Quotes:Sophie-I'm sorry, I didn't know love had an expiration date.
Storyline:Sophie mengikuti tunangannya yang seorang koki handal, Victor untuk melakukan perjalanan ke Verona, Italia. Disana Victor yang sibuk sendiri meninggalkan Sophie untuk membuat sebuah tulisan tentang romantisme Italia yang diinspirasi dari Secretary of Juliet. Disanalah sekelompok wanita paruh baya menulis jawaban atas surat-surat cinta yang dikirim oleh gadis-gadis dari seluruh dunia. Tanpa sengaja, Sophie menemukan surat cinta Claire yang telah tersembunyi selama 50 tahun dan membalasnya. Hal tersebut memicu kedatangan Claire yang sudah berusia lanjut dari Inggris bersama cucunya Charlie untuk mencari Lorenzo nya yang hilang. Petualangan tidak terduga pun dilakoni Sophie yang mungkin mengubah perspektifnya tentang cinta.Nice-to-know:Vanessa Redgrave dan Franco Nero merupakan pasangan sesungguhnya di kehidupan nyata.Cast:Karir akting Amanda Seyfried dimulai di layar gelas, As The World Turns pada tahun 2000. Kali ini kebagian peran utama Sophie yang secara sementara bergabung Secretary Of Juliet sementara tunangannya, Victor yang dilakoni oleh Gael Garcia Bernal sibuk menghadiri lelang wine.Pernah mendukung Resident Evil : Extinction (2007), Christopher Egan bermain sebagai Charlie, pemuda Inggris yang menemani neneknya ke Italia.Sempat memenangi Oscar kategori Aktris Pembantu Terbaik lewat Julia (1977), Vanessa Redgrave berperan sebagai Claire yang mencari cinta pertamanya justru di usia senja.Director:Karya penyutradaraannya pertama kali melalui Curfew (1989) dan Letters To Juliet merupakan karya ke-12 bagi Gary Winick.Comment:Melihat trailer film ini saya mengharapkan drama romantis yang berkualitas dan setelah menunggu beberapa minggu untuk kemudian menyaksikannya, harapan saya tidak salah. Plot ceritanya tidak jauh-jauh dari cinta dan mungkin bisa anda prediksikan apa yang akan terjadi dari menit ke menitnya. Namun yang membuat berbeda adalah intensitas scene demi scenenya disajikan dengan hangat dan tulus sehingga anda akan sabar menanti dan mengikutinya hingga berakhir. Penjiwaan Seyfried yang kaya ekspresi dan kepribadian sangat menarik. Mata bulat besarnya cukup mewakili kecerdasan dan antusiasme tokoh Sophie yang sebenarnya rapuh dan bimbang. Ia berhasil memimpin karakter lain yang juga tidak kalah mengecewakan. Redgrave memperlihatkan senioritasnya dengan tokoh Claire yang sensitif dan menyenangkan. Bernal juga menggambarkan sosok tunangan yang gila kerja dan sedikit egois. Tidak berbeda dengan Egan yang menerjemahkan tipikal pria Inggris kaku yang mengedepankan logika daripada cinta. Suasana Verona yang indah dengan lanskap bangunan tua di tengah-tengah padang rumput dan perladangan anggur juga sudah menimbulkan romantisme tersendiri. Romantisme yang sebetulnya dibungkus dengan pelukan hangat, gandengan tangan, curi pandang ataupun ciuman yang ditunggu-tunggu ini akan membuat hati audiens berdegup kencang dengan permainan emosi yang tumpah ruah. Letters To Juliet yang segmentasi utamanya wanita tetap membuat saya dan para penonton pria lainnya larut dalam antusiasme hingga durasi berakhir. Still great classic cliche romance movie that probably you've been waiting for!Durasi:105 menitU.S. Box Office:$46,754,242 till mid Jun 2010.Overall:8 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Cerita:Meski sekelas di sekolah yang sama, Marisa dan Dino memiliki kubu masing-masing yang selalu berseberangan hanya karena beberapa persoalan kecil. Masa liburan tiba, Dino dan Edo pulang ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama ayah ibunya. Di lain kesempatan, ayah Marisa juga ditugaskan untuk menangani pembangunan rumah di desa Megar dan mengajak istri dan anaknya sekaligus Ella yang juga teman setia Marisa. Sayangnya dalam perjalanan, seteru bisnis ayah Marisa menghadang mobil mereka dan menyandera suami istri tersebut. Marisa berhasil melarikan diri tetapi pingsan di tengah jalan dan diketemukan oleh Pak Kusumo ysng ternyata ayah Dino. Kini mereka harus bekerjasama untuk membebaskan ayah ibu Marisa dari kawanan preman tersebut.Nice-to-know:Diproduksi oleh Ganesa Perkasa Films.Cast:Arsenna sebagai DinoBelinda Camesi sebagai MarisaCindy Valerie sebagai EllaDerry Salim sebagai EdoDirector:Subakti Is kali ini berkolaborasi dengan Shinta Rianasari Sh yang mengerjakan skenarionya.Comment:Film anak-anak ketiga pada musim liburan 2010 ini setelah Melodi yang gagal total dan Tanah Air Beta yang mengesankan itu. Lalu dimana posisi Laskar Cilik? Di luar cameo scenenya The Lucky Laki, rasanya tidak ada yang menarik. Plot ceritanya datar saja kalau tidak mau dibilang mengada-ngada. Bayangkan dua bocah berlawanan jenis yang karena hal-hal sangat sepele menciptakan konflik sendiri yang menempatkan teman-teman mereka dalam dua kubu yang saling berseberangan. Herannya dua kubu tersebut masih cukup kompak berkoreografi dan bernyanyi bareng sepanjang film meskipun kecanggungan dan dubbing yang tidak mulus terasa mengganggu mata dan telinga. Dari segi karakterisasi, tokoh Marisa yang pemalas dan manja rasanya tidak akan dapat menarik simpati penonton apalagi sampai peduli pada usahanya menolong ayah dan ibunya? Tokoh Dino meski digambarkan pintar dan baik hati tetapi tidak cukup berkharisma untuk memimpin anak-anak tersebut. Kinerja sutradara Subakti yang di bawah standar juga tidak banyak membantu. Bahkan ia terkesan menguji intelejensi anak-anak yang menjadi segmentasi yang ditujunya. Beberapa pesan moral yang berusaha disampaikannya seperti membuat pe-er sendiri, santun terhadap orangtua, setia kawan terhadap teman dsb entah kenapa menurut saya malah terasa tidak tepat caranya. Alhasil film ini terasa serba tanggung di berbagai lini. Gaya yang digunakan pun masih tergolong jadul seperti tahun 1990an. Come on! It’s 2010 already, make a good smart contemporer kids movie which enjoyable for their parents too.Durasi:85 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Tagline:
There's more to terror than meets the eye...
Storyline:
Kematian misterius ilmuwan Dr. Devin Villiers di Seattle membuat pasangan detektif Frank Turner dan Lisa Martinez ditugaskan melindungi koleganya, Dr. Maggie Dalton. Sayangnya Lisa terbunuh dalam tugasnya dan Frank memaksa Maggie untuk menceritakan semua. Maggiepun mengaku pernah melibatkan tentara veteran yang bernama Michael Griffin dalam eksperimen rahasia menciptakan pasukan yang tidak terdeteksi. Sayangnya percobaan gagal dan akibat radiasi tersebut, Michael dinyatakan meninggal dan sempat dikuburkan. Hingga pada suatu ketika, sesosok tak terlihat selalu mengejar Maggie untuk mendapatkan serum terbarunya. Akankah teror demi teror tak nyata itu dapat dihentikan?Nice-to-know:
Nama "Michael Griffin" merupakan referensi langsung dari karakter "Griffin" dalam novel "The Invisible Man" karangan H.G. Wells di tahun 1997.
Cast:
Sempat meraih penghargaan MTV Movie Awards lewat Untamed Heart (2003), Christian Slater kebagian peran sebagai Michael Griffin yang nyaris tak terlihat sepanjang film.Sempat membintangi 9 episode Six Feet Under, Peter Facinelli bermain sebagai Detektif Frank Turner.
Laura Regan mengawali dunia akting lewat Unbreakable (2000) dan kali ini berperan sebagai Dr. Maggie Dalton.Director:Claudio Faeh sebelumnya menulis dan menyutradarai Coronado (2003).Comment:Dengan bujet rendah, film ini cukup berhasil memaksimalkan spesial efek yang diusungnya walaupun akhirnya tidak mengubah fakta dilempar langsung ke pasaran DVD. Saya menggemari prekuelnya di tahun 2000 saat baru mengakhiri masa sekolah yang menurut saya salah satu sains fiksi underrated yang masih diingat hingga sekarang.Film ini dibuka dengan kekerasan yang dilakukan manusia-tak-terlihat lantas berpindah pada karakter ilmuwan wanita yang menyembunyikan masa lalu. Kemudian ada detektif pria yang sekuat tenaga berusaha mengendalikan situasi. Itu saja. Lebih simpel dari anda yang tidak pernah mengganti popok bayi sekalipun!Dari segi cast, Slater yang cukup bernama di periode 1990an sudah melewati masa jayanya bisa menawarkan apa. Ia hanya menjadi "bayangan" disini dan mengisi suaranya saja. Regan juga masih kurang matang sebagai ilmuwan cerdas yang menyimpan semua kunci. Facinelli terlalu terlihat "boyish" sebagai detektif handal. Nothing's special in this department!Sutradara Faeh menggunakan tone malam hari sepanjang film dan hal ini benar-benar membuat saya mengantuk dan tidak berselera lagi mengikuti jalinan cerita yang ditawarkan. Apalagi adegan aksinya serba tanggung dan dieksekusi dengan buruk pula. Jauh dari apa yang dicapai Paul Verhoeven dalam Hollow Man (2000). Anda yang menyukai permainan kucing-tikus Bacon dan Shue di prekuelnya sebaiknya tidak menyimpan rasa penasaran demi menemukan esensi yang sama dalam Hollow Man 2 ini.Durasi:90 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Shasi-Kesucian gue hanya gue berikan kepada orang yang bener-bener gue cinta, bukan untuk dijual!!
Cerita:Di usia 16 tahun, May lari dari rumah karena persoalan keluarga yang dihadapinya. Di sekolah pun ia digosipkan menjual diri oleh teman-temannya dan sempat menolak perhatian tulus dari seorang siswa lugu. Adalah siswi bernama Shasi yang juga mendapat sebutan germo karena sering menjual teman-temannya sendiri dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Dalam perjalanan May bertemu Shasi dan diperkenankan menumpang di kos temannya, Andhara yang berprofesi sebagai bartender di sebuah bar. May yang masih asing dengan pergaulan malam diajak Shasi dan Andhara juga berkenalan dengan Dessy yang menjadi penari di bar tersebut. Keempatnya menghadapi lika-liku kehidupan metropolitan yang bisa jadi kejam bagi gadis-gadis seusia mereka.Nice-to-know:Press conferencenya diadakan di fX pada tanggal 21 Juni yang lalu.Cast:Arumi Bachsin sebagai ShasiLeylarey Lesesne sebagai DessyChindy Anggrina sebagai MayOkkie Callerista sebagai AndharaDirector:Baru saja menggarap Akibat Pergaulan Bebas yang cukup lama tayang di bioskop-bioskop ibukota itu, Nayato Fio Nuala kali ini bekerjasama dengan Viva Westi yang menulis skenarionya.Comment:Not For Sale seakan terbagi dalam dua bagian yaitu di sekolah dan di klub malam! Oke kita bahas dulu bagian sekolahnya. Disini sisi edukasi dari sebuah tempat bernama sekolah serasa terinjak-injak. Bayangkan siswa-siswi berkeliaran dengan baju dikeluarkan dan rambut dicat/ditata semaunya. Berbincang-bincang hanya masalah menjual diri dan cinta monyet dengan Blackberry di tangan masing-masing. Sampai kepala sekolah yang biasanya bijaksana berwibawa digambarkan dangkal dan mata duitan. What the f*? Bagaimana dengan bagian klub malamnya? Disini sisi hiburan dari sebuah tempat bernama diskotik/bar menjadi panggung pertemuan mucikari, lelaki hidung belang, penari telanjang yang seakan hanya peduli transaksi seks atau kesenangan semalam suntuk. Mungkin saja sangat mendekati kenyataan tetapi rasanya tidak perlu ditampilkan dengan gamblang lagi. Dari segi cast, rupanya Arumi dan Leylarey mulai "terbiasa" dengan gaya seorang Nayato. Rasanya mereka tidak perlu skrip lagi, cukup menggunakan baju minim yang mempertontonkan kemolekan tubuh dan berbicara layaknya anak broken home. Endingnya lebih konyol lagi karena memadukan unsur psikopat dan slasher dengan sedikit unsur horor thriller. Sudah cukup nampaknya 14 baris review saya kali ini. Masih tertarik menyaksikannya? Not For Sale.. or be seen!Durasi:80 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Quotes:Zack Brown-Oh you'll be sorry when I'm giving you the best orgasms of your life.Miriam Linky-Yeah right. As if you even know what you're doing down there.Zack Brown-Where's the clitoris again? Is it in your ass?
Storyline:Zack dan Miri merupakan dua sahabat berlainan jenis yang tinggal bersama dalam satu apartemen. Kehidupan keduanya nyaris serupa yaitu pecundang dalam hal asmara dan pekerjaan yang tidak bisa diandalkan. Sampai pada suatu ketika, listrik dan air di apartemen mereka diputus karena telat membayar. Saat itulah Zack dan Miri memutar otak dan memutuskan untuk merekam video porno. Casting pun dilakukan dan akhirnya terpilihlah Lester, Stacey, Barry dll. Bersama mereka merancang sebuah skrip vulgar yang diyakini akan disukai kalangan remaja cabul. Namun diam-diam tumbuh perasaan aneh antara Zack dan Miri. Akankah video tersebut dapat diselesaikan tanpa konflik?Nice-to-know:Awalnya poster film ini memperlihatkan kartun Miri memberikan oral seks pada Zack tetapi dilarang di Amrik. Akhirnya diganti dengan Zack dan Miri yang terpisah menggunakan pakaian lengkap. Lolos dengan rating PG-17 walau ditambahkan simbol D (Dewasa).Cast:Elizabeth Banks yang pernah memenangkan Young Hollywood Award kategori Exciting New Face pada tahun 2003 disini bermain sebagai Miriam Linky yang mendambakan cinta dalam hidupya.Tiga kali dinominasikan MTV Movie Award dalam 5 tahun terakhir, Seth Rogen kali ini berperan sebagai Zack Brown yang bekerja di kedai kopi dan seringkali berpikir seks cepat dengan wanita seksi.Director:Kevin Smith ini merupakan salah satu talenta Hollywood yang seringkali memegang banyak jabatan dalam sebuah produksi film termasuk editor, produser, penulis, actor dsb. Penyutradaraannya sendiri diawali lewat Mae Day : The Crumblimg of a Documentary (1992).Comment:Sangat jarang sebuah judul bisa merangkum keseluruhan isi sebuah film tetapi film ini melakukannya! Walau terdengar lugas tetapi tujuan penggunaan judulnya sangatlah mengena. Diawali dengan pembukaan pengenalan tokoh Zack Brown dan Miriam Linky yang walaupun chemistry nya terasa aneh tapi keduanya berbaur dengan baik. Rogen yang lugu mesum seperti biasa membawakan karakter yang nyaris mirip dengan sebelum-sebelumnya. Begitupun dengan Banks yang tidak terlihat jauh berbeda dari yang terdahulu. Beruntung mereka konsisten dengan tokoh yang dilakoni masing-masing dan dialog yang tercipta antar keduanya juga cukup tajam. Nikmati Zack and Miri Make A Porno di dvd yang berkualitas gambarnya, jangan mengharapkah versi originalnya apalagi jadwal penayangan di bioskop sebab film ini penuh dengan adegan nudis, simulasi seks, kata-kata vulgar. Terlepas dari semua fakta tersebut, komedi romantis ini teramat sangat jujur dan menghibur, lucu gila sekaligus touching di beberapa bagian. Kutiplah beberapa kata pelesetan seperti Star Wars menjadi Star Whores, lengkap dengan "versi" karakter-karakter di dalamnya. Endingnya mungkin tidak seperti yang anda harapkan tetapi esensinya tetap menghibur. Jangan mematikan begitu saja begitu credit title bergulir, sebab masih ada tambahan foot-notes yang kocak untuk anda.Durasi:100 menitU.S. Box Office:$31,457,946 till end of January 2009.Overall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:Ten Heads. Ten Minds. A Hundred Voices. One man.
Storyline:Inspektur polisi, Dev seumur hidupnya mempunyai satu tujuan yaitu membekuk seteru abadinya, Bheera yang selalu menjadi buronan hukum selama bertahun-tahun. Suatu ketika Dev dipindahtugaskan ke Lal Maati, sebuah kota kecil di India Utara. Sayangnya ia tidak tahu disanalah Bheera dianggap kepala suku yang paling berkuasa dan pada satu kesempatan berhasil menculik istri Dev, Ragini yang tengah berperahu. Dev harus memutar otak untuk menaklukkan Bheera sekaligus mendapatkan Ragini kembali meskipun permainan kucing tikus tersebut membuka rahasia masing-masing dari mereka.Nice-to-know:Diproduksi oleh Madras Talkies.Cast:Abhishek Bachchan sebagai Beera MundaAishwarya Rai sebagai RaginiChiyaan' Vikram sebagai Dev Pratap SharmaDirector:Karya-karya Mani Ratnam pernah memenangkan penghargaan di festival film internasional sebelumnya.Comment:Nyaris semua orang di Asia sudah mengenal kisah klasik Ramayana yang sudah diterjemahkan ke berbagai versi di seluruh pelosok negara Asia termasuk Indonesia tentunya. Bagaimana Rama berjuang menyelamatkan istrinya Sinta dari tawanan iblis berkepala sepuluh. Kini dongeng tersebut dimodernisasi oleh sutradara handal Ratnam yang bekerjasama dengan editor Sreekar Prasad dan desainer produksi Samir Chandra. Sinematografinya memukau dan konsisten sepanjang film dengan menampilkan lanskap hutan, lembah, jurang, tebing, air terjun, laut dengan paparan langit biru yang terbentang luas, terima kasih pada kinerja Manikandan dan Santosh Sivan yang demikian baiknya. Belum lagi masuknya nama A.R. Rahman sebagai komposer handal untuk musik latarnya. Jika tim produksi sudah solid apakah mudah menciptakan film action yang baik dengan jalinan cerita yang sudah dikenal luas? Tentu saja tidak. Paruh pertama film, gaya penyutradaraannya terasa sangat monoton dan mengganggu, belum lagi karakterisasinya seakan tidak bernyawa samasekali. Di paruh kedua memang meningkat dikarenakan intensitas action semakin memuncak dan penjiwaan ketiga karakter utama semakin terungkap. Melihat deretan cast, Bachchan dan Rai yang aslinya suami istri "tampak" berusaha keras menampilkan chemistry yang baik di luar fakta mereka pihak yang berseberangan disini. Sayangnya sepanjang film, hanya Bachchan yang terlihat sekuat tenaga mengangkat film dengan permainan watak dan aksi yang dilakukannya. Penilaian saya, Raavan terlihat bagus hanya di beberapa bagian tetapi mengecewakan sebagai satu kesatuan. Terlihat antusiasme penonton di awal, termangu-mangu kebingungan di pertengahan dan menjadi tanpa ekspresi di ending, mereka-reka apa yang baru saja mereka saksikan!Durasi:130 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Andy's Mom-[speaking to someone else] Andy's going to college. Can you believe it?Andy-Mom, I'm not leaving 'til Friday.Andy's Mom-What are you going to do with these old toys?
Storyline:Tahun demi tahun berlalu, Andy sudah berusia 17 tahun dan sebentar lagi masuk perguruan tinggi. Lantas bagaimana nasib mainannya yang selama bertahun-tahun sudah terabaikan? Woddy, Buzz dkk hanya pasrah menunggu nasib, apakah akan ditaruh di gudang, disumbangkan atau bahkan dibuang di tempat sampah. Andy pun memilih Woody untuk dibawa serta ke kampus nan jauh dari rumahnya. Sedangkan yang lainnya ia masukkan dalam kantong sampah untuk disimpan di loteng. Sayangnya insiden terjadi, saat kantong sampah tersebut nyaris terangkut truk sampah untuk dihancurkan! Beruntung tepat pada waktunya mereka menyelamatkan diri dan memilih masuk kotak untuk disumbangkan ke Sunnyside, tempat penampungan anak-anak dari berbagai kelompok umur. Lantas apakah pilihan tersebut tepat? Rintangan apa yang menghadang mereka untuk menentukan pilihan nasib mereka sendiri?Nice-to-know:Meskipun Disney dan Pixar sudah berpisah pada tahun 2004-2005, ide untuk meneruskan sekuel Toy Story membuat mereka kembali bekerjasama di tahun 2009 dan sepakat menunda proyek yang sedang mereka kerjakan masing-masing demi berkonsentrasi pada film ini.Voice:Tom Hanks sebagai WoodyTim Allen sebagai Buzz LightyearJoan Cusack sebagai JessieNed Beatty sebagai LotsoDon Rickles sebagai Mr. Potato HeadMichael Keaton sebagai KenWallace Shawn sebagai RexJohn Ratzenberger sebagai HammEstelle Harris sebagai Mrs. Potato HeadJohn Morris sebagai AndyJodi Benson sebagai BarbieEmily Hahn sebagai BonnieLaurie Metcalf sebagai Andy's MomBlake Clark sebagai Slinky DogDirector:Setelah menjadi asisten sutradara bagi Toy Story 2, Monsters, Inc. dan Finding Nemo, Lee Unkrich dipercaya untuk "naik tahta" dalam penutup trilogi Toy Story ini.Comment:Masih terbayang dalam ingatan saat masih berusia belasan tahun, saya disuguhkan pionernya animasi kreatif Toy Story 1-2 yang berkualitas baik. Lantas 10 tahun setelah sekuel terakhirnya, begitu banyak perubahan yang terjadi di dunia animasi. Bagaimana Toy Story 3 menjawab tantangan tersebut? Pertama, franchise film ini terkenal dari plot ceritanya yang sangat dekat dengan kehidupan anak-anak di dunia nyata. Dan hal tersebut dipertahankan disini dengan timeline yang juga real, Andy meninggalkan masa kanak-kanaknya dan beranjak remaja. Tentunya perubahan nasib juga dialami para mainannya. Kedua, semua tokoh yang demikian beragam bentuk dan sifatnya dapat dibagi sama rata dan konsisten. Dan dengan tambahan tokoh-tokoh baru yang tidak kalah menarik disini, karakterisasinya menjadi berkembang maksimal. Ketiga, gambar animasi yang ditawarkan sangat eye-catchy dengan konsep dua dimensi yang sederhana. Dan disini transisi ke konsep 3D merupakan nilai plus tersendiri meskipun tidak terlalu dominan. Sudah cukupkah ketiga elemen dasar animasi yang baik tersebut melebur dalam Toy Story 3? Nyatanya belum. Di luar dugaan, storyline melebar dengan memperlihatkan situasi dan kondisi Sunnyside yang bisa dikatakan rumah sekaligus penjaranya mainan-mainan terbuang. Bagaimana persahabatan sejati dapat menanggulangi semua hambatan yang ada untuk tetap menjaga persatuan diuji dengan berat disini. Kesempurnaan intonasi Hanks dan Allen dalam menyuarakan Woody dan Buzz juga memuncak disini sehingga leading character keduanya terasa istimewa dalam memimpin rekan-rekan lainnya. Humor cerdas yang disisipkan di sana-sini sama sekali tidak mengganggu, bahkan memperkuat jalinan aksi petualangan yang intensif. Kreatifitas yang dirancang Unkrich membuatnya layak disebut maestro film yang dulunya dibesarkan John Lasseter ini. Endingnya ditutup dengan luar biasa brilian sehingga penonton tidak merasakan durasinya berakhir samasekali. Ada dua momen menjelang epilog yang akan meluluh-lantakkan emosi anda. Satu mengenai teori "holding on together" dan kedua tentang "farewell" yang seringkali tidak terelakkan atas alasan apapun jua. Tonton sendiri untuk mengetahuinya secara detail dan jangan gengsi untuk menyeka mata anda yang basah, sebab audiens juga akan melakukan hal yang sama! Inilah animasi perfecto timeless yang tidak akan terlepas dari ingatan dalam waktu yang teramat sangat panjang tidak peduli berapapun usia anda, anak-anak maupun orang dewasa. Penutup megah dari suatu trilogi animasi yang tidak akan tergantikan oleh apapun sampai kapanpun juga. Bisa dipastikan memenangkan Best Animated Movie pada ajang Academy Awards 2011. Percaya?Durasi:100 menitU.S. Box Office:$41,000,000 in opening week mid Jun 2010.Overall:8.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Cerita:Saat Timor Timur berpisah dari Indonesia pada tahun 1999, Merry juga berpisah dengan kakak kandungnya Mauro yang tinggal bersama pamannya. Bertahun-tahun Merry merindukan Mauro walau ibunya, Tatiana selalu menemaninya dengan setia terlebih bekerja keras sebagai guru di kamp darurat demi menghidupi mereka berdua. Beruntung Merry masih dapat mengenyam pendidikan dan berteman dengan Carlo yang sebatang kara. Carlo diam-diam menaruh perhatian pada Merry tetapi keduanya seringkali bertengkar. Hingga pada suatu saat, Merry nekad pergi ke perbatasan dengan bekal seadanya untuk menemui Mauro yang kabarnya ada disana. Berhasilkah pertemuan yang dinanti-nanti itu terwujud pada akhirnya?Nice-to-know:Gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 14 Juni yang lalu.Cast:Alexandra Gottardo sebagai TatianaAsrul Dahlan sebagai AbubakarGriffit Patricia sebagai MerryYehuda Rumbindi sebagai CarloLukman SardiAri SihasaleRobby TumewuThessa KaunangDirector:Mantan aktor layar kaca yang sudah beralih menjadi sutradara, Ari Sihasale terakhir menggarap film anak-anak bertemakan olahraga dalam King (2009) yang juga mendapat banyak pujian.Comment:Beberapa kali film-film Alenia Pictures mencetak sukses sebelumnya dari segi kualitas maupun raihan jumlah penonton. Tahun ini andalan mereka adalah Tanah Air Beta yang bersetting di Timor Leste. Dan lagi-lagi setting menjadi salah satu kelebihannya karena berhasil menampilkan sinematografi yang sangat indah terlepas dari terik dan keringnya alam Indonesia Bagian Timur tersebut. Ale berhasil menangkap sudut-sudut lanskap dan menjadikannya latar belakang cerita yang baik. Plotnya sederhana mengenai kakak beradik yang terpisah dan bagaimana perjuangan sang adik untuk melepas rindu terhadap kakak kandungnya tersebut. Perjalanan mencapai tujuan itulah yang unik karena sisi humanisnya terasa sekali. Griffit dan Yehuda bermain sangat lugas disini sebagai Merry dan Carlo sehingga kita tidak peduli lagi penampilan fisik mereka yang seadanya. Dalam balutan seorang ibu muda dan guru budiman bernama Tatiana, kita juga nyaris tidak mengenali Alexandra Gottardo. Lagu nasional lawas yang digunakan sebagai judul film juga didengungkan lagi versi harmonika maupun instrumen lainnya demi membangun mood film. Menyaksikan Tanah Air Beta terasa tidak seperti film local, nuansanya seperti film-film Asia Tengah yang sangat membumi. Jangan lewatkan jika anda ingin tontonan keluarga yang menggelikan dalam arti positif sekaligus menyentuh sanubari ini.Durasi:95 menitOverall:8 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Cerita:Geng Red CobeX dapat dibilang multikultural karena para anggotanya dari berbagai daerah beranggotakan yaitu ibu-anak Ambon, Mama Ana dan Yopie, Tante Lisa dari Manado, Yu Halimah dari Tegal, Mbok Bariah dari Madura, Cik Meymey yang Cina Betawi. Mereka sangat disegani karena membela kaum lemah dengan menyingkirkan orang-orang yang mengambil keuntungan dari hal-hal maksiat ataupun tidak halal. Sayangnya aksi main hakim sendiri tidak ditolerir polisi yang tetap menjebloskan mereka ke dalam penjara Nusa Kembang. Namun Yopie yang dianggap tidak bersalah dibebaskan dan sementara menumpang tinggal di rumah sahabat karibnya, Ramli yang juga suami Ipah. Yopie mencoba hidup jujur dengan bekerja sebagai pelayan yang membawanya bertemu Astuti, gadis Jawa yang manis. Akankah Yopie dapat menemukan jati diri nya sendiri tanpa menyakiti hati Mama Ana and the gank?Nice-to-know:Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood pada tanggal 15 Juni yang lalu.Cast:Tika Panggabean sebagai Mama Ana
Indy Barends sebagai Tante Lisa
Sarah Sechan sebagai Mbok Bariah
Cut Mini sebagai Cik Meymey
Aida Nurmala sebagai Yu Halimah
Lukman Sardi sebagai Yopie
Revalina S Temat sebagai Astuti
Shanty sebagai Ipah
Irfan Hakim sebagai Ramli
Director:Upi Avianto mengawali karir penyutradaraannya lewat 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang cukup sukses itu.Comment:Dibuka dengan kehebohan geng Red Cobex memberantas preman di sebuah kampung, terus terang prolog tersebut menimbulkan firasat buruk dalam diri saya akan kualitas film secara keseluruhan. Dugaan itu tidak salah karena selama 105 menit durasinya, saya dan sebagian besar penonton merasa sangat tersiksa! Pertama, plot ceritanya sangat mengada-ngada dan klise. Sekelompok orang multiras yang kali ini diwakili ibu-ibu berusaha menunjukkan tajinya plus bumbu romansa dua pasangan yaitu sepasang suami istri dan dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Kedua, genre komedi yang diusung tidak didukung oleh humor cerdas dan kreatif. Semua adegan pengocok tawa terlalu dipaksakan slapstick dan tidak lucu sama sekali. Satu-satunya yang membantu mungkin musik latar yang setidaknya terdengar kocak. Ketiga, gaya penyutradaraan yang acak adut. Entah apa yang ada di benak Upi yang sebetulnya menggunakan nama besarnya sebagai sutradara wanita lokal berbakat untuk menyedot calon penonton. Saya tidak menyalahkan jajaran castnya disini karena skrip yang mengharuskan mereka berada di relnya. Namun setidaknya masing-masing berusaha konsisten dengan logat dan gaya khas daerah yang diharuskan. Padahal banyak nama tenar nan berbakat yang ambil bagian disini. Yang mengganggu adalah pemilihan Lukman sebagai anak Tika. What?! Alhasil, Red Cobex gagal merebut simpati penonton yang sudah tidak peduli lagi dengan jalan cerita ataupun para tokohnya meskipun animo awalnya cukup tinggi.Durasi:105 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:6-sampah!6.5-jelek ah7-rada parah7.5-standar aja8-lumayan nih8.5-bagus kok9-luar biasa
Storyline:Arsitek muda, Nat pulang kampung bersama kekasihnya yang penata gaya, Poon. Disana mereka bertemu ibu Nat yang banyak bertanya kepada Poon. Sebelum pergi ibunya berpesan agar Nat mengunjungi sembilan kuil untuk menghapus karma buruk yang berasal dari masa lalunya dalam tempo seminggu. Meskipun enggan, Nat akhirnya menjalankan perintah itu. Menggunakan mobil, Nat dan Poon juga ditumpangi biksu muda yang juga teman kecilnya, Sujitto, mereka bertiga melakukan perjalanan spiritual tersebut. Hal-hal mengerikan sekaligus menakutkan dialami Nat dan Poon. Mungkinkah karma seseorang dapat mempengaruhi karma yang lainnya? Bagaimana akhir dari perjalanan tersebut?Nice-to-know:Oriental Eyes mengedarkan film yang juga dikenal dengan judul Secret Sunday ini di Thailand sejak 13 April 2010 yang lalu.Cast:Siraphan Wattanajinda sebagai PoonJames MackiePenpak SirikulParadorn SirakowitDirector:Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi Saranyoo Jiralak.Comment:Dalam agama Buddha, hukum karma merupakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di kehidupan lampau sehingga harus membayarnya kemudian hari bahkan terkadang saling berkaitan dengan orang-orang di sekitar kita yang juga menjalaninya. Itulah plot cerita yang coba disampaikan 9 Temples yang uniknya bergaya road movie, sesuatu yang jarang dilakukan film horor. Namun industri film Thailand memang lekat dengan genre ini yang seringkali mencetak sukses. Ketiga pemain utamanya bermain memenuhi standar dengan penjiwaan yang tidak berlebihan. Chemistry antar satu dengan lainnya juga tercipta dengan cukup baik. Yang temperamen, yang lugas pemberani, yang tenang bijaksana kontras satu sama lain. Sayang sutradara membuat penggarapannya cenderung jatuh ke drama dengan arus linier diselingi beberapa flashback yang baru terjelaskan di ending. Dibekali durasi yang cukup panjang, film yang kencang promosinya ini memang terkesan boring dan ditutup dengan konklusi yang semu dan eksplisit, tergantung dari pemahaman anda akan konsep karma itu sendiri.Durasi:105 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent