XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Senin, 25 Mei 2009

KILLSHOT : Suami Istri Target Duet Pembunuh Kejam

Tagline:
Yesterday she was a witness. Today she's a target.

Storyline:
Si Burung Jalak dan rekannya Richie seringkali main hakim sendiri saat ditugaskan bos mafia mereka. Pembunuhan demi pembunuhan keji terus dilakukan walau di luar target yang seharusnya. Beberapa waktu lalu pernah menyaksikan langsung kekejaman Richie, Carmen Colson dan suaminya Wayne ditempatkan di St Missouri dengan identitas baru oleh Departemen Perlindungan Saksi. Ketika Carmen berpikir mereka berdua telah aman, Si Burung Jalak yang jago tembak dan Richie sang psikopat muda pembunuh mulai mengintai. Akankah keduanya selamat dari target pembunuhan?

Nice-to-know:
Tanggal rilis film ini berubah beberapa kali dikarenakan sejumlah pengambilan ulang gambar dari versi originalnya yang selesai Januari 2006.

Cast:
Di tahun yang sama mendapat nominasi Oscar Aktor Terbaik dalam The Wrestler, Mickey Rourke bermain sebagai pembunuh senior yang berdarah dingin.
Aktris senior ini memperoleh satu-satunya nominasi Oscar Aktris Pembantu Terbaik dalam Unfaithful (2002), Diane Lane kali ini kebagian karakter Carmen yang tidak sengaja menyaksikan pembunuhan hingga nyawanya terancam.
Sebelum ini terlibat dalam film panjang Mutant Chronicle dan film pendek The Butler's In Love, Thomas Jane berperan sebagai Wayne yang harus sigap melindungi diri dari ancaman pembunuh.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Richie
Rosario Dawson sebagai Donna

Director:
John Madden sempat meraih nominasi Sutradara Terbaik dalam Academy Awards 1999 lewat Shakespeare In Love (1998).

Comment:
Diangkat dari novel Elmore Leonard, skripnya dikerjakan oleh Hossein Amini dan sang sutradara sendiri John Madden. Hasilnya cenderung gagal menurut saya! Tema serupa sudah beratus ribu kali diangkat baik lewat layar lebar maupun layar kaca. Dan itulah yang menjadikan film layar lebar ini patut dikonsumsi langsung di layar kaca lewat media digital video disc ataupun home video. Apa sebab? Harus diakui jajaran cast nya menjanjikan. Siapa yang tidak mengenal nama-nama macam Jane, Lane, Rourke, Gordon-Levitt, Dawson, Holbrook. Dan kesemuanya menampilkan kualita akting khas yang cukup mumpuni. Hanya saja jatuhnya menjadi sia-sia karena penokohannya sendiri agak berantakan, lebih dikarenakan konstruksi cerita yang tidak pada tempatnya. Prolog film yang cukup menarik menjadi terdegradasi di pertengahan dan hancur lebur di epilognya. Bagaimana duet maut Blackbird dan Richie menjadi begitu mentah pada akhirnya. Pelarian suami istri Wayne dan Carmen dengan identitas baru juga terasa menggampangkan logika apalagi keduanya tetap terancam bahaya juga.
Awalnya saya penasaran dengan film aksi ini tapi melewatkannya di bioskop hingga baru menonton di dvdnya nyaris beberapa tahun sebelumnya. Sempat tersiar kabar, kualitas tampilan gambar film ini mengalami penurunan di videonya. Entahlah tapi bisa jadi karena mata saya terasa mengantuk dengan editing yang tidak mulus dan visualisasi yang buram tidak konsisten. Sebetulnya Killshot memiliki bumbu yang baik tetapi dimasak dengan tidak tepat, bahkan oleh sutradara sekelas Madden. Oh well!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$17,007 till end of Feb 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 24 Mei 2009

NIGHT AT THE MUSEUM 2 : Petualangan Baru Di Museum Yang Lebih Besar

Quotes:
Kah Mun Rah-I have come back to life!
Larry Daley-No, I heard that. I got that. Welcome back.

Cerita:
Ketika Museum Sejarah Nasional ditutup untuk renovasi dan perbaikan, segala isinya harus dipindahkan ke Museum Washington yang jauh lebih besar termasuk di dalamnya Institusi Smithsonian yang berisikan lebih dari 136 juta koleksi mulai dari wanita penerbang pertama, Amelia Earhart hingga bandit ternama, Al Capone! Kali ini Larry Daley yang awalnya tidak diijinkan berada disana, nekad mencuri ID seorang penjaga untuk menuntaskan tanggungjawab yang diberikan padanya mengamankan miniatur sahabat-sahabatnya. Sialnya ternyata lempengan tablet ajaib turut membangunkan seluruh isi museum termasuk Kahmunrah, Pharaoh jahat yang berniat menguasai dunia. Apakah dengan bantuan teman-temannya, Larry berhasil menguasai situasi yang semakin kacau tersebut?


Nice-to-know:
"American Gothic" dan "Nighthawks" di Art Institute of Chicago, "The Thinker" di Musee Rodin - Paris, "Venus Italica" di North Carolina Museum of Art, Degas ballerina di Royal Academy - London adalah sebagian lokasi nyata yang digunakan film ini. Keseluruhan syuting dilakukan di Canada, New York dan Washington.

Cast:
Memulai karir layar lebar di usia 22 tahun dalam Shoeshine (1987), Ben Stiller adalah salah satu komedian top Hollywood saat ini termasuk kedua kalinya ia berperan sebagai si penjaga museum, Larry Daley.
Melejit lewat Enchanted (2007), Amy Adams disini bermain sebagai Amelia Eartheart, wanita penerbang pertama yang melintasi lautan Pasifik.
Owen Wilson, Hank Azaria, Robin Williams, Steve Coogan melanjutkan karakter Jedediah, Kahmunrah/The Thinker/Abe Lincoln, Teddy Roosevelt dan Octavius.

Director:
Melanjutkan dua kesuksesannya di tahun 2006 yaitu The Pink Panther dan episode pertama Night At The Museum yang fenomenal itu, Shawn Levy yang asli Kanada ini ditunjuk kembali untuk menangani sekuelnya yang bersubtitel Battle Of The Smithsonian.


Comment:
Trailernya memang menjanjikan. Selain fakta bahwa film pertamanya lucu, kreatif dan menghibur. Namun keraguan kualitas sekuel yang baik selama ini memang menghantui film apapun juga. Premis awalnya hanyalah pemindahan skala ke yang lebih besar. Konfliknya kurang lebih sama dengan kehadiran pihak antagonis yang lebih kuat. Apakah ini berarti sang penulis kehabisan ide? Beruntung pengembangan semua karakternya memang mendapat porsi yang seimbang dan saling bersinergi untuk menghadirkan lelucon. Dari segi cast, tidak banyak perubahan yang dilakukan Stiller terhadap peranannya. Namun tidak halnya dengan Azaria yang tampil brilian disini dengan tiga karakter penting yang dimainkannya. Adams juga memikat dengan rambut merah dan kostumnya yang gagah itu. Beruntung sang sutradara masih mempersenjatai sekuel ini dengan spesial efek yang rapi dan juga background musik yang menarik. Kesimpulan akhirnya, Battle Of The Smithsonian ini tetap mempertahankan konsep film keluarga yang bisa dinikmati orang dewasa dan anak-anak. Jika memang masih dibuat sekuel keduanya di masa mendatang, semoga lebih baik lagi.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$177,233,619 till Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 23 Mei 2009

MY BLOODY VALENTINE : Dendam Pekerja Tambang Psikopat

Quotes:
Burke-[to a crime scene corpse] Happy fucking Valentine's Day.

Cerita:
Pertambangan Hanniger runtuh, lima orang tewas dan satu orang bernama Harry Warden dalam keadaan koma. Diduga Harry menjadi gila dan membantai rekan-rekannya untuk menghemat persediaan air. Setelah terbangun, Harry kembali "berulah" dan melarikan diri dari rumah sakit tepat pada saat hari Valentine. Di lain tempat, empat muda-mudi Axel dan pacarnya Irene menunggu kedatangan teman mereka Sarah dan pacarnya Tom di perayaan Valentine's Day yang diadakan di pertambangan Hannigan yang terbengkalai. Mudah ditebak, Harry muncul dan menghabisi kawanan anak SMU tersebut. Empat sekawan itu kemudian berpisah..Sepuluh tahun berlalu, Axel telah menjadi sheriff setempat dan menikah dengan Sarah. Tidak dinyana Tom kembali ke kota itu setelah kematian ayahnya. Legenda Harry Warden yang terkubur lama tiba-tiba mencuat kembali. Tragedi pembantaian pun terulang kembali. Benarkah sesungguhnya Harry masih hidup?

Gambar:
Mengambil set di Pennsylvania dengan dominan waktu malam hari. Ketenangan kota dan tambang yang terbengkalai disyut dengan baik.

Act:
Terkenal sebagai Dean Winchester dari serial teve sukses Supernatural, Jensen Ackles merambah layar lebar dalam film ini dengan berperan sebagai Tom Hannigan yang berusaha meneruskan pertambangan ayahnya yang pernah terjadi tragedi.
Memulai debut layar lebar di tahun 2001 dalam 3 film yaitu Happy Campers, Blow dan Pearl Harbor, Jaime King kebagian karakter Sarah yang berusaha mencari tahu latar belakang apa yang membuat Harry Warden seakan kembali setelah sepuluh tahun.
Pernah mendukung thriller remaja hit Final Destination (2000), Kerr Smith kali ini bermain sebagai sheriff Axel yang menyimpan "rahasia" terhadap istrinya sendiri yang notabene mantan kekasih sahabatnya dahulu.

Sutradara:
Angkat nama setelah membesut Dracula 2000 dan dua sekuelnya, Patrick Lussier boleh diacungi jempol atas inovasinya menciptakan 3D horor pertama di Hollywood tanpa kehilangan sentuhan ketegangan dan kesadisan.

Komentar:
Remake dari film berjudul sama di tahun 1981. Sebetulnya tidak ada yang baru yang ditawarkan film ini, plot serupa dengan yang kita saksikan dalam Friday The 13th ataupun Halloween tetapi yang membuatnya cukup mengesankan adalah aspek 3-D yang cukup detail dan terorganisir dengan baik mulai dari awal sampai akhir film. Beberapa adegan sadis yang berlumur darah mungkin akan sulit dicerna mata karena sangat mengerikan. Akting pemain cukup standar. Cerita agak sedikit dipaksakan tapi masih bisa diterima karena tetap berusaha menyembunyikan twist di ending. Bagi anda penikmat thriller remaja khas 80an, jangan lewatkan My Bloody Valentine dan persenjatai mata anda dengan kacamata tiga dimensi yang membuat semuanya seakan nyata di hadapan anda!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$51,527,787 till March 2008

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 22 Mei 2009

TOKYO GORE POLICE : Polisi Wanita Kembalikan Masa Depan Tokyo

Tagline:
Tokyo Is Burning.

Storyline:
Berlatar belakang dunia masa depan di Tokyo dimana polisi telah disingkirkan dan kepahitan kehancuran diri menjadi peristiwa yang biasa. Ini adalah kisah tentang seorang samurai wanita, Ruka dan misinya untuk membalas dendam atas pembunuhan ayahnya di masa silam. Ruka adalah seorang polisi yang bertujuan menghancurkan mutan-mutan manusia yang dikenal sebagai "insinyur" yang memiliki kemampuan untuk mengubah semua bentuk luka menjadi senjata untuk dirinya.

Nice-to-know:
Memenangkan gelar Film Terbaik pada Festival Film Fant-Asia 2008.

Cast:
Mulai dikenal sejak membintangi Audition (1999), Eihi Shiina bermain sebagai Ruka, polwan tangguh pantang menyerah menegakkan keadilan.

Director:
Merupakan film keempat bagi Yoshihiro Nishimura sejauh ini setelah debut awalnya di Anatomia Extinction (1995).

Comment:
Melihat poster dan premisnya, saya cukup antusias dengan film ini. Meskipun melewatkan penayangannya di Blitz Megaplex dan membeli dvd originalnya saat obral, saya tetap menyaksikannya juga. Namun setelah beberapa menit berlalu, rasanya ekspektasi saya sedikit meleset. Dikategorikan sebagai sains fiksi action horor, film ini menawarkan bergalon-galon darah yang memancar dari anggota tubuh yang terpotong ataupun tampilan manusia (lebih tepat disebut makhluk) yang aneh dengan tanduk, tangan bergigi dsb. Semua itu jujur membuat saya off dan bingung dengan suguhan yang menjijikkan tersebut. Plotnya sendiri sebetulnya imajinatif tetapi dideliver dengan cara yang ekstrim. Acungan jempol bagi sutradara Nishimura dengan kreatifitas gilanya. Sebagai aktris utama, Shiina tampil dominan dengan ekspresi dingin dan sabetan samurai nan mumpuni. Saat mengetahui durasi aslinya yang mencapai dua jam, saya sempat tertohok karena apa yang saya saksikan kurang dari satu setengah jam. Mungkin itu menjelaskan beberapa adegan seks vulgar ataupun pembantaian sadis yang hilang dari layar. Anyway, Tokyo Gore Police bukan film yang bagus, tapi tidaklah buruk, terbukti mendapat rating yang cukup bagus di internet dari para reviewernya. Hanya saja ini bukanlah film saya karena semua elemen yang over-the-top itu tidak berkorelasi dengan konstruksi cerita, tidak seperti The Machine Girl yang menurut saya lebih "beradab" dan memuaskan itu.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 21 Mei 2009

ANGELS & DEMONS : Memecahkan Misteri Menggagalkan Kehancuran Vatikan

Quotes:
Robert Langdon-I need access to the Vatican Archives.
Richter-Access to the Archives is only by written decree by the Holy Father.
Robert Langdon-Fellas, you called me.

Cerita:
Meskipun tidak berjiwa gereja sama sekali, ahli simbol Harvard, Robert Langdon dipanggil kembali untuk memecahkan teka-teki suatu organisasi rahasia terselubung bernama Illuminati. Paus meninggal dan sebelum pemilihan dimulai untuk mencari penggantinya, empat Kardinal diculik dan terancam dibunuh dengan cara yang berbeda-beda. Bersama Vittoria Vetra, Robert Langdon harus berjibaku dengan waktu memecahkan kunci misteri yang sangat mengejutkan sebelum kota Vatikan dimusnahkan dengan bom berkekuatan tinggi.

Gambar:
Bersetting sebagian besar di Roma dan California, Angels & Demons berhasil mengetengahkan peristiwa yang seakan nyata terjadi di site-site yang sebetulnya legendaris dan sensitif tersebut.

Act:
Tak diragukan lagi kualitas akting Tom Hanks yang diganjar dua kali Piala Oscar untuk kategori aktor terbaik termasuk kemenangan pertama di Philadelphia (1993). Ini merupakan kali kedua Hanks berperan sebagai ahli simbolis Robert Langdon dan penjiwaannya semakin baik.
Di tahun yang sama Hanks memenangkan Oscar pertama, Ewan McGregor juga memulai debutnya dalam Being Human. Dalam Angels & Demons, McGregor berperan sebagai Camerlengo Patrick McKenna.
Aktris kelahiran Israel, Ayelet Zurer mulai dikenal luas setelah membintangi Munich (2005). Mendapat kepercayaan dari Ron Howard untuk memegang peran Vittoria Vetra.
Baru saja tampil mendukung Mamma Mia!, Stellan Skarsgard dalam film ini menjabat sebagai Komandan Richter yang tegas dan ambisius.
Aktor Denmark yang mulai menanjak, Nikolaj Lie Kaas setelah bermain dalam The Candidate memegang peran antagonis dalam Angels & Demons.

Sutradara:
Kerjasama kelima dengan Tom Hanks, sutradara yang juga dikenal sebagai penulis dan aktor ini, Ron Howard kembali dalam prekuel The Da Vinci Code (2006). Karya-karya besar novelis tenar Dan Brown boleh dibilang sukses diterjemahkan Ron ke layar lebar, terbukti dari hasil peredaran film ini yang selalu mencapai box-office dimanapun ditayangkan.

Komentar:
Pesan utama dari saya, berhenti membandingkan isi film ini dengan bukunya. Bahasa tulisan dan bahasa visual adalah dua hal yang berbeda. Bolehlah buku karya Dan Brown itu dijadikan acuan tapi hargailah kinerja Ron Howard yang sangat baik di film ini, melebihi pencapaiannya dalam The Da Vinci Code. Musik dari Hans Zimmer terasa megah, sangat membantu menggapai nuansa relijius dan tidak usah heran kalau film yang berbau agama cenderung kontroversial. Terima saja Angels & Demons sebagai sebuah fiksi belaka dan anda akan menikmatinya dari awal sampai akhir. Akting brilian terutama dari McGregor dan twist ending yang tidak terduga membuat film ini layak tonton di tengah serbuan summer movies 2009!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
Mid May 2009 opening week $46,204,168

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 20 Mei 2009

BENCI DISKO : Persaingan Jago Disko Lantai Dansa

Tagline:
Jalan aja ngawur, apalagi DISKO..

Cerita:
Dua pemuda satu ayah lain ibu yang saling bermusuhan yaitu Harim dan Setiawan mendapat tugas mencarikan jodoh bagi adik perempuan tirinya, Harti tepat sebelum ayahnya Hamdan menghembuskan nafas terakhir. Tugas itu tidaklah mudah karena Harti hanya mau menikah dengan cowok yang jago disko seperti ayah mereka. Harim yang keriting urakan dan Setiawan yang pirang kemayu memutar akal untuk memenuhi permintaan itu sampai akhirnya bertemu Herman Amir di sebuah klub. Herman Amir yang jago disko klasik di luar dugaan menantang Harim dan Setiawan bertanding di lantai disko. Bagaimana akhir dari kemelut itu?

Gambar:
Sebagian besar mempertontonkan koreografi "disko" klasik lengkap dengan suasana club yang kental dengan warna 80an.

Act:
Tora Sudiro sebagai Harim yang urakan dan mengalami "insiden" semasa kecil tapi dituntut memenuhi keinginan adik tirinya itu.
Vincent Rompies cukup meyakinkan sebagai Setiawan yang banci dan harus bekerjasama dengan saudara seayahnya yang sebetulnya tidak disukainya itu.
Poppy Sovia tampil kocak sebagai Harti yang polos dan berselera "makan" buas.
Arie Untung sebagai si sombong jorok Herman Amir yang menguasai gaya disko klasik warisan gurunya di masa lalu.


Sutradara:
Reuni kembali Rako Prijanto dengan Tora Sudiro setelah D'Bijis (2006). Ada perbedaan mendasar antara karya komedi dan drama dari seorang Rako. Bahasa komedinya ternyata lebih "berbicara" dibanding bahasa puitisnya. Tidak percaya? Bandingkan saja sendiri.

Komentar:
Tidak perlu berpikir saat menyaksikan BENCI DISKO. Nikmati dan tertawa saja jika memang menurut anda lucu. Apa pasal? Sebab jika merunut ceritanya pada prolog sampai berujung pada epilog, tidak ada korelasi yang masuk akal. Permasalahan yang menjadi tema utama sama sekali tidak terselesaikan karena paruh kedua film terlalu sibuk mempertontonkan ajang "berdisko" di atas lantai dansa jika memang itu masih bisa disebut gaya disko yang benar dan baik, apalagi musik pendukungnya terasa tidak orisinil. Hm, seharusnya bisa lebih baik lagi andaikata tim kreatif mau lebih maksimal dalam bekerja. Sayang disayang!

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 19 Mei 2009

RASA : Sinergi Beberapa Pihak Dalam Pencarian Gadis Cilik

Tagline:
Karena CINTA.. adalah RASA

Cerita:
Pelukis muda Rianti adalah sosok introvert dikarenakan mampu melihat masa depan mengerikan seseorang yang tidak pernah dikenalnya. Meski demikian tidak membuat kurator seni bernama Wisnu menjauh, malah berusaha meyakinkan Rianti akan cintanya yang tulus apa adanya. Di saat bersamaan, Anthony seorang profesor kelahiran Inggris berusaha mencari jawaban akan nasib anaknya Mariah yang diculik segerombolan penjahat yang menginginkannya mencari keris pusaka. Nasib mempertemukan Wisnu-Rianti dengan Anthony-Laras dalam suatu klimaks yang tidak terduga.

Gambar:
Dominan dengan warna biru teduh, RASA terasa berbeda karena bahasa gambar bernuansa abstrak yang bisa dikatakan absurd.

Act:
Christian Sugiono sebagai kurator muda bernama Wisnu yang pantang menyerah demi mendapatkan hati kekasihnya yang seakan beku.
Pevita Pearce sebagai pelukis masa depan bernama Rianti yang menyalahkan dirinya sendiri atas nasib buruk yang menimpa orang-orang di sekitarnya.
Steve Benitez sebagai profesor kebangsaan Inggris, Anthony yang panik akan nasib anak gadis ciliknya yang diculik demi suatu tujuan.
Wulan Guritno sebagai Laras, istri Anthony.
Alex Komang sebagai Slamet, pemilik galeri.
Joe Taslim sebagai Joe, pimpinan penjahat penculik Mariah.

Sutradara:
Bisa dikatakan proyek ambisius bagi Charles Gozali dalam membesut karya perdananya ini karena menampilkan banyak bintang ternama sebagai cameo ataupun peran figuran. Beliau menyebut RASA sebagai film bergenre drama thriller.

Komentar:
Awalnya agak berekspektasi tinggi karena membaca storyline yang cukup menarik berubah menjadi kekecewaan saat menyaksikan filmnya. Mengapa? Campur aduk genre dan campur aduk bahasa menjadi poin utama penyiksaan terhadap penonton. Tebakan saya RASA ini kerjasama Indonesia-Filipina, mudah-mudahan tidak salah. Pemaksaan cerita yang dibalut dialog puitis klise? Aih, hare gene.. Cerita yang dipaksakan dan tidak mulus saat pergantian adegan karakter satu dengan yang lainnya. Masih ditambah dengan narasi dan alur film yang membosankan hanya untuk melengkapi penderitaan. Seakan tidak peduli lagi dengan nasib para tokoh film ini, satu persatu penonton pun melenggang pergi meninggalkan ruang bioskop!

Durasi:
105 menit

Overall:
6 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 17 Mei 2009

BORDERTOWN : Menyelidiki Kasus Wanita Daerah Terisolir

Tagline:
Lies. Corruption. Murder. One reporter will break the silence.

Cerita:
Dua pria secara brutal memperkosa gadis muda, Eva Jimenez dan meninggalkannya terkubur dalam apsir. Beruntung Eva bisa sadar dan segera keluar untuk mencari pertolongan. Seorang jurnalis Amerika, Lauren Adrian yang juga berdarah Meksiko ditugaskan melacak kasus pembunuhan di Juarez dengan meminta bantuan mantan kekasihnya, Alfonso Diaz yang juga editor surat kabar Meksiko. Tanpa sengaja, Lauren bertemu Eva dan berjanji membongkar semuanya sekaligus menghapus trauma memori Eva. Tapi apakah dengan merekonstruksi kejadian dan mengalaminya sendiri akan membantu Lauren mengungkap semua ataukah membawanya ke dalam bahaya yang tidak pernah ia duga sebelumnya?

Act:
Jennifer Lopez memulai dunia akting sejak My Little Girl (1986) kali ini berperan sebagai Lauren Adrian, jurnalis Amerika kelahiran Meksiko yang harus menghadapi tantangan investigasinya sekaligus menyembuhkan masa lalunya yang kelam.
Mengawali debut layar lebar film berbahasa Inggrisnya di tahun yang sama dengan J.Lo yakni Matador, Antonio Banderas merupakan satu dari sedikit aktor Spanyol yang mampu berkibar di Hollywood. Perannya kali ini sebagai editor surat kabar lokal yang selalu ditentang pemerintah setempat, Alfonso Diaz.
Sejauh ini masih terlibat dalam dunia perfilman Spanyol, Maya Zapata menunjukkan talentanya sebagai Eva Jimenez, gadis muda yang menjadi korban perkosaan sekaligus penganiayaan untuk pada akhirnya berjuang mengenali para pelakunya.


Sutradara:
Pernah mendapat nominasi Oscar untuk naskah penulisan terbaik dalam El Norte (1983) bersama Anna Thomas, Gregory Nava kembali untuk membesut Bordertown yang diangkat dari kisah nyata ini. Keterampilannya membuat film ini terasa begitu nyata dan natural. Great job!

Komentar:
Meski diangkat dari kisah nyata, film ini menyajikan sesuatu yang beda. Konstruksi cerita yang sangat detail dari awal menuntun kita bersimpati pada tokoh Eva Jimenez lalu sampai pada perkenalan terhadap Lauren Adrian dan Alfonso Diaz. Tensi terus meningkat pada pertengahan film dan penyelesaian terakhir ditutup dengan dramatis dan masuk akal. Akting J.Lo patut diacungi jempol karena mampu memberikan nyawa. Terima kasih juga patut dilayangkan pada sang sutradara yang telah memberikan yang terbaik. Sayangnya entah kenapa film yang selesai produksi sejak 2006 lalu ini tidak dirilis internasional termasuk di Amerika. Last not but least, peristiwa mengenaskan yang terjadi di Juarez ini memang sangat miris dan patut disikapi dengan serius, sekaligus menjadi pembelajaran moral bagi kita semua, warga negara bebas yang sudah seharusnya memiliki hak dan kewajiban masing-masing.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 15 Mei 2009

RISE OF THE DEAD : Fenomena Kerasukan Arwah Masa Lalu

Tagline:
When The Underworld Takes Over.

Storyline:
Di sebuah kota kecil Dudley, Laura Childs hampir diperkosa oleh pengacara normal yang tiba-tiba menjadi gila. Saat kekasihnya, Jack Walther menyelamatkan dengan menabrak pengacara tersebut hingga tewas, polisi tidak mempercayai pengakuan itu dan memenjarakan Jack. Masalah menjadi semakin rumit saat teman sekamar Laura dibunuh dan polisi lokal mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa terjawab. Lambat laun Laura menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya berubah satu persatu dan mungkin itu terhubung pada masa lalu Laura akan sesuatu yang telah lama tersimpan rapat.

Nice-to-know:
Awalnya berjudul Tantrum. Namun akhirnya diubah setelah dibeli Lightning Entertainment dan Lions Gate.

Act:
Erin Wilk sebagai Laura Childs
Stephen Seidel sebagai Jack Walther
Peter Blitzer sebagai Sheriff Brown
Chris Ferry sebagai Deputy Greer

Director:
William Wedig pertama kali menggarap The Competitive (2002). Rise of the Dead adalah film keempatnya sejauh ini.

Comment:
Didelegasikan langsung dalam format video. Hmmm! Saya mengharapkan ini setidaknya semacam film zombie seperti Dawn of the Dead dan sejenisnya yang masih layak tonton dengan tensi yang cepat. Namun kenyataannya?! Dibuka dengan beberapa kali adegan flashback dari sudut pandang tokoh Laura beserta pengenalan dirinya. Sampai sini masih terlihat tidak meyakinkan tetapi plot terus bergulir. Inti ceritanya mengenai seorang wanita yang dikejar orang-orang di sekelilingnya yang dihantui arwah putranya yang terkutuk. Aneh bukan? Dan percayalah, kematian satu persatu korban di sini juga teramat sangat murahan dan dibuat-buat. Dengan akting yang di bawah rata-rata dan cast yang tidak ternama, apa lagi yang bisa diharapkan. Bujet rendah yang benar-benar tidak bisa dimaksimalkan lagi selain tentunya mencoba beberapa adegan syur yang sangat dipaksakan. Rise Of The Dead menutup semuanya dengan ending yang juga janggal, di luar pikiran anda. Totally waste of time!!

Durasi:
65 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 14 Mei 2009

SNIPER : Perang Psikologis Para Sniper Membekuk Gangster

Cerita:
Penembak jitu terbaik Kepolisian Hongkong, Hartman memiliki perseteruan dengan rekannya dulu, Lincoln yang juga sama-sama berprestasi. Semua itu terjadi karena Lincoln pernah mengakibatkan beberapa sandera terbunuh pada saat perampokan bank yang dikepalai Guan Hua beberapa tahun silam. Masa kini, OJ seorang penembak jitu berusia muda mulai mengikuti jejak kedua seniornya itu dengan menguasai skill tingkat tinggi. Ketika Guan Hua dibebaskan dari penjara oleh kawanannya Er Ge, tibalah saatnya bagi Hartman dan OJ bekerjasama untuk membekuknya kembali dimana saat itu Lincoln sudah berseberangan dengan Kepolisian karena sakit hatinya.

Gambar:
Adegan penembakan dari atas gedung bertingkat dan laju peluru mengenai sasaran seakan mengingatkan kita pada beberapa film aksi Hollywood.

Cast:
Melejit lewat peran Kepala Bawang dalam Fly Me To Polaris (1999), Richie Ren kali ini memerankan Hartman, kepala sniper yang tegas dan keras hati.
Edison Chen yang terakhir ambil bagian dalam versi IMAX The Dark Knight disini kebagian peran OJ, sniper muda berprestasi yang punya cara sendiri.
Huang Xiaoming sebagai Lincoln
Bowie Lam sebagai Shan Ge
Liu Kai Chi sebagai Er Ge

Sutradara:
Karier penyutradaraan Dante Lam diawali lewat Option Zero (1997), Sniper merupakan film ke-14 nya.

Comment:
Biasanya film action Mandarin hanya menjanjikan di awal dan terbukti halnya film ini. Pertengahan terasa sangat klise dan mudah sekali ditebak. Saat sniper muda direkrut, dilatih dan mengembangkan kemampuannya termasuk mendapat sentuhan gelap dari musuh instrukturnya seharusnya bisa dimaksimalkan sehingga niscaya cerita bergulir lebih menarik. Adegan aksi terekam dengan baik terutama saat peluru ditembakan dari jarak ratusan meter di ketinggian, juga pada saat latihan. Tetapi selebihnya tidak ada yang spesial. Fokus pada problematika karakter yang beragam sebetulnya bisa lebih dimaksimalkan dan entah kenapa terasa blur dan tanggung disini. Mungkin karena Richie, Edison, Huang terasa agak flat dalam berbagi chemistry satu sama lain. Akhir baris, Sniper hanyalah film action standar dengan potensi walaupun agak gagal dalam eksekusi.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!