XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label richard low. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label richard low. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

AH BOYS TO MEN : Neo Comedy Revealing Singapore Army


Tagline:
The ‘Keng’ Evolution of An “Ah Boy” to A Man.

Nice-to-know:
Film yang didistribusikan oleh Golden Village Pictures dan Clover Films ini sudah rilis di Singapura pada tanggal 8 November 2012 yang lalu.

Cast:
Joshua Tan sebagai Ken Chow
Wang Wei Liang sebagai Lobang
Noah Yap sebagai I.P. Man
Maxi Lim sebagai Aloysius Jing Sia-lan
Richard Low sebagai Ayah
Irene Ang sebagai Ibu
Qiu Qiu sebagai Amy

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Jack Neo yang pertama dikenal lewat I Not Stupid (2002).

W For Words:
Wajib militer merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat, pemuda pada khususnya. Tujuannya tentu untuk mempersiapkan mereka dalam membela negara bilamana dibutuhkan. Film yang diprakarsai oleh Jack Neo ini secara cerdas mengangkat isu tersebut. Bujet produksi dua seri sebesar 3 juta dollar Singapore sebagian besar dihabiskan demi menciptakan opening yang meyakinkan. Lihat bagaimana serbuan teroris yang menghancurkan berbagai ikon negara tetangga tersebut seperti Merlion Park dan Esplanade hingga menelan banyak korban jiwa. 

Pemuda kaya nan manja, Ken Chow bertekad meneruskan studinya di Kanada bersama kekasihnya, Amy. Sayangnya panggilan Wajib Militer menghalanginya. Ibu dan neneknya yang selalu memanjakannya mengupayakan berbagai cara agar Ken lolos dari kewajiban. Namun tidak dengan ayahnya yang mendukung penuh program tersebut. Akhirnya Ken berangkat dan menjalani segala bentuk pelatihan. Di sana ia berkenalan dengan sahabat-sahabat barunya, I.P. Man, Lobang, Aloysius Jing dll sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.

Skrip yang ditulis oleh Jack Neo dan Link Sng ini memang seakan memiliki mata pisau dua sisi. Satu, mendukung program Pemerintah dalam memupuk semangat nasionalisme sekaligus melatih ketahanan mental generasi penerus bangsa. Dua, menertawakan semua kegiatan Wajib Militer yang tak jarang lebih dilandasi kepentingan pribadi para personilnya tersebut. Apapun itu tergantung sudut pandang pribadi anda. Saya menyukai ide yang digelorakan walaupun ‘konflik utama’nya tentang cinta yang klise itu kerapkali membuat kening berkerut.

Jack Neo di kursi sutradara harus diakui terampil meramu bumbu-bumbu komedi dengan pas. Sosok ibu overprotektif yang ditampilkan berseberangan dengan ayah disipliner. Belum lagi teman-teman Ken dalam ragam dan sifat yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh inilah yang menjadi nyawa film karena berpijak kuat pada permasalahan yang diangkat. Malangnya, paruh pertama yang begitu apik bertutur didegradasi sedemikian rupa di paruh kedua yang terkesan cheesy dan mengada-ada. Toh, Jack tetap berhasil merajut kembali apa yang mau disampaikannya sebagai penutup episode pertama ini.

Keseluruhan cast utamanya merupakan pendatang baru. Jack memoles akting mereka sedemikian rupa sampai terlihat meyakinkan. Joshua Tan terasa believable sebagai putra konglomerat yang terbiasa hidup bergelimang harta. Transformasi Ken Chow menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggungjawab cukup terbentuk. Penampilan Maxi Lim juga pantas dipuji. Aloysius di tangannya tergolong lugu tetapi ambisius. Richard Low dan Irene Ang sebagai ayah ibu Ken tipikal karikatural dengan perangai bawaan masing-masing. Mungkin hanya Qiu Qiu yang lumayan mengganggu di mata saya.

Ah Boys To Men merupakan karya kedua Jack Neo yang saya saksikan setelah I Not Stupid (2002). Jangan bandingkan konsep boot camp citarasa Asia ini dengan suguhan Hollywood yang sudah-sudah. Ciri khas nya belum hilang dimana aspek sosial ekonomi yang kali ini dikombinasikan dengan politik dalam format komedi ini tak hanya sukses mengajak penonton tertawa, melainkan merenung lewat cara yang paling sederhana sekalipun. Keegoisan tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Sebaliknya hak dan kewajiban patut dijaga keseimbangannya agar tercipta kehidupan yang sinergis.

Durasi:
108
menit

Asian Box Office:
S$6,180,000
till Mar 2013 in Singapore

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 12 Juli 2010

HAPPY GO LUCKY : Keberuntungan Pemula Kesengsaraan Perjudian


Storyline:
Hock Lee Poh adalah pejudi kelas kakap yang keras kepala. Bahkan ketika istrinya melahirkan Fu Xin, Poh tetap berjudi dan kalah! 30 tahun kemudian, Fu Xin telah tumbuh menjadi wanita yang ceria dan berbudi pekerti. Meskipun berulang kali disakiti ayah dan kakak tirinya Donna yang hobi senang-senang itu, Fu Xin tetap bekerja dengan riang di sebuah pusat refleksi. Fu Xin yang sering dianggap membawa sial justru mendatangkan keberuntungan saat Undian 4D yang tak sengaja dibelinya memenangkan hadiah utama yaitu 2 juta dollar Singapore. Namun apakah ayahnya bisa disadarkan dari pengaruh buruk perjudian?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Fuxing dao ini sudah dirilis di negara asalnya Singapore pada tanggal 4 Maret 2010.

Cast:
Pernah mendukung Jackie Chan dan Owen Wilson dalam Shanghai Knights (2003), Fann Wong berperan sebagai Fu Xin
Richard Low sebagai Hock Lee Poh
Patricia Mok sebagai Donna Poh
Liu Ling Ling sebagai Lao Cai
Marcus Chin sebagai Jackson

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Harry Yap.

Comment:
Jika harus menyebutkan beberapa judul film Singapore rasanya hal yang sangat sulit dilakukan oleh anda. Alasannya bisa jadi karena nyaris tidak pernah ada yang beredar di bioskop Indonesia atau memang sulit ditemui videonya dalam bentuk apapun juga sehingga tak pernah berhembus kabar samasekali dari industri perfilman sana. Kali ini Blitzmegaplex “berbaik hati” mengimpor film terbaru dari Fann Wong, biduanita sekaligus aktris Singapore yang sudah cukup dikenal publik Asia.
Harry Yap yang selama ini dikenal menyutradarai film/serial televisi sedikit “berjudi” untuk menulis skrip sekaligus menyutradarainya. Plotnya sederhana saja yaitu sebuah keluarga disfungsi yang terdiri dari ayah dan dua orang putri. Konfliknya seputar kerja keras berbudi baik yang kontras dengan perjudian berakhlak serakah. Aura kesialan dan keberuntungan pun silih berganti menghampiri di sepanjang 103 menit yang amat mudah ditebak juntrungannya ini.

Fann Wong, Richard Low dan Patricia Mok memang berhasil menciptakan tawa lewat sederetan adegan slapstick di saat berbagi layar. Namun karakterisasi mereka begitu dangkal yaitu hitam dan putih sehingga penonton hanya perlu berpihak pada salah satunya. Setidaknya Fann tetap berhasil memancarkan sinarnya dengan karakter Fu Xin yang simpatik dimana sisi akting emosionalnya begitu terjaga di setiap tikungan yang ada.

Sayangnya ide lemah Harry tidak dapat ditutupi saat pengeksekusiannya. Gaya televisi masih terbawa disini dimana syut close-up terhadap masing-masing karakternya masih begitu dominan. Belum lagi penggunaan dialek Hokkien dan Konghu bertukaran dimunculkan demi menghasilkan aksen yang lebih mudah memancing tawa penonton. Alur ceritanya mengalir linier begitu saja, seakan Harry sendiri kebingungan menambahkan unsur kejutan yang mampu membuat film ini tak mudah dilupakan.
Happy Go Lucky dengan modal poster yang kurang menarik tetap mampu membuat anda terjaga sampai akhir meskipun harus menguap berkali-kali. Tenang! Tawa segar rasanya dapat mengusir kantuk yang menyerang, terima kasih pada situasi komedi yang berulang kali disodorkan. Setidaknya ending film ditutup dengan perasaaan senang dan bersyukur bahwa segala proses yang dijalani dengan ketulusan dan kesabaran pada akhirnya akan membuahkan hasil yang lebih kekal adanya.

Durasi:
103 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent