XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Kamis, 28 Maret 2013

TAMPAN TAILOR : Jatuh Bangun Penjahit Ulung Inspiratif

Penulis: Diaksa Adhistra

Tagline: 
Dia kehilangan segalanya.. Tapi dia tidak pernah kehilangan harapan..

Nice-to-know:
Awalnya akan rilis sekitar bulan Mei-Juni 2013 tetapi dimajukan tiga bulan.

Cast:
Vino G Bastian sebagai Topan
Jefan Nathanio sebagai Bintang
Marsha Timothy sebagai Prita
Ringgo Agus Rahman sebagai Darman

Director:
Merupakan film ketujuh Guntur Soeharjanto setelah Brandal-Brandal Ciliwung (2012).

W For Words:
Sebagian besar di antara kalian pasti sudah pernah menonton The Pursuit Of Happyness (2006) yang diperankan oleh Will Smith dan putranya sendiri. Tak salah jika air mata anda menggenang di akhir film karena haru biru yang berhasil digelorakan dari satu perjuangan mencari penghidupan yang layak. Alim Sudio dan Cassandra Massardi yang bertandem menulis skenarionya memang tidak persis sama karena masih ada penghuni negeri ini yang memiliki kehidupan serupa. Jika tidak percaya coba tengok sekeliling anda secara lebih seksama. 

Jasa menjahit “Tampan Tailor” terpaksa tutup. Sang pemilik, Topan kehilangan segalanya selepas kepergian istrinya termasuk tempat tinggal hingga terpaksa menumpang di rumah sepupunya, Darman dan istrinya yang galak, Atun. Lantas Topan berusaha keras mengambil semua pekerjaan mulai dari calo tiket kereta api, kuli bangunan sampai stuntman film aksi demi menyambung hidup sekaligus menyekolahkan kembali putranya Bintang. Gadis pemilik kios, Prita diam-diam kagum pada upaya pria yang satu itu. Akankah Topan berhasil pada akhirnya?

Suatu kesalutan sendiri dengan sang sutradara yaitu Guntur Soeharjanto alias @toersky yang terang-terangan mengakui kalau karya terbarunya ini memang terinspirasi dari film Hollywood tersebut di atas. Padahal banyak film Indonesia yang terang-terangan menjiplak cerita dari film luar tapi yang membuat film itu sendiri bilang tidak meniru (atau terinspirasi) dari film luar pendahulunya. Guntur juga terampil membesut setiap sudut ibukota yang kerap terlewatkan oleh mata sebut saja stasiun kereta api, flyover yang belum jadi dsb.

Saya pribadi menyukai film ini. Film ini berhasil menggambarkan cerita seorang pria yang berusaha keras untuk menghidupi anaknya walaupun dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Tone warna film ini juga lumayan bagus, mewakili sekali dari awal sampai akhir. Kita akan dibuat miris dengan keadaan ayah-anak ini, bahkan jika kalian yang gampang terharu bisa jadi menangis kala menonton film ini. Sayangnya, waktu yang diberikan untuk itu seringkali “diambil”, bisa jadi demi menghindari kesan menye-menye yang terlalu dramatis. 

Ada beberapa artikulasi dialog yang kurang jelas sehingga kita tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para pemainnya. Walau demikian, Vino dan Marsha yang juga suami istri di luar layar bermain maksimal sebagai Topan dan Prita. Hanya saja Topan masih terlalu rapi dan klimis menurut pengamatan saya. Si kecil Jefan tak kalah memukau sebagai anak penurut yang penuh empati. Jangan lupakan Ringgo Agus yang berhasil membawa warna tersendiri tanpa harus melucu maksimal sebagaimana biasanya. Tokoh yang sedikit memberi keleluasaan bagi penonton untuk meresapi karakteristik masing-masing.

Tampan Tailor memang sedikit cacat di ending yang terasa antiklimaks. Hubungan ayah anak yang kuat sejak menit pertama seakan berbalik menjadi latar belakang yang tidak istimewa. Sebaliknya romansa yang awalnya bumbu belaka malah menjadi bahan utama. Tak apalah toh kita masih bisa menelaah secara positif sebuah perjuangan hidup inspiratif warga ibukota yang nasibnya kurang beruntung. Tak pelak masih banyak Topan dan Bintang lain di luar sana yang tidak (atau belum) memiliki kesempatan layak untuk setidaknya mencoba peruntungan mereka.

Durasi:
104
menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Maret 2013

CRAZY CRYING LADY : Inexplicably Crazy You May Cry


Quotes: 
“Heartbreaks for a day, Remember it for the rest of one's life”

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh M-Thirtynine Pictures ini telah edar di Thailand pada tanggal 27 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Araya A. Hargate
sebagai Ho
Akom Preedakul sebagai Kom Chaunchuen
Jaroenporn Ornlamai sebagai Nava/Nana
Teeradate Methavorrayuth sebagai Doc
Ray MacDonald sebagai Boyd

Director:
Merupakan f
ilm ketujuh bagi Rerkchai Paungpetch setelah terakhir Valentine Sweety (2012).

W For Words:
Mayoritas film Thailand yang beredar di bioskop Indonesia (sebagian besar lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex) tidak pernah mengecewakan saya. Selama ini yang dianggap agak lemah adalah Lulla Man (2011) dan Teenage Love (2012). Nyatanya dua judul tersebut belum mampu menandingi kekurangan film yang berjudul asli Khun Nai Ho ini  Padahal Araya merupakan artis cantik bintang Lux di sana yang ketenarannya tak perlu diragukan lagi. Malangnya ia harus terbiasa mengenakan wig di sepanjang film untuk terlihat lucu? Well, i don’t think it works at all.

Sejak kecil impian Ho sederhana, ia ingin mempunyai bayi sebelum mengetahui ibu dan kakak perempuannya tewas dalam kecelakaan mobil. 20 tahun kemudian, Ho masih tinggal bersama ayahnya Kapten Burapha yang terobsesi kembali ke medan pertempuran dan adik lelakinya Nava yang lebih senang berdandan seperti perempuan. Tiba pada satu ketika dimana rahim Ho akan segera berhenti berfungsi menurut diagnosa dokter Doc yang juga teman kecilnya. Ia lantas bertekad mengandung sesegera mungkin dengan bantuan kekasihnya Boyd.

Paras Araya memang cantik dan kemampuannya untuk terus menangis dalam puluhan ekspresi dari awal sampai akhir pantas diacungi jempol. Namun tokoh Ho tetap belum mampu mendapatkan simpati dari penonton meski nasibnya digambarkan malang sedari kecil. Kesedihan yang bertubi-tubi dialaminya malah terasa berlebihan hingga pada satu titik saya nyaris berteriak “CUKUP!”. Sosoknya juga tidak diperlihatkan bekerja atau setidaknya melakukan sesuatu yang berguna selain mengejar cinta lelaki demi desperasi pembuahan rahim? Oh my Godness!

Di luar Ho, tokoh-tokoh dalam film ini tak kalah mengganggunya. Akom terlihat menggelikan sebagai ayah irrasional karena statusnya sebagai pensiunan militer yang pernah kehilangan rekannya sendiri. Jaroenporn terlihat mengerikan sebagai Nava lengkap dengan implan dada palsu dan kostum semi baletnya yang merusak mata tersebut. Lelucon ala gay/transeksual berulang kali disuguhkan tanpa batasan yang jelas. Satu-satunya yang agak menghibur dari keduanya adalah kemampuan menyamar Kom dan keahlian presentasi Nana dalam video Youtube nya.

Desain produksi memang dibuat memanjakan mata lewat tampilan kostum warna-warni demi memberi penekanan pada penonton bahwa ini adalah komedi slapstick. Sayangnya kinerja sutradara Paungpetch malah kian mengesankan serial televisi dari babak ke babak. Apalagi setting lokasi dalam kota yang demikian terbatas sehingga terbilang gagal menyajikan value yang berarti. Sound efek dari keyboard elektronik semakin memperparah keadaan. Alih-alih lucu memancing tawa, saya malah menganggapnya norak. Nyaris tak ada dialog yang memorable untuk memperkuat konflik yang ada.

Crazy Crying Lady adalah sebuah siksaan dua jam bagi siapapun yang menyaksikannya. Apabila tiap karakter dalam sebuah film gagal menjalin koneksi dengan penonton maka tidak ada lagi yang tersisa. Anda selalu memiliki opsi untuk walkout jika demikian adanya. Mereka semua tidak terkesan ‘manusia’, tidak lucu, juga tidak romantis. Semua plot yang tercerai berai sejak menit awal pada akhirnya berupaya diikat dengan tidak rapi di penghujung kisah. Terlambat sudah! I didn’t get any point in the end. Maybe Thai audiences have different opinions for some inexplicable reasons.

Durasi:
11
5 menit

Asian Box Office:
80,000,000 baht till Feb 2013 in Thailand

Overall:
No rating

Minggu, 03 Maret 2013

SILVER LININGS PLAYBOOK : Unlikeliest Romantic Comedy Bipolar Life


Quotes:
Tiffany: You know, for a while, I thought you were the best thing that ever happened to me. But now I'm starting to think you're the worst.
Pat: Of course you do. Come on, let's go dance.


Nice-to-know:
5 nominasi utama yaitu Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Writing dari 8 nominasi Academy Award yang diterimanya, film ini menyusul langkah Reds (1981) dan Million Dollar Baby (2004).

Cast:
Bradley Cooper sebagai Pat
Jennifer Lawrence sebagai Tiffany
Robert De Niro sebagai Pat Sr.
Jacki Weaver sebagai Dolores
Chris Tucker sebagai Danny
Anupam Kher sebagai Dr. Cliff Patel

Director:
Merupakan feature film keenam bagi David O. Russell setelah terakhir The Fighter (2010) yang juga menominasikan dirinya sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Academy Awards 2011.

W For Words:
Nyaris semua orang pernah mengalami kehilangan seseorang yang mereka cintai, entah karena kematian atau segala bentuk perpisahan yang dilandasi oleh rasa ketidakcocokan. Proses move-on kemudian menjadi tahapan terberat untuk menata hidup kembali. Premis itulah yang diangkat dalam novel berjudul sama karangan Matthew Quick yang kemudian dibeli hak adaptasi layar lebarnya oleh The Weinstein company. Awalnya sempat dikabarkan akan diproduseri oleh Sydney Pollack dan Anthony Minghella dimana keduanya meninggal sebelum tahun 2008.

Sekeluarnya dari institusi kejiwaan akibat memukuli selingkuhan istrinya Nikki, Pat Solatano Jr. kembali ke rumah orangtuanya Pat Sr. dan Dolores di Philladelphia. Dr. Cliff Patel yang menangani Pat Jr. mengindikasikan adanya gangguan bipolar dan mengharuskannya menjalani sesi perawatan. Awalnya Pat Jr. yang juga mantan guru itu terobsesi untuk rujuk dengan berbagai cara hingga ia berjumpa Tiffany yang juga pernah dirawat karena gangguan psikologis. Keduanya lantas sepakat saling membantu setelah melalui serangkaian perjanjian unik demi rekonsiliasi.

Kekuatan skrip ini jelas ada pada rangkaian dialog tajam dari dua protagonisnya pengidap bipolar yang kerap menyebabkan perubahan mood secara mendadak, lari dari kenyataan, kesulitan belajar dari kesalahan masa lalu dsb. Keadaan tersebut kian diperburuk oleh pemutusan hubungan, kehilangan pekerjaan, keluarga disfungsi sampai merasa tak diterima oleh lingkungan sekitar. Kompleksitas yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi di kehidupan kita sehari-hari tapi jarang yang mau mengakuinya. Pat and Tiff could be anyone of us. Only its’ scale makes the difference betwe
en sane and insane.

Sutradara O’Russell yang sudah lekat dengan bentuk kehidupan nyata seorang bipolar dari putranya Matthew tampak tidak berupaya mendramatisir keadaan yang memang sudah dramatis dari ‘sono’ nya. Bagaimana moment-to-moment scenes yang dari awal sampai akhir didominasi oleh Cooper-Lawrence dieksekusi secara brilian. Setting Philadelphia yang mengedepankan keluarga Amerika modern kelas menengah ini sesungguhnya memiliki pakem baku sebuah komedi romantic meski sesekali menyasar pada konsep satir dalam porsi yang minor.

Kemenangan Lawrence di ajang Oscar menyisihkan empat nominee lain yang jauh lebih senior memang mengejutkan. Namun melihat performanya dalam mengimbangi lawan main yang berusia 15 tahun lebih tua pantas diacungi jempol. Karakternya kompleks dan unpredictable dalam sosok Tiff yang cantik sekaligus rapuh. Akting Cooper juga tak kalah spektakuler dalam menerjemahkan karakter delusional Pat Jr. yang menyedihkan (atau justru mengganggu) tanpa harus kehilangan pesonanya. Jangan kecilkan sumbangsih DeNiro, Weaver, Tucker, Kher yang begitu besar sebagai supporting casts, terlebih melihat ‘polah tingkah’ superstitious Pat Sr. kita bisa tahu mengapa putranya demikian.


Silver Linings Playbook tetaplah sebuah komedi romantis yang berasal dari dunia yang ‘berbeda’. Tak melulu mengeksploitasi pahit manis chemistry pria dan wanitanya, sahabat dan keluarga mereka dalam neighborhood yang sama pun dilibatkan secara serius. Ending cheesy nya memang tergolong klise tapi tetap tak akan menghalangi hadirnya senyum di wajah dan kehangatan di hati anda. Easily connect with us because we’ve all been very emotional through the struggling times. In the end, you might realize it’s the journey of life that matters. Do not ever lose any hope.

Durasi:
122 menit

U.S. Box Office:
$115.697.021 till Mar 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 02 Maret 2013

WARM BODIES : Skeptically Good Zom-Com Into Lives


Quotes:
Nora: You miss him... like a boyfriend... you miss your zombie boyfriend?

Nice-to-know:
Kisah ini secara tidak langsung didasari oleh "Romeo and Juliet". "R" = "Romeo"; "Julie" = "Juliet; "Perry" = "Paris"; "M/Marcus" = "Mercutio"; "Nora" = Juliet's "Nurse".

Cast:
Nicholas Hoult sebagai R
Teresa Palmer sebagai Julie
Analeigh Tipton sebagai Nora
Rob Corddry sebagai M
Dave Franco sebagai Perry
John Malkovich sebagai Grigio

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Jonathan Levine setelah 50/50 (2011) yang menuai banyak pujian dan penghargaan itu.

W For Words:
Cermati poster dan penggunaan judul film ini, anda harusnya dapat merasakan suguhan yang berbeda. Ya. Bagaimana cinta remaja tampil dalam format yang ‘nyeleneh’ yaitu antara manusia dan zombie, lengkap dengan berbagai pakem familiar yang dikreasikan sedemikian rupa untuk memberikan nuansa baru. Ide ini muncul dari Isaac Marion lewat novel berjudul sama yang dipublikasikan pada tahun 2010. Bukan rahasia pula jika Marion yang mengagumi roman sepanjang masa Romeo & Juliet turut memasukkan beberapa elemen tersebut ke dalam ceritanya. Interesting, right?

Populasi manusia di masa depan membentengi wilayah untuk bertahan hidup dari kawanan zombie yang siap memangsa mereka. Saat bergerilya mencari obat-obatan, Julie bersama sang kekasih Perry dan teman-temannya diserang. Adalah zombie muda R yang menewaskan Perry dan mengambil ‘memori’ dari otaknya. Seketika ia jatuh cinta pada Julie yang kemudian diselamatkannya. Lambat laun terjadi interaksi unik di antara keduanya. Kehadiran Julie kian memanusiakan R hingga wajah dunia bisa jadi berubah. Namun kumpulan tengkorak zombie tak tinggal diam.
 
Rasanya tepat mempercayakan Jonathan Levine menulis sekaligus menyutradarai film ini. Visi pemuda bertalenta yang satu ini memang tak jarang menyinggung Twilight saga (2008-2012) yang ‘mengawinkan’ manusia dengan vampir. Jangan buru-buru melakukan justifikasi karena isu kehidupan dan segala isinya juga menjadi faktor penguat yang tak bisa dipandang sebelah mata. Alih-alih menggelorakan percintaan muda-mudi yang ‘cheesy’, ia malah membangun rasa lewat serangkaian proses natural mulai dari keterasingan, kecanggungan sampai penerimaan.

Setting lokasi juga dibangun Levine sedemikian rupa demi menyesuaikan keadaan ‘post-apocalyptic’ Amerika yang berantakan. Lihat saja lima belas menit pertama yang captivating itu dimana dunia diperkenalkan secara langsung oleh karakter R yang berjalan keliling kota seorang diri. Interaksi dan dialog yang tercipta memang minim tapi sudah cukup maksimal dalam mempertahankan ritme film. Dukungan tembang-tembang lawas dari Scorpions, Bob Dylan, John Waite, Roy Orbison, Bruce Springsteen dsb mungkin akan lebih memanjakan penonton dewasa.
 
Nicholas Hoult tampaknya memiliki masa depan yang cerah di Hollywood. Peran R cukup menantang baginya dan ia terbilang berhasil menjiwainya. Saya menyukai ‘transformasi’ yang begitu terlihat melalui gaya bicara dan bahasa tubuh. Tak mudah memberi nyawa pada tokoh mati seperti itu. Lupakan dandanan yang mirip dengan Kristen Stewart, Teresa Palmer menokohkan Julie dengan lugas, berani dan mau berjuang untuk sesuatu yang diyakininya. Saya menyukai Corddry dan Tipton sebagai sidekick di sini. Sedangkan Malkovich masih terlalu stereotype sebagai ayah Julie yang tak kenal kompromi. 

Warm Bodies adalah tontonan alternatif yang menyenangkan. Karakter-karakternya meski tak terlalu dikembangkan maksimal tetap mampu menghangatkan hati penonton. Semua bumbu satir sosialnya ditakar secara pas, romansanya tidak menye-menye, komedinya enggan berlebihan dan horornya juga tak sampai berdarah-darah. Twist manis nan kreatif diselipkan di akhir kisah. Kunci untuk menikmati produksi Summit Entertainment ini adalah percaya dan open-minded. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang sudah hancur masih dapat diperbaiki. Yes, this witty quirky one is skeptically good zom-com!

Durasi:
98
menit

U.S. Box Office:
$58.243.441
till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Maret 2013

AH BOYS TO MEN : Neo Comedy Revealing Singapore Army


Tagline:
The ‘Keng’ Evolution of An “Ah Boy” to A Man.

Nice-to-know:
Film yang didistribusikan oleh Golden Village Pictures dan Clover Films ini sudah rilis di Singapura pada tanggal 8 November 2012 yang lalu.

Cast:
Joshua Tan sebagai Ken Chow
Wang Wei Liang sebagai Lobang
Noah Yap sebagai I.P. Man
Maxi Lim sebagai Aloysius Jing Sia-lan
Richard Low sebagai Ayah
Irene Ang sebagai Ibu
Qiu Qiu sebagai Amy

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Jack Neo yang pertama dikenal lewat I Not Stupid (2002).

W For Words:
Wajib militer merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat, pemuda pada khususnya. Tujuannya tentu untuk mempersiapkan mereka dalam membela negara bilamana dibutuhkan. Film yang diprakarsai oleh Jack Neo ini secara cerdas mengangkat isu tersebut. Bujet produksi dua seri sebesar 3 juta dollar Singapore sebagian besar dihabiskan demi menciptakan opening yang meyakinkan. Lihat bagaimana serbuan teroris yang menghancurkan berbagai ikon negara tetangga tersebut seperti Merlion Park dan Esplanade hingga menelan banyak korban jiwa. 

Pemuda kaya nan manja, Ken Chow bertekad meneruskan studinya di Kanada bersama kekasihnya, Amy. Sayangnya panggilan Wajib Militer menghalanginya. Ibu dan neneknya yang selalu memanjakannya mengupayakan berbagai cara agar Ken lolos dari kewajiban. Namun tidak dengan ayahnya yang mendukung penuh program tersebut. Akhirnya Ken berangkat dan menjalani segala bentuk pelatihan. Di sana ia berkenalan dengan sahabat-sahabat barunya, I.P. Man, Lobang, Aloysius Jing dll sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.

Skrip yang ditulis oleh Jack Neo dan Link Sng ini memang seakan memiliki mata pisau dua sisi. Satu, mendukung program Pemerintah dalam memupuk semangat nasionalisme sekaligus melatih ketahanan mental generasi penerus bangsa. Dua, menertawakan semua kegiatan Wajib Militer yang tak jarang lebih dilandasi kepentingan pribadi para personilnya tersebut. Apapun itu tergantung sudut pandang pribadi anda. Saya menyukai ide yang digelorakan walaupun ‘konflik utama’nya tentang cinta yang klise itu kerapkali membuat kening berkerut.

Jack Neo di kursi sutradara harus diakui terampil meramu bumbu-bumbu komedi dengan pas. Sosok ibu overprotektif yang ditampilkan berseberangan dengan ayah disipliner. Belum lagi teman-teman Ken dalam ragam dan sifat yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh inilah yang menjadi nyawa film karena berpijak kuat pada permasalahan yang diangkat. Malangnya, paruh pertama yang begitu apik bertutur didegradasi sedemikian rupa di paruh kedua yang terkesan cheesy dan mengada-ada. Toh, Jack tetap berhasil merajut kembali apa yang mau disampaikannya sebagai penutup episode pertama ini.

Keseluruhan cast utamanya merupakan pendatang baru. Jack memoles akting mereka sedemikian rupa sampai terlihat meyakinkan. Joshua Tan terasa believable sebagai putra konglomerat yang terbiasa hidup bergelimang harta. Transformasi Ken Chow menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggungjawab cukup terbentuk. Penampilan Maxi Lim juga pantas dipuji. Aloysius di tangannya tergolong lugu tetapi ambisius. Richard Low dan Irene Ang sebagai ayah ibu Ken tipikal karikatural dengan perangai bawaan masing-masing. Mungkin hanya Qiu Qiu yang lumayan mengganggu di mata saya.

Ah Boys To Men merupakan karya kedua Jack Neo yang saya saksikan setelah I Not Stupid (2002). Jangan bandingkan konsep boot camp citarasa Asia ini dengan suguhan Hollywood yang sudah-sudah. Ciri khas nya belum hilang dimana aspek sosial ekonomi yang kali ini dikombinasikan dengan politik dalam format komedi ini tak hanya sukses mengajak penonton tertawa, melainkan merenung lewat cara yang paling sederhana sekalipun. Keegoisan tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Sebaliknya hak dan kewajiban patut dijaga keseimbangannya agar tercipta kehidupan yang sinergis.

Durasi:
108
menit

Asian Box Office:
S$6,180,000
till Mar 2013 in Singapore

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 24 Februari 2013

KAI PO CHE : Moving Portrait of Meaningful Friendship


Quotes:
Brothers.. .For life.

Nice-to-know:
Adaptasi novel berjudul The Three Mistakes of My Life dari Chetan Bhagat.

Cast:
Amrita Puri sebagai Vidya
Sushant Singh Rajput sebagai Ishaan
Amit Sadh sebagai Omi
Raj Kumar Yadav sebagai Govind

Director:
Merupakan film ketiga bagi Abhishek Kapoor setelah Rock On!! (2008).

W For Words:
Seberapa banyak kita melakukan kesalahan dalam hidup? Jawabannya mungkin tak terhingga. Sama halnya dengan film produksi UTV Motion Pictures ini yang menyorot garis besar ambisi, cinta dan mimpi dalam balutan persahabatan antara tiga pemuda dengan karakteristik yang berbeda-beda. Mungkin ingatan anda akan melayang pada 3 Idiots (2009) tapi yang membedakannya adalah tidak ada Aamir Khan atau satupun nama besar di sini. Semua didominasi oleh wajah-wajah baru yang menyuguhkan akting terbaik mereka.

Tiga sahabat yang tinggal di Ahmedabad merajut impian bersama yaitu membuka toko olahraga dengan fasilitas pelatihan. Ishaan yang pernah menjadi pemain cricket berjumpa dengan bocah 9 tahun bertalenta, Ali. Govind yang paling cerdas kerap mencermati siklus keuangan. Omi mengandalkan pamannya yang juga tokoh politik sebagai investor tetap. Lambat laun usaha mereka menampakkan hasil terlepas dari jatuh bangun dalam prosesnya. Namun insiden gempa bumi dan kerusuhan Gujarat yang terjadi mengubah segalanya.
Skrip yang dikerjakan oleh kuartet Pubali Chaudhari, Supratik Sen, Abhishek Kapoor, Chetan Bhagat ini betul-betul terasa membumi dengan mengambil potret kehidupan warga kelas menengah India sebagai settingnya. Bagaimana setiap karakter yang terlibat meski terlihat sederhana tetap mewakili kompleksitas nyata keadaan negara tersebut mulai dari tingkat sosial ekonomi yang rendah hingga kondisi politik yang carut marut. Tak lupa beberapa peristiwa historis juga diangkat bukan melulu gimmick melainkan unsur penguat konflik yang ada.

Govind Patel mewakili kaum kapitalis, Omkar Shastri Rajkumar menyoroti kepentingan politik, Ishaan Bhatt mencerminkan kawula muda pemimpi. These characters will represent each of you! Tell you what, Raj Kumar Yadav, Amit Sadh, Sushant Singh Rajput terlepas dari embel-embel ‘pendatang baru’ di belakang nama masing-masing sukses menampilkan akting luar biasa. Penjiwaan yang begitu kuat membuat penonton mampu menangkap setiap kegelisahan yang bergejolak di antara mereka. Persahabatan yang berjalan dari awal sampai akhir pun terkesan believable.

Kerja keras sutradara Abhishek Kapoor yang sempat kesulitan mencari cast yang mau terlibat dalam film ini terbayar sudah. Narasinya yang unpredictable akan menjaga rasa penasaran anda untuk menerka kemana arah film melaju lengkap dengan sinematografi memukau dari berbagai aspek. Kinerja art director, make-up artist, costume designer dalam mewujudkan props ‘sungguhan’ kian mengukuhkan nuansa Gujarat dan India secara global. Jangan lupakan musik Amit Trivedi yang megah itu termasuk satu track berjudul “Manja” yang dinyanyikan ketiga aktor utamanya.

Kai Po Che akan membuat anda merasakan selama menonton dimana rasa itu masih akan tertinggal setelahnya. Bingkai persahabatan indah yang menggulirkan begitu banyak makna dalam prosesnya. Bagaimana tolak ukur dalam hidup terkadang menjadi obsesi setiap orang, keuntungan, kekayaan, kekuasaan, kesuksesan, ketenaran kerap kali mempunyai harga yang harus dibayar mahal. Jika demikian air mata dan penyesalan sekalipun tidak dapat mengubah segalanya. It’s a mainstream film with coming-of-age approach. Bittersweet yet satisfying.

Durasi:
125
menit

U.S. Box Office:
$552.765 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10 

Movie-meter:

Minggu, 10 Februari 2013

MAMA : Horror With Heart and Fright


Quotes:
Dr. Dreyfuss' Secretary: A ghost is an emotion bent out of shape, condemned to repeat itself time and time again.


Nice-to-know:
Saat Annabel mendengar Victoria dan Lilly masih bermain, dia pergi ke kamar mereka untuk mengatakan bahwa hari sudah larut dan waktunya tidur tetapi nyatanya jendela menunjukkan siang hari. Kejadian ini berlangsung tiga kali..

Cast:
Jessica Chastain sebagai Annabel
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Lucas / Jeffrey
Megan Charpentier sebagai Victoria
Isabelle Nélisse sebagai Lilly
Daniel Kash sebagai Dr. Dreyfuss
Javier Botet sebagai Mamal

Director:
Merupakan debut penyutradaraan feature film bagi Andrés Muschietti.

W For Words:
Jika anda cermati
, horor kreasi seorang Guillermo del Toro yang kali ini bertindak sebagai produser eksekutif selalu mengedepankan tokoh wanita dan anak. Lihat saja The Orphanage (2006) dan Don't Be Afraid Of The Dark (2010). Menilik premisnya, yang satu ini rasanya masih mengusung 'identitas' yang sama. Namun apakah hasil akhirnya akan serupa? Nanti dulu! Satu yang selalu saya kagumi adalah kesetiaan del Toro mempertahankan pakem horor tradisional yang tetap bisa dinikmati oleh penonton modern sekalipun.

Sebelum menyaksikan yang satu ini, ada baiknya anda menengok film pendek berdurasi 3 menit dari Andres Muschietti sebagai pemanasan. Skrip yang ditulisnya sendiri bersama saudarinya, Barbara Muschietti dan Neil Cross untuk debut film panjangnya ini tergolong berhasil mengeksplorasi ketakutan tanpa harus meninggalkan kekuatan konflik orangtua dan anak. Tiga sosok dewasa yaitu Annabel, Lucas dan Dr. Dreyfuss serta dua gadis cilik Victoria dan Lilly masing-masing diperkaya dengan karakterisasi kompleks yang menarik untuk dieksploitasi satu persatu.
Alkisah Victoria dan Lilly dilarikan ke sebuah pondok di hutan oleh ayah mereka yang berlaku tak waras hingga membantai rekan kerja dan istrinya sendiri. Entah bagaimana dua gadis cilik itu mampu bertahan hidup selama 5 tahun sampai ditemukan paman mereka, Lucas. Terapi demi terapi perlahan memulihkan kondisi Victoria dan Lilly yang berada di bawah pengawasan langsung Dr. Dreyfuss. Lucas lantas mengasuh keduanya di rumah hibahan bersama kekasihnya Annabel. Lambat laun, Annabel menyadari ada sosok lain yang selama ini menjaga Victoria dan Lilly kemanapun mereka pergi.

Muschietti sebagai sutradara sukses membangun creepy moments yang bernuansa klastrofobik lewat dua set rumah dan segala isinya dimana sisi artistik tertata begitu rapi. Production value yang pantas diapresiasi tinggi melihat detail yang begitu diperhatikan. Timing setiap adegannya pun terbilang apalagi ditambah penempatan sound yang tepat dijamin akan membuat anda semakin mengkeret di kursi masing-masing. Sosok mama dengan bantuan CGI itu memang mengerikan di awal karena gerak-geriknya yang tak tertuga tetapi semakin diungkap seiring bergulirnya cerita malah kian kehilangan tajinya.

Para wanita di film ini menunjukkan kelasnya. Pertama, Chastain dengan penampilan gothic eksentrik mampu bertransformasi dari rocker cuek menjadi ibu penuh perhatian. Kedua, Charpentier yang seakan terjebak dalam memori masa lalu sebelum dan sesudah tragedi nyatanya dapat menyadari keadaan yang sesungguhnya. Lihat bagaimana sebuah kacamata mengubah visinya 180 derajat. Ketiga, Nelisse yang lebih mirip sebagai hewan liar itu benar-benar terlihat polos. Momen saat ia berontak dalam pelukan Annabel cukup menyentuh bagi saya.

Mama memulainya dengan begitu sempurna lewat potongan-potongan gambar dan cerita yang belum tersusun rapi. Namun memasuki paruh kedua dimana puzzle sudah mulai terbentuk nyata, horor ini terasa sedikit kehilangan gregetnya. Ending yang agak overlong demi mengejar aspek ketakutan dan keharuan sekaligus malah menurunkan mood saya. Meski demikian, kualitas keseluruhannya masih di atas film-film bergenre sejenis yang beredar beberapa tahun terakhir. Setidaknya Mama memiliki hati daripada sekadar menebar teror yang membuat anda memekik.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$68.273.535 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Februari 2013

A GOOD DAY TO DIE HARD : A Bad Way To Stay Alive


Quotes:
John McClane: Need a hug?

John McClane Jr.: We're not a hugging family.
John McClane: Damn straight!


Nice-to-know:
Seri Die Hard pertama yang disyut dengan kamera film Fuji. Empat sebelumnya menggunakan Kodak.

Cast:
Bruce Willis sebagai John McClane
Jai Courtney sebagai Jack McClane
Sebastian Koch sebagai Komarov
Mary Elizabeth Winstead sebagai Lucy
Yuliya Snigir sebagai Irina
Radivoje Bukvic sebagai Alik
Cole Hauser sebagai Collins
Sergei Kolesnikov sebagai Chagarin

Director:
Merupakan feature film kelima bagi John Moore setelah terakhir Max Payne (2008).

W For Words:
Jika icon action baru di Hollywood hanya bertahan melalui satu atau dua judul film saja maka yang dapat dilakukan produser adalah memberi kepercayaan kembali pada icon lawas sebut saja Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis. Nama terakhir (sekaligus yang termuda) ini memang mencuat sejak Die Hard (1988) yang diikuti oleh Die Hard 2 : Die Harder (1990), Die Hard With A Vengeance (1995) dan Live Free or Die Hard (2007). Lebih dari lima tahun kemudian, muncullah seri kelimanya yang secara mengejutkan rilis di bulan Februari alias bukan summer period! Are you kidding me?

Detektif John McClane terbang ke Moscow dengan satu tujuan, membawa pulang putranya Jack yang dituduh melakukan pembunuhan. Padahal Jack adalah anggota CIA yang tengah menjalankan misi mendekati tahanan politik, Yuri Komarov yang memiliki berkas tersembunyi yang akan memberatkan politikus Chagarin. John yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya nyaris menimbulkan kekacauan ketika mengejar Jack di jalan raya. Pada akhirnya ayah dan anak yang tidak akur ini harus bertandem untuk membereskan segalanya. 

Penulis skrip Skip Woods memang masih setia dengan karakter original John McClane rekaan Roderick Thorp tapi entah mengapa saya merasa semua tokoh dalam seri ini teramat satu dimensi alias dangkal. Hubungan ayah-anak John dan Jack yang seharusnya menjadi highlight tersendiri pun gagal memunculkan chemistry yang believable. Sebagian di antaranya bahkan dibantu oleh dialog termasuk keinginan John agar Jack memanggilnya ayah, dari awal sampai akhir! Sosok antagonis yang biasanya menjadi nilai jual franchise pun tidak sampai benar-benar mencuat ke permukaan. Lantas apa yang tersisa selain konflik linier yang juga tak terlalu istimewa itu?

Sutradara Moore berupaya menutupi setiap kekurangan plot ceritanya dengan bombardir adegan aksi sejak menit pertama. Sayangnya semua kecanggihan spesial efek itu hanya membuat saya menahan nafas sesekali tapi tak mampu memuaskan segenap indera. Bagaimana penghancuran puluhan mobil di jalan raya selama paruh pertama film itu jadi begitu mengganggu karena seorang detektif senior sekelas John McClane bertingkah laku begitu konyol ketika menguber puteranya sendiri. Jelas bukan modal yang meyakinkan saya untuk memberi rekomendasi positif.

Terlepas dari faktor usia yang semakin senja, setidaknya Willis masih meyakinkan sebagai bad ass hero John McClane. Ia tidak sendiri karena McClane Jr alias Jack juga sama tangguhnya. Courtney yang mencuat lewat serial Spartacus sudah memiliki postur yang mendukung tapi belum mampu menyaingi kharisma Willis disini. Penampilan Koch yang biasanya kuat dan berwatak menjadi lemah karena ketipisan karakternya. Pun begitu dengan Snigir sebagai Irina atau Kolesnikov sebagai Chagarin yang tak lebih selain mempertebal nuansa Russian dalam film ini.

Dengan segala kekurangannya, Die Hard ini masih berharap meraih keuntungan maksimal dengan sepinya persaingan film awal tahun. Perlu diketahui bahwa versi IMAX nya hanya memikat pada pertarungan akhir di dalam gedung. Selebihnya, regular version is more than enough. Pecinta action movies rasanya masih dapat terpuaskan. Namun penggemar franchise Die Hard besar kemungkunan akan kecewa dan beranggapan bahwa seri ini adalah yang terlemah dari keseluruhan. Tetap penasaran menyaksikan kegilaan bukan hanya satu tetapi dua McClane yang sama-sama ‘susah mati’ tersebut?

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 29 Januari 2013

A Journey Has Begun..


Setelah empat tahun berjalan, blog ini telah membawa saya ke dunia baru yang tidak pernah terpikir untuk dimasuki, FILM-MAKING! Bukan apa-apa, saya hanyalah satu dari sekian penikmat film sekaligus pengunjung bioskop yang setia dengan tujuan mengisi waktu sekaligus melihat jendela kehidupan seseorang yang mungkin tidak akan pernah saya alami sendiri. Saya percaya sebuah film selalu memiliki sisi plus minus yang dapat dieksplorasi. Itu saja!

Tujuan awal membuat blog pun lebih untuk kepentingan pribadi yaitu mendokumentasikan opini saya sendiri terhadap sebuah film yang sudah saya tonton. Siapa yang bisa mengira jika hingga hari ini, ribuan orang per harinya mengakses Database Film sebagai referensi terpercaya mereka. Saya tidak jumawa melainkan bersyukur, tulisan saya ada yang baca dan setidaknya dirasa bermanfaat. Kerja keras saya begadang nyaris tiap malam menuangkan pikiran pun tidak sia-sia.

Saya bukanlah seorang moviesnob. Referensi film atau pengetahuan tentang film yang dimiliki mungkin tidak seluas rekan-rekan movieblogger atau moviereviewer lainnya. Kemampuan saya berdiskusi aktif dengan mereka bisa jadi kalah baik. Kerapkali saya butuh waktu untuk mencerna sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan Sebuah bentuk komunikasi yang selalu saya pilih sejak dahulu, mengingat kepribadian pemalu dan introvert yang memang sudah melekat dalam diri sejak usia dini.

Review pertama saya adalah Laskar Pelangi di bulan Oktober 2008, hanya satu paragraf dengan beberapa kalimat. Perlahan mulai mengembangkan rentang penilaian dari berbagai sisi karena saya menyadari, film memiliki banyak dimensi yang bisa ditelaah. Lambat laun, tulisan-tulisan saya khususnya film lokal membawa kesempatan bagi saya untuk mengenal secara pribadi para pelaku industri perfilman nasional mulai dari aktor, aktris, sutradara, produser dsb. Memang tidak semuanya terang-terangan bisa diajak bicara ataupun tatap muka, tapi saya selalu menghargai usaha mereka yang tidak kecil dalam berkarya.

Tak selamanya tulisan saya menyenangkan untuk dibaca, terkadang bisa pedas menyinggung. Saya selalu berusaha jujur, faktor mengenal atau tidak filmmakernya sebisa mungkin dikesampingkan demi obyektifitas murni. Satu pedoman yang selalu saya pegang, identifikasi lah film mana yang dibuat dengan hati dan niat baik. Jika sebuah film sudah dibuat dengan bumbu-bumbu di atas tapi hasil akhirnya masih kurang baik, bolehlah anda memberi masukan, tak melulu menghujat. Terkadang orang yang mau maju itu butuh input untuk memperbaiki. Peran kita sangat dibutuhkan di sini. Bukankah sesama manusia wajib saling mengingatkan?

Jumat, 25 Januari 2013

DREAM OBAMA : Kampanye Antik ‘Yes We Can’ Damien Dematra


Quote:
Kakek Hendra: Kamu harus berani, ga boleh nangis, ga boleh cengeng.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Damien Dematra Production ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Januari 2013 yang lalu.

Cast:
Natasha Dematra
sebagai Margareth
Ayu Azhari sebagai Maryam, ibu Margareth
Pong Hardjatmo sebagai Hendra, kakek Margareth
Rahayu Saraswati sebagai Leticia
Radhit Syam sebagai Bintang
Azka Liansyah sebagai Willy
Steve Emmanuel sebagai Dokter
Ari Wibowo
Dorce Gamalama
Tracy Trinita

Director:
Merupakan film keempat yang disutradarai Damien Dematra.

W For Words:
Apa lagi yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh seorang Damien Dematra dimana namanya sudah tercatat sebagai salah satu filmmaker lokal? Rekor pembuatan film tercepat yang diakui oleh Royal World Record lewat film ini yaitu 9 hari 17 jam dan 45 menit? Sebegitu pentingkah pencapaian-pencapaian tersebut baginya? Bukankah tujuan terpenting film hanyalah sesederhana media komunikasi antara pembuat dan penontonnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut padanya. Bisa jadi anda akan tercengang mendengar jawaban diplomatisnya. Bisa jadi..

Hendra selalu terinspirasi oleh sosok Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih kembali. Obama dream statue yang berada di sekolah Asisi juga memperkenalkan cucunya yang baru pindah, Margareth Kurniawan untuk pantang menyerah mengejar mimpinya. Tak sia-sia karena prestasi Margareth begitu memuaskan hingga membuat teman sekelasnya, Bintang dan Willy iri. Kecelakaan mobil membuat Hendra mengalami koma dan Margareth menderita kebutaan. Akankah ketidakmampuan itu menurunkan semangat Margareth?
 
Damien pernah mengeksplorasi sosok Obama kecil mengenyam pendidikan dalam skrip Obama Anak Menteng (2010). Sempat terjadi kontroversi yang akhirnya ‘hanya’ mengukuhkan nama John De Rantau seorang di kursi sutradara. Kali ini Damien kembali menulis skripnya sendiri yang sayangnya memulai dengan sesuatu yang salah. Kelas sekolah dibuka dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris antara anak lokal dan bule. Jika tujuannya untuk melucu, saya tidak melihat unsur jenakanya samasekali. Lantas dilanjutkan dengan ‘kompetisi’ aneh yang mulai dari ujian tertulis hingga balap karung antara siswa dan siswi? Nalar saya seakan berpindah ke bagian tubuh paling bawah.

Dramatisasi tak berkesudahan kemudian menjadi menu utama. Entah kenapa saya merasa sosok Natasha Dematra malah dieksploitasi sedemikian rupa di atas upaya aktingnya yang masih dapat dihargai. Margareth digambarkan seharusnya mengundang simpati orang-orang di sekitarnya maupun penonton yang menyaksikannya. Entah kenapa bangunan konflik yang terlalu instan dan tidak terjalin padu satu dengan lainnya membuat semuanya menjadi blur. Penyelesaian penderitaan melalui kematian seakan opsi satu-satunya agar pesan yang disampaikan bisa langsung menohok. Benarkah begitu?
 
Damien sebagai sutradara tampak kian menurunkan standar penggarapannya mulai dari Si Anak Kampung, L4Lupus hingga yang satu ini. Intrusi dialog kerapkali berlomba-lomba dengan gerak bibir cast. Pencantuman subtitel bahasa Inggris juga tidak terlalu membantu, mungkin berharap perhatian penonton sedikit teralihkan dari kekurangan-kekurangan yang tampak di depan mata mereka. Sinkronisasi musik latar untuk membangun suasana malah banyak yang tidak pas. Mungkin cuma Damien dan Tuhan yang tahu, seberapa keras usaha Virda Anggraini untuk menata gambarnya secara ‘wajar’.
    
Dream Obama tinggal menyisakan footage video Barack Obama sebagai satu-satunya part yang watchable. Selebihnya adalah siksaan batin tanpa landasan logika yang memaksakan setiap fungsi dalam film berjalan terseok-seok menuruti durasi film. Tampak wajah-wajah lega selepas meninggalkan gedung bioskop. Secara tidak langsung, ini adalah kampanye DD dalam menyuarakan semangat “Ayo, kita bisa!” dalam mengatasi setiap masalah yang menghadang, besar ataupun kecil walaupun bukan dengan cara yang istimewa sekalipun. Ia melupakan fakta jika penonton film nasional sudah lebih istimewa sekarang.

Durasi:
87 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: