchison sebagai Jules
Fran Kranz sebagai Marty
Jesse Williams sebagai Holden
Richard Jenkins sebagai Sitterson
Bradley Whitford sebagai Hadley

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Drew Goddard yang sebelumnya berpengalaman menulis berbagai serial televisi ternama.

W For Words:
Judulnya sederhana. Posternya pun tidak istimewa. Jangan buru-buru membuat keputusan bahwa ini akan menjadi thriller horor yang biasa-biasa saja karena anda akan tertipu mentah-mentah. Keterlambatan rilis internasional selama tiga tahun lebih dari rencana awal tak lantas menyurutkan animo para pecinta genre ini termasuk di Indonesia. Bahkan saya sempat berinisiatif mengakomodir ratusan suara terangkum dalam sebuah petisi yang ditujukan kepada jaringan 21 Cineplex untuk mempercepat tanggal penayangannya.

Dana dan sahabat sekamarnya Jules, sepakat mengajak bintang football sekolah, Curt berlibur di sebuah pondok tengah hutan. Turut serta adalah Holden yang segera memikat perhatian Dana dan si kutu buku geek, Marty. Ketika pintu bawah tanah terbuka, mereka turun dan menemukan artefak tua yang membangkitkan kumpulan zombie ganas yang mulai memburu kelimanya. Tak hanya itu, sebuah rahasia gelap tersimpan di balik semua itu dimana permainan nasib akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Premis dan skenario yang dirancang secara brilian oleh duet Joss Whedon dan Drew Goddard sukses membawa genre ini ke tingkatan yang baru sekaligus lebih tinggi. Tidak lupa berbagai elemen sains fiksi, mitologi sampai satir dicampur aduk sedemikian rupa untuk menghasilkan plot cerita yang fresh dan unpredictable. Percayalah semakin sedikit anda mengetahui apapun tentang film ini, maka kenikmatan menontonnya akan semakin tinggi. Tinggalkan trailer, review atau diskusi yang terpampang dimana-mana sebelum menontonnya sendiri.

Goddard yang juga bertindak sebagai sutradara memang tidak menawarkan horor intens bergaya thriller slasher yang diharapkan. Sebaliknya kejutan demi kejutan bergaya dark humor yang berjalan meniti durasinya kerapkali membuat anda tergelak. Dialog-dialog simpel dari para pendukungnya mungkin terdengar klise di samping adegan-adegan yang juga terkesan familiar. Namun kinerja kamera yang liar dengan angle yang variatif berhasil menciptakan nuansa mencekam yang tidak umum.

Connolly, Hutchison, Hemsworth, Williams, Krantz yang diidentifikasikan sebagai "virgin", "whore", "jock", "scholar", "fool" tersebut menjiwai peran lima pelajar sesuai standarnya. Tak ada aksi bodoh atau reaksi murahan yang biasa terjadi sehingga masing-masing dari mereka mampu mendapatkan simpati penonton sejak awal untuk tidak menjadi korban. Kehadiran dua aktor senior, Jenkins dan Whitford serta satu aktris berpengalaman yang berada di balik ruang kendali semakin memperkuat jajaran cast kali ini.

Tak dipungkiri, The Cabin In The Woods menyimpan kejutan manis nan cerdasnya pada 30 menit terakhir dimana emosi anda akan dimainkan lewat pemaparan utuh konsep tak terduganya yang menjalin benang merah dengan setiap ikonik horor yang pernah ada. Brilian! Lupakan beberapa unsur logika yang terabaikan atau korelasi yang tak terdefinisikan, perjalanan pilihan anda ke pondok di tengah hutan ini akan sangat menyenangkan. Mungkin sedikit berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah surat kematian berdarah yang menjadi signature penghormatan dari sejarah film horor sepanjang masa.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$42,043,633 till July 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 31 Agustus 2012

MY WEEK WITH MARILYN : Vulnerable Monroe In Strong Williams' Act

Quotes:
Arthur Jacobs: Marilyn, is it true you wear nothing in bed but Perfume?
Marilyn Monroe: Darling, as I'm in England let's say I sleep in nothing but Yardley's lavender.

Nice-to-know:
Catatan yang ditulis Arthur Miller dan membuat Marilyn menangis adalah draft teaternya "After the Fall" yang mengisahkan satu karakter plesetan Monroe.

Cast:
Michelle Williams sebagai Marilyn Monroe
Eddie Redmayne sebagai Colin Clark
Julia Ormond sebagai Vivien Leigh
Kenneth Branagh sebagai Sir Laurence Olivier
Pip Torrens sebagai Sir Kenneth Clark
Geraldine Somerville sebagai Lady Jane Clark
Emma Watson sebagai Lucy

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Simon Curtis yang sebelumnya berpengalaman menyutradarai berbagai mini seri dan serial televisi.

W For Words:
Sosok Marilyn Monroe merupakan bintang film sekaligus simbol seks paling ternama di abad ini yang malangnya harus tutup usia di usia 36 tahun. Pencapaian tertinggi di bidang akting yaitu Academy Awards memang belum diraihnya tetapi satu piala Golden Globe sudah berhasil digenggamnya. Di tahun 2011 lalu Lipsync Productions, BBC Films, UK Film Council, The Weinstein Company, Trademark Films sepakat mengambil sekelumit babak dalam hidup Monroe untuk difilmkan. Guess who's in her shoes? Yes, our lovely Michelle Williams.

Sir Laurence Olivier tengah membuat film di London dengan bintang Marilyn Monroe. Adalah seorang siswa perfilman yang berupaya keras untuk diterima sebagai asisten sutradara tiga, Colin Clark meski lebih bertindak sebagai pesuruh. Nyatanya ketidakprofesionalan sang aktris menghambat jalannya syuting dimana Colin berinisiatif masuk ke dunia pribadi Monroe untuk membantunya secara langsung. Ketenaran, kecantikan dan hasrat pun menjadi satu obsesi yang sulit dipungkiri.

Williams jelas pilihan terbaik untuk memerankan Monroe. Segi postur yang tidak terlalu mirip berhasil ditutupi dengan penjiwaan yang luar biasa sehingga Marilyn versi Michelle tak terkesan impersonifikasi. Salah satu aktris terbaik dari generasi masa kini itu menampilkan lakon dalam lakon dimana kita akan melihat sosok Monroe di dalam dan di luar dunia film. Monroe di tangan Williams glamor dan seksi tapi tidak murahan, rapuh dan misterius tapi tetap loveable.

Branagh sendiri menunjukkan kelasnya sebagai sutradara cranky yang perfeksionis, lihat bagaimana mata dan mulutnya bereaksi tajam jika merasa belum mendapat totalitas yang diharapkan. Pendatang baru Redmayne sebetulnya sudah menampilkan akting cemerlang sebagai pemilik sudut pandang utama dalam film tapi karismanya memang belum mampu menandingi dua nama sebelumnya. Sederetan nama senior yang terlibat sukses melengkapi deretan cast ciamik. Menarik melihat Emma Watson mencoba keluar dari imej Hermione Granger disini.

Rentang waktu seminggu yang tergolong singkat mampu dimaksimalkan oleh sutradara Curtis untuk bertutur. Panggung lawas bergaya Inggris surealis tahun 50an tertata dengan baik dalam menciptakan mood swinging yang diinginkan. Permainan emosi naik turun setiap karakternya terbangun dengan baik sehingga penonton seakan bisa melihat dari kacamata mereka. Keintiman Monroe dan Clark mungkin tidak berjalan seperti yang anda harapkan, lebih ke arah pertukaran afeksi penuh makna lewat kedipan mata, sentuhan atau kecupan.

My Week with Marilyn mungkin belum cukup menggambarkan kiprah Monroe seumur hidupnya secara kaya dan informatif melainkan hanya sebuah eksplorasi periode singkat akan pribadinya yang kompleks itu. Pengalaman sinema yang mengingatkan anda bahwa status selebritis yang kerap diidam-idamkan itu tak lebih dari manusia biasa yang tetap bisa merasakan hampa. Selepas film berakhir, bayangan Monroe tak akan pergi begitu saja dari benak anda, star quality nya yang begitu dominan and we all should be proud of Williams' extraordinary work here.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$14,581,677 till March 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 30 Agustus 2012

RUMAH DI SERIBU OMBAK : Pluralisme Persahabatan Tak Berujung

Quotes:
Wahai samudera, aku tak bisa menyimpan ombakmu, kata tepian pada laut.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Winmark Pictures dan diedarkan oleh Tabia Films ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 27 Agustus 2012.

Cast:
Risjad Aden sebagai Samihi kecil
Dedey Rusma sebagai Yanik kecil
Bianca Oleen sebagai Syamimi kecil
Lukman Sardi sebagai Aminulah, ayah Samihi
Riman Jayadi sebagai Yanik
Andiana Suri sebagai Syamimi
Andre Julian sebagai Samihi
Jerinx SID sebagai Ngurah Panji

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Erwin Arnada yang sebelumnya berpengalaman sebagai produser dan penulis skenario dimana Tusuk Jelangkung (2002) mengawalinya.

W For Words:
Perjalanan hidup Erwin Arnada bisa dikatakan kontroversial. Mantan pemimpin redaksi majalah Playboy Indonesia ini sempat menjalani masa tahanan pada tahun 2010 dimana ia menghasilkan novel laris yang menuai banyak pujian berjudul Rumah Di 1000 Ombak yang pada akhirnya diangkat ke layar lebar sekitar dua tahun kemudian. Penata skrip handal, Jujur Prananto pun dilibatkan. Pada jajaran cast hanya terdapat satu nama besar yaitu Lukman Sardi di antara para pendatang baru yang terbilang menjanjikan.

Samihi yang beragama Islam berkawan dengan Wayan Manik alias Yanik yang beragama Hindu di Desa Kaliasem, Singaraja. Yanik mengajarkan Samihi bernyanyi sekaligus mengatasi ketakutan akan air karena penyakit asma yang dideritanya. Sebaliknya Samihi juga mendengarkan kisah pahit Yanik akibat kasus pedofilia pria bule bernama Andrew. Kesalahpahaman memisahkan keduanya selama bertahun-tahun. Samihi memilih menetap di Australia meninggalkan adiknya, Syamimi yang bersimpati pada Yanik yang kian terpuruk.

Persahabatan Yanik dan Samihi di masa kecil merupakan kekuatan utama film ini. Detail proses yang mengetengahkan perkenalan sampai kedekatan mereka berjalan wajar lewat momen-momen manis. Latar belakang Singaraja seakan menjadi kekuatan sendiri layaknya panggung pendukung yang sempurna dalam menerjemahkan setiap emosi kedua anak itu. Aspek pluralisme pun turut disertai lewat penggambaran ibadah hingga ritual agama Islam-Hindu yang menghembuskan nafas kerukunan umat beragama yang kuat.

Sayangnya memasuki bagian dimana Yanik dan Samihi beranjak dewasa, segala esensi tersebut tak mampu dipertahankan. Pergantian aktor-aktrisnya terasa miscasting, Andiana Suri terlihat lebih dewasa dibandingkan Riman Jayadi atau Andre Julian. Namun penyebab utama ada di naskah dimana karakter Samihi dibiarkan berlakon sendiri dengan segudang prestasi selancarnya. Sedangkan Yanik dan Syamimi ditinggalkan berdua untuk membangun romansa tanpa jalinan chemistry yang hangat. Bukankah inti kisah ini adalah persahabatan Yanik dan Samihi sejak kecil?

Banyak hal mendasar dibiarkan mengambang tanpa tujuan atau penjelasan. Tidak dibahas apakah sosok pedofil bernama Andrew itu menerima penghakimannya atau tidak. Tidak diperlihatkan adegan eksplisit yang dapat menuntun penonton memahami trauma mendalam pada Yanik. Bagaimana ibu Yanik dapat bertahan hidup selama itu? Atau figur Lukman Sardi yang seakan timbul tenggelam setelah rela membotaki kepalanya itu? Namun yang paling mengganggu adalah keputusan Yanik untuk “melaut” di penghujung film tanpa alasan yang masuk akal justru di saat ia memiliki opsi lain yang lebih baik.

Tanpa mengurangi rasa hormat bagi penggagasnya yang tampak masih mencari bentuk teknis terbaik, Rumah Di Seribu Ombak mungkin sebaiknya ditutup saja tepat setelah satu jam bergulir. Biarlah persahabatan lugu nan majemuk antara Samihi-Yanik-Syamimi kecil terbingkai indah dalam kepolosan dan kesahajaan yang memikat. Tak lantas diteruskan ke dalam mozaik ambigu penuh kejanggalan yang merusak tatanan intisari dan pesan moral yang sedari awal dibebatkan dengan cermat. Bukankah cinta seharusnya menguatkan, bukan melemahkan?

Durasi:
107 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: