XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Selasa, 02 Februari 2010

TOOTH FAIRY : Kutukan Peri Gigi Sadarkan Keajaiban

Quotes:
Derek Thompson: I'm the Tooth Fairy.
Randy: Thought you said you were a vampire. You got some inconsistent mythology.

Storyline:
Pemain hoki es terkuat dan terpopuler, Derek Thompson tidak percaya keajaiban peri gigi. Ia dengan entengnya mengambil uang di bawah bantal calon putrinya, Tess yang baru tanggal giginya dan mengharapkan kedatangan peri gigi. Atas perbuatannya itu, Derek dihukum menjadi peri gigi selama seminggu oleh Lily, ibu dari peri gigi seluruh dunia. Dengan bantuan Ziggy, Derek berusaha belajar menggunakan perlengkapan-perlengkapannya sampai tugasnya berakhir. Akankah pada akhirnya Derek belajar dari keajaiban yang sesungguhnya ada di sekitarnya?

Nice-to-know:
Merupakan film live-action pertama bagi Billy Crystal semenjak Analyze That (2002).

Cast:
Tahun ini sempat juga mendukung serial televisi Family Guy, Dwayne Johnson bermain sebagai Derek Thompson / Tooth Fairy.
Siapa yang tidak mengenal aktris senior yang angkat nama lewat The Sound of Music (1965) bernama Julie Andrews ini. Kali ini ia berperan sebagai Lily, ibu peri gigi yang lembut hati dan bijaksana.
Ashley Judd sebagai Carly
Stephen Merchant sebagai Tracy
Ryan Sheckler sebagai Mick Donnelly
Seth MacFarlane sebagai Ziggy
Chase Ellison sebagai Randy
Destiny Whitlock sebagai Tess

Director:
Sutradara senior, Michael Lembeck terakhir kali menggarap The Santa Clause 3: The Escape Clause (2006) dan beberapa film televisi.

Comment:
Ide pembuatan film ini sebetulnya sudah cukup konyol tetapi nyatanya masih mampu menarik jajaran cast seperti Judd, Crystal ataupun Andrews untuk terlibat di dalamnya. Kalau nama The Rock rasanya tidak perlu aneh karena tampaknya ia semakin nyaman dalam film bertemakan keluarga belakangan ini.
Siapa tidak mengenal dongeng peri gigi, dari kecil hingga dewasa rasanya akan terus diingat oleh anda, sama halnya dengan sinterklas. Hal ini kemudian dikembangkan oleh lima orang penulis Lowell Ganz, Babaloo Mandel, Joshua Sternin, Jeffrey Ventimilia dan Randi Mayem Singer sehingga konsepnya menjadi komedi baik secara personal maupun keluarga yang dibungkus dengan berbagai pesan moral yang cukup mendidik.
Permasalahannya adalah film ini hanya masuk akal bagi bocah berusia di bawah 10 tahun! Bagi orang dewasa cenderung membosankan dengan alur cerita yang terlalu sederhana dan mudah ditebak. Ok mungkin untuk beberapa scene bisa jadi membuat anda tersenyum malu-malu melihat tindak-tanduk The Rock apalagi kostumnya yang “tidak wajar” itu. Namun secara keseluruhan, talenta semua aktor-aktris pendukungnya menjadi terkesan sia-sia untuk sesuatu yang terlalu absurd. Kharisma Andrews dan Crystal sebagai Lily dan Jerry menunjukkan kualita acting mereka. MacFarlane juga terasa pas dengan tokoh Ziggy yang nerd tetapi baik hati itu. Saya nyaris tidak mengenali Judd sebagai Carly disini karena lebih terpikat pada si kecil Whitlock yang mengesankan sebagai Tess.
Sutradara Lembeck sudah berusaha keras memodifikasi cerita tetapi tampaknya Tooth Fairy tidak lebih dari sekadar pengisi waktu luang anda akan kebutuhan film yang ringan dan menghibur saja. Akhir kata setelah ending berlalu, anda diharapkan bisa percaya akan keajaiban yang niscaya dapat membuat hidup lebih bermakna.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$60,020,099 till end of Jun 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 01 Februari 2010

IT'S ALIVE : Aksi Mematikan Bayi Pembunuh

Tagline:
Please be quiet. Do not wake him up.

Storyline:
Hari-hari terakhir semester menjelang kelulusannya, Lenore Harker memutuskan meninggalkan bangku kuliah untuk melahirkan bayi dari kekasihnya yang seorang arsitek, Franck di sebuah pondok terpencil di tengah hutan. Namun keanehan terjadi saat janin tersebut membesar dua kali lipat hanya dalam sebulan dan masih dalam hitungan prematur saat dilakukan operasi caesar. Di luar dugaan, dua dokter dan dua perawat yang membantu persalinan tewas secara misterius. Bagaimanapun juga Lenore tetap membawa pulang buah hatinya tersebut tanpa menyadari bahaya selanjutnya.

Nice-to-know:
Merupakan remake berjudul sama di tahun 1974.

Cast:
Bijou Phillips sebagai Lenore Harker
James Murray sebagai Frank Davis
Raphaƫl Coleman sebagai Chris Davis

Director:
Karya Josef Rusnak sebelumnya yang paling berkesan bagi saya adalah The Thirteenth Floor (1999).

Comment:
Versi Larry Cohen di tahun 1974? Saya belum pernah mendengarnya tetapi rasanya selalu menarik bagi penggemar horor seperti saya untuk menyimak remake horor klasik pada jaman dimana saya belum lahir. Dari beberapa remake yang saya saksikan rasanya cukup memenuhi standar jaman sekarang. Nyatanya tidak dengan yang satu ini!
Plotnya sendiri memang sudah menggelikan, seorang bayi yang bisa membunuh. Tunggu dulu, apakah bayi itu sudah bisa disebut seorang? Yang pasti saya tidak mau menyebutnya demikian. Kita paparkan apa saja yang dilakukan sang bayi disini, mulai dari membunuh tikus, kucing, penguin, musang hingga orang dewasa! Baiklah, jelas bukan tipikal bayi favorit anda yang menggemaskan dan tidak berdosa. Lantas apa saja yang dilakukan sang bayi dalam menuntaskan misinya? Jawabannya tidak ada! Sepanjang narasi film, penonton hanya digiring untuk menduga-duga "kesadisan" sang bayi lewat serangkaian adegan cepat ataupun cipratan darah. Itupun dibantu oleh efek CGI yang dieksekusi secara kasar mengingat rendahnya bujet. Oh well!
Saya masih terkesan hingga saat ini dengan kinerja Rusnak dalam The Thirteenth Floor dimana saya belum genap 17 tahun pada waktu itu. Jelas salah satu sci-fi terbaik yang pernah saya tonton. Sayangnya Rusnak melakukan eksekusi yang buruk kali ini, diperparah dengan jajaran cast yang terlalu datar, mungkin juga karena skrip buruk yang disodorkan mereka. Saya tidak mampu mengingat satupun sisi positif dari It's Alive yang membuatnya layak ditonton.

Durasi:
80 menit

Asian Box Office:
PHP 6,111,827 till August 2009 in Philippines.

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 31 Januari 2010

CASE 39 : Menangani Kasus Supernatural Bocah Perempuan Bermasalah

Tagline:
Some cases should never be opened.

Storyline:
Pekerja sosial yang khusus menangani anak-anak, Emily Jenkins telah menangani 38 buah kasus yang kesemuanya berhubungan dengan kekerasan dalam keluarga yang merugikan putra/putri mereka. Tibalah file terbaru yang disodorkan bosnya Wayne yaitu Lilith, seorang bocah perempuan 10 tahun yang mengalami rencana pembunuhan oleh kedua orangtuanya, Edward dan Margaret. Merasa kasihan dan dihantui trauma masa kecilnya, Emily nekad mengadopsi Lilith di rumahnya. Perlahan-lahan, kejadian demi kejadian yang sulit dijelaskan terjadi dan bencana mulai menimpa orang-orang di sekeliling Emily termasuk kekasihnya, Doug. Siapa sesungguhnya Lilith dan apa kekuatan yang menguasainya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Paramount Pictures. Saat syuting adegan terbakar, spesial efek yang digunakan di luar kendali dan benar-benar membakar set film yang sudah dibangun termasuk peralatannya. Untungnya tidak ada yang terluka dan syuting dilanjutkan keesokan harinya dengan peralatan yang baru yang dikumpulkan dari berbagai penjuru.

Cast:
Renee Zellweger memulai karir akting secara resmi dalam 8 Seconds (1994) dalam artian namanya tercantum di credit title. Kali ini ia berperan sebagai Emily Jenkins, pekerja sosial simpatik yang cerdas dalam menangani kasus-kasusnya.
Lebih banyak tampil di serial televisi, bintang cilik berusia 16 tahun bernama Jodelle Ferland ini tampil sebagai bocah misterius 10 tahun, Lilith Sullivan.
Terakhir mendukung The Hangover di tahun yang sama, Bradley Cooper bermain sebagai kekasih Emily, Douglas J. Ames.

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Christian Alvart ini menyutradarai film ketiga dan keempatnya di tahun 2009. Selain Case 39 adalah Pandorum yang juga thriller supernatural.

Comment:
Melihat trailernya, saya masih belum menentukan apakah ini thriller psikologis atau horor murni. Nyatanya film ini berjalan di tengah-tengah, sesuatu yang menurut saya unik walau mungkin terkesan tanggung. Plot ceritanya sederhana yang sangat umum, anak adopsi yang bermasalah pada akhirnya. Sepintas mengingatkan kita pada The Orphan yang sangat menggemaskan itu. Beruntung film ini memiliki Zellweger sebagai salah satu castnya. Seperti biasa dia tampil original dan karakternya sangat humanis selayaknya bisa dialami siapa saja dengan reaksi yang juga sangat wajar. Ferland bukanlah Fuhrman yang tampil kuat tetapi cukup memberikan kesan menakutkan dengan tubuh kurus, kulit pucat dan mata besarnya. Alur cerita bergerak sangat lamban terutama di awal film, saya yakin banyak penonton yang menginginkan percepatan di tengah sampai akhir film. Namun sayangnya hal itu tidak terjadi karena adegan-adegannya memang didesain dengan tempo sedemikian rupa untuk menampilkan kejutan demi kejutan yang berusaha disimpan hingga akhir. Pada akhirnya CASE 39 tidaklah berusaha memuaskan pecinta horor karena tampilan wajah iblis hanya muncul beberapa kali tetapi setia dengan pakem thriller psikologis yang selambat kura-kura!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 30 Januari 2010

LEGION : Pertempuran Akhir Peradaban Malaikat dan Manusia

Quotes:
Michael-I knew He'd send you, Gabriel. You were always so eager to please Him.
Gabriel-Unlike you... the rebellious son.

Storyline:
Sebuah resto sekaligus bengkel di tengah perjalanan panjang menyusuri pinggir kota Amerika bernama Paradise Falls tiba-tiba menjadi tempat persinggahan terakhir sekelompok umat manusia yang bertahan hidup. Saat Tuhan kehilangan kepercayaan terhadap umatnya, Ia mengirim sejumlah 'malaikat' berwujud manusia untuk menciptakan kiamat di muka bumi. Saat itulah seorang malaikat bernama Michael membangkang dan memilih untuk menyelamatkan seorang gadis yang tengah mengandung, Charlie beserta kawanannya sebelum benar-benar dimusnahkan kehidupannya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Bold Films dan bersyuting di New Mexico, USA termaasuk Galisteo dan Garson Studios, College of Santa Fe.

Cast:
Pernah tampil mengesankan sebagai antagonis Silas dalam The Da Vinci Code (2006), Paul Bettany disini berperan sebagai Michael, malaikat pembangkang yang lebih memilih berada di sisi manusia.
Lucas Black dan Adrianne Palicki bermain sebagai Jeep Hanson dan Charlie, pasangan manusia terakhir yang mungkin ada di muka bumi jika perjuangan mereka berhasil.
Selain itu juga didukung oleh Dennis Quaid sebagai ayah Jeep dan juga Tyrese Gibson sebagai Kyle Williams.

Director:
Selama ini Scott Stewart boleh dibilang lebih berpengalaman di bidang visual efek film-film besar seperti Iron Man dan salah satu franchise Harry Potter, Pirates of the Caribbean, Die Hard dan Superman.

Comment:
Menyaksikan Legion sedikit mengingatkan kita pada beberapa referensi film seperti The Mist, Dawn Of The Dead, 28 Days Later, End Of Days dsb bahkan Terminator! Familiar dengan judul-judul tersebut? Tema kehancuran dunia yang dikombinasikan dengan unsur agama juga proses bertahan hidup sekelompok manusia dari segala serangan monster-monster haus nyawa. Lantas apa lagi yang coba ditawarkan? Dari segi cast, Paul Bettany jarang sekali mengecewakan dalam film-filmnya. Disini ia masih menunjukkan kharismanya walau sedikit tidak konsisten. Quaid seperti biasa tampil cukup maksimal. Selebihnya sedang-sedang saja. Dari segi sutradara, Stewart boleh dibilang mampu memaksimalkan "penampilan" filmnya walaupun dari segi eksekusi, masih perlu banyak peningkatan. 30 menit pertama film bisa dibilang menjanjikan, karena kita belum tahu apa yang akan disuguhkan. Tetapi setelah kemunculan iblis berwujud nenek dan tukang es krim, thriller ini menjadi sedikit lebih mudah ditebak. Beruntung adegan aksi dan pertarungannya dimaksimalkan sehingga ketegangan dan empati penonton mampu dijaga sampai akhir. Sayangnya endingnya terkesan digampangkan dan cenderung tidak masuk akal di beberapa sisi, takut dianggap propaganda agama sehingga cenderung kontroversial?

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$17,501,625 in opening week Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 29 Januari 2010

18+ : Dinamika Muda Mudi Mempertahankan Cinta

Tagline:
True love never dies

Storyline:
Dua sobat karib, Raka dan Topan memiliki problemanya masing-masing. Topan mencintai Chanisa walau tahu kekasihnya itu mengidap kanker paru-paru yang kronis. Hal tersebut dilakukannya juga sebagai pelarian dari orangtuanya yang sering bertengkar di rumah. Belum lagi gangguan mantan pacarnya, Nayla yang rapuh jiwanya. Sedangkan Raka mengejar Helen sejak perjumpaan pertama walau Helen awalnya menolak akhirnya mereka jadian. Biaya pengobatan yang tinggi mau tidak mau membuat Topan dan Raka memutar otak mencari uang termasuk dari rentenir. Sayangnya keputusan itu malah menyeret keempatnya dalam kronik yang semakin dalam dan sulit terselesaikan.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh PT. Kharisma Starvision Plus dan dilakukan gala premiere di Planet Hollywood

Cast:
Samuel Zyglwyn sebagai Raka
Adipati sebagai Topan
Stevanie Nepa sebagai Chanisa
Leylarey Lesesne sebagai Helen
Arumi Bachsin sebagai Nayla

Director:
Terakhir membesut Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, Nayato Fio Nuala kembali dengan genre serupa yaitu drama remaja yang kelam.

Comment:
Skrip yang ditulis oleh trio Ery Sofid, Eka D Sitorus dan Viva Westi ini sebetulnya cukup solid dari segi tema cerita, hanya saja saya yakin banyak campur tangan dari sang sutradara. Terbukti apa yang disuguhkan pada akhirnya tidak jauh beda dengan karya-karya Nayato sebelumnya termasuk alur lambat, tone warna lembut, lanskap yang sunyi hingga musik hingar bingar (dan kali ini adalah Koil yang dipilih sebagai bintang tamu sekaligus pengisi soundtracknya). Sedikit perbedaan adalah Nayato bermain di sisi maskulinitas kali ini, tidak dari segi feminis sebagaimana biasanya. Kerasnya hidup Raka dan Topan menjadi sorotan utama, dan ditutup dengan ending yang memilukan sekaligus tragis bagi keduanya. Perbaikan? Mungkin, tetapi belum secara keseluruhan. Karakter wanitanya tidak terlalu dominan walau turut memberikan kontribusi. Remaja-remaja tersebut bermain standar dalam artian tidak buruk dan juga tidak bagus-bagus amat. Sayangnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang dibiarkan mengambang tanpa penjelasan yang logis. Ah memang rasanya judul dan poster yang provokatif itu saja cukup memancing calon penonton untuk datang menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 28 Januari 2010

PEMBURU HANTU THE MOVIE : Rumah Berhantu dan Bumbu-Bumbu Umum Sinetron

Tagline:
Dakwah, Doa & Dawa

Storyline:
Dua gadis Bandung, Donna dan Vika yang terobsesi mengembangkan diri sepakat hijrah ke Jakarta dan menempati rumah saudara mereka, Ibu Ranty yang sudah bertahun-tahun dikosongkan. Rumah batu tersebut hanya dijaga oleh Pak Budi dan putranya, Ikhsan. Tanpa diduga, Vika selalu melihat penampakan jin, kuntilanak dsb. Bahkan Ibu Ranty dan Donna seringkali kerasukan dan tidak sadarkan diri pada akhirnya. Lewat rujukan, mereka sepakat memanggil Tim Pemburu Hantu untuk menyelesaikan segala kejadian supernatural tersebut. Apa yang sesungguhnya tersimpan pada masa lalu rumah tersebut?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Citra Baru dan adegan awal dibuka dengan tampilan depan Paris Van Java, Bandung yang ternama itu.


Cast:
Poppy Bunga sebagai Vika
Putri Arifanti sebagai Donna
Farah Hatim sebagai Ibu Ranty
Jenny Cortez sebagai Diana
Tenno Ali
Reza Fahlevi
Randy Tanaya

Director:
Namanya masih terdengar asing karena Pemburu Hantu The Movie ini merupakan debut pertama Alamsyah.

Comment:
Diangkat dari serial televisi ke layar lebar, apa yang bisa dilakukan film ini? Di posternya bahkan mencomot logo Ghostbusters, serial televisi yang tenar di awal 1990an itu. Hm, kita kupas satu persatu. Sejam pertama film ini selayaknya sinetron, cerita klise tentang cinta segitiga. Belum lagi dipadu dengan banyolan-banyolan garing pembantu rumah. Kurang? Penampakan hantu wanita bermake-up tebal dan pucat ditambah dengan suasana remang-remang. Plus ornamen-ornamen yang selayaknya muncul dalam film horor seperti darah dari shower, medium kaca, lintah dsb. Semua dibaur menjadi satu! Sangat simpel dan tidak berarti apa-apa, apalagi jajaran cast yang standar kualitas dan aktingnya. Sutradarapun rasanya belum tau perbedaan film layar lebar dengan layar kaca. Oh ya, ada lagi yang lebih parah, tema pemburu hantu yang harusnya menjadi inti cerita ternyata baru dihadirkan di 10-15 menit terakhir film dengan efek-efek sinar yang biasa diperlihatkan di film silat lokal, bahkan tanpa pertarungan langsung dengan hantu-hantu yang seharusnya mereka tumpas. Haiz. Cukup sudah rasanya jika ingin menyiksa diri anda selama kurang dari satu setengah jam di bangku bioskop.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 27 Januari 2010

SEAMSTRESS : Teror Arwah Penasaran dan Pembunuh Misterius

Tagline:
A million ways to die......this is the worst.

Storyline:
Allie bersama kelima temannya, Jason, Albert, Dina, Lizzie, Paul berlibur ke sebuah pulau terpencil untuk sekaligus mencari ayahnya yang hilang. Tanpa mereka ketahui, di pulau tersebut pernah terjadi penyiksaan dan pembantaian sekelompok orang di Rumah Sakit terbengkalai oleh beberapa oknum. Sejak awal Allie menyadari mereka tidak sendiri, sang pembunuh masih berkeliaran disertai dengan sesosok arwah perempuan yang pernah meninggal disitu dan menuntut balas. Allie pun harus mencari cara untuk meminimalisir korban berjatuhan selain menghentikan teror tersebut.

Nice-to-know:
Keseluruhan syuting dilakukan di British Columbia, Kanada termasuk Roberts Creek sebagai setting pulau terpencil.

Cast:
Lance Henriksen sebagai Sheriff Virgil Logan
Kailin See sebagai Allie Platt
David Kopp sebagai Jason
James Kirk sebagai Albert
Lara Gilchrist sebagai Dina
Sarah Mutch sebagai Lizzie
Richard Stroh sebagai Paul

Director:
Jesse James Miller sebelumnya menggarap 5 episode 4Real di berbagai negara di tahun 2007.

Comment:
Tidak perlu lagi bersusah payah membahas plot cerita horor thriller dewasa ini. Semuanya satu paket dengan pembunuhan misterius terhadap sekelompok muda-mudi di suatu tempat terpencil. Sedikit perbedaan disini adalah adanya latar belakang penyiksaan yang dilakukan dengan sadis. Prolog film dibuka dengan cukup meyakinkan, sedikit mengingatkan pada Saw yang legendaris itu. Tetapi sayang cuma berhenti sampai disitu. Selebihnya audiens hanya disuguhkan kegelapan dan kesepian yang melanda pulau yang menjadi setting tersebut. Dan mulailah perburuan maut terhadap para protagonisnya. Lupa untuk mengatakan disini ada dua kategori antagonis yaitu satu yang hidup dan satu yang telah mati. Kolaborasi menciptakan teror? Bisa jadi!
Jesse Miller terasa kurang berpengalaman dalam memposisikan dirinya sebagai sutradara film layar lebar. Apalagi proses editing yang dilakukannya membuat film ini terasa tercerai-berai seperti potongan adegan puzzle yang hancur. Proses flashback juga tidak membantu pemahaman cerita aamasekali dan bahkan menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Dari jajaran casting sebetulnya tampil cukup natural, di luar faktor Henriksen yang sudah semakin uzur dan tidak diakui lagi eksistensinya di hadapan kamera.
The Seamstress rasanya tidak terlalu pantas disebut film layar lebar, lebih mirip salah satu episode serial televisi Supernatural yang mungkin saja lebih baik dalam bercerita dan menyimpan misteri yang masuk akal.

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
N/A dengan estimasi bujet $1,500,000.

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 26 Januari 2010

THE ECHO : Suara Misterius Apartemen Sebelah

Tagline:
Open the door... I know you're in there.

Storyline:
Dibebaskan dari masa tahanan dengan status percobaan, Bobby Reynolds menempati apartemen tua bekas ibunya yang meninggal disana beberapa waktu yang lalu. Bekerja sambilan sebagai mekanik di bengkel Houston Auto Repair yang dimiliki Hector Rodriguez, Bobby berusaha memperbaiki hidupnya. Termasuk berdamai dengan mantan pacarnya, Alyssa Foldes yang bekerja sebagai pelayan dan juga mahasiswa design. Lambat laun, Bobby mendengar suara-suara aneh di apartemen sebelahnya termasuk argumen antara petugas polisi yang senang menyiksa istri dan putrinya sendiri. Apakah yang didengarnya itu nyata? Peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi?

Nice-to-know:
Merupakan remake dari horor Filipina berjudul "Sigaw".

Cast:
Terakhir tampil gemilang dalam Flags Of Our Father, Jesse Bradford kini memegang peran utama sebagai Bobby Reynolds, mantan napi yang berusaha menata hidupnya kembali.
Kekasihnya Alyssa dimainkan oleh Amelia Warner yang asli Inggris.

Director:
Merupakan debut Hollywood perdana bagi sutradara kelahiran Mindanao bernama Yam Laranas ini.

Comment:
Merupakan perpaduan genre horor dan drama psikologis tanpa banyak kucuran darah, film ini cukup kaya dalam memvisualisasikan ruang sempit sehingga gambar-gambar yang dihasilkan lumayan artistik apalagi didukung dengan atmosfir yang agak menyeramkan. Ceritanya sebetulnya simpel dan tidak banyak eksplorasi. Hal itulah yang menjadikan film ini wajar. Bradford bermain sesuai kapasitasnya, kepala plontos bekas napi serta perangainya yang keras pemberani membuktikan hal itu. Meskipun proyek remake dari karyanya sendiri 4 tahun silam, Laranas tidak gentar dengan aroma Hollywood. Momen horornya dapat dikatakan lumayan walaupun butuh waktu yang cukup panjang untuk membangun suasana tersebut. Jika anda belum pernah menyaksikan versi aslinya "Sigaw", The Echo yang juga memperhatikan konstruksi penceritaannya rasanya akan cukup menarik bagi anda terutama dikarenakan ada twist di endingnya bahwa hantu memang ada di sekitar kita.

Durasi:
90 menit

Asian Box Office:
PHP 2,741,718 (Philippines) till end of Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 25 Januari 2010

NEW YORK, I LOVE YOU : Antologi Romansa Berbagai Sudut Kota New York

Tagline:
Every moment another story begins
.

Storyline:
New York yang dikenal sebagai kota penuh cinta di Amerika Serikat. Atas dasar itulah beberapa kisah cinta dibahas disini dengan berbagai variasi yang belum pernah dibayangkan anda sebelumnya. Perasaan spontan, mengejutkan, menggetarkan menggambarkan hubungan antar manusia yang juga memicu detak jantung kota yang berlangitkan Manhattan yang indah.


Nice-to-know:

Sutradara peraih Oscar, Anthony Minghella meninggal dunia sebelum menyelesaikan segmennya yang akhirnya digantikan oleh Shekhar Kapur. Total syuting adalah 36 hari dan sempat dipertunjukkan secara singkat pada Toronto Film Festival bulan September 2008.

Cast:
Sebagian besar diisi oleh aktor-aktris Hollywood.
Bradley Cooper sebagai Gus (segment "Allen Hughes")
Natalie Portman sebagai Rifka (segment "Mira Nair")
Blake Lively sebagai Girlfriend (segment "Brett Ratner")
Shia LaBeouf sebagai Jacob (segment "Shekhar Kapur")
Ethan Hawke sebagai Writer (segment "Yvan Attal")
Rachel Bilson sebagai Molly (segment "Jiang Wen")
Justin Bartha sebagai Sarah's Boyfriend (Transitions)
Orlando Bloom sebagai David (segment "Shunji Iwai")
Anton Yelchin sebagai Boy in the Park (segment "Brett Ratner")
Hayden Christensen sebagai Ben (segment "Jiang Wen")
Christina Ricci sebagai Camille (segment "Shunji Iwai")
Robin Wright Penn sebagai Anna (segment "Yvan Attal")
John Hurt sebagai Waiter (segment "Shekhar Kapur")
James Caan sebagai Mr. Riccoli (segment "Brett Ratner")
Maggie Q sebagai Call Girl (segment "Yvan Attal")
Andy Garcia sebagai Garry (segment "Jiang Wen")
Chris Cooper sebagai Alex (segment "Yvan Attal")
Julie Christie sebagai Isabelle (segment "Shekhar Kapur")
Shu Qi sebagai Chinese herbalist

Director:
Beberapa sutradara ternama dari berbagai benua seperti Eropa, Asia, Amerika dll turut ambil bagian lewat segmennya masing-masing.
Fatih Akin
Yvan Attal
Allen Hughes
Shunji Iwai
Jiang Wen
Joshua Marston
Mira Nair
Brett Ratner
Randall Balsmeyer
Shekhar Kapur
Natalie Portman

Comment:
Seharusnya bisa lebih variatif dan menjangkau seluruh jenis masyarakat New York yang tengah haru-biru karena problematika cinta tetapi nyatanya tidak. Dari jajaran sutradara sebetulnya menjanjikan, keanekaragaman warna bisa jadi andalan utama. Namun yang ditawarkan sedikit kosong, seperti kertas putih yang belum selesai digambar secara sempurna. Profesionalitas masing-masing sutradara yang sudah banyak makan asam garam terlihat belum mampu membesut secara maksimal termasuk sederetan cast yang mumpuni tetapi seakan mubazir. Hanya Christensen, Bilson, Hawke dan Maggie Q yang cukup "berjiwa" dalam peranannya. Kesalahan utama di durasi filmkah? Kita semua tahu membuat gabungan beberapa film pendek menjadi satu tontonan yang utuh tidaklah mudah. Nyatanya kelemahan skrip dan cerita juga patut dicermati disini. Urutan penyajian cerita juga harusnya mendapat perhatian sehingga jeda antar segmen bisa lebih dimaksimalkan penonton untuk mencerna apa yang baru saja mereka saksikan. Perbedaannya dengan film sejenis yaitu Paris Jet'aime adalah konsep yang tidak lebih abstrak dan style yang lebih berani walau terkesan berantakan. Meskipun kritik yang cukup pedas saya berikan, semoga tidak menghalangi anda menyaksikan New York I Love You. Yang penting jangan berekspektasi terlalu tinggi, siapa tahu anda punya pendapat yang berbeda!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$1,585,859 till Dec 09

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 24 Januari 2010

NINE : Obsesi Sutradara Cari Inspirasi Hidup

Quotes:
Luisa Contini-Thank you. Guido Contini-What for? Luisa Contini-Thank you for reminding me I'm not special. You don't even see what you do to me. Even the moments I think are ours, it's just... you working to get what you want.

Storyline:
Sutradara film yang arogan dan berego tinggi, Guido Contini kesulitan mencari visi dan skrip yang pas untuk film terbarunya yang berjudul Italia. Karya ke-9 nya itu direncanakan akan megah dengan menghebohkan sesuai janjinya pada saat konferensi pers. Seminggu sebelum syuting dimulai, Guido mencoba mencari jawaban dan inspirasi dari wanita-wanita dalam hidupnya termasuk ibu, istr, simpanan, pengasuh dsb. Dan selagi profesinya perlahan-lahan mulai menghancurkan kehidupan pribadinya sendiri, Guido harus menemukan keseimbangan antara menciptakan seni yang baik dan bertahan dari kemauan-kemauan obsesif terdalamnya.

Nice-to-know:
Awalnya peran Guido diberikan untuk Javier Bardem yang juga memenangkan Oscar Aktor Pendukung Terbaik di tahun yang sama dengan Day-Lewis yang menang Aktor Utama tetapi mengundurkan diri di tengah-tengah karena merasa terlalu lelah bermain film. Selain itu, sejumlah aktris cantik tenar seperti Catherine Zeta-Jones, Amy Adams, Anne Hathaway, Sienna Miller, Katie Holmes, Renee Zellweger sempat dikabarkan akan mengisi jajaran cast walau akhirnya batal.

Cast:
Pria kelahiran Inggris 52 tahun yang lalu bernama Daniel Day-Lewis ini adalah satu aktor berkualitas terbukti dengan 2 piala Oscar yang berhasil digenggamnya terakhir dari There Will Be Blood (2007). Kali ini ia bermain sebagai Guido Contini, sutradara sekaligus produser ambisius yang tengah menyiapkan proyek film terbarunya.
Sederetan aktris top berkualitas Oscar juga turut menghiasi film ini mulai dari Marion Cotillard (Luisa Contini), PenƩlope Cruz (Carla), Nicole Kidman (Claudia), Judi Dench (Lilli), Kate Hudson (Stephanie), Stacy Ferguson (Saraghina) dan Sophia Loren (Mamma).

Director:
Rob Marshall pernah mendapat nominasi sutradara terbaik pada ajang Oscar 2003 lewat Chicago (2002). Kali ini 8 tahun berlalu dengan genre serupa, ia kembali dengan bintang-bintang yang lebih variatif.

Comment:
Dapat dikatakan proyek yang ambisius melihat usaha Rob Marshall dalam mengulangi magis yang sama saat menggarap Chicago. Sayangnya Marshall yang terlalu perfeksionis justru terkesan tidak fokus pada penggarapan ceritanya. Gaya teaterikal yang diusungnya memang efektif menampilkan aksi panggung yang sangat menarik termasuk kostum, make-up, lighting, koreografer dll. Lagu-lagunya tidak terlalu outstanding ataupun berlirik tajam, sebagian justru terbantu dengan musik Latin yang dinamis. Dari segi cast jangan ditanya. Day-Lewis menunjukkan improvisasi yang brilian dengan aksen Italia nya. Dari penampil aktris-aktris cantik tersebut, menurut saya Fergie yang paling outstanding dengan bermain pasir dalam tariannya. Sedangkan Cruz teramat seksi, mungkin sepanjang karirnya bermain film. Lain halnya dengan Cotillard yang memiliki penjiwaan dalam sebagai istri yang tersingkirkan. Durasi yang terlalu panjang juga agak mengganggu karena terasa membosankan bagi penonton, terbukti sebagian besar seringkali mengecek jam tangannya atau melongok ponselnya. Alhasil Nine adalah pertunjukan solo para aktrisnya yang sepintas memukau tetapi tidak berdampak apapun pada kualitas film secara keseluruhan yang masih terkesan tercerai-berai. Meskipun demikian film ini dikonstruksikan dengan sangat baik terutama dari segi sinematografi, hanya saja tidak berisi apapun yang bermakna. Kita lihat saja di ajang Oscar beberapa pekan mendatang apakah bisa mengulangi sukses Chicago?

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$18,291,164 till mid Jan 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!