XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 24 September 2011

FINAL DESTINATION 5 : Keselamatan Jembatan Runtuh Mengintai Maut

Tagline:
Death has never been closer.


Storyline:
Perusahaan Paper Presage mengadakan perjalanan team building yang diikuti oleh Sam, Molly, Peter, Candice, Olivia, Isaac, Nathan, Dennis. Saat melewati sebuah jembatan yang tengah direkonstruksi, Sam mendapat penglihatan bahwa kecelakaan maut akan segera terjadi. Ia pun ngotot ke luar dari bis dengan diikuti orang-orang tersebut. Ternyata apa yang ditakutkan benar adanya. Kedelapan orang yang selamat itu pun sekali lagi memancing maut untuk betul-betul menjalankan takdirnya!

Nice-to-know:
Merupakan film kedua dari franchise Final Destination yang disyut dalam format 3D sekaligus yang pertama rilis dalam format IMAX.

Cast:
Memulai karirnya lewat Election (2009), Nicholas D'Agosto berperan sebagai Sam
Cukup mencuri perhatian dalam Frozen (2010), Emma Bell bermain sebagai Molly Harper
Miles Fisher sebagai Peter Friedkin
Ellen Wroe sebagai Candice Hooper
Jacqueline MacInnes Wood sebagai Olivia Castle
Tony Todd sebagai William Bludworth

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Steven Quale yang sebelumnya hanya menangani film pendek, dokumenter dan film televisi.

Comment:
Franchise Final Destination adalah satu-satunya film yang sukses membuat saya merasa ngeri dibandingkan judul-judul thriller/horor lainnya. Tidak pernah ada satupun film yang membuat saya menutup mata saat menyaksikannya, bisa jadi karena faktor pengalaman kecelakaan itu tidak (akan) pernah menyenangkan untuk ditonton atas dasar apapun juga. Dibutuhkan 11 tahun untuk mengakomodir 5 episodenya dan FD tak dinyana telah tumbuh dewasa bersama kita semua.

Meskipun sempat pesimis saat mengetahui Craig Perry dan Warren Zide akan meneruskan installment ini dikarenakan episode 3 dan 4 sendiri sudah kehilangan giginya akibat tidak adanya plot cerita. Beruntung Eric Heisserer dan Jeffrey Reddick memperbaiki karakterisasi tokoh-tokoh yang terangkum disini sehingga penonton diajak peduli akan nasib Sam dan kawan-kawan dalam menghindari kematian. Formula yang tidak jauh berbeda kembali disuguhkan, hanya saja dengan kekelaman dan kejutan khusus yang akan membuat anda tetap antusias sepanjang satu setengah jam lamanya.
Bagian pembuka kali ini terjadi di sebuah jembatan yang runtuh karena kesalahan konstruksi. Kinerja grafis spesial efek yang sangat mengagumkan dalam balutan 3D selama 4 menit 44 detik, menghasilkan pekik kaget disusul jeritan panjang dari seantero gedung bioskop saat maut menjalankan tugasnya. Definitely one of the best (or scariest) opening sequence I’ve ever seen! Efek tiga dimensi tidak berhenti sampai disitu karena kedalaman gambar berhasil dipertahankan secara konsisten hingga akhir film.

Penampilan para bintangnya kali ini cukup di atas rata-rata meski tidak luar biasa, terbukti keterikatan semua tokohnya dapat anda rasakan. D’Agosto cukup simpatik sebagai Sam yang mampu melihat premonition, sama halnya dengan Alex Browning (FD) dan Nick O’Bannon (FD 4). Sedangkan Fisher lumayan mengganggu sebagai Peter yang paranoid dan bossy. Sisanya merupakan tipikal tokoh-tokoh dalam film sejenis, temukan saja seorang pemuda kulit hitam, gadis seksi atletis, pria Yahudi playboy ataupun atasan perusahaan yang brengsek. Jangan lupakan Tony Todd yang kembali muncul sebagai petugas forensik misterius.
Sutradara Quale melakukan debutnya dengan mengesankan. Pengalaman bekerjasama dengan James Cameron dalam beberapa film besar turut membantunya mengeksekusi dengan ciamik. Yang patut diacungi jempol adalah kemampuannya memainkan insting penonton yang terus saja menerka-nerka kejadian mematikan apa yang akan menimpa tokohnya satu persatu dari satu adegan ke adegan lain. Namun Quale tidak ingin semua terkesan predictable sehingga tak jarang ia sukses menipu anda berkali-kali.

Tak diragukan lagi, Final Destination 5 adalah episode terbaik dari keseluruhan franchise. Kejutan yang sama memang ditawarkan Final Destination (2000) tetapi ketiadaan aspek 3D membuatnya sedikit berada di bawah. Lihat bagaimana kematian mengenaskan dapat menimbulkan rasa terkejut dengan sentuhan kejenakaan secara bersamaan. Twist ending yang merangkum keseluruhan perjalanan maut pun menutupnya dengan sempurna. Jadilah saksi hidup Final Destination 1-5, niscaya pandangan anda mengenai kematian tidak akan pernah sama lagi.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$42,380,557 till Sep 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 23 September 2011

X-MEN : FIRST CLASS Perseteruan Awal Mutan Dua Kubu

Quotes:
Professor Charles Xavier: Listen to me very carefully, my friend: Killing will not bring you peace.


Storyline:
Tahun 1944 di Polandia, Erik Lehnsherr kecil mengeluarkan kekuatan magnetiknya saat ibunya dikirim ke kamp. Dr. Sebastian Shaw yang mengetahui hal itu membawa Erik dan mengajarkannya sisi emosi setelah membunuh ibunya. Sementara itu Charles Xavier yang berasal dari keluarga kaya bertemu Raven dan mengajaknya ke kastil miliknya. Tahun 1962, agen CIA bernama Moira MacTaggert menemukan keberadaan mutan-mutan berkemampuan super di atas manusia biasa dan berniat mempekerjakannya pada Pemerintah USA. Tidak seorang pun mengetahui rencana jahat Shaw yang ingin memulai perang nuklir untuk menghancurkan dunia.

Nice-to-know:
Bryan Singer awalnya ditunjuk sebagai sutradara film ini tetapi mundur karena proyek Jack the Giant Killer hingga digantikan Matthew Vaughn. Meski demikian, Singer tetap menjabat sebagai produser disini.

Cast:
Terakhir mendukung The Conspirator (2010), James McAvoy bermain sebagai Charles Xavier
Aktor Jerman yang mengawali akting lewat serial ternama Band of Brothers di tahun 2001, Michael Fassbender berperan sebagai Erik Lehnsherr / Magneto
Kevin Bacon sebagai Sebastian Shaw
Rose Byrne sebagai Moira MacTaggert
Jennifer Lawrence sebagai Raven / Mystique
Jason Flemyng sebagai Azazel
Nicholas Hoult sebagai Hank McCoy / Beast

Director:
Merupakan film keempat Matthew Vaughn yang terakhir menuai pujian lewat Kick-Ass (2010).

Comment:
Sebagian besar dari moviegoers di seluruh dunia tampaknya menggemari franchise X-Men yang dimulai sejak satu dekade yang lalu. Ini adalah installment kelimanya sekaligus prekuel yang mengambil waktu puluhan tahun sebelum X-Men (2000). Oleh karena itu ada baiknya jika anda merefresh ingatan anda sejenak sebelum menyaksikan film yang satu ini, setidaknya mengingat beberapa peran kunci agar lebih “nyambung” dengan pengenalan tokoh-tokohnya.
Skrip yang dikerjakan secara keroyokan oleh Ashley Miller, Zack Stentz, Jane Goldman dan Matthew Vaughn berdasarkan cerita rekaan Bryan Singer dan Sheldon Turner ini berhasil membangun jembatan yang kokoh dengan trilogy sebelumnya. Bagaimana dua kubu mutan yang saling berseberangan itu terbentuk pada awalnya. Tidak diceritakan secara runut begitu saja tetapi penuh dengan intrik, twist and turns yang membuat kita terus menerka-nerka, siapa memihak siapa, baik ataupun jahat, dsb.

Fassbender menunjukkan akting paling memukau sebagai Erik, agresif dan ambisius. Sama halnya dengan McAvoy di sisi kontradiktifnya sebagai Charles, naïf dan terlalu baik. Chemistry yang tercipta di antara keduanya terkesan kuat, beranjak dewasa bersama-sama dengan satu visi sampai akhirnya mulai mengalami pergeseran seiring merebaknya konflik-konflik yang berhubungan dengan eksistensi manusia pada umumnya dan mutan pada khususnya.
Di luar keduanya masih ada Bacon yang juga bermain memikat di saat kebintangannya mulai meredup. Belum lagi Byrne dan Lawrence yang mewakili karakter wanita masing-masing Moira dan Raven yang mengalami dilema tersendiri dalam menentukan sikap. Keseluruhan tokoh dalam film mendapat perhatian yang cukup terlepas dari besar kecilnya porsi yang ditawarkan, penonton pun dengan mudah dapat mengidentifikasi kekuatan super yang dimiliki mereka semua.

Sutradara Vaughn juga menyuguhkan berbagai sekuens aksi seru yang memanjakan mata dengan sinematografi tahun 60an yang cermat. Permainan spesial efek juga sesuai kapasitas teknologi pada masa itu, tidak berlebihan layaknya film superhero lainnya. Durasi yang panjang menjadi tidak terlalu terasa dengan komposisi musik dari Henry Jackman yang membangun atau keindahan tata kostum sekaligus departemen make-upnya.
Kekurangannya mungkin ada pada ending yang antiklimaks karena anda semua yang sudah menonton X-Men trilogy tentu sudah bisa menebaknya. Terlepas dari fakta tersebut, X-Men : First Class tergolong memuaskan para pecintanya dengan segala kelebihan-kelebihan yang dimiliki sebuah film unggulan musim panas. Tidak ada asap jika tiada api, demikian pula segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, setiap pertentangan hitam dan putih akan selalu memiliki cikal bakalnya. Inilah saatnya anda menjadi saksi para mutan tersebut beraksi!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$146,405,371 till Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 22 September 2011

THE BANG BANG CLUB : Konflik Internal Fotografer Berani Mati

Quotes:
Kevin Carter: They're right. All those people who say it's our job to just sit and watch people die. They're right.


Storyline:
Didasarkan pada kejadian nyata sewaktu hari-hari terakhir apartheid di Afrika Selatan. Greg berangkat sendirian untuk kemudian bergabung dengan tiga fotografer lainnya yang sudah lebih dulu disana yakni Kevin, Ken dan João. Hasil jepretan mereka diseleksi oleh editor cantik, Robin untuk kemudian dibayar tinggi setelah dimuat dalam majalah. Greg dan Robin menjalin hubungan istimewa hingga menjadi saksi pergeseran makna hidup yang dialami empat fotografer tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Foundry Films, Harold Greenberg Fund, Instinctive Film dan Out of Africa Entertainment

Cast:
Terakhir bermain dalam Franklyn dan Stop-Loss di tahun 2008, Ryan Phillippe berperan sebagai Greg Marinovich
Karirnya meningkat paska Watchmen (2009), Malin Akerman kebagian tokoh Robin Comley
Taylor Kitsch sebagai Kevin Carter
Frank Rautenbach sebagai Ken Oosterbroek
Neels Van Jaarsveld sebagai João Silva

Director:
Merupakan feature film debut bagi Steven Silver yang asli Afrika Selatan ini.

Comment:
Film yang premierenya dilangsungkan di Toronto International Film Festival pada tanggal 15 September 2010 yang lalu ini hanya rilis terbatas di beberapa negara dengan judul berbeda-beda. Di Indonesia masuk lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex menggunakan judul yang sama dengan Yunani. Sedangkan di Brazil memakai Repórteres de Guerra, Perancis dengan titel Shots of War serta The Hidden War di Swedia.
Film yang diangkat dari novel karangan Greg Marinovich dan João Silva ini diterjemahkan langsung oleh sutradara Steven Silver dalam bentuk screenplay. Bukan pekerjaan yang mudah untuk ukuran buku sulit seperti itu tetapi Silver sendiri berkebangsaan Afrika Selatan sehingga sedikit banyak mengetahui sejarah hitam yang terjadi disana. Belum lagi fakta bahwa ia sudah pernah menggarap beberapa dokumenter televisi sebelumnya yang rata-rata bertemakan peperangan dan kemanusiaan.
Kuartet Phillippe, Kitsch, Rautenbach, Van Jaarsveld bermain kompak sebagai empat orang fotografer berani mati. Menarik melihat kinerja kamera yang secara dinamis bergerak mengekspos mereka dengan penekanan cara pandang yang berbeda-beda satu sama lain. Porsi terbesar dipercayakan pada Phillippe dan Kitsch yang bertalenta lebih dalam pendekatan fotonya. Lihat bagaimana permainan nasib mereka silih berganti mengikuti roda kehidupan terutama dalam Pulitzer Prize dan segala “efek samping”nya.
Beberapa aktor Afro-Amerika yang mendukung film ini juga tampil mengesankan untuk menegaskan sisi emosional yang nyata sesuai apa yang dialami warga setempat pada waktu itu. Kehadiran sang editor majalah, Akerman sebagai front lady juga memberikan keseimbangan yang tepat bagi tokoh Greg yang berangkat dari nol hingga karakternya dapat terbentuk sedemikian rupa. Narasi tertulis sebelum credit title bergulir dijamin akan menggelitik akal sehat anda akan resiko profesi yang begitu tinggi.
The Bang Bang Club menghadirkan banyak gambar statik maupun bergerak yang cukup mengenaskan untuk dicerna dengan mata telanjang, terlebih menit ke-77 dst yang menggetarkan jiwa dan hati nurani siapapun yang menyaksikannya. Conflict interest yang disajikan dengan cukup sederhana dari sudut pandang yang tidak biasa itu pada akhirnya akan meninggalkan banyak pertanyaan mengenai moral dan etik di dalam benak penonton terutama bagi mereka yang menggemari fotografi.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 21 September 2011

MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : Perebutan Jejaka Dua Janda Metropolitan

Quotes:
Dengar Mira, Facebook dan Twitter itu harammm!
Mira: Haraman muka loe!


Storyline:
Sejak kecil ditinggal kedua orangtuanya yang tewas karena hanyut, Rahmat diadopsi oleh Mbak Bunga alias Mas Bambang pemilik salon “Mawar” yang hanya mampu menyekolahkannya sampai lulus SMA. Meski demikian, Rahmat tetaplah pribadi yang cerdas, alim dan berbakti bersama banci namun Rahmat tumbuh menjadi lelaki tulen yang pintar, baik, soleh dan berbakti. Sebagai petugas satpol PP, Rahmat cepat mendapat simpati dari atasannya yang kemudian dibenci oleh Bento yang iri hati padanya. Dalam urusan asmara pun, Rahmat menaruh hati pada tetangganya Ratih, janda muda yang berprofesi sebagai tukang jahit. Namun perjalanan cinta mereka tidak mulus karena diganggu Mpok Sari, pemilik warteg Sari Nikmat yang juga mengaku janda dan menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dimana screeningnya diselenggarakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 20 September 2011.

Cast:
Ihsan Tarore sebagai Rahmat
Ayu Pratiwi sebagai Ratih
Shinta Bachir sebagai Mpok Sari
Julia Robex sebagai Bunga
Vijey Sadiansyah sebagai Bento

Director:
Merupakan film kedua di tahun 2011 bagi Helfi Kardit setelah Arwah Goyang Karawang yang cukup laris itu.

Comment:
Melihat judulnya yang terkesan ekstrim dan murahan itu rasanya segmentasi film ini memang ditujukan bagi penonton kelas bawah. Asumsi ini bukannya tanpa alasan karena terbukti di bioskop papan atas ibukota, sebut saja Plaza Senayan XXI hanya memutar film ini satu hari saja! Sedangkan di bioskop-bioskop lain pun, nasibnya terseok-seok mengumpulkan jumlah penonton yang bisa dihitung dengan jari. Cukup mengenaskan!
Skenario yang ditulis oleh duet Hilman Mutasi dan Team Bintang Timur ini tergolong dangkal dan terlalu apa adanya. Tidak ada proses yang cukup kuat untuk bisa membuat penonton terkoneksi dengan nasib para tokohnya. Rahmat yang digambarkan sopan dan baik hati tidak diceritakan langkah pendewasaannya sebagai anak adopsi seorang banci salon kesepian. Ratih yang ditinggal menjanda juga tidak dikisahkan menanggung kepedihan karena kegagalan rumah tangganya. Sari malah agak dipaksakan sebagai antagonis walaupun sifat obsesifnya masih terbilang tanggung, lewat satu dua kejadian busuk yang dilakukannya, ia langsung menjelma menjadi wanita jahat.
Dengan karakterisasi yang demikian miskin, tentunya sulit mengharapkan Ihsan, Ayu, Shinta, Julia ataupun Vijey mampu mengerahkan usaha luar biasa untuk mengangkat film ini. Ibarat modal pas-pasan, akhirnya toh cekak juga. Maaf tidak bermaksud mendiskreditkan nama-nama tersebut di atas tetapi saya benar-benar tidak habis pikir dengan kontribusi mereka yang cuma keluar masuk scenes begitu saja. Kondisi lebih parah menimpa para aktor-aktris pendukungnya yangyang entah bagaimana nasibnya di akhir film. Bad directing!
Sutradara Helfi tampaknya tidak berusaha membuat sesuatu yang “alhamdulillah banget” bisa dikenang oleh penonton. Setting lokasi yang identik dengan masyarakat menengah ke bawah seperti warteg, rumah sederhana, gang sempit dll boleh-boleh saja menjadi panggung tersendiri tapi bukan berarti gambar-gambar yang disuguhkan bisa seadanya seperti itu. Sangat tidak menarik! Tidak perlu saya sebutkan referensi judul-judul lain yang lebih berhasil dalam hal ini, bukan?
Mati Muda Di Pelukan Janda memang masuk kategori film non sampah tapi kualitasnya lebih jauh dari buruk. Salahkan screenplay yang demikian dangkal dan terlalu bermain aman dalam upayanya untuk menghibur. Tidak heran jika penonton akan segera melupakan konten film ini sepersekian detik selepas beranjak dari bangku bioskop. Termasuk saya yang segera mengosongkan isi kepala dari lantunan suara band D’Cokiel yang sama mengganggunya di sepanjang film itu. Janda mudaaa, bisa bikin gue gila…

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Selasa, 20 September 2011

KERANDA KUNTILANAK : Seputar Gadis Hilang Kost Berhantu

Quotes:
DJ: Kalo tuh setan keren, dia udah jadi pemain sinetron!


Storyline:
Kost Abby dan Ikke yang semula tentram dan damai menjadi sarang teror kuntilanak apalagi salah satu tetangga mereka Lina menghilang secara misterius setelah menunggak biaya kost 2 bulan. Cody, kekasih Ikke, Stef, pacar Abby serta sahabat-sahabat mereka, DJ dan Jereng yang mampir kesana juga menjadi sasaran. Hingga pada suatu hari, adik Abby yang bernama Tasya datang kesana dan menyarankan agar mereka menenangkan diri di villa milik kawannya. Akankah semua misteri tersebut terjawab pada akhirnya? Siapa si kuntilanak berperut buncit itu sesungguhnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film dimana screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 September 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai DJ
Fiona Fachry sebagai Ikke
Tifany Jane sebagai Abby
Anastasya Octavian sebagai Tasya
Yessa Lona sebagai Lina
Indra Brotolaras sebagai Cody
Munazat Raditya sebagai Jereng
Stevan William sebagai Stef

Director:
Merupakan film ke-3 di tahun 2011 bagi Koya Pagayo setelah terakhir Pelet Kuntilanak.

Comment:
Keranda. Apakah seorang Koya Pagayo mengetahui makna kata itu? Tentu saja! Terbukti salah satu scene dalam film ini memperlihatkan benda tersebut sekilas meskipun sepersekian detik saja. Namun sudah cukup untuk membangun versi ceritanya sendiri selama kurang dari satu setengah jam. Seperti biasa campuran genre horor dan komedi yang dipilihnya kalau tidak mau dibilang ikon menyeramkan yang dibuat jenaka kemunculannya. Kontras memang.
Penulis skenario Aldy KS seperti yang lain-lain tampaknya manut saja buah tangannya itu diobrak-abrik Koya sesuka hati. Dibaca sekali, selayang pandang, lantas dimasukkan ke dalam benaknya untuk kemudian dikonstruksikan sesuai templatenya yang tersohor itu. Dimulai dari serentetan remaja putra-putri dengan kehidupan sehari-harinya, di kampus, di kost bergaya rumah mewah dan diakhiri di sebuah hutan berpohon tinggi dengan suasana malam hari yang berkabut. Familiar bukan?
Zaky jelas pemain kunci dalam film ini. Lebih dari dua pertiga film memperlihatkannya sebagai one man show sekaligus berbagi layar dengan Munazat, Indra, Stevan, Tiffany, Fiona, Anastasya termasuk si kuntilanak itu sendiri! Harus diakui 40 menit pertama, Zaky menuntaskan tugasnya dengan baik karena saya samasekali tidak terlalu terganggu dengan humornya. Namun selepas itu, tokoh DJ seakan buyar begitu saja yang bisa jadi disebabkan oleh proses editing random yang dilakukan Koya.
Jika anda cermati kostum yang dikenakan Zaky hanya 4 atau 5 outfit saja, apakah berarti syuting acak dalam waktu maksimal 5-6 hari sebelum memasuki proses editing? Entahlah, ini hanya tebakan liar saya saja seteiah membaca interview detail yang dilakukan Adrian Jonathan terhadap Nayato beberapa waktu lalu. Tidak sulit baginya untuk berbuat hal demikian karena kendali memang akan selalu ada di tangannya.
Dengan mengandalkan wajah-wajah Indo (baca: bule) yang setidaknya terlihat cool, Keranda Kuntilanak dengan kata lain: same storyboard different casts project! Apabila ia beranggapan film semacam itu masih dapat dijual, saya selaku penonton setia film nasional di bioskop justru merasakan dari waktu ke waktu jumlah penontonnya terus berkurang. Seperti segerombolan anak sekolah yang menonton bersama saya di Metropole XXI salah satunya berujar, “Udah ah. Gua gak mau nonton film-film Nayato lagi. Gak jelas!” Mudah-mudahan beliau membaca pernyataan ini. Dari hati kecil yang paling dalam, saya beranggapan judul Kuntilanak Bunting akan jauh lebih sesuai untuk yang satu ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 19 September 2011

CONAN THE BARBARIAN : Sedikit Plus Banyak Minus Pahlawan Dark Ages

Quotes:
Conan: You have a name?
Tamara: Tamara Amalia Jorvi-Karashan. And yours?
Conan: Conan.
Tamara: Conan... that's it?
Conan: How many names do I need?


Storyline:
Kaum Cimmerian yang dipimpin oleh Corin berhasil menghancurkan kelompok penyihir Acheron. Bertahun-tahun kemudian dalam peperangan dengan rivalnya, Corin kehilangan istrinya yang terluka walau sempat melahirkan bayi laki-laki yang kelak diberi nama Conan. Tak terasa, Conan tumbuh menjadi remaja pria yang tegar sebelum menjelma menjadi pendekar tangguh. Balas dendam pun dicanangkannya terhadap Khalar Zym yang telah merenggut nyawa ayahnya itu. Dalam perjalanannya melintasi Hyboria, Conan berjumpa Tamara dan jatuh hati padanya. Tamara sendiri disinyalir keturunan terakhir yang dicari oleh Khalar Zym dan putrinya Marique untuk membangkitkan arwah Maliva demi menguasai dunia. Berhasilkah Conan menuntaskan misinya?

Nice-to-know:
Kellan Lutz dan Jared Padalecki sempat dipertimbangkan untuk peran Conan sebelum diputuskan nama anyar Jason Momoa.

Cast:
Angkat nama lewat serial tenar sepanjang masa Baywatch (1999-2001), Jason Momoa ditunjuk sebagai Conan
Stephen Lang sebagai Khalar Zym
Rachel Nichols sebagai Tamara
Ron Perlman sebagai Corin
Rose McGowan sebagai Marique

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Marcus Nispel ini terakhir menggarap film remake Friday The 13th (2009).

Comment:
Pertama-tama, Robert E. Howard harus diberikan penghormatan akan idenya menciptakan karakter Conan yang legendaris itu. Tidak peduli berapa banyaknya reboot, spin-off, prekuel, sekuel yang dihasilkan puluhan filmmaker selama beberapa masa, karakter Conan tetaplah karakter Conan ciptaan Howard yang gagah berani dan pantang menyerah. Sosok kepahlawanan yang patut diteladani oleh siapapun juga.
Sayangnya kali ini trio penulis Thomas Dean Donnelly, Joshua Oppenheimer dan Sean Hood seperti kesulitan menyatukan isi kepala mereka bersama-sama dalam menghasilkan skrip yang brilian. Lihat saja bagian pembuka dimana pengenalan Conan kecil yang begitu dangkal, setiap karakter di bagian ini hanya mengucapkan sebaris kalimat dimana adegan membunuh dan bertahan hidup berlalu begitu saja hingga memasuki fase berikutnya.


Lebih dari dua pertiga bagian film yang menceritakan Conan dewasa juga tidak jauh berbeda. Dibekali dengan serentetan adegan aksi berujung pertumpahan darah yang bombastis sekalipun tidak akan ada artinya jika tidak dilengkapi oleh plot cerita dan karakterisasi yang mampu mengikatkan diri dengan penonton. Tak kurang dari 8 orang produser yang bekerjasama pun semakin memperbesar “dosa” mereka dengan membalut film dalam format 3D yang sia-sia belaka!
Sutradara Nispel juga melakukan gaya penceritaan yang miskin dengan intensitas yang turun naik. Terkadang amat menjemukan dengan dialog-dialog klise antar tokohnya yang seakan tidak mengenal jaman, etika dan kebudayaan sekaligus. Semua mengalir begitu saja selayaknya kisah Conan terjadi di masa sekarang ini, kontras sekali dengan tata kostum yang sebetulnya sudah tampil meyakinkan sesuai periodenya itu.


Tokoh yang dimainkan oleh Lang dan McGowan menjadi karakter favorit saya disini dengan kekejian dan kelicikannya. Masih di atas Momoa ataupun Nichols yang justru tidak terlalu berhasil menciptakan keterikatan asmara yang kental di antara keduanya. Namun kekurangan yang terjadi tidak sepenuhnya patut ditimpakan pada mereka mengingat konsistensi pengarahan sang sutradara terhadap aktor-aktrisnya disini wajib dipergunjingkan.
Conan The Barbarian memang sepintas terlihat megah, epik dengan kinerja CGI yang lumayan mengesankan. Namun di balik semuanya, tidak ada motivasi kuat yang dibutuhkan dari filmmaker untuk mendongkrak pijakan film ini dari kelas B yang menempel padanya. Apabila anda tetap penasaran atau memang menyukai genre pahlawan klasik semacam ini, saksikanlah tanpa nalar yang kritis dan tingkat kepedulian yang minimum terhadapi segala minusnya. Bisa jadi versi HBO malah lebih baik dari yang satu ini.

Durasi:
110 menit

U
.S. Box Office:
$20,920,882 till mid Sep 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 18 September 2011

THE HANGOVER PART 2 : Pernikahan Stuart Bertualang Merambah Bangkok

Quotes:
Stu Price: Oh my God! We kidnapped a monk!
Alan: We live an alternative lifestyle.


Storyline:
Dokter gigi Stu akan menikahi Lauren di Thailand. Berseri-seri menantikan hari yang ditunggu-tunggu, Stu berkumpul dengan Doug dan Phil dan mengingatkan mereka agar tidak ada pesta bujangan kali ini termasuk tidak mengundang si biang rusuh Alan. Meski pada akhirnya keempat sahabat tersebut bisa bersama-sama kembali di Bangkok, Stu tidak merasakan sambutan yang hangat dari ayah mertuanya. Malam menjelang pernikahan, mereka sepakat minum bir di sekeliling api unggun bersama Teddy yang juga adik kandung Lauren yang sangat berprestasi. Beberapa jam kemudian, Stu, Phil dan Alan terbangun di sebuah motel asing nan kotor, bersama Mr. Chow! Apa yang terjadi semalaman dan kemana Teddy menghilang adalah dua hal penting yang harus mereka pecahkan atau pernikahan Stu-Lauren terancam tidak akan pernah terjadi.

Nice-to-know:
Cameo tukang tato sedianya diisi oleh Mel Gibson sebelum digantikan Liam Neeson. Sayangnya sutradara Todd Phillips menginginkan syuting ulang yang kemudian tidak dipenuhi oleh Neeson. Akhirnya Nick Cassavetes yang mengisi peran tersebut.

Cast:
Bradley Cooper sebagai Phil
Memiliki acara televisinya sendiri Childrens Hospital (2008-2010), Ed Helms berperan sebagai Stu
Sempat mengisi peran dalam serial televisi Bored to Death (2009-2011), Zach Galifianakis bermain sebagai Alan
Justin Bartha sebagai Doug
Pria bergelar dokter bernama Ken Jeong ini muncul pertama kali dalam serial televisi The Big Easy (1997). Kali ini ia menjiwai tokoh Mr. Chow dengan gila-gilaan.
Paul Giamatti sebagai Kingsley
Jamie Chung sebagai Lauren
Mason Lee sebagai Teddy

Director:
Todd Phillips juga pernah menggunakan format tiga pria dewasa serupa dalam Old School (2003) dengan trio Luke Wilson, Vince Vaughn dan Will Ferrell.

Comment:
The Hangover adalah sebuah komedi khas Amrik berbujet “hanya” 35 juta dollar yang sukses mencetak angka box-office 277 juta dollar untuk peredaran di Amerika saja pada tahun 2009 yang lalu, belum dikompilasi dengan hasil rilis internasionalnya. Tidak mengherankan jika duo produser Daniel Goldberg dan Todd Phillips sepakat melanjutkan petualangan gila-gilaan itu dalam rentang waktu 2 tahun dengan memindahkan settingnya ke Bangkok, Thailand.
Tiga penulis skrip Craig Mazin, Scot Armstrong dan Phillips sendiri tidak banyak mengubah apa yang sudah disuguhkan 2 tahun lalu. Ketiganya juga berkolaborasi dengan duet Jon Lucas dan Scott Moore yang ditugaskan memperkaya karakter-karakter yang terlibat dalam sekuel ini. Bangkok juga terbukti menjadi panggung yang lebih gelap dan menyimpan petualangan-petualangan yang bisa dikatakan tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang di luar Asia pada umumnya.

Trio Phil, Stu dan Alan lagi-lagi harus menghadapi seseorang yang menghilang, dalam kasus ini adalah Teddy (dihidupkan oleh putra sutradara kenamaan Hongkong, Ang Lee) yang bertindak sebagai calon adik ipar Stu yang tengah berupaya mengambil simpati ayah mertuanya yang asli Thailand itu. Satu hal yang menarik, Galifianakis mendapat porsi yang sedikit lebih dominan kali ini. Ia tidak hanya lebih bodoh tetapi juga lebih kejam dan kasar daripada prekuelnya sehingga tak jarang menempatkan kawan-kawannya dalam situasi yang tidak menguntungkan samasekali.
Cooper seperti biasa ditaruh di baris depan dengan penampilan flamboyannya. Sedangkan Helms yang menjadi sentralisasi cerita dapat dibilang mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam mempertahankan cinta, persahabatan sekaligus integritas dirinya sendiri. Apakah kehilangan gigi sebanding dengan mentato wajah dan “perkosaan” yang dialaminya? Anda boleh menjawabnya suka-suka. Yang pasti ada satu nama lagi yang kembali ditempatkan sebagai spotlight yaitu Ken Jeong. Saya tidak akan membahas kiprah aktor satu ini agar tidak mengurangi unsur kejutannya!

Sutradara Phillips memang spesialis komedi dewasa. Namun sayangnya ia justru terlalu malas untuk melakukan pendekatan baru sehingga memilih untuk menggunakan formula lawas yang terlalu mirip dengan prekuelnya. Sebut saja berbagai adegan slapstick atau jokes yang terlontar dari interaksi trio mabuk-lupa tersebut. Padahal saya percaya, Todd masih mungkin mengeksplorasi beberapa trik dan kejutan segar daripada sekadar mengganti macan dengan monyet merokok misalnya?
Meskipun masih menawarkan puluhan tawa lepas (bagi yang bisa mencerna humor khas Phillips atau Galifianakis), The Hangover Part II dapat diidentifikasi sebagai remake dari The Hangover karena begitu banyaknya repetisi dan kesamaan strukturisasi yang terjadi. Tidak terlalu memuaskan bagi anda yang sudah menyaksikan prekuelnya hingga pada akhirnya membicarakan lelucon jorok khas pria selepas meninggalkan gedung bioskop termasuk penis, testikel yang cukup gambling dipertontonkan itu. Mudah-mudahan saya tidak perlu meng“copy paste” review ini pada ulasan Part III yang akan datang tepat 3 tahun ke depan.

Durasi:
100 menit

U
.S. Box Office:
$167,847,116 till mid Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 17 September 2011

RISE OF THE PLANET OF THE APES : Evolusi Monyet Revolusi Peradaban

Quotes:
Will Rodman: I'll take you home.
Caesar: Caesar *is* home.


Storyline:
Perusahaan Gen Sys tengah mengembangkan serum ALZ112 yang dipercaya mampu mengobati penderita Alzheimer. Dipimpin oleh Will Rodman dengan Steven Jacobs sebagai penanggungjawab, serum tersebut diuji coba pada kawanan kera. Ajaib, kera no. 9 yang dijuluki Bright Eyes itu mengalami peningkatan kecerdasan hingga akhirnya harus tewas karena menimbulkan kekacauan di lab. Tanpa diduga, Bright Eyes memiliki bayi kera jantan yang segera diamankan Will ke rumahnya yang juga dihuni oleh ayahnya yang menderita penyakit sejenis. Kera yang kemudian dinamakan Caesar itu tumbuh dengan intelejensi yang jauh lebih tinggi lagi. Namun mampukah Will menciptakan keseimbangan dunia bagi Caesar yang terus berkembang pesat tersebut?

Nice-to-know:
Film kedua Andy Serkis yang memerankan monyet setelah King Kong (2005). Ia juga bermain sebagai Gollum dalam trilogy Lord of the Rings.

Cast:
Mengawali karir layar lebarnya lewat Never Been Kissed (1999), James Franco bermain sebagai Will Rodman
Freida Pinto sebagai Caroline Aranha
John Lithgow sebagai Charles Rodman
Andy Serkis sebagai Caesar
Brian Cox sebagai John Landon
Tom Felton sebagai Dodge Landon
David Oyelowo sebagai Steven Jacobs

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rupert Wyatt setelah Subterrain (2001) dan The Escapist (2008).

Comment:
Monyet dipercaya sebagai hewan yang paling dekat secara genetik dengan manusia. Mohon pernyataan saya ini tidak ditelaah lebih jauh, apalagi sampai membuat anda berkaca dan mulai bertingkah persis dengan makhluk berbulu tersebut. Baiklah, kita memang sama-sama menyukai pisang dan seringkali menggaruk-garuk bagian tubuh. Okey, skip the part! Saya termasuk salah satu penggemar Planet of the Apes yang legendaris dan sudah berkali-kali diremake itu sehingga berekspektasi cukup tinggi terhadap yang satu ini.
Skrip yang ditulis oleh Rick Jaffa dan Amanda Silver ini menitik beratkan cerita pada hubungan antara ilmuwan muda cerdas Will Rodman dan anak kera hasil pengembangan genetisnya Caesar. Tidak terlalu sulit menerka apa yang disuguhkan dari menit pertama hingga terakhir karena konsep serupa pernah dilakukan sebelumnya sebut saja The Island of Dr. Moreau (1996) atau yang terbaru Splice (2009). Proses eksplorasi itulah yang menjadikan suguhan kali ini tetap mampu mengikat penonton pada kursinya masing-masing.

Meski bukan aktor favorit, saya harus mengakui film-film terakhir James Franco sangat memancing rasa antusias saya. Kali ini ia samasekali tidak mengecewakan sebagai Will yang bertanggungjawab pada tiga makhluk sekaligus. Pertama, pada ayahnya yang menderita Alzheimer dengan kesehatan yang terus memburuk. Kedua, pada dokter hewan yang dicintainya. Ketiga yang paling krusial, pada kera yang diasuhnya sedari kecil dan memiliki intelejensi di atas rata-rata. Franco mampu membagi kapabilitasnya secara seimbang di setiap kesempatan termasuk interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya.
Bujet 93 juta dollar terbukti ampuh untuk menghasilkan kualitas CGI yang dikerjakan oleh ratusan orang tersebut. Tampilan Andy Serkis sebagai Caesar teramat halus dan meyakinkan. Bukan hanya sesaat kita dibuat percaya bahwa kera mampu bertingkah laku selayaknya manusia sungguhan, tetapi sepanjang film kita akan terpukau bagaimana bahasa tubuh yang detail mampu menerjemahkan setiap emosi yang dikehendakinya. Silakan anda bayangkan yang tidak terbayangkan sekalipun dan bersiaplah untuk terpukau karenanya.

Satu-satunya minus yang mungkin timbul di kepala penonton selepas menyaksikan film ini adalah endingnya yang mencapai klimaks tapi justru terasa antiklimaks. Pertanyaan seperti: “So, what’s next?” tidak mampu dijawab dalam film yang berdurasi 105 menit ini. Jika mengindikasikan adanya sekuel rasanya masih terlalu dini untuk berasumsi. Setidaknya sutradara Wyatt mampu menjaga intensitas tinggi yang dibangunnya sejak pembukaan film hingga berakhir pada kepemimpinan Caesar yang heroik tersebut di atas jembatan Golden Gate.
Rise Of The Planet Of The Apes tidak dapat dikatakan sekuel/prekuel dari novel Pierre Boulle melainkan terkoneksi dari sekelumit kisah revolusi kera melawan tirani manusia di muka bumi ini. Jelas merupakan salah satu film musim panas terbaik di tahun 2011 dengan sumbangsih akting yang cantik dari aktor-aktris pendukungnya serta faktor-faktor yang sudah saya sebutkan di atas. Bersiaplah untuk terpaku secara emosional mengikuti perjalanan hidup Caeser dari EQ yang terdalam plus IQ yang terpendam dalam memimpin kawanannya. Mungkin sudah terlambat jika kemudian anda menyadari bahwa kaum manusia lah yang kerapkali bertindak sebagai pihak antagonis terhadap spesies yang lebih rendah darinya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$167,847,116 till mid Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 16 September 2011

GOOD NEIGHBOURS : Sosialisasi Tetangga Motivasi Pembunuhan

Tagline:
You never know who's living right next door.


Storyline:
Tahun 1995 dimana referendum kedua yang menyatakan pemisahan kota Quebec dimulai. Musim dingin, pembunuh serial sedang mengintai kompleks tempat tinggal Montreal. Para penghuni apartemen tua termasuk si gadis pelayan Louise pun mulai was-was dan seringkali berdiskusi dengan sahabatnya yang lumpuh Spencer. Tak lama kemudian, Victor pun pindah kesana dan mulai tertarik pada Louise. Sedangkan suasana mulai memanas ketika wanita Perancis bernama Johanne menjadi terganggu dengan kucing-kucing Louise. Kini masing-masing harus belajar siapa yang harus dipercaya dan tidak.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Park Ex Pictures.

Cast:
Mulai dikenal setelah beberapa lakonnya dalam serial televisi, Jay Baruchel bermain sebagai Victor
Aktor Inggris ini mulai angkat nama lewat Underworld (2003), Scott Speedman berperan sebagai Spencer
Emily Hampshire sebagai Louise
Xavier Dolan sebagai Jean-Marc
Gary Farmer sebagai Brandt
Kaniehtiio Horn sebagai Johanne

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Jacob Tierney setelah Twist (2003) dan The Trotsky (2009).

Comment:
Suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa tetangga adalah orang terdekat kita di luar keluarga. Seringkali segala macam bantuan darurat justru dibutuhkan dari mereka. Tentunya hal ini hanya berlaku bagi lingkungan tempat tinggal yang tingkat sosialisasinya tinggi antar para penghuninya, bukan sekumpulan individualis yang justru menyimpan perasaan-perasaan negatif berlebihan terhadap satu sama lainnya. Mana yang anda pilih?
Tierney yang mengerjakan skrip hasil adaptasi novel Chrystine Brouillet ini mengusung tema komedi hitam yang dibumbui dengan thriller. Fokus cerita pada tiga orang kesepian yaitu Spencer, Victor dan Louise dengan karakteristik masing-masing. Mereka memiliki keterikatan batin satu sama lain yang semakin terungkap seiring berjalannya tempo film yang merambat perlahan. Proses mencapai tahap itu memang membutuhkan kesabaran anda dalam menunggu sekitar satu jam, nyaris dua pertiga durasi film secara keseluruhan.
Beruntung, tiga karakter utama disini berhasil menyuguhkan akting yang maksimal. Ada Baruchel yang selalu terlihat clumsy, selalu berniat baiknya terhadap semua orang di sekitarnya meski terkadang disalahartikan. Hampshire yang terobsesi kucing, selalu paranoid terhadap pembunuh serial yang memperkosa dan membunuh wanita-wanita seusianya. Speedman yang misterius, selalu bersikap sinis karena kelumpuhannya itu. Anda akan menerka-nerka, tokoh mana yang pada akhirny paling “krusial” alias pemegang kunci, terlepas dari rasa empati yang mulai tumbuh terhadap mereka.
Tierney yang juga dikenal sebagai aktor itu (termasuk sebagai Jonah disini) masih perlu mengasah kemampuannya dalam menyutradarai. Konsep apartemen kelas menengah di Montreal itu memang sukses dirombak sedemikian rupa menjadi sebuah panggung pertunjukkan. Namun intensitas film yang mengalir datar-datar saja bisa jadi membosankan bagi mayoritas penonton apalagi yang tertipu dengan teaser trailer “berkedok” thriller yang menggoda itu.
Good Neighbours adalah contoh nyata potret sekumpulan orang yang seakan-akan tidak ingin benar-benar berkumpul satu sama lain hanya karena berada di tempat yang sama. Film yang samasekali tidak bernilai buruk, kalau tidak mau dikatakan layak tonton, tetapi sayangnya tidak mampu mencapai klimaks yang diharapkan. Persembahan komedi bernuansakan seks yang dibangun di atas thriller berdarah-darah, mengombinasikan perasaan jenaka dan ngeri secara bersamaan. Lihat saja karikatural yang disuguhkan bersamaan dengan credit title bergulir, membuat anda berpikir ulang dari perspektif yang berbeda akan keseluruhan isi film.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$1,088 till Aug 2011 (limited showing)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 15 September 2011

TARUNG : Aroma Balas Dendam Berdarah Persaudaraan

Quotes:
Galang: Gue janji. Gue pasti balik buat loe!


Storyline:
Empat pemuda dengan kehidupan keras masing-masing Reno, Galang, Choky dan Daud berawal dari panti asuhan yang sama milik Ibu Lastri. Bertahun-tahun kemudian, mereka berkesempatan untuk berkumpul kembali, memulai lembaran hidup yang baru. Reno yang baru keluar penjara, Galang yang jatuh hati pada pelacur bernama Astrid, Choky yang terlibat hutang dan Daud yang baru memulai usaha bengkelnya harus kembali menghadapi musuh-musuh mereka dimana nyawa dan persahabatan menjadi taruhan utamanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Jelita Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 13 September 2011.

Cast:
Guntur Triyoga sebagai Galang
Volland Humonggio sebagai Reno
Khrisna Patra sebagai Coky
Daud Radex sebagai Daud
Cinta Dewi sebagai Astrid
Raymond Knuliq

Director:
Merupakan film ke-7 di tahun 2011 bagi pria kelahiran 20 Februari 1968 bernama Nayato yang hobi menggunakan berbagai identitas ini.

Comment:
Film laga merupakan salah satu tambang emas perfilman Indonesia periode 80-90an yang sebut saja menonjolkan nama George Rudy, Barry Prima dll. Namun entah kenapa pamor genre yang satu ini merosot tajam memasuki tahun 2000an. Bukan tidak ada samasekali tetapi yang beredar bisa dihitung dengan jari, apalagi yang mampu mempertanggungjawabkan kualitasnya? Bagaimana dengan garapan sutradara terproduktif minus Indonesia kali ini yang nekad bermain di luar zona nyamannya?
Nayato Fio Nuala, sebuah nama yang tidak asing bagi pengikut film Indonesia. Seseorang yang misterius dan sangat sulit ditemui wartawan media manapun sejak kasus kontroversial FFI 2007 ini di luar dugaan muncul saat gala premiere film terbarunya ini. Makna dari kepercayaan diri tinggi akan kualitas akhirnya yang diharapkan bisa berbicara banyak? Bisa jadi! Namun yang jelas butuh lebih dari sekadar sinematografi temaram dan koreografi laga yang cepat dari berbagai angle dinamis. (baca: bukan pujian)
Saya sedikit heran dengan skrip yang dikerjakan oleh Erry Sofid dan ian Jampanay ini. Opening film seakan memfokuskan diri pada karakter Reno yang keluar dari penjara dan berusaha hidup normal di luar faktor rival-rival yang masih mengintainya. Namun pertengahan film seakan bagian tersebut hilang begitu saja dan pusat perhatian berganti kepada Galang dan Coky yang terlibat hutang atas dasar ketidakmanusiaan yang curang dan biadab. Bagaimana tidak? Uang kotor, dipinjam secara paksa, diberikan sebagai amal pula? WTF? Robin Hood yang menganut prinsip serupa pun rasanya akan bunuh diri dengan busur panahnya sendiri!
Volland adalah seorang aktor laga, setidaknya sudah dibuktikan lewat film-film sebelumnya. Tidak heran jika seharusnya dipercaya memegang porsi besar untuk setidaknya menjadi ujung tombak film. Nyatanya Nayato masih lebih percaya pada aktor kesayangannya, Guntur yang diberikan otoritas tinggi untuk bertindak sebagai pahlawan kesiangan bagi saudara-saudara angkatnya maupun kekasih pelacurnya. Brilian! Saya kasihan pada aktor-aktris yang terlibat disini karena proses syutingnya mungkin 180 derajat lebih membingungkan dibandingkan proses readingnya. Mudah-mudahan ada yang berani bertestimoni suatu saat nanti daripada harus bangga dengan peran-peran keluar masuk semacam ini.
Dengan embel-embel judul City of Darkness, Nayato seakan merasa berhak menampilkan suasana kota yang didominasi kegelapan. Gang-gang sempit, pemukiman kumuh, transportasi kereta malam hingga diskotik yang hingar bingar dengan segala transaksi miras, narkoba hingga seks. Campur aduk plot tanpa sekat yang jelas! Penonton yang awalnya mencoba peduli pada kiprah keempat pemuda jebolan Panti Asuhan Bunda Mulia itu pun rasanya berbalik mencibir.
Tarung terbukti merupakan proyek kebingungan seorang Nayato, apakah ia sedang syuting drama spesialisasinya atau action coba-cobanya. Sisi emosionalnya gagal ditampilkan, sisi serunya juga tidak berhasil disuguhkan. Mungkin di lain kesempatan, Nayato masih harus berpikir kembali untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik daripada sekadar menyediakan bertumpuk-tumpuk stok kaca mobil untuk dipecahkan akibat baku hantam para tokohnya!

Durasi:
80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa