XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 23 Januari 2010

THE BOX : Tombol Satu Juta Dollar Berkonsekuensi Mengerikan

Quotes:
Norma Lewis-You sure do ask a lot of questions.

Walter Lewis-And now you're avoiding them.


Storyline:
Pasangan suami-istri Norma dan Arthur Lewis yang tinggal di pinggir kota bersama putra mereka Walter tiba-tiba menerima hadiah kotak kayu dari seseorang misterius bernama Arlington Steward. Pesannya hanya satu yaitu menerima sejuta dollar apabila dalam waktu 24 jam mau menekan tombol dalam kotak tersebut. Bukannya tanpa konsekuensi, karena aksi tersebut dapat menyebabkan kematian seseorang di suatu tempat di muka bumi yang tidak mereka kenal. Dilema dalam membuat keputusan atas kotak mereka sendiri, Arthur dan Norma harus mempertahankan moral dan kewarasan yang bisa jadi kunci tepat dari semua misteri yang ada.

Nice-to-know:
Film yang mengacu pada referensi angka 13 setidaknya empat kali dalam durasinya ini melakukan keseluruhan syuting di Massachusetts, USA.

Cast:
Tampil serius dalam 2 filmnya di tahun 2009 termasuk My Sister's Keeper, Cameron Diaz disini bermain sebagai Norma Lewis, seorang istri yang mengalami cacat kakinya.
Angkat nama lewat beberapa serial televisi tahun 1990an termasuk The Nanny, James Marsden kebagian karakter Arthur Lewis, salah satu jenius pekerja NASA.
Baru saja dinominasikan sebagai Aktor Pendukung Terbaik di ajang Oscar lewat Frost/Nixon (2008), Frank Langella memerankan tokoh antagonis misterius, Arlington Steward.

Director:
Sutradara muda usia 34 tahun bernama Richard Kelly ini mengawali karirnya sekaligus penulis cerita The Goodbye Place (1996). The Box adalah film kelimanya.

Comment:
Kata yang paling pas mewakili film ini adalah MEMBINGUNGKAN! Menit-menit awal kita diajak mengenal pasangan Lewis dan kondisi kehidupan lingkungan sekitar mereka yang bisa dikatakan janggal. Gaya yang sama yang dipakai sang sutradara selayaknya Donnie Darko dan Southland Tales sehingga tidak heran jika sebelum satu jam, beberapa penonton sudah angkat kaki. Sisanya yang bertahan hanya termangu di kursi dan tidak menyadari samasekali apa yang baru saja mereka saksikan selama hampir dua jam duduk di dalam bioskop! Saya hanya menangkap sekitar 35% dari inti cerita yang ditawarkan, itupun hanya berupa interpretasi yang tidak pasti. Berterima kasihlah pada kinerja Langella yang menciptakan karakter mengerikan dan juga Marsden yang tertekan dengan semua fakta yang mungkin saling terkait. Diaz nanti dulu, sulit menyaksikannya bermain serius. Kelly selaku pengeksekusi cukup berani mengambil resiko dengan tampil beda menggunakan visi kreatif dalam menerjemahkan cerita yang juga unik. Jika anda hanya mencari hiburan semata, jauhi film ini yang jelas-jelas mengutamakan elemen-elemen film yang dalam, kaya, kompleks dan mampu memprovokasi hal-hal spiritualisme, ekstensialisme dan fenomena alam. Pesan saya, berdiskusilah dengan teman nonton anda setelahnya! Jangan lupakan kata-kata Tuan Steward sebagai berikut: "Your house is a box which you live in. The car that you drove to work is a box, on wheels. When you return home from work you sit in front of a box with moving images. You watch until the mind and soul rots and the box that is your body deteriorates, when finally you are placed into the ultimate box... to rest under the soil and earth."

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$14,961,931 till Dec 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 22 Januari 2010

JEJAK DARAH : Pengguguran Kandungan Malpraktek Kosmetik

Storyline:
Mischa dan Jessica bersahabat sejak SMA. Masalah mulai muncul saat Mischa merahasiakan kehamilannya akibat perbuatan pacarnya Reno dan meminta Jessica mengantarnya ke suatu klinik dan tidak kembali lagi. Beberapa waktu kemudian, Mischa ditemukan tewas di kamar kosnya. Lima tahun setelah kejadian itu, Jessica mulai mengalami kejadian supernatural dimana arwah seorang gadis cilik terus menguntitnya mulai dari rumah sampai kantor. Dalam kepanikannya, Jessica bertemu kembali dengan Reno yang sudah bekerja sebagai fotografer pernikahan. Berdua mereka mengenang masa lalu dan mulai mengumpulkan petunjuk demi petunjuk atas apa yang terjadi pada Mischa dahulu. Siapakah arwah gadis kecil tersebut dan apa tujuannya?

Nice-to-know:
Diangkat dari novel best seller karangan Chris X alias Chris Santosa.

Cast:
Debut layar lebar pertama bagi Mentari langsung mendapat peran utama sebagai Jessica, gadis paranoid yang diganggu penampakan setelah kematian sahabat dekatnya beberapa tahun lalu.
Setelah beberapa kali terakhir bermain komedi, Dimas Aditya terjun ke horor kembali sebagai Reno yang berusaha tegar setelah kematian misterius mantan pacar yang dicintainya.
Pernah mendukung Lawang Sewu (2008), Thalita Latief tampil sekilas di awal film sebagai Mischa.
Tokoh antagonis diperankan oleh aktor kawakan Robby Tumewu sebagai dokter malpraktek.

Director:
Namanya masih terdengar asing karena Jejak Darah merupakan debut pertama Nur Hidayat.

Comment:
Novelnya yang cukup terdengar di kalangan pembaca karena dicetak ulang berkali-kali mungkin satu-satunya daya tarik film ini. Jajaran cast sebetulnya cukup bisa diandalkan. Namun pemasangan nama Mentari sebagai tokoh utama bisa dibilang cukup berjudi. Penjiwaannya dengan ekspresi ketakutan masih terlalu datar dan kurang meyakinkan. Tapi itu tidak sepenuhnya kesalahan dia karena skrip pun tidak mendukung. Konseptual cerita yang sebetulnya menarik menjadi tidak spesial sama sekali saat diformat dalam film layar lebar. Alur ceritanya berjalan lambat dengan pengadeganan yang sangat monoton sehingga penonton akan merasa cepat bosan. Hal ini mungkin juga disebabkan faktor sutradara yang kurang berpengalaman dalam memaksimalkan segala potensi yang ada. Isu penggunaan janin/plasenta bayu untuk bahan dasar produk kosmetik memang sudah didengungkan bertahun-tahun silam, sayangnya Jejak Darah kurang tepat mengetengahkannya. Apalagi tanpa promosi yang memadai dan kemunculan tiba-tiba di tengah slot film lokal yang berbagai macam rasanya tidak heran jika film ini akan flop di pasaran.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 21 Januari 2010

RUMAH DARA : Pembantaian Sadis Sekeluarga Psikopat

Tagline:
Horor menemukan seorang ibu

Storyline:
Sambil menantikan kelahiran anak pertamanya, pasangan suami istri muda, Adjie dan Astrid sepakat pergi ke Bandung bersama tiga temannya, Alam, Jimi dan Eko sekaligus usaha Adjie untuk mencoba berdamai dengan adik kandungnya, Ladya selepas kematian kedua orangtua mereka. Pertemuan terakhir sebelum Adjie berangkat ke Sydney tersebut mulai terganggu saat mobil yang mereka tumpangi dihadang oleh seorang gadis yang tengah labil paska dirampok bernama Maya. Mencoba berbaik hati, Adjie dkk mengantarkan Maya ke rumahnya dimana mereka bertemu dengan ibu Maya yang misterius, Dara dan juga saudara kandungnya, Adam. Perjamuan makan malam berbuntut ketidaksadaran masing-masing pun bisa jadi mimpi buruk terakhir mereka di dunia.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Merah Production yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan film asing kecil sehingga terwujudlah versi panjang Rumah Dara yang sudah ditunggu-tunggu ini.

Cast:
Shareefa Danish berhasil memenangkan predikat Aktris Terbaik dalam Puchon International Fantastic Film Festival 2009 lewat peran ibu muda bernama Dara yang sadis misterius ini.
Julie Estelle yang beken lewat trilogi Kuntilanak kali ini didapuk sebagai Ladya, gadis muda yang berusaha bangkit dari trauma kematian orangtuanya.
Arifin Putra dan Imelda Therinne bermain cukup meyakinkan sebagai Adam dan Maya, kakak beradik psikopat.
Ario Bayu dan Sigi Wimala kebagian karakter suami istri Adjie dan Astrid yang tengah hamil tua.
Jangan lupakan penampilan VJ Mike Lucock, Daniel Mananta dan komedian Aming.

Director:
The Mo Brothers yang terdiri dari Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel sebelumnya dipuji saat mengarahkan dua film pendek yang bergenre thriller yakni Sendiri (2003) dan Dara (2007).

Comment:
Beberapa tahun lalu, sebuah film pendek berjudul Dara yang diputar di iNafff sempat menghebohkan penikmat film nasional dan sempat menjadi bagian penutup film antologi keroyokan, Takut (The Faces of Fear). Tuntutan untuk dikembangkan menjadi film panjang pun terus bermunculan hingga akhirnya duet muda kreatif The Mo Brothers sepakat menggarap skenarionya dengan matang. Hasilnya? Selama 95 menit anda akan dicekam oleh kengerian dan ketegangan sekaligus. Dari segi cast, semuanya merupakan nama-nama tenar di perfilman tanah air dan tampil cukup baik terutama Shareefa yang outstanding dimana bahasa tubuh, ekspresi dan intonasinya sangat meyakinkan sebagai seorang psikopat yang terganggu jiwanya. Inilah slasher thriller lokal sejati karena menggunakan darah yang melimpah dan penuh dengan adegan sadis lewat beberapa instrumen seperti pisau lipat, pisau dapur, pedang, senapan hingga gergaji listrik! Tak bisa dipungkiri, film ini banyak mendapat inspirasi dari genre sejenis asal Thailand ataupun Hollywood, tetapi tidak apa sejauh Dara direncanakan dengan penuh perhitungan. Dengan intensitas tinggi yang terus memuncak sampai endingnya, alhasil anda mungkin akan gemas dan deg-degan sekaligus di bangku bioskop seperti halnya yang dialami sebagian besar penonton saat saya menyaksikannya. Thumbs up!

Durasi:
95 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 20 Januari 2010

14 BLADES : Membekuk Pengkhianat Pasukan Pengawal Kaisar

Tagline:
An elite force above the law licensed to kill!

Storyline:
Dinasti Ming, Pasukan Elite Pengawal Kaisar yang bernama Jin Yiwei anggotanya direkrut dari anak-anak jalanan yatim piatu untuk kemudian dilatih bermacam-macam ilmu bela diri baik dengan/tanpa senjata. Masing-masing dari mereka dibekali 14 pisau yaitu 8 untuk menyiksa, 5 untuk membunuh dan 1 yang terbuat dari emas untuk bunuh diri jika gagal dalam tugas.
Masalah mulai timbul saat Pangeran Qing memberontak dan bekerjasama dengan kasim Jia Jingzhong lalu menjebak pemimpin Jin Yiwei yakni Qing Long untuk merebut sebuah kotak rahasia yang disimpan pejabat istana Zhao Shenyan. Apa sesungguhnya isi kotak tersebut? Bagaimana Qinglong menghadapi musuh tak terlihat yang membayangi dirinya?

Nice-to-know:
Reuni kedua Vicky dan Donnie setelah Painted Skin walaupun disana Donnie hanya kebagian peran pendukung saja.

Cast:
Donnie Yen sebagai Green Dragon / Qing Long
Vicky Zhao Wei sebagai Hua Qiao
Wu Chun sebagai Judge
Kate Tsui sebagai Tuo Tuo
Qi Yuwu sebagai Wu Xuan
Sammo Hung Kam-Bo sebagai Prince Qing
Damian Lau sebagai Zhao Shenyan
Law Kar-Ying sebagai Jia Jing Zhong
Wu Ma sebagai Jiao Zhong
Chen Kuan Tai sebagai Water Moon Monk

Director:
Daniel Lee sebelum ini menggarap Three Kingdoms: Resurrection of the Dragon (2008).

Comment:
Sebagian besar plot cerita berfokus pada karakter yang diperankan keduanya dalam memperjuangkan apa yang diangggap benar sekaligus percikan-percikan api di antara mereka.
Donnie sebagai Qing Long merupakan pilihan tepat, ia memperlihatkan emosi yang baik sebagai seorang pemimpin yang terluka karena dikhianati tetapi harus terus berjuang. Satu adegan yang memperlihatkan tato di bagian atas tubuhnya yang terpahat dengan baik juga semakin mempertegas ketangguhannya. Vicky sebagai Hua Qiao tidak jauh berbeda dengan apa yang dipertontonkannya dalam Mu Lan dan jujur tipikal pejuang wanita yang dibawakannya selalu menarik di mata saya. Pendatang baru Kate Tsui juga patut diperhitungkan disini, aura pembunuhnya sangat kuat dengan ekspresi yang datar dan dingin. Masih banyak nama-nama tenar di luar ketiga tersebut di atas yang juga perform sesuai standar yang dibutuhkan.
14 pisau yang dijadikan judul film dikatakan memiliki keunikan masing-masing tetapi sayangnya tidak akan kita lihat disini karena ini bukanlah film superhero. Yang cukup dominan dipertunjukkan adalah pisau milik Qing Long yang tersimpan dalam kotak panjang yang kokoh sekaligus berfungsi sebagai senjata pamungkasnya. Adegan pertarungannya memang cukup dominan tapi tidak digarap dengan detail yang jeli, hanya terbantu dari settingnya yang dikonsep dengan indah dari satu tempat ke tempat yang lain. Thumbs up bagi sutradara Daniel Lee yang memaksimalkan spesial efek tanpa harus terlihat palsu.
14 Blades bukanlah film sempurna dengan rating yang bagus seperti IP Man ataupun Bodyguards and Assassins tetapi tetap sebuah suguhan yang menghibur dan tidak basi walaupun elemen-elemen dalam film sudah berulangkali ditayangkan dalam berbagai versi. Tentunya faktor kecemerlangan Donnie dan Vicky serta kinerja desainer kostum yang gemilang menjadi nilai plus tersendiri disini.

Durasi:
115 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 19 Januari 2010

DESCENT PART II : Kembali Terjebak Di Gua Pemangsa

Quotes:
Vaines-What are those things?
Juno-Death.

Storyline:
Regu penyelamat berpengalaman diantaranya Dan, Greg dan Cath mencari enam wanita yang hilang di gua pegunungan Appalachian. Sementara itu seorang pengemudi truk menemukan Sarah yang terluka dan amnesia karena shock dan dibawa ke RS Hyett County. Sheriff Vaines mencurigai Sarah membunuh kelima temannya sehingga memutuskan melakukan pencarian lagi ke Gua Boreham bersama wakilnya Rios dan regu penyelamat yang dipimpin Dan itu. Seiring perjalanan ke dasar bumi, perlahan-lahan ingatan Sarah kembali dan memicu kepanikan tim ekspedisi tersebut yang menyebabkan kelongsoran. Kini mereka harus mencari jalan keluar di dalam kegelapan sambil memerangi mimpi buruk Sarah sekali lagi.

Nice-to-know:
Syuting kebanyakan dilakukan di Inggris dan Skotlandia termasuk Taman Ashridge dan Hutan Bourne.

Cast:
Dua pemeran utama wanitanya, Shauna Macdonald dan Natalie Jackson Mendoza melanjutkan peran mereka di tahun 2005 sebagai Sarah Carter dan Juno Kaplan.
Krysten Cummings sebagai Ellen Rios
Douglas Hodge sebagai Dan Shephard

Director:
Film Descent Part II ini menjadi debut penyutradaraan Jon Harris setelah menjadi editor prekuelnya di tahun 1995.

Comment:
Sebuah film indie buatan Inggris di tahun 2005 berjudul The Descent di luar dugaan menjadi hit di bioskop Indonesia dan bertahan cukup lama di beberapa layar. Saya ingat menyaksikan midnight show di Plaza Senayan studio 5 pada waktu itu tanpa ekspektasi apapun tetapi pada akhirnya cukup puas karena ketegangan yang dihadirkan sepanjang film.
Tibalah sekuelnya 4 tahun kemudian dan masuk lewat jaringan Blitz Megaplex. Prolog film langsung melanjutkan apa yang menjadi ending prekuelnya. Semua digiring kembali ke TKP yang mengerikan itu. Lantas adakah hal baru yang ditawarkan? Rasanya tidak. Semua sudah bisa ditebak kemana jalur cerita menuju. Sedikit twist di ending coba dilakukan meski tidak mampu membuang kebiasaan thriller serupa. Sebagai sebuah sekuel, Descent Part II ini tidaklah terlalu mengecewakan karena beberapa scene masih menawarkan kejutan, kengerian, kesadisan, darah bercucuran yang cenderung bisa dinikmati pecinta film genre ini. Hanya saja kelemahan karakterisasi yang dibangun tidak berhasil membuat audiens peduli pada nasib para tokohnya meskipun chemistry Sarah dan Juno sedikit mengalami pengembangan yang berarti. Sepertinya minim pengalaman sutradara Harris cukup berpengaruh disini. Hm, semoga saja tidak ada part ketiganya di masa mendatang apalagi jika melakukan pengulangan yang itu-itu saja tanpa menyadari pengurangan aspek plus sebuah thriller yang baik.

Durasi:
90 menit

U.K. Box Office:
£674,550 till early Jan 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 18 Januari 2010

MARGOT AT THE WEDDING : Dua Saudari dan Rahasia Pahit Keluarga

Quotes:
Claude-Did she poop in her pants? Margot-It happens to everyone, not just babies. It will happen to you too someday.

Storyline:
Potongan kehidupan berkeluarga yaitu saudari, suami, anak-anak, sejarah, rahasia dan kecemburuan! Margot dan bocah remaja kecilnya, Claude berangkat dari Manhattan menuju Long Island tempat kelahirannya ditemani saudari perempuannya, Pauline dan anak perempuannya. Kedatangan Margot didasarkan pada pernikahan kedua Pauline dengan Malcolm yang pecundang dalam minggu ini. Diskusi keluarga antar kedua saudari tersebut diteruskan Margot pada putranya. Ketidaksukaan Margot pada Malcolm semakin jelas terlihat dan merendahkannya. Akankah pada akhirnya Margot memberikan restu yang tulus pada Pauline?

Nice-to-know:
Awalnya berjudul "Nicole at the Beach" sebagai penghormatan kepada Eric Rohmer. Namun saat Nicole Kidman bermain, judul pun berubah.

Cast:
Sebelum ini tampil dalam proyek remake bersama Daniel Craig yaitu The Invasion, Nicole Kidman berperan sebagai Margot, orangtua tunggal yang membesarkan putranya Claude yang dimainkan oleh Zane Pais.
Tokoh pasangan yang akan menikah yakni Malcolm dan Pauline diberikan pada duo J, Jack Black dan Jennifer Jason Leigh.

Director:
Pria kelahiran New York bernama Noah Baumbach ini terakhir mengarahkan film kelimanya yaitu The Squid and the Whale (2005).

Comment:
Totalitas akting membuat Kidman, Jason Leigh dan Black sempat tinggal bersama dalam satu atap untuk benar-benar masuk dalam karakter mereka sebagai anggota keluarga kelas menengah dengan problemnya masing-masing. Potret dua saudari Kidman dan Jason Leigh sepintas benar-benar serupa satu sama lain dengan pemikiran yang kompleks. Black juga memiliki interpretasi yang unik dengan karakternya. Sang sutradara juga sedikit mengangkat isu incest, pedofilia dalam keluarga. Ia boleh dibilang berhasil menerjemahkan kedalaman tema menjadi skrip yang tajam dengan beberapa esensi yang kuat di dalamnya. Dikategorikan sebagai drama komedi hitam tetapi film ini sangat berat untuk dinikmati. Walaupun ceritanya simpel tetapi memiliki kedalaman sendiri terlebih jika anda memikirkannya sebagai sebuah renungan setelah menontonnya. Endingnya tidak menawarkan kesimpulan apa-apa tetapi interpretasi anda sendirilah yang akan menjelaskannya. Jelas bukan film yang bisa dinikmati khalayak umum begitu saja karena rumit dan membosankan.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$1,959,420 till Jan 2008

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 17 Januari 2010

DID YOU HEAR ABOUT THE MORGANS? : Perlindungan Saksi Bagi Pasangan Di Ambang Perceraian

Quotes:
Paul Morgan-Lucky I booked ahead and got the table next to the mayonnaise.


Cerita:
Kesuksesan karir masing-masing tidak membuat Paul dan Meryl Morgan dapat mempertahankan pernikahan mereka. Seminggu sekali, mereka harus menemui konseling rumah tangga. Hingga pada suatu malam, tanpa sengaja keduanya memergoki pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Clay Wheeler. Demi melindungi saksi, kepolisian Manhattan memutuskan untuk mengasingkan mereka ke kota kecil Wyoming untuk sementara waktu sampai pembunuhnya tertangkap. Namun keterbatasan teknologi dan akses informasi menyulitkan Paul dan Meryl dalam bertransaksi. Kedekatan mereka kembali pun tak bisa dipungkiri. Akankah pada akhirnya pasangan Morgan tersebut bisa rujuk sekaligus terbebas dari ancaman pembunuhan?

Nice-to-know:
Setting kota Wyoming dilakukan di Mexico City termasuk ranch di Pecos dan bagian endingnya di rodeo area yaitu Galisteo.


Cast:

Memulai karir akting di usia 22 tahun lewat peran kecil dalam Privileged (1982), Hugh Grant disini bermain sebagai Paul Morgan yang selalu setuju terhadap apapun juga.

Terkenal lewat peran Carrie Bradshaw di serial televisi sukses, Sex and the City (1998-2004), Sarah Jessica Parker memerankan Meryl Morgan atau Meryl Foster yang perfeksionis di berbagai bidang.
Memegang tokoh antagonis Clay Wheeler adalah Sam Elliott. Sedangkan suami istri yang membantu pasangan Morgan adalah Vincenzo Amato dan Natalia Klimas sebagai Girard dan Monique Rabelais.


Director:
Ketiga kalinya pria kelahiran New York 50 tahun lalu bernama Marc Lawrence ini bekerjasama dengan Hugh Grant setelah sebelumnya menggarap Music and Lyrics (2007).


Comment:
Plotnya sebetulnya menarik tetapi digarap dengan ala kadarnya. Berapa banyak film yang pernah mengangkat tema orang kota kelas atas yang berusaha menyesuaikan hidup di pedesaan? Juga pasangan suami istri yang memiliki masalah perkawinan dan mencoba rujuk kembali? Atau saksi pembunuhan yang berbalik menjadi target? Familiar bukan? Hal-hal itulah yang diketengahkan Did You Hear About The Morgans? Yang menjual disini hanyalah castnya. Jessica Parker tampil sebagaimana biasanya dengan pesona wanita karier sukses yang memiliki masalah cinta. Namun tidak demikian dengan Grant yang sepertinya tampil penuh tekanan sejak awal film. Alhasil chemistry diantara keduanya terasa dipaksakan apalagi didukung oleh dialog-dialog yang sangat tidak mendukung. Ide utama tentang perlindungan saksi hanya berhembus di menit-menit awal dan disambung di menit-menit akhir! Apalagi ini adalah jaman modern, bukan jaman dahulu dimana perburuan kejahatan masih begitu merepotkan. Tidak ada yang spesial dari film ini, hanya komedi romantis yang dapat diterka awal hingga akhirnya begitu saja. Beberapa elemen humor yang coba disisipkan juga tidak banyak membantu. Sayang sekali!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$28,346,423 till beginning of Jan 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 16 Januari 2010

THE SPY NEXT DOOR : Agen Rahasia Sahabat Anak-anak

Quotes:
Bob Ho-If a man marries you, he marries all four of you.
Gillian-Don't forget the pig, the cat, and the turtle.

Storyline:
Sudah lama Bob Ho berkencan dengan tetangganya, Gillian yang memiliki 3 orang anak masing-masing Farren, Ian dan Nora. Sayangnya ketiganya tidak menyukai Bob lebih karena takut ditinggalkan Gillian. Tanpa mereka tahu, Bob adalah seorang agen rahasia Cina yang diutus CIA untuk menghentikan Poldark sebagai tugas terakhirnya. Saat Bob berencana melamar Gillian dan menjalani hidup tenang, Ian tanpa sengaja mengunduh formula super rahasia dari komputer Bob. Poldark yang bebas dan bekerjasama dengan kawanan mafia Rusia kembali ke kehidupan Bob yang harus pontang-panting menyelamatkan calon ketiga anak tirinya yang nakal itu di luar pengawasan ibunya.

Nice-to-know:
Dikarenakan judul serupa sudah pernah digunakan setidaknya dalam dua judul sebelumnya, tim produksi mensponsori kontes manipulasi foto di Worth 1000 untuk menghasilkan imej realistis dari dunia yang dikuasai agen rahasia,

Cast:
Terakhir bermain dalam produksi Cina, The Founding of a Republic (2009), Jackie Chan disini didaulat sebagai Bob Ho, agen rahasia CIA yang harus menghadapi tiga anak bandel calon istrinya
Amber Valletta sebagai Gillian
Madeline Carroll sebagai Farren
Will Shadley sebagai Ian
Alina Foley sebagai Nora
Magnús Scheving sebagai Poldark (as Magnus Scheving)
Billy Ray Cyrus sebagai Colton James
George Lopez sebagai Glaze


Director:
Brian Levant boleh dibilang sutradara spesialis film keluarga segmentasi anak-anak. Layar lebar pertamanya adalah Problem Child 2 (1991) yang disusul dengan Beethoven (1992).

Comment:
Film dibuka dengan potongan klip sepia dari film-film lawas Jackie Chan baik dari Hongkong maupun Hollywood, mungkin untuk mengingatkan saja betapa karir Jackie yang sudah cukup panjang. Atau sebagai excuse jika ia banyak memakai jasa stuntman dikarenakan usia yang sudah semakin menua ataupun gerakannya yang melambat? Mungkin saja. Premis film ini mengingatkan kita pada The Pacifier yang menjual nama Vin Diesel. Banyak kemiripan tetapi Jackie bukanlah Vin, setidaknya style mereka sangat berbeda.
Plotnya bisa diduga, Bob dan Gillian yang jatuh cinta dan harus menghadapi kenakalan ketiga anak janda tersebut sekaligus memerangi musuhnya sendiri di situasi yang serba terjepit. Beruntung Jackie tidak terlalu mengumbar aksinya disini di tengah keterbatasan fisiknya. Ditambah dengan aksesoris kacamata, wajahnya benar-benar terlihat nerdy. Sayang chemistrynya dengan Valetta terasa sangat dipaksakan dan berbagi scene hanya di awal dan akhir saja. Carroll, Shadley, Foley bermain cukup natural walaupun sedikit komikal. Karakter protagonis disini bisa dikatakan tidak penting dan hanya sebagai pelengkap saja.
Beruntung sutradara Levant sangat "paham" formula film keluarga yang fasih dan audience-friendy sehingga The Spy Next Door cukup berhasil sebagai film penghibur keluarga terutama anak-anak yang menjadi target utamanya. Semua adegan aksi beraksen humor yang ditampilkan memang terasa over-the-top and not-so-important tetapi percayalah itu akan cukup menghadirkan tawa asal buang jauh-jauh dahulu ekspektasi anda sebelum menyaksikan film ini.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$24,268,828 till March 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 15 Januari 2010

SSH.. JADIKAN AKU SIMPANAN : Kursus Menjadi Gadis Simpanan Kelas Satu

Storyline:
Hobinya berbelanja membuat Pamela kesulitan menentukan masa depannya dengan profesi bergaji tinggi. Bertekad menjalani casting bersama sahabat setianya Gino, Pamela malah kebagian peran pengganti kuntilanak dan syuting di malam hari. Lewat temannya Gino, Pamela akhirnya dikenalkan oleh Miss Tisya, ketua perkumpulan Mekar Sari. Perkumpulan yang mendidik gadis-gadis untuk menjadi wanita simpanan yang mandiri termasuk Nining yang sudah senior dan Angel yang juga seorang pemula. Akhirnya Pamela pun bertekad menjalani latihan demi latihan hingga ia lulus. Namun apakah itu yang sesungguhnya diinginkan hati nuraninya?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh perusahaan lawas, PT Virgo Putra Film yang bersetting di sebuah rumah mewah yang megah dan juga beberapa mall ternama di Jakarta seperti Pacific Place dll.


Cast:
Tampil beda dari biasanya seperti perannya dalam LoVe (2008), Acha Septriasa didaulat sebagai Pamela, gadis lugu yang akan melakukan apapun untuk bisa hidup mewah.
Terakhir bermain dalam Jeritan Kuntilanak, Julia Perez disini menjabat sebagai wanita simpanan nomor satu perkumpulan Mekar Sari yang menguasai segala trik.
Zidni Adam memerankan Gino, cowok polos yang diam-diam mencintai sahabatnya sendiri.
Penampilan Ayu Azhari sebagai wanita simpanan senior, Nining turut menyegarkan suasana film ini.

Director:
Terakhir menggarap The Real Pocong yang cukup apik itu, Hanny R Saputra kali ini bereksperimen dengan drama komedi ringan yang bisa diikuti siapa saja yang sudah cukup umur tentunya karena banyak adegan dewasa di dalamnya.

Comment:
Dua pertiga film ini bisa dikatakan bergaya slapstick. Mengapa? Tema wanita simpanan yang cukup sensitive disajikan dengan fun dan kocak, lengkap dengan suara-suara binatang terutama ringkikan kuda sebagai impersonisasi adegan bercinta. Dari segi cast, Jupe lah yang paling menguasai layar. Penampilannya sebagai wanita seksi yang menggoda bisa dibilang yang terbaik sepanjang karir aktingnya. Lihat saja bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya terasa sensual walau tetap dalam batas kewajaran. Sedangkan Acha terasa kurang pas sebagai gadis yang ‘bertransformasi’ karena secara fisik, tidak ada perubahan berarti yang bisa dilakukannya. Sang sutradara sedikit banyak terpengaruh oleh film-film Hollywood yang memanjakan wanita dengan fashion sehingga mood film cukup terbantu. Sayangnya kepiawaiannya menggarap genre horor, malah berusaha dibawa kesini. Alhasil beberapa scene lengkap dengan background musiknya “cukup menyeramkan” walau sebetulnya sangat tidak diperlukan. Pada akhirnya Ssh.. Jadikan Aku Simpanan hanya terbatas pada hiburan belaka yang bisa ditertawakan dengan sedikit pesan moral. Kekurangannya hanya di logika karakterisasinya, tidak didukung oleh motif yang jelas ataupun masuk akal dalam melakukan itu semua.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 14 Januari 2010

TOILET 105 : Misteri Hilangnya Siswi dan Toilet Sekolahan

Tagline:
Semua toilet ada penunggunya..

Storyline:
Tiga sekawan yang juga playboy SMU Bina Persada masing-masing Okta, Ical dan Rio terang-terangan mendekati Marsya, siswi baru pindahan dari Perancis. Padahal Okta sudah memiliki pacar, Viola dan ganknya yang juga suka menindas anak-anak baru. Wakil kepala sekolah, Ibu Endang berulangkali mengingatkan siswa-siswinya untuk menerima Marsya dan dibantu suaminya, Pak Wahyu yang juga seorang guru bimbingan. Keluguan Marsya membuatnya sering terlibat masalah tetapi ada satu yang mengganggunya yaitu penampakan hantu siswi di toilet sekolah. Apa hubungannya dengan menghilangnya Adelia beberapa waktu yang lalu? Rahasia apa yang sesungguhnya disembunyikan?

Nice-to-know:
Diproduksi MVP Pictures yang awalnya berencana tayang bulan November 2009 yang lalu tapi mengalami penundaan beberapa saat. Lokasi sekolah pada umumnya dan toilet pada khususnya menjadi setting utama film ini.

Cast:
Ricky Harun
kembali dengan tipikal peranannya yaitu siswa playboy mesum Okta, tidak jauh dari apa yang diperlihatkannya di dua sekuel Pulau Hantu.

Pendatang baru Coralie Gerald didapuk sebagai Marsya, siswi pindahan dari Perancis yang lancar berbahasa Indonesia-Inggris selayaknya Cinta Laura.
Suami istri guru, Wahyu dan Endang diperankan Indra Birowo dan Suty Karno yang sudah lama menghilang dari perfilman nasional.
Jangan lupakan cameo Aming di awal dan akhir film sebagai satpam sekolah.

Director:
Terakhir membesut horor erotis Darah Perawan Bulan Madu (2009), Hartawan Triguna kali ini mengangkat horor komedi yang diangkat dari novel remaja berjudul sama.

Comment:
Tema klise yang digarap dengan sentuhan yang begitu-begitu saja. Itulah kesan yang muncul sejak awal menyaksikan Toilet 105. Dari segi penokohan dan karakterisasi terasa serba tanggung. Tanpa mengeksplorasi tokoh Marsya yang harusnya kesulitan menyesuaikan budaya dari Eropa ke Asia. Trio Okta, Ical dan Rio yang harusnya bersinergi menciptakan kekonyolan juga tidak dimaksimalkan. Peran guru dan aktifitas di sekolah juga terkesan ala kadarnya. Alhasil skenario yang pas-pasan menjadi semakin miskin tanpa improvisasi yang cukup yang seharusnya dilakukan sutradara. Unsur horror juga diperlihatkan lewat make-up dan seragam SMU yang berdarah-darah saja berikut spesial efek sederhana yang dibantu oleh lighting, tidak menyeramkan sama sekali. Keseluruhan isi cerita dan arah filmpun bisa ditebak penonton dengan mudah. Satu-satunya yang mungkin menjadi kelebihan film ini adalah setidaknya mencoba bercerita dengan runut. Ohya angka 105 di judul film ini sebetulnya tempelan belaka. Silakan anda tebak sendiri maknanya setelah menonton film ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average

7.5-average n enjoyable

8-good
8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!