XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 16 Agustus 2009

ORPHAN : Misteri Gadis Yatim Piatu Adopsi Keluarga Coleman

Tagline:
There's something wrong with Esther..

Quotes:
Esther-Please, Mommy. Don't let me die.
Kate Coleman-I'm not your fucking mommy!

Cerita:
John dan Kate Coleman mengalami masalah dalam perkawinan terlebih setelah anak ketiga mereka yang rencananya dinamakan Jessica meninggal dalam kandungan Kate. Berusaha mengatasi trauma, John dan Kate mendatangi panti asuhan dan jatuh cinta pada Esther, seorang gadis cilik 9 tahun yang santun dan cerdas. Segera saja Daniel dan Max memiliki saudari yang baru. Perlahan-lahan sikap Esther mulai berubah menjadi posesif dan sensitif. Kate yang pertama menyadarinya segera menghubungi Suster Abigail, kepala panti tempat Esther diadopsi. Petunjuk demi petunjuk semakin menguatkan kecurigaan Kate akan kemisteriusan Esther. Namun apakah semua misteri bisa diungkapkan sebelum terlambat?

Gambar:
Mengambil lokasi di Quebec dan Ontario, Kanada benar-benar pas untuk menggambarkan suasana keluarga Coleman yang jauh dari kehangatan serta lingkungan yang selalu tertutup salju.
Act:
Vera Farmiga mengawali karir layar lebarnya dalam The Butterfly Dance (1998) dan terus melejit namanya termasuk saat menjiwai karakter Kate Coleman yang berusaha bangkit dari trauma masa lalunya dengan keluarganya sendiri.
Dead Man Walking (2005) menjadi debut akting Peter Sarsgaard yang kali ini kebagian peran John Coleman, seorang ayah yang mencintai istri dan anak-anaknya ini.
Dipuji sebagai calon bintang setelah menjadi bintang tamu dalam serial teve Ghost Whisperer, Isabelle Fuhrman yang baru berusia 12 tahun kembali membuktikan bakatnya sebagai Esther, gadis cilik yatim piatu yang misterius sekaligus kejam.
Dua bintang cilik Jimmy Bennett dan Aryana Engineer juga tak kalah gemilang memerankan kakak beradik Daniel dan Max Coleman.

Sutradara:
Jaume Collet-Serra yang berkebangsaan Spanyol melejit lewat debutnya yang juga sebuah remake, House Of Wax (2005) yang cukup sukses dalam peredaran dunianya. Kini ia mempertahankan tensi thriller yang kurang lebih sama dalam Orphan walaupun memiliki storyline yang jauh berbeda.

Komentar:
Ini adalah film dewasa, bukan konsumsi anak-anak meskipun plotnya tentang pengadopsian anak yatim piatu. Lebih tepat disebut drama thriller psikologis daripada horor yang semula diperkirakan orang. Dan memang Orphan bercerita dengan runut sehingga terkesan sangat lambat terutama di bagian awal pengenalan keluarga Coleman secara detail. Tapi semua itu tertutupi dengan akting yang brilian dari lima karakter utama dan juga eksekusi sinematografi yang sangat baik dari sang sutradara. Belum lagi ditambah dengan background score yang semakin memperkuat adegan demi adegan. Plot cerita terkonstruksi dengan baik. Film ini tidak berusaha mengeksplorasi ketakutan dan rasa penasaran penonton, tetapi tetap menjaga penonton merasa tegang dan mereka-reka sampai semuanya terungkap di penghujung. Jika anda lelah atau bosan dengan horor/thriller yang biasa "berlebihan", saksikan film ini. Semua elemen pendukung yang brilian itu membuat saya berani memberikan poin tinggi walaupun mungkin tidak akan memenangkan penghargaan apapun!

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$38,346,772 till mid Aug 2009

Overall:
8.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 15 Agustus 2009

THE TAKING OF PELHAM 123 : Menuntaskan Pembajakan Kereta Api Bawah Tanah

Quotes:
Ryder-We all owe God a death!
Garber-That's not true Ryder!

Cerita:
Kesibukan seperti biasa di Grand Central Station, tiba-tiba dikejutkan adanya pembajakan subway oleh sekelompok teroris yang dipimpin Ryder yang berujung pada penyanderaan 19 orang warga sipil yang berada pada tempat dan waktu yang salah. Ryder berkomunikasi dengan Walter Garber, seorang pemandu MTA dan menuntut tebusan 10 juta dollar kepada Walikota hanya dalam waktu sejam! Dibantu ahli negosiator NYPD, detektif Camonetti, Garber berusaha mengulur waktu dan berusaha mencaritahu siapa sebenarnya Ryder. Pengalamannya dan pengetahuannya tentang subway tersebut sangat menentukan berhasil tidaknya ia menggagalkan misi Ryder yang keji itu.

Gambar:
Lokasi syuting area ruang kontrol dan gerbong subway terasa riuh ramainya karena diambil di Stasiun Grand Central, Manhattan yang asli. Beberapa adegan kejar-kejaran juga membantu dalam penyajian scene-scene cepat yang mendominasi film.

Act:
Peraih 2 Oscar termasuk dalam Glory (1990), Denzel Washington adalah aktor watak kulit hitam kelas satu di Hollywood. Kali ini bermain sebagai Walter Garber, pemandu kereta api bawah tanah yang pernah terlibat kasus sebelumnya.
Sebaliknya dengan Denzel, John Travolta "hanya" dinominasikan dalam 2 Oscar. Yang pertama adalah yang melejitkan namanya yakni Saturday Night Fever (1977). Disini berperan sebagai Ryder, pemimpin teroris penyanderaan dan pembajakan subway.

Sutradara:
Sutradara gaek Tony Scott pernah menelurkan beberapa karya yang sukses diterima kritikus dan publik termasuk yang paling ternama, Top Gun (1986) yang juga melejitkan nama Tom Cruise pada masa itu. Dalam The Taking Of Pelham 123, ia sukses menggaet dua aktor watak berbakat Travolta dan Washington.

Komentar:
Diangkat dari novel best-seller karya John Godey, drama kejahatan urban ini menawarkan aksi, ketegangan dan percakapan adu cerdik untuk menjaga intensitas film secara keseluruhan. Berhasil? Mungkin terutama karena faktor duet aktor kuat Washington dan Travolta yang seperti biasa menunjukkan kharismanya. Belum lagi faktor sutradara kawakan yang pandai mengeksplorasi dan memaksimalkan eksekusinya. Tapi jika dipikir lebih jauh, banyak hal yang terlewat dari remake berjudul sama versi 1974 ini seperti kurangnya dukungan aktris supporting cast dan interaksi antar sesama penumpang tersandera yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk menambah poin plus cerita. Dan lagi tidak disinggung apa motif tim teroris back up Ryder serta penjelasan aktifitas keseharian Garber sampai di posisi pengawas MTA. Andai saja semua itu terpenuhi, The Taking Of Pelham 123 bisa jadi cukup legendaris di mata penonton. Sayangnya hanya sampai pada tahap menghibur standar pakem film sejenis dengan andalan interaksi cerdas Ryder dan Garber yang memang outstanding sepanjang film.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$65,000,000 till mid Aug 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 14 Agustus 2009

G.I. JOE : RISE OF THE COBRA

Quotes:
Duke-[after crashing into cars while running in the accelerator suits] Okay, that was crazy... What happened to you?
Ripcord-I went through the train. What happened to you?
Duke-I jumped over it.
Ripcord-[pause] You can do that?
Duke-I told you to read that manual.
Ripcord-There's a manual?

Cerita:
Ahli senjata James McCullen berhasil menciptakan nanoteknologi yang dipercaya mampu menghancurkan seluruh kota tanpa sisa. Adalah Duke dan Ripcord yang diselamatkan oleh Scarlett, Snake Eyes dan Heavy Duty saat bertugas untuk kemudian direkrut Jenderal Hawk untuk menjadi anggota pasukan G.I. Joe yang berpusat di Afrika Selatan. Setelah berlatih keras dan mempersiapkan strategi jitu, pasukan elit tersebut harus menghadapi McCullen yang rupanya mendapat bantuan Doctor dalam menciptakan armada tentara yang kebal dan tidak kenal rasa takut. Berhasilkah G.I. Joe terlebih setelah Duke mengetahui bahwa mantan kekasihnya Ana telah berubah sifat 180 derajat?

Gambar:
Sebagian besar berlokasi syuting di California dan Republik Ceko termasuk adegan utama di Paris yang menggunakan replikanya. Aksi seru yang ditampilkan hampir sepanjang film membuat scene bergerak cepat dan kerapkali sulit tertangkap mata.

Act:
Hampir seluruh jajaran castnya memiliki nama di kancah perfilman Hollywood.
Dennis Quaid sebagai Jenderal Hawk.
Channing Tatum sebagai Duke.
Sienna Miller sebagai Ana.
Marlon Wayans sebagai Ripcord.
Ray Park sebagai Snake Eyes.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Rex.
Rachel Nichols sebagai Scarlett.
Jonathan Pryce sebagai Presiden AS.
Jangan lupakan aktor papan atas Lee Byung Hun yang memulai debut internasionalnya dengan meyakinkan sebagai Storm Shadow.

Sutradara:
Belum banyak film yang dihasilkan Stephen Sommers. Namun yang paling melecutkan namanya tentu saja The Mummy (1999) dan sekuelnya The Mummy Returns (2001). Sejak saat itu ia mulai dipercaya menangani film-film berbujet besar dan potensial box-office.

Komentar:
Teringat saat usia terbilang belia menyaksikan kartun G.I. Joe di televisi hampir 15 tahun silam membuat ekspektasi tinggi kala mendengar film layar lebarnya akan diproduksi. Hari ini saya menontonnya dan satu hal yang paling merasuk dalam pikiran saya adalah adegan kejar-kejaran di Paris saat G.I. Joe berusaha menghentikan Baroness dan Storm Shadow untuk menghancurkan Menara Eiffel dengan nanoteknologi! Adegan hampir 30 menit tersebut sangat spektakuler dan membuat penonton menghela nafas kagum. Selebihnya? Ini hanyalah manifestasi CGI yang sudah berulang-ulang-ulang kembali disuntikkan pada film aksi Hollywood liburan musim panas berbujet ratusan juta dollar dengan mengabaikan kecerdasan plot cerita dan hanya terlihat cool dari luarnya saja. Terlalu dangkal dan mudah ditebak dengan akting yang standar dan dialog yang juga biasa. Untungnya hampir semua penonton masih bisa dipuaskan karena harus diakui sebagai film aksi, Rise Of The Cobra memiliki banyak unsur yang bisa dijual. Saya menganggap ini masih sedikit lebih baik dibandingkan sekuel Transformers. Namun yang paling diharapkan adalah peningkatan kualitas di berbagai sisi jika memang muncul sekuelnya di masa mendatang. Kita tunggu saja!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$54,713,046 in opening week Aug 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 09 Agustus 2009

MERANTAU : Membombardir Kawanan Penjahat Dengan Pencak Silat

Tagline:
In A City Of Violence, One Man Will Stand Up And Fight

Cerita:
Merantau adalah salah satu tradisi di Minangkabau yang harus dijalankan setiap pemuda yang beranjak dewasa termasuk Yuda yang harus meninggalkan ibunya Wulan dan kakaknya Yayan untuk pergi ke Jakarta. Sejak awal kedatangannya, Yuda seringkali dipaksa menggunakan jurus pencak silatnya termasuk saat menolong kakak beradik Astri dan Adit dari kerasnya kehidupan kota besar. Perkara tersebut membesar dan melibatkan dua bule Ratger dan Luc beserta konco-konconya dan seorang mucikari bernama Johnny. Berhasilkah pelarian mereka di sepanjang jalan ibukota dan juga pertempuran seorang diri Yuda melawan kawanan penjahat itu?

Gambar:
Prolog film yang bersetting langsung di Minangkabau yang tenteram dan berpindah ke semrawutnya Jakarta dari pertengahan sampai akhir cukup memperhatikan detail dengan baik sehingga setiap scene terasa bernyawa.

Act:
Pendatang baru Iko Uwais berakting natural tapi yang patut diacungi jempol adalah aksinya mempertunjukkan jurus harimau dengan sangat lugas tanpa pemeran pengganti sebagai Yuda, pemuda Minangkabau yang berusaha mengadu nasib di Jakarta.
Christine Hakim seperti biasa tampil mengagumkan walau kebagian sedikit scene sebagai Wulan, ibunda Yuda.
Terlepas dari beberapa sahutan spontanitas, Sisca Jessica cukup meyakinkan sebagai Astri, korban persekongkolan bar yang berujung pada kenistaan.
Yusuf Aulia bermain lugas sebagai Adit, adik Astri yang berprofesi sebagai pencopet cilik dan pengamen jalanan demi menabung sepeser demi sepeser uang.
Dua tokoh antagonis bule yakni aktor Denmark, Mads Koudal sebagai Ratger dan aktor Perancis, Laurent Buson sebagai Luc.

Sutradara:
Baru menghasilkan satu karya yaitu Footsteps (2006), Gareth Evans justru terkesan terampil menggarap genre yang belum pernah ada di Indonesia sebelumnya ini dengan sinematografi yang kuat dan penyutradaraan yang gemilang tanpa menjadikan film ini bercitarasa asing tapi tetap mengakar pada Indonesia.

Komentar:
Film laga nasional mungkin bisa dihitung dengan jari apalagi sampai mengangkat cabang beladiri sendiri. Merantau mematahkan semua premis tersebut dengan mengedepankan pencak silat alias silat Harimau! Tiga puluh menit pertama film meski terkesan lambat tapi bisa dimaklumi karena bercerita tentang asal usul Yuda dan budaya Minangkabau. Setelah itu, film mengalir dahsyat dengan full action pertunjukan koreografi beladiri yang sangat mencengangkan antara seorang pria melawan puluhan penjahat. Tidak hanya itu, isu human trafficking ilegal diangkat dengan pas apalagi dengan karakter antagonis yang kuat. Namun film ini bukan tanpa kekurangan seperti beberapa bagian cerita yang terkesan dipermudah, sebagian dialog yang terasa kurang pas, dan terutama ending yang dipaksakan "begitu" tidak biasa selayaknya film sejenis. Secara keseluruhan Merantau tetaplah sebuah film pemacu adrenalin yang pantas diapresiasi dan wajib ditonton tentunya. Beberapa penonton di berbagai bioskop malah bertepuk tangan setelah menyaksikannya. Suatu hal yang jarang terjadi bukan?

Durasi:
140 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 08 Agustus 2009

MY MOM'S NEW BOYFRIEND : Mengintai Ibu Mengencani Pencuri Internasional

Quotes:
Henry Durand-You? You have a boyfriend?
Martha Durand-A boyfriend? No... hell no. I'm not gonna make the same mistake I made with your father.
Henry Durand-Okay, good.
Martha Durand-I have several boyfriends.
Emily Lott-Party hearty, Marty.

Cerita:
Agen muda FBI, Henry pulang ke rumah setelah tiga tahun lamanya. Sesampainya disana alangkah kaget melihat ibunya, Marty yang berhasil menurunkan bobot lebih dari 50 kg dan berkencan dengan beberapa pria sekaligus! Tetapi semua tidak menyurutkan rasa hormatnya pada sang ibu terlebih saat tunangannya, Emily yang juga seorang profiler FBI diterima dengan baik oleh Marty. Kegembiraan mereka bertiga berubah saat bertemu dengan pria Latin misterius bernama Tommy. Dalam sekejap Tommy dan Marty menjadi dekat. Belakangan Henry mengetahui bahwa Tommy adalah orang yang dicari-cari FBI karena berprofesi sebagai pencuri barang seni internasional. Cinta, kesetiaan dan kekuatan hukum pun berkolaborasi pada satu ujung tak terduga.

Gambar:
Sepintas mirip film televisi biasa dimana kamera bergerak teratur dari satu scene ke scene yang lain dengan beberapa variasi perpindahannya. Sebagian besar bersetting di Louisiana.

Act:
Antonio Banderas mengawali karirnya sebagai Antonio Juan dalam Pestañas postizas (1982). Setelah puluhan judul, kali ini ia berperan sebagai pria romantis misterius yang juga pencuri benda seni internasional, Tommy Lucero.
Rasanya tidak perlu memperkenalkan aktris yang bermain film pertama kali dalam Rich and Famous (1981) ini. Meg Ryan pernah menjadi Hollywood's sweetheart dan disini ia masih memperlihatkan daya tariknya di usia yang sudah tidak muda lagi sebagai Marty Durand.
Didukung oleh putra Tom Hanks, Colin Hanks sebagai Henry Durand dan Selma Blair dari dwilogi Hellboy sebagai Emily Lott.

Sutradara:
Sama sekali belum dikenal khalayak, George Gallo memulai debutnya dalam Local Color (2006). Beruntung dalam My Mom's New Boyfriend ini, ia didukung empat aktor-aktris yang sudah dikenal pecinta film Hollywood.

Komentar:
Sebenarnya film yang teramat sangat standar kalau tidak mau dikatakan format televisi atau direct to DVD! Dari segi cerita meski menarik tapi tidak menawarkan sesuatu yang baru. My Mom's New Boyfriend adalah sebuah komedi romantis sebagaimana umumnya, dimana saya masih bisa menikmatinya walaupun tidak ada kesan yang dalam yang mungkin tertinggal selepas menyaksikannya. Ryan, Banderas, Hanks, Blair bermain cukup memikat sesuai porsinya dan mereka tidak perlu terlalu berusaha keras menjiwai perannya masing-masing. In the bottom of the line, this is a suitable romantic comedy, only for those who miss (queen of the genre) Meg Ryan on big screen! That's all.

Durasi:
95 menit

Europe Box Office:
In Spain $446,172 till May 2008

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 07 Agustus 2009

ALIENS IN THE ATTIC : Invasi Alien di Loteng Rumah Keluarga Pearson

Quotes:
Jake Pearson-We're gonna need a bigger potato.

Cerita:
Tom, Bethany dan Hannah adalah tiga anak keluarga Pearson, Stuart dan Nina yang berencana menghabiskan liburan musim panas di Michigan. Bergabung bersama mereka adalah nenek dan paman mereka, Nana dan Nathan beserta anak-anaknya Jake, Art, Lee. Tak ketinggalan Ricky, pacar Bethany yang menyebalkan. Tanpa mereka sadari, hujan meteor turut membawa sebuah armada kecil berisi empat alien masing-masing bernama Sparks, Tazer, Skip dan Razor mendarat di atap rumah peristirahatan tersebut. Dengan tujuan menguasai bumi, keempat alien itu harus menghadapi keluarga Pearson yang mati-matian mempertahankan eksistensi planet mereka.

Gambar:
Persatuan gambar animasi dengan dunia manusia cukup mulus karena tidak terlalu kentara spesial efek yang digunakan film yang sebagian besar syuting di New Zealand ini.

Act:
Semuanya tampil fun sesuai kapasitasnya masing-masing.
Kevin Nealon sebagai Stuart Pearson
Gillian Vigman sebagai Nina Pearson
Carter Jenkins sebagai Tom Pearson
Ashley Boettcher sebagai Hannah Pearson
Ashley Tisdale sebagai Bethany Pearson
Robert Hoffman sebagai Ricky Dillman
Andy Richter sebagai Uncle Nate
Austin Butler sebagai Jake
Doris Roberts sebagai Nana Rose
Henri Young dan Regan Young sebagai kembar Art dan Lee

Voice:
Thomas Haden Church sebagai Tazer
Josh Peck sebagai Sparks
Ashley Peldon sebagai Skip
Kari Wahlgren sebagai Razor

Sutradara:
Belum banyak berkarya terutama menilik debutnya dalam Bandwagon (1996) tidak membuat John Schultz kesulitan menggarap Aliens In The Attic karena hasil akhirnya boleh dibilang rapi dan mampu memadukan banyak unsur sekaligus.

Komentar:
Memang ditujukan untuk segmen anak-anak walau mungkin bisa juga menghibur orang dewasa. Saya sendiri ragu orang dewasa mau menyaksikannya kecuali anak-anak mereka ingin menontonnya. Hm, saya akan coba review film ini dari sisi usia 7-12 tahun. Akting ok, terlihat wajar. Ashley Tisdale, Robert Hoffman dan Doris Roberts banyak bermain "slapstick" sepanjang film, dijamin membuat tertawa ngakak. Ceritanya simpel dan fun. Spesial efeknya menarik. Aksinya cukup seru. Humornya lucu meski agak dangkal dan childish, tapi sekali lagi ini film anak-anak. Yah kesimpulannya, Aliens In The Attic enteng dan mudah untuk dinikmati dengan sedikit sentuhan nilai keluarga. Young kids, go watch it!

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$8,008,423 till Aug 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 06 Agustus 2009

IDENTITAS : Dunia Sarkasmenya Aria Kusumadewa

Cerita:
Petugas kamar mayat sebuah rumah sakit bernama Adam kerapkali mempertanyakan jati dirinya dikarenakan masa lalu ayahnya yang kelam. Adam baru merasa hidup saat memandikan dan mendandani mayat-mayat yang akan dikremasi atau dikubur atau bahkan jika tanpa identitas akan diberikan pada fakultas kedokteran sebagai bahan penelitian. Pada suatu ketika, perhatian Adam jatuh pada seorang perempuan tanpa nama yang menunggui ayahnya di rumah sakit dan akhirnya terpaksa melacur demi menebus semua obat. Keduanya mulai menjalin hubungan yang kompleks dimana akhir yang tragis mungkin saja menanti keduanya.

Gambar:
Dengan setting segala sudut rumah sakit dan lokalisasi pelacuran, semua adegan di film ini terasa real dan membumi dengan pencahayaan yang temaram.

Act:
Seperti biasa Tio Pakusadewo tampil maksimal. Kali ini sebagai Adam, petugas kamar mayat, ia terlihat agak "gila" dan terbelakang.
Leony VH masih terlihat sedikit canggung sebagai Hawa apalagi jika dihadapkan dengan Tio. Tetapi peran off mainstream dan gesturenya masih bolehlah mendapat apresiasi tersendiri.
Didukung pula oleh Ray Sahetapy dan Titi Sjuman.

Sutradara:
Pernah menelurkan sejumlah film yang justru tak pernah diputar di bioskop tanah air termasuk Beth tidak membuat Aria Kusumadewa jera. Kali ini Identitas "berhasil" tayang layar lebar dengan mengangkat konflik keseharian yang seringkali luput dari pandangan.

Komentar:
Kesan depresi akan anda tangkap sepanjang durasi film sehingga bisa jadi akan sangat membosankan bagi penonton awam. Kompleksitas hubungan antar dua tokoh utama memang bisa ditangkap dengan baik, terima kasih pada penjiwaan Tio walau banyak hal tak terjelaskan yang sebetulnya sulit dicari korelasinya. Secara keseluruhan boleh dibilang inilah dunia sarkasme rekaan Aria Kusumadewa yang menyoroti masalah politik, hukum sosial ekonomi, kemasyarakatan yang banyak terjadi, lengkap dengan celetukan-celetukan sinis di sana-sini yang akan membuat kita tertawa sambil mengernyitkan kening.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 05 Agustus 2009

DYING BREED : Teror Kanibalisme Terhadap Empat Muda-Mudi Pelancong

Tagline:
Every body has a different taste.

Cerita:
Dalam tugas mencari macan langka di pedalaman Tasmania, empat muda-mudi masing-masing Matt, Nina, Jack, Rebecca mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing dan penduduk setempat yang bersikap aneh. Adalah suatu legenda Pieman yang keluar dari mulut seorang bocah perempuan bernama Katie tentang kanibalisme. Benarkah pembantaian turis asing terjadi disitu demi stok daging mentah sebagai bahan makanan dan juga penghasil keturunan?

Gambar:
Pedalaman Tasmania yang didominasi hutan dan jurang berdasar sungai berhasil menampilkan gambar-gambar alami. Suasana sepi mencekam semakin terasa karena lingkungan masih terlihat asri dan belum terjamah.

Act:
Sebelumnya tampil mendukung Kevin Bacon dalam Death Sentence (2007), Leigh Whannell sebagai Matt.
Pernah membintangi film serupa dalam Wolf Creek (2005), Nathan Phillips kali ini tidak jauh berbeda dalam memerankan Jack yang temperamen dan kasar.
Bagi yang masih ingat film tragedi bom Bali yaitu Long Road To Heaven (2007), Mirrah Foulkes bermain sebagai wartawan disana dan disini kebagian peran Nina.
Film pertama bagi Melanie Vallejo dengan tokoh Rebecca yang tewas pertama kali dari empat sekawan tersebut.

Sutradara:
Film layar lebar ketiga yang disutradarai Jody Dwyer setelah pertama kali, A Whole New You (2004), Dying Breed berhasil terpilih dalam After Dark Horrorfest III : 8 Films To Die For yang banyak mengetengahkan tema serupa.

Komentar:
Storyline ekspedisi pencarian macan Tasmania seakan hanya tempelan belaka, sedikit informasi dan tidak ada eksplorasi sama sekali mengenainya. Yang ada hanyalah formula sama thriller perburuan manusia sejenis yang sudah berulang kali ditampilkan dimana masih setia menampilkan darah, potongan tubuh dan penjagalan hidup-hidup!
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan plot serupa, hanya saja penulisan cerita yang baik dan penokohan yang pas bisa jadi menjadi nilai tambah. Sayangnya Dying Breed tidak menyentuh sampai kesana sehingga hanya menjadi sebuah suspense menegangkan yang sangat membosankan dan mudah ditebak.

Durasi:
90 menit

Australia Box Office:
AUD 525,384 till Nov 2008

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 04 Agustus 2009

INSIDE RING : Dilema Putra Mafia Perancis Berpengaruh

Tagline:
A nasty Cop vs an iron fist Godfather. Now his son has to choose between his love or his father.

Storyline:
Gembong mafia cekatan Malakian sudah bertahun-tahun mengendalikan dunia bawah Perancis Selatan termasuk pencurian mobil ataupun pencucian uang. Sang ayah, Milo juga menguasai tangan yang mahir menembak ataupun berkelahi dengan apapun juga dan tiba saatnya ia mewariskan semua kejayaannya di tangan putranya, Anton. Sayangnya Anton justru mendambakan hidup tenang pilihannya sendiri termasuk menikahi kekasihnya Elodie yang belum lama dikenalnya itu. Namun Milo tidak menyerah begitu saja dan tetap melibatkan Anton dalam misi-misinya. Akankah titik balik terjadi dalam keluarga tersebut saat Inspektur Saunier mengincar keberadaan mereka dari jauh?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Alter Films dan Thelma Films.

Cast:
Aktor senior yang mengawali akting lewat The Hypothesis of the Stolen Painting (1979), Jean Reno bermain sebagai Milo Malakian, kepala keluarga sekaligus kepala gang yang handal.
Pernah dipercaya menjadi Hannibal muda dalam Hannibal Rising (2007), Gaspard Ulliel berperan sebagai Anton Malakian yang berusaha memilih jalannya sendiri di luar keluarganya.
Vahina Giocante sebagai Elodie
Sami Bouajila sebagai L'inspecteur Saunier

Director:
Film ketujuh bagi Laurent Tuel setelah debutnya dalam Céleste (1991).

Comment:
Bisa jadi sedikit terinspirasi The Godfather yang legendaris itu. Tidak heran karena diakui publik sebagai salah satu film terbaik dunia yang pernah dibuat bahkan hingga saat ini. Inside Ring yang beraroma Perancis pun menawarkan plot yang tidak jauh berbeda. Ayah mafia yang sangat berpengaruh bertekad menurunkan kejayaan pada anaknya yang mempunyai impian lain sambil menghindari kejaran Inspektur Polisi yang ambisius. Reno, Ulliel, Bouajila bermain decent saja disini sesuai skrip yang disodorkan pada mereka, kehadiran si cantik Giocante pun tidak banyak berpengaruh selain menjadi love interest Ulliel semata. Sutradara Tuel tampaknya setia dengan originalitas dan stereotype serupa tanpa berupaya menambahkan beberapa twist dan turns disana-sini yang mampu membuat penonton lebih excited menyaksikannya. Film berjudul asli Le premier cercle ini pada akhirnya hanya merupakan drama aksi biasa yang cenderung klise, hanya saja bercitarasa Eropa. Harapan anda untuk menyaksikan aksi seru harus dikubur dalam-dalam karena sebaliknya drama bertempo lambat tanpa pendalaman karakter yang disuguhkan disini. Secara keseluruhan lebih merupakan film televisi dengan kualitas sinematografi dan editing yang sedemikian standarnya.

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
$2,524 in opening week Estonia Jun 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 03 Agustus 2009

THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS : Persahabatan Dua Bocah Bertolak Latar Belakang

Quotes:
Bruno-Why do you wear pajamas all day?
Shmuel-The soldiers. They took all our clothes away.
Bruno-My dad's a soldier, but not the sort that takes people's clothes away.

Cerita:
Merasa bosan dan tidak nyaman di rumah barunya, Bruno, seorang anak lelaki polos berusia 8 tahun, tidak memperdulikan ayah-ibunya dan memulai suatu petualangan di hutan. Kemudian dia bertemu seorang anak lelaki plontos bernama Shmuel yang berusia sama dengannya. Lambat laun keduanya menjalin persahabatan yang dibatasi oleh kawat listrik. Apakah pada akhirnya Bruno yang anak komandan Jerman mengetahui bahwa Shmuel sesungguhnya adalah tawanan Yahudi ayahnya?

Gambar:
Bersetting di Budapest, Hungaria, film ini bisa dikatakan kaya dengan gambar-gambar alaminya termasuk rumah tahanan dan rumah komandan tentara yang terlihat sangat otentik.

Act:
Asa Butterfield yang sebelumnya tampil dalam Son of Rambow (2007) kali ini bermain mengesankan sebagai Bruno, anak lelaki yang tidak bahagia karena kondisi ayah-ibunya yang saling bertengkar dan kakak perempuan yang berbeda watak dengannya.
Tidak kalah gemilang dalam debut layar lebarnya, Jack Scanlon yang asal Inggris berperan sebagai Shmuel, anak tahanan Yahudi yang terbelenggu dan terbatas ruang geraknya.
Pernah mendukung film Oscar, The Departed (2006), Vera Farmiga juga terampil memerankan Ibu Bruno yang tertekan oleh kekejaman suaminya yang merupakan tentara Jerman sejati.

Sutradara:
Absen 5 tahun setelah menelurkan Hope Springs (2003), Mark Herman merupakan sutradara berbakat yang ada di luar pantauan. Ia sukses membawa film ini memenangkan Audience Choice Award bersama Slumdog Millionaire di ajang Chicago Film Festival 2008.

Komentar:
Diangkat dari novel laris karya John Boyne, The Boy In The Stripped Pyjamas mampu mentransformasikan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar yang mengagumkan. Cast yang kuat terutama Farmiga dan Butterfield berhasil mendukung penonton bersimpati pada mereka. Persahabatan yang terjalin antar dua bocah tersebut terasa natural dan berkembang dengan baik. Dari awal sampai akhir, film ini memang dirancang untuk menggugah sekaligus mengejutkan sehingga mungkin anda akan terpaku lama di bangku selepas endingnya berakhir. Ending dengan seribu arti yang tidak terjelaskan oleh kata-kata..

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$9,030,581 till Jan 2009

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!