XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 17 Januari 2009

THE SCREEN : Pemutaran Film Pembuka Pintu Kematian

Cerita:
Dr. Yuth terobsesi untuk menemukan kebenaran dari peristiwa penyewaan layar untuk pemutaran film bagi para hantu yang dikenal dengan The Screen At Kamchanod pada tanggal 29 Januari 1989 silam. Bersama dengan pacarnya Orn, remaja Roj yang bertindak sebagai asisten mereka beserta dua jurnalis senior yang ingin memanfaatkan pemberitaan untuk ketenaran mereka, Dr. Yuth mengunjungi Kamchanod dan menemukan sendiri gedung bioskop yang terbengkalai akibat terbakar. Satu kejutan membingungkan mereka dimana poster dan rol "film terkutuk" itu ternyata masih utuh! Kepalang tanggung, mereka berlima memutar film tersebut di bioskop tua tanpa menyadari bahwa mereka tidak menontonnya sendirian. Sepulang dari Kamchanod, ada yang berubah dari kehidupan mereka dimana mereka lebih sering melihat orang mati dibandingkan orang hidup. Benarkah pintu antara dunia nyata dan dunia gaib telah terbuka dan mengancam nyawa mereka satu persatu?

Gambar:
Dengan pencahayaan minim dengan setting yang kelam, The Screen mampu membuat bulu kuduk anda merinding sepanjang film.

Act:
Achita Pramoj Na Ayudhya yang lebih ternama sebagai penyanyi dan model kali ini memulai debutnya sebagai Yuth yang sepintas terlihat sebagai dokter muda yang normal tapi sesungguhnya menyimpan ambisi yang tinggi.
Pakkramai Potranan bermain sebagai Orn, wanita yang cerdas dan tegar walaupun sebenarnya tertekan dengan obsesi kekasihnya itu. Pakkramai mengaku membawa jimat saat syuting film horor pertamanya ini.

Sutradara:
Songsak Mongkothong yang pernah menjadi asisten sutradara untuk The Eye dan Bangkok Haunted kali ini dipercaya 5 Stars Production untuk membesut film yang didasarkan pada kisah nyata ini. Hasilnya memang kental dengan atmosfir horor yang kuat. Namun dari segi cerita sendiri sebetulnya sulit dikembangkan lagi dan pada akhirnya terjadi pelebaran plot dan karakter yang berlebihan.

Komentar:
Salah satu film yang sukses membuat saya merinding berkali-kali (sesuatu yang jarang terjadi pada pencinta horor seperti saya). Hal itu mungkin disebabkan situasi dalam film yang kurang lebih kita alami langsung saat menontonnya. Namun tampaknya itu saja yang menjadi jualan film ini, di luar itu cerita sepertinya dipaksakan menjadi "pintar" dengan twist yang sebetulnya tidak perlu. Kesimpulannya, bolehlah menjadikan tontonan penguji nyali untuk anda terutama di gedung bioskop yang sepi.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 16 Januari 2009

KAWIN LARIS : Perseteruan Antar Penghulu Kecamatan

Quotes:
Iin-Akang tahu pasti kenapa pernikahan membuat saya bahagia? Bukan karena pestanya, tetapi itu adalah satu hari dimana kita merayakan harapan, merayakan keinginan kita untuk kebahagiaan. Dan bagian terbaiknya kita bisa menjalani hari itu bersama orang yang kita cintai..

Cerita:
Menjalani cita-citanya sedari kecil menjadi penghulu, Agus menemui kesulitan karena tingkat pernikahan di kecamatannya menurun drastis. Dengan kondisi itu, cabang kecamatannya terancam dimerger dengan kecamatan sebelah, pimpinan Deon, penghulu muda yang narcis dengan asistennya, Mamud yang culas. Di kantor penghulu, Agus tidak sendiri karena dibantu Iin dan Beben, penghulu baru yang culun. Kepopuleran Agus membuat Deon dan Mamud cemas sehingga berbagai cara picik mereka lakukan. Peperangan antar penghulu pun tidak terhindarkan terutama mendapatkan klien penting, sang selebritis Amanda yang akan menikah dengan anak pejabat Pandu. Siapa di antara mereka yang akan menang?


Gambar:
Beberapa adegan slapstick juga ditampilkan tidak mengurangi dinamika gambar-gambar kaya warna yang disajikan sutradara. Situasi kecamatan dan sekitarnya disyut dengan pas.


Cast:
Zumi Zola
yang pernah menjadi model vidklip Agnes Monica, Tanpa Kekasihku kembali ke layar lebar setelah bertahun-tahun. Sebagai Agus, Zumi tampil berkumis dan terkesan soleh.

Jill Gladys
dan Edric Tjandra cukup memuaskan bermain sebagai asisten Agus yaitu Iin dan Beben.

Sang antagonis, Vincent Rompies berperan sebagai penghulu narsis dan matre, Deon yang didukung Candil sebagai asisten kribo, Mamud.
Ada juga Nana Mirdad sebagai Amanda Alissa dan Udjo Project Pop sebagai Pandu Wicaksana yang menjadi klien rebutan kedua penghulu tersebut.


Sutradara:
Baru saja mengarahkan Cinta Laura dan Randy Pangalila dalam Oh Baby (2008), salah satu dari sangat sedikitnya sutradara wanita di Indonesia, Cassandra Massardi kembali dengan tema yang lebih dewasa yang mengetengahkan persaingan antar penghulu.


Comment:
MM Insa & Mega Media Pte Ltd yang bekerjasama dengan Media Development Authority of Singapore menghasilkan komedi perdana mereka. Dari plot dan tema cerita, sesungguhnya ini hal yang baru karena belum banyak film yang mengangkat kisah hidup penghulu pernikahan yang sebetulnya profesi berjasa besar. Dari segi cast meski bukan yang terbaik, aktor aktris yang terlibat disini menjalankan peran masing-masing dengan cukup maksimal. Sang sutradara selama ini banyak bermain di film ringan juga harusnya tidak kesulitan mengolah resources yang ada. Tetapi mengapa pada akhirnya Kawin Laris (KL) tidak diterima masyarakat dan cenderung menghilang setelah putar kurang lebih seminggu di bioskop? Jawabannya terletak pada nilai jual! Penonton yang sedemikian banyak sayangnya masih berselerakan horor atau komedi seks sehingga KL dianggap kurang memenuhi selera pasar. Dari segi penggarapan eksplorasi cerita, sebenarnya sudah bisa dikatakan baik, hanya saja ada beberapa sekuens yang terasa datar-datar saja apalagi dengan intensitas turun naik. Fakta ini cukup mengganggu menikmati film secara keseluruhan. Menurut pandangan saya, KL sudah mencapai taraf standar sebuah hiburan. Bagaimana menurut anda?


Durasi:
90 menit


Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 15 Januari 2009

SETAN BUDEG : Aksi Trio Pencari Jenazah Mengungkap Misteri Mayat Hilang

Tagline:
Kadang telinga saja tidak cukup untuk mendengar..

Cerita:
Kisah dibuka dengan tiga pemburu mayat yang kerapkali mengurusi mayat tanpa identitas yang bertebaran di jalan ibukota, terutama mereka yang kecelakaan terlindas kereta dan terpisah-pisah anggota tubuhnya! Saat menemukan mayat seorang gadis yang belakangan diketahui bisu tuli bernama Lala menghilang dari mobil jenazah, Pak Joko sebagai atasan mereka menjadi berang. Di lain waktu, Anita mendapat kabar kalau saudara kembarnya mengalami kecelakaan saat ia sendiri dipenuhi tanda tanya besar mengenai rahasia yang mungkin saja disembunyikan orang-orang terdekatnya?

Gambar:
Cukup jelas tersaji walau banyak bermain di malam hari dengan pencahayaan temaram hampir sepanjang film.

Act:
Dewi Perssik kembali dalam film keempatnya. Belum menunjukkan kemajuan akting yang berarti, kali ini dia bermain sebagai sepasang saudara kembar, Anita yang pandai mandiri dan Lala yang bisu tuli. Perbedaan dari penampilan fisik dan sifat yang ingin ditampilkan belum maksimal walau usahanya menarik.
Lucu menyaksikan debut akting Saipul Jamil sebagai suami Anita disini sebagai pengusaha yang sepintas hidupnya terlihat baik-baik saja.
Eddi Brokoli, Hardi Fadhillah dan Rizky Mocil tampil kocak sebagai trio pemburu jenazah, bahkan tanpa nama masing-masing! Beberapa adegan kocak cukup berhasil memancing tawa.

Sutradara:
Findo Purwono HW yang lebih banyak terlibat dalam produksi drama remaja salah satunya yang fenomenal kontroversial, Buruan Cium Gue kali ini kebagian mengarahkan mantan pasutri kondang Dewi Perssik-Saipul Jamil. Sayang memang keterbatasan skenario sulit disiasati lebih jauh lagi sehingga hasil akhir film ini cenderung tanggung.

Komentar:
Konsep yang ingin diusung film ini menjadi bias. Antara ingin menampilkan hal baru yaitu profesi pemburu mayat, ataukah profil setan budeg yang "katanya" sering berdiam di persimpangan rel kereta api? Belum lagi dikaitkan dengan cerita klise hubungan suami istri dan orang ketiga. Apa yang sebenarnya ingin difokuskan? Yah anggap saja film ini menjual banyolan tanpa perlu berpikir panjang jika misinya hanya ingin menghibur. Tidak lebih.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 14 Januari 2009

THE OXFORD MURDERS : Penelusuran Teka-Teki Pembunuhan Berantai Cerdas

Quotes:
Arthur Seldom-Can't we know the truth?

Cerita:
Mahasiswa Amerika, Martin yang kuliah di universitas Oxford meminta dosen senior, Arthur Seldom sebagai pembimbing tesisnya. Dalam memberikan kuliahnya, Arthur terkenal dengan quotes Wittgenstein's Tractatus yaitu menyangkal kemungkinan adanya kebenaran mutlak. Sayangnya perkenalan awal Martin dan Arthur tidak berjalan mulus sampai keduanya mendapati seorang wanita tua penjaga perpustakaan umum terbunuh. Polisi menemukan catatan yaitu pembunuhan pertama dan mengindikasikan adanya pembunuhan lanjutan. Arthur yang menguasai teori logika berantai menganggap pembunuh itu sedang menguji kecerdasannya. Diskusi Martin dan Arthur berbuntut panjang, mereka berusaha memecahkan teka-teki tersebut dengan berbagai teori untuk mencari pelaku sebenarnya. Siapa sesungguhnya dalang dari itu semua? Apakah kebenaran mutlak itu patut dipertanyakan?

Gambar:
Sinematografi yang cukup memikat. Setting kampus Oxford dengan kehidupan dan kebiasaan mahasiswa-mahasiswi cerdasnya tertangkap dengan baik. Sepintas gaya ini mungkin mengingatkan anda pada The Da Vinci Code.

Act:
Elijah Wood yang melejit lewat trilogi Lord Of The Rings kali ini kebagian peran Martin, mahasiswa muda kritis yang berupaya memecahkan teka-teki pembunuhan. Walau cukup berhasil tetap sulit mengingkari wajah babyfacenya dalam memerankan sosok pelajar Oxford yang umumnya nerd, untung saja mata besar Wood "berbicara" banyak di sini.
Aktor senior Inggris John Hurt membawakan tokoh Arthur Seldom dengan penuh kharisma, seorang dosen berpengalaman yang tidak pernah seratus persen mempercayai teori dan fakta yang terjadi.

Sutradara:
Álex de la Iglesia dari Spanyol yang cukup ternama dan beberapa kali memenangkan penghargaan di negeri asalnya, mencoba peruntungannya dengan membesut The Oxford Murders yang diangkat dari novel berjudul sama karya ahli matematika dari Argentina, Guillermo Martinez. Tak heran jika film ini kental bernafaskan Spanyol dengan eksekusi yang baik untuk ukuran film Eropa terutama dengan menyatukan interaksi yang menarik antara Hurt dan Wood itu sendiri.

Komentar:
Dialog-dialog yang sebetulnya menarik tapi dikemas dengan cara yang membosankan dari awal sampai akhir. FIlm ini sepertinya terlalu berusaha menjadi "pintar". Namun di sisi lain seperti mengabaikan penonton yang mengharapkan tontonan cerdas berkualitas. Bukan karya yang buruk walaupun butuh kesabaran untuk mengikutinya. Mungkin ada baiknya jika anda membaca novelnya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya :)

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 12 Januari 2009

UNDER THE TREE : Potret Problematika Sosial Berbaur Dengan Kebudayaan Bali

Quote by Tony Rayn about this movie:
“Social realism meets mysticism, topical commentary meets poetry.”

Cerita:
Mengisahkan tiga sosok wanita dengan problemanya masing-masing dan tinggal di area Pantai Kuta.
Maharani menemukan fakta bahwa ia adalah anak angkat dari seorang penari Bali. Saat mempertanyakan keputusan ibunya dulu, Maharani bertemu Maryun, seorang pemuda Bali pendiam yang menyimpan kekaguman terhadap ibunya sendiri. Maharani juga terseret pada praktek penjualan bayi dari sekelompok gadis luar pulau yang tengah hamil muda.
Nian melarikan diri ke Bali karena malu saat ayahnya terkena kasus korupsi triliunan rupiah. Pada saat gundah, Nian malah jatuh hati pada seorang pria berusia 60 tahun yang dinyatakan sudah meninggal dan dingabenkan karena lama tidak kembali ke Bali setelah dituduh terlibat komunisme.
Dewi yang berprofesi sebagai penyiar radio menghadapi dilema saat mengetahui janin yang dikandungnya mengalami kelainan pada tempurung otaknya. Dewi diberi dua pilihan antara mengaborsi atau melahirkan tapi anaknya akan berumur pendek.

Gambar:
Garin membuat konsep gambar yang berbeda dalam penceritaan terhadap tiga tokohnya. Namun semuanya memiliki kesamaan yakni berbalutkan budaya dan estetika yang berpadu dengan tradisional khas Bali.

Act:
Marcella Zalianty kembali ke dunia yang membesarkannya sebelum terlibat kasus. Aktingnya disini boleh diacungi jempol karena menampilkan sosok Maharani yang kalut dan bimbang menghadapi jawaban dari masa lalunya yang sudah pasti berpengaruh ke masa depannya.
Nadia Saphira tampil natural disini tanpa polesan make-up seperti biasanya. Sebagai Nian yang membutuhkan figur kedewasaan, Nadia memberikan citra yang pas dalam porsi yang memikat.
Ayu Laksmi sebagai Dewi memperlihatkan sosok wanita dewasa yang tengah gundah menghadapi masalah yang dilematis.
Didukung pula oleh Ikranagara, Dwi Sasono, Aryani Kiergenburg Willems yang tampil cemerlang.
Sutradara:
Film kesepuluh dari Garin Nugroho ini memang lebih ditujukan untuk konsumsi internasional terbukti setelah wara-wiri di beberapa festival film luar negeri, Under The Tree akhirnya diputar juga untuk konsumsi lokal. Garin terkenal dengan film yang bernuansakan budaya daerah, kali ini mengangkat tema Bali. Untuk eksekusi akhir, film ini boleh dikatakan berhasil memotret problematika kehidupan sosial yang berpadu dengan kebudayaan setempat termasuk berbagai ritual dan upacara adat yang disyut secara nyata. Cast juga tergolong tepat mengingat syuting film ini konon hanya 20 hari. Thumbs up for Garin yang sudah mengibarkan namanya sebagai sutradara papan atas film Indonesia di dunia internasional.

Komentar:
Walaupun menyajikan gambaran yang indah dan masalah sosial yang cukup tajam, sulit mengikuti Under The Tree dengan nyaman karena tempo yang sangat lambat dengan bahasa-bahasa gambar yang absurd. Pada akhirnya ya memang karya Garin lebih diperuntukkan untuk konsumsi orang asing yang menyukai budaya Asia khususnya Indonesia. Penonton awam disini cenderung masih sulit mengapresiasi karya-karya serupa. Sayang memang!

Durasi:
105 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 11 Januari 2009

YES MAN : Satu Kata Dapat Mengubah Semua

Quotes:
Carl Allen-The era of "yes" has begun.

Cerita:
Seorang skeptis, Carl Allen yang bekerja sebagai credit analyst di sebuah bank boleh dibilang menjalani hidup yang membosankan yang berujung pada ditinggal istrinya. Keadaan mulai berubah saat ia menghadiri seminar "YES" dimana ia dituntut untuk menyanggupi apapun yang dibebankan orang lain terhadapnya selama satu tahun. Jika dilanggar, malapetaka diyakini akan menimpanya. Perlahan dengan sikap barunya, kehidupan Carl mulai berubah ke arah yang lebih baik di segala sisi termasuk dalam urusan cinta. Namun apakah semua itu tanpa konsekuensi yang mungkin menghantarnya pada situasi yang sulit?

Gambar:
Dengan setting yang bervariasi mulai dari kantor, bandara sampai lapangan football, film ini bergerak cepat menyajikan gambar-gambar yang ciamik.

Act:
Jim Carrey telah kembali setelah menuai kritik dan penurunan dollar dari beberapa film terakhir yang dibintanginya. Dalam Yes Man, habitat asli Carrey yang hobi memainkan mimik wajah kembali muncul. Kocak menyaksikan polah tingkahnya saat berubah menjadi orang optimis dinamis.
Zooey Deschanel yang dikenal sebagai aktris manis yang saban kali membintangi komedi romantis walau tidak dalam peran utama kali ini memerankan tokoh Allison, love interestnya Carl, gadis vokalis band indie yang tidak pernah memikirkan banyak hal dalam hidupnya.

Sutradara:
Peyton Reed memang lebih dikenal sebagai pembesut film-film komedi romantis seperti terakhir The Break Up. Kali ini Peyton berhadapan langsung dengan kharisma si muka karet Carrey. Eksekusi scene dan syuting yang tergolong lancar menjadikan nilai tambah. Kolaborasi mereka cukup membuahkan hasil karena Yes Man terbukti cukup bisa diterima dimanapun film ini ditayangkan.

Komentar:
Semangat fun yang ditawarkan Jim Carrey membuat Yes Man menjadi tontonan yang menghibur. Untuk anda yang pernah menyaksikan aktingnya dalam Liar Liar, boleh dikata Carrey mengulang peran serupa. Sah-sah saja untuk mengembalikan kariernya sebagai bintang komedi papan atas Hollywood yang belakangan didominasi nama beken lain. Pesan moral film ini yaitu harus memandang hidup dengan lebih optimis dan turuti semua kata hati positif yang mungkin akan mengubah hidup anda.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office (till the end of the year):
$49,798,560

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 10 Januari 2009

THE SPIRIT : Potret Jenaka Humanisme Heroik Versus Kejahatan

Quotes:
The Spirit-My city, I can not deny her. My city screams. She is my mother. She is my lover, and I am her Spirit.

Cerita:
Polisi amatir, Denny Colt setelah terbunuh menjelma menjadi The Spirit, pahlawan bertopeng penegak kebenaran di Central City. Misinya sederhana, memberantas kejahatan juga bekerjasama dengan detektif dan kepolisian setempat. Musuh besarnya adalah The Octopus yang tidak segan-segan membunuh setiap orang yang melihat wajahnya. The Octopus mempunyai rencana untuk membersihkan seluruh kota dan mengangkat dirinya menjadi manusia setengah dewa dengan meminum darah sisa Hercules, anak Zeus. Di sisi lain, The Spirit harus menghadapi wanita-wanita cantik dalam hidupnya yang mempunyai berbagai motif baik maupun buruk.

Gambar:
Konsep noir tahun 1950an mendominasi warna film ini, hitam putih merah membayangi setiap langkah dan tindak tanduk The Spirit.

Act:
Gabriel Macht merupakan salah satu aktor papan tengah dimana walaupun telah membintangi banyak film Hollywood tapi belum mencapai taraf terkenal. Dalam film ini, Gabriel yang sepanjang film tertutup wajahnya, memberikan aksen khusus pada sosok The Spirit lewat sorot mata dan senyumnya. Sangat membantu pada penjiwaan perannya secara keseluruhan.
Aktor kawakan Samuel L. Jackson yang filmografinya tidak terhitung kali ini kebagian peran antagonis. Citra The Octopus yang gila sekaligus licik seakan dibuat "over" oleh Samuel. Cukup berhasil memang tapi terkadang eksplorasinya cukup mengganggu.
Sederet aktris cantik mulai dari Eva Mendes, Sarah Paulson, Jaime King sampai Scarlett Johansson menjadi daya tarik film ini terutama dengan busana yang menonjolkan kemolekan fisik mereka.

Sutradara:
Pria kelahiran Maryland 27 Januari 1957, Frank Miller lebih dulu dikenal sebagai pembuat novel grafis. Memulai debutnya sebagai sutradara dalam Sin City (2005), Frank merupakan salah satu kunci sukses 300 secara komersil maupun kualitas. Kali ini dia mengarahkan langsung film yang sebetulnya sudah lama direncanakannya. Gaya khas dan konsisten mampu diterapkannya tetapi hasil akhir The Spirit konon menuai banyak kontroversi di mata kritikus dan moviegoes. Kita tunggu saja kiprah Frank dalam sekuel pertama dan kedua Sin City di tahun mendatang.

Komentar:
Awal film yang sangat membosankan karena banyak sekali dialog yang tidak penting. Mungkin film ini akan membuat anda sama tersiksanya kala menyaksikan Max Payne. Dialog terbangun dengan lebih baik saat memasuki paruh kedua film. Beberapa komentar jenaka sarkastis terlontar dari scene The Spirit maupun The Octopus cukup menyegarkan suasana, niscaya anda akan tertawa getir. Secara keseluruhan, The Spirit akan sulit dinikmati penonton awam yang mungkin mengharapkan film superhero yang superseru. Tapi tidak tertutup kemungkinan, film ini akan menjadi cult di kemudian hari. Who knows?

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office (till early Jan):
$17,743,738

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 09 Januari 2009

ONG BAK 2 : Dendam Kesumat dan Perjuangan Hidup Seorang Petarung

Tagline:
Warrior. Conqueror. Legend.

Storyline:
Seorang anak laki-laki, Tien yang berhasrat menjadi seperti ayahnya, Sihadecho yang ksatria setia dan gagah berani hingga rela mengorbankan hidupnya sendiri untuk melindungi kerajaan dari koruptor ataupun pengkhianat. Lahir dengan tanda terkutuk, Tien diramalkan akan membawa kematian bagi negerinya saat dia dewasa. Tuan Sihadecho pun mengirim Tien ke teman lamanya, Guru Bua untuk belajar meditasi dan Khon, seni tari kuno. Disana Tien menjalin persahabatan dengan Pim, putri angkat Guru Bua yang baik hati. Kematian ayahnya yang tragis membuat Tien mendendam dan menjadi murid Chernang, pemimpin gerilyawan Sayap Garuda. Takdir pun membawa Tien menjadi petarung tangguh dan menentukan nasibnya sendiri sekaligus orang banyak.

Nice-to-know:
Scene yang diambil di Kamboja akhirnya dipotong dari versi originalnya karena perseteruan Thailand dan Kamboja memperebutkan kuil Preah Vihear.

Cast:
Memulai debut akting pada Spirited Killer (1994), Tony Jaa kini adalah aktor laga nomor wahid di Thailand sana. Disini aksinya kembali memukai sebagai Tien.
Sorapong Chatree sebagai Chernang
Sarunyu Wongkrachang sebagai Rajasena Lord
Nirut Sirichanya sebagai Master Bua (as Nirut Sirijanya)

Director:
Tony Jaa memulai debut sutradaranya disini bersama Panna Rittikrai yang pernah sukses lewat Born To Fight (2004) yang juga remake berjudul sama di tahun 1984.

Comment:
Kembalinya Tony Jaa dalam film laga yang dashyat ini, apalagi ditambah duduknya di kursi asisten sutradara. Sejauh manakah kinerja Jaa berhasil? Sangat berhasil karena sekuel ini menawarkan semua yang anda inginkan untuk sebuah martial arts movie yang juga diback-up dengan cerita yang sebetulnya klise yakni tentang balas dendam dan perjuangan menuntaskannya tapi masih bisa diterima juga. Sebagian sejarah masa lalu Thailand juga dikupas disini meski tidak terlalu detail. Harus diakui memang terkesan terlalu ambisius karena adegan-adegan laganya memperlihatkan sudut-sudut pengambilan gambar yang sangat variatif tanpa pengulangan dengan bermacam-macam atribut termasuk menggunakan medium gerombolan gajah yang sangat kreatif. Dialog yang sedikit dan karakterisasi tokoh yang minim memang sedikit menjadi kendala. Namun semuanya itu terbayar dengan scene pertarungan yang panjang dan intens memasuki pertengahan hingga akhir film. Hingga bernafas saja anda takkan sempat! Kita tunggu saja sekuel keduanya atau ada kejutan lain dari Jaa di masa-masa mendatang.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$102,055 till Dec 09 (selected theatres)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor

6.5-poor but still watchable

7-average

7.5-average n enjoyable

8-good
8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 03 Januari 2009

SAUS KACANG : Putus Cinta Itu Bukan Segala-galanya

Cerita:
Dalam sedu sedan ditinggal pria yang ternyata hanya main-main dengannya, Dewi bertekad melupakan semua. Hidupnya perlahan membaik dan membawanya menjadi seorang kepala chef. Sampai pada suatu hari seorang turis Malaysia, Fredo datang "mengacaukan" hotel dengan tingkah lakunya yang membuat jengah semua orang. Dewi berusaha menangani Fredo dengan kepala dingin karena prinsipnya tidak ada tamu yang tak bisa dihadapi. Namun ternyata mereka bertengkar dan kemudian berakhir dengan tugas membersihkan pura selama 4 hari karena tertangkap berkeliaran di hari Nyepi. Proses menjalani hukuman itu mendekatkan keduanya. Dewi baru mengetahui ternyata Fredo tengah galau karena pernikahannya tidak jadi berlangsung. Di sisi lain Dewi tengah belajar bahwa jatuh cinta itu bukan hal yang mudah. Bagaimana akhir dari kisah mereka berdua saat tunangan Fredo, Mae ternyata ingin kembali?

Gambar:
Bersettingkan di Pulau Bali, Saus Kacang menampilkan sedikit suasana eksotis nan relijius umat Hindu mulai dari pantai hingga lingkungan pura yang sakral.

Act:
Bunga Citra Lestari yang tampil mengesankan dengan debutnya, Cinta Pertama (2006) tampil dominan di film ini. Eksplorasi akting berusaha dilakukannya sebagai seorang gadis tegar Dewi yang mencoba bangkit dari kegagalan cinta. Usahanya cukup meyakinkan walau pengembangan karakter masih sangat miskin.
Ashraf Sinclair berusaha menampilan sosok Fredo menyebalkan yang sebenarnya terluka hatinya. Ekspresi emosinya masih agak tanggung dan karakter orang Melayu masih terbawa dengan kuat sehingga terkadang cukup mengganggu.
Nadia Saphira tampil memadai sesuai porsinya yang memang tidak banyak sebagai sahabat Dewi yang lugu tapi baik hati.

Sutradara:
Indrayanto Kurniawan yang berpengalaman dalam serial tv, Ada Apa Dengan Cinta berupaya menampilkan sesuatu yang baru dalam debut layar lebarnya. Tapi sayang, walau sebenarnya eksekusi cerita cukup baik tapi pengembangan skenario masih lemah sehingga perannya sebagai seorang leader di film ini sedikit tercela.

Komentar:
Andai saja endingnya tidak dibuat semudah itu, film ini bisa saja bernilai "lebih". Namun sayang, konsep ringan yang dibawa sepanjang film tidak cukup membawa film ini menjadi tontonan mengasyikan. Semua menjadi klise dan serba tanggung. Nilai jualnya ya cuma pasangan suami istri baru paling hot tahun 2008, Bunga Citra Lestari dan Ashraf Sinclair serta "jual suara" nya BCL dengan lagu-lagu yang cukup ear-catchy itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10

Jumat, 02 Januari 2009

BEDTIME STORIES : Kala Dongeng Pengantar Tidur Menjadi Kenyataan

Quotes:
Skeeter Bronson-So guys, let me ask you something.... What the heck is on my head right now?
Patrick-Bugsy
Skeeter Bronson-Why do you call him Bugsy?
Patrick-Because of his eyes.

Skeeter Bronson-*screams* Those would be big on a cow!

Cerita:
Skeeter Bronson boleh dikatakan seorang pecundang karena bekerja sebagai pembersih dan pembantu umum. Padahal sebenarnya dia memiliki kesempatan menjadi manajer hotel yang awalnya dikelola ayahnya Marty Bronson sebelum dijual kepada Barry Nottingham. Sayangnya Barry lebih memilih calon menantunya, Kendall yang angkuh dan "penjilat". Bosan dengan rutinitas dan ketidak adilan, tiba-tiba oleh Wendy kakaknya, Skeeter diserahi tugas menjaga dua keponakannya Patrick dan Bobbi bergantian dengan guru mereka, Jill selama beberapa hari. Skeeter yang kebingungan harus mengarang cerita pengantar tidur yang menarik yang ternyata ditimpali oleh Bobbi dan Patrick dengan versi mereka sendiri. Keajaiban muncul karena "dongeng" versi kedua bocah itu selalu terjadi keesokan harinya pada diri Skeeter. Timbul ide liar dalam benak Skeeter untuk memanfaatkan hal itu menjadi sebuah keuntungan bagi dirinya sendiri. Apakah keajaiban itu mampu mengubah nasib Skeeter? Ataukah sebuah kekacauan menantinya di akhir dari segala dongeng pengantar tidur?

Gambar:
Setting hotel dan suburban bergantian disorot di film ini. Keseimbangan gambar berpadu dengan beberapa efek visual yang cukup memanjakan mata. Tidak percaya? Tengok saja "penampakan" Bugsy yang sangat kocak dan frekuentif itu.

Act:
Telah banyak mengangkat film-film yang dibintanginya karena kelucuan aktingnya, Adam Sandler kali ini mencoba menjadi seorang paman yang baik sekaligus memperbaiki taraf hidupnya sendiri. Kocak? Iya. Namun itu saja yang ditawarkan aktor yang memulai karirnya dari peran kecil The Cosby Show di tahun 1988.
Keri Russell yang sebelumnya tampil apik dalam film memorable August Rush memang bukan aktris ternama tapi cukup sering menjadi side kick pemeran utama termasuk dalam perannya sebagai seorang guru cantik baik hati yang bersemangat tinggi.
Aktor Inggris Guy Pearce ambil bagian sebagai Kendall yang ambisius dan menyebalkan karena menghalalkan segala cara untuk mencapai impiannya. Potongan rambut dan ekspresi wajahnya memperkuat perannya dalam film ini.

Sutradara:
Adam Shankman mungkin paling dikenal di Indonesia lewat karyanya A Walk To Remember dan The Wedding Planner. Dalam Bedtime Stories, Shankman berhasil memvisualisasikan transformasi mimpi menjadi kenyataan tanpa kehilangan ciri khas Adam Sandler yang sangat dominan disini. Beberapa elemen komedi dan drama berhasil disatukan dengan baik.

Komentar:
Tidak jauh beda dengan film Adam Sandler sebelumnya, Bedtime Stories tidak ketinggalan dalam menyelipkan pesan moral bahwa untuk mencapai impian dibutuhkan usaha karena bermimpi dan mengharapkan keajaiban saja itu suatu yang mustahil. Saran saya, nikmati saja sebagai suatu hiburan ringan penuh tawa tanpa perlu berpikir panjang. Namun menonton film ini seperti ada kekosongan dalam pembangunan scenenya dari awal sampai akhir. Apakah korelasi cerita mengganggu logika dalam menonton? Anda sendiri yang menilai.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office (opening gross in the end of the year):
$38,029,113

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!