XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 21 Mei 2011

DEAR GALILEO : Perjalanan Pelarian Dua Gadis Thailand

Original title:
Nee Dtaam Galileo.

Storyline:
Sesaat sebelum melakukan bungee jumping, Cherry dan Noon bertekad melakukan perjalanan dadakan ke Eropa selama setahun. Alasan keduanya memang berbeda, Cherry kecewa karena mendapat skorsing dari kampusnya sedangkan Noon sedih sebab baru saja putus dari kekasihnya Tum. Rencana mereka sederhana saja yaitu pergi dengan visa pelajar lalu mencari pekerjaan setempat untuk menghidupi diri dan yang terpenting adalah merasakan dunia dalam genggaman mereka. London, Paris dan Roma menjadi kota yang dituju. Namun apakah semua dapat berjalan sesuai rencana?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh GTH Production House dan sudah dirilis di Thailand pada tanggal 23 Juli 2009 yang lalu.

Cast:
Chutima Theepanarth sebagai Cherry
Jarinporn Junkiet sebagai Noon
Ray MacDonald sebagai Pisit

Director:
Nithiwat Tharatorn sebelumnya sukses mengarahkan Seasons Change (2006).

Comment:
Perjalanan ke luar negeri seringkali menjadi tema sebuah film. Motifnya bisa bermacam-macam, studi, cinta, karir dsb. Beruntung film Thailand yang satu ini tidak terjebak pada klisenya film-film sejenis. Banyak hal-hal baru (atau lama yang dikreasikan secara fresh) yang ditampilkan disini. Sebagai latar belakang dipilihlah Inggris, Perancis, Italia untuk disebut sebagai Euro Trip. Oops mungkin mengingatkan anda pada komedi seks Hollywood beberapa tahun lalu. Skip!
Sutradara Nithiwat dengan terampil memadukan panorama indah negara-negara Eropa tersebut dengan ruang lingkup cerita yang dipersempit dimana hanya berfokus pada aktifitas Cherry dan Noon saja sehari-harinya. Bagian London, Paris dan Venice masing-masing diberikan waktu seimbang untuk dieksplorasi dengan fokus sedikit lebih banyak pada Paris yang menyita 50 menit dibandingkan dua lokasi lainnya yang kisaran 40 menit saja.








Bagian London merupakan tahap penyesuaian keduanya menginjak negara asing terlebih Noon yang berusaha melupakan kisah cintanya yang kandas atau Cherry yang berupaya membuang pengalaman buruknya dalam berstudi. Bagian Paris dominan dengan unsur pencarian jati diri dimana Noon menemukan seseorang yang menarik perhatiannya. Bagian Milan/Venice adalah episode penetapan hati akan masa depan apa yang mereka impikan terutama Cherry yang mendapat tawaran kerja menarik.
Akting Chutima dan Jarinporn tergolong menyenangkan untuk disimak. Karakter Cherry yang spontan, cuek dan eksplosif seakan berbanding terbalik dengan Noon yang jujur, rapi dan sensitif. Lihat bagaimana keduanya mengisi screen masing-masing ataupun bersamaan secara interaktif. Sudut pandang merekapun silih berganti dituturkan lewat pengalaman hidup belajar, bekerja, bercinta dsb. Tanpa lupa komitmen untuk tidak meninggalkan satu sama lain, melanggar aturan dan meraih kesempatan yang ada menjadi benang merah yang melandasi setiap tindak-tanduk keduanya.








Meskipun dapat dikatakan bertempo lambat, Dear Galileo berhasil menyampaikan messagenya bahwa setiap perjalanan akan membawa pengalaman berharga bagi anda terlepas dari kejadian baik/buruk yang terjadi. Hebatnya lagi dimanapun film ini disyut, citra Thailand dan warganya tetap terekspos dengan tepat tanpa ada kesan dipaksakan. Bisa jadi setelah menontonnya anda akan terinspirasi melakukan perjalanan serupa, mungkin bisa mencoba bertanya pada Galileo terlebih dahulu. Sudah siapkah dengan sepasang batu di tangan anda?

Durasi:
125 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 20 Mei 2011

TRUST : Kejahatan Seksual Internet Gadis Muda

Tagline:
What took her family years to build. A stranger stole in an instant.

Storyline:
Will dan Lynn Cameron terlihat seperti keluarga bahagia dengan anak-anaknya yang beranjak remaja. Sejak kepergian si sulung Peter, gadis remaja berusia 14 tahun Annie justru semakin kesepian. Ia berkenalan dengan Charlie di ajang Teen Chat yang awalnya dikira seumuran. Namun saat bertemu langsung setelah 2 bulan bercakap-cakap tidak langsung betapa terkejutnya Annie mendapati Charlie ternyata berusia setidaknya 20 tahun diatasnya! Kejadian yang tidak diharapkan pun terjadi dan memaksa keluarga Cameron menderita secara psikis sambil memungkinkan masa depan terburuk yang mungkin mereka hadapi.

Nice-to-know:
Diproduksi secara kongsi oleh Millennium Films, Nu Image Films dan Dark Harbor Stories.

Cast:
Satu-satunya film Clive Owen di tahun 2010 sebagai Will Cameron dimana tahun lalu ia tampil dalam The Boys Are Back, Duplicity dan The International.
Dua kali dinominasikan Oscar lewat Being John Malkovich (1999) dan Capote (2005), Catherine Keener kembali dengan peran Lynn Cameron
Liana Liberato sebagai Annie Cameron
Jason Clarke sebagai Doug Tate
Chris Henry Coffey sebagai Charlie

Director:
Merupakan feature film kedua bagi David Schwimmer setelah Run, Fatboy, Run di tahun 2007.

Comment:
Mungkin masih segar dalam ingatan masyarakat Indonesia bahwa beberapa waktu lalu terjadi kejahatan terhadap gadis belia karena berkenalan dengan pria asing lewat internet dimana Facebook sebagai medianya. Hal tersebut merupakan lampu merah bagi para orangtua untuk lebih mengawasi anak-anaknya dimana teknologi sudah semakin maju dan mudah diakses di masa sekarang ini. Film ini merupakan salah satu contoh kasus tersebut.
Hal ini bisa menimpa siapapun dimanapun juga. Topiknya memang terasa berat tetapi sangat umum terjadi tanpa mengenal perkembangan jaman. Itulah sebabnya film ini mendapat rating Dewasa dan orangtua jelas perlu menemani anak remajanya dalam menonton film ini. Berbagai adegan berkonten seksual yang eksplisit dapat ditemui dengan gamblang untuk mempertebal tema yang ingin disampaikan. Tentunya untuk konsumsi bioskop sudah diputus habis oleh gunting sensor.
Schwimmer yang lebih dikenal sebagai aktor nyatanya mampu menunaikan tugas seorang sutradara dengan brilian. Riset langsung terhadap beberapa kejadian nyata yang dilakukannya mampu membuat visinya menjadi tajam dan faktual. Pendekatan personalnya juga terbawa saat mengarahkan aktor-aktris di dalamnya. Terima kasih pada skrip yang ditulis oleh duo Andy Bellin dan Robert Festinger yang demikian meyakinkan dengan dialog-dialog nyatanya.
Kredit khusus patut dilayangkan pada Liberato. Aktris muda kelahiran Texas ini memvisualisasikan tokoh Annie dengan sangat otentik. Kepercayaan dirinya yang rendah hingga membutuhkan pengakuan dari orang-orang di sekelilingnya terlepas dari berhak atau tidak malah membawanya ke situasi yang tidak menguntungkan. Berkali-kali anda akan dibuat miris melihat perlakuan atau mendengar pengakuan dari mulut Annie.
Owen dan Keener juga sukses mempotretkan pasangan suami istri pada umumnya. Pernikahan mereka yang terkadang bermasalah dalam komunikasi semakin diperparah dengan penderitaan yamg berkesinambungan saat mengetahui tragedi telah menimpa putri mereka. Kali ini kita akan melihat emosi Owen yang naik turun sebagai Will, seorang ayah rapuh sekaligus pebisnis handal dalam menyikapi kondisi yang tidak menyenangkan ini.
Trust merupakan sebuah drama realita yang akan menyeret anda untuk turut merasakan “siksaan” batin dari pihak orangtua ataupun sang anak itu sendiri. Beruntung dibekali skrip dan akting yang luar biasa sehingga tidak terkesan sebagai semi-dokumenter ataupun film lepas televisi yang klise. Endingnya mungkin tidak seperti yang diharapkan tetapi justru akan semakin memperkuat kekhawatiran anda akan hal buruk yang bisa saja menimpa anak, saudara, kerabat anda di luar sana.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$117,623 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 19 Mei 2011

BATAS : Menguji Perhinggaan Diri Pedalaman Kalimantan

Quotes:
Jaleswari: Mandau telah ada di dalam dirimu, menebas putus batas keraguanmu..

Storyline:
Jaleswari menerima tanggung jawab berat untuk menyelidiki rantai pendidikan yang selalu terputus di pedalaman Kalimantan. Dua minggu waktu yang diberikan harus dimaksimalkannya terlebih kondisinya yang tengah hamil. Sesampainya disana, Jaleswari diantar oleh Arif, petugas perbatasan untuk bertemu dengan Panglima, Kepala Suku yang mengajarkannya akan “Bahasa Hutan”. Sebetulnya bukan tidak ada tenaga pendidik disana, Adeus yang ditunjuk justru memilih mundur karena pola hidup masyarakat dan adat istiadat setempat yang demikian tertutup akan sistem baru yang dibawanya dari kota besar. Mampukah Jaleswari mengubah semua kondisi tersebut apalagi melihat antusiasme seorang anak lokal bernama Borneo?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Keana Production dan gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 12 Mei 2011.

Cast:
Marcella Zalianty sebagai Jaleswari
Arifin Putra sebagai Arif
Ardina Rasti sebagai Ubuh
Jajang C Noer sebagai Nawara
Piet Pagau sebagai Panglima
Marcell Domits sebagai Adeus
Alifyandra sebagai Borneo

Director:
Merupakan film pertama Rudi Soedjarwo setelah absen 2 tahun. Karya terakhirnya adalah Hantu Rumah Ampera (2009) yang sempat masuk daftar Asian horror movies to watch.

Comment:
Jujur saya menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dari kualitas akhir film ini. Mengingat harus absen pada gala premierenya dan nyaris semua rekan-rekan memberi penilaian negatif pada waktu itu. Namun melihat nama sutradara dan jajaran cast yang mengisinya, rasanya sulit untuk memalingkan muka dari film yang naskahnya ditulis oleh Slamet Rahardjo Djarot ini.
Tema globalnya dibagi menjadi dua. Satu, seseorang yang berusaha mengintrusi sekumpulan orang yang sudah terpatri dengan adat istiadat dan pola pikir setempat dengan optimismenya. Dua, masyarakat yang antipati dengan perubahan baru yang dibawa dari dunia luar tempat tinggal mereka. Dari situ kemudian digalilah subplot-subplot mengenai pencarian jati diri dari berbagai tokoh yang terlibat di dalamnya.
Jika anda bisa melihat secara luas, tentu dapat menangkap maksud yang ingin disampaikan seorang Rudi Soedjarwo kali ini. Dan jangan coba bandingkan karya yang satu ini dengan karya-karyanya yang lain karena konsepnya sudah jelas berbeda. Rudi menggunakan pendekatan psikis yang sangat personal dari masing-masing karakternya dan hal tersebut memang tidak mudah ditangkap begitu saja oleh penonton yang bisa jadi cepat merasa bosan karenanya.
Paling kentara adalah tokoh Jaleswari yang dihidupkan dengan matang oleh Marcella Zalianty. Ia seringkali berperang dengan batinnya sendiri yaitu kegalauannya dalam mengandung, perasaan kehilangan cinta diwujudkan lewat adegan seorang diri menyuarakan isi hatinya. Di luar itu, ia terlihat tegar dan mampu menjadi sosok yang inspiratif bagi orang-orang di sekitarnya. Sama halnya dengan Rasti yang meski tidak mendapat porsi dialog yang banyak tapi bahasa tubuh dan ekspresi Ubuh sudah berbicara banyak mewakili kepahitan yang dialaminya.
Dua pendatang baru, Alifyandra dan Marcell Domits berakting dengan sangat menarik dalam peranannya masing-masing. Karakter Borneo yang selalu bersemangat memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Berbanding terbalik dengan karakter Adeus yang bahkan tidak percaya diri dengan satu-satunya kemampuan yang ia miliki yaitu mengajar. Jangan ragukan kwalitet Piet Pagau dan Jajang C Noer yang lagi-lagi berhasil melebur dalam karakter Nawara dan Panglima.
Kekurangan film ini terletak pada editingnya yang kelewat kasar dalam memotong adegan demi adegan, juga penggunaan handheld camera pada opening film yang cukup mengganggu. Beberapa tambahan karakter sebenarnya tidak terlalu penting jika dimaksudkan untuk memperkaya konflik termasuk Arifin Putra yang meski sudah berusaha maksimal tapi saya merasa karakter Arif tidaklah sepenting itu. Plus endingnya yang seharusnya bisa diakhiri 5-10 menit lebih cepat untuk memperkuat makna closingnya.
Batas adalah sebuah film perjalanan yang kental dengan pengalaman spiritual para karakternya. Tidak ambisius tetapi cukup realistis. Bagaimana mengatasi ketakutan-ketakutan yang akan selalu ada dalam diri seseorang untuk akhirnya mampu keluar dari belenggu-belenggu yang membatasi langkahnya selama ini. Dan tidak ada yang lebih tepat selain pedalaman Borneo dengan segala keterbatasannya untuk digunakan sebagai settingnya. Kunci untuk menikmatinya adalah bersikap santai dan sabar terhadap ritme film yang teramat datar dan lamban. Absurd tetapi nyata senyata-nyatanya, bukankah jiwa manusia memang demikian?

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 18 Mei 2011

MY BEST BODYGUARD : Pencegahan Virus Mematikan Reporter Berani

Tagline:
The world’s most dangerous virus is about to end human race.


Storyline:
Sebuah virus jenis baru HOPE tengah mengancam Bangkok yang dapat menewaskan seseorang hanya dalam waktu 4 hari! Fakta tersebut diketahui oleh Nicha, reporter wanita ternama yang kemudian berusaha menelusuri sebab musababnya itu. Ternyata 7 orang tidak beruntung tengah digunakan oleh perusahaan farmasi asing sebagai bahan percobaan sekaligus penemuan anti virus tersebut. Nicha dibantu oleh Thud dan juga NSSD harus mengungkapkan semuanya sebelum terlambat meski mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Nice-to-know:
Distributor Hongkong, Media Asia akan mendistribusikan film secara internasional, sedangkan Oriental Eyes akan menangani peredaran domestik Thailand.

Cast:
Ubolratana Rajakanya sebagai Nicha
Chakrit Yamnam sebagai Thud
Shawn Yue sebagai Shawn
Dr. Archong Chumsai Na-Ayuthaya
Sompol Piyapongsiri

Director:

Sirippakorn Wongchariyawat

Comment:
Thailand mungkin lebih dikenal dengan pasokan film horor atau komedi romantisnya beberapa tahun terakhir yang terbukti cukup sukses menembus pasaran Asia termasuk Indonesia. Namun jika berbicara mengenai action kontemporer seperti yang satu ini, rasanya masih terlalu ambisius walaupun sudah didukung dengan bujet tinggi dan berkolaborasi dengan Hongkong sekalipun. Asia tetaplah Asia dan tidak akan pernah sama dengan nuansa Hollywood bagaimanapun juga.
Premis film ini adalah mengenai penyebaran virus jenis baru yang disebut HOPE. Pihak yang berada di sisi antagonis mungkin bisa dimaklumi yang kebetulan berasal dari kaum kapitalis alias pengusaha industri besar. Tapi kalangan protagonisnya yang kebetulan seorang presenter televisi wanita? Yang bertindak sendiri di luar sepak terjang polisi? Oke menurut saya hal ini sedikit aneh dan terlalu dipaksakan apapun alasannya.
Setelah mengetahui siapa pemeran Nicha sebenarnya rasanya misi filmmaker sudah dapat diterka. Ia adalah Putri Ubolratana Rajakanya, alias keturunan langsung Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Regent Sirikit! Sayangnya Sang Putri harus diakui kurang memiliki aura bintang dan tidak cukup meyakinkan sebagai reporter berkelas yang sangat dominan kemunculannya. Itulah sebabnya dibutuhkan beberapa aktor good looking untuk tandemnya tapi tidak banyak membantu karena justru lebih memperjelas gap.
Shawn Yue yang paling berpengalaman dalam genre action (lihat saja daftar film Hongkong yang dibintanginya) justru kesulitan berbahasa Inggris dengan baik sehingga mengurangi daya tariknya. Malah Chakrit yang paling terlihat wajar dan bisa dibilang judul film ini merujuk pada perannya disini. Tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya jika semua karakter terkesan kurang eksplorasi, skrip yang ditulis oleh C.R.A.B. memang tidak memungkinkan untuk itu.
Sutradara Wongchariyawat tampak kesulitan menyatukan kepingan-kepingan action yang serba palsu disini. Saya pikir mungkin hanya 50% yang setidaknya terlihat sungguhan, sisanya hanyalah buang-buang peluru ke space kosong, lontaran mobil atau adu fisik yang dibantu oleh editor. Pengertian aktor dan petarung sungguhan jelas berbeda. Anda termasuk penonton reguler film action diyakini kecewa dengan suguhan aksi kali ini.
Tidak susah menyimpulkan My Best Bodyguard sebagai film aksi dengan komposisi buruk di dalamnya. Selayaknya anda yang sudah bisa tersenyum melihat trailernya yang sangat berusaha terlihat “menjual” itu dipastikan akan tertawa lebih lebar lagi menyaksikan keseluruhan isinya. Sebuah proyek ambisius yang nampaknya tidak akan mengatrol posisi Sang Putri ke tingkat superstar meskipun ia berhasil survive pada akhir cerita dan sempat melontarkan serentetan kalimat bijaksana sekalipun!

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 17 Mei 2011

SANCTUM : Pengalaman Mengerikan Penjelajahan Bawah Air

Tagline:
The only way out is down.

Storyline:
Sebuah team penjelajah gua bawah air harus melakukan ekspedisi terhadap gua yang sistemnya paling sulit ditembus di muka bumi. Ketika badai tropis memaksa mereka jauh ke dalam gua, mereka harus berjuang dari arus liar, tekanan deras dan panik yang mulai melanda untuk bisa keluar kembali ke permukaan laut. Guru selam, Frank McGuire sudah menjelajahi gua bawah air Pasifik Selatan selama berbulan-bulan. Namun timnya kali ini adalah putranya yang berusia 17 tahun Josh dan staf keuangan Carl Hurley yang masing-masing memiliki rencana lain. Akankah labirin tersebut dapat dipecahkan sebelum terjebak selamanya?

Nice-to-know:
Sutradara Alister Grierson dan sinematografer Jules O’Loughlin tidak memiliki pengalaman 3D samasekali. Mereka lalu belajar bagaimana bermain dengan cahaya, ruang stereoskopik dan memanipulasi kamera dari coretan-coretan.

Cast:
Sebelum ini sempat mengisi suara dalam Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010), Richard Roxburgh berperan sebagai Frank McGuire
Angkat nama dalam serial televisi Home And Away (2005-2008), Rhys Wakefield bermain sebagai Josh
Ioan Gruffudd sebagai Carl
Alice Parkinson sebagai Victoria
Dan Wyllie sebagai Crazy George

Director:
Merupakan feature film kedua bagi Alister Grierson setelah Kokoda di tahun 2006.

Comment:
Terus terang dari awal saya merasa film ini akan sangat menjanjikan. Tidak mudah melakukan syuting di bawah laut untuk menyajikan thriller yang mumpuni, apalagi dibebat dalam teknologi 3 dimensi. Namun melihat nama James Cameron di kursi produser meski tidak sendirian rasanya bisa menjadi jaminan tersendiri. Siapa yang tidak ingat dengan karyanya The Abyss (1992) yang fenomenal itu? Kecuali bagi anda yang lahir di generasi baru, belum terlambat untuk menyaksikannya lewat blue-ray.
Skrip yang ditulis oleh John Garvin dan Andrew Wight ini terasa seperti film kelas dua dimana plotnya terlalu datar dan sederhana, tidak didukung oleh penjelasan yang ilmiah ataupun masuk akal. Semua karakternya juga terkesan satu dimensi. Diperparah lagi dengan dialog-dialog klise di antara mereka, beberapa bahkan mencoba menawarkan humor-humor kering. Dijamin satu setengah jam anda akan terisi oleh kontes menguap dan mengantuk dengan orang-orang di kanan kiri anda.
Saya percaya para aktor disini sudah melakukan usaha terbaiknya tapi apalah artinya jika tidak didukung oleh skenario yang baik? Roxburgh yang paling berpengalaman sekalipun tidak mampu mengangkat nama-nama lain yang tergolong muda dan miskin asam garam itu. Gruffudd yang pernah memikat dalam Fantastic Four mencoba menyajikan sosok psikopat egois dalam dirinya tapi tidak cukup bagi penonton untuk membencinya. Dan kabar buruk bagi para wanita, semua adegan sulit dalam film ini dimainkan oleh laki-laki, seakan menekan emansipasi ke titik nadir sekalipun.






Hal yang positif disini adalah kinerja sutradara Grierson yang berhasil menyodorkan scene-scene bawah air dengan memikat. Sinematografinya terbilang memuaskan dimana segala sudut gua tertangkap dengan baik berikut segala resikonya. Terkadang anda bahkan diajak merasakan klastrofobia ataupun hydrophobia jika membayangkan anda berada dalam situasi tersebut. Efek 3D nya menjadi tidak terlalu penting karena minimnya pencahayaan, toh Blitzmegaplex juga merilisnya dalam 2D saja.
Sanctum memang unggul dalam visualisasi tetapi tidak didukung oleh koneksi antar para tokohnya dengan audiens sehingga sia-sia saja. Penonton tidak terlalu peduli lagi dengan nasib mereka, siapa yang tewas duluan (sebagian besar karena kebodohan masing-masing) dan siapa yang bertahan sampai akhir (lebih karena faktor keberuntungan sepertinya). Drama thriller yang konon diinspirasi dari kejadian nyata ini mudah ditebak arahnya dan tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa untuk mengganti sekian uang yang sudah anda keluarkan. Dan satu pesan saya, mohon jangan salahkan James Cameron.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$23,070,045 till Feb 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Senin, 16 Mei 2011

7 HATI 7 CINTA 7 WANITA : Dilematis Cinta Kaum Perempuan

Quotes:
Yanti: Lagi global warming, jadinya banyak yang minta saya angetin..

Storyline:
Dokter kandungan yang masih melajang di usia 40an, Kartini dapat dikatakan sudah bertemu pasien dengan karakter A sampai Z. Mulai dari wanita soleh Ratna yang bersuamikan Marwan baru mengandung di tahun kelima pernikahannya, penjaja seks Yanti yang menderita kanker serviks, Nyonya Lili yang sering dikasari suaminya, Rara yang hamil akibat seks bebas dengan seniornya di sekolah Acin dan lain-lain. Belum lagi kehadiran dokter muda Rohana yang seringkali melangkahi teritori pribadi Kartini yang diam-diam dicintai Dokter Anton. Semua permasalahan itu pada akhirnya bertemu pada satu titik dimana batas kasih sayang itu sendiri terkadang dipertanyakan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Anak Negeri Film dan pemutaran perdana sekaligus press conferencenya diadakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 16 Mei 2011.

Cast:
Jajang C. Noer sebagai Dr. Kartini
Marcella Zalianty sebagai Dr. Rohana
Henky Soelaiman sebagai Dr. Anton
Rangga Djoned sebagai Bambang
Happy Salma sebagai Yanti
Intan Kieflie sebagai Ratna
Olga Lydia sebagai Lili
Verdi Soelaiman sebagai Hadi
Tamara Tyasmara sebagai Rara
Patty Sandya sebagai Nancy
Albert Halim sebagai Acin

Director:
Merupakan debut feature film pertama bagi Robby Ertanto setelah sebelumnya menangani segmen “The List” dalam antologi horor Takut : Faces of Fear (2008).

Comment:
Film ini merupakan satu dari sangat sedikitnya film lokal yang wara-wiri terlebih dahulu di berbagai festival film dalam negeri maupun internasional sebelum dirilis. Bahkan mendapatkan beberapa nominasi FFI 2010 yang lalu walau akhirnya hanya Happy Salma yang menang Aktris Pendukung Terbaik. Awalnya direncanakan edar Agustus 2010 lalu mengalami kemunduran beberapa kali hingga diputuskan tanggal final 18 Mei 2011 secara terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex saja. Mudah-mudahan fakta ini tetap menarik minat publik untuk menyaksikannya.
Rasanya permasalahan antar interaksi manusia memang tiada habisnya dibahas dalam sebuah film. Bedanya 777 mengambil sudut pandang perempuan sebagai pihak yang lebih dirugikan oleh keegoisan laki-laki baik disengaja ataupun tidak. Jangan heran jika tema perselingkuhan, poligami, hamil pra nikah, kekerasan rumah tangga, prostitusi, emansipasi dst dibahas secara gamblang disini. Memang bukan topik yang baru dan pernah dilakukan oleh ribuan film lainnya tapi tetap menarik untuk diikuti sekaligus menjadi bahan pembelajaran tersendiri bagi kondisi sosio psikis masyarakat negeri ini.
Nama Robby Ertanto Soediskam yang tergolong masih belia itu rasanya patut dikedepankan sebagai sineas handal perfilman nasional di masa mendatang. Film panjang pertamanya ini setidaknya membuktikan kemampuannya dalam menulis sekaligus menyutradarai secara mumpuni. Bagaimana dialog-dialog yang tercipta tergolong bersifat spontan sekaligus berbahasa puitis sehingga terasa dinamis. Belum lagi pengarahan yang diberikannya terhadap aktor-aktris tenar mampu menghasilkan kualitas akting yang prima.
Sulit untuk memilih siapa yang menjadi favorit saya dari ensembel cast kali ini. Yang pasti Jajang sebagai tokoh sentral amat memuaskan. Jangkauan aktingnya sebagai Dr. Kartini terasa luas sehingga interaksinya dengan perempuan-perempuan yang berkonsultasi dengannya terasa hidup. Kesuksesan Happy Salma menyabet Piala Citra lewat peran pelacur memang sangat terbantu oleh celotehan-celotehan sinisnya yang menggigit dan tak jarang memancing tawa. Lain lagi dengan Marcella yang tidak selepas biasanya walau kesan sarkastiknya cukup membuat penonton sedikit antipati terhadapnya.
Patut menjadi “spotlight” disini adalah Intan Kieflie yang multitasking sebagai produser, aktris sekaligus penyanyi. Perannya sebagai Ratna tidak mengecewakan karena harus menghidupi suami yang “bertingkah” dan juga adik yang “bermasalah”. Nama-nama baru seperti Albert, Patty, Tamara dll juga bermain cukup maksimal terlepas dari keterbatasan scene yang diberikan pada mereka. Jangan lupakan juga kontribusi ayah-anak Henky-Verdi, Rangga dst yang tidak sedikit dalam merekonstruksi bangunan konflik yang saling terkait kali ini.
Kekurangan film ini mungkin terletak pada penempatan musik yang seringkali tidak pas ataupun putus dengan sendirinya (ibarat kita menekan tombol “pause” pada music player). Juga konsep sinematografi yang agak standar, bisa jadi terkait dengan masalah bujet yang diminimalisir. Nuansa happy ending memang terkesan dominan walau tidak semua konflik dituntaskan secara jelas dan mengembalikan interpretasi masing-masing kepada penonton.
Terlepas dari plus minus yang dimilikinya, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita jelas menambah deretan terbatas film lokal berkualitas era tahun 2000an ke atas. Relevansi tema yang teramat nyata digarap dengan tajam, acungan jempol bagi Robby. Rupanya hanya perlu keberanian dan kreatifitas untuk menghasilkan sebuah film layak tonton. Saran saya, cobalah berpikir secara universal bagi anda yang memiliki minat untuk menyaksikannya, niscaya anda akan menemukan banyak wacana berfaedah mengenai ego dan diferensial pria dan wanita di dalamnya.

Durasi:
95 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 15 Mei 2011

THE NEW DAUGHTER : Kesulitan Ayah Hadapi Kemisteriusan Putrinya

Tagline:
How Far Will A Father Go To Protect The Ones He Loves?

Storyline:
Penulis John James memutuskan untuk pindah ke pedalaman South Carolina setelah ditinggal pergi istrinya. Kedua anaknya masing-masing Louisa dan Sam dibawa serta menempati sebuah rumah di kawasan Red Creek. Sam yang penurut jelas lebih memudahkan John dibandingkan Louisa yang mulai berontak karena harus beradaptasi di lingkungan baru lagi. Sejak Louisa menemukan bukit penguburan Indian di halaman belakang rumah mereka, sikapnya berubah drastis. Kejadian-kejadian misterius pun bermunculan. Apa yang harus dilakukan John untuk melindungi keluarganya sendiri?

Nice-to-know:
Merupakan film terakhir James Gammon yang meninggal di usia 70 tahun pada 16 Juli 2010.

Cast:
Tahun lalu kurang berhasil dalam Swing Vote (2008), Kevin Costner kembali sebagai John James
Aktris Spanyol belia yang angkat nama lewat Pan’s Labyrinth (2006), Ivana Baquero kebagian peran Louisa James
Samantha Mathis sebagai Cassandra Parker
Gattlin Griffith sebagai Sam James
Erik Palladino sebagai Officer Ed Lowry

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Luis Berdejo yang sebelumnya angkat nama karena menulis [REC] (2007) yang juga diremake menjadi Quarantine (2009).

Comment:
Jika sebuah thriller/horor dimulai dengan satu keluarga yang menempati rumah baru yang misterius rasanya sudah bisa ditebak endingnya bukan? Tidak terkecuali film satu ini yang bahkan belum mendapat keputusan apakah rilis di bioskop Amerika atau straight-to-dvd. Yang menarik hanyalah proses menuju kesana, mampukah memuaskan audiens pada akhirnya?
Perlahan tetapi pasti Costner mulai memasuki masa-masa suram aktor berumur. Terbukti beberapa film terakhirnya kurang mendapat sambutan meriah. Namun kualitas aktingnya sendiri tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Peran John James dapat dihidupkannya dengan baik dimana kekhawatiran seorang ayah dapat tertangkap jelas lewat berbagai scene yang melibatkan interaksi dengan tokoh lain ataupun dirinya sendiri.
Dua nama belia, Baquero dan Griffith mampu mencuri perhatian lewat sikap yang bertolak belakang. Baquero sebagai Louisa yang pembangkang karena status diri dan kekecewaannya terhadap kedua orangtuanya yang memutuskan berpisah. Ditambah pengaruh kekuatan asing yang menariknya semakin dalam hingga keluar dari dirinya sendiri. Sedangkan Griffith sebagai Sam memang lebih penurut terlihat dari sinar matanya yang lembut dan sikapnya yang amat patuh.
Penulis skrip John Travis yang mengembangkan ide dari cerita pendek karya John Connolly tergolong mampu menyajikan detil-detil horor dengan kreatif. Walaupun bertempo lambat, ketegangan merambat dari hal yang paling dasar hingga klimaks. Segala pertanyaan pun mulai terjawab satu persatu seiring menit demi menit berlalu. Tokoh-tokoh sentral yang tidak terlalu banyak justru karakterisasinya mampu diperkuat.
Sutradara Berdejo memang terkesan lebih terampil bermain di scene malam hari. Setting yang pas yaitu rumah megah nan sepi dengan hutan belantara gelap berhasil dimaksimalkan untuk menciptakan suasana menakutkan, belum lagi permainan ilustrasi musik yang mengiringinya. Apa yang ia lakukan pada saat menutup [REC] (2007) sedikit terbawa disini dimana penjelajahan gua berakhir dengan konklusi yang mungkin mengecewakan anda.
The New Daughter merupakan sebuah drama horor yang terkonsep dengan baik dan lumayan kuat secara karakterisasi. Kesalahannya hanyalah plot cerita yang teramat umum sehingga bisa jadi menyurutkan minat penonton untuk menyaksikannya. Meski demikian anda mungkin dibuat penasaran akan wujud “makhluk-makhluk” Indian yang baru terungkap pada epilog film setelah menebar teror secara samar di nyaris sepanjang durasinya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 14 Mei 2011

SOURCE CODE : Misi Ungkap Pelaku Pemboman Kereta

Quotes:
Colter Stevens: What would you do if you knew you only had one minute to live?
Christina Warren: I'd make those seconds count.

Storyline:
Pilot AU Amerika, C olter Stevens tiba-tiba terbangun dalam tubuh pria asing yang berprofesi sebagai guru bernama Sean Fentres. Di hadapannya duduk seorang wanita cantik, Christina Warren dan mereka tengah menikmati perjalanan kereta super cepat Chicago. Saat kebingungan mencari jawaban, 8 menit kemudian kereta meledak. Steven kembali ke dalam sebuah pod misterius dan mendapati dirinya berbicara dengan Goodwin yang mulai menjelaskan misinya untuk menemukan siapa pelaku pengeboman di kereta tersebut. Berulang kali “dikirim”, Steven harus menuntaskan kasus tersebut sekaligus mengetahui nasibnya sendiri dalam dunia paralel.

Nice-to-know:
Scott Bakula memulai pembicaraan via telepon dengan kalimat “Oh Boy" yang merupakan trademarknya dari serial Quantum Leap yang memiliki plot serupa dengan Source Code.

Cast:
Karirnya diawali di usia 11 tahun dalam City Slickers (1991), Jake Gyllenhaal berperan sebagai Colter Stevens.
Terakhir mendukung Somewhere dan Due Date di tahun 2010, Michelle Monaghan bermain sebagai Christina Warren
Vera Farmiga sebagai Colleen Goodwin
Jeffrey Wright sebagai Dr. Rutledge
Michael Arden sebagai Derek Frost

Director:
Merupakan film kedua bagi Duncan Jones setelah Moon (2009) yang dipuji para kritikus tersebut.

Comment:
Film ini seperti angin segar bagi bioskop-bioskop Indonesia di tengah krisis film yang melanda selama beberapa bulan terakhir. Jika ada yang mengatakan ide ceritanya campur aduk mulai dari Quantum Leap, Avatar, Inception ataupun sederetan judul lainnya sesungguhnya saya tidak terlalu peduli karena penulis Ben Ripley jelas punya “sesuatu” untuk disodorkan kali ini.
Siapa yang tidak ingin memiliki kesempatan untuk mengubah masa lalu? Rasanya semua orang akan mengangguk setuju dan mayoritas saya yakin akan berusaha menghapus catatan buruk tentang dirinya. Tujuannya jelas yakni memperbaiki masa depan alias nasib yang lebih baik lagi. Namun berapa banyak diantara anda yang mampu berpikir secara global dan melakukan semua itu demi kepentingan luas sekaligus mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi?





Manusia yang sangat langka tersebut dihidupkan dengan pas oleh Gyllenhaal. Kebingungan dan kemarahannya di awal proses menjalani “SUMBER” pada akhirnya bertransformasi menjadi aksi kepahlawanan seorang Colter Stevens. Monaghan seperti biasa mempesona dengan keluguan dan kebaikan hatinya sebagai Christina. Dua nama yang menyajikan akting paling memukau disini tentu saja Wright dan Farmiga sebagai Dr. Rutledge dan Goodwin yang misterius dan sempat berseberangan walau berada pada satu kapal.
Sutradara Jones tampaknya tidak mau terjebak pada thriller yang klise dan biasa-biasa saja. Opening “dejavu” yang cenderung mudah ditebak arahnya itu tiba-tiba digerakkan maju mundur dengan brilian sehingga membuat anda kerap bertanya-tanya. Setiap potongan puzzle bisa jadi kunci bagi adegan berikutnya. Keterbatasan ruang kereta sekalipun dapat dimaksimalkan untuk menjadi panggung teka-teki yang mengasyikkan. Tidak percaya?





Kekurangan film ini memang terbilang minimal. Salah satunya adalah bagaimana Colter Stevens yang notabene pria biasa memiliki kemampuan yang dapat dijajarkan dengan seorang superhero dengan segala kesigapan dan daya ingat yang luar biasa? Plus endingnya yang terlalu “bersahabat” setelah penjelasan panjang lebar yang memaksa penonton untuk dapat mengikuti logika sang penulis. Berhasil? Kemungkinan tidak bagi sebagian orang.
Source Code adalah sebuah suspense thriller yang cerdas. Pembahasan dua plot yang berjalan bersama (Colter Stevens dan Sean Fentres) diikuti pula oleh pengembangan karakter masing-masing tokoh hingga sampai pada konklusi yang memikat tanpa harus kehilangan elemen action itu sendiri. Tidak lupa pesan moral yang berusaha disisipkan mengenai pencarian kebahagiaan sejati serta bagaimana menghadapi dunia yang terkadang sinis akan eksistensi kita. Hiburlah diri anda dan temukan makna dari setiap detik yang disodorkan Duncan James di awal karir panjangnya ini.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$50,944,922 till May 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 13 Mei 2011

ELITE SQUAD : Kesatuan Elit Kontra Warga Sipil

Tagline:
On the streets of Rio only the elite survive.

Storyline:
Pada tahun 1997 sebelum kedatangan Paus ke Rio de Janeiro, Kapten Nascimento dari BOPE (Batalyon Polisi Operasi Khusus) ditugaskan untuk mengakhiri resiko peredaran narkoba di daerah kumuh tempat Paus akan tinggal sementara waktu. Nascimento yang berniat pensiun dan menjadi pelatih kesatuan baru karena istrinya tengah mengandung pun berusaha menemukan penggantinya dalam waktu singkat. Pilihannya mungkin jatuh pada dua sahabat yang idealis, Neto dan Matias yang bertekad menjadi polisi jujur dan menjunjung tinggi kebenaran. Namun apakah semuanya sesederhana itu?

Nice-to-know:
Selama syuting, sebuah van dengan 90 senjata tangan (30 asli dan 60 palsu) dirampok di bukit Chapéu Mangueira. Sekelompok polisi setempat langsung menyisir Favela Pavão-Pavãozinho di Copacabana tetapi hanya berhasil dikumpulkan setengahnya.

Cast:
Wagner Moura sebagai Capitão Nascimento
André Ramiro sebagai André Matias
Caio Junqueira sebagai Neto
Milhem Cortaz sebagai Capitão Fábio
Fernanda Machado sebagai Maria
Maria Ribeiro sebagai Rosane

Director:
Merupakan feature film pertama bagi José Padilha yang sebelumnya menangani beberapa dokumenter.

Comment:
Berapa banyak film berbahasa Portugis yang bisa anda ingat? Atau jangan-jangan anda belum pernah menontonnya samasekali. Tidak usah malu karena sayapun tidak berhasil mengingat satu judul juga. Yang pasti alasan saya menyaksikan film satu ini karena rasa penasaran akan ratingnya yang tinggi dimanapun ditayangkan. Meski sudah rilis tahun 2007 lalu tidak apa jika baru bisa masuk bioskop Indonesia tahun ini. Berterima kasihlah pada krisis film yang tak kunjung selesai.
Nyaris tidak ada plot cerita yang baku disini karena disajikan dengan gaya dokumenter. Seakan kurang meyakinkan, film ini juga mengambil setting kejadian yang sesungguhnya. Tidak heran jika sampai ada scene sesi talkshow televisi, perbincangan surat kabar hingga mulut ke mulut antar warga di dalamnya. Kesemuanya mengambil bermacam-macam sudut pandang mulai dari tentara, penduduk sipil dsb hingga batasan protagonis dan antagonis terasa kabur.
Sutradara Padilha memang tidak asing dengan konsep documentary movie. Itulah sebabnya ia begitu lugas memainkan handheld camera ataupun shot jauh-dekat yang terasa sangat real. Rodrigo Pimentel mantan kapten BOPE tersebut juga diajak untuk menulis skrip bersama-sama demi mendekatkan isi film dengan fakta yang ada dimana BENAR dan SALAH akan selalu menjadi perdebatan panjang dalam Kepolisian itu sendiri.
Aktor-aktor yang terlibat disini juga memberikan kontribusi positif meski belum banyak berpengalaman atau dikenal public sebelumnya. Terutama Moura sebagai Nascimento yang berjiwa pemberontak, percaya pada dirinya sendiri justru harus menghadapi tekanan dari istri dan tanggungjawabnya terhadap kesatuan elit tersebut. Perubahan sikapnya dari awal sampai akhir terwujud dengan baik sehingga bisa dimengerti alasan yang sesungguhnya.
Tropa de Elite memang teramat jujur dalam mengusung konsep pacifism dan militarism secara bergantian. Segala keburukan sebuah negara seperti dihadirkan dengan gamblang yang berujung pada kekerasan dan ketidak adilan yang tiada akhir. Sebuah pengalaman wajib bersinema yang mungkin membuat anda membutuhkan aspirin untuk menyelesaikannya hingga ending. Saya memuji Elite Squad sebagai karya brilian tapi terus terang tidak menyukai gaya dokumenter dan narasinya yang terlalu dominan. Bagaimana dengan anda?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$8,060 till Sept 2008

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: