XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 14 November 2010

EVERYBODY'S FINE : Perjalanan Orangtua Mengunjungi Anak-Anaknya

Quotes:
Rosie-We could just talk to mom.
Frank Goode-Oh, but you couldn't just talk to me?
Rosie-Well she was a good listener, you were a good talker.
Frank Goode-Well so that's good, we made a good team.

Storyline:
Frank Goode hidup sendirian di Elmira, New York selepas kematian istrinya beberapa bulan yang lalu. Kesepian yang melanda setelah pensiun dari pabrik, Frank bertekad mengunjungi keempat anak-anaknya yang ia pikir sudah sukses dan mandiri masing-masing David yang seniman di New York City, Amy yang eksekutif periklanan di Chicago, Robert yang konduktor musik di Denver dan Rosie yang penari di Vegas. Nyatanya keadaan asli berbeda dari bayangan Frank. Akankah interaksi anak dan orangtua akan tetap terjaga keharmonisannya terlepas dari jam kehidupan yang terus berdetak?

Nice-to-know:
Coba perhatikan karakter Frank yang bekerja di bidang kabel telepon selalu menggunakan telepon berkabel. Sedangkan anak-anaknya memakai handphone alias ponsel nirkabel.

Cast:
Tahun 2008 lalu muncul dalam 2 film yang tidak terlalu booming yaitu Righteous Kill dan What Just Happened, Robert DeNiro kali ini bermain sebagai Frank Goode yang memiliki penyakit jantung dan di usia tua berusaha mempotretkan kehidupan anak-anaknya yang sudah dewasa sesuai imajinasinya.
Drew Barrymore sebagai Rosie
Kate Beckinsale sebagai Amy
Sam Rockwell sebagai Robert

Director:
Sempat menyutradarai Nanny McPhee (2005) sebelumnya, Kirk Jones maju dengan film ketiganya ini yang bergenre family drama.

Comment:
Jika melihat posternya sepintas kita akan mengharapkan drama keluarga yang dibumbui komedi dengan latar belakang Natal dan sejenisnya. Nyatanya tidak seperti itu. Suasana gloomy yang cukup depresif mewarnai sepanjang plot cerita dieksekusi. Tunggu dulu. Jangan artikan ini sebagai sesuatu yang negatif karena film ini justru sangat mendekati kenyataan sehari-hari dari sebuah kehidupan yang terus bergulir tanpa henti.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa seiring pertambahan umur, esensi dari keluarga itu sedikit mengalami perubahan, beberapa di antaranya bahkan hilang begitu saja dalam arti para anggotanya benar-benar hidup terpisah satu sama lain. Film ini adalah salah satu contohnya. Sutradara Jones dengan cerdas menghadirkan sinematografi yang lembut dengan alunan musik minimalis untuk menceritakan subplot demi subplot dengan lancar. Rasanya kita semua akan jatuh hati pada karakter Frank yang malang. Acungan jempol bagi DeNiro disini dalam memerankan pria tua yang kesepian dan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Tidak heran jika ia diganjar piala Best Actor dalam Hollywood Film Award 2009 yang lalu Di luar DeNiro, memang tidak terlalu cemerlang tetapi Barrymore, Beckinsale dan Rockwell memberikan warna tersendiri dengan penokohan yang unik sebagai ketiga anak Frank.
Saya sebagai salah satu dari anak-anak yang kesemuanya selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orangtua kami bisa memahami ketakutan Frank. Orangtua kerapkali melihat anak-anaknya dalam sosok yang jauh lebih muda selayaknya bertahun-tahun silam sehingga terlalu khawatir dan melupakan fakta bahwa anak-anaknya sudah dewasa dan bisa hidup mandiri. Namun ikatan orangtua dan anak itu sendiri memang tidak akan terpisahkan dengan cara apapun juga. Waktu demi waktu terkadang membangkitkan kenangan demi kenangan yang akan membuat kita bahagia tersenyum ataupun menangis terharu mengingat apa yang pernah terjadi dalam keluarga. (Mudah-mudahan review ini tidak diartikan sebagai curhat pribadi saya). Everybody's Fine adalah perjalanan seorang ayah yang berusaha mencari jawaban akan makna hidupnya di usia tua. Drama keluarga yang sangat bermakna dan menyentuh sanubari. It's more than just fine!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$8,855,646 till end of 2009.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 13 November 2010

YOU AGAIN : Musuh Bebuyutan Sekolah Menengah Berbagai Jaman

Tagline:
What doesn’t kill you… is going to marry your brother.

Storyline:
Sebagai remaja putri sekolah menengah, Marni menjadi pecundang dengan julukan MOO. Ia dijauhi para siswa dan dijadikan bulan-bulanan geng siswi populer yang dipimpin JJ. Bertahun-tahun kemudian, Marni telah berubah menjadi wanita cantik dengan karir yang bagus. Waktunya kembali ke rumah untuk pernikahan abangnya, Will dan bertemu kembali dengna ibunya, Gail. Disitulah ia mengetahui bahwa Will menikahi Joanna alias JJ yang menindasnya dahulu. Sayangnya Joanna terlalu sombong untuk meminta maaf kepada Marni sehingga Marni berpikir Joanna tidak cukup baik bagi Will. Bukan hanya itu, bibi Joanna, Ramona juga ternyata rival berat Gail. Keempatnya pun terlibat intrik untuk menuntaskan persaingan yang sempat tertunda.

Nice-to-know:
Ada scene dimana Jamie Lee Curtis dan Sigourney Weaver berpakaian sama persis, keduanya mengulangi hal serupa pada gala premiere film ini.

Cast:
Membintangi Get Him to the Greek dan When In Rome tahun lalu, Kristen Bell disini bermain sebagai Marni, mantan siswi SMU yang tertindas hingga terpacu semangatnya untuk lebih baik lagi.
Tidak banyak yang ingat bahwa dialah aktris cilik yang bermain dalam Kindergarten Cop (1991), Odette Yustman kali ini berperan sebagai Joanna alias JJ yang berusaha membenahi hidupnya atas kekacauan masa remajanya.
Jamie Lee Curtis sebagai Gail
Sigourney Weaver sebagai Aunt Ramona
Betty White sebagai Grandma Bunny
Victor Garber sebagai Mark
James Wolk sebagai Will
Sean Wing sebagai Charlie

Director:
Andy Fickman sebelum ini mengarahkan Dwayne Johnson alias The Rock dalam The Game Plan (2007).

Comment:
Saya tidak terlalu perduli akan pendapat orang yang umumnya beranggapan tidak ada yang istimewa dalam film ini. Bagi saya selalu menyenangkan melihat dua aktris senior yang beradu akting siapa lagi kalau bukan Lee Curtis dan Weaver yang walaupun telah menua tetapi tidak kehilangan pesonanya. Mereka berdua meski bukan dalam porsi utama berhasil mempertegas karakter masing-masing yang dibawakannya. Lihat bagaimana percaya dirinya Gail dan glamornya Ramona. Meski tidak banyak persaingan masa lalu di antara mereka yang diperlihatkan, saya lebih menikmati persaingan masa sekarangnya.
Untuk peran utama terdapat dua aktris junior yang sama-sama cantik dan kerapkali membintangi chick flick Hollywood masa kini. Bell dan Yustman mewakili karakter gadis-gadis jaman sekarang yang seringkali berebut popularitas semasa SMU dan berlanjut hingga keduanya “terpaksa” menjadi anggota keluarga yang sama. Lihat bagaimana Marni yang kutu buku dengan kacamata, poni jatuh dan jerawatnya atau Joanna alias JJ yang ketua pemandu sorak yang tenar karena kecantikannya. Konflik di antara mereka yang bertransformasi menjadi calon wanita dewasa terasa berkembang dengan natural.
Memang terkadang sutradara Fickman seperti terlihat kebingungan mau menitikberatkan film ini ke dalam komedi atau drama? Yang pasti jangan harapkan romantisme sebuah pasangan baik Marni-Charlie ataupun Joanna-Will disini karena itu tidak akan terjadi! Beruntung ketidak konsistenan Fickman itu mampu ditutupi dengan permainan seni peran yang memikat dari keempat aktris yang saya sebutkan di atas plus jangan lupakan kontribusi Betty White yang masih sangat gape di usianya yang menginjak 88 tahun. Luar biasa!
Saya menikmati setiap momen yang disuguhkan You Again terlepas dari begitu klise dan predictablenya arah film ini sejak menit awal. Mungkin ingatan sebagian dari anda akan melayang kembali ke masa-masa sekolah dimana eksistensi menjadi sesuatu yang sangat penting melebihi apapun juga. Namun harus diingat, baik/buruknya pengalaman masa lalu hendaknya dijadikan cambuk untuk selalu melangkah maju dan menatap masa depan. Itulah pesan moral yang ingin disampaikan penulis skrip Moe Jelline yang diterjemahkan dengan sangat baik tanpa harus eksplisit sekalipun.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$25,099,081 till early November 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 12 November 2010

SKYLINE : Bertahan Hidup Dari Invasi Sinar Biru Alien

Tagline:
Don't look up.

Storyline:
Sinar asing berwarna biru yang membias di atas langit Los Angeles menarik perhatian orang-orang. Tak terkecuali sekelompok sahabat Jarrod, Elaine, Terry, Candice yang tengah merayakan ulang tahun dengan berpesta di unit apartemen mereka. Dalam keadaan setengah mabuk, Ray yang menatap keluar jendela di luar dugaan tersedot sinar tersebut hingga lenyap. Jarrod yang mencari tahu juga nyaris terbawa, beruntung Terry menyelamatkannya. Belakangan mereka tahu bahwa itu adalah invasi alien yang berusaha mengambil alih bumi dengan melenyapkan populasinya terlebih dahulu.

Nice-to-know:
Film ini sepenuhnya diproduksi dan dibiayai oleh Strause bersaudara dengan berlokasi syuting di gedung kondominium mereka di Marina Del Rey, CA.

Cast:
Sebelumnya mendukung Dennis Quaid dan Zhang Ziyi dalam Horsemen (2009), Eric Balfour sebagai Jarrod
Angkat nama lewat serial televisi Scrubs dari tahun 2001, Donald Faison sebagai Terry
Scottie Thompson sebagai Elaine
Brittany Daniel sebagai Candice
Crystal Reed sebagai Denise
Neil Hopkins sebagai Ray
David Zayas sebagai Oliver

Director:
Colin dan Greg Strause selama ini lebih banyak terlibat dalam bidang visual efek. Satu-satunya film yang pernah mereka kerjakan bersama adalah Alien Vs Predator : Requiem (2007) yang sayangnya langsung masuk pasaran DVD.

Comment:
Sudah berpengalaman dalam bidang spesial dan visual efek selama puluhan tahun termasuk dalam The X-Files yang awalnya mengisahkan makhluk lain di galaksi ini membuat Strause Brothers percaya diri membuat film ini hanya dengan bujet 10 juta dollar saja! Semua produksi dari nol ditutup rapat-rapat oleh mereka hingga peluncuran filmnya yang mengambil tanggal baik 12-11-10 dengan harapan akan menarik minat calon penonton. Strategi mereka tidak salah karena orang cenderung penasaran akan film bertemakan invasi alien. Bukankah kita selalu bertanya-tanya adakah kehidupan di luar bumi yang tidak ketahui? Jikapun ada, apakah mereka akan cukup bersahabat untuk hidup berdampingan? Hm, saya tidak akan berpanjang lebar mengenai itu disini.
Intinya alien disini bertujuan buruk, menarik manusia sebanyak mungkin ke dalam kapal induk mereka untuk dijadikan "tentara" (maafkan saya jika ini termasuk spoiler!). Caranya cukup unik yaitu dengan sinar biru yang menggerogoti jiwa hingga tubuh manusia-manusia malang tersebut. Harus diakui cukup inovatif! Dan film ini tidak bercerita mengenai heroisme pihak yang bertahan melawan pihak yang menyerang, melainkan pada sekelompok anak muda yang "hanya" mencoba bertahan hidup, pilihannya dua yaitu berdiam diri dengan bersembunyi di apartemen atau melarikan diri dengan harapan dapat terselamatkan. Dan dilema itulah yang menjadi satu-satunya permasalahan disini.
Gambaran sekelumit jalan cerita tersebut rasanya sudah cukup menjelaskan bahwa sedemikian lemahnya skrip yang ditulis duet Joshua Cordes dan Liam O'Donnell itu. Rasa boring akan menyengat anda lebih dari sepertiga durasi film dengan misi pelarian yang entah mau dibawa kemana. Beruntung Strause Brothers membalutnya dengan spesial/visual efek yang cukup meyakinkan, setidaknya yang tertangkap di layar. Hal itu jualah yang menjelaskan kemana larinya bujet film ini, lebih baik daripada menyewa aktor-aktris ternama dengan bayaran selangit? Toh Balfour, Faison, Thompson dkk juga berakting tidak terlalu jelek walau masih jauh dari kata bagus.
Sebelum penonton menyadari kisah apa yang disodorkan ke hadapan mereka, film ini tiba-tiba ditutup begitu saja dan menyiratkan adanya sekuel di masa mendatang. Rupanya Strause Brothers sangat yakin 10 juta dollar mereka pasti kembali berlipat-lipat untuk modal produksi selanjutnya. Saya sedikit membandingkan Skyline dengan District 9 yang outstanding itu terutama di bagian closingnya, hanya saja masih satu tingkat di bawahnya. Sebuah sains fiksi yang menyuguhkan spesial/visual efek yang lumayan mengagumkan tetapi minus di luar itu. Tetap penasaran?

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 11 November 2010

Best Horror Movies in Last 5 Years

Setelah saya melihat ke belakang perfilman nasional selama periode 2006-2010 rasanya cukup sulit menemukan banyak film horor/thriller berkualitas. Namun saya tetap harus membuat daftar tersebut. Mengapa? Sebab saya sangat sangat mencintai genre ini lebih dari apapun juga. Kita mulai saja ya:

Pintu Terlarang (2009)
”Harus diakui Joko Anwar cukup gila disini karena berhasil menjungkir balikkan fakta yang tersusun dalam benak penonton yang terbentuk setelah menyaksikan film ini sejak menit awal. Akting ciamik juga disodorkan Fachri Albar yang memiliki kompleksitas tersendiri dalam pikirannya. Tak lupa adegan berdarah juga disisipkan membuat film ini tak ada lawannya dalam 5 tahun terakhir!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Pocong 2 (2006)
”Meskipun tidak dapat dikatakan orisinil 100%, film ini berhasil menggedor batin para penontonnya dengan kemunculan pocong yang tak diduga-duga di sebuah apartemen yang didukung dengan musik yang tepat. Anda bisa rasakan ketakutan Risty Tagor disitu yang berpadu dengan kebingungan Revalina S Temat yang berujung pada suatu konklusi mengejutkan. Sebuah persembahan terbaik Rudi Soedjarwo untuk genre ini yang sayang prekuelnya tidak pernah tayang karena tidak lulus sensor!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Rumah Dara (2009)
The Mo Brothers sukses menciptakan genre slasher pertama di Indonesia dengan jajaran bintang yang ciamik termasuk Julie Estelle yang berdiri sebagai protagonis. Penjiwaan Shareefa Daanish sebagai ibu psikopat yang tidak mati-mati membuatnya kesohor sebagai sosok Dara hingga saat ini. Scene demi scene sadis yang bersimbah darah lewat pencahayaan indoor yang remang-remang dijamin membuat anda terkesiap dan geregetan menyusuri endingnya!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Kuntilanak (2006)
”Meski logika ceritanya diragukan, film garapan Rizal Mantovani ini tetap sukses besar mengusung sosok kuntilanak berwujud wanita berkepala kuda yang muncul akibat pesugihan. Terbukti sebagai film lokal pertama yang diputar di bioskop kategori The Premiere di Senayan City pada waktu itu. Lagi-lagi Julie Estelle yang kali ini nekad menelusuri lorong gelap dan kamar tertutup asramanya yang angker itu untuk mencaritahu penyebab kematian misterius teman-temannya.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Pencarian Terakhir (2008)
Affandi Abdul Rachman menampilkan drama horor yang dibalut dengan kisah para pendaki gunung. Penggarapannya yang serius dengan penuturan yang teratur membuat film ini enak diikuti. Memasuki pertengahan, tensinya mulai meningkat terlebih setelah mengetengahkan konsep ‘dunia lain’ dengan sangat wajar tetapi mampu mendirikan bulu kuduk itu. Ingat sosok kakek-kakek di pondok terpencil? Lukman Sardi bersinar dalam memandu aktor-aktris lainnya disini.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Takut (2008)
”Lahir dari iNAFFF 2008, film ini digawangi oleh beberapa contributor filmmaker genre horor/thriller luar negeri. Namun pada akhirnya tetap dikerjakan oleh sutradara-sutradara tanah air seperti Riri Riza, The Mo Brothers dkk yang menggarap 6 cerita pendek dengan nuansa yang berbeda-beda mulai dari unsur tradisional, modern, futuristik membuat film yang juga berjudul Faces of Fear ini kaya cita dan rasa. Apalagi dijejali dengan bintang-bintang film tanah air semisal Marcella Zalianty, Shanty, Dinna Olivia dsb.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Hantu (2007)
Adrianto Sinaga menggarap kisah para pecinta alam yang mencari sebuah telaga Setra Wingit. Tanpa diduga salah satu dari mereka menghilang dan korbanpun mulai berjatuhan akibat penunggu yang merasa terganggu. Sosok hantu yang tidak diforsir kehadirannya itu justru berhasil menghadirkan suasana mencekam. Tak lupa ada pesan moral yang disisipkan bahwa sikap yang egois dan mau menang sendiri dapat membahayakan dirinya sendiri, sahabat bahkan orang yang dicintainya. Oka Antara juga bersanding “manis” dengan Dhea Ananda disini.”
Spooky-meter : 3 out of 5

Lantai 13 (2007)
”Salah satu dari dua horor karya Helfi Kardit yang cukup berkualitas. Meski plotnya mirip dengan film Hongkong yang juga bersetting di gedung perkantoran tetapi sah-sah saja jika dapat digarap secara maksimal. Oleh karena itu diamini sebagai horor dewasa dimana para penontonnya kebanyakan karyawan yang bekerja di bangunan bertingkat tinggi dan mungkin pernah mengalami cerita-cerita aneh tersebut sendiri. Widi AB Three tergolong memikat kali ini menyuguhkan sosok karyawan baru yang lugu sekaligus idealis.”
Spooky-meter : 3 out of 5

Lawang Sewu (2007)
”Garapan Arie Azis ini sebetulnya tidak terlalu istimewa. Namun settingnya lah yang membuatnya spesial. Bangunan buatan arsitek Belanda di tahun 1908 bernama Lawang Sewu ini berdiri kokoh dan angker tepat di kawasan Tugu Muda, pusat Kota Semarang. Penonton mungkin lebih takut pada settingnya dibandingkan jalan cerita yang disodorkan di dalamnya sebab telah banyak mitos yang berhembus di sekitarnya. Namun rasanya melihat dua remaja eye catching yang berpasangan yaitu Marcell Darwin dan Thalita Latief juga rasanya cukup menarik ”
Spooky-meter : 2.5 out of 5

Sumpah Pocong Di Sekolah (2008)
”Trailernya sempat heboh mengisi jaringan bioskop 21 setiap sebelum pertunjukan dimulai. Boleh dikatakan eksperimen horor pertama Awi Suryadi dengan pendekatan siswa-siswi SMU. Walaupun banyak yang tidak menyukainya, saya tetap menganggap film ini menarik. Setiap sudut bangunan sekolah disyut dengan angle yang tepat sehingga menghasilkan visualisasi yang cukup meyakinkan mendekati keaslian yang pernah kita alami sehari-hari di masa bersekolah jaman dahulu. Unsur komedi juga cukup menonjol sehingga menjadi penyeimbang cerita. Penampakan dan tampilan hantu pada khususnya mendekati yang biasa disuguhkan horor Jepang/Korea sehingga beberapa orang menyebutnya jiplakan. Hm..“
Spooky-meter : 2.5 out of 5

Sebetulnya posisi 8-10 masih cukup berimbang dengan posisi 11-15 nya secara berurutan yakni
11. Legenda Sundel Bolong (Hanung Bramantyo)
12. Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko)
13. Dikejar Setan (Harry Dagoe)
14. The Real Pocong (Hanny R Saputra)
15. Lentera Merah (Hanung Bramantyo)

Bagaimana menurut pendapat anda?

Tinggalkan komentar anda di bawah ini atau tweet langsung dengan mention databasefilm via Twitter.
Komentar yang saya terima di atas tanggal 14 November 2010 tidak disertakan dalam kompetisi free ticket iNAFFF10.

Rabu, 10 November 2010

QUIZ Databasefilm 11-15 November 2010

Dear all readers,

Dapatkan 2 tiket gratis nonton iNaFFF 2010 untuk 5 pemenang dengan mengikuti quiz ini. Caranya simpel dan mudah saja!

Tinggalkan komentar terbaik anda pada feature artikel "Best Horror Movies in Last 5 Years" yang akan dipublish pada http://databasefilm.blogspot.com hari Jumat tanggal 12 Nov.

Bagi yang memiliki account Twitter bisa follow @databasefilm dan tweet langsung komentar kalian kepada saya dalam 160 karakter/tweet.

Deadline hanya sampai tanggal 14 Nov dan jangan lupa untuk meninggalkan email address anda untuk dihubungi lebih lanjut.

Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Nov untuk jadwal pengambilan tiketnya.

Selamat mencoba! Siapa tahu anda yang beruntung!!

Footnote:
Quiz ini terbuka untuk siapa saja, tetapi diutamakan bagi yang berdomisili di Jabodetabek dan dapat menuju lokasi Blitzmegaplex Grand Indonesia pada waktu yang ditentukan untuk pengambilan tiketnya.

Quiz yang diadakan untuk merayakan 50,000 visitors blog databasefilm ini murni inisiatif pribadi tanpa kerjasama dengan pihak manapun dan bertujuan mempromosikan program iNAFFF 2010 yang juga didukung oleh Blitzmegaplex.

Selasa, 09 November 2010

HEART 2 HEART : Melodrama Cinta Remaja Melankolis

Storyline:
Lewat sahabatnya, Indah berjumpa dengan Pandu. Keduanya tertarik satu sama lain sejak awal 3 hari kemudian mereka saling berbagi kasih di hutan, tepi danau, kebun teh dan tempat-tempat indah lainnya di sekitar villa milik orangtua Indah. Keduanya sepakat akan melanjutkan kisah tersebut di Jakarta dimana Indah lebih dulu berangkat baru disusul Pandu. Sayangnya di Jakarta, Indah sudah dijodohkan oleh pilihan mamanya dengan Ramon. Pandu hanya bisa menggigit jari dan menatap dari kejauhan. Malang tak dapat ditolak, Indah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan pita suara dan penglihatannya yang membuatnya jadi sensitif dan harus hidup menyendiri di villa. Akankah Pandu dapat mengembalikan keceriaan Indah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Cilandak 21 tanggal 8 November 2010 yang lalu.

Cast:
Aliff Alli sebagai Pandu
Irish Bella sebagai Indah
Argatama Levy sebagai Ramon
Arumi Bachsin sebagai Kakak Indah
Wulan Guritno sebagai Mama Indah
George Taka sebagai Papa Indah
Indah Permatasari sebagai Sahabat Indah

Director:
Rasanya baru minggu lalu Nayato Fio Nuala berusaha “menghibur” para penikmat film Indonesia dengan Gaby dan Lagunya.

Comment:
Setidaknya saya perhatikan ada 3 hal yang coba dijual disini. Pertama, ini adalah buah tangan Titien Wattimena, seorang penulis scenario handal yang sudah diganjar penghargaan festival film dalam negeri. Kedua, kehadiran kolaborasi Melly dan Anto Hoed absen dari kontribusi mereka mengisi soundtrack layar lebar. Ketiga, dua bintang muda yang baru pertama bermain film dan cukup eye-candy yaitu Aliff dan Irish memulai debutnya disini.
Plus faktor, Heart milik Starvision beberapa tahun lalu lumayan sukses setelah disuguhkan akting apik trio Nirina Zubir-Irwansyah-Acha Septriasa. Film ini bisa dibilang kelanjutannya, sama halnya seperti yang dilakukan Nayato dalam Virgin 2 : Bukan Film Porno. Dan hasilnya juga tidak jauh berbeda yaitu sebuah sekuel yang lemah dalam eksekusi cerita tetapi cukup menjual dari sisi sinematografi.
Statement barusan sekaligus meluluh lantakkan ketiga hal tersebut di atas. Jalinan skenario Titien yang sedemikian melankolis menjadi tidak berarti lagi. Kerja keras Melly-Anto yang begitu mendayu-dayu seakan bertabrakan dengan konsep scene yang dihadirkan. Usaha giat Irish dan Aliff dalam menyuguhkan akting yang baik terkesan sia-sia karena stereotype karakter film-film Nayato benar-benar sudah baku, apalagi mereka masih miskin pengalaman sehingga terbawa arus begitu saja.
Betul sekali, lagi-lagi Nayato menjadi diktator ulung dalam sebuah proyek film! Potensi apapun yang dimiliki tidak berhasil mengubah cayanya menyutradarai dengan blueprint yang itu-itu saja. Ibarat peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Maka bisa saya ganti menjadi karena telanjur rusaknya susu sebelanga, tidak akan ada artinya lagi jika ditambahkan beberapa tetes madu manis ke dalamnya. Itulah yang terjadi pada Heart 2 Heart yang cukup membosankan dan terkadang ada kesan misinterpretasi skrip. Walau demikian melodrama ini tidak sampai hancur lebur, toh kisah cinta remaja dengan latar belakang setting yang indah masih dapat menjual selayaknya posternya yang begitu manis. Betul?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 08 November 2010

ADVENTURELAND : Liburan Musim Panas Taman Bermain

Quotes:
James Brennan-I am amazed at how tiny my paycheck is.
Joel-We are doing the work of lazy, pathetic morons.

Storyline:
James Brennan harus membatalkan liburan musim panas dengan bekerja mengumpulkan uang demi kelulusannya. Dan pekerjaan itu adalah menjadi penjaga di sebuah taman bermain bermain bernama Adventureland yang dikelola manager dan istrinya, Bobby dan Paulette. Semula James tidak menyukai aktifitas sehari-harinya disana hingga ia bertemu Emily, sesama pekerja yang banyak membantunya beradaptasi. Bukan hanya dia, masih ada Sue, Mark, Joel, Lisa P, Kelly yang sebaya dengannya serta teknisi ganteng Connell yang juga memiliki band sendiri. Liburan musim panas di Adventureland mungkinkah akan membawa perspektif baru dalam hidup James?

Nice-to-know:
Sedianya film ini dijadwalkan rilis sesuai tanggal dibukanya Adventureland setiap tahunnya yaitu 27 Maret.

Cast:
Sebelum ini mendukung Richard Gere dalam The Hunting Party (2007), Jesse Eisenberg kali ini bermain sebagai James Brennan, remaja yang baru terjun sebagai pegawai taman hiburan Adventureland dan sangat tidak berpengalaman dalam cinta.
Baru saja sukses besar dalam Twilight (2008), Kristen Stewart disini berperan sebagai Em Lewin yang baik hati sekaligus dingin.
Ryan Reynolds sebagai Mike Connell
Kristen Wiig sebagai Paulette
Bill Hader sebagai Bobby
Michael Zegen sebagai Eric
Margarita Levieva sebagai Lisa P

Director:
Greg Mottola baru saja sukses dengan Superbad (2007) yang mendapat sambutan luar biasa penikmat film di Amrik sana.

Comment:
Trailer film ini bisa dikatakan menipu karena menghadirkan adegan-adegan kocak yang humoris. Nyatanya bercerita mengenai drama remaja dengan segala problematikanya terutama cinta dan identitas diri.
Jadi saya tekankan sekali lagi, ini bukan film komedi! Mungkin ada beberapa unsur yang dimaksudkan untuk membuat anda tersenyum, tapi tidak banyak. Selebihnya lebih pantas dikategorikan cinta lokasi pada suatu liburan musim panas di sebuah taman hiburan.
Eisenberg yang terakhir cukup mencuri perhatian lewat Zombieland kembali menghadirkan karakter yang kurang lebih sama yaitu remaja pecundang yang jatuh cinta pada gadis keren. Lihat bagaimana transformasi Eisenberg dari tidak memiliki semangat dalam hidupnya sampai menemukan jati diri aslinya. Stewart sebagai sang pujaan hati juga sedikit terlepas dari karakter Bella Swan, keputusannya yang berubah-ubah karena suasana hati tergambar dalam ekspresi dan sorot matanya. Menarik juga melihat Reynolds yang bertindak sebagai mentor cinta walaupun kesombongannya sebagai pria yang didambakan para wanita masih belum luntur. Karakter Hader dan Wiig sebagai pasangan pengelola taman hiburan juga cukup pas dengan polah tingkah mereka yang unik itu.
Sutradara Mottola berusaha menampilkan situasi sewajar dan senyata mungkin dengan kehidupan sehari-hari. Nuansanya mengingatkan pada tahun 1980an dengan gaya dan kostum yang dikenakan serta dialog antar karakternya yang tergolong masih sopan.
Adventureland memang bukan sembarang drama remaja biasa karena perjalanan percintaan dua remaja ditampilkan dengan begitu realistis. Seakan kita bisa memahami karakter Brennan dalam memandang seorang . Bagaimana membohongi seseorang yang kita sangat kagumi kadang begitu menyakitkan sehingga rasanya lebih baik jujur saja walaupun terasa menyakitkan.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$16,025,394 till end of May 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 04 November 2010

SENGGOL BACOK : Perseteruan Pertaruhkan Cinta dan Harga Diri

Quotes:
Donny-Gua kan minggu depan mau nikah sama Laras, masa loe gak datang sih? Gak enak dong sama Pak RT apalagi loe udah sering nyelakain dia!

Storyline:
Pria tanpa rasa takut, Galang bertekad mengadu nasib di Jakarta setelah mengetahui tunangannya hamil oleh bosnya di Bandung. Sampai Jakarta, Galang bertemu teman baru yang juga seorang pengamen bernama Disko. Lewat Disko juga, Galang berhasil ngekost di rumah Ibu Siti. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk menemukan pekerjaan apalagi bosnya Audrey yang cantik seperti menaruh perhatian padanya. Namun Galang tetap memilih Laras, gadis manis tetangganya yang juga putri Pak RT. Tidak lama kemudian datanglah penghuni kos baru, Donny yang sepintas kalem tetapi sesungguhnya culas luar biasa. Donny berupaya merebut Laras sambil menimpakan kesialan demi kesialan bagi Galang. Akankah Galang terpancing emosi untuk menghajar Donny?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Baru saja tampil sebagai aktor pendukung dalam Aku Atau Dia pekan lalu, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai Donny yang menyebalkan dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Tepat setahun setelah bermain dalam Serigala Terakhir, Fathir Muchtar disini kebagian tokoh Galang yang pemarah dan selalu menuruti emosinya untuk menyelesaikan semua masalah.
Kinaryosih sebagai Laras
Joe P-Project sebagai Pak RT
Kunto Aji sebagai Disko
Rima Melati sebagai Nenek Galang


Director:
Terakhir menggarap drama komedi romantis Sehidup (Tak) Semati, Iqbal Rais kali ini memaksimalkan sebuah komedi murni yang berbeda gayanya.

Comment:
Ada dua hal yang kontradiktif saat berniat menyaksikan film ini yaitu keyakinan saya bahwa seorang Iqbal Rais tidak pernah menghasilkan film yang buruk dan ketidakyakinan saya akan kualitas komedi lokal belakangan ini yang semakin terpuruk.
Melihat poster film ini, belum ada bayangan filmnya akan seperti apa. Namun pemasangan Fathir dan Ringgo untuk berduet rasanya cukup langka. Apalagi ditambah dengan nama Kinaryosih. Hmm.. Masihkah bercerita tentang perseteruan memperebutkan cinta segitiga yang klise seperti biasanya? Untungnya tidak karena film ini mengusung sesuatu yang lebih penting dari itu yakni pengendalian diri! Jika ada seseorang yang menginjak-injak anda sedemikian rupa hingga terpuruk sedalam-dalamnya, tentunya anda mempunyai dua pilihan sikap mulai dari responsif atau non-reaktif.
Kedua pilihan tersebut dijalankan tokoh Galang. Jika pada paruh pertama ia memilih responsif dengan mengandalkan nafsu berkelahinya maka pada paruh kedua dia memutuskan untuk non-reaktif yaitu mengendalikan emosinya. Fathir yang jarang bermain film cukup meyakinkan menampilkan dua hal berbeda tersebut. Penampilannya yang cool sekaligus ofensif terlihat nyata walau terkadang ekspresi yang dibawakannya tidak cukup konsisten. Sedangkan sang pemicu Donny diperankan dengan sangat jitu oleh Ringgo. Kekonyolannya yang memancing emosi diperlihatkan secara tepat sehingga memancing penonton untuk tertawa sekaligus antipati terhadapnya. Cukup surprise melihat akting Ringgo yang berkembang baik disini dibandingkan biasanya. Love interest keduanya, Laras dilakoni Kinaryosih dengan gaya jinak-jinak merpati yang tampaknya “aman-aman” saja. Dari karakter pendukung, Kunto Aji, si kribo jebolan Indonesian Idol rasanya cukup mencuri perhatian dengan keluguan dan kesetiakawanannya.
Tampaknya Iqbal cukup pintar untuk tidak membiarkan Senggol Bacok menjadi komedi yang sekadar lalu lalang saja. Subplot yang ia hadirkan secara silih berganti cukup solid untuk mendukung jalinan cerita. Belum lagi twist yang lumayan mengejutkan sengaja disimpan di akhir cerita untuk membacok logika penonton dengan sukses. Humorisme yang diusung disini mungkin berhasil menyenggol syaraf anda untuk tertawa spontan meski tidak akan sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Tertarik menyaksikannya? You’d better be!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Rabu, 03 November 2010

THE SHOCK LABYRINTH : Terkurung Menyelesaikan Masa Lalu Terpendam

Storyline:
Hujan di tengah malam, Yuki yang sudah menghilang selama 10 tahun tiba-tiba kembali. Ketiga sahabatnya masing-masing Ken, Hajime, Rin dan juga adik kandungnya, Miyu terheran-heran tetapi tetap menerima kepulangan Yuki. Beberapa saat kemudian, Yuki yang terlihat lemah jatuh dari tangga dan segera dibawa ke rumah sakit. Namun rumah sakit yang mereka tuju ternyata bernuansa mistis seperti labirin. Lambat laun mereka menyadari bahwa ini adalah labirin yang sama dengan apa yang pernah dialami di masa kecil mereka. Apa yang sesungguhnya terjadi di masa lampau?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Asmik Ace Entertainment dan Ogura Jimusyo Co.

Cast:
Yûya Yagira
Ai Maeda
Suzuki Matsuo
Shôichirô Masumoto
Ryo Katsuji
Misako Renbutsu
Erina Mizuno

Director:
Takashi Shimizu angkat nama lewat Ju-On (2002) yang diremake Hollywood menjadi The Grudge (2004) yang juga ditanganinya.

Comment:
Ide cerita ini bisa dikatakan orisinil dan menarik karena diangkat dari arena bermain the Labyrinth of Horrors yang berlokasi di taman hiburan Fuji-Q High Land dimana anda bisa memandang Pegunungan Fuji dari sana. Sedikit fakta menarik, wahana ini tercatat dalam rekor Guinness sebagai rumah hantu terluas di dunia.
Itulah sebabnya Shimizu melakukan syuting langsung di lokasi pada saat jam-jam tutup taman hiburan tersebut untuk membangun nuansa horor yang mencekam. Bukan hanya itu, ia juga bermain dengan efek 3D, sebuah terobosan baru dimana film ini tercatat sebagai film horor Asia pertama yang melakukannya. Mungkin suatu saat bisa diharapkan Thailand mengadopsi teknik serupa, atau Indonesia barangkali. Jangan bermimpi di siang bolong karena menghasilkan horor yang berkualitas saja susah!
Okay kita kembali lagi pada film ini. Sayangnya Blitzmegaplex tidak memutarnya dalam format 3D sehingga sulit merasakan pengalaman baru tersebut. Namun saya bisa meraba apa yang coba dihadirkan disini. Mulai dari tetesan air yang mengambang, boneka kelinci berwarna putih yang melayang-layang hingga “obyek-obyek” menyeramkan yang seakan-akan menghantam langsung ke arah anda. Menarik bukan? Itulah satu-satunya nilai jual yang patut dibanggakan disini.
Mengapa saya katakana satu-satunya? Sebab sisanya berantakan! Semua elemen horor yang berusaha diciptakan sejak menit awal itu terasa mubazir. Terkadang memang ada beberapa scene yang cukup menyeramkan tetapi tidak akan sampai menghantui anda dengan mimpi buruk setelah menontonnya. Alur cerita yang lambat memang membosankan, ditambah lagi penyingkapan misteri cerita yang berlarut-larut hingga sejam durasinya.
Didukung dengan musik latar yang cukup berpengaruh buruk bagi telinga anda, The Shock Labyrinth mungkin seharusnya lebih setia dengan formula horor baku yang sudah-sudah daripada bermain dengan transisi bolak-balik masa lalu-masa depan yang dikombinasikan dengan imajinasi. Shimizu tampaknya berusaha terlalu pintar menghadirkan horor fresh tetapi tidak cukup efektif dalam misi utamanya menakut-nakuti penonton. Sayang memang!

Durasi:
85 menit

Asian Box Office:
$805,638 in Japan till September 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 01 November 2010

GABY DAN LAGUNYA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Quotes:
Gaby-Aku punya firasat kalau suatu saat kamu akan pergi jauh..

Storyline:
Kelima muda-mudi masing-masing Popo, Gita, Agnes, Nando dan Angel mempunyai mimpi untuk sukses masuk dalam industri rekaman. Sayangnya produser yang mendengarkan demo mereka tidak berpikir band ini memiliki masa depan yang baik. Gita yang kecewa berbuntut pada hubungannya dengan kekasih barunya walaupun masih menyimpan perasaan pada Popo. Sedangkan Popo sendiri sebagai ketua band bertanggungjawab atas nasib mereka. Muncul secercah harapan saat Popo berjumpa Gaby yang lembut dan bersuara emas. Penampilan perdana Gaby bersama band Popo di kampus mendapat aplaus meriah. Seiring frekuensi pertemuan yang tinggi juga semakin mendekatnya keduanya walaupun Gita dari kejauhan memandang cemburu. Akankah mimpi-mimpi masa muda menjadi kenyataan seiring dengan jalinan asmara di dalamnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Batavia Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Karina Nadila sebagai Gaby
Guntur Triyoga sebagai Popo
Leylarey Lesesne sebagau Gita
Rendy Kjaernett sebagai Nando

Director:
Nayato baru saja meluncurkan dua film bergenre berbeda di akhir bulan September yang lalu yaitu Pengantin Pantai Biru dan Pocong Jumat Kliwon.

Comment:
Jujur saja saya sudah sangat mengenal gaya penyutradaraan seorang Nayato terlepas dari bentuk naskah apapun yang disodorkan kepadanya. Menurut saya kali ini ia mencoba sedikit lebih serius dalam menggarap genre drama remaja yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar. Sinematografi yang diusungnya kali ini bernuansakan warna hijau yang meneduhkan mata dengan mengandalkan para pemainnya yang juga eye-candy terlepas dari aktingnya yang standar-standar saja.
Plot ceritanya tak jauh-jauh dari kehidupan remaja pada umumnya yang kali ini difokuskan pada sebuah band yang beranggotakan tiga remaja cewek dan dua remaja cowok plus satu calon anggota baru. Percintaan segitiga lagi-lagi menjadi tema utama yang tidak ada habis-habisnya digali. Dan berbagai dialog yang disuguhkan terdengar cheesy antar dua sejoli yang sedang kasmaran sehingga kerapkali membuat penonton riuh rendah menyambutnya.
Viva Westi dan Ery Sofid sepertinya sudah berupaya keras mengeksplorasi setiap karakternya tetapi nampaknya Nayato memiliki cara sendiri untuk membagi porsi masing-masing sesuai kapasitasnya. Cukup disayangkan memang mengingat keseluruhan tokoh bisa jadi memberikan kontribusi terhadap kekuatan pondasi cerita yang menyokongnya.
Secara keseluruhan kualitas Gaby dan Lagunya tidaklah seburuk yang saya pikir sebelumnya. Terbukti saya masih bisa menikmatinya terlepas dari berlarut-larutnya problema cinta yang dihadirkan. Belum lagi kekliseannya yang membuat film ini tidak memiliki sesuatu yang baru untuk dijual. Akhir tragis mungkin memang menjadi trademark Nayato untuk kategori dramanya dan lagu Jauh Kau Pergi rasanya cukup berhasil menghadirkan suasana sendu sebelum layar ditutup. Smooth movie with fair quality but still weak in many aspects!

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa