XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 26 Juli 2013

THE CONJURING : Old Fashioned Scares That Summon Your Fears


Quote:
Lorraine Warren: You have a lot of spirits in here, but there is one I'm most worried about because it is so hateful.

Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata di rumah keluarga Perron ini sudah direncanakan selama 20 tahun terakhir. Inisiasi datang dari Ed Warren yang memutar rekaman wawancaranya dengan Carolyn Perron kepada produser Tony DeRosa-Grund.

Cast:
Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
Patrick Wilson sebagai Ed Warren
Lili Taylor sebagai Carolyn Perron
Ron Livingston sebagai Roger Perron
Shanley Caswell sebagai Andrea
Hayley McFarland sebagai Nancy
Joey King sebagai Christine
Mackenzie Foy sebagai Cindy
Kyla Deaver sebagai April

Director:
Merupakan feature film keenam bagi James Wan yang memulai karir penyutradaraannya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Sebutkan salah satu horor paling berkesan yang pernah anda tonton. Rasanya saya akan mendapatkan judul-judul seperti The Exorcist (1973), The Omen (1976) atau mungkin The Amityville Horror (1979). Semuanya harus diakui telah menjadi cult saat ini dimana berbagai versi remakenya bermunculan beberapa dekade kemudian. Kali ini Evergreen Media Group, New Line Cinema dan The Safran Company berupaya menghadirkan kembali horor bernuansa tahun 70an yang ditangani oleh sutradara muda jempolan generasi baru di genre yang sudah membesarkan namanya yaitu James Wan. Indeed, he’s Asian!

Tahun 1971, Carolyn dan Roger Parren pindah ke rumah lading di daerah terpencil Rhode Island bersama kelima putri mereka yaitu Andrea, Nancy, Christine, Cindy dan April. Suasana baru yang menenangkan tak lama kemudian berganti menjadi mimpi buruk ketika satu persatu anggota keluarga diteror oleh makhluk gaib yang lebih dulu mendiami rumah tersebut. Lewat referensi akhirnya Carolyn meminta bantuan pasangan suami istri cenayang Warren untuk membantu mereka hidup tenteram. Sejak pertama melangkahkan kaki, Ed dan Lorraine sudah merasakan kekuatan jahat yang amat kuat. Berhasilkah pengusiran tersebut dilakukan sebelum semuanya memburuk?

Skrip yang ditulis oleh duo Hayes,Chad dan Carey ini memang berdasarkan kisah nyata yang dituturkan langsung dari mulut Lorraine Warren dan Andrea Perron. Itulah sebabnya foto ataupun rekaman mereka turut dihadirkan sebagai bukti nyata kepada penonton baik melalui end credit title ataupun viral video film ini. Jika menilik materi sebetulnya nyaris tidak ada yang baru selain memaksimalkan trik-trik menakuti yang fresh dan terjaga kontinuitasnya dari awal sampai akhir. Background keluarga The Warrens dan The Perrons sendiri mendapati porsi memadai sehingga anda sulit untuk tidak peduli pada nasib mereka di sepanjang film.

Apabila ada yang berhak pertama kali mendapatkan kredit khusus adalah sang sutradara kelahiran Malaysia itu. Betapa tidak? Wan tampak sangat menguasai ‘panggung bermain’nya. Setting dibangun secara detil dimana setiap sudut dan ruang di seluruh area rumah mampu memberikan efek klastrofobik yang tidak menyenangkan. Permainan kamera dari John R. Leonetti selaku DOP sukses menampilkan trik yang smooth dengan angle yang juga variatif. Editing Kirk M. Morri juga terampil merajut scene demi scene sehingga jalinan kisahnya terasa padat dengan sedikit mengabaikan timeline yang berlaku
dimana sesungguhnya serentetan peristiwa terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang

Farmiga merupakan salah satu aktris favorit saya. Ia menokohkan Lorraine dengan sempurna dimana ikatan emosi antara ibu dan putrinya sendiri atau rasa peduli antara cenayang dan klien yang ditolongnya begitu terasa. Wilson juga efektif memerankan Ed yang logis dan percaya diri akan apa yang tengah dikerjakannya. Anda bisa jadi lupa pada sosok komedik Livingston yang mendominasi filmografinya karena tokoh Roger di tangannya cukup efektif meskipun terkesan satu dimensi. Acungan jempol patut dilayangkan pada Taylor yang amat cemerlang menjiwai karakter Caroline, seorang ibu rasional nan sensitif. Kelima aktris belia yang bermain sebagai anak-anak Perron juga mampu mencuri perhatian. Sama halnya dengan sang sherif dan asisten Ed yang mendapat screen time nya masing-masing.

The Conjuring memang berbeda dari horor modern yang lebih mengandalkan CGI ataupun efek visual demi menakuti penontonnya. Oleh karena itu citarasa horor lawas memang terjaga dimana tidak ada darah atau kesadisan sebagai gimmick pelengkap. Kekurangannya di mata saya adalah alurnya yang sedikit predictable dikarenakan hasil adaptasi dari kisah nyata, bukan fiksi seperti karya Wan sebelum dan sesudah yang satu ini. Walau demikian tensi yang terjaga dan terus meningkat hingga ending sudah cukup untuk mendirikan bulu kuduk anda secara konsisten di depan layar. Go see it with a bunch of friends for multiple pleasures!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$57,512,249 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 20 Juli 2013

MIRACLE IN CELL NO 7 : Sorrow Over ‘Fantasy’ Social Drama


Original title:
7beonbangui Seonmool.

Nice-to-know:
Pengambilan gambar berakhir pada tanggal 10 Oktober di Iksan, Jeollabuk-do, Korea Selatan dimana semua napi mempunyai misi mengeluarkan Yong-gu dari penjara untuk sementara waktu.

Cast:
Ryoo Seung-yong sebagai Yong-Goo
Jeong Man-shik sebagai Sin Bong-sik
Oh Dal-su sebagai So Yang-Ho
Park Shin-Hye sebagai Ye-Seung
Park Won-sang sebagai Choi Choon-Ho
Kal So-Won sebagai Ye-Seung
Kim Jung Tae sebagai Man-Bum

Kim Ki-cheon sebagai Seo
Jung Jin-young sebagai Jang Min-Hwan


Director:
Merupakan film keempat bagi Lee Hwan-kyung setelah Champ (2004).

W For Words:
Mungkin masih membekas dalam ingatan moviegoers akan dua film Hollywood berkelas Oscar yaitu The Green Mile (1999) dan I Am Sam (2001) meski sudah lebih dari satu dekade berlalu. Apa relevansinya dengan film Korea yang meraih banyak nominasi di ajang Baek Sang Art Awards ini? Jika anda tarik garis lurus maka didapatlah kisah ayah keterbelakangan mental bersama putri kecilnya dan juga seorang napi tak bersalah yang dipidana hukuman mati. Kombinasi yang kemudian dijamin akan menawan hati anda selama lebih dari dua jam durasinya. Tak percaya?

Pada tahun 1997, pria dengan mental terbelakang bernama Yong-gu dijebloskan ke penjara sambil menunggu kasus persidangan yang menjeratnya dengan pasal pembunuhan, penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang juga putri seorang Komisaris polisi. Putrinya Ye-sung di luar dugaan berhasil menyusup ke sel atas bantuan bos Yang-ho dan krunya masing-masing Chun-ho, old Seo, Bong-shik, Man-beom. Tak tersisa waktu banyak bagi mereka untuk berjuang keras menyelamatkan Yong-gu dari dakwaan hukuman mati dalam pengawasan kepala polisi Min-hwan.

Skrip yang ditulis secara koperatif oleh Lee Hwan-Kyung, Kim Hwang-Sung dan Kim Young-Suk ini jika dicermati memang menyisakan banyak pertanyaan. Sebut saja kondisi penjara yang lebih bernuansakan rumah lengkap dengan selimut, meja makan hingga toilet. Atau bagaimana penjagaan ketat dengan segala ritualnya yang tidak lazim. Namun jika anda bisa menerima keganjilan tersebut, niscaya hati anda akan tertawan seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Ya. Premis keadilan versus ketidakadilan akan selalu memikat untuk disimak dengan segala konsekuensi yang berlaku.

Sutradara Lee banyak bermain dengan elemen fantasy yang bertentangan dengan realitas. Setting penjara yang cerah dan hangat contohnya. Semuanya kian terasa indah karena sinematografi bergaya soft edges dari Kang Seung-gii. Belum lagi scoring music yang menyentuh dan sound design yang terasa pas di tiap suasana. Timing untuk melontarkan humor dan menghadirkan haru juga patut diacungi jempol karena sisi penokohan yang terbangun secara stabil serta adanya pergeseran karakteristik yang disesuaikan dengan konflik yang dihadapi.

Si kecil Kal So-Won jelas paling mencuri perhatian dengan keluguan menggemaskannya yang mengundang simpati. Upaya Ryoo Seung-yong menghidupkan sosok retarded dengan wajar juga pantas mendapatkan apresiasi tinggi. Chemistry keduanya sangat kuat di sepanjang film hingga membuat siapapun yang melihatnya akan tersentuh. Lima aktor kawakan Oh Dal-su, Jeong Man-shik, Park Won-sang, Kim Jung Tae dan Kim Ki-cheon bermain kompak dalam mendukung ayah anak yang innocent itu. Aktris populer Park Shin-Hye bagaikan icing on a cake, memberi sentuhan terakhir sebagai Ye-sung dewasa berhati teguh.

Miracle In Cell No 7 sejauh ini sudah menjadi film Korea terlaris ketiga sepanjang masa di belakang The Host (2006) dan The Thieves (2012). Rasanya di beberapa negara Asia lainnya akan mampu berbicara banyak mengingat begitu besar potensi word of mouth nya sebagai tearjerker yang manis sekaligus tragis. Tak usah malu untuk mengusap air mata yang terjun bebas di pipi anda kala menyaksikannya. Drama sosial yang disamarkan sebagai komedi ini jelas berpotensi tinggi menggugah sensitivitas anda dari lubuk hati terdalam sekalipun. Definitely one of Asian’ father-daughter flick not to be missed!

Durasi:
12
7 menit

Asian Box Office:
$
12.320.000 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 17 Juli 2013

BOOMERANG FAMILY : Dysfunctional Family That Poured Your Heart Out


Tagline:
Here comes The Boomerang Family who can’t act their age.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Invent Stone dan didistribusikan oleh CJ Entertainment ini sudah rilis di Korea pada tanggal 9 Mei 2013.

Cast:
Park Hae-il sebagai In-mo
Yoon Yeo-jeong sebagai Mom
Yun Je-mun sebagai Han-mo
Kong Hyo-jin sebagai Mi-yeon
Jin Ji-hee sebagai Min-kyeong


Director:
Merupakan film keenam bagi Song Hae-sung yang memulainya lewat Calla (1999).

W For Words:
Film Asia terkenal dengan ciri khas kekeluargaannya terutama sineas negeri ginseng yang begitu fasih memberikan sentuhan itu demi menjalin kedekatan secara emosional dengan penonton. Produksi Invent Stone ini masih menggunakan formula serupa, bahkan menjadikannya komoditi utama dalam bertutur. Karakter utamanya bahkan digambarkan sebagai seorang filmmaker. Menarik bukan? Banyak alasan bagi anda untuk menyaksikan film yang terpilih sebagai opening 2013 Korean Film Festival di Indonesia beberapa waktu lalu ini. 

Sutradara gagal In-mo bertekad mengakhiri hidupnya apalagi setelah ditinggalkan sang istri. Ibunya menawarkan tempat tinggal sementara di rumah masa kecilnya. In-mo setuju meski harus hidup berdampingan dengan kakaknya yang juga mantan gangster, Han-mo. Di luar dugaan, kakak perempuannya, Mi-yeon juga kembali dengan membawa putri remajanya, Min-gyeong untuk menetap sementara setelah bercerai untuk kedua kalinya. Reuni keluarga tersebut pun berubah menjadi ricuh tatkala kedewasaan masing-masing dipertaruhkan.

Skrip yang ditulis sendiri oleh Song Hae-sung ini dengan telaten ‘membedah’ karakteristik setiap tokohnya terlebih dahulu. Studi kasus dysfunctional family ini sebetulnya biasa terjadi di berbagai keluarga ini justru tetap menarik karena aspek manusiawi dan relevansinya. Song juga menggunakan setting sehari-hari untuk membangun frame yang konsisten dan tidak keluar jalur. Dialog yang quirky terbukti menjadi kekuatan utama sekaligus efektif mencuatkan sisi gelap yang kemudian sukses membuka tabir rahasia satu persatu seiring berjalannya durasi.

Akting yang solid dari keseluruhan cast rasanya membuat anda bingung untuk menetapkan keberpihakan. Yeo-jeong yang bijaksana sebagai ibu paruh baya kerap diposisikan sebagai penengah. Hae-il tampak pas sebagai si bungsu depresif In-mo yang eksentrik. Berbanding terbalik dengan Je-mun yang terlihat sangar sebagai si sulung Han-mo tapi sesungguhnya berjiwa besar. Hyo-jin yang terkesan matang sebagai Mi-yeon justru memperlihatkan kelabilannya yang menyebabkan putrinya Min-kyeong tumbuh dalam ketidakpastian, juga dimainkan dengan gemilang oleh Ji-hee. Beberapa supporting act juga berhasil memberikan warna tersendiri.
Boomerang Family adalah paket komplit sebuah komedi hitam yang tak jarang membuat anda berkaca. Kita memang pribadi tak sempurna yang kadang diperparah dengan lingkungan yang juga tidak kondusif. Lantas apakah harus menyerah dengan keadaan? Bukankah hidup kerap menawarkan begitu banyak rasa mulai dari suka hingga duka yang tetap harus disikapi dengan sebagaimana mestinya? Bersiaplah untuk tertawa sekaligus terharu menyaksikan kisah keluarga Korea yang juga tidak lupa menggugah selera anda dikarenakan sebagian besar kebersamaan dibagi di atas meja makan lengkap dengan hidangan khas.

Durasi:
112 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 13 Juli 2013

PACIFIC RIM : Witness The Big Battle Childhood Imagination


Tagline:
To fight monsters we created monsters.

Nice-to-know:
Kaiju dalam bahasa Jepang berarti monster aneh. Sedangkan Jaeger adalah kata dalam bahasa Jerman yang berarti pemburu.

Cast:
Charlie Hunnam sebagai Raleigh Becket
Idris Elba sebagai Stacker Pentecost
Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori
Charlie Day sebagai Dr. Newton Geiszler
Burn Gorman sebagai Gottlieb
Max Martini sebagai Herc Hansen
Robert Kazinsky sebagai Chuck Hansen
Diego Klattenhoff sebagai Yancy Becket

Ron Perlman sebagai Hannibal Chau


Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Guillermo del Toro setelah Hellboy II : The Golden Army (2008).

W For Words:
Masih ingat dengan serial televisi Tokusatsu Jepang yang pertama muncul di tahun 1966 berjudul Ultraman yang kemudian diikuti dengan Kamen Rider di tahun 1971? Saya yakin beberapa di antara anda akan menganggukkan kepala. Persamaan keduanya adalah memerangi Kaiju, monster laut yang muncul ke permukaan dan mengancam peradaban manusia. Publik internasional mungkin lebih familiar dengan sebutan godzilla yang rencananya akan diremake tahun depan. Kini di tahun 2013, Warner Bros dan Legendary Pictures kembali mengangkat action fantasy bertema sama dengan citarasa Amerika. Penasaran? Yes, it’s one of the most awaited movie this year for sure!

Robot Jaegers sukses memerangi Kaiju pada suatu masa. Namun monster laut tersebut mulai berevolusi kecerdasan dan daya tahannya sehingga sekali lagi umat manusia terancam keselamatannya. Adalah pilot Jaegers, Raleigh Becket yang pensiun setelah kehilangan abangnya Yancy dalam satu pertempuran sampai bekerja mati-matian di sebuah konstruksi. Kedatangan Marshall Stacker Pentecost secara tiba-tiba bermaksud melatih Raleigh kembali mengendalikan Gipsy Danger sekaligus mencarikan tandem di bawah pengawasan Mako Mori. Mampukah ia mengemban misi tersebut sebelum kiamat melanda? 

Skrip yang ditulis oleh Travis Beacham dan Guillermo del Toro sendiri ini tergolong straightforward dengan timeline yang juga pendek, terlepas dari panggung bercerita yang sebetulnya luas. Pengenalan terhadap karakter-karakter inti dilakukan secara cepat dimana cuma tersisa sedikit waktu untuk membangun interaksi emosional di antara mereka. Andai ada itupun hanya Raleigh dan Mako yang tak jarang diakhiri dengan kesan terlalu dramatis. Tidak heran karena yang lebih ditonjolkan adalah pertarungan Jaegers dan Kaiju itu sendiri dengan segala kronik yang terjadi.

Setidaknya Del Toro di kursi sutradara berhasil memaksimalkan imajinasinya yang terkenal liar. Desain monster dan robot yang detil diyakini akan memerangkap kekaguman anda. Kedekatan dengan pelbagai referensi film Hollywood atau serial teve Jepang yang sudah-sudah memang tak bisa dipungkiri. Perkawinan original music dan sound design yang klop semakin menambah daya tarik film ini untuk disaksikan di bioskop berkelengkapan mutakhir. Meskipun 3D nya merupakan hasil konversi tetap memuaskan apalagi versi IMAX nya yang kian melipatgandakan sensasi menonton.

Elba dapat dianggap ‘pemimpin’ di sini dengan kualitas akting yang mumpuni. Pergerakan emosi tokoh Stacker dari awal sampai akhir dilakoninya dengan baik. Hunnam yang terbilang pendatang baru lebih menonjol jika berbagi layar dibandingkan tampil solo, termasuk chemistry nya yang cukup solid bersama Kikuchi yang menurut hemat saya hanya bermasalah di pengucapan dialog saja lebih karena kendala bahasa. Day dan Gorman mampu mencuri perhatian walaupun posisi mereka sebagai karakter pendamping dengan subplot tersendiri. Tak ketinggalan Perlman masih dengan nuansa Hellboy nya dalam karakter milyarder eksentrik.

Pacific Rim rasanya akan lebih ‘menjual’ di kawasan Asia yang notabene dekat dengan settingnya yaitu Samudera Pasifik. Secara keseluruhan kelasnya memang masih di atas film-film summer blockbuster sejenis, sebut saja salah satunya The Transformers. Kepiawaian Del Toro meramu sisi fantasy di dunia nyata adalah keunggulan pesona yang tak terbantahkan. That’s why we got such super fun pure entertainment. Definitely not-to-be-missed for anime fans who’ve always been dreaming to see some real battle between robots and monsters since their childhood. Be the witness over and over again!

Durasi:
131 menit

U.S. Box Office:
$37.285.325 till
Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 Juli 2013

DESPICABLE ME 2 : Extra Love For Gru and Extended Minions

Quote:
Agnes: Are you really gonna save the world?
Gru: That's right, baby! Gru's back in the game with cool cars... gadgets... and weapons!

Nice-to-know:
Al Pacino
dan Javier Bardem sempat dikabarkan akan mengisi suara Eduardo sebelum batal dan digantikan oleh Benjamin Bratt.

Cast:
Steve Carell
 sebagai Gru
Kristen Wiig sebagai Lucy
Benjamin Bratt sebagai Eduardo / El Macho
Miranda Cosgrove sebagai Margo
Russell Brand sebagai Dr. Nefario
Steve Coogan sebagai Silas
Elsie Fisher sebagai Agnes
Dana Gaier sebagai
Edith

Director:
Pierre Coffin dan Chris Renaud melanjutkan kerjasama mereka setelah Despicable Me (2010) sukses meraup lebih dari 250 juta dollar di Amerika Serikat saja.

W For Words:
Bagi saya Despicable Me (2010) adalah salah satu animasi 3D terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood. Komposisi warna, gambar dan efek visualnya amat memanjakan mata, bahkan post-credit title nya pun masih ditunggu. Produksi Universal Illumination Pictures ini lantas sukses besar dalam mencuatkan ikon baru di dunia perfilman yaitu the minions, makhluk mungil berwarna kuning dengan seribu satu polah tingkahnya yang mampu mencuri perhatian penonton. Okay, enough with the introduction, who’s going to continue with this sequel?

Mantan penjahat super Gru tengah menikmati masa pensiunnya dengan mengurus ketiga gadis Margo, Edith dan Agnes. Bersama asistennya Dr. Nefario, ia mengembangkan usaha selai dan jelly di laboratorium rahasia dengan bantuan minions. Pada suatu hari, agen Anti Villain League bernama Lucy Wilde menyambanginya dan membawanya bertemu dengan kepala perserikatan Silas Ramsbottom. Tujuannya adalah membujuk Gru untuk menyelidiki hilangnya serum yang dapat mengubah makhluk apapun menjadi monster berkekuatan super.  Bersediakah Gru bertandem dengan Lucy?

Materi yang masih ditulis oleh Ken Daurio dan Cinco Paul ini memang tak lagi menitikberatkan pada petualangan Gru yang taktis dan cool seperti pendahulunya.  Kali ini ‘petualangan’ yang terbilang lebih manusiawi lebih ditekankan yakni aksinya sebagai single parent dan kiprahnya sebagai love chaser. Dua aspek itu kian terasa menutupi misi besar yang tengah dihadapinya. Tebaran elemen slapstik dan komedi satir baik lewat dialog ataupun bahasa tubuh nyaris di setiap bagian nyatanya masih cukup ampuh dalam menggalang tawa lepas penonton.

Carell masih konsisten memberikan aksen Rusia yang pas pada karakter Gru. Pujian patut dilayangkan pada Coogan, Bratt dan Arias yang begitu hidup menyuarakan Silas, Eduardo dan Antonio berturut-turut. Sedangkan Wiig yang dalam prekuelnya mengisi suara Miss Hattie berganti menjadi Lucy yang digambarkan berkepribadian unik dan menyenangkan. Istilah ‘lipstick taser’ mungkin akan terus tertanam di benak anda dalam waktu yang cukup lama. Selain itu masih ada Russell Brand, Ken Jeong, Miranda Cosgrove, Elsie Fisher, Dana Gaier dan lain-lain yang tak ketinggalan sumbangsihnya.

Salah satu daya tarik film jelas ada pada minions yang mendominasi durasinya termasuk digambarkan baik dan jahat sekaligus (tanpa bermaksud spoiler). Lihat bagaimana mereka mengejar ice cream, bersantai di pantai, bermain sambil bekerja dengan multilingual aksen. Saya menangkap ‘hana dul ses’ atau one two three dalam bahasa Korea, ‘masalah’ dalam bahasa Indonesia, gelato dalam bahasa Italia, ‘gan bei’ dalam bahasa Cina dan banyak lagi. Now you know why they got famous all over the world. Nantikan kejutan dari mereka di penghujung kisah yang akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Coffin dan Renaud sebagai duo sutradara kreatif yang masih menonjol dalam aspek kedetailan desain visual ini tak lantas dituding sepenuhnya atas degradasi segi cerita karena mengikuti kemauan produser dalam upaya ‘menjual’ Despicable Me 2. Terbukti spin-off Minions rencananya akan mulai diproduksi tahun depan. Sementara itu nikmati saja terlebih dahulu sajian kisah Gru yang happy ending in the most ‘cheesy’ way ini. Who knows it will still entertain you. Don’t forget to see at least its 3D version. Worth your extra money especially get extra ‘love’ in here.

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:
$228.376.775 till
Jul 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 22 Juni 2013

WORLD WAR Z : Reinvent Zombie Invasion For Better Experiences

Tagline:
Remember Philly!

Nice-to-know:
Paramount Pictures lewati proses panjang demi peroleh hak adaptasi novel Max Brooks, World War Z: An Oral History of the Zombie War.

Cast:
Brad Pitt sebagai Gerry Lane
Mireille Enos sebagai Karin Lane
Daniella Kertesz sebagai Segen
James Badge Dale sebagai Captain Speke
Ludi Boeken sebagai Jurgen Warmbrunn
Matthew Fox sebagai Parajumper


Director:
Merupakan feature film kesepuluh bagi Marc Forster setelah Machine Gun Preacher (2010).

W For Words:
Film zombie apocalypse terbaik bagi saya sejauh ini adalah 28 Days Later (2002) yang dilanjutkan dengan sekuelnya 28 Weeks Later (2007) yang sangat British itu. Kini Hollywood mencoba peruntungannya dengan memproduksi film sejenis yang diadaptasi dari novel Max Brooks keluaran tahun 2006. Sebagai daya tarik utama dipasang nama aktor handal, Brad Pitt dengan sederet cast yang belum banyak dikenal publik. Tidak tanggung-tanggung, jadwal rilis film berformat 2D, 3D dan IMAX 3D (di sebagian negara) pada periode summer mengindikasikan rasa percaya diri Paramount Pictures selaku distributor internasional.

Kota-kota besar di dunia mulai hancur karena wabah misterius yang mengganas yakni mengubah manusia normal menjadi zombie hanya dalam hitungan detik. Pihak Pemerintah dan militer Amerika Serikat kelimpungan. United Nations mengutus pegawainya, Gerry Lane melancong ke beberapa negara demi menemukan sumber virus sekaligus mencari penangkalnya. Sebagai imbalan, istrinya Karin dan dua putrinya dijanjikan tempat penampungan aman. Gerry harus berpacu dengan waktu sebelum umat manusia punah walau harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. 

Skrip yang digagas oleh empat orang kreatif masing-masing Matthew Michael Carnahan, Drew Goddard, Damon Lindelof, J. Michael Straczynski ini memiliki alur linier. Adegan pembuka sudah langsung menempatkan anda di tengah situasi yang kian memburuk yang dialami tokoh utamanya. Paruh awal sukses memacu adrenalin anda tatkala melihat chaos dimana-mana baik dari sudut pandang orang pertama atau ketiga. Paruh akhir memang tidak terlalu intens karena lebih menekankan pada harapan hidup yang patut diperjuangkan walaupun kecil.

Sutradara Forster berhasil membangun setting ‘tidak biasa’ untuk  eksekusi sebuah premis yang sebenarnya sudah sering diangkat. Budapest, Skotlandia dan UK pun menjadi panggung bertutur yang fresh. CGI yang digunakan juga terbilang mencengangkan sekaligus efektif  dalam merajut ketegangan. Kapan lagi anda bisa melihat ratusan bahkan ribuan zombie yang teramat agresif hingga bisa meleburkan penghalang apapun. Gimmick 3D mungkin bisa meningkatkan intensitas meskipun tidak terlalu membantu ketika pendekatan shaky cam digunakan di beberapa bagian.

Pitt menghidupkan karakter Gerry Lane secara gemilang baik sebagai andalan umat manusia ataupun kepala keluarga yang dibebani tanggung jawab penuh. Kita mungkin akan memanggilnya lucky bastard tapi tetap tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya sepanjang durasi bergulir. Enos menjaga sisi dramatis film lewat karakter Karin yang samasekali tidak terlihat lemah. Sebaliknya Kertesz menyuguhkan penampilan heroik tentara wanita Israel berambut cepak bak Demi Moore dalam G.I. Jane (1997). Badge Dale, Boeken, Mokoena beserta duo aktris cilik Jerins dan Hargrove mampu mendukung para tokoh inti dalam film. 

World War Z memang menjual pengalaman bagi penonton. Itulah sebabnya banyak penjelasan signifikan yang digelorakan di sana-sini demi menjahit unsur logika dengan kemungkinan yang tak pernah terbayangkan dapat terjadi. Tentunya berbagai konsep menarik tetap dikedepankan termasuk penyelesaiannya yang cukup mindfuck tersebut. Sebuah suguhan summer blockbuster tahun ini yang berbeda karena memadukan drama kemanusiaan dengan action horror post-apocalyptic yang rasanya masih masuk akal. Prepare yourself for a thrilling fast-paced journey from start to finish!

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$66,411,834 till Jun 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 16 Juni 2013

A WEDDING INVITATION : Sappy Romantic Drama With Slightly Disbelief Core

Quote:
Qiao Qiao: Do you know how it feels? The ache in your heart, whenever you think of someone?

Nice-to-know:
Produksi patungan Beijing Century Media International dan CJ Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 12 April 2013 yang lalu.

Cast:
Eddie Peng sebagai Li Xing
Bai Baihe sebagai He Qiao Qiao
Jiang Jin Fu sebagai Mao Mao
Lin Mei-Hsiu sebagai Ibu Li Xing
Pace Wu sebagai Zhou Rei

Director:
Merupakan film kelima bagi sutradara Korea, Oh Ki-Hwan yang saya kenal lewat Art of Seduction (2005).

W For Words:
Masih adakah kesempatan kedua bagi cinta? Sudah berapa ribu kali tema tersebut diangkat dalam film oleh sineas belahan dunia manapun. Kali ini China dan Korea berkolaborasi atas prakarsa CJ Entertainment menghadirkan versinya sendiri. Penulis skrip China, Qin Haiyan memberi amunisi pada sutradara Korea, Oh Ki-Hwan untuk mengeksekusinya. Meski sempat kesulitan mencari cast yang pas akhirnya bergabunglah aktor populer Taiwan, Eddie Peng dengan bintang China, Bai Baihe sebagai lead nya. Formula yang tampaknya cukup ampuh untuk menarik minat masyarakat Asia Pasifik.

Li Xing dan Qiao Qiao adalah pasangan kekasih semenjak SMU. Menjelang lulus, Li Xing melamar Qiao Qiao di sebuah café. Di luar dugaan, Qiao Qiao menolak dengan alasan Li Xing belum siap. Mereka membuat perjanjian jika dalam 5 tahun ke depan belum menikah maka akan bersatu kembali. Saat yang dinanti tiba, Qiao Qiao menghubungi Li Xing hanya untuk mendapati pria tersebut akan menikah dengan putri bosnya, Zhou Rei. Dengan bantuan sahabatnya yang gay yaitu Mao Mao, Qiao Qiao memberanikan diri untuk merebut hati Li Xing kembali sekaligus menguak rahasia besar yang tersimpan.

Premis film ini memang menjanjikan. Sayangnya banyak lubang menganga disana-sini yang membuat penonton sulit untuk dapat memahami pribadi Li Xing dan Qiao Qiao sepenuhnya.  Apapun alasannya, cap materialistis Qiao Qiao sulit dihilangkan. Gadis ini menjadi abu-abu karenanya. Sama halnya dengan Li Xing yang terkesan berdiri di tengah-tengah, antara playboy flamboyan atau kekasih setia. Kompetisi masak yang diikuti Li Xing juga tidak meyakinkan. Publikasi besar hingga disiarkan langsung di televisi dengan ditonton oleh ribuan pasang mata hanya untuk menjadi chef hotel bintang tiga? Really?

Sutradara Oh dengan timnya yang dibawa langsung dari negeri ginseng itu memang sudah melakukan yang terbaik. Terbukti feel filmnya sangat Korean dengan pemilihan setting yang ciamik dan tata artistik yang sedap dipandang. Scoring musik dari Lee Ji-Soo juga tidak mengecewakan dalam membangun mood. Transisi komedi di paruh awal menjadi melodrama di paruh akhir terbilang mulus meski dilakukan dengan cukup instan. Terima kasih pada supporting Jiang Jinfu dan Pace Wu yang lumayan mencuri perhatian.

A Wedding Invitation adalah sebuah date movie dimana sang pria sebaiknya menyiapkan tisu untuk pasangannya. Pada akhirnya akan membagi audiens menjadi dua. Mereka yang kritis tidak akan terlalu menyukainya karena alasan yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Namun bagi easy viewers tampaknya tak akan merasa keberatan dan bisa dengan mudah terhanyut dalam permainan takdir. Pesan yang ingin disampaikan tentu saja ajakan untuk menghargai setiap momen selagi jatuh cinta sebelum semuanya terenggut dan meninggalkan guratan penyesalan nan dalam.

Durasi:
104 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 15 Juni 2013

MAN OF STEEL : Superb Induction For Super Human We All Know

Quote:
Jonathan Kent: You just have to decide what kind of man you want to grow up to be, Clark. Whoever that man is, he's going to change the world..

Nice-to-know:
Darren Aronofsky, Duncan Jones, Ben Affleck, Tony Scott, Matt Reeves dan Jonathan Liebesman sempat dipertimbangkan untuk menyutradarai film ini sebelum Zack Snyder terpilih.

Cast:
Henry Cavill
sebagai Clark Kent / Kal-El
Amy Adams
sebagai Lois Lane
Michael Shannon
sebagai General Zod

Kevin Costner sebagai Jonathan Kent
Diane Lane sebagai Martha Kent
Russell Crowe
sebagai Jor-El

Ayelet Zurer sebagai Lara Lor-Van
Antje Traue sebagai Faora-Ul
Laurence Fishburne
 sebagai Faora-Ul
Harry Lennix sebagai General Swanwick
Richard Schiff
sebagai Dr. Emil Hamilton
Christopher Meloni
sebagai Colonel Nathan Hardy
 

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Zack Snyder setelah terakhir menggarap Sucker Punch (2011).

W For Words:
Siapa yang tidak mengenal sosok pahlawan dengan lambang huruf S di dadanya? Jangan buru-buru memanggil dia dengan Superman dahulu karena Warner Bros sepakat untuk menyebutnya manusia baja pada installment pertama reboot terbaru tokoh legendaris DC Comics ini. Jika generasi saya dan seterusnya baru mengenal nama Christopher Reeve, Dean Cain, Brandon Routh atau mungkin Tom Welling sebagai para pemerannya secara simultan di layar lebar dan layar gelas, tentunya penunjukan aktor Inggris berusia 30 tahun bernama Henry Cavill cukup beralasan mengingat talentanya yang besar.

Di ambang kehancuran planet Krypton dan aksi kudeta Jenderal Zod, Jor-El dan Lara Lor-Van berhasil mengirim bayi laki-laki mereka Kal ke bumi. Anak dengan kekuatan luar biasa itu kemudian diasuh oleh pasutri Kent, Jonathan dan Martha yang memberinya nama Clark. Segenap peristiwa yang dialami membuat Clark tumbuh dewasa dengan segudang pertanyaan. Adalah wartawati Lois Lane yang bertekad menyelidiki asal-usulnya. Sementara itu Jenderal Zod dan armadanya bebas dari kutukan hingga bertekad membangun kembali Krypton di muka bumi walau harus membinasakan umat manusia. 

Tidak usah heran jika anda menemukan banyak template yang serupa dengan trilogi Batman (2005-2012) karena nama Christopher Nolan ada di jajaran pemilik ide cerita bersama dengan David S. Goyer yang sorangan bertugas rangkap sebagai penulis skenario juga. Introduksi terhadap sang manusia baja itu dilakukan secara detail mulai dari fase anak-anak, remaja sampai dewasa lengkap dengan evolusi sisi emosionalnya. Meski berhasil membalutnya dalam nuansa modern, kecenderungannya menuju genre science fiction instead of fantasy cukup mengganggu saya. Namun mengingat Kal berasal dari luar bumi, hal tersebut (harus) dimaklumi.

Kekuatan utama yang dimiliki film ini ada pada hubungan personal Clark dengan ayah kandung dan ayah-ibu angkatnya. Berbagai momen dramatis yang menghadirkan kutipan-kutipan ‘sakti’ dijamin mampu meluluhlantakkan sanubari anda hingga tak sadar menggulirkan air mata. Penonton yang secara pribadi dekat dengan orangtua pasti merasakan hal demikian. Dua aktor kaliber Oscar yang bukan kebetulan pernah memerankan Robin Hood yakni Costner dan Crowe menunaikan tugasnya dengan luar biasa. Lane dan Zurer juga tak kalah gemilang menampilkan naluri keibuan mereka yang begitu kental.

Bagi saya Cavill sendiri merupakan figur tepat untuk menghidupkan sang manusia baja. Wajah simpatik yang ditunjang dengan fisik kokoh kian menegaskan aura kepahlawanannya. Adams sebagai wartawati ambisius pemenang Pulitzer sukses memperlihatkan rasa keingintahuan tinggi dengan tekad kuatnya. Sayang chemistry keduanya saat berbagi layar justru terlihat kurang maksimal. Semoga pada kesempatan mendatang dapat diperbaiki. Shannon secara cemerlang menjiwai tokoh antagonis Zod dengan sorot mata tajam dan intonasi suara yang menggelegar. Traue sebagai pendampingnya lumayan menyita perhatian masih dengan konsep femme fatale.

Snyder tidak main-main dalam membangun set yang fantastik. Opening berdurasi dua puluh menitan yang mempertontonkan kultur planet Krypton adalah salah satu opening terbaik dalam sejarah film superhero. Belum lagi kecanggihan teknologi yang digunakan para penghuninya amatlah mencengangkan. Bombardir spesial efeknya memang tak dapat dihindari tetapi masih dalam konteks materi yang ada termasuk kedekatan berbagai aspek dengan dunia yang kita tinggali sehari-hari. Gimmick 3D nya memang tidak mutlak sebagai pilihan tapi cukup memuaskan. Balutan scoring musik megah dari Hans Zimmer tak usah diragukan lagi.


Man Of Steel diyakini tidak akan mengecewakan fanboy/fangirl nya di seluruh dunia termasuk merangkul generasi baru karena filmmaker nya tidak melupakan karakteristik dasar yang sudah demikian lekat. Skripnya memang belum sempurna tapi gaya penceritaan dinamis, editing ciamik dengan alur maju mundur dan tempo adaptif agaknya efektif menutupi segala kekurangan yang ada. In the end, it’s a superb induction about a super human we all know. Made us getting into Kal’s shoes to feel his emotions, understand his choices, fulfill his fate is the best thing Snyder could offered.

Durasi:
143 menit

U.S. Box Office:
$125.080.000 till
Jun 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 05 Juni 2013

THONGSOOK 13 : Thai Decent Horror Goes CGI


Quote:
Beam: You know I'm not a real woman!
Jack: For god's sake, you're just a lesbian!

Nice-to-know:
Film yang berjudul Inggris, Long Weekend ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 31 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Chinnawut Intarakusin
sebagai Thongsuk
Acharanat Ariyaritwikol sebagai Jack
Ch
eeranat Yusanon sebagai Nam
Sean Jindachot
sebagai Boy        
Kitlapat Korasudraiwon
sebagai Pui
Butsarin Yokpraipan sebagai Beam

Director:
Merupakan film keempat bagi Taweewat Wantha setelah The Kindergarten(2009).

W For Words:
Suguhan horor terbaru Minds@Work dan Wave Pictures ini menawarkan premis yang sudah ribuan kali dieksekusi oleh filmmaker di berbagai belahan dunia manapun. Sekelompok anak muda berlibur di tempat terpencil, melakukan kesalahan fatal hingga harus menanggung akibatnya lewat serangkaian kejadian supernatural. Ya, rekor di Indonesia sendiri dipegang oleh tak lain tak bukan, Nayato Fio Nuala/Koya Pagayo. Perbedaannya mungkin hanya di segi teknis yang jauh lebih baik terlebih di departemen CGI. Tidak percaya?

Thongsuk dan Nam telah bersahabat sejak kecil. Menginjak bangku remaja, Thongsuk yang menderita gangguan autis kerap menjadi bahan olok-olok temannya. Jack yang menaruh hati pada Nam mengajaknya berlibur bersama Boy serta kekasih lesbian Pui dan Beam ke pulau terpencil tanpa sepengetahuan Thongsuk. Di luar dugaan, Thongsuk berhasil menyusul. Jack dan Boy yang kesal menguncinya di kuil yang dipercaya pernah menjadi TKP pembantaian massal di waktu lampau oleh arwah jahat. Menjelang Jumat tanggal 13, sejarah tersebut pun terancam berulang. 

Skrip yang digawangi oleh kwartet Eakasit Thairaat, Sommai Lertularn, Adirek Wattaleela, Taweewat Wantha ini berupaya keras menghindari keklisean yang sudah-sudah. Itulah sebabnya disematkan berbagai ‘tikungan’ untuk tetap mempertahankan penonton di kursinya masing-masing termasuk ‘kreatifitas’ presentasi kematian yang begitu beragam. Kilas balik yang membuka film bertujuan memberikan pondasi akan karakter Thongsuk dan Nam. Namun apakah itu cukup? Terbukti dramatisasi di bagian penutup nampaknya masih kesulitan menguras emosi penonton. 

Wajah tampan Chinnawut yang blasteran tergolong sukses menghidupkan sosok Thongsuk yang lugu dan pantas menggalang simpati. Sorot matanya yang tajam berkali-kali berbicara meski tanpa dialog sekalipun. Debut layar lebar penyanyi Cheeranat juga tidak mengecewakan. Aksi Nam yang dominan di sepanjang film cukup menonjolkan kekuatan emosi yang dalam. Sayangnya tidak banyak yang dapat dllakukan Kitlapat dan Butsarin selain berpelukan dan berteriak. Sedangkan Acharanat dan Sean menjiwai dua pemuda begundal dengan tipikal individualis yang mudah terlupakan.

Taweewat sebagai sutradara rupanya banyak ‘belajar’ dari The Evil Dead (1981) atau The Cabin In The Woods (2011) dengan tema serupa. Bahkan pada satu kesempatan, sosok hantunya langsung mengingatkan anda pada Mama (2013). Paruh pertama yang lambat digunakan untuk membangun suspensi misteri. Paruh kedua barulah dihujani darah dan kesadisan yang cukup optimal. Penggunaan spesial efek dilakukan secara maksimal dalam mengumbar ketakutan mulai dari asap dan bayangan sebagai bentuk teror. Sah-sah saja karena masih terlihat rapi dan relevan dengan kebutuhan cerita.

Walaupun terlambat diimpor ke Indonesia, Thongsook 13 setidaknya masih meneruskan citarasa horor Asia dengan tradisi yang kuat sebut saja jimat pengusir, lilin pelindung dan sebagainya. Peringatan hari Jumat tanggal 13 yang diyakini sebagai terbukanya gerbang neraka pun dipertahankan. Secara keseluruhan masih lebih baik dari beberapa judul sejenis milik negeri gajah putih tersebut dimana kekosongan adegan mampu diisi dengan dialog one-liner pengocok tawa sebelum diteruskan dengan teror non stop yang seperti biasa memicu keberpihakan anda terhadap salah satu tokoh untuk bertahan hidup pada akhirnya.

Durasi:
96 menit

Asian Box Office:
THB 12,700.000 till Feb 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 02 Juni 2013

THE HANGOVER PART III : Not Drunk Enough To Get You Laugh



Quote:
Alan: We can't be friends anymore. When we get together, bad things happen and people get hurt.
Mr. Chow: Yeah, but that's the point! It's funny!

Nice-to-know:
Sean Penn dan Robert Downey Jr. sempat dipertimbangkan untuk peran yang akhirnya jatuh ke tangan John Goodman.

Cast:
Bradley Cooper sebagai Phil
Ed Helms sebagai Stu
Zach Galifianakis sebagai Alan
Justin Bartha sebagai Doug
Ken Jeong sebagai Mr. Chow
John Goodman sebagai Marshall

Director:
Feature film pertama Todd Phillips adalah Road Trip (2000).

W For Words:
Kwartet Phil, Stu, Alan dan Doug sudah dua kali menghibur anda sebelumnya lewat The Hangover (2009) dan The Hangover Part II (2011) dimana mereka terbangun dalam keadaan setengah mabuk, menyadari ada sesuatu yang salah hingga berupaya keras mengingat-ingat demi memperbaiki semuanya. Nah, pada installment ketiga ini secara mengejutkan tradisi tersebut dipatahkan. Tentunya dengan mengindahkan adegan post credit-title. Masih penasaran dengan produksi Green Hat Pictures dan Legendary Films ini? Well, you should give a try if you say yes.

Paska kematian ayah jutawannya yang mendadak, Alan dibawa teman-temannya ke institusi kejiwaan untuk diperiksa lebih lanjut. Sayangnya dalam perjalanan, mereka keburu dihadang gangster kejam Marshall dan kawanannya yang sepakat menyandera Doug untuk ditukar dengan Chow. Pasalnya, Chow yang kabur dari penjara itu baru saja melarikan batangan emas Marshall senilai puluhan juta dollar. Phil, Stu dan Alan kemudian memutar otak untuk menemukan Chow dalam waktu singkat. Misi yang tidak mudah karena Chow licin seperti belut.
Skrip yang digarap oleh Todd Phillips dan Craig Mazin ini terasa setengah jadi. Konflik yang mengalir linier harus diakui merupakan pendekatan yang fresh. Namun hal itu tidak dibarengi oleh pengembangan karakteristik yang memadai. Jon Lucas dan Scott Moore  terkesan hanya mengulangi slapstick dari keempat tokoh utama yang sudah muncul di dua seri sebelumnya. Titik berat yang ada pada Alan seharusnya dapat lebih dimaksimalkan sebagai start dan finish yang memuaskan. Sebaliknya villain/antagonis di sini justru mencuri perhatian penonton dengan porsi memadai.

Seperti sudah disebutkan di atas, Ken Jeong mendapat peran yang cukup krusial. Chow memang menyebalkan di tangannya tetapi masih kurang menggigit di sebagian besar aksinya.
Galifianakis tampil lebih variatif daripada biasanya. Proses yang dialami Alan untuk menjadi pria dewasa seutuhnya merupakan highlight tersendiri. Cooper dan Helms yang sebelumnya dominan kali ini lebih berfungsi sebagai supporting characters belaka. Malangnya Goodman terlalu stereotype sebagai gangster. Lupakan penampilan ‘cameo’ Graham atau Bartha tapi coba pusatkan perhatian pada McCarthy yang benar-benar tampak sepadan. 
Philips sebagai sutradara sudah berusaha menjaga misteri hingga akhir, lengkap dengan petunjuk demi petunjuk yang mengarah kepadanya. Malang karena sejak menit pertama kekuatannya tidak cukup besar untuk menyita perhatian penonton. Yang mungkin patut diacungi jempol adalah keberaniannya menaikkan tensi melalui rangkaian aksi kejar-kejaran yang melibatkan jalan raya hingga gedung tinggi. Jika sebelumnya anda disuguhi tupai dan harimau sebagai penggiring twist, maka kali ini elemen tersebut hilang. Gantinya adalah jerapah yang bernasib malang demi sebuah shocktherapy kecil pada prolognya.
 
Secara konten, The Hangover Part III ini terbukti masih bersahabat dengan penonton dewasa. Namun kerjasama tim yang memudar itu membuat kenikmatan terasa hambar. Lihat bagaimana masing-masing karakternya nyaris berdiri sendiri di tiap kesempatan. Seri yang satu ini memang diperuntukkan bagi fans setia yang ingin menyaksikan (katanya) bagian terakhir petualangan wolfpack. Bagi saya, penggunaan judul “Wolfpack Got Back” or “Kidnapped For Mission” akan lebih tepat. Jika memang kelak ada kelanjutan atau spin-off (layaknya indikasi end credit title) sebaiknya Phillips melakukan persiapan yang lebih baik demi pesta mabuk-mabukan yang lebih gokil lagi. Who’s still with ‘em?

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$69.448.603 till May 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: