Quotes:
Kate Walker-I'm not gonna do it, because it'll hurt! Sometime or other there'll be, you know "It's not working." or "I need my space." or whatever it is and it will end and it will hurt, and I won't do it.
Cerita:
Pekerja iklan komersial, Harvey Shine mengambil cuti dari kesibukannya untuk menghadiri pernikahan putrinya, Susan di London sekaligus bertemu mantan istrinya, Jean yang sudah menikah kembali dengan Brian. Berat hati Harvey harus mengakui bahwa kehadirannya tidak terlalu diharapkan. Nasibnya tidak bertambah baik saat bosnya di New York tiba-tiba memecatnya karena tertinggal pesawat. Dalam kegalauannya, Harvey bertemu wanita menarik yang bekerja di maskapai penerbangan, Kate Walker. Pertemuan singkat itu terus berlanjut dan menghadapkan Harvey pada kesempatan langka dalam seumur hidupnya.
Gambar:
Hampir semua berlokasi di London termasuk Belsize Park dan Green Park tempat pertemuan Harvey dan Kate serta London Heathrow Airport tempat Kate bekerja membawa nuansa alami yang menggambarkan suasana hati mereka dalam kesehariannya.
Act:
Aktor kelahiran tahun 1937, Dustin Hoffman mengawali karirnya di dunia televisi yang membawanya pada film layar lebar pertamanya, The Tiger Makes Out (1967). Selang waktu 40 tahun kemudian, ia menjadi aktor senior Hollywood yang diakui kharismanya termasuk berperan sebagai Harvey Shine, pekerja iklan komersial yang harus menghadapi dilema saat berangkat ke Inggris Raya.
Aktris kelahiran 1959, Emma Thompson selayaknya Dustin memulai akting dalam beberapa serial televisi hingga debut pertamanya dalam The Tall Guy (1989). Salah satu aktris senior Inggris yang sukses di Hollywood ini bermain sebagai Kate Walker, wanita matang yang masih harus mengurus ibu kandungnya walaupun kehidupan pribadinya sendiri sangat kompleks.
Sutradara:
Pria kelahiran Inggris bernama Joel Hopkins ini baru menyutradarai dua film termasuk debutnya dalam Jorge (1998) dan kali ini berkesempatan mengarahkan dua aktor-aktris kaliber Oscar dimana ia juga bertindak sebagai penulis cerita. Well done!
Komentar:
Plot cerita yang sederhana yaitu pertemuan pria paruh baya Amerika dan wanita mandiri Inggris dalam situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya menjadi menarik tatkala pemerannya adalah Dustin Hoffman dan Emma Thompson yang masing-masing sudah mengantongi dua Piala Oscar sepanjang karirnya. Keduanya menampilkan chemistry yang kuat dan mampu membuat penonton berempati sehingga tak heran jika mereka dinominasikan kembali dalam Aktor-Aktris Terbaik kategori Drama Golden Globe tahun ini walau tidak menang. Untungnya lagi penulis cerita sekaligus sutradara film ini cukup pintar mensiasati mood film dan beberapa elemen penting sehingga Last Chance Harvey tidak jatuh ke dalam klisenya tema yang sudah diangkat ratusan ribu kali ini termasuk endingnya yang tidak dipaksakan. Pada akhirnya, drama romantis ini terasa sangat realistis dan mungkin saja terjadi pada kita semua. Meskipun segmennya pada penonton dewasa sampai paruh baya, tidak ada salahnya menyaksikan dua pemain senior dalam film menyentuh menghibur yang bebas dari adegan seks atau kekerasan dengan jualan pemandangan kota London yang indah itu.
Durasi:
90 menit
U.S. Box Office:
$14,879,423 till April 2009
Overall:
8 out of 10
Penilaian:Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:
You can't escape the curse
Quotes:
Sullivan-Are there any other boys living in this building?
Lisa-No, Jake was it... Why?
Cerita:
Setelah Jake, bocah laki-laki terakhir yang selamat dari kutukan apartemen di Chicago akhirnya meninggal, teror hantu Kayako dan putranya Toshio kembali lagi. Kali ini menghampiri beberapa penghuni yang masih tertinggal termasuk tiga bersaudara pengurus apartemen, Max, Lisa dan si kecil Rose. Seorang wanita Jepang misterius bernama Naoko datang kesana dan bertekad mengakhiri kutukan tersebut dengan bantuan Lisa dan Rose. Tapi apakah semuanya bisa terselesaikan sebelum terlambat?
Gambar:
Visualisasi hantu terasa terlalu pucat sehingga kurang natural. Namun masih cukup setia dengan pakem elemen horor yang ditampilkan prekuelnya.
Act:
Penampilan aktor-aktris utama film ini tidak terlalu spesial tapi tidak bisa dikategorikan buruk juga, dimaklumi karena semuanya bisa dibilang pendatang baru.
Johanna Braddy sebagai Lisa.
Gil McKinney sebagai Max.
Beau Mirchoff sebagai Andy.
Jadie Hobson sebagai Rose.
Shawnee Smith sebagai Dr. Sullivan.
Emi Ikehata sebagai Naoko.Sutradara:
Pria Inggris bernama Toby Wilkins ini lebih banyak berkiprah dalam bidang visual efek. Namun karya penyutradaraan terakhirnya, Splinter (2008) cukup memuaskan sehingga dipercaya menangani versi ketiga Ju-On Hollywood.
Komentar:
Ketiga dan langsung rilis dalam format video di Amerika sana. Setidaknya fakta tersebut menjadikan anda tidak perlu berekspektasi tinggi terhadap film ini. Perkiraan saya tidak jauh meleset, Grudge 3 hanyalah pengulangan dari apa yang sudah disajikan sebelumnya yaitu plot yang kurang lebih sama, setting yang tidak jauh berbeda, hantu yang sama, kejutan yang hampir mirip tetapi kesamaan yang paling mengganggu adalah ketidakpercayaan tokoh utama terhadap hal-hal supernatural, sungguh bodoh dan sangat tidak penting! Perbedaannya adalah episode 3 ini sedikit lebih gory walau tidak terlalu diekspos. Beberapa adegan masih cukup mengejutkan, terima kasih pada ilustrasi musik yang konsisten. Secara keseluruhan, kualitasnya sedikit lebih baik dari film-film format video tetapi memang franchise The Grudge sudah melelahkan jadi segmennya hanya untuk penonton setia. Open ending yang sudah bisa diduga seperti biasa tetapi mohon jangan dibayangkan kemungkinan episode 4 nya. Cukup!
Durasi:
90 menit
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Special Agent Ludwig-Miss Shepard we'd like you to tell us about your relationship with center adjudications officer Cole Frankel?
Cerita:
Bertutur tentang beberapa karakter multiras yang berlatar belakang sama yaitu imigran yang berjuang mendapatkan status hukum yang sama di Los Angeles yaitu sebagai warga negara Amerika Serikat. Adalah Max Brogan, inspektur senior yang seringkali melakukan penggerebekan pabrik yang mempekerjakan imigran gelap. Adalah sekeluarga Korea Selatan yang tengah gembira menantikan pengesahan warga negara. Adalah remaja perempuan Timur Tengah yang bersimpati dengan ajaran Islam. Adalah aktris Australia yang nekad melakukan apa saja untuk mendapatkan greencard. Semuanya bertujuan sama dengan polemik masing-masing..
Gambar:
Kantor imigran, pabrik gelap, apartemen sederhana, perbatasan menjadi warna tersendiri dalam memberikan gambaran keseharian para imigran gelap di Los Angeles.
Act:
Film multikarakter biasanya menuntut aktor-aktrisnya tampil mengesankan dengan scene yang tidak terlalu banyak. Terbukti disini semua bermain sesuai standar masing-masing.
Harrison Ford sebagai Max Brogan
Ray Liotta sebagai Cole Frankel
Ashley Judd sebagai Denise Frankel
Jim Sturgess sebagai Gavin Kossef
Cliff Curtis sebagai Hamid Baraheri
Alice Braga sebagai Mireya Sanchez
Alice Eve sebagai Claire Shepard
Summer Bishil sebagai Taslima Jahangir
Justin Chon sebagai Yong Kim
Sutradara:
Pria kelahiran Afrika Selatan bernama Wayne Kramer ini meremake film pendek 35 menit berjudul sama yang pernah dibesutnya di tahun 1996 dengan bertaburan bintang-bintang ternama Hollywood.
Komentar:
Harus diakui ini merupakan salah satu film yang paling kuat dan mengusik sanubari yang pernah membahas kehidupan para imigran di AS. Pemasalahan yang diangkat berikut dinamikanya terasa sangat realitis dan masuk akal. Castnya baik utama maupun pendukung juga tampil brilian sesuai porsinya masing-masing. Sang sutradara yang belum terlalu dikenal mampu menerjemahkan plot cerita dengan seksama. Sebagian besar membandingkannya dengan Crash yang secara fenomenal menyabet Film Terbaik Oscar 2006. Secara konsep memang sama dimana keduanya dieksekusi dengan cerdas. Perbedaannya mungkin sisi dramatisasi Crash yang lebih unggul dibanding Crossing Over yang cenderung datar. Tetapi itulah kelebihannya karena problematika manusia sebagai manusia dan arti kemerdekaan di AS menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. Yang pasti Crossing Over harus dirasakan, bukan untuk dipikirkan. Pada akhirnya film ini sedikit underrated dikarenakan rilis terbatas dan cenderung direct to dvd tanpa banyak notifikasi. Sayang sekali!
Durasi:
105 menit
U.S. Box Office:
$454,149 till April 2009 (rilis terbatas)
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Tagline:Some urban legend is real.
Storyline:Sebuah jalan pintas melalui hutan kayu dapat mempersingkat waktu untuk tiba di sekolah, tetapi tidak ada seorangpun yang berani melakukannya. Sebuah legenda menceritakan bahwa di dalam hutan tersebut tinggal seorang bapak tua yang telah banyak melenyapkan anak remaja yang melewati hutan tersebut. Setelah hilangnya beberapa remaja kembali terjadi, sekelompok muda-mudi bertekad membuktikan kebenaran legenda tersebut.Nice-to-know:Keseluruhan lokasi syuting dilakukan di Saskatchewan, Kanada.Cast:Jajaran pendukung film ini belum banyak dikenal publik.Andrew Seeley sebagai Derek (as Drew Seeley)Shannon Woodward sebagai LisaDave Franco sebagai MarkKatrina Bowden sebagai ChristyRaymond J. Barry sebagai Old Man / Ivor (as Raymond Barry)Josh Emerson sebagai TaylorDirector:Sebelum ini Nicholaus Goossen menggarap Grandma's Boy (2006).Comment:The Shortcut dapat dikategorikan sebagai slasher movie kelas B. Bujet rendah dengan sutradara dan cast yang tidak terkenal samasekali. Meski demikian castnya bermain lumayan dalam arti kata memenuhi standar. Namun teramat sayang karena plotnya sangat lemah sehingga rasanya keseluruhan cerita mungkin dapat disimpulkan hanya dalam beberapa kalimat saja. Prolog dibuka dengan tidak meyakinkan, sangat norak dan unsur kejutannya konyol. Beruntung setelah bergulir, mood film berubah. Pengembangan karakter meskipun belum maksimal menunjukkan peningkatan yang signifikan. Elemen ketegangan mulai dibangun di pertengahan terutama saat muda-mudi tersebut "membongkar" rumah pria tua tersebut. Lagi-lagi dirusak dengan logika cerita yang kurang masuk akal, mengapa mereka penasaran dan sebegitu pedulinya? Pembantaian hanya dilakukan dengan suara dan imajinasi, bukan visualisasi sehingga tidak ada adegan sadis yang muncul disini. Endingnya sangat mudah ditebak dan menyisakan twist yang cukup menarik meskipun akan membuat penonton mengerutkan kening. Watch it in DVD if you curious!Durasi:80 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Cerita:
Pada abad 18 di Kazakhstan, Mansur sejak awal dididik untuk menjadi seorang pemimpin masa depan yang mampu mempersatukan berbagai suku yang selama ini berperang. Bersama Erali, sahabat yang dianggapnya adik kandung sendiri, mereka tumbuh menjadi pejuang gagah berani yang jatuh cinta pada gadis yang sama, Gaukhar. Kedamaian tidak berlangsung lama saat Gaukhar diculik dan berniat diperistri oleh Sharish. Akankah pada akhirnya Mansur berhasil menyelamatkan pujaan hatinya tersebut sekaligus memenuhi cita-cita ayahnya?
Gambar:
Berlokasi syuting di Kazakhstan, kehidupan masa silam terasa meyakinkan dengan kostum dan settingnya. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan beberapa adegan perang yang tidak konsisten.
Act:
Angkat nama lewat trilogi Goal!, Kuno Becker yang asli Mexico ini bermain sebagai Mansur, pemersatu suku-suku Kazakhstan di masa silam yang tangguh sekaligus berjiwa besar.
Memulai akting lewat peran kecil dalam Living The Life (2000), Jay Hernandez yang kelahiran California ini berperan sebagai Erali, pejuang pemberani yang harus terlibat cinta segitiga dengan Mansur yang sudah dianggap kakaknya sendiri.
Turut didukung juga oleh Ayanat Ksenbai sebagai si cantik love interestnya Mansur dan Erali, Gaukhar serta dua nama lama Mark Dacascos sebagai Sharish dan Jason Scott Lee sebagai Oraz.Sutradara:
Kolaborasi pria Ceko, Ivan Passer dan pria Rusia, Sergei Bodrov menghasilkan epik Asia yang justru diperankan bintang Amerika. Kabarnya film ini akan dirilis dalam dua versi, Asia dan Amerikanya. Kita tunggu versi Amerikanya di masa mendatang.
Komentar:
Salah satu kelemahan mencolok film ini adalah suara karakter-karakter utamanya yang seakan dubbing hanya karena mereka bukan asli Kazakhstan, entah beberapa bagian saja atau sepenuhnya! Satu lagi yang lebih mengganggu adalah ketidakakuratan gambaran kaum nomad Kazak yang harus berjuang selama 300 tahun melawan kaum penjajah Jongar. Bagi non Kazak, hal itu rasanya termaafkan karena jarang sekali suguhan epik sejarah Asia Tengah di kancah perfilman internasional. Bujet 40 juta dollar terlihat bisa dimaksimalkan untuk adegan pertarungan memikat, terlepas dari kemiripan gaya dengan film-film sejenis seperti Musa, Gladiator, Troy dsb. Secara keseluruhan dari kacamata saya, hasil akhir Nomad hanya sampai taraf lumayan walau seharusnya bisa lebih baik lagi.
Durasi:
110 menit
U.S. Box Office:
$73,369 till May 2007 (selected theatres)
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Phil Wenneck-Tracy, it's Phil.
Tracy Garner-Phil, where the hell are you guys?
Phil Wenneck-Listen, we fucked up. We lost Doug.
Tracy Garner-What? We're getting married in *five hours*.
Phil Wenneck-Yeah... that's not gonna happen.
Cerita:
Sebelum pernikahannya dengan Tracy, Doug diwajibkan menghadiri pesta bujangan bersama kedua temannya, Phil dan Stu serta adik Tracy, Alan di Las Vegas. Berempat mereka berjudi dan menikmati penthouse mewah secara gila-gilaan hingga mabuk.. Terbangun di pagi hari, betapa kagetnya Alan menemukan harimau di kamar mandi, Stu kehilangan gigi serinya dan Phil yang baru saja keluar dari rumah sakit. Kepanikan melanda saat Doug menghilang! Segala petunjuk kecil harus dikumpulkan tiga serangkai itu dalam waktu kurang dari 48 jam atau pernikahan Doug-Tracy terancam batal.
Gambar:
Gemerlap meja judi dan hotel berbintang Las Vegas ditampilkan sekilas. Sisanya penelusuran semua sudut California yang penuh dengan adegan pengundang tawa.
Act:
Berangkat dari beberapa serial teve termasuk Alias yang melejitkan namanya, Bradley Cooper sebagai Phil Wenneck, guru SMU yang flamboyan dan memiliki istri cantik.
Ed Helms sebagai Stu Price, dokter gigi culun yang berhubungan dengan wanita dominan, Melissa.
Dari serial teve Tru Calling, Zach Galifianakis sebagai adik Tracy, Alan yang pengangguran dan serabutan.
Justin Bartha dan Sasha Barrese sebagai calon pengantin, Doug Billings dan Tracy Garner yang hanya muncul pada awal dan akhir film.
Turut didukung Heather Graham yang tampil cameo sebagai sang pelacur, Jade serta Mike Tyson sebagai dirinya sendiri.
Sutradara:
Todd Phillips adalah sutradara muda spesialis komedi termasuk Road Trip (2000) yang melejitkan namanya. Beberapa inovasi yang dilakukannya dalam film-filmnya tergolong berhasil karena terbukti karya-karyanya cukup dikenal baik oleh publik Amerika khususnya anak muda. Komentar:
Tanpa ekspektasi apapun sebelum menyaksikan Hangover selain ingin tertawa sejenak memanfaatkan waktu luang. Namun dari awal sampai akhir film, saya merasa disuguhkan plot cerita yang orisinil dengan tempelan humor dimana-mana. Cooper, Helms dan terutama Galifianakis saling berbagi peran untuk memancing tawa. Mike Tyson dan Ken Jeong pun turut memunculkan twist jenaka. Endingnya pun cukup manis untuk sebuah komedi pria dewasa. Meskipun demikian saya ingatkan untuk anda di luar penonton Amerika, rasanya tidak akan terlalu menyukai gaya becanda film ini. Kelebihan lain adalah arah cerita tidak terduga dan hebatnya penonton seakan digiring untuk ikut mencari petunjuk, apa yang sebenarnya terjadi pada saat mereka mabuk semalaman itu? Semua itu terjawab pada strip film kamera sesaat setelah credit title bergulir, oleh karena itu jangan buru-buru meninggalkan bioskop.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$270,237,753 till end of August 2009 $43,000,000
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:
Nick-We're all gonna' die, there's gonna' be huge crash!
Mechanic's Girlfriend-What? Have you lost your mind?
Cerita:
Nick O'Bannon dan kekasihnya, Lori Milligan bergabung dengan teman-teman mereka, Hunt Wynorski dan Janet Cunningham untuk menonton balapan McKinley di sebuah stadion. Sebelum balap dimulai, Nick mendapat pertanda bahwa akan terjadi kecelakaan yang menewaskan puluhan orang di sirkuit tersebut. Panik berusaha memberitahu orang-orang, Nick kemudian diusir ke luar karena membuat kericuhan. Keempatnya bersama beberapa orang lain itu kemudian lolos dari maut. Tapi ternyata nasib mereka tidak berhenti sampai di situ, karena kematian terus mengintai mereka dengan cara-cara yang sulit diduga. Akankah pada akhirnya Nick dkk selamat dari kejaran maut?
Gambar:
Beberapa adegan sadis membuat film ini sulit mendapatkan rating PG-13 termasuk kecelakaan pembuka di sirkuit yang bersetting di Alabama.
Act:
Terakhir bermain dalam sekuel Legally Blondes (2009) yang langsung edar dalam format video, Bobby Campo sebagai Nick O'Bannon, remaja yang memiliki pertanda untuk melihat masa depan yang akan menimpa dirinya dan teman-temannya.
Beberapa bintang muda yang belum banyak dikenal turut meramaikan seperti Shantel VanSanten sebagai Lori Milligan, Nick Zano sebagai Hunt Wynorski dan Haley Webb sebagai Janet Cunningham.
Sutradara:
Pernah menyutradarai sekuel pertamanya tahun 2003, kini David R. Ellis kembali dengan sekuel ketiganya yang diberi subjudul Death Trip dan mengadopsi teknologi baru cineplex yaitu 3D menyusul thriller remake remaja sebelumnya, My Bloody Valentine.
Komentar:
Seri ganjil yang dipegang James Wong rasanya lebih baik dari segi genap yang diambil David R. Ellis untuk beberapa alasan yaitu tensi film yang lebih baik, adegan kematian yang lebih realistis dan plot yang lebih smart. Dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwa Death Trip tidak lebih dari sekedar pengulangan formula terdahulu, itupun dengan durasi yang teramat singkat sehingga kelemahan akting dan unsur rasionalitas yang mendasari menjadi taruhannya. Beberapa adegan memang terlihat sadis terutama di awal film, tapi sayang visualisasinya tidak cukup nyata, terlebih dengan penggunaan spesial efek (CGI) yang membuatnya terkesan palsu. Instalasi 3D ke dalam film ini hanyalah sebuah inovasi tapi tidak cukup bermanfaat karena banyak aspek tiga dimensi yang harusnya ditonjolkan malah tidak tersentuh. Secara keseluruhan, fans franchise Final Destination mungkin saja masih bisa dipuaskan dengan seri keempat ini. Namun jika ada seri kelima, saya harap ada elemen-elemen yang lebih berbobot daripada sekedar pertunjukan kematian belaka.
Durasi:
75 menit
U.S. Box Office:
Not known - estimated budget $43,000,000
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Cerita:
Sebuah tim produksi film, berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul Yogyakarta dalam rangka persiapan shooting film. Dengan style kota besar yang dibawanya, mereka bersikap seenaknya saat memasuki daerah yang disucikan dan keramat. Akibat mengusik tabu, sehingga kejadian demi kejadian aneh mereka alami. Melalui paranormal, mereka mengetahui alam mistis di sekitar mereka sedang bergolak karena sesuatu hal. Kehadiran mereka tampaknya memperburuk keadaan. Bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat dari tempat tersebut?
Gambar:
Tanpa sinematografi karena handheld camera style biasanya tidak fokus dalam mempertunjukan scene demi scenenya terutama di adegan malam hari.
Act:
Poppy Sovia
Migi Parahita
Sadha Triyudha
Miea Kusuma
Dimas Projosujadi
Diaz Ardiawan
Brama SutasaraSutradara:
Hanyalah sebuah film eksperimen bagi seorang Monty Tiwa yang belakangan semakin kehilangan sentuhannya sehingga berusaha menggali ide-ide baru yang sayangnya tidak pernah tergarap dengan baik olehnya!
Komentar:
Sulitnya mengambil tema orisinil bagi sebuah film bertipe semi dokumenter seperti ini. Alhasil Keramat yang dibumbui kejadian nyata gempa di Bantul beberapa tahun lalu dengan memadukan unsur lokal "terkesan" mengekor formula film-film luar seperti Blair Witch Project, Cloverfield ataupun Quarantine. Jika ketiga film tersebut bisa dibilang berhasil mengekspos kengerian dengan konsisten dan setidaknya "terasa" masuk akal, tidak halnya dengan Keramat. Semua elemen kejutan yang berusaha ditampilkan sayangnya malah membuat penonton semakin "enggan" dan mengernyitkan kening karena terganggu semua panca inderanya. Dari awal sampai akhir, tidak ada penjelasan yang jelas atas tindakan A, tindakan B dsb dan berujung pada suatu konklusi yang campur aduk. Para pemainnya juga sama sekali tidak membantu dalam "berakting". Hm, mudah-mudahan tidak ada lagi yang mencoba hal serupa jika tidak didukung dengan skill yang baik. Percayalah, hasilnya hanya akan menjadi mimpi buruk saja!
Durasi:
80 menit
Overall:
6 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Quotes:Doctor: Sometimes choosing life is just choosing a more painful form of death.
Storyline:Merebaknya virus mematikan di belahan bumi membuat Brian dan kekasihnya Bobby serta adiknya Danny dan teman mereka Kate bertekad mengungsi ke pantai dimana abang adik tersebut biasa menghabiskan liburan masa kecil mereka. Sayangnya dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi rusak di tengah gurun hingga harus menumpang pada seorang pria bernama Frank dengan putrinya Jodie yang terinfeksi. Keenam orang yang saling menjaga jarak itu mulai menciptakan dilema dan konflik yang semakin memuncak hingga tidak terlihat jalan kembali seperti sediakalanya.Nice-to-know:Diproduksi oleh Paramount Vantage, Likely Story, This Is That Productions dan Ivy Boy Productions.Cast:Mulai dikenal sejak membintangi Thumbsucker (2005), Lou Taylor Pucci berperan sebagai Danny GreenChris Pine sebagai Brian GreenPiper Perabo sebagai BobbyPebalet ini pernah mendukung The Ring Two (2005), Emily VanCamp bermain sebagai KateDirector:Merupakan debut sekaligus kolaborasi pertama bagi kakak beradik asal Spanyol bernama David dan Alex Pastor ini.Comment:Epidemi penyakit menular biasanya digambarkan mengerikan dalam sebuah film. Hal yang sama berlaku pada skrip yang dikembangkan David dan Alex Pastor ini, hanya saja mereka memperkuat jalinan keempat tokoh utama disini yang terdiri dari dua pasang kekasih dan sepasang abang adik kandung. Bagaimana perjalanan yang seharusnya menuju kebebasan bersama harus berantakan karena kecerobohan dan keegoisan masing-masing.Pucci merupakan salah satu aktor muda berbakat yang belum banyak diketahui. Peran Danny yang lemah hati itu dilakoninya dengan baik, tak jarang sahabat dan abangnya sendiri bisa begitu dominan terhadapnya. Sedangkan Pine yang namanya semakin melejit sebagai calon aktor besar di masa mendatang tidak mengecewakan sebagai Brian yang temperamen dan bajingan itu. Perabo dan VanCamp juga memperkaya karakteristik dalam film dengan sisi feminin yang tidak monoton tersebut.Pastor brothers yang juga bertindak sebagai sutradara itu menghadirkan konsep film yang cukup inovatif dengan production value yang sangat berarti. Terkadang durasinya yang nyaris mencapai satu setengah jam itu terasa sangat lama dikarenakan gaya penuturan yang seksama. Meskipun penonton sudah tahu kemana suatu adegan akan mengarah tapi perpanjangan detil cerita tetap dilakukan untuk menegaskan konflik apa yang sesungguhnya dialami para tokohnya itu.Jika anda mengharapkan adegan sadis ataupun kejutan horor bertubi-tubi yang mencekam, bersiaplah untuk kecewa. Carriers tak lebih dari sekadar drama yang kental dengan aroma persahabatan dan kekeluargaan, mengaduk-aduk emosi penonton untuk benar-benar bersimpati pada semua karakternya yang terbilang abu-abu. Plotnya memang tak terlalu berfokus pada penyebab merebaknya virus mematikan itu tetapi lebih pada situasi dimana rasa kemanusiaan bisa dikalahkan oleh keputus asaan yang menyedihkan.Durasi:84 menitU.S. Box Office:$90,820 till Sep 2009Overall:8 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:
Will Burton: So, how big is this whole bandslam thing around here?
Sa5m: Texas high school football big.
Storyline:Ketika penulis lagu dan vokalis band, Charlotte Banks meminta anak baru Will Burton untuk menjadi managernya mungkin tujuannya cuma satu yaitu menyaingi kepopuleran The Glory Dogs yang dipimpin mantan kekasihnya, Ben. Terlebih dalam ajang kompetisi band tahunan terbesar yaitu Bandslam, semua peserta harus tampil prima dengan ciri khas tersendiri. Will sendiri sangat dekat dengan ibunya Karen setelah kasus yang menimpa ayahnya di masa lampau. Pertemuan dengan Sa5m yang juga bersuara merdu dan jago gitar membuat Ben memiliki semangat baru untuk lepas dari kerangkengnya selama ini. Berhasilkah mereka bersatu dalam musik dan menjadi yang terbaik pada akhirnya?Nice-to-know:Awalnya film ini sempat akan diberi judul "Will", lalu diganti Rock On" sebelum diputuskan "Bandslam".Cast:Sebelum ini sempat mendukung serial televisi tenar Law & Order (2008), Gaelan Connell bermain sebagai Will BurtonBaru saja tampil dalam Super Sweet 16 : The Movie (2007) bersama saudarinya AJ, Alyson Michalka berperan sebagai Charlotte BarnesVanessa Hudgens sebagai Sa5mScott Porter sebagai Ben WheatlyRyan Donowho sebagai Basher MartinCharlie Saxton sebagai BugLisa Kudrow sebagai Karen BurtonTim Jo sebagai OmarDirector:Merupakan film kedua bagi Todd Graff setelah Camp (2003) yang juga bertemakan musikal tersebut.Comment:Film remaja bertemakan musikal yang terakhir kali mengesankan bagi saya adalah School of Rock (2003) karya Richard Linklater. Dan ternyata pada tahun yang sama, Todd Graff juga membuat Camp yang memiliki rating yang cukup baik juga. Sayangnya saya memang belum sempat menyaksikannya dan malah langsung pada karya keduanya 6 tahun kemudian tanpa ekspektasi apapun. And tell you that it surprises me!Secara garis besar, semestinya tidak ada yang spesial pada skrip film ini. Semuanya sangat mudah ditebak dimana ada sebuah band yang bukan siapa-siapa berusaha membuktikan dirinya dalam kompetisi berskala nasional, seorang remaja pria dalam proses pencarian identitas dibantu orang-orang di sekitarnya, karakter dua gadis yang bertolak belakang plus tentunya lagu-lagu dan aksi panggung yang setidaknya harus terlihat meyakinkan.Perbedaannya adalah penulis Josh A. Cagan dibantu juga oleh sutradara Graff yang memberikan beberapa penekanan pada karakter-karakter dalam film ini sesuai dengan porsi konflik masing-masing. Dan tidak ada yang berakting buruk kali ini. Kredit khusus patut diberikan pada Gaelan yang mampu menerjemahkan tokoh Will dengan lugu sekaligus bernyawa. Juga debut Alyson yang di luar dugaan cukup bermain lugas dengan dualisme karakter. Sedangkan Vanessa tampaknya masih sedikit terbawa popularitas dan kharisma yang sama dalam High School Musical.Lagu-lagu yang disuguhkan dalam film ini memang tidak terlalu memorable dan ear-catchy. Namun terbilang cukup untuk menjaga konsep pertunjukan musik itu sendiri. Terlebih tembang yang dihadirkan pada final chapter, penonton serasa diajak merasakan energi dan semangat para personil I Can’t Go On, I’ll Go On di atas panggung. Selain atmosfir dari penonton juga yang meyakinkan, seakan kompetisi tersebut benar-benar diadakan secara live.Bandslam tidak hanya sekadar memberikan performance cemerlang tetapi juga karakterisasi yang sangat kaya sudut pandangnya. Bagaimana peran orangtua terhadap perkembangan anak, romantisme remaja yang norak tapi menggemaskan, persahabatan yang mengajarkan banyak hal dan lain-lain dihadirkan satu-persatu tanpa kesan berlebihan. Saya puas dan cukup tersentuh dengan film remaja yang terkonsep baik dan tidak terlalu berambisius seperti ini. Bagaimana dengan anda?Durasi:110 menitU.S. Box Office:$5,205,343 till Sept 2009Overall:7.5 out of 10Movie-meter:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent