XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label fathir muchtar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fathir muchtar. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

MY BLACKBERRY GIRLFRIEND : Kontak Blackberry Dadakan Siksaan Hidup

Quotes:
Angel: Gua butuh orang yang bisa ngelakuin apapun yang gua mau!


Storyline:
Bekerja sebagai sales mobil, Martin berhasil membeli Blackberry bekas yang sudah lama diidam-idamkannya. Tak lama kemudian, sebuah contact bernama Angel memanggilnya dan segera masuk dalam kehidupannya. Angel yang berperangai kasar kerapkali menyulitkan Martin dengan permintaan-permintaan ajaibnya yang harus segera dituruti. Martin pun bertekad mencari tahu masa lalu Angel yang terhubung dengan seorang pria bernama Fendy. Berhasilkah Martin mengobati rasa sakit hati Angel yang sebetulnya hanya membutuhkan kehadiran seorang pria di sisinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum XXI dan Foodism pada tanggal 21 Desember 2011.

Cast:
Luna Maya sebagai Angel
Fathir Muchtar sebagai Martin
Hardi Fadhillah sebagai Hendra
Keith Foo sebagai Fendy

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Findo Purwono HW di tahun 2011 setelah terakhir Ayah, Mengapa Aku Berbeda.

Comment:
Apakah anda pernah membaca cerita pendek berjudul My BlackBerry Girlfriend dalam situs Kaskus yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel karangan Agnes Davonar? Jika belum, rasanya sudah cukup menjadi alasan untuk menyaksikan film ini, selain fakta bahwa ponsel Blackberry keluaran RIM – Kanada tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kawula muda yang mengaku anak gaul dan rajin bersilaturahmi lewat BBM.
Skenario yang ditulis oleh Djaumil Aurora dan Agnes Davonar ini memulai sebuah komedi romantis dengan kekacauan yang tidak disengaja antar tokoh pria dan wanitanya hingga kemudian berkembang menjadi romansa yang manis karena tingginya frekuensi pertemuan yang sebetulnya tidak diharapkan itu. Sayangnya proses NO to YES tersebut masih terlalu instan sehingga maknanya kurang terasa, apalagi sampai mengiba penonton untuk mau bersimpati pada dua karakter utamanya.

Banyak sekali referensi film yang ditiru disini, sebut saja adegan bertukar sepatu selayaknya duet Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dalam My Sassy Girl (2001) atau pertemuan di kereta serupa duet Sirin Horwang dan Ken Theeradej dalam Bangkok Traffic Love Story (2009). Apakah sedemikian miskin idenya hingga kemiripan sedemikian rupa pun tidak berusaha dialihkan ke sesuatu yang lebih kreatif? Apalagi jika berbicara cinta rasanya banyak sekali aspek yang dapat digali darinya.
Usaha Luna Maya dan Fathir Muchtar memang terlihat untuk berakting sewajar mungkin tanpa harus terkesan norak. Namun dangkalnya karakter mereka tanpa didukung oleh latar belakang yang jelas tidak mampu menghindari kesan tersebut. Beruntung Luna dan Fathir dikaruniai wajah yang rupawan sehingga penonton setidaknya masih akan betah menyaksikan penampilan keduanya yang berbau slapstick dan karikatural itu. Kontribusi Hardi dan Keith tidak dirasa penting dan berpengaruh pada bangunan cerita yang tersaji.

Sutradara Findo yang belakangan semakin terjebak dalam berbagai genre film yang berbeda-beda terlihat kesulitan menyatukan kepingan-kepingan plot cerita disini. Alhasil anda akan merasakan perpindahan “rasa” yang kurang mulus antara lucu, konyol, biasa hingga romantis. Bisa jadi kesalahannya disebabkan oleh skenario yang tidak menawarkan dialog-dialog berbobot tapi proses editing yang kurang rapi jelas tidak boleh lepas dari tanggungjawabnya. Perpindahan lokasi ke Singapura di penghujung cerita juga tergolong sia-sia jika hanya mengejar estetika saja.
Terlepas dari “cupu”nya dalam bertutur serta kurang kreatifitas dalam eksplorasi ide, My Blackberry Girlfriend sebetulnya memiliki dasar cerita yang lumayan menyentuh andai digarap dengan lebih serius. Rendahkanlah ekspektasi anda dan lupakanlah sejenak My Sassy Girl yang fenomenal itu, niscaya Luna bisa terlihat manis dan Fathir dapat terlihat lucu di hadapan anda. Tentunya Blackberry yang menjadi media mereka, ponsel dengan dua sisi mata pisau sehingga mampu memudahkan sekaligus menyulitkan komunikasi antara kedua belah pihak.

Durasi:
83 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 20 Desember 2011

HAFALAN SHALAT DELISA : Cinta Keluarga Keikhlasan Hadapi Cobaan

Quotes:
Ummi Salamah: Aisyah gak boleh gampang cemburu sama barang-barang yang bukan milik kita, apalagi milik saudara sendiri..


Storyline:
Bocah perempuan 6 tahun bernama Delisa tinggal bersama Ummi Salamah beserta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan juga si kembar Cut Aisyah-Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka Abi Usman bekerja di kapal tanker dan pulang setiap tiga bulan sekali. Delisa kecil berusaha keras menghafal bacaan shalat demi menghadapi ujian hafalan apalagi setelah iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi. Malang tak dapat ditolak, tsunami melanda secara tiba-tiba dan merenggut semua orang dalam kehidupan Delisa yang bahkan harus kehilangan satu kakinya. Berhasilkah Delisa bangkit dan berubah menjadi anak yang tulus ikhlas menerima segala cobaan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana press screening dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI tanggal 20 Desember 2011.

Cast:
Chantiq Schagerl sebagai Delisa
Reza Rahadian sebagai Abi Usman
Nirina Zubir sebagai Ummi Salamah
Fathir Muchtar sebagai Ustad Rahman
Gina Salsabila sebagai Fatimah
Loide Christina Teixeira sebagai Suster Sophie
Mike Lewis sebagai Prajurit Adam Smith

Director:
Sony Gaokasak terakhir menggarap Tentang Cinta (2007) yang dibintangi Vino Bastian, Sheila Marcia, Fedi Nuril dan Hayria Faturrahman.

Comment:
Bencana tsunami yang menimpa Aceh di tahun 2004 memang tidak dapat dilupakan begitu saja karena telah merenggut ratusan ribu nyawa pada saat itu. Tere Liye kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan yang berikhtisar mengenai kasih sayang keluarga. Novel Hafalan Shalat Delisa yang sudah dicetak ulang hingga 15x bahkan diterjemahkan dan diterbitkan di negara lain itu kini difilmkan dengan judul yang sama oleh produser Chand Parwez Servia.
Armantono yang menulis skrip film ini berdasarkan novel Tere Liye tersebut membaginya dalam tiga fase utama yaitu keindahan, kehancuran, kekuatan yang mengacu pada satu timeline peristiwa yaitu tsunami itu sendiri. Tidak mudah untuk memberikan penekanan yang frontal karena efeknya bisa jadi terlalu sensitif bagi pihak yang terkait dengan bencana tersebut. Oleh sebab itu diambillah sudut pandang cinta terhadap sesama, alam semesta sampai sang pencipta.

Bintang utamanya jelas si kecil Chantiq Schaegerl. Di tangannya Delisa menjadi cukup berkarakter dan mengalami beberapa proses pembelajaran yang berharga. Mulai dari bersikap pamrih hingga ikhlas menerima keadaan apalagi tidak mudah berakting sebagai anak cacat secara fisik. Penampilan gemilang kembali diperlihatkan Reza Rahadian sebagai ayah yang nyaris kehilangan segala-galanya. Chemistry Abi Usman dan Delisa terbukti cukup mengharu-biru penonton.
Penjiwaan Nirina Zubir dan Fahtir Muchtar sebagai Ummi Salamah dan Ustad Rahman juga tidak kalah cemerlang meskipun porsinya tidak terlalu dominan, senang melihat keduanya bermain dalam nuansa agamais yang kental. Yang menarik adalah kemunculan Mike Lewis dan Loide Christina Teixeira sebagai Tentara Smith dan Suster Sophie yang memberikan warna tersendiri terlepas dari minimnya scene yang melibatkan keduanya dalam dialog berbahasa Inggris.

Kinerja sutradara Sony terus terang tidak mudah karena harus mengarahkan beberapa pemain cilik untuk berakting sebagaimana mestinya. Lokasi syuting yang berlangsung di Ujung Genteng, Sukabumi Selatan tentunya tetap diinpirasi dari eksterior background khas Aceh. Efek CGI yang menghadirkan tsunami serta chaos paska kejadian juga terlihat cukup meyakinkan walaupun belum sempurna, ditambah penampakan “surga” yang demikian syahdu dan tenteram layaknya motion screensaver.
Terlepas dari konflik yang terasa diperpanjang disana-sini dengan amplitudo emosi Delisa yang naik turun kurang konsisten itu, sumbangsih scoring music dari Tya Subiyakto terasa menggelorakan perasaan hingga ambang terdalam. Hafalan Shalat Delisa mengajarkan anda bahwa cinta kasih keluarga dan orangtua pada khususnya merupakan aspek terpenting dalam tahap awal kehidupan seorang anak. Seringkali keikhlasan menerima segala cobaan Allah SWT akan membuat beban anda terasa lebih ringan dalam menjalani hidup sebagaimana beratnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 28 Maret 2011

OH TIDAK : Antara Kekasih Pengertian, Diri Sendiri dan Keluarga Ajaib

Quotes:
Meisya: Gak pake kertas minyak? Gak pake telat? Gak pake ke salon? Gak pake aturan jam makan? Gak pake diagram kalori? Gak pake dresscode? Gak ngebahas kerjaan? Handphone mati!

Storyline:
Gilang termasuk pria beruntung karena memiliki karier yang mapan, rumah yang megah serta kekasih yang cantik. Gaya hidupnya pun disesuaikan dengan konsep lelaki metroseksual masa kini dimana salon menjadi langganan dan segala aksesorisnya menjadi aset yang tidak boleh terlupakan. Hal ini cukup mengganggu Meisya yang harus selalu mengerti akan tindak tanduk kekasihnya itu. Gilang yang mulai berniat serius apalagi usia pacarannya sudah 2 tahun tiba-tiba kedatangan keluarganya yang membawa setumpuk masalah. Ayah ibunya yang ingin bercerai, kakeknya yang hiperseks, neneknya yang memiliki teman imajiner dan pamannya yang berkepribadian ganda akibat ditinggal istrinya. Akankah semua itu menghancurkan citra Gilang di mata Meisya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision & Indie Picture dan rilis terbatas di jaringan bioskop Blitzmegaplex mulai 23 Maret 2011 yang lalu.

Cast:
Fathir Muchtar sebagai Gilang
Marsha Timothy sebagai Meisya
Marcella Loumowa sebagai Ibu Gilang
Djarwo Kuwat sebagai Bapak Gilang
Arie Dagienkz sebagai Paman Gilang
Sutrisna sebagai Kakek Gilang
Djaety sebagai Nenek Gilang

Director:
Ardi Octaviand terakhir menggarap Coklat Stroberi (2007) yang cukup sukses secara komersil itu.

Comment:
Sulit menentukan apakah film ini awalnya dibuat untuk layar lebar atau konsumsi televisi belaka. Jika melihat jajaran pemain dan penulis skripnya seharusnya opsi pertama. Namun jika mencermati plot cerita dan gaya eksekusinya kok FTV banget! Mungkin anda bisa berpendapat sendiri jika sudah menyaksikan yang satu ini. Tidak ada salahnya kan? Toh Marsha Timothy dan Fathir Muchtar juga bukan nama sembarangan.
Jika harus menerjemahkan screenplay garapan Upi kali ini maka bisa saya simpulkan dalam dua bagian utama saja yaitu hubungan antara Gilang dan Meisya serta Gilang dan keluarganya. Entah mengapa pada akhirnya kedua bagian tersebut dimix dengan tidak sempurna. Seharusnya bagian pertama berusaha menonjolkan unsur romantisme dan bagian kedua berupaya mengedepankan elemen humoris. Benar begitu?
Sayangnya sutradara Ardi tidak mampu mengeksekusi ide tersebut dengan mulus. Terkadang romantisme terasa hambar sedangkan humorisnya terasa cheesy. Semuanya serba tanggung dan membuat film ini seperti berpijak di atas dua perahu yang terombang-ambing yang masing-masing kesulitan menentukan lajunya. Jika ia pernah berhasil memadukan cinta dan persahabatan dalam Coklat Stroberi yang temanya sudah bold itu, kali ini formulanya tidak semudah itu.
Penampilan Marsha Timothy tidak bermasalah samasekali meski membuat saya bertanya-tanya bagaimana gadis secantik secerdas Meisya memiliki alasan untuk bertahan pada pria yang memperlakukannya semena-mena. Akting Fathir Muchtar sendiri cukup meyakinkan sebagai Gilang yang sulit menentukan prioritasnya sendiri walaupun sudah dianugerahi berkah sedemikian rupa. Keluarga Gilang memang dimainkan dengan ajaib oleh aktor-aktris yang memang sudah komedik dari sananya. Tidak adanya nama karakter masing-masing membuat kesemuanya terkesan sebagai pelengkap derita saja.
Jika anda berniat menyaksikan Oh Tidak sebaiknya tidak berekspektasi apapun. Nikmati saja sajian komedi situasi yang teramat ringan ini, mungkin hanya membuat anda mengernyitkan kening berkali-kali. Dan untuk menambah nilai fun cobalah membayangkan diri dalam posisi Gilang-Meisya disini. Dapatkah anda (penonton pria) menciptakan kebohongan yang masuk akal di depan wanita terkasih? Atau mampukah anda (penonton wanita) mempunyai toleransi sebesar Marsha demi lelaki tercinta? Jika jawabannya Oh No, selamat karena anda masih normal sebagai manusia yang terlahir berpasangan.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 04 November 2010

SENGGOL BACOK : Perseteruan Pertaruhkan Cinta dan Harga Diri

Quotes:
Donny-Gua kan minggu depan mau nikah sama Laras, masa loe gak datang sih? Gak enak dong sama Pak RT apalagi loe udah sering nyelakain dia!

Storyline:
Pria tanpa rasa takut, Galang bertekad mengadu nasib di Jakarta setelah mengetahui tunangannya hamil oleh bosnya di Bandung. Sampai Jakarta, Galang bertemu teman baru yang juga seorang pengamen bernama Disko. Lewat Disko juga, Galang berhasil ngekost di rumah Ibu Siti. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk menemukan pekerjaan apalagi bosnya Audrey yang cantik seperti menaruh perhatian padanya. Namun Galang tetap memilih Laras, gadis manis tetangganya yang juga putri Pak RT. Tidak lama kemudian datanglah penghuni kos baru, Donny yang sepintas kalem tetapi sesungguhnya culas luar biasa. Donny berupaya merebut Laras sambil menimpakan kesialan demi kesialan bagi Galang. Akankah Galang terpancing emosi untuk menghajar Donny?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI tanggal 1 November 2010 yang lalu.

Cast:
Baru saja tampil sebagai aktor pendukung dalam Aku Atau Dia pekan lalu, Ringgo Agus Rahman kali ini berperan sebagai Donny yang menyebalkan dan menghalalkan segala cara untuk menang.
Tepat setahun setelah bermain dalam Serigala Terakhir, Fathir Muchtar disini kebagian tokoh Galang yang pemarah dan selalu menuruti emosinya untuk menyelesaikan semua masalah.
Kinaryosih sebagai Laras
Joe P-Project sebagai Pak RT
Kunto Aji sebagai Disko
Rima Melati sebagai Nenek Galang


Director:
Terakhir menggarap drama komedi romantis Sehidup (Tak) Semati, Iqbal Rais kali ini memaksimalkan sebuah komedi murni yang berbeda gayanya.

Comment:
Ada dua hal yang kontradiktif saat berniat menyaksikan film ini yaitu keyakinan saya bahwa seorang Iqbal Rais tidak pernah menghasilkan film yang buruk dan ketidakyakinan saya akan kualitas komedi lokal belakangan ini yang semakin terpuruk.
Melihat poster film ini, belum ada bayangan filmnya akan seperti apa. Namun pemasangan Fathir dan Ringgo untuk berduet rasanya cukup langka. Apalagi ditambah dengan nama Kinaryosih. Hmm.. Masihkah bercerita tentang perseteruan memperebutkan cinta segitiga yang klise seperti biasanya? Untungnya tidak karena film ini mengusung sesuatu yang lebih penting dari itu yakni pengendalian diri! Jika ada seseorang yang menginjak-injak anda sedemikian rupa hingga terpuruk sedalam-dalamnya, tentunya anda mempunyai dua pilihan sikap mulai dari responsif atau non-reaktif.
Kedua pilihan tersebut dijalankan tokoh Galang. Jika pada paruh pertama ia memilih responsif dengan mengandalkan nafsu berkelahinya maka pada paruh kedua dia memutuskan untuk non-reaktif yaitu mengendalikan emosinya. Fathir yang jarang bermain film cukup meyakinkan menampilkan dua hal berbeda tersebut. Penampilannya yang cool sekaligus ofensif terlihat nyata walau terkadang ekspresi yang dibawakannya tidak cukup konsisten. Sedangkan sang pemicu Donny diperankan dengan sangat jitu oleh Ringgo. Kekonyolannya yang memancing emosi diperlihatkan secara tepat sehingga memancing penonton untuk tertawa sekaligus antipati terhadapnya. Cukup surprise melihat akting Ringgo yang berkembang baik disini dibandingkan biasanya. Love interest keduanya, Laras dilakoni Kinaryosih dengan gaya jinak-jinak merpati yang tampaknya “aman-aman” saja. Dari karakter pendukung, Kunto Aji, si kribo jebolan Indonesian Idol rasanya cukup mencuri perhatian dengan keluguan dan kesetiakawanannya.
Tampaknya Iqbal cukup pintar untuk tidak membiarkan Senggol Bacok menjadi komedi yang sekadar lalu lalang saja. Subplot yang ia hadirkan secara silih berganti cukup solid untuk mendukung jalinan cerita. Belum lagi twist yang lumayan mengejutkan sengaja disimpan di akhir cerita untuk membacok logika penonton dengan sukses. Humorisme yang diusung disini mungkin berhasil menyenggol syaraf anda untuk tertawa spontan meski tidak akan sampai terpingkal-pingkal dibuatnya. Tertarik menyaksikannya? You’d better be!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Senin, 24 Mei 2010

RATU KOST-MOPOLITAN : Bahu Membahu Menyelamatkan Kost Dari Premanisme

Cerita:
Gina, Tari dan Zizi ngekos di tempat Ibu Laksmi di suatu gang sempit nan padat ibukota Jakarta walaupun harus menunggak pembayaran berbulan-bulan. Ketiganya yang masih berstatus mahasiswi pun bertekad mencari penghasilan tambahan, Gina menjadi wartawan freelance, Tari menjadi instruktur aerobik, Zizi menjadi seniman tatoo. Selain itu ada juga Seno, ketua Karang Taruna favorit mereka yang menyambi menjadi caddy di sebuah golf club. Ketenangan lingkungan seketika terganggu saat kepala preman, Rido datang bersama antek-anteknya yang bertujuan menguasai tanah yang akan diambil alih oleh PT. Garda Utama. Gina, Tari, Zizi bersama Seno pun memutar otak untuk mengusir Rido cs sekaligus mengamankan apa yang seharusnya menjadi hak warga setempat!

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX tanggal 24 Mei yang lalu.

Cast:
Cukup lama absen bermain film, Luna Maya kembali sebagai Gina yang cantik dan bercita-cita menjadi wartawan untuk menyambung hidup.
Terakhir bermain dalam Air Terjun Pengantin, Tyas Mirasih disini berperan sebagai Tari yang seksi dan juga berani.
Debutan Imey-Liem bermain sebagai Zizi yang percaya pada hal-hal mistik.
Fathir Muchtar sebagai Seno, ketua Karang Taruna yang tampan dan lucu.
Reza Pahlevi sebagai Rido, ketua preman yang aneh bin ajaib.
Yattisurachman sebagai Ibu Laksmi, pemilik kost.
Adi Kurdi dan Verina Widodo sebagai Bapak dan Ibu RT.

Director:
Ody C. Harahap terakhir mendirect Punk In Love mengenai empat muda-mudi punkers yang melakukan perjalanan ke Ibukota itu.

Comment:
Menyaksikan film ini mau tidak mau mencermati dua hal utama yaitu cerita dan humor. Dari segi cerita, harus diakui memang dangkal. Sebetulnya dangkal tidak menjadi masalah asal dibangun dengan struktur yang kuat. Namun film ini seakan menempatkan terlalu banyak hal di paruh pertama durasinya dan memaksa penonton untuk menerima saja situasi yang dihadirkan tersebut. Memang menginjak paruh kedua tidak terlalu mengganggu lagi tetapi tetap saja secara logika bercerita terasa ada sesuatu yang kurang. Dari segi humor mesti diapresiasi karena karakter Gina, Tari dan Zizi seakan mengingatkan kita pada Warkop DKI dan Luna, Tyas dan Imey tampil cukup kompak bahu-membahu mengatasi problema yang ada dengan solusi yang sekenanya. Tingkah laku ketiganya juga terasa spontan dan tidak dibuat-buat meski unsur berlebihan tidak dapat dihilangkan begitu saja. Beberapa adegan slapstik juga terkesan tempelan belaka tanpa alasan yang kuat seperti contohnya adegan Seno berganti pakaian yang diiringi instrumen yang nyaris sama persis dengan My Love nya Justin Timberlake?! Ataupun adegan bloon perilaku Rido dan anak buahnya yang absurd itu. Sutradara Ody yang juga merangkap sebagai penulis pada akhirnya cukup berhasil menjadikan Ratu Kost-mopolitan sebuah tontonan yang kocak menghibur walaupun dari penggarapan skrip masih kurang matang.

Durasi:
100 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 06 November 2009

SERIGALA TERAKHIR : Pertikaian Dua Geng Berseberangan Berbuntut Maut

Cerita:
Lima sekawan masing-masing Ale, Jarot, Lukman, Sadat, Jago adalah geng penguasa daerah pinggiran sejak remaja. Dalam suatu peristiwa pertandingan sepakbola yang berbuntut pertikaian, Jarot tanpa sengaja membunuh seorang preman saat membela Ale yang mengakibatkan dirinya dipenjara bertahun-tahun. Kehidupan keras di penjara membentuk pribadi Jarot yang keras, terlebih ia merasa ditinggalkan teman-temannya seorang diri. Sekeluarnya dari penjara, Jarot bergabung dengan geng Naga Hitam yang selalu berseberangan dengan Ale dkk. Pada akhirnya, Jarot mungkin saja berhadapan langsung dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya di masa lalu.

Gambar:
Seperti mendapat banyak influence dari film-film mafia Hongkong, gaya noir modern sedikit tertangkap disini. Terbukti gambar-gambar yang dihasilkan sedikit dark dengan tone yang cukup konsisten.

Act:
Baru saja tampil sebagai polisi konyol dalam The Police Movie, Vino Bastian kali ini berperan sebagai mafia muda penuh dendam, Jarot yang ditempa di penjara.
Terakhir terlibat dalam Susahnya Jadi Perawan, Fathir Muchtar disini bermain sebagai Ale, kepala geng yang ditakuti sahabat-sahabatnya.
Reza Pahlevi sebagai tokoh kunci, si bisu yang sulit ditebak.
Fanny Fabriana yang terakhir mendampingi Tora Sudiro dalam Preman In Love kebagian peran Aisya, love interestnya Jarot sekaligus adik kandung Ale.
Beberapa aktor debutan seperti Dion Wiyoko, Dallas Pratama, Ali Syakieb bermain sebagai Lukman, Jago dan Sadat.
Juga turut didukung oleh beberapa pemain senior seperti George Rudy, Agus Melasz, Ully Artha dll.

Sutradara:
Terakhir mengarahkan Vino dalam Realita, Cinta dan Rock & Roll yang cukup dipuji, Upi kembali setelah absen beberapa tahun dalam film Serigala Terakhir ini yang disebut-sebut film mafia pertama bergaya Indonesia. Akankah sukses seperti harapannya? Kita tunggu saja.

Comment:
Sulit rasanya menilai film ini secara keseluruhan karena dua unsur yang sangat bertolak belakang. Pertama, plot cerita yang sungguh terasa dipaksakan mulai dari awal sampai akhir sehingga agak tidak rasional. Hal tersebut berpengaruh pada skenario yang terkesan dibuat-buat dan dialog yang terkadang bodoh, tidak peduli sebaik apapun penjiwaan aktor-aktrisnya. Kedua, penggarapan yang dilakukan sebetulnya bisa dikatakan baik, terima kasih pada kemampuan sang sutradara. Konsistensi pengadeganan dibantu dengan backsound yang pas membuat film ini masih enak untuk diikuti. Jika kedua hal tersebut bersinergi, anda akan merasakan apa yang saya rasakan saat menyaksikannya, yaitu intensitas menonton yang asyik tetapi berkali-kali mengernyitkan kening. Durasi yang teramat panjang sama sekali tidak membantu, hanya memperpanjang bagian-bagian yang sebetulnya tidak perlu. Oleh karena kesalahan di rangka cerita, saya harus memberikan ponten rendah bagi Serigala Terakhir. Sayang sekali!

Durasi:
140 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!