Cerita: XL #PerempuanHebat for Kartini Day
THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day
Sabtu, 17 Januari 2009
THE SCREEN : Pemutaran Film Pembuka Pintu Kematian
Cerita: Jumat, 16 Januari 2009
KAWIN LARIS : Perseteruan Antar Penghulu Kecamatan
Iin-Akang tahu pasti kenapa pernikahan membuat saya bahagia? Bukan karena pestanya, tetapi itu adalah satu hari dimana kita merayakan harapan, merayakan keinginan kita untuk kebahagiaan. Dan bagian terbaiknya kita bisa menjalani hari itu bersama orang yang kita cintai..
Cerita: Menjalani cita-citanya sedari kecil menjadi penghulu, Agus menemui kesulitan karena tingkat pernikahan di kecamatannya menurun drastis. Dengan kondisi itu, cabang kecamatannya terancam dimerger dengan kecamatan sebelah, pimpinan Deon, penghulu muda yang narcis dengan asistennya, Mamud yang culas. Di kantor penghulu, Agus tidak sendiri karena dibantu Iin dan Beben, penghulu baru yang culun. Kepopuleran Agus membuat Deon dan Mamud cemas sehingga berbagai cara picik mereka lakukan. Peperangan antar penghulu pun tidak terhindarkan terutama mendapatkan klien penting, sang selebritis Amanda yang akan menikah dengan anak pejabat Pandu. Siapa di antara mereka yang akan menang?
Gambar:
Beberapa adegan slapstick juga ditampilkan tidak mengurangi dinamika gambar-gambar kaya warna yang disajikan sutradara. Situasi kecamatan dan sekitarnya disyut dengan pas.
Cast:
Zumi Zola yang pernah menjadi model vidklip Agnes Monica, Tanpa Kekasihku kembali ke layar lebar setelah bertahun-tahun. Sebagai Agus, Zumi tampil berkumis dan terkesan soleh.
Jill Gladys dan Edric Tjandra cukup memuaskan bermain sebagai asisten Agus yaitu Iin dan Beben.
Sang antagonis, Vincent Rompies berperan sebagai penghulu narsis dan matre, Deon yang didukung Candil sebagai asisten kribo, Mamud.
Ada juga Nana Mirdad sebagai Amanda Alissa dan Udjo Project Pop sebagai Pandu Wicaksana yang menjadi klien rebutan kedua penghulu tersebut.
Sutradara:
Baru saja mengarahkan Cinta Laura dan Randy Pangalila dalam Oh Baby (2008), salah satu dari sangat sedikitnya sutradara wanita di Indonesia, Cassandra Massardi kembali dengan tema yang lebih dewasa yang mengetengahkan persaingan antar penghulu.
Comment:
MM Insa & Mega Media Pte Ltd yang bekerjasama dengan Media Development Authority of Singapore menghasilkan komedi perdana mereka. Dari plot dan tema cerita, sesungguhnya ini hal yang baru karena belum banyak film yang mengangkat kisah hidup penghulu pernikahan yang sebetulnya profesi berjasa besar. Dari segi cast meski bukan yang terbaik, aktor aktris yang terlibat disini menjalankan peran masing-masing dengan cukup maksimal. Sang sutradara selama ini banyak bermain di film ringan juga harusnya tidak kesulitan mengolah resources yang ada. Tetapi mengapa pada akhirnya Kawin Laris (KL) tidak diterima masyarakat dan cenderung menghilang setelah putar kurang lebih seminggu di bioskop? Jawabannya terletak pada nilai jual! Penonton yang sedemikian banyak sayangnya masih berselerakan horor atau komedi seks sehingga KL dianggap kurang memenuhi selera pasar. Dari segi penggarapan eksplorasi cerita, sebenarnya sudah bisa dikatakan baik, hanya saja ada beberapa sekuens yang terasa datar-datar saja apalagi dengan intensitas turun naik. Fakta ini cukup mengganggu menikmati film secara keseluruhan. Menurut pandangan saya, KL sudah mencapai taraf standar sebuah hiburan. Bagaimana menurut anda?
Durasi:
90 menit
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Kamis, 15 Januari 2009
SETAN BUDEG : Aksi Trio Pencari Jenazah Mengungkap Misteri Mayat Hilang
Komentar:
Durasi:
Overall:
Penilaian:
Rabu, 14 Januari 2009
THE OXFORD MURDERS : Penelusuran Teka-Teki Pembunuhan Berantai Cerdas
Senin, 12 Januari 2009
UNDER THE TREE : Potret Problematika Sosial Berbaur Dengan Kebudayaan Bali
“Social realism meets mysticism, topical commentary meets poetry.”
Cerita:Mengisahkan tiga sosok wanita dengan problemanya masing-masing dan tinggal di area Pantai Kuta.
Maharani menemukan fakta bahwa ia adalah anak angkat dari seorang penari Bali. Saat mempertanyakan keputusan ibunya dulu, Maharani bertemu Maryun, seorang pemuda Bali pendiam yang menyimpan kekaguman terhadap ibunya sendiri. Maharani juga terseret pada praktek penjualan bayi dari sekelompok gadis luar pulau yang tengah hamil muda.
Nian melarikan diri ke Bali karena malu saat ayahnya terkena kasus korupsi triliunan rupiah. Pada saat gundah, Nian malah jatuh hati pada seorang pria berusia 60 tahun yang dinyatakan sudah meninggal dan dingabenkan karena lama tidak kembali ke Bali setelah dituduh terlibat komunisme.
Dewi yang berprofesi sebagai penyiar radio menghadapi dilema saat mengetahui janin yang dikandungnya mengalami kelainan pada tempurung otaknya. Dewi diberi dua pilihan antara mengaborsi atau melahirkan tapi anaknya akan berumur pendek.
Gambar:
Garin membuat konsep gambar yang berbeda dalam penceritaan terhadap tiga tokohnya. Namun semuanya memiliki kesamaan yakni berbalutkan budaya dan estetika yang berpadu dengan tradisional khas Bali.
Act:
Marcella Zalianty kembali ke dunia yang membesarkannya sebelum terlibat kasus. Aktingnya disini boleh diacungi jempol karena menampilkan sosok Maharani yang kalut dan bimbang menghadapi jawaban dari masa lalunya yang sudah pasti berpengaruh ke masa depannya.
Nadia Saphira tampil natural disini tanpa polesan make-up seperti biasanya. Sebagai Nian yang membutuhkan figur kedewasaan, Nadia memberikan citra yang pas dalam porsi yang memikat.
Ayu Laksmi sebagai Dewi memperlihatkan sosok wanita dewasa yang tengah gundah menghadapi masalah yang dilematis.
Didukung pula oleh Ikranagara, Dwi Sasono, Aryani Kiergenburg Willems yang tampil cemerlang.
Sutradara:
Film kesepuluh dari Garin Nugroho ini memang lebih ditujukan untuk konsumsi internasional terbukti setelah wara-wiri di beberapa festival film luar negeri, Under The Tree akhirnya diputar juga untuk konsumsi lokal. Garin terkenal dengan film yang bernuansakan budaya daerah, kali ini mengangkat tema Bali. Untuk eksekusi akhir, film ini boleh dikatakan berhasil memotret problematika kehidupan sosial yang berpadu dengan kebudayaan setempat termasuk berbagai ritual dan upacara adat yang disyut secara nyata. Cast juga tergolong tepat mengingat syuting film ini konon hanya 20 hari. Thumbs up for Garin yang sudah mengibarkan namanya sebagai sutradara papan atas film Indonesia di dunia internasional.
Komentar:
Walaupun menyajikan gambaran yang indah dan masalah sosial yang cukup tajam, sulit mengikuti Under The Tree dengan nyaman karena tempo yang sangat lambat dengan bahasa-bahasa gambar yang absurd. Pada akhirnya ya memang karya Garin lebih diperuntukkan untuk konsumsi orang asing yang menyukai budaya Asia khususnya Indonesia. Penonton awam disini cenderung masih sulit mengapresiasi karya-karya serupa. Sayang memang!
Durasi:
105 menit
Overall:
7 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Minggu, 11 Januari 2009
YES MAN : Satu Kata Dapat Mengubah Semua
Cerita:Seorang skeptis, Carl Allen yang bekerja sebagai credit analyst di sebuah bank boleh dibilang menjalani hidup yang membosankan yang berujung pada ditinggal istrinya. Keadaan mulai berubah saat ia menghadiri seminar "YES" dimana ia dituntut untuk menyanggupi apapun yang dibebankan orang lain terhadapnya selama satu tahun. Jika dilanggar, malapetaka diyakini akan menimpanya. Perlahan dengan sikap barunya, kehidupan Carl mulai berubah ke arah yang lebih baik di segala sisi termasuk dalam urusan cinta. Namun apakah semua itu tanpa konsekuensi yang mungkin menghantarnya pada situasi yang sulit?
Act:
Sabtu, 10 Januari 2009
THE SPIRIT : Potret Jenaka Humanisme Heroik Versus Kejahatan
Cerita:Polisi amatir, Denny Colt setelah terbunuh menjelma menjadi The Spirit, pahlawan bertopeng penegak kebenaran di Central City. Misinya sederhana, memberantas kejahatan juga bekerjasama dengan detektif dan kepolisian setempat. Musuh besarnya adalah The Octopus yang tidak segan-segan membunuh setiap orang yang melihat wajahnya. The Octopus mempunyai rencana untuk membersihkan seluruh kota dan mengangkat dirinya menjadi manusia setengah dewa dengan meminum darah sisa Hercules, anak Zeus. Di sisi lain, The Spirit harus menghadapi wanita-wanita cantik dalam hidupnya yang mempunyai berbagai motif baik maupun buruk.
Aktor kawakan Samuel L. Jackson yang filmografinya tidak terhitung kali ini kebagian peran antagonis. Citra The Octopus yang gila sekaligus licik seakan dibuat "over" oleh Samuel. Cukup berhasil memang tapi terkadang eksplorasinya cukup mengganggu.
Sederet aktris cantik mulai dari Eva Mendes, Sarah Paulson, Jaime King sampai Scarlett Johansson menjadi daya tarik film ini terutama dengan busana yang menonjolkan kemolekan fisik mereka.
Awal film yang sangat membosankan karena banyak sekali dialog yang tidak penting. Mungkin film ini akan membuat anda sama tersiksanya kala menyaksikan Max Payne. Dialog terbangun dengan lebih baik saat memasuki paruh kedua film. Beberapa komentar jenaka sarkastis terlontar dari scene The Spirit maupun The Octopus cukup menyegarkan suasana, niscaya anda akan tertawa getir. Secara keseluruhan, The Spirit akan sulit dinikmati penonton awam yang mungkin mengharapkan film superhero yang superseru. Tapi tidak tertutup kemungkinan, film ini akan menjadi cult di kemudian hari. Who knows?
Jumat, 09 Januari 2009
ONG BAK 2 : Dendam Kesumat dan Perjuangan Hidup Seorang Petarung
Warrior. Conqueror. Legend.
Storyline:Seorang anak laki-laki, Tien yang berhasrat menjadi seperti ayahnya, Sihadecho yang ksatria setia dan gagah berani hingga rela mengorbankan hidupnya sendiri untuk melindungi kerajaan dari koruptor ataupun pengkhianat. Lahir dengan tanda terkutuk, Tien diramalkan akan membawa kematian bagi negerinya saat dia dewasa. Tuan Sihadecho pun mengirim Tien ke teman lamanya, Guru Bua untuk belajar meditasi dan Khon, seni tari kuno. Disana Tien menjalin persahabatan dengan Pim, putri angkat Guru Bua yang baik hati. Kematian ayahnya yang tragis membuat Tien mendendam dan menjadi murid Chernang, pemimpin gerilyawan Sayap Garuda. Takdir pun membawa Tien menjadi petarung tangguh dan menentukan nasibnya sendiri sekaligus orang banyak.
Nice-to-know:
Scene yang diambil di Kamboja akhirnya dipotong dari versi originalnya karena perseteruan Thailand dan Kamboja memperebutkan kuil Preah Vihear.
Cast:
Memulai debut akting pada Spirited Killer (1994), Tony Jaa kini adalah aktor laga nomor wahid di Thailand sana. Disini aksinya kembali memukai sebagai Tien.
Sorapong Chatree sebagai Chernang
Sarunyu Wongkrachang sebagai Rajasena Lord
Nirut Sirichanya sebagai Master Bua (as Nirut Sirijanya)
Director:
Tony Jaa memulai debut sutradaranya disini bersama Panna Rittikrai yang pernah sukses lewat Born To Fight (2004) yang juga remake berjudul sama di tahun 1984.
Comment:
Kembalinya Tony Jaa dalam film laga yang dashyat ini, apalagi ditambah duduknya di kursi asisten sutradara. Sejauh manakah kinerja Jaa berhasil? Sangat berhasil karena sekuel ini menawarkan semua yang anda inginkan untuk sebuah martial arts movie yang juga diback-up dengan cerita yang sebetulnya klise yakni tentang balas dendam dan perjuangan menuntaskannya tapi masih bisa diterima juga. Sebagian sejarah masa lalu Thailand juga dikupas disini meski tidak terlalu detail. Harus diakui memang terkesan terlalu ambisius karena adegan-adegan laganya memperlihatkan sudut-sudut pengambilan gambar yang sangat variatif tanpa pengulangan dengan bermacam-macam atribut termasuk menggunakan medium gerombolan gajah yang sangat kreatif. Dialog yang sedikit dan karakterisasi tokoh yang minim memang sedikit menjadi kendala. Namun semuanya itu terbayar dengan scene pertarungan yang panjang dan intens memasuki pertengahan hingga akhir film. Hingga bernafas saja anda takkan sempat! Kita tunggu saja sekuel keduanya atau ada kejutan lain dari Jaa di masa-masa mendatang.
Durasi:
95 menit
U.S. Box Office:
$102,055 till Dec 09 (selected theatres)
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!
Sabtu, 03 Januari 2009
SAUS KACANG : Putus Cinta Itu Bukan Segala-galanya
Cerita:Act:
Jumat, 02 Januari 2009
BEDTIME STORIES : Kala Dongeng Pengantar Tidur Menjadi Kenyataan
Skeeter Bronson-So guys, let me ask you something.... What the heck is on my head right now?
Patrick-Bugsy
Skeeter Bronson-Why do you call him Bugsy?
Patrick-Because of his eyes.
Skeeter Bronson-*screams* Those would be big on a cow!
Cerita:
Skeeter Bronson boleh dikatakan seorang pecundang karena bekerja sebagai pembersih dan pembantu umum. Padahal sebenarnya dia memiliki kesempatan menjadi manajer hotel yang awalnya dikelola ayahnya Marty Bronson sebelum dijual kepada Barry Nottingham. Sayangnya Barry lebih memilih calon menantunya, Kendall yang angkuh dan "penjilat". Bosan dengan rutinitas dan ketidak adilan, tiba-tiba oleh Wendy kakaknya, Skeeter diserahi tugas menjaga dua keponakannya Patrick dan Bobbi bergantian dengan guru mereka, Jill selama beberapa hari. Skeeter yang kebingungan harus mengarang cerita pengantar tidur yang menarik yang ternyata ditimpali oleh Bobbi dan Patrick dengan versi mereka sendiri. Keajaiban muncul karena "dongeng" versi kedua bocah itu selalu terjadi keesokan harinya pada diri Skeeter. Timbul ide liar dalam benak Skeeter untuk memanfaatkan hal itu menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya sendiri. Apakah keajaiban itu mampu mengubah nasib Skeeter? Ataukah sebuah kekacauan menantinya di akhir dari segala dongeng pengantar tidur?
Gambar:
Setting hotel dan suburban bergantian disorot di film ini. Keseimbangan gambar berpadu dengan beberapa efek visual yang cukup memanjakan mata. Tidak percaya? Tengok saja "penampakan" Bugsy yang sangat kocak dan frekuentif itu.
Act:
Telah banyak mengangkat film-film yang dibintanginya karena kelucuan aktingnya, Adam Sandler kali ini mencoba menjadi seorang paman yang baik sekaligus memperbaiki taraf hidupnya sendiri. Kocak? Iya. Namun itu saja yang ditawarkan aktor yang memulai karirnya dari peran kecil The Cosby Show di tahun 1988.
Keri Russell yang sebelumnya tampil apik dalam film memorable August Rush memang bukan aktris ternama tapi cukup sering menjadi side kick pemeran utama termasuk dalam perannya sebagai seorang guru cantik baik hati yang bersemangat tinggi.
Aktor Inggris Guy Pearce ambil bagian sebagai Kendall yang ambisius dan menyebalkan karena menghalalkan segala cara untuk mencapai impiannya. Potongan rambut dan ekspresi wajahnya memperkuat perannya dalam film ini.
Sutradara:
Adam Shankman mungkin paling dikenal di Indonesia lewat karyanya A Walk To Remember dan The Wedding Planner. Dalam Bedtime Stories, Shankman berhasil memvisualisasikan transformasi mimpi menjadi kenyataan tanpa kehilangan ciri khas Adam Sandler yang sangat dominan disini. Beberapa elemen komedi dan drama berhasil disatukan dengan baik.
Komentar:
Tidak jauh beda dengan film Adam Sandler sebelumnya, Bedtime Stories tidak ketinggalan dalam menyelipkan pesan moral bahwa untuk mencapai impian dibutuhkan usaha karena bermimpi dan mengharapkan keajaiban saja itu suatu yang mustahil. Saran saya, nikmati saja sebagai suatu hiburan ringan penuh tawa tanpa perlu berpikir panjang. Namun menonton film ini seperti ada kekosongan dalam pembangunan scenenya dari awal sampai akhir. Apakah korelasi cerita mengganggu logika dalam menonton? Anda sendiri yang menilai.
Durasi:
90 menit
U.S. Box Office (opening gross in the end of the year):
$38,029,113
Overall:
7.5 out of 10
Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

